Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 3 (2015)" : 9 Documents clear
DARI SOFT POWER JEPANG HINGGA HIJAB COSPLAY FROM JAPANESE SOFT POWER TO COSPLAY HIJAB

Rastati, Ranny ( Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK-LIPI) )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1523.667 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.326

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas tentang penggunaan soft power Jepang di Indonesia, salah satunya melalui cosplay. Tulisan ini juga merupakan identifikasi awal mengenai fenomena hijab cosplay di Indonesia. Menggunakan konsep S. Nye. Jr, soft power didefinisikan sebagai kemampuan suatu negara untuk mencapai tujuannya dengan lebih menggunakan daya tarik budaya daripada paksaan dan kekerasan. Setelah Perang Dunia II, Jepang berupaya mengubah citra buruk negaranya melalui budaya populer yang dimiliki, seperti anime, manga, dan cosplay yang disebarkan ke seluruh dunia. Menurut Nye, Jepang memiliki sumber-sumber soft power yang lebih potensial dibandingkan dengan negara lain di Asia. Penelitian ini berfokus pada cosplay, terutama para anak muda yang hobi ber-cosplay tetapi tetap ingin mengikuti nilainilai Islam dengan menutup aurat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga informan cosplayer memiliki kesamaan dalam memaknai hijab cosplay, yaitu (1) boleh dilakukan selama sesuai dengan aturan dan syariat Islam seperti menutup aurat dan dada, (2) tidak berpose berlebihan, dan (3) tidak berdempetan dengan lawan jenis ketika berfoto. Selain itu, ditemukan juga tiga pola sikap dari tiga informan non-cosplayer terhadap hijab cosplayer, yaitu (1) mendukung, (2) netral, dan (3) tidak mendukung. Kata kunci : soft power, budaya populer Jepang, cosplay, cosplayer, hijab cosplay, hijab cosplayer Abstract This paper describes the ways Japan uses its soft power in Indonesia, particularly through cosplay. This is a preliminary identification on hijab cosplay phenomenon in Indonesia. Based on Joseph S. Nye, Jr., the soft power is defined as as the ability of a country to achieve its goal using cultural attraction rather than coercion and violence. After the World War II, Japan has tried to change its image as war crime through popular culture, such as anime, manga, and cosplay. According to Nye, Japan has more potential resources in soft power compared to the other countries in Asia. This paper focuses on cosplay, especially those who love cosplay and keep maintaining Islamic sharia by covering their aurat. Results show that the three cosplayer informants have similarity in constructing the meaning of cosplay hijab: (1) needing to follow Islamic sharia, such as covering aurat and chest, (2) posing appropriately, and (3) not touching the opposite sex during photographed. Furthermore, there are three attitudes from the non-cosplayers informants towards cosplay hijab: (1) supportive, (2) neutral, and (3) not supportive. Keywords: soft power, Japanese popular culture, cosplay, cosplayers, cosplay hijab, cosplayer hijab

KOMODIFIKASI MODE MUSLIMAH MELALUI MEDIA SOSIAL COMMODIFICATION OF MOSLEMA STYLE THROUGH SOCIAL MEDIA

Santoso, Widjajanti M. ( Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK-LIPI) )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.562 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.321

Abstract

Abstrak Komodifikasi memainkan peran di dalam mempengaruhi dan memberi rambu-rambu di dalam pemakaian mode muslimah. Jika pada tahun 80-an penggunaan jilbab memiliki makna ideologis dan politis, maka saat ini telah berkembang menjadi mode. Artikel ini menggunakan media sosial sebagai tempat konstruksi sosial tentang mode muslimah, melalui beberapa tampilan yang berisi pemaknaan tentang cara berpakaian muslimah. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa pemaknaan merupakan komodifikasi dari nilai keagamaan yang dikonstruksikan melalui mode muslimah. Pengamatan riset ini memadukan unsur-unsur konstruksi dari Ninian Smart serta SjØrup dan Christensen, yang memperlihatkan bahwa komodifikasi telah terjadi mulai dari unsur makna, ritual, hingga dimensi material. Kata kunci: komodifikasi, mode muslimah, konstruksi sosial Abstract Commodification plays a significant role in the meaning production of Moslema fashion, a term mostly used to capture a fast growing trend. It shows a social change. While in the 80’s women used jilbab in ideology and political terms, in the recent days jilbab becomes a more fashion trend. This article uses social media cases that represent the social construction of Moslema fashion. This research used several construction elements from Ninian Smart as well as SjØrup and Christensen to capture the commodification form -from the meaning, ritual to the material dimension of commodification. Keywords: Commodification, Fashion Moslema, Social Construction

Pola Konsumsi Program TV di Masyarakat Pattern of Television Programm Consumption in Society

Windarsih, Ana ( Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK-LIPI) )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.369 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.325

Abstract

Abstrak Tulisan ini menguraikan perkembangan budaya populer pada TV nasional Indonesia pascapemilu legislatif serta pemilihan presiden tahun 2009 dan tahun 2014. Perdebatan mengenai budaya populer di Indonesia menjadi penting karena apapun bisa menjadi informasi penting jika sesuatu itu berkaitan dengan politik, seperti politik nasional. Budaya populer bisa diamati melalui film, musik, atau program TV yang lain. TV nasional Indonesia, terutama satu dekade terakhir ini, cenderung menyiarkan reality show, game show, dan sinetron. Hal tersebut menguatkan pandangan bahwa TV adalah bagian dari budaya populer atau budaya massa dan murah. Namun, rating AGB AC Nielsen Media Research dalam buletin berkala Februari 2010 menginformasikan bahwa terjadi peningkatan rating untuk program berita, baik secara durasi maupun jumlah penonton. Apakah itu berarti media sebagai sosialisasi dan transmisi nilai- nilai sedang bekerja, atau hanya merupakan satu gejala di dalam tren TV nasional Indonesia saja? Di sisi lain, terjadi kecenderungan peningkatan jumlah penonton aktif dibandingkan dengan penonton pasif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pengumpulan data dengan wawancara mendalam serta penelusuran berbagai sumber data sekunder. Analisis data dilakukan dengan deskriptif ilustratif setelah data diolah melalui koding. Penelitian ini menemukan perubahan pola konsumsi masyarakat pada program TV nasional Indonesia yang dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung, yaitu kepuasan, perbandingan berbagai program, maupun tanggung jawab jurnalis. Sementara itu, beberapa faktor penghambat antara lain kontestasi ekonomi dan politik, rating, maupun kepemilikan modal Kata kunci: perubahan, budaya populer, pola konsumsi Abstract This paper explores the dynamic of popular culture in Indonesian national TVs after the legislative election and president election in 2009 and 2014. Debate on popular culture in Indonesia is getting more important, particularly when it is related to national politics. Popular culture can be studied through film, music, or other TV programs. In the recent decade, the trend of Indonesian national TVs tend to broadcast reality show, game show and soap opera. It shows that Indonesian TVs are part of popular culture or low and cheap culture. However, AGB AC Nielsen Media Research in their February 2010 newsletter informed that the news rating increased, both in duration and number of audiences. Does it indicate that TV as media of socialization or values transmission is working? Or is that only a trend in Indonesian TVs? Moreover, the number of active audiences is increasing rather than the passive ones. Using qualitative approach, the data was gathered from the interviews and the secondary ones. This research shows that there are changes in the pattern of TV consumption in Indonesian society with several push factors, such as gratification, comparison between TV programs and journalists’ responsibility. Meanwhile, several obstacle factors are economic and politics contestation, rating, and share. Keywords: change, popular culture, consumption pattern

PERS, KEMATIAN, DAN SENSASIONALISME: MEDIA EVENT DI KOMPAS.COM DAN DETIK.COM PRESS, DEATH, AND SENSATIONALISM: MEDIA EVENT IN KOMPAS.COM AND DETIK.COM

Anindya, Chiara ( Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.154 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.320

Abstract

Abstrak Tulisan ini mendiskusikan media event melalui eksekusi mati narapidana perdagangan narkoba di Indonesia. Industri media di Indonesia menggunakan peristiwa tersebut sebagai komoditas bernilai tinggi. Eksekusi mati di Indonesia adalah media event karena menarik perhatian para pembaca dan mendorong mereka untuk terus menginginkannya. Data dikumpulkan dari dua portal media daring dengan tingkat kepadatan tertinggi, yaitu Kompas.com dan Detik.com berdasarkan indikator Alexa. Hasil riset menunjukkan bahwa pemberitaan eksekusi mati adalah sebuah media event yang sangat besar dalam pers daring Indonesia. Kata kunci: eksekusi mati, media event, pers daring, media daring, sensasionalisme Abstract This paper discusses the media events using the case of drug traffickers’ death execution in Indonesia. The media industries in Indonesia use these events as a high commodity product. Death executions in Indonesia can be considered as media events as they captivate the media audiences and encourage them to crave for more and more. The data were collected from two online media, namely Kompas.com and Detik.com, in which those two gain the highest traffic as indicated by the Alexa’s indicators. The analysis of media event shows bias towards sensationalism. Keywords: death execution, media event, online press, cyber media, sensationalism

KETERLIBATAN PEREMPUAN DAN SIARAN BUDAYA LOKAL DI RADIO KOMUNITAS RUYUK FM, TASIKMALAYA, JAWA BARAT1 WOMEN INVOLVEMENT IN LOCAL CULTURAL PROGRAM ON COMMUNITY RADIO OF RUYUK FM, TASIKMALAYA, WEST JAVA

Bassar, Emilia ( Program Studi Kajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada ) , Abdullah, Irwan ( Program Studi Kajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada ) , Wahyuni, Hermin I. ( Program Studi Kajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.8 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.324

Abstract

Abstrak Radio komunitas adalah media alternatif warga dan memberi kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam produksi siaran radio. Keunikan radio komunitas yang bersifat lokal dan menggunakan bahasa lokal memungkinkan perempuan untuk berpartisipasi dalam menyiarkan acara-acara yang sesuai dengan kebutuhan komunitas. Siaran yang diasuh oleh perempuan adalah siaran budaya lokal karena perempuan mempunyai peran dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan nilai, tradisi, adat maupun budaya masyarakatnya. Siaran budaya lokal tidak hanya melestarikan bahasa dan budaya Sunda melalui partisipasi warga pada siaran on air dan off air; tetapi juga menjawab persoalan-persoalan perempuan di komunitasnya. Namun demikian, keterlibatan perempuan dalam siaran radio komunitas masih terbatas pada acara yang berkaitan dengan kehidupan perempuan atau kehidupan personal, sehingga belum mendobrak stereotip acara-acara yang umumnya ranah laki-laki, seperti persoalan pertanian, konservasi hutan, kesehatan masyarakat, atau pemerintahan desa. Terbatasnya pengetahuan dan pemahaman perempuan tentang radio komunitas membuat perempuan membutuhkan adaptasi yang cukup panjang, pelatihan, motivasi, dan peningkatan rasa percaya diri untuk terlibat dalam pengelolaan ataupun siaran di radio komunitas. Tantangan ini dapat dijawab dengan peningkatan kapasitas diri perempuan dan aksesibilitas perempuan pada informasi, pendidikan dan pelatihan radio komunitas. Kata kunci: radio komunitas, akses dan keterlibatan perempuan, siaran budaya lokal, stereotip Abstract Community radio provides an alternative medium and opportunity for women to involve in the production of radio broadcasts. Generally, radio community is uniquely local and uses local language that enables women to manage programs based on their community needs. One of the broadcast programs managed by the women is the local culture. The local culture program is closely related to women because of their roles in educating the children with the values, traditions, customs and culture. Community participation in on-air and off-air broadcasting of local culture provides opportunities for preserving Sundanese language and culture, as well as discussing the problems of women in their communities. Nevertheless, the women’s opportunities to involve in the community radio are still limited, particularly only in the program associated with the woman's life or personal life. These have not countered the men domain programs, such as the issues of agriculture, forest conservation, public health, or village administration. As women's knowledge and understanding of community radio is still limited; therefore, they require some time to adapt, get motivated, and to be confidence to participate in the community radio. These challenges can be addressed through increasing the capacity of women and accessibility of women to information, education and training of community radio. Keywords: community radio, women access and involvement, local culture program, stereotypes

PEREMPUAN DAN KORUPSI: SEKSISME DALAM PEMBERITAAN MEDIA ONLINE WOMEN AND CORRUPTION: SEXISM ON ONLINE NEWS MEDIA

Ilyas, Winda Junita ( Program Studi Kajian Gender, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.989 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.319

Abstract

Abstrak Penelitan ini membahas seksisme dalam pemberitaan media online terhadap pelaku korupsi perempuan dan lakilaki. Penelitian ini mengangkat empat subjek penelitian, yakni dua pelaku korupsi perempuan, Malinda Dee serta Ratu Atut Chosiyah, dan dua pelaku korupsi laki-laki, Ahmad Fathanah serta Tubagus Chaeri Wardana. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana seksisme ditampilkan dalam pemberitaan di situs berita online terhadap pelaku korupsi, khususnya pada keempat subjek tersebut. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi di tiga situs berita online, yakni Detik.com., Kompas.com, dan Tribunnews.com. Hasil penelitian menemukan bahwa pelaku korupsi perempuan ditampilkan sebagai objek seksual dengan banyak menampilkan tubuh dan penampilan sebagai berita yang di luar konteks dan cenderung sensasional. Sedangkan, pelaku korupsi laki-laki diberitakan dengan perempuan-perempuan di sekitar mereka yang juga ditampilkan sebagai objek seksual dan bahkan diberi stigma bersalah atas kasus korupsi yang dilakukan oleh laki-laki. Komentar masyarakat sebagai respon atas pemberitaan kasus tersebut pada umumnya menggunakan kata-kata yang kasar dan seksis, utamanya ditujukan pada perempuan pelaku korupsi dan perempuan di sekitar pelaku korupsi laki-laki. Kata kunci: seksisme, media, korupsi, kajian gender Abstract This research discusses sexism in the online news media coverage of female and male corruption perpetrators. This research includes four research subjects; two female and two male corruption perpetrators, consecutively Malinda Dee, Ratu Atut Chosiyah, Ahmad Fathanah, and Tubagus Chaeri Wardana. This research aims to describe the ways online media framing sexism and corruption perpetrators on their news. The data were collected from three online news sites, namely Detik.com, Kompas.com, and Tribunnews.com. The results show that female corruption perpetrators were often framed as sexual objects exposing their body or appearance, which tended to be sensational and out of context. Meanwhile, the male corruption perpetrators were often reported with women on their surroundings, which were also exposed as sexual objects and even stigmatized to be guilty on the corruption committed by those men. In general, public comments in responding that news used abusive and sexist languages, which mostly addressed to the female corruption perpetrators and the women surrounding the male corruption perpetrators. Keywords: sexism, media, corruption, gender

ANALISIS WACANA KRITIS FILM “PUTERI GIOK”: CERMIN ASIMILASI PAKSA ERA ORDE BARU

Marta, Rustono Farady ( Program Studi Ilmu Komunikasi - Universitas Bunda Mulia, Jakarta )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.155 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.323

Abstract

Abstrak Media massa merupakan salah satu sarana bagi setiap bangsa untuk memperkenalkan perjalanan sejarahnya dari masa ke masa. Salah satu perekam jejak yang paling efektif adalah film nasional. Film nasional dapat merefleksikan proses konstruksi identitas yang ditampilkan, baik visual maupun nonverbal. Salah satu film nasional yang menggambarkan hal tersebut adalah “Puteri Giok” yang dibesut oleh Maman Firmansjah pada tahun 1980. Film tersebut berkisah mengenai konflik tentang asimilasi melalui relasi seorang remaja putri bernama Han Giok Nio dan Han Tek Liong sebagai kakaknya. Konflik muncul akibat opini TuanVijay, rekan bisnis Han Liong Swie, ayah Giok dan Tek Liong, mengenai hubungannya dengan Herman seorang pribumi. Kemarahannya memuncak hingga menggunduli rambut Giok. Tak pelak, Tek Liong mendatangi kantor TuanVijay untuk menyadarkannya melalui Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dipahaminya sebagai upaya meredam rasialisme. Peneliti menggunakan wacana Leeuwen untuk menyibak pola bercerita film yang mengetengahkan tokoh minoritas yang dibungkam dari berbagai tataran identitasnya, bahkan seakan-akan memperjuangkan terjadinya pembauran. Film ini memperlihatkan adanya doktrin Pancasila serta subordinasi dari pemangku kebijakan di era pemerintah Orde Baru melalui BP 7 dan BAKOM PKB serta doktrin Pancasila. Selain itu, praktik-praktik diskursif berupa “asimilasi paksa” tampak melalui wacana film. Kata kunci: Film Nasional, Wacana Kritis Leeuwen, Asimilasi Paksa Abstract Mass media is one way for each nation to introduce their history now and then. One of the most effective track records is the national movie, which reflects the process of identity construction both visual and nonverbal. The national movie "Puteri Giok"—directed by Maman Firmansjah in 1980—told the story of a teenage girl, namely Han Giok Nio and her brother, Han Tek Liong, who dealt with assimilation issue. Conflict arised from the opinion of Mr. Vijay as a business partner of Han Liong Swie, the father of Giok and Tek Liong about her relationships with Herman—a “pribumi”, which led to cut Giok’s hair bald. In the conflict, Pancasila and the motto ‘Unity in Diversity’ were understood to prevent racism. Researcher used Leeuwen critical discourse to uncover the pattern of the movie, which muted the minority figures from their identities, even as though fighting for assimilation. The movie shows that there was Pancasila doctrinal as well as assimilation that reflected the subordination of the New Order regime through BP 7 and Bakom PKB. Moreover, the discursive practices in the movie also showed the "forced assimilation". Keywords : National Movie , Leeuwen Critical Discourse, Forced Assimilation

TELEVISI DAN MASYARAKAT DALAM ORDE MEDIA (Tinjauan Buku)

Izzati, Fatimah Fildzah ( Pusat Penelitian Politik - LIPI )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.518 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.327

Abstract

Judul Buku : Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru Editor : Yovantra Arief & Wisnu Prasetyo Utomo Penerbit : Insist Press, Yogyakarta Tahun Terbit : 2015 Jumlah Hlm. : vii+295 halaman

CYBER-URBAN SPACE CONNECTIONS ON THE RISE OF LABOUR ACTIVISM: A CASE STUDY OF INDONESIAN METAL WORKERS’ FEDERATION KETERHUBUNGAN RUANG PERKOTAAN-MAYA DALAM AKTIVISME BURUH: STUDI KASUS FEDERASI SERIKAT PEKERJA METAL DI INDONESIA

Hadi, Aulia ( Research Centre for Society and Culture-Indonesian Institute of Sciences )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.526 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.322

Abstract

Abstract This paper argues that both urban and cyber activisms play significant roles in the labour movements in Indonesia after the reformation 1998. Exploring Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI)-Indonesian Metalworkers’ Federation, this paper is aimed at a better understanding of the interdependencies between the urban and cyber spaces for labour movements. More specific, how do labours engage in cyber-urban activism to establish their movements in order to gain their political leverages? Results highlight four issues: (a) the growing of militant labour movement in the recent urban space; (b) the emergence of urban industrial working class; (c) cyber-urban space is a political terrain for the state, the corporate, and the labours; and (d) one side of cyber-urban connection can generate, strengthen, weaken, or even kill the other side. Keywords: FSPMI, labour, movement, cyber, urban, activism Abstrak Tulisan ini berpendapat bahwa aktivisme perkotaan maupun maya sama-sama memiliki peran penting dalam gerakan buruh di Indonesia setelah reformasi 1998. Dengan mengeksplorasi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), tulisan ini bertujuan untuk lebih memahami saling ketergantungan antara ruang perkotaan dan ruang maya untuk gerakan buruh. Lebih spesifik, bagaimana buruh terlibat dalam aktivisme ‘perkotaan-maya’ untuk membangun gerakan mereka dalam memperjuangkan pengaruh politiknya? Hasil penelitian menggarisbawahi empat isu, yaitu: (a) tumbuhnya gerakan buruh militan di ruang kota masa kini; (b) munculnya kelas pekerja industri perkotaan; (c) ruang ‘perkotaan-maya’ adalah medan politik untuk negara, perusahaan, dan buruh; serta (d) satu sisi dari keterhubungan ruang ‘perkotaan-maya’ dapat menghasilkan, memperkuat, melemahkan, atau bahkan membunuh sisi lain. Kata kunci: FSPMI, buruh, gerakan, maya, perkotaan, aktivisme

Page 1 of 1 | Total Record : 9