cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JFIOnline
ISSN : 14121107     EISSN : 2355696X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Indonesia yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia. Isi website memuat seluruh jurnal yang telah diterbitkan mencakup semua aspek dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian antara lain farmakologi, farmakognosi, fitokimia,farmasetika, kimia farmasi, biologi molekuler, bioteknologi, farmasi klinik,farmasi komunitas, farmasi pendidikan, dan lain-lain.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 1 (2010)" : 8 Documents clear
UJI SITOTOKSISITAS BUAH MERAH, MAHKOTA DEWA DAN TEMU PUTIH TERHADAP SEL KANKER SERVIKS Radji, Maksum; Aldrat, Hendri; Harahap, Yahdiana; Irawan, Cosphiadi
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The cytotoxic effect of herbal medicines has been examined using HeLa cells line (cervical cancer cell culture). The result showed that the LC50 value of buah merah [Pandanus conoideus Lam.], mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] and temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] extracts were  421 µg/ml, 835µg/ml and 58,9 µg/ml after 24 hour incubation, whereas the LC50 of each extract were 276.79 µg/ml, 415,9 µg/ml and 29.19 µg/ml after 48 hour incubation respectively. The cytotoxic activity of temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.)] extract to HeLa cells was stronger than buah merah [Pandanus conoideus Lam.] and mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] extracts.   ABSTRAK Telah dilakukan penelitian efek sitotoksisitas ekstrak buah merah [Pandanus conoideus Lam.], mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] and temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] terhadap sel HeLa (kultur sel kanker serviks). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 dari ketiga ekstrak tersebut masing-masing adalah 421 µg/ml, 835µg/ml and 58,9 µg/ml, setelah waktu inkubasi selama 24 jam, sedangkan LC50 setelah diinkubasi selama 48 jam adalah  276.79 µg/ml, 415,9 µg/ml and 29.19 µg/ml. Aktivitas sitotoksik  temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.)] terhadap sel HeLa  lebih kuat dibandingkan dengan buah merah [Pandanus conoideus Lam.] dan mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.]
ISOLASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DARI KELOPAK BUNGA NUSA INDAH (Mussaeda frondosa L.) Putra, Deddi P.; Fatra, H. Al; Bakhtiar, A.
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An antioxidant flavonol glycoside isoquercitrin (0.01% w/w) from white petals of Mussaenda frondosa L flowers has been isolated in form of amorf yelowish powder, m.p. 288-230 oC. The structure was established from data of chromatography, UV-Vis spectra with shift reagents, infrared as well as the analysis of spectral data of  1H and 13C NMR. Antioxidant activity was performed by inhibition of radical scavenger of 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) 50mM and the compound showed a high persentage inhibition of 93.97% compared to quersetin (92.92%). The compound was first reported from white petal of Mussaenda frondosa L.   ABSTRAK Antioksidan isokuersitrin (0,01% b/b) telah diisolasi dari kelopak putih bunga Nusaindah (Mussaenda frondosa L.), berupa amorf berwarna kuning dengan jarak leleh 228-230°C. Struktur senyawa ini ditetapkan berdasarkan (pola) kromatografi, spektrofotometer ultraviolet dengan berbagai pereaksi geser, spektrum inframerah serta analisis spektrum RMI (1H dan 13C). Pemeriksaan aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) 50mM dan senyawa (1) memiliki persentase inhibisi sebesar 93,97% sebanding dengan kuersetin (92,29%). Senyawa ini baru pertama dilaporkan dari kelopak putih bunga Mussaenda frondosa L
DISOLUSI KAPSUL TEOFILIN DALAM MODEL RACIKAN RESEP DOKTER Hutagaol, Lungguk; Irwan, Yenny
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Theophylline is asthma treatment that quite a lot used and have narrow therapy scope and is often combined with ephedrine hidrochloride in doctor’s prescription. Recently handling compounding the  prescription is  in highly varied and this condition has influenced dissolution rate. In consequence, conducted research hits difference dissolution capsule from compounding that indigenous to active ingredient and from tablet that triturated become powder. Despitefully, conducted research hits influence ephedrine hydrochloride to theophylline dissolution rate. The result can be concluded that formed compounding from powder produces super ordinate dissolution are compared to compounding from combination of  theophylline and ephedrine hydrochloride tablet. So compounding from theophylline and ephedrine hydrochloride tablet is inadvisable because they decrease theophylline dissolution rate. ABSTRAK Teofilin merupakan obat asma yang cukup banyak digunakan dan mempunyai lingkup terapi  sempit serta sering dikombinasi dengan efedrin hidroklorida dalam racikan resep dokter. Saat ini penanganan racikan resep dokter di apotek  sangat  bervariasi dan hal ini berpengaruh pada kerapatan mampat yang akhirnya mempengaruhi kecepatan disolusi. Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai perbedaan disolusi kapsul racikan yang berasal dari bahan baku serbuk dan dari tablet yang digerus menjadi serbuk. Di samping itu, dilakukan penelitian mengenai pengaruh efedrin hidroklorida terhadap disolusi kapsul teofilin. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kapsul yang diracik dari bahan baku serbuk menghasilkan disolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kapsul yang diracik dari bentuk  tablet. Oleh karena itu racikan dari tablet  teofilin dan efedrin hidroklorida  tidak disarankan karena menurunkan laju disolusi teofilin.
POLA RESISTENSI ANTIBIOTIK TERHADAP ISOLAT BAKTERI SPUTUM PENDERITA TERSANGKA INFEKSI SALURAN NAFAS BAWAH Kumala, Shirly; Pasanema, Dimas A. M.; Mardiastuti, .
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lower respiratory tract infection (LRTI) was one type of lung infection that is commonly suffered by the indonesion society including “in patients” in hospital ward.  The percentage of lung infection case was found to be 60-80% of all case of lung related disease while the rest (20-40%) were classified as non-infectious lung disease.  Fast and accurate diagnosis followed by correct choice of antibiotics based on antibiotic resistance test would certainly help to establish accurate diagnosis and treatment. Studies were carried out in clinical microbiology laboratory in the Faculty of Medicine of University of Indonesia.  A total of 124 specimens were used in the study, contained sputtam excreted by patients diagnosed with lower respiratory tract infectious disease. Isolation and identification procedure was performed according to the Laboratory standard operational procedure (SOP).  Antibiotic resistance test was performed using “CAKRAM” diffusion techniques according to CLSI which is abbreviated as Clinical and Laboratory Standards Institute. 76 bacterial isolates were successfully isolated and identified.  Most of the bacteria found were identified as Klebsiella Pneumoniae and they were Erithromycin sensitive and Ticarsilin resistant (75.9%).   ABSTRAK Infeksi Saluran Nafas Bawah (ISNB) merupakan penyakit infeksi paru yang paling sering ditemukan di masyarakat maupun yang dirawat di Rumah Sakit, dan masih merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Penyakit infeksi paru berkisar 60-80% dari seluruh penyakit paru, sedangkan sisanya (20-40%) merupakan penyakit non infeksi. Penentuan diagnosis secara cepat dan tepat serta pemilihan antibiotik berdasarkan uji resistensi akan sangat membantu dalam petanalaksanaan dan terapi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Spesimen yang digunakan berupa sputum penderita tersangka infeksi saluran nafas bawah, jumlah sampel 124. Isolasi dan identifikasi dilakukan sesuai standard operasional laboratorium, uji resistensi menggunakan difusi cakram menurut CLSI. Dari hasil isolasi diperoleh 76 isolat bakteri, yang terbanyak  adalah Klebsiella pneumoniae yang sangat sensitif terhadap Eritromisin dan resisten terhadap Tikarsilin (75,9%)
PERENCANAAN DAN PENGADAAN OBAT DI PUSKESMAS SURABAYA TIMUR DAN SELATAN Athijah, Umi; Zairina, Elida; Sukorini, Anila Impian; Rosita, Efrita Mega; Putri, Anindita Pratama
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Primary Health Center as an organization of public health service has an excellent service quality character, besides qualified medical services. Service will run if the availability and quality of medicines is assured. This study was conducted to get an overview of planning and procurement of medicines at primary health centers. It was observational and descriptive study. The sample was the entire primary health centers in South and East Surabaya (n = 26) and the respondent was the staff of primary health center who manage planning and procurement of medicines. The data was collected by validated questionnaires and check list. Results showed that 57.7% respondents was pharmacists. Non-DOEN generic medicines and patent medicines were provided by 61.5%. The combined method (epidemiology-consumption method) was used by 61.5% staff to calculate the medicine need. The unschedule procurements have been reported by 57.7% respondents. "Received medicine was not always the same with the request" was reported by 69.2% staff. Only 19.2% respondents always check the medicine name, strength, quantity, dosage form, expired date, batch number and physical condition. To conclude, the medicine demand has not been well covered and only a few staff always check the medicines completely. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang perencanaan dan pengadaan obat di puskesmas. Sampel adalah seluruh puskesmas di wilayah Surabaya Selatan dan Timur (n=26) dengan responden yaitu pengelola obat di setiap puskesmas. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan check list yang telah divalidasi. Dari penelitian ini diketahui bahwa 57,7% pengelola obat di puskesmas adalah apoteker. Sebanyak 61,5% menyediakan obat generik non-DOEN dan obat paten selain obat generik DOEN yang dipersyaratkan. Metode campuran konsumsi dan epidemiologi digunakan oleh 61,5% pengelola dalam menghitung kebutuhan obat. Permintaan obat di luar jadwal pernah diajukan oleh 57,7% responden. “Penerimaan obat tidak selalu sama dengan permintaan” dilaporkan oleh 69,2% pengelola, namun hasil pengamatan dalam checklist menunjukkan seluruh puskesmas mengalami hal tersebut. Hanya 19,2% responden melakukan pengecekan nama obat, kekuatan, jumlah, bentuk sediaan, tanggal kadaluarsa, nomor lot dan kerusakan obat. Kesimpulan yang diperoleh adalah kebutuhan obat di puskesmas masih belum terpenuhi dengan baik terutama karena faktor pengadaan dan hanya sebagian kecil pengelola obat yang melakukan pengecekan obat secara lengkap.
PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN SIROSIS HEPATIK ENSEFALOPATI DI RUMKITAL Dr. RAMELAN SURABAYA Suharjono, .; Rusdiana, Silvia; Lestiono, .; Bagiyo, Harry
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepatic Encephalopathy  is a neuropsychiatric disorder that occurs due to liver damage, especially in  such as cirrhosis hepatic. Most cases of HE are caused by toxic substances such as ammonia. The aim of this study was to identify the profile and pattern of drug use as for HE patients. A retrospective-prospective method was used with a descriptive analysis. Samples taken from October 2008-February 2009 for the retrospective (n = 9) and March 2008-June 2009 for prospective (n = 15) in Room A1, A2, B1 and B2 Department of Internal Medicine Rumkital Dr. Ramelan.   Of 24 patients, 14 patients were male and 10 patients were female.The main therapeutic options for HE patients include parenteral nutrition of the BCAA that were given in 19 people (79.17%); flumazenil, levodopa, bromocriptine, L-ornithine-L-aspartate, citicholine, piracetam; antibiotics also was given such as kanamycin in 19 people (79.17%), neomycin 1 person (4.17%) and metronidazole 2 people (8:33%),  and 3rd generation cephalosporin ie ceftriaxone in 16 people (66.67%). and lactulose in 15 people (66.67%).   ABSTRAK Ensefalopati Hepatik (EH) adalah gangguan neuropsikiatrik yang terjadi karena kerusakan liver  terutama pada sirosis hepatic. Sebagian besar kasus EH disebabkan zat-zat toksik diantaranya ammonia. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi profil dan pola penggunaan obat sesuai indikasi pasien EH. Pada penelitian ini digunakan metode retrospektif-prospektif dengan analisis deskriptif. Sampel diambil pada Oktober 2008-Februari 2009 untuk retrospektif (n=9) dan Maret 2008-Juni 2009 untuk prospektif (n=15) di Ruang A1, A2, B1 dan B2 Departemen Penyakit Dalam dan ECU Rumkital Dr. Ramelan . Obat yang digunakan adalah parenteral nutrition , yaitu : BCAA 19 orang (79.17%), flumazenil, levodopa, bromokriptin, L-ornitin-L-aspartat, sitikolin, pirasetam. antibiotik yang diberikan dalam penelitian adalah kanamisin 19 orang  (79.17%), neomisin 1 orang (4.17 %) dan metronidazol 2 orang (8.33%). Antibiotik lain yang banyak digunakan yaitu seftriakson sebanyak 16 orang (66.67%). laktulosa digunakan pada 15 orang (66.67%).
MONITORING EFEK SAMPING PENGGUNAAN ANTITROMBOTIK PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT Perwitasari, Dyah Aryani; Supadmi, Woro; Kurniyati, .
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acute myocardial infarction (AMI) is one of coronary artery disease that has high rate of mortality and morbidity. The use of antithrombotic has ben recomended widely as the main therapy of AMI. The benefit from using aspirin in high-risk vascular disease patients comes at the cost of increased gastrointestinal complications, such as gastroduodenum ulcerations. This research aimed to know the monitoring of antithrombotics’side effects AMI patients in a private hospital of Yogyakarta from Januari to Desember 2007. The research used descriptive method and the data was collected from patients’ medical records  with AMI as primary diagnose. Result of research showed that antithombotics drugs which applied as therapy at AMI patient were antiplatelets, anticoagulants and thrombolytics. We identified the side effects monitoring such as; haemorrhage risk in 3,90% (2 patients), thrombocytopenia in 3,90% (2 patients) and renal function in 15,58% (12 patients). There were no patients with  gastrointestinal disorder as antithrombotics’side effects. Intensive blood pressure monitoring was done for patient who get thrombolytic therapy (21 patients) that was equal to 26,92% from total patients. ABSTRAK Infark miokard akut (IMA) merupakan jenis penyakit jantung koroner yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Antitrombotik merupakan terapi utama dari IMA. Penggunaan aspirin sebagai terapi IMA sering disertai dengan meningkatnya komplikasi gastrointestinal. Komplikasi tersebut bisa berupa tukak gastroduodenal, dispepsia dan esofagistis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tindakan monitoring efek samping antitrombotik yang telah dilakukan pada  pasian infark miokard akut di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta periode Januari-Desember 2007. Penelitian dilakukan dengan metode non eksperimental dan data monitoring dilihat pada rekam medis pasien IMA. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terapi antitrombotik yang digunakan pada infark miokard akut adalah antiplatelet, antikoagulan dan trombolitik. Monitoring efek samping antitrombotik yang telah dilakukan berupa monitoring perdarahan pada 2 pasien (3,90%), trombositopenia pada 2 pasien (3,90%), fungsi ginjal pada 12 pasien (15,58%). Tidak ada pasien yang mengalami gangguan gastrointestinal akibat efek samping antitrombotik. Monitoring tekanan darah secara intensif hanya dilakukan pada pasien IMA yang mendapat terapi trombolitik yaitu 21 pasien atau sebesar 26,92% dari total pasien IMA.
Editorial Redaksi, Tim
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selamat bertemu lagi Teman Sejawat sekalian. Di tahun baru 2010 ini kami kembali mengunjungi Teman Sejawat dengan berbagai artikel yang merupakan hasil penelitian para peneliti kefarmasian di seluruh Indonesia. Berbeda dengan edisi-edisi yang lalu, kali ini kami menampilkan artikel-artikel kefarmasian dari bidang yang beragam, mulai dari Farmasi Rumah Sakit, Farmasi Komunitas, Farmasetika, sampai dengan Farmasi Bahan Alam. Perubahan ini dilakukan atas usul beberapa Teman Sejawat berdasarkan pertimbangan praktis agar hasil penelitian yang dikirimkan dapat dimuat secepatnya sebelum menjadi basi. Di samping itu, keragaman ini juga dimaksudkan agar setiap edisi dapat dinikmati oleh lebih banyak pembaca sesuai dengan bidang minat masing-masing. Ada satu lagi perubahan mendasar yang terjadi, yaitu sejak edisi ini, Volume 5 Nomor 1 Januari 2010, Jurnal Farmasi Indonesia diterbitkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bukan lagi ISFI, sebab pada Kongres Nasional Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia XVIII yang diselenggarakan di Hotel Bumi Karsa Jakarta pada tanggal 7-9 Desember 2009 yang baru lalu telah diputuskan bahwa nama organisasi profesi yang menanungi seluruh apoteker di Indonesia ini berganti menjadi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Pada kongres tersebut juga telah dikukuhkan Ketua Umum IAI untuk periode 2009-2013, yaitu Bapak Drs. M. Dani Pratomo, MM. Selamat bekerja kita ucapkan untuk beliau dengan segenap jajaran pengurus PP IAI yang baru. Semoga dunia Farmasi Indonesia bertambah cerah dan maju pesat, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam pelayanan kefarmasian di rumah sakit dan di komunitas. Pada Kongres Ilmiah ISFI ke XVII yang diselenggarakan bersamaan waktunya dengan Kongres Nasional ISFI ke XVIII tersebut, sebagaimana biasanya telah pula dipilih makalah-makalah yang dinilai oleh para juri sebagai the best untuk bidang masing-masing. Makalah yang dipresentasikan secara oral dibagi dalam tujuh bidang, dan makalah-makalah terbaik ketujuh bidang tersebut adalah: “Sintesis N-2-klorobenzoilamoksisilin dan uji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus ATCC” (Bidang Farmasi, Kimia Medisinal, dan Analisis Kimia) yang ditulis oleh TS Ika Trisharyanti, Dian Kusumowati, Siswandono, dan Marcellino Rudyanto, “Potensi antioksidan dan kandungan proantosianidin rempah-rempah daerah Sumatera Barat” (Bidang Fitokimia, Farmakognosi) yang ditulis oleh TS Deddi Prima Putra, H. Al-Fatra, dan N. Indrawati, “Pengaruh penggunaan sumber karbohidrat berbeda pada media fermentasi cair Monascus purpureus” (Bidang Mikrobiologi, Biologi molekuler, Bioteknologi) yang ditulis oleh TS Anna Yuliana, Dewi Astriany, Marlia S. Wibowo, dan Amir M. Miftah, “Physicochemical properties of hesperidin nanocrystals” (BidangTeknologi Farmasetika) yang ditulis oleh TS Rachmat Mauludin, Rainer H. Muller, dan Cornelia M. Keck, “Penggunaan natrium bikarbonat pada pasien penyakit ginjal kronik-komplikasi asidosis metabolik” (Bidang Farmasi Rumah Sakit, Farmasi Klinik) yang ditulis oleh TS Budi Suprapti, Chandra Irawadi, dan Novita Ika M, “Kompetensi apoteker dan profil pelayanan kefarmasian di apotik pasca PUKA di kota Medan” (Bidang Farmasi Komunitas, Farmasi Pendidikan) yang ditulis oleh TS Wiryanto, dan “Penghambatan secara in vitro senyawa 2,4-dinitrofenilhidrazon kalanon pada sel HeLa dan pengaruhnya terhadap ekspresi p53 dan p21” (Bidang Farmakologi, Toksikologi) yang ditulis oleh TS Heny Ekowati, Indwiani Astuti, dan Mustofa. Untuk presentasi dalam bentuk poster ditetapkan satu presentasi terbaik, yaitu poster tentang “Penambatan molekuler beberapa senyawa kurkuminoid pada siklooksigenase” yang ditulis oleh TS Rezi Riadhi Syahdi, Arry Yanuar, dan Hayun. Kami ucapkan selamat kepada para pemenang, semoga bertambah sukses di masa depan, dan semoga kemenangan Teman Sejawat akan memberi inspirasi dan menambah semangat Teman Sejawat yang lain untuk melakukan penelitian yang lebih bermutu dan lebih bermanfaat, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun untuk kesejahteraan umat manusia pada umumnya. Hasil penelitian penggunaan obat di rumah sakit selalu menarik untuk dicermati, karena sedikit banyak dapat mengungkapkan dan meningkatkan peran para apoteker di rumah sakit.  Informasi yang diperoleh dari penelitian seperti ini tentu saja sangat berguna sebagai rujukan atau data pembanding untuk mengaplikasikan pelayanan kefarmasian yang lebih baik di tempat kita masing-masing bertugas. Dalam edisi ini kami menyajikan 2 laporan penelitian tentang Farmasi Rumah Sakit, yaitu tentang penggunaan obat pada pasien sirosis hepatik dengan komplikasi ensefalohepatik dan yang kedua tentang efek samping penggunaan antitrombotik pada pasien infark miokard akut. Di samping itu menarik juga untuk dicermati bagaimana perencanaan dan pengadaan obat di puskesmas sebagaimana yang dilaporkan oleh Teman Sejawat dari Surabaya. Dua penelitian bahan alam kami sajikan dalam edisi ini, yang pertama tentang uji sitotoksisitas buah merah, mahkota dewa, dan temu putih terhadap sel-sel kanker serviks, dan yang kedua tentang senyawa antioksidan yang berhasil diisolasi dari kelopak bunga Nusa indah. Nampaknya penelitian untuk menemukan senyawa-senyawa anti kanker dari bahan alam merupakan salah satu topik yang cukup banyak diminati, apa lagi saat ini pengujian menggunakan sel-sel kanker secara in vitro sudah cukup mudah dilakukan. Informasi yang diperoleh tentu saja sangat berharga untuk menemukan obat baru, asal saja penelitian tersebut tidak berhenti di tempat, tetapi dilanjutkan secara sistematis sampai berhasil menemukan senyawa yang benar-benar dapat digunakan sebagai obat. Harus diakui hal ini tentu tidak mudah, memerlukan energi yang tidak sedikit dan juga ketekunan dan kecermatan yang luar biasa. Tetapi mau tidak mau hal ini harus dilakukan agar suatu saat kita dapat berkontribusi nyata dalam penemuan obat baru. Selamat membaca, selamat menambah wawasan iptek kefarmasian Anda. Maju terus Farmasi Indonesia. Salam Hangat   Redaksi

Page 1 of 1 | Total Record : 8