Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika
ISSN : 24773514     EISSN : 26140055
“Hermeneutika”memuat hasil penelitian yang berkaitan dengan pengembangan sains dan teknologi dalam bidang sosiologi.
Articles
20
Articles
Dominasi Negara dalam Penguasaan Tanah Adat Bagi Kepentingan Kapital

Yuliana, Yuliana ( Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Palangka Raya )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.578 KB)

Abstract

AbstrakPemerintah Daerah Kabupaten Katingan dalam penguasaan tanah adat bagi kepentingan perusahaan pada sengketa tanah adat betang sangkuwu di Desa Tumbang Marak, mempraktikkan strategi dominasi dengan menggunakan kekuasaanya secara sewenang-wenang yang bersumber dari Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No. 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah  dan Peraturan Gubernur No. 13 Tahun 2009 Tentang Tanah Adat dan Hak-Hak Adat di Atas Tanah di Kalimantan Tengah. Dominasi pemerintah daerah dilakukan dengan mengintervensi apartus adat Kedamangan, dan membuat krisis otoritas Lembaga Adat Kedamangan sehingga gagal melaksanakan peradilan adat. Berdasarkan latar belakang tersebutlah, penelitian ini bertujuan untuk; (1) menjelaskan strategi dominasi  pemerintah  daerah  dan (2)  mengetahui   posisi   kewenangan   Kedamangan   dalam   dominasi pemerintah. Secara teoritis, permasalahan penelitian dibahas menggunakan teori   strukturasi   Bourdieu.   Metode   studi   ini   menggunakan pendeketan kualitatif deskriptif dengan cara pengumpulan data; wawancara, observasi, bukti bisu dan bukti visual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa; Strategi dominasi yang digunakan pemerintah yaitu pertaruhan modal simbolis berupa kewenangan yang bersumber dari Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No. 16 Tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah  dan Peraturan Gubernur No. 13 Tahun 2009 Tentang Tanah Adat dan Hak-Hak Adat di Atas Tanah di Kalimantan Tengah. Strategi tersebut membuat pemerintah mengakumulasi  modal simbolik, modal ekonomi dan   sosial.   Adapun   dominasi  pemerintah  menggunakan  kewenangannya untuk  membuat  krisis  otoritas pada lembaga  adat Kedamangan,  menempatkan posisi kewenangan lembaga adat Kedamangan berada di bawah dominasi pemerintah.Kata kunci : dominasi pemerintah, modal simbolis, penguasaan tanah adat  bagi  kepentingan  perusahaan, krisis Otoritas lembaga adat Kadamangan.AbstractThe Regional Government of Katingan Regency in the control of customary land for the company's interests in the dispute over the Betang Sangkuwu customary land in Tumbang Marak Village, practiced a strategy of domination by using its authority arbitrarily originating from the Regional Regulation of Central Kalimantan Province No. 16 of 2008 concerning the Institution of Dayak Customs in Central Kalimantan and Governor Regulation No. 13 of 2009 concerning Customary Land and Indigenous Rights on Land in Central Kalimantan.The dominance of the regional government was carried out by intervening in the Kedamangan traditional apartment, and making a crisis of the authority of the Kedamangan Customary Institution so that it failed to carry out customary justice. Based on this background, this study aims to; (1) explain the strategy of local government domination and (2) find out the position of the Kedamangan authority in the dominance of the government. Theoretically, the research problem is discussed using Bourdieu's structuration theory. This study method uses descriptive qualitative approaches by means of data collection; interviews, observation, silent evidence and visual evidence.The results of the study show that; The domination strategy used by the government is the gambling of symbolic capital in the form of authority originating from the Regional Regulation of Central Kalimantan Province No. 16 of 2008 concerning the Dayak Customary Institution in Central Kalimantan and Governor Regulation No. 13 of 2009 concerning Customary Land and Indigenous Rights on Land in Central Kalimantan. This strategy makes the government accumulate symbolic capital, economic and social capital. As for the dominance of the government using its authority to create a crisis of authority at the Kedamangan customary institution, placing the authority position of the Kedamangan customary institution under the domination of the government.Keywords: government domination, symbolic capital, control of customary land for the benefit of the company, crisis of Kadamangan traditional institution authority.

Jaringan Sosial dan Pemberdayaan Pedagang Perempuan di Pasar Tradisional Rau Kota Serang

Musahwi, Musahwi ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Afrizal, Stevany ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Juanda, Sastra ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.863 KB)

Abstract

AbstrakPasar tradisional adalah representasi kelas menengah dan masyarakat miskin Keberadaannya amat vital dalam menopang perekonomian keluarga dan masyarakat secara luas. Secara kuantitas sejak dulu, pasar tradisional lekat dengan kaum perempuan. Namun perhatian khusus terhadap keberadaan kaum perempuan dalam membangun usahanya di pasar tradisional belum mendapatkan perhatian serius. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi mereka dalam membangun usaha tentu tidak bisa diabaikan karena sektor ini menentukan keberlangsungan hidup mereka. Penelitian telah berusaha mengungkap strategi survive dan jaringan sosial kelembagaan bagi perempuan yang membuka usaha di pasar tradisional Rau dalam rangka memberdayakan mereka. Prosedur penelitian yang dipakai adalah kualitatif, yang bertujuan menjaring data yang lebih mendalam terhadap persoalan yang dihadapi objek penelitian. Berdasarkan data yang dihimpun yang telah dianlisis, terdapat beberapa temuan, di antaranya (1) strategi survive ditopang oleh moralitas ekonomi yaitu tidak putus asa. Selain itu, adalah pengetahuan, jaringan sosial kultural dan modal material. (2)  tidak ada jaringan sosial struktural, paguyuban, dan sejenisnya. Karena itu mereka sering mengalami ketidak-adilan sosial dan ekonomi. Partisipasi terhadap berbagai kebijakan di pasar rendah sebab mereka tidak pernah dilibatkan. Mereka hanya datang berdagang. (3) belum ada program pemberdayaan yang khusus dibuat untuk kalangan perempuan yang membuka usaha di pasar, meskipun keberadaan mereka sangat vital dalam perekonomian. Kata Kunci: Pasar Tradisional, Pemberdayaan Ekonomi,  PerempuanAbstractTraditional markets are representations of the middle class and the poor. Its existence is vital in sustaining the economy of the family and society at large. In quantity, traditional markets are closely related to women. However, special attention to the existence of women in building their businesses in traditional markets has not received serious attention. The problems they face in building a business cannot be ignored because this sector determines their survival. Research has sought to uncover survival strategies and institutional social networks for women who open businesses in the traditional Rau market in order to empower them. The research procedure used is qualitative, which aims to capture deeper data on the problems faced by the research object. Based on the data collected which has been analyzed, there are several findings, including (1) survival strategies supported by economic morality, namely not despairing. In addition, it is knowledge, social cultural networks and material capital. (2) there are no structural social networks, associations, and the like. Therefore they often experience social and economic injustice. Participation in various policies on the market is low because they have never been involved. They only come to trade. (3) there is no empowerment program specifically created for women who open businesses in the market, even though their existence is vital in the economy.Keywords: Traditional Markets, Economic Empowerment, Women

Implementasi Bahan Ajar Berbasis Web pada Mata kuliah Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat di Jurusan Pendidikan Sosiologi Untirta

Setiawan, Rizki ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Kuntari, Septi ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.753 KB)

Abstract

AbstrakArtikel ini merupakan hasil penelitian yang  menggunakan metode Research and Development (R & D). Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui efektifivitas  bahan ajar berbasis Web pada Mata Kuliah Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Bahan Ajar Berbasis Web sebelum digunakan, telah melalui tahapan validasi yang dilakukan oleh ahli media dan ahli materi. Setelah di validasi oleh ahli media dan ahli materi, kemudian bahan ajar berbasis web di uji cobakan pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, tahapan uji coba meliputi ujicoba terbatas dan ujcoba secara luas.Uji Keefektifan Bahan Ajar menggunakan t test (Uji- t) pada taraf signifikansi 5% , diperoleh  thitung sebesar 42,566 dan ttabel sebesar 2,064. Hal ini menunjukkan bahwa thitung> ttabel .Dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berbasis web terbukti efektif pada mata kuliah pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.Kata Kunci: pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, sosiologi pembangunan, pembelajaran berbasis web. AbstractThis article was the result of research using the Research and Development (R & D) method. The purpose of the study was to determine the effectiveness of Web-based teaching materials in the Development and Community Empowerment Course. Web Based Learning Materials before being used, have gone through the stages of validation carried out by media experts and material experts. After being validated by media experts and material experts, then Web-based teaching materials were tested on students of the Department of Sociology Education at Sultan Ageng Tirtayasa University, the stages of the trial included limited trials and extensive trials.Teaching Materials Effectiveness Test using t test (t-test) at the significance level of 5%, obtained tcount of 42.566 and t table of 2.064 This indicates that tcount> t table.Conclution of this study is that Web-Based Teaching Materials proved effective in development and community empowerment courses.Keywords: development and community empowerment, sociology of development, web-based learning

Kajian Etnopedagogi: Seba dalam Masyarakat Baduy

Heriawan, Adang ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Soetrisnaadisendjaja, Denny ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Hidayati, Siska ( Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.905 KB)

Abstract

Abstrak Etnopedagogi memandang pengetahuan atau kearifan lokal (local nowledge, local wisdom) sebagai sumber inovasi dan keterampilan yang dapat diberdayakan demi kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya, Hafid, et al (2015) menegaskan bahwa “...Ethnopedagogy is an educational practice based on local wisdom in various fields such as medicinal treatment, selfdefence art, living environment, agriculture, economy, government, calendar system, and etc. Ethnopedagogy perceives that knowledge or local wisdom as the source of innovation and skill that can be empowered for the sake of the society’s welfare...”. Pendapat ini menegaskan bahwa etnopedagogi mengangkat nilai- nilai kearifan lokal sebagai bagian penting dalam proses pendidikan, sebagai bagian dari proses pembudayaan. Selain itu, dalam ekskalasi interaksi sosial yang semakin dinamis karena berbagai isyu yang akan menjadi pemicu munculnya konflik, juga menempatkan etnopedagogi sebagai model pembelajaran berbasis perbedaan dalam upaya menemukan upaya penyatuan dalam perbedaan itu sendiri. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Guzaliya Zh Fahrutdinova (2016) dalam salah satu kajian empiriknya menjelaskan sebagai berikut : “ With the increased tension in human relations, in a burst of misundertsanding, ethnic conflicts, which have proliferated in a new socio-cultural environment, the study of processes of interaction in multi-ethnic educational environment and upbringing, the emerging national identity for centuries, actualizes the importance of contemporary problems of etnopedagogical education”.Pendidikan melalui pendekatan etnopedagogi, melihat pengetahuan lokal sebagai sumber inovasi dan keterampilan yang dapat diberdayakan (Priadi Surya, 2011) untuk proses pembelajaran yang sedang dan akan berlangsung. Kearifan lokal merupakan ungkapan budaya yang khas, didalamnya terkandung tata nilai, etika, norma, aturan dan ketrampilan suatu komunitas dalam memenuhi tantangan keberlanjutan kehidupannya (Suswandari, 2017). Bahkan tidak jarang, kearifan lokal sering digunakan sebagai lokal decisión making, sebagaimana berlaku dalam bidang pengelolaan sumber daya alam dan berbagai aktivitas sosial lainnya dalam lingkungan kehidupan masyarakat.Kata Kunci, Etnopaedagogi, seba, masyarakat dam baduy.Abstract Ethnopedagogy views knowledge or local wisdom (local knowledge) as a source of innovation and skills that can be empowered for the welfare of society. Furthermore, Hafid, et al (2015) asserted that "... Ethnopedagogy is an educational practice based on local wisdom in various fields such as medicinal treatment, self-defense art, living environment, agriculture, economy, government, calendar system, and etc. Ethnopedagogy perceives that knowledge or local wisdom as the source of innovation and skill that can be empowered for the sake of the society ... ". This opinion emphasizes that ethnagagogy elevates the values of local wisdom as an important part of the education process, as part of the civilization process. In addition, in the escalation of increasingly dynamic social interactions because various issues that will trigger the emergence of conflict, also places ethnopedagogy as a difference-based learning model in an effort to find efforts to unite in the differences themselves. This as revealed by Guzaliya Zh Fahrutdinova (2016) in one of his empirical studies explains as follows: "With the increase in human relations tension, in a burst of misunderstanding, ethnic conflicts, which have proliferated in a new socio-cultural environment, the "The study of interaction in multi-ethnic educational environment and upbringing, the emerging national identity for centuries, actualizes the importance of contemporary problems of ethnoagogical education".Education through the ethopedic approach, sees local knowledge as a source of innovation and empowerable skills (Priadi Surya, 2011) for the ongoing and ongoing learning process. Local wisdom is a distinctive cultural expression, in which the values, ethics, norms, rules and skills of a community are contained in meeting the challenges of sustainability of life (Suswandari, 2017). In fact, not infrequently, local wisdom is often used as a local decisión making, as applicable in the field of natural resource management and various other social activities in the community's living environment.Keywords, Etnopaedagogi, seba, community and baduy.

Peningkatan Pemahaman Konsep Dasar Sosiologi melalui Media Pembelajaran Teka Teki Silang Sosiologi

Lubis, Hisnuddin ( Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Trunojoyo )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.128 KB)

Abstract

AbstrakMedia pembelajaran merupakan wahana dan penyampai informasi pendidikan yang dirancang secara baik untuk membantu peserta didik dan mahasiswa memahami meteri perkuliahan. Di era digital ini menuntut peserta didik agar lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan pemahaman knowledge salah satunya dengan hadirnya media pembelajaran teka teki silang, yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep-konsep dasar sosiologi. Penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran sudah merupakan suatu tuntutan. Walaupun prancangan media pembelajaran teka teki sosiologi memerlukan keahlian khusus, bukaberarti media tersebut dihindari adapun media tersebut meliputi komponen soft ware, Leaning Management system (LMS), dan learning content (LC) Kata Kunci. Media Pembelajaran, Teka Teki Sosiologi, Teknologi.Abstract Learning media is a vehicle and transmitter of educational information designed to help students and students understand lecture methods. In this digital era requires students to be more creative and innovative in providing understanding of knowledge, one of which is the presence of crossword puzzle learning media, which aims to improve understanding of the basic concepts of sociology. The use of technology as a learning media has been integrated. Although the practical media of learning sociological puzzles is special, it does not mean that the media is avoided as for the media including soft ware components, Lean Management systems (LMS), and learning content (LC). Keywords. Learning Media, Puzzle Sociology, Technology.

Dampak Perubahan Global terhadap Nilai-nilai Budaya Lokal dan Nasional

Widiansyah, Subhan ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Hamsah, Hamsah ( Universitas Azzahra Jakarta )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.652 KB)

Abstract

ABSTRAKDalam dekade terakhir abad ke-21 dengan arus globalisasi yang sangat cepat mengakibatkan berbagai konteks budaya dalam tradisi di Indonesia mengalami pergeseran nilai-nilai budaya lama dan menghadirkan nilai-nilai budaya baru, nilai-nilai budaya baru tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan individu, masyarakat, lingkungan sosial maupun lingkungan tradisi, baik dalam skala lokal khususnya konteks masyarakat Bugis Makasar secara mikro, maupun nasional serta global. Tulisan ini bertujuan untuk merefleksi tentang hakikat nilai-nilai budaya lokal (kasus Bugis-Makasar), nasional dan global serta langkah yang harus dilakukan terhadap arah perubahan nilai-nilai budaya tersebut, agar kita dapat menselaraskan kebudayaan masing-masing daerah dalam kaitan dengan perubahan zaman. Sehingga dalam dimensi aksiologi perubahan nilai-nilai budaya tersebut tetap berjalan secara positif sebagaimana yang diharapkan. Kata Kunci:  perubahan nilai-nilai budaya lokal, nasional dan global, Bugis-Makasar. ABSTRACTComplete information about the 21st with a very rapid flow of globalization Various cultures in tradition in Indonesia Changes in old cultural values and new cultural values, new and indirect cultural values, society, social or environmental environment tradition, both on a local scale and the Bugis people of Makassar became micro and global. This paper is intended to reflect on the nature of local cultural values (the Bugis-Makassar case), national and global as well as steps that must be taken towards the direction of the culture, so that we can harmonize each other's sources in time. In economic dimensions.Keywords: Local, national and global cultural values, Bugis-Makassar

Transmigrasi dan Pembangunan di Indonesia

Legiani, Wika Hardika ( Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Lestari, Ria Yunita ( Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Haryono, Haryono ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.778 KB)

Abstract

AbstractUndang-Undang No. 15 tahun1997 concerning transmigration aims to improve the welfare of transmigrants and the surrounding community, as well as improve and make equitable development in the regions and also strengthen the unity and unity of the nation. Transmigration as a government program is very wise in overcoming population problems.Judging from the agrarian politics the transmigration program is still far from a sense of justice where 2% of Indonesia's population controls more than 90% of the territory of the Republic of Indonesia. This transmigration program is a program carried out by the government since the old order and the new order, but the process of land ownership is still not finished. Many migrants who do not yet have certificates on land that should be theirs are marked with certificates. There are still around 2 million hectares of transmigration lahars that have not been certified by the national land agency. Agrarian reform is basically a state program that is run with certain objectives, both economic (social) goals and other political and social goals. The main argument of the implementation of agrarian reform is injustice: inequality in land tenure that gives birth to poverty and leads to social injustice.Key word : transmigration and development AbstrakUndang-Undang Nomor. 15 tahun 1997 tentang ketransmigrasian bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, serta meningkatan dan melakukan pemerataan pembangunan di daerah dan juga memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Transmigrasi sebagai program pemerintah yang sangat bijak dalam mengatasi masalah kependudukan. Menilik dari politik agraria program transmigrasi masih jauh dari rasa keadilan dimana 2% dari penduduk Indonesia menguasai lebih dari 90% luas lahan wilayah Republik Indonesia. Program transmigrasi ini sebagai program yang dilakukan pemerintah sejak orde lama dan orde baru, namun proses kepemilikan lahan masih belum selesai. Banyak tansmigran yang belum memiliki sertifikat atas lahan yang seharusnya menjadi milik mereka dengan ditandai adanya setifikat. Masih ada sekitar 2 juta hektar lahar transmigrasi yang belum tersetifikat oleh badan pertanahan nasional. Reforma agraria pada dasarnya adalah program negara yang dijalankan dengan tujuan-tujuan tertentu, baik tujuan (pembangunan) ekonomi maupun tujuan politik dan sosial lainnya. Argumen pokok dari pelaksanaan reforma agraria adalah ketidakadilan: ketimpangan dalam penguasaan tanah yang melahirkan kemiskinan dan berujung pada ketitakadilan sosial.Kata Kunci : transmigrasi dan pembangunan

Spiral of silence theory dalam Pemilihan Kepala Daerah

Rahmawati, Rahmawati ( Program Studi Bimbingan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Wibowo, Bangun Yoga ( Program Studi Bimbingan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ) , Musahwi, Musahwi ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.13 KB)

Abstract

AbstrakPemilihan kepala daerah yang bersifat langsung, mempengaruhi para calon berusaha mendapatkan popularitas untuk mendulang suara dengan melakukan kampanye atau pengenalan diri ke masyarakat dengan media. Pengenalan diri melalui media digunakan untuk membangun persepsi positif publik akan dirinya. Media menjadi alat yang digunakan dalam mengarahkan pengetahuan dan sikap masyarakat untuk menentukan pilihan. Pada penelitian ini, bertujuan mengetahui bagaimana konsep spiral of silence theory memandang bahwa orang-orang yang memiliki sudut pandang minoritas mengenai isu-isu publik akan tetap berada pada kondisi suara mereka akan dibatasi. Metode penelitian yang digunakan adalah  yang digunakan adalah studi kualitatif dengan survey langsung dan studi literatur. Dari hasil studi didapatkan bahwa ada 3 asumsi dari spiral of silence theory bahwa masyarakat akan mengancam individu yang menyimpang dengan adanya isolasi; perasaan takut akan isolasi menyebabkan individu untuk setiap saat mencoba iklim opini; perilaku publik dipengaruhi oleh opini publik. Pembangunan opini publik melalui media akan membangun iklim ganda dari opini (dual climates of opinion) yaitu iklim yang dipersepsikan secara langsung oleh populasi dan iklim dari liputan media. Pada kondisi tersebut the train test dapat dilakukan untuk menguji sejauh mana orang akan mengemukakan opini mereka, dengan mengajukan beberapa tema percakapan kepada orang lain, jika terlihat interest dan mengikuti alut pertanyaan maka dianggap ada ketercapaian pembanguna opini publik. Pada orang-orang yang bertahan tidak mau mengemukakan opininya memilih menjadi the hard core.  The hard core merupakan kelompok yang yang tetap berada pada titik akhir dari proses spiral of silence  tanpa memperdulikan ancaman isolasi. Kondisi the hard core ditunjukkan dalam sikap diam, tidak memilih apapun tanpa menunjukan sikap agresi kepada lawan politik yang tidak dipilihnya. Kata Kunci : Spiral of silence theory, the train test, the hard coreAbstractDirect regional head elections affect candidates trying to gain popularity to gain votes by campaigning or introducing themselves to the public with the media. Self-recognition through media is used to build a positive public perception of him. Media becomes a tool used in directing the knowledge and attitudes of the community to make choices. In this study, it aims to find out how the concept of a spiral of silence theory views that people who have a minority viewpoint on public issues will remain in the condition of their voices to be limited. The research method used is the qualitative study with direct surveys and literature studies. From the results of the study it was found that there are 3 assumptions of the spiral of silence theory that society will threaten individuals who deviate in the presence of isolation; fear of isolation causes individuals to at any time try the climate of opinion; public behavior is influenced by public opinion. The development of public opinion through the media will build dual climates of opinion, namely the climate that is directly perceived by the population and the climate of media coverage. In these conditions, the train test can be done to test the extent to which people will express their opinions, by proposing several conversational themes to others, if interest is seen and following questions, then there is an achievement of the development of public opinion. People who persevere do not want to express their opinions choosing to be the hardcore. The hardcore is a group that remains at the end point of the spiral of silence process regardless of the threat of isolation. The condition of the hardcore is shown in silence, not choosing anything without showing an attitude of aggression to political opponents who are not chosen.Key word : Spiral of silence theory, pilkada

Dinamika Pengembangan Pariwisata Pantai Goa Cemara di dusun Patihan

Lindawati, Yustika Irfani ( Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.402 KB)

Abstract

AbstrakPengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT) merupakan bentuk pariwisata yang memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengontrol dan terlibat dalam manajemen dan pengembangan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pengembangan pariwisata Pantai Goa Cemara yang dilakukan oleh masyarakat dusun Patihan sebagai masyarakat lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah indigeneous methodologies. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa ide pengembangan pariwisata berasal dari individu dalam masyarakat lokal. Perkembangan pariwisata Pantai Goa Cemara hanya meliputi dua tahap yaitu discovery dan local response and initiative. Keterlibatan masyarakat dusun Patihan sebagai perencana, pelaksana, pengelola dan pemantau serta evaluator sesuai dengan prinsip pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT). Kata kunci: dinamika pengembangan pariwisata, fase perkembangan pariwisata, community based tourismAbstract Community based tourism is a form of tourism that provide opportunities for local communties to control and involve the management and development of tourism. This study aims to determine the dynamics of the development of Goa Cemara Beach tourism carried out by the community of Patihan hamlet as a local community. The research method used is independent methodologies. Data collection is done by observation, in-depth interviews and literature studies. The results of the study show that the idea of tourism development comes from individuals in the local community. The development of Goa Cemara Beach tourism only includes two stages, namely discovery and local response and initiative. The involvement of the Patihan hamlet community as planners, implementers, managers and monitors and evaluators is in accordance with the principles of community-based tourism development (CBT). Key word: the dynamics of tourism development, the phase of development of tourism, community based tourism, community based tourism

Gambaran Perilaku Menyimpang Mahasiswa Indekost dan Upaya Pencegahannya

Hayat, Nurul ( Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa )

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.06 KB)

Abstract

AbstrakPara siswa yang indekost kebanyakan berasal dari daerah yang jauh, seperti mengakses film negatif, hingga jatuh ke dalam hubungan negatif dengan para mitranya, dampaknya adalah untuk menjangkau orang tua, pemilik rumah kost, dan pengembangan media dari media telekomunikasi yang disalahgunakan, ini harus dicegah pendekatan oleh semua pihak.Kata kunci: siswa, ruang, perilaku menyimpangAbstractStudents who are boarding houses are mostly from distant regions, the behavior of daily life of students is sametimes deviant such as accessing negative film, until falls into a negative relationship with its partner, the impact is in addition to the reach of parents, boarding house owners, and the development media of misused telecommunications media, this must be prevented approach by all parties.Keyword : students, space, deviant behavior