cover
Contact Name
Pendidikan Sosiologi
Contact Email
sosiologi@untirta.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
yustikairfani@untirta.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika
ISSN : 24773514     EISSN : 26140055     DOI : -
Core Subject : Social,
“Hermeneutika”memuat hasil penelitian yang berkaitan dengan pengembangan sains dan teknologi dalam bidang sosiologi.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Menuju Sosio Applied Science : Studi Pendekatan Sosiofotografi (Human Interest Photography) sebagai Metode Pembelajaran Sosiologi Munanto, Wahyu
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.655 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i1.3082

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengembangkan metode pembelajaran Sosiologi ke arah applied science lewat media Sosiofotographi (Human Interest) bagi siswa SMAN 16 Bekasi sebagai salah satu metode belajar yang memberikan ruang aplikatif kepada siswa agar mampu menangkap gejala sosial di sekitar mereka lewat media foto. Artikel ini dalam penelitian sosial diklasifikasikan sebagai action research, yang memiliki pandangan bahwa pengetahuan dapat dibangun dari pengalaman yang terbentuk dari tindakan. Dengan demikian orang dapat ditingkatkan kemampuannya melalui tindakan penelitian. Subjek dalam artikel ini adalah siswa-siswi SMAN 16 Bekasi. Teknik pengumpulan data dilakukan secara kualitatif dengan pengamatan dan penilaian secara langsung yang dilakukan sehari-hari oleh peneliti. Penelitian ini memberi gambaran bahwa sosiofotografi adalah sebuah pendekatan pembelajaran Sosiologi yang berbentuk karya foto untuk selanjutnya di gabung dengan scrapbook. Dalam sosiofotografi Guru Sosiologi tak hanya mempunyai peran sebagai guru namun juga sebagai kurator foto, yang menyebabkan jika Guru Sosiologi ingin melaksanakan pendekatan sosiofotografi ini, maka guru sosiologi tersebut haruslah mempunyai pengetahuan minimal fotografi. Karena dalam mekanisme fotografi Guru Sosiologi dituntut mampu menyesuaikan hasil foto karya siswa dengan materi Sosiologi yang diajarkan. Diharapkan siswa mampu lebih peka terhadap gejala sosial disekitar mereka, penulis juga memberikan contoh beberapa siswa SMAN 16 Bekasi yang mampu berprestasi jika proses metode sosiofotografi ini berhasil dilaksanakan dengan benar. Kata Kunci: sosiofotografi, human interest, realitas sosial. AbstractThis article aims to develop sociology learning method toward applied science through Sosiofotographi (Human Interest) media for students of SMAN 16 Bekasi as one of the learning method that gives applicative space to students to be able to capture social phenomena around them through photo media. This article in social research is classified as action research, which holds the view that knowledge can be built on the experience formed by action. Thus, people can be increased their ability through research action. Subjects in this article are students of SMAN 16 Bekasi. Technique of data collecting done by leather with direct observation and assessment conducted by everyday by researcher. This study illustrates that socio-photography is a sociology learning approach in the form of photographic works for the next join with scrapbook. In socio-biography Teacher sociology not only has a role as a teacher but also as a photo curator, which causes if the sociology teacher wants to implement this socio-photography approach, then the sociology teacher must have minimal knowledge of photography. Because in the photography mechanism of sociology teachers are required to be able to adjust the results of student work photographs with sociology material taught. It is expected that students can be more sensitive to the social phenomena around them, the author also gives examples of some students of SMAN 16 Bekasi who are able to perform if the process of this sociophotographic method successfully implemented correctly. Keywords: socio-photography, human interest, social reality.
Dampak Perubahan Global terhadap Nilai-nilai Budaya Lokal dan Nasional Widiansyah, Subhan; Hamsah, Hamsah
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.652 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v4i1.4822

Abstract

ABSTRAKDalam dekade terakhir abad ke-21 dengan arus globalisasi yang sangat cepat mengakibatkan berbagai konteks budaya dalam tradisi di Indonesia mengalami pergeseran nilai-nilai budaya lama dan menghadirkan nilai-nilai budaya baru, nilai-nilai budaya baru tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan individu, masyarakat, lingkungan sosial maupun lingkungan tradisi, baik dalam skala lokal khususnya konteks masyarakat Bugis Makasar secara mikro, maupun nasional serta global. Tulisan ini bertujuan untuk merefleksi tentang hakikat nilai-nilai budaya lokal (kasus Bugis-Makasar), nasional dan global serta langkah yang harus dilakukan terhadap arah perubahan nilai-nilai budaya tersebut, agar kita dapat menselaraskan kebudayaan masing-masing daerah dalam kaitan dengan perubahan zaman. Sehingga dalam dimensi aksiologi perubahan nilai-nilai budaya tersebut tetap berjalan secara positif sebagaimana yang diharapkan. Kata Kunci:  perubahan nilai-nilai budaya lokal, nasional dan global, Bugis-Makasar. ABSTRACTComplete information about the 21st with a very rapid flow of globalization Various cultures in tradition in Indonesia Changes in old cultural values and new cultural values, new and indirect cultural values, society, social or environmental environment tradition, both on a local scale and the Bugis people of Makassar became micro and global. This paper is intended to reflect on the nature of local cultural values (the Bugis-Makassar case), national and global as well as steps that must be taken towards the direction of the culture, so that we can harmonize each other's sources in time. In economic dimensions.Keywords: Local, national and global cultural values, Bugis-Makassar
Dampak Keberadaan Industri terhadap Perubahan Struktur Sosial Masyarakat (Studi Masyarakat Desa Bojong, Cikupa, Kabupaten Tangerang) Widiansyah, Subhan
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.793 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i2.3086

Abstract

AbstrakPenelitian  ini  bertujuan  untuk  mengungkap  dampak  keberadaan  industri  terhadap  perubahan  struktur sosial masyarakat. Keberadaan dari industri sangat berdampak pada kehidupan masyarakat  baik  secara  positif  maupun  negatif.  Penelitian  menggunakan  metode  penelitian  deskriptif  dengan  pendekatan  penelitian  kombinasi  (mix  method).  Sampel  menggunakan  teknik  sampel probability  sampling dengan  Simple  random  sampling untuk  pengambilan  sampel  yang  dilakukan  di  Desa  Bojong  Kecamatan  Cikupa  Kabupaten  Tangerang.  Instrumen  yang  digunakan  berbentuk  angket  dengan  menggunakan  skala  politomi  1-5,  dengan  analisis  instrumen  validitas  dan  reliabilitas  serta  instrument  pedoman  wawancara,  observasi  dan  dokumentasi.  Hasil  penelitian  kuantitatif  menggunakan  analisis  uji  asumsi  stastistik  mencakup  uji  normalitas,  uji  multikolinieritas  dan  uji  homogenitas.  Hipotesis  menggunakan  uji  analisis  regresi.  Hasil  penelitian  kualitatif  menggunakan  analisis  reduksi  data,  display  data  dan  verifikasi  data.  Berdasarkan  hasil  penelitian  ditemukan  bahwa: (1) Keberadaan industri berpengaruh pada masyarakat Desa Bojong (2) Perubahan struktur  sosial  masyarakat  terjadi  di  Desa  Bojong.  (3)  Keberadaan  industri  berpengaruh  secara  signifikan  terhadap  perubahan  struktur  sosial  masyarakat  di  Desa  Bojong  Kecamatan  Cikupa  Kabupaten  Tangerang.Kata Kunci: Keberadaan Industri, Struktur Sosial Masyarakat.AbstractThis study aims to reveal the impact of industrial existence on changes in social structure of society.  The  existence  of  the  industry  greatly  affects  people's  lives  both  positively  and  negatively.  The  research used descriptive research method with combination research approach (mix method). The  sample  used  sampling  probability  sampling  technique  with  Simple  random  sampling  for  sampling  conducted  in  Bojong  Village,  Cikupa  Sub-district,  Tangerang  District.  The  instrument  used  in  the  form of a questionnaire using the scale of politomy 1-5, with the analysis of validity and reliability  instruments  and  instrument  guidelines  interview,  observation  and  documentation.  The  result  of  quantitative  research  using  analysis  of  stastistic  assumption  test  include  normality  test,  multicollinearity  test  and  homogeneity  test.  Hypothesis  using  regression  analysis  test.  Qualitative  research  results  using  data  reduction  analysis,  data  display  and  data  verification.  Based  on  the  result of the research, it is found that: (1) The existence of industry has influence to Bojong Village  community  (2)  the  change  of  social  structure  of  society  happened  in  Bojong  Village.  (3)  The  existence  of  industry  has  significant  effect  to  the  change  of  social  structure  of  society  in  Bojong  Village, Cikupa Sub-district, Tangerang Regency. Keywords: Industrial Presence, Social Structure of Society.
Local Indegenous Dalam Demokrasi Modern Soetrisnaadisendjaja, Denny
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.325 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i1.3080

Abstract

AbstrakMasyarakat  dilihat  dari  tatanan  nilai  yang  diterapkan  dalam  konstruksi  sosialnya  terpetakan  ke  dalam  dua  kelompok  yakni  modern  dan  tradisional.  Masyarakat  modern  menyerap  nilai-nilai  universal  yang  bersifat  global  seperti  konsep  demokrasi.  Sedangkan  masyarakat  tradisional  berdasarkan  pada  tatanan  nilai yang  berbasis  pada  religio  magi.    Perjumpaan  paradigma  antara  masyarakat modern dan masyarakat tradisional tidak dapat dihindari dan kerap terjadi kesenjangan  kultur dan pemahaman. Dalam kajian ini diketengahkan perbedaan cara pandang konsep demokrasi  antara  masyarakat  tradisional  dan  masyarakat  modern  dan  bagaimana  masyarakat  tradisional  mensiasatinya  tanpa  terjadi shock  of  cultur.  Sebaliknya,  masyarakat  tradisional  sebagaimana  diketemukan  di  Banten  Kidul  justru  memberikan  sumbangsih  yang  dapat  digunakan  untuk  memperkuat  demokrasi  di  Indonesia.  Kajian  ini  dilakukan  pada  masyarakat  Kasepuhan  Banten  Kidul dengan metode fenomenologis.Kata Kunci: Local Indegenous, Demokrasi ModernAbstractThe society seen from the value order applied in its social construction is mapped into two groups:  modern  and  traditional.  Modern  society  absorbs  universal  values  of  global  nature  such  as  the  concept  of  democracy.  Traditional  societies  are  based  on  values  based  on  religio  magi.  The  paradigm encounter between modern society and traditional society is inevitable and there is often  a  cultural  gap  and  understanding.  In  this  study,  the  differences  between  democracy  concept  between traditional society and modern society and how traditional society mensiasatinya without  shock  of  cultur.  On  the  other  hand,  the  traditional  community  as  found  in  Banten  Kidul  actually  contributes to strengthen democracy in Indonesia. This study was conducted on Kasepuhan Banten  Kidul community with phenomenological method.Keywords: Local Indegenous, Modern Democracy
Dominasi Negara dalam Penguasaan Tanah Adat Bagi Kepentingan Kapital Yuliana, Yuliana
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.578 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v4i2.4828

Abstract

AbstrakPemerintah Daerah Kabupaten Katingan dalam penguasaan tanah adat bagi kepentingan perusahaan pada sengketa tanah adat betang sangkuwu di Desa Tumbang Marak, mempraktikkan strategi dominasi dengan menggunakan kekuasaanya secara sewenang-wenang yang bersumber dari Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No. 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah  dan Peraturan Gubernur No. 13 Tahun 2009 Tentang Tanah Adat dan Hak-Hak Adat di Atas Tanah di Kalimantan Tengah. Dominasi pemerintah daerah dilakukan dengan mengintervensi apartus adat Kedamangan, dan membuat krisis otoritas Lembaga Adat Kedamangan sehingga gagal melaksanakan peradilan adat. Berdasarkan latar belakang tersebutlah, penelitian ini bertujuan untuk; (1) menjelaskan strategi dominasi  pemerintah  daerah  dan (2)  mengetahui   posisi   kewenangan   Kedamangan   dalam   dominasi pemerintah. Secara teoritis, permasalahan penelitian dibahas menggunakan teori   strukturasi   Bourdieu.   Metode   studi   ini   menggunakan pendeketan kualitatif deskriptif dengan cara pengumpulan data; wawancara, observasi, bukti bisu dan bukti visual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa; Strategi dominasi yang digunakan pemerintah yaitu pertaruhan modal simbolis berupa kewenangan yang bersumber dari Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No. 16 Tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah  dan Peraturan Gubernur No. 13 Tahun 2009 Tentang Tanah Adat dan Hak-Hak Adat di Atas Tanah di Kalimantan Tengah. Strategi tersebut membuat pemerintah mengakumulasi  modal simbolik, modal ekonomi dan   sosial.   Adapun   dominasi  pemerintah  menggunakan  kewenangannya untuk  membuat  krisis  otoritas pada lembaga  adat Kedamangan,  menempatkan posisi kewenangan lembaga adat Kedamangan berada di bawah dominasi pemerintah.Kata kunci : dominasi pemerintah, modal simbolis, penguasaan tanah adat  bagi  kepentingan  perusahaan, krisis Otoritas lembaga adat Kadamangan.AbstractThe Regional Government of Katingan Regency in the control of customary land for the company's interests in the dispute over the Betang Sangkuwu customary land in Tumbang Marak Village, practiced a strategy of domination by using its authority arbitrarily originating from the Regional Regulation of Central Kalimantan Province No. 16 of 2008 concerning the Institution of Dayak Customs in Central Kalimantan and Governor Regulation No. 13 of 2009 concerning Customary Land and Indigenous Rights on Land in Central Kalimantan.The dominance of the regional government was carried out by intervening in the Kedamangan traditional apartment, and making a crisis of the authority of the Kedamangan Customary Institution so that it failed to carry out customary justice. Based on this background, this study aims to; (1) explain the strategy of local government domination and (2) find out the position of the Kedamangan authority in the dominance of the government. Theoretically, the research problem is discussed using Bourdieu's structuration theory. This study method uses descriptive qualitative approaches by means of data collection; interviews, observation, silent evidence and visual evidence.The results of the study show that; The domination strategy used by the government is the gambling of symbolic capital in the form of authority originating from the Regional Regulation of Central Kalimantan Province No. 16 of 2008 concerning the Dayak Customary Institution in Central Kalimantan and Governor Regulation No. 13 of 2009 concerning Customary Land and Indigenous Rights on Land in Central Kalimantan. This strategy makes the government accumulate symbolic capital, economic and social capital. As for the dominance of the government using its authority to create a crisis of authority at the Kedamangan customary institution, placing the authority position of the Kedamangan customary institution under the domination of the government.Keywords: government domination, symbolic capital, control of customary land for the benefit of the company, crisis of Kadamangan traditional institution authority.
Transmigrasi dan Pembangunan di Indonesia Legiani, Wika Hardika; Lestari, Ria Yunita; Haryono, Haryono
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.778 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v4i1.4820

Abstract

AbstractUndang-Undang No. 15 tahun1997 concerning transmigration aims to improve the welfare of transmigrants and the surrounding community, as well as improve and make equitable development in the regions and also strengthen the unity and unity of the nation. Transmigration as a government program is very wise in overcoming population problems.Judging from the agrarian politics the transmigration program is still far from a sense of justice where 2% of Indonesia's population controls more than 90% of the territory of the Republic of Indonesia. This transmigration program is a program carried out by the government since the old order and the new order, but the process of land ownership is still not finished. Many migrants who do not yet have certificates on land that should be theirs are marked with certificates. There are still around 2 million hectares of transmigration lahars that have not been certified by the national land agency. Agrarian reform is basically a state program that is run with certain objectives, both economic (social) goals and other political and social goals. The main argument of the implementation of agrarian reform is injustice: inequality in land tenure that gives birth to poverty and leads to social injustice.Key word : transmigration and development AbstrakUndang-Undang Nomor. 15 tahun 1997 tentang ketransmigrasian bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, serta meningkatan dan melakukan pemerataan pembangunan di daerah dan juga memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Transmigrasi sebagai program pemerintah yang sangat bijak dalam mengatasi masalah kependudukan. Menilik dari politik agraria program transmigrasi masih jauh dari rasa keadilan dimana 2% dari penduduk Indonesia menguasai lebih dari 90% luas lahan wilayah Republik Indonesia. Program transmigrasi ini sebagai program yang dilakukan pemerintah sejak orde lama dan orde baru, namun proses kepemilikan lahan masih belum selesai. Banyak tansmigran yang belum memiliki sertifikat atas lahan yang seharusnya menjadi milik mereka dengan ditandai adanya setifikat. Masih ada sekitar 2 juta hektar lahar transmigrasi yang belum tersetifikat oleh badan pertanahan nasional. Reforma agraria pada dasarnya adalah program negara yang dijalankan dengan tujuan-tujuan tertentu, baik tujuan (pembangunan) ekonomi maupun tujuan politik dan sosial lainnya. Argumen pokok dari pelaksanaan reforma agraria adalah ketidakadilan: ketimpangan dalam penguasaan tanah yang melahirkan kemiskinan dan berujung pada ketitakadilan sosial.Kata Kunci : transmigrasi dan pembangunan
Penelitian Tindakan Kelas : Upaya Meningkatkan Kemampuan Menanya Siswa melalui Literasi Informasi Mata Pelajaran IPS Susanti, Otih Yulie
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.823 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i2.3085

Abstract

AbstrakUpaya Meningkatkan Kemampuan Menanya Siswa Melalui Literasi Informasi Pada Mata Pelajaran IPS. Penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan menanya siswa melalui penggunaan literasi informasi pada mata pelajaran IPS. Kegiatan pembelajaran tahap pra siklus membuktikan bahwa kualitas menanya siswa masih rendah. Berdasarkan latar belakang masalah pada pra siklus 1 maka dilakukan penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian pada siklus I diperoleh data kemampuan menanya siswa tingkat tinggi 40%, tingkat sedang 40%, dan tingkat rendah 20%. Keaktifan siswa dalam mengembangkan pertanyaan, berdiskusi, dan melakukan refleksi masih rendah. Keaktifan siswa dalam berinteraksi dengan sumber belajar dan melakukan inkuiri dengan tingkat sedang. Hasil penelitian siklus II diperoleh data kemampuan menanya siswa, tingkat tinggi 56%, tingkat sedang 38% dan tingkat rendah 6%. Keaktifan siswa dalam berinteraksi dengan sumber belajar, melakukan inkuiri dan refleksi dalam kategori sedang, untuk kemampuan siswa dalam mengembangkan pertanyaan dan berdiskusi tingkat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian maka disimpulkan penggunaan literasi infomasi dapat meningkatkan kemampuan menanya siswa pada mata pelajaran IPS di SMPN 1 Cikande. Kata Kunci: Kemampuan Menanya, Literasi Informasi AbstractEfforts to Increase Student Requirement through Information Literacy in IPS Subject. This research is to know the improvement of students' questioning ability through the use of information literacy on social studies subjects. Pre-cycle learning activities prove that the quality of student inquires is still low. Based on the background of the problem on pre cycle 1 then done classroom action research. The results of the research in the first cycle of data obtained the ability to ask high-level students 40%, moderate 40%, and low level 20%. Students' activeness in developing questions, discussions, and reflections is still low. Activity of students in interacting with learning resources and do inquiri with medium level. The results of the second cycle of research obtained data students' ability to ask, high level 56%, moderate 38% and low level 6%. Activity of students in interacting with learning resources, inquiry and reflection in the medium category, for students' ability to develop questions and discuss high-level. Based on the result of the research, it can be concluded that the use of information literacy can improve students' ability to question students in IPS subjects in SMPN 1 Cikande. Keywords: Lending Capability, Information Literation
Jaringan Sosial dan Pemberdayaan Pedagang Perempuan di Pasar Tradisional Rau Kota Serang Musahwi, Musahwi; Afrizal, Stevany; Juanda, Sastra
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.863 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v4i2.4827

Abstract

AbstrakPasar tradisional adalah representasi kelas menengah dan masyarakat miskin Keberadaannya amat vital dalam menopang perekonomian keluarga dan masyarakat secara luas. Secara kuantitas sejak dulu, pasar tradisional lekat dengan kaum perempuan. Namun perhatian khusus terhadap keberadaan kaum perempuan dalam membangun usahanya di pasar tradisional belum mendapatkan perhatian serius. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi mereka dalam membangun usaha tentu tidak bisa diabaikan karena sektor ini menentukan keberlangsungan hidup mereka. Penelitian telah berusaha mengungkap strategi survive dan jaringan sosial kelembagaan bagi perempuan yang membuka usaha di pasar tradisional Rau dalam rangka memberdayakan mereka. Prosedur penelitian yang dipakai adalah kualitatif, yang bertujuan menjaring data yang lebih mendalam terhadap persoalan yang dihadapi objek penelitian. Berdasarkan data yang dihimpun yang telah dianlisis, terdapat beberapa temuan, di antaranya (1) strategi survive ditopang oleh moralitas ekonomi yaitu tidak putus asa. Selain itu, adalah pengetahuan, jaringan sosial kultural dan modal material. (2)  tidak ada jaringan sosial struktural, paguyuban, dan sejenisnya. Karena itu mereka sering mengalami ketidak-adilan sosial dan ekonomi. Partisipasi terhadap berbagai kebijakan di pasar rendah sebab mereka tidak pernah dilibatkan. Mereka hanya datang berdagang. (3) belum ada program pemberdayaan yang khusus dibuat untuk kalangan perempuan yang membuka usaha di pasar, meskipun keberadaan mereka sangat vital dalam perekonomian. Kata Kunci: Pasar Tradisional, Pemberdayaan Ekonomi,  PerempuanAbstractTraditional markets are representations of the middle class and the poor. Its existence is vital in sustaining the economy of the family and society at large. In quantity, traditional markets are closely related to women. However, special attention to the existence of women in building their businesses in traditional markets has not received serious attention. The problems they face in building a business cannot be ignored because this sector determines their survival. Research has sought to uncover survival strategies and institutional social networks for women who open businesses in the traditional Rau market in order to empower them. The research procedure used is qualitative, which aims to capture deeper data on the problems faced by the research object. Based on the data collected which has been analyzed, there are several findings, including (1) survival strategies supported by economic morality, namely not despairing. In addition, it is knowledge, social cultural networks and material capital. (2) there are no structural social networks, associations, and the like. Therefore they often experience social and economic injustice. Participation in various policies on the market is low because they have never been involved. They only come to trade. (3) there is no empowerment program specifically created for women who open businesses in the market, even though their existence is vital in the economy.Keywords: Traditional Markets, Economic Empowerment, Women
Relasi Sosial dan Gender Siswa dan Guru SMA N CMBBS Musahwi, Musahwi; Setiawan, Rizki
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.812 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i2.3011

Abstract

AbstrakStudi ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana relasi sosial dan relasi gender dalam proses pembelajaran di kelas maupun aktifitas dan interaksi sosial antara siswa dengan guru mata pelajaran sosiologi maupun dengan keseluruhan masyarakat SMA Negeri Cahaya Madani Banten Boarding School (SMA N CMBBS). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan lokasi penelitian di SMA N CMBBS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seleksi SMA N CMBBS yang cukup ketat membuat latar belakang siswa-siswi beragam seperti tidak memiliki kedekatan kekeluargaan maupun kemampuan finasial. Relasi sosial antar siswa yang tinggal di satu asrama lebih kuat dibandingkan dengan yang lain. Kelas sosial tidak mempengaruhi proses pembelajaran dan penggunaan fasilitas. Terjadi persaingan positif diantara siswa seperti persaingan prestasi, pemilihan Osis, dan pemilihan ketua organisasi lainnya di lingkungan sekolah. Selain itu dalam kesetaraan gender, secara diskursus telah dipahami secara baik oleh sebagian guru dan juga siswa SMA N CMBBS, meski nilai-nilai islami yang menjadi dasar dalam setiap aktifitas baik siswa maupun sekolah membuat terjadinya perbedaan antara siswa laki-laki dengan perempuan, terutama dalam kepemimpinan.Kata Kunci: relasi gender, relasi sosial, kurikulum tersembunyi.AbstractThis study aims to describe how social relations and gender relations in the process of learning in the classroom as well as social activities and interactions between students with sociology subject teachers and with the whole community SMA Negeri Cahaya Madani Banten Boarding School (SMA N CMBBS). The research method used is qualitative with research location in SMA N CMBBS. The results showed that the selection of SMA N CMBBS is quite strict to make the background of students as diverse as not having closeness kinship and financial ability. Social relationships among students living in one dormitory are stronger than others. Social class does not affect the learning process and the use of facilities. There is a positive competition among students such as achievement competition, Osis election, and election of other organizations in the school. In addition, in gender equality, the discourse has been well understood by some teachers and high school students of N CMBBS, although the Islamic values that form the basis of every activity both students and schools make the difference between male and female students, especially in leadership. Keywords: gender relations, social relations, hidden curriculum.
Spiral of silence theory dalam Pemilihan Kepala Daerah Rahmawati, Rahmawati; Wibowo, Bangun Yoga; Musahwi, Musahwi
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Hermeneutika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.13 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v4i1.4819

Abstract

AbstrakPemilihan kepala daerah yang bersifat langsung, mempengaruhi para calon berusaha mendapatkan popularitas untuk mendulang suara dengan melakukan kampanye atau pengenalan diri ke masyarakat dengan media. Pengenalan diri melalui media digunakan untuk membangun persepsi positif publik akan dirinya. Media menjadi alat yang digunakan dalam mengarahkan pengetahuan dan sikap masyarakat untuk menentukan pilihan. Pada penelitian ini, bertujuan mengetahui bagaimana konsep spiral of silence theory memandang bahwa orang-orang yang memiliki sudut pandang minoritas mengenai isu-isu publik akan tetap berada pada kondisi suara mereka akan dibatasi. Metode penelitian yang digunakan adalah  yang digunakan adalah studi kualitatif dengan survey langsung dan studi literatur. Dari hasil studi didapatkan bahwa ada 3 asumsi dari spiral of silence theory bahwa masyarakat akan mengancam individu yang menyimpang dengan adanya isolasi; perasaan takut akan isolasi menyebabkan individu untuk setiap saat mencoba iklim opini; perilaku publik dipengaruhi oleh opini publik. Pembangunan opini publik melalui media akan membangun iklim ganda dari opini (dual climates of opinion) yaitu iklim yang dipersepsikan secara langsung oleh populasi dan iklim dari liputan media. Pada kondisi tersebut the train test dapat dilakukan untuk menguji sejauh mana orang akan mengemukakan opini mereka, dengan mengajukan beberapa tema percakapan kepada orang lain, jika terlihat interest dan mengikuti alut pertanyaan maka dianggap ada ketercapaian pembanguna opini publik. Pada orang-orang yang bertahan tidak mau mengemukakan opininya memilih menjadi the hard core.  The hard core merupakan kelompok yang yang tetap berada pada titik akhir dari proses spiral of silence  tanpa memperdulikan ancaman isolasi. Kondisi the hard core ditunjukkan dalam sikap diam, tidak memilih apapun tanpa menunjukan sikap agresi kepada lawan politik yang tidak dipilihnya. Kata Kunci : Spiral of silence theory, the train test, the hard coreAbstractDirect regional head elections affect candidates trying to gain popularity to gain votes by campaigning or introducing themselves to the public with the media. Self-recognition through media is used to build a positive public perception of him. Media becomes a tool used in directing the knowledge and attitudes of the community to make choices. In this study, it aims to find out how the concept of a spiral of silence theory views that people who have a minority viewpoint on public issues will remain in the condition of their voices to be limited. The research method used is the qualitative study with direct surveys and literature studies. From the results of the study it was found that there are 3 assumptions of the spiral of silence theory that society will threaten individuals who deviate in the presence of isolation; fear of isolation causes individuals to at any time try the climate of opinion; public behavior is influenced by public opinion. The development of public opinion through the media will build dual climates of opinion, namely the climate that is directly perceived by the population and the climate of media coverage. In these conditions, the train test can be done to test the extent to which people will express their opinions, by proposing several conversational themes to others, if interest is seen and following questions, then there is an achievement of the development of public opinion. People who persevere do not want to express their opinions choosing to be the hardcore. The hardcore is a group that remains at the end point of the spiral of silence process regardless of the threat of isolation. The condition of the hardcore is shown in silence, not choosing anything without showing an attitude of aggression to political opponents who are not chosen.Key word : Spiral of silence theory, pilkada

Page 1 of 2 | Total Record : 20