cover
Contact Name
Achmad Yusuf
Contact Email
multicultural@yudharta.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
multicultural@yudharta.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. pasuruan,
Jawa timur
INDONESIA
Multicultural Islamic Education
ISSN : 2598506X     EISSN : 25985957     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
ISLAMISASI NUSANTARA DAN PROSES PEMBENTUKAN MASYARAKAT MUSLIM M. Nasir, Miftakhul Jannah

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.061 KB)

Abstract

Proses Islamisasi tidak mempunyai awal yang pasti, juga tidak berakhir. Islamisasi lebih merupakan proses berkesinambungan yang selain mempengaruhi masa kini, juga masa yang akan datang. Islam telah dipengaruhi oleh lingkungannya, tempat Islam ber-pijak dan berkembang. Di samping itu, Islam juga menjadi tra-disi tersendiri yang tertanam dalam konteks sosio-ekonomi dan politik.
BANGUNAN TASAWWUF FALSAFI IBNU ARABI TERHADAP KONSEP MULTIKULTURALISME M. Anang Sholikhudin, Makhfud Syawaludin

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.423 KB)

Abstract

sikap kita terhadap keberagaman menentukan kemajuan Islam itu sendiri. “Kalau Islam ingin dijadikan mencusuar nusantara dan dunia, tergantung bagaimana kita (Islam) melihat keberagaman.” Tegas Prof. H. Hariyono dalam Seminar dan Bahtsul Masail dengan tema “Islam Nusantara: Meneguhkan Moderatisme dan Mengikis Ekstrimisme dalam Kehidupan Beragama” yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur di Universitas Negeri Malang (13/02/2016). Gagasan Islam Nusantara memberikan deskripsi berbeda tentang Islam yang selama ini direduksi oleh Islam Timur Tengah. Sehingga, gagasan Islam Nusantara menjadi benteng Islam Rahmatan lil ‘Alamin itu sendiri.
ISLAMISASI NUSANTARA DAN PROSES PEMBENTUKAN MASYARAKAT MUSLIM Muhammad Nur Hadi, Miftakhul Jannah

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.536 KB)

Abstract

Penyebaran Islam di Indonesia di indikasikan dibawa oleh para pedagang dari berbagai Negara, pertumbuhan komunitas Islam bermula diberbagai pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera, jawa, dan daerah-daerah pesisir lainnya. Kerajaan-kerajaan Islam yang pertama berdiri didaerah pesisir, seperti kerajaan samudra pasai, Aceh, Demak,Banten, dan Cirebon. Sejarah Islamisasi di nusantara juga tidak terlepas dari aspek kehidupan raja-raja terdahulunya yang telah memberikan banyak kebudayaan yangtetap kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia, baik dalam penyebaran agama Islam itu sendiri. Adapun salah satu contoh peninggalan zaman kerajaan yang tetap berdiri kokoh sampai sekarang adalah dengan berdirinya masjid kudus yang merupakan kolaborasi kehidupan antara agama hindu dan Islam.
TASAWUF AMALI QODIRIYAH (SYAIKH ABD. QODIR ALJAILANI) Saifulah, Muh. Saiful Ma’ruf

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.166 KB)

Abstract

Pendidikan berbasis sufistik sangat efektif untuk menangkal degradasi moral generasi bangsa. Yaitu dengan internalisasi nilai-nilai keimanan, keislaman, dan ihsan mulai sejak dini. Dengan mengemplementasikan ajaran-ajaran tarekat Qodiriyah wanaqsabandiyah dalam dalam kehidupan maka derajat manusia akan mencapai Ahsan al-taqwim, bukan justru sebbaliknya asfal al safilin. Manusia harus meyeimbangkan antara jasmani dan rohani yaitu dengan mengamalkan ajaran-ajaran tarekat “Qodiriyah wa naqsabandiyah”. Pondok pesantren adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan Sufisme diri oleh setiap individu.
POTRET MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI INDONESIA Munif, Afandi

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.523 KB)

Abstract

Negara Indonesia adalah salah satu negara berkembang di dunia. Negara yang masih memiliki banyak kekurangan untuk menjadi negara maju. Namun, dibalik kekurangan yang dimiliki oleh negara Indonesia, Indonesia memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh negara lain dimana ciri tersebut melambangkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang luar biasa tersebut adalah budaya yang ada di Indonesia. Budaya Indonesia adalah budaya yang memiliki keunikan dan keberagaman yang sering disebut dengan Multikultural. Sebenarnya, multikulturalisme itu adalah sebuah acuan timbulnya masalah yang besar. Mengapa demikian?  Kita tahu dengan banyaknya kebudayaan di Indonesia maka negara Indonesia belum tentu bisa menyatukan semua kebudayaan tersebut dengan baik dan menjamin setiap kebudayaan menjalin hubungan yang baik antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Bisa saja, ada konflik antara budaya yang satu dengan budaya yang lain dikarenakan beberapa hal. Contohnya kita lihat konflik poso konflik yang terjadi karena perbedaan budaya dari segi agama. Konflik tersebut penyebabnya adalah perbedaan kebudayaan dan ideologi masyarakatnya. Masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama pun masih bisa terjadi konflik. Lalu, bagaimana cara untuk mengatasi masalah tersebut agar negara Indonesia dengan multikulturalismenya bisa disatukan tanpa adanya konflik antar individu, antar golongan atau kelompok, antar etnis dan antar kebudayaan? Melihat kondisi tersebut, negara Indonesia memiliki prinsip yang dapat mempersatukan setiap kebudayaan yang ada di Indonesia. Prinsip tersebut adalah“Bhineka Tunggal Ika”. Apa itu Bhineka Tunggal Ika ? Bhineka Tunggal Ika adalah walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua. Maka keberagaman kebudayaan yang ada di Indonesia bisa disatukan dan bisa menghindari konflik antar kebudayaan. Tidak hanya itu saja, Indonesia memiliki prinsip “Bersatu kita Teguh, Bercerai kita Runtuh”. Prinsip tersebut adalah prinsip yang sangat fatal. Dalam artian, bersatu kita teguh berarti apapun masalah yang dihadapi, apapun yang menghalangi, kalau kita bersatu, bersama-sama maju, dan bergotong royong untuk menyelesaikan suatu masalah, maka masalah tersebut akan bisa diatasi dengan mudah dan dengan bersatu, kita menjadi teguh. Sedangkan bercerai kita runtuh, kalau kita menghadapi sesuatu sendirian, tanpa bantuan orang lain, maka masalah tersebut akan sulit untuk diselesaikan. Maka dari itulah, manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang hidup bersama dan saling berhubungan satu sama lain.
DERADIKALISASI PENAFSIRAN AL QURAN DAN KESETARAAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN Saifulah, Muh. Saiful Ma’ruf

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.794 KB)

Abstract

Dalam konteks kehidupan multicultural di butuhkan paradigma penafsiran ayat-ayat Al-Quran yang bisa merepresentasikan visi dan misi Al-Quran yaitu Rahmatal lil ‘alamin yaitu “Deradikalisasi Penafsiran Al-Quran”.Kesetaraan dalam kehidupan multicultural memiliki banyak dimensi yaitu keseimbangan, keadilan dan moderat yang harus di munculkan kepermukaan kembali dalam kehidupan multicultural. Karena nilai kesetaraan merupakan visi yang revolusioner untuk mengentaskan diskriminasi, seperti penjajahan dan penindasan (ekonomi, pendidikan dan faslitas public).
MUNTIKULTURALISME DI INDONESIA: SUKU, AGAMA, BUDAYA M. Anang Sholikhudin, Ahmad Zainuri

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.559 KB)

Abstract

Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya (culture) yang berbeda-beda. Ciri-ciri masyarakat multikultural yaitu :Terjadi segmentasi, Memilki struktur, Konsensus rendah, Relatif potensi ada konflik, Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan dan Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain. Penyebab timbulnya masyarakat multikultural sbb: Faktor geografis, Pengaruh budaya asing, Kondisi iklim yang berbeda, Keanekaragaman Suku Bangsa,Keanekaragaman Agama danKeanekaragaman Ras.
IMPLEMENTASI PERDA MADIN PERSPEKTIF PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Moch Nasir, Khoirul Anwar

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.523 KB)

Abstract

Salah satu yang terus ada di tengah dunia pesantren tersebut dan mengalami fase pengembangan adalah madrasah diniyah. Pendidikan keagamaan yang dilakukan melalui madrasah diniyah merupakan suatu tradisi khas pesantren yang terus akan dilakukan, sebab inti lembaga pesantren justru ada di sini. Ibaratnya adalah “jantung hati” pesantren. Pesantren tanpa madrasah diniyah tentu bukan pesantren dalam hakikat pesantren. Pendidikan diniyah dalam banyak hal dilakukan oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
TANTANGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PERATURAN DAERAH (PERDA) BERNUASA SYARIAT ISLAM DI INDONESIA Muhammad Nur Hadi, Makhfud Syawaludin

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.329 KB)

Abstract

Berbicara eksistensi perda dalam otonomi daerah, harusnya dijadikan sebagai peluang untuk membentuk perda-perda yang bersifat multikultural, sebab sebenarnya semangat yang ingin dikembangkan dalam otonomi daerah adalah semakin cepat dan baik atas pelayanan di daaerah (politik), memberikan kesempatan pengembangan ekonomi lokal (ekonomi), dan yang kaitannya dalam pembahasan kali ini adalah adanya kesempatan membangun dan melestarikan harmoni sosial budaya sebagai upaya untuk memelihara nilai-nilai kearifan lokal yang dianggap baik
PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL Yusuf Wijaya, Afandi

Publisher : Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.816 KB)

Abstract

Kemajemukan  bagi  manusia  adalah  “pakaian”, yang  berfungsi  melindungi  diri  serta  menjadi  perangkat  untuk memperindah diri. Multikultural dalam hal ini adalah keragaman hidup  manusia,  sehingga  manusia  mampu  melakukan  sebuah interaksi  antar  keragaman  tersebut.  Nilai-nilai  tersebut akan  menjadi  pengikat  keragaman,  sehingga  akan  melihat  dan memahami  keragaman  bukan  sebagai  perbedaan,  tapi  sebagai titik  simpul  adanya  persamaan.  Sedangkan Pendidikan Islam adalah wahana untuk membekali umat Islam, untuk mampu mewujudkan hakikat penciptaannya, sebagai  abid  dan  khalifah di muka bumi ini. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:1). Apa pengertian dan tujuan pendidikan Islam. 2). Bagaimana implementasi pendidikan Islam yang berbasis multikultural. Adapun tujuannya adalah:1).Untuk mengetahui pengertian dan tujuan pendidikan Islam. 2).Untuk mengetahui bagaimana implementasi pendidikan Islam yang berbasis multikultural. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode research library. kesimpulan: Pendidikan  agama  berbasis  multi-kultural  merupakan  proses  penyadaran yang  bersendikan  toleransi  yang ditujukan    sebagai  usaha  komprehensif dalam mencegah terjadinya konflik antar agama,  mencegah  terjadinya  radikalisme agama,  sekaligus  pada  saat  yang  sama memupuk  terwujudnya  sikap  yang apresiatif  positif  terhadap  pluralitas, dalam dimensi dan perspektif apa pun. Multikulturalisme  dalam  makna  substansi  sebenarnya  telah  ada pada Pendidikan Islam. Hal ini terlihat pada tujuan pendidikan Islam,  yang  di  antaranya  bertujuan  membangun  manusia  yang mempunyai  kesalehan  sosial.  Kesalehan  sosial  mengisyaratkan adanya  pemahaman  akan  multikulturalisme.  Di  sinilah  tantangan bagi  kita,  untuk  mampu  melakukan  pergeseran  paradigma, yang  akhirnya  mampu  untuk  mengimplmentasikan  semangat multikultural dalam Pendidikan Islam.

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

0000


Filter By Issues
All Issue