Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 24069582     EISSN : 25812564
Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir: is a peer review of a national journal published by the Tarbiyah Department of Al Hidayah Islamic High School in Bogor in an Islamic Education study program. This journal focuses on issues of Qur'anic science and interpretation.
Articles 38 Documents
KONSEP ULAMA MENURUT AL-QUR'AN (Studi Analitis atas Surat Fathir Ayat 28)

Wahidin, Ade

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 1, No 01 (2014): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Vol 1 No. 01 Juli 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.045 KB) | DOI: 10.30868/at.v1i01.168

Abstract

Pada  awalnya,  Islam  disampaikan  langsung  oleh  Rosululloh   yang  kapasitasnya  sebagai  penyampai  risalah   dari  Alloh   melalui malaikat  Jibril    Sepeninggal  Rosulullah   ,  yang  pertama   kali menyambut  tongkat  estafeta  penyebarannya   tiada   lain  adalah   para sahabat  Rosululloh, yang kemudian dilanjutkan  oleh generasi-generasi setelahnya.   Dalam   Islam  orang-orang   yang  menyampaikan  risalah tersebut lazim dikenal dengan sebutan ulama. Kedudukan ulama dalam Islam sangatlah  fundamental dan strategis.  Karena  eksistensinya dapat memberikan konsistensi bagi penyebaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia. Akan tetapi, signifikansi posisi ini tidak lagi diiringi dengan realita sosok ulama yang sejalan dengan konsepsinya di awal keislaman. Apalagi saat  ini, yang dominasi kehidupannya terus  tergerus  oleh gaya  hidup hedonisme,  materialisme  dan  liberalisme,  maka  untuk  mencari  sosok ulama  yang ideal  sangatlah  sulit. Karena  idealisme al-Qur’an  tentang ulama  adalah  yang  memiliki karakteristik  al-khasysyah  (takut  kepada Alloh), sebagaimana yang disebutkan secara eksplisit dalam surat Fathir ayat 28. Kata Kunci: Ulama menurut al-Qur’an, al-Khasysyah

TEKNIK INTERPRETASI DALAM TAFSIR AL QUR’AN DAN POTENSI DEVIASI PENERAPANNYA MENURUT ILMU DAKHIL

Afroni, Sihabbudin

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3, No 01 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.082 KB) | DOI: 10.30868/at.v3i01.256

Abstract

ABSTRACTThis paper describes the classification of interpretation, especially in terms of methods and techniques of interpretation. The methods and techniques that emerged in this study ofthe science of interpretation is very diverse and starting point on the tendency and interestof the scholar of the interpreter. Also presented are other factors of the emergence ofvarious methods and styles of interpretation known in the study of the science of Tafsir.Variations and differences of interpretation is a necessity but it does not mean the Qur'an isfree of interpretation. A mufassir must be bound by the rules of interpretation proposed bythe 'ulama. But sometimes carelessness of the mufassir in accepting secondary texts orother non-selective causes can potentially lead to irregularities and errors in interpretation.Ijtihad they are influenced by the ability of capability, linguistic knowledge, interest instudy, text references, flow affiliation, customs, methods and techniques of differentinterpretations make misinterpretation difficult to avoid. Erroneous interpretation is theobject of science research Dakhil. Globally the author introduces in this paper the Dakhilscience methodology. Writing this paper using a qualitative method approach that comesfrom various books relating to the above problems. The author attempts to explain hisanalysis exposively in order to explain or provide insight into the topics covered.ABSTRAK Makalah ini memaparkan klasifikasi tafsir terutama dari sisi metode dan teknikinterpretasi. Metode dan teknik yang muncul dalam penelitian ilmu tafsir ini sangatberagam dan bertitik tolak pada kecenderungan dan minat keilmuan sang penafsir.Dipaparkan pula faktor-faktor lain dari munculnya beragam metode dan corak tafsir yangdikenal dalam penelitian ilmu Tafsir. Variasi dan perbedaan tafsir adalah suatu keniscayaannamun bukan berarti Al-Qur‟an bebas tafsir. Seorang mufassir mesti terikat dengan kaidahkaidahpenafsiran yang dikemukakan ulama. Namun terkadang kecerobohan mufassirdalam menerima teks-teks sekunder atau sebab-sebab lain yang tidak selektif itulah yangdapat berpotensi menimbulkan penyimpangan dan kekeliruan dalam penafsiran. Ijtihadmereka dengan dipengaruhi oleh kemampuan daya tangkap, pengetahuan bahasa, minatkajian, referensi teks, afiliasi aliran, adat istiadat, metode dan teknik inetrpretasi yangberbeda menjadikan kekeliruan tafsir sulit untuk dihindari. Kekeliruan Tafsir inilah yangmenjadi objek penelitian ilmu Dakhil. Secara global penulis mengenalkan dalam makalahini metodologi ilmu Dakhil tersebut. Penulisan makalah ini menggunakan pendekatanmetode kualitatif yang bersumber dari berbagai buku yang berkaitan dengan permasalahandi atas. Penulis berupaya menjelaskan analisisnya secara eksposisi dengan tujuan untukmenjelaskan atau memberikan pengertian topik yang dibahas. Keywords: Tafseer Classification, Interpretation Method, Interpretation Technique,Technique, Linguistics, Systemic, Socio Historical, Science Dakhil.

DIALEKTIKA RASULULLAH TERHADAP AL-QUR`AN

Wahidin, Ade

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3, No 02 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1043.076 KB) | DOI: 10.30868/at.v3i02.316

Abstract

Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad untuk seluruh manusia merupakan anugerah terindah dan salah satu manifestasi kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Manusia bukan hanya diperintahkan untuk membacanya, tetapi juga diperintahkan untuk memahaminya. Seseorang dapat memahami Al-Qur’an dengan baik dan benar, salah satunya dengan merujuk kepada sumber tafsir yang otoritatif. Sumber tafsir terbaik yang paling otoritattif setelah Al-Qur’an adalah al-Sunnah. Yaitu menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadits-hadits Nabi Muhammad. Hal ini disebabkan Nabi memiliki kedudukan paling tinggi sebagai penyampai risalah Allah dan penafsir ayat-ayat- Nya

AHLUL BAIT DALAM PERSPEKTIF HADITS

Bafadhol, Ibrahim

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 1, No 01 (2014): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Vol 1 No. 01 Juli 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.181 KB) | DOI: 10.30868/at.v1i01.173

Abstract

Keluarga  Nabi   atau  Ahlul bait  adalah  keluarga  yang palingdiberkahi. Setiap muslim senantiasa  bershalawat  kepada mereka dalam setiap shalat, baik fardhu maupun sunnah. Mencintai mereka adalah tuntutan syari’at dan juga fitrah yang sehat. Tidak ada seorang muslim yang jujur dalam mencintai Rasulullah  melainkan pasti mencintai keluarganya. Sebagaimana halnya siapa  yang mencintai seorang tokoh, pasti ia juga mencintai keluarga  sang tokoh tersebut, terlebih lagi jika anggota keluarga tersebut adalah orang-orang yang shalih dan bertakwa.Para  ulama hadits dan fuqoha berpendapat bahwa yang dimaksud dengan  Ahlul bait  adalah   mereka  yang  haram  menerima  zakat  dan sedekah karena kekerabatannya dengan Rasulullah ,   yaitu keturunan Rasulullah ,  para istri beliau, dan semua muslim serta muslimah dari keturunan ‘Abdul Muththalib yakni Bani Hasyim.Sedangkan  Syi'ah  berpendapat  bahwa  Ahlul bait  atau  keluarga Nabi    hanya  terbatas   pada  lima  orang  saja,  yaitu  Rasulullah  , Fathimah, Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain.Rasulullah    telah berwasiat kepada umatnya agar  menjaga dan memperhatikan   Ahlul  baitnya.   Oleh   karena   itu,   memuliakan   danmencintai Ahlul bait termasuk dari agama seorang muslim. Para  sahabat adalah orang-orang yang sangat menjaga wasiat Nabi  tersebut. Kata kunci: Ahlul bait, Ahlus Sunnah, Syi'ah.

WAHYU DAN AKAL DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

Wahidin, Ade

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 2, No 02 (2015): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.823 KB) | DOI: 10.30868/at.v2i02.101

Abstract

Akal   merupakan   instrumen   fundamental   yang   Allah   S.W.T ciptakan dalam diri manusia. Dengan akal, seseorang dapat bernalar, menganalisis, dan melahirkan ide-ide inovatif, kreatif, dan variatif. Bahkan,   dewasa   ini   stratifikasi    sosial   seseorang   dan   jabatan strategisnya  di tengah masyarakat seringkali ditentukan  oleh produk akal yang dilahirkannya. Terutama yang berkaitan dengan dunia sain dan teknologi modern.Meski  demikian,  dalam  perspektif  al-Qur`an akal  itu  bukanlah segala-galanya. Karena pada tataran  tertentu,  kompetensi  dan daya nalar akal tidak mampu untuk menjangkaunya. Apalagi jika dikorelasikan dengan masalah absolutisme kebenaran beragama, maka seseorang tidak bisa mengandalkan akalnya semata. Oleh karena itu, Allah S.W.T menurunkan wahyu sebagai referensi definitif dalam menetapkan  kebenaran  yang  mutlak.  Wahyu  yang  Allah  turunkan sama sekali tidak kontradiksi dengan akal yang sehat. Bahkan, antara wahyu dan akal bisa saling bersinergi dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Pada saat yang sama, akal tidak boleh arogan, tetapi harus tunduk dan patuh terhadap wahyu. Kata Kunci: Wahyu dan Akal, Perspektif al-Qur`an

KONSEP AL-'ITTIBA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN DAN HADITS

Maya, Rahendra

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 1, No 01 (2014): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Vol 1 No. 01 Juli 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1136.85 KB) | DOI: 10.30868/at.v1i01.167

Abstract

Dalam bahasa Indonesia, secara literal-linguistik term “al- ittibā’” berarti mengikuti. Namun setelah berproses serta membentuk makna  dan  pengertian  spesifik  yang  terstruktur,  termasuk berdasarkan   perspektif  al-Qur‘an  dan  Hadits,  yang  dimaksud al- ittibā’ tidak sama sekali dimaksudkan untuk mengikuti sembarangan orang atau siapa saja. Karena al-ittibā’ yang dimaksud adalah mengikuti Rasulullah    (ittibā’  Rasūl  Allah), Nabi  terakhir  yang diutus Allah , sebagaimana firman-Nya:                     “Katakanlah:   “Jika  kalian  (benar-benar)   mencintai  Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Āli ’Imrān [3]: 31) Keyword:  Ittiba’, Konsep al-Ittiba’

ZUHUD DALAM AL-QURAN

Triana, Rumba

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 2, No 03 (2017): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.707 KB) | DOI: 10.30868/at.v2i03.195

Abstract

Dalam ajaran Tasawuf terdapat praktek zuhud, dimana jalan hidupseorang sufi meninggalkan dunia, dan mengosongkan hati hanya untukAllah. Cara hidup zuhud telah menjadi bagian penting dalam ajarantasawuf, namun Ihsan Ilāhi Zhāhir menyebutkan bahwa konsep zuhudyang difahami oleh kaum sufi adalah konsep zuhud yang radikal, makadengan ini perlu ditelusuri bagaimana konsep zuhud yang dijelaskandalam Al-Quran. Tulisan ini memakai metode library research untuk pencarian datasebagai bahan-bahan kajian dalam makalah ini, dengan memakai bukubukubertemakan tasawuf dan zuhud, dan yang memiliki korelasiterhadap kajian dalam makalah ini. Kemudian penelitian ini jugamelengkapi dengan penelusuran buku-buku tafsir untuk memberikaninterpretrasi terhadap ayat-ayat yang terdapat dalam makalah ini. Tasawuf merupakan khazanah ilmu dalam Islam, perkembangantasawuf membawa dimensi khusus yang dianggap sebagai cara khasyang ada dalam Islam. Ibrahim Basyuni telah memilih empat puluhdefinisi tentang tasawuf yang diambil dari rumusan ahli sufi yangdiambil pada abad III, meskipun definisi tersebut demikian banyak,belum didapati sebuah definisi yang mencangkup pengertian tasawufsecara menyeluruh. Diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan zuhud adalah pada Q.S. AlHadīd[57]:20 dan 23, Q.S. Al-Qashāsh [28]: 77, dan Q.S. Al-Mā`idah [5]: 87. Dan dari empat ayat beserta tafsirnya, maka dapat diambil konsep zuhud dalam Al-Quran yaitu, kesederhanaan, kesabaran, wara‟, dan keseimbangan (tawāzun) Keyword : Sufi, Tasawuf, Zuhud

ATENSI AL-QUR’AN TERHADAP ANAK YATIM: Studi Al-Tafsir Al-Wasith Karya Wahbah Al-Zuhailî

Maya, Rahendra, Sarbini, Muhammad

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3, No 02 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.715 KB) | DOI: 10.30868/at.v3i02.315

Abstract

Artikel ini ditujukan untuk mengetahui interpretasi dan penafsiran Wahbah Al-Zuhailî sebagai salah seorang mufassir kontemporer terhadap atensi perhatian yang sangat mendalam dan komprehensif dari ayat-ayat Al-Qur’an kepada anak yatim dengan berbagai bentuk perbuatan baik (ihsân) kepadanya. Yaitu perbuatan baik yang bersifat umum-general dan perbuatan baik dalam wujud khusus lagi terdefinisikan bentuknya; berupa perintah dan larangan terhadap suatu perbuatan baik tertentu kepada yatim tersebut. Penafsiran dan paradigma pemikiran Wahbah Al-Zuhailî sebagai mufassir otoritatif secara spesifik antara lain terdeskripsikan dalam tiga karya tafsir ilmiah populernya, antara lain adalah kitab Al-Tafsîr Al-Wasîth sebagai objek utama studi dalam artikel ini.

PERSPEKTIF AL-QUR’AN TENTANG PERUBAHAN SOSIAL: ANALISIS PENAFSIRAN TERM AL-TAGHYÎR, AL-IBTIL‘, AL-TAMHÎSH, DAN AL-TAMKÎN

MAYA, RAHENDRA

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3, No 01 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.331 KB) | DOI: 10.30868/at.v3i01.255

Abstract

AbstraksiStudi ini mengkaji topik kajian dan tema pembahasan yang sangat urgen, yaitu tentang perubahan sosial atau transformasi sosial (al-taghyîr al-ijtimâ’î, social change). Hal paling utama adalah tentang keniscayaan terjadinya transformasi sosial tersebut sebagai sebuah sunnatullah dalam realitas kehidupan (sunnah Allah al-kauniyyah) melalui tiga pola atau proses transformasinya. Yaitu proses pengujian atau seleksi (al-ibtilâ‘), pemilahan dan pemilihan (al-tamhîsh), serta proses peneguhan dan penganugerahan kejayaan (al-tamkîn). Pandangan tersebut dideskripsikan berdasarkan perspektif ayat-ayat Al-Qur’an dan sesuai dengan interpretasi para mufassir dalam memahami ayat-ayat yang mengidentifikasi keempat term tersebut. Selain itu, studi ini ditujukan agar masyarakat Muslim dapat memahami dan mampu mewujudkan transformasi sosial yang positif-idealistik-konstruktif di tengah-tengah kehidupan mereka berdasarkan kepada sumber ajaran Islam yang paling fundamental, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim dari karya-karya tafsir yang menjelaskannya secara lebih rinci dan luas.AbstractThis study examines the topic of study and the theme of a very urgent discussion, which is about social change or social transformation (al-taghyîr al-ijtimâ'î). The most important thing is the inevitability of such social transformation as a ways of Allah in the reality of life (sunnah Allah al-kauniyyah) through three patterns or process of transformation. That is the process of testing or selection (al-ibtilâ '), sorting and election (al-tamhîsh), and as well as the process of affirming and granting glory (al-tamkîn). The view is described from the perspective of the verses of the Qur'an and in accordance with the interpretations of the exegetes in understanding the verses that identify the four terms. In addition, this study is aimed at enabling Muslim societies to understand and be able to realize a idealistic constructive social transformation in the midst of their lives based on the most fundamental source of Islamic teachings, the Qur'anic works of exegesis that explain it in more detail and broad.Keyword: social change, ways of Allah, al-taghyîr, al-ibtilâ‘, al-tamhîsh, al-tamkîn.

INKARUS SUNNAH DARI KALANGAN MUSLIM DALAM LINTASAN SEJARAH

Maulida, Ali

Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 1, No 01 (2014): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Vol 1 No. 01 Juli 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.933 KB) | DOI: 10.30868/at.v1i01.172

Abstract

Kedudukan nash syar’i –al-Qur’an  dan as-Sunnah– didalam Islam sangat  agung dan mulia. Keduanya adalah  sumber pengambilan hukumdan pedoman hidup bagi seorang muslim di dunia ini. Kebahagiaan  dan keselamatan  yang  akan  diraih  seorang  muslim di  dunia  dan  akhiratadalah sangat tergantung sejauh mana ia berpegang teguh dengan keduanya.Namun  dalam   realita   kehidupan   ini   banyak   manusia   yangtergelincir  dari  jalan  yang lurus tadi dengan beragam bentuk, dimana salah satunya adalah  ketika mereka melakukan pengingkaran terhadap as-Sunnah atau hadits Rasulullah .Penolakan  terhadap  as-Sunnah dahulunya lebih diakibatkan olehketidaktahuan  sementara   orang   terhadap   fungsi  dan  kedudukan  as- Sunnah tersebut, dan kemunculannya masih bersifat perorangan,  bukandari kelompok yang terorganisir.Lain halnya dengan kemunculan InkarusSunnah  di  era  modern,  dimanapemikiran  ini  muncul akibat  pengaruh kolonialisme yang  sangat  gigih  berupaya  melumpuhkan Dunia  Islam.Kemunculannya dipelopori oleh para tokoh yang menamakan diri merekamujtahid, pembaharu atau modernis. Bahkan banyak pihak pengusungnya yang muncul dalam  bentuk terorganisir,  sehingga pengaruh  negatifnya lebih cepat tersebar di dalam tubuh umat Islam. Keywords:  inkarus sunnah, propaganda, imperialisme, dekonstruksi.

Page 1 of 4 | Total Record : 38