cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
Appendix Kalpataru Volume 23, nomor 1, tahun 2014 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Redaksi
KALPATARU Vol 23, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4650.104 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v23i1.96

Abstract

Appendix Kalpataru Volume 22, nomor 2, tahun 2013 Arkeologi, KALPATARU Majalah
KALPATARU Vol 22, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.783 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v22i2.129

Abstract

“OMO HADA” Arsitektur Tradisional Nias Selatan Diambang Kepunahan Syuaib Intan, Muhammad Fadhlan; Nasruddin, Nasruddin
KALPATARU Vol 27, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.635 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.458

Abstract

AbstractThe South Nias cultural heritage presented through the artifacts, in the form of traditional architectural buildings, as well as various megalithic stone buildings with all their forms, is an ancestral cultural work that not only contains aesthetic values, uniqueness and art, but also local wisdom as a source of knowledge which is very valuable to be studied and studied. This important and very valuable heritage must be preserved and preserved. But the attitudes and views of the people towards their cultural heritage are changing, as if they no longer have sacred values, even the value of local wisdom begins to fade over time. The existence of South Nias traditional houses is relatively more sustainable compared to other traditional houses. To maintain its existence, changes are needed to accommodate the current residential needs of the community. On the other hand, these changes have the potential to eliminate the character or authenticity of traditional Nias Selatan architecture. This study aims to find out about traditional technologies and architectural changes that occur and their impact on the existence of traditional South Nias houses. From the various problems of the South Nias cultural heritage that are being faced, this study tries to highlight aspects of traditional architecture and local wisdom, including the accompanying megalithic elements. The subjects that will be studied use an ethno-archaeological approach with emphasis on the observation method through direct observation of objects of material culture and social aspects at the research site. In this way it makes it easier for us to observe directly and in detail the architectural forms and components, both exterior and interior as well as the decorative types in the past cultural context of South Nias.Keywords: Traditional Architecture, Megalithic, Cultural HeritageAbstrak Warisan budaya Nias Selatan yang dipresentasikan lewat  peninggalan artefak, berupa  bangunan berarsitektur tradisional, maupun beragam bangunan batu megalit dengan segala rupa bentuknya, merupakan karya budaya leluhur  yang tidak hanya mengandung nilai estetika, keunikan dan seni semata, tetapi juga merupakan kearifan lokal sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sangat berharga untuk dikaji dan dipelajari.  Warisan yang penting dan sangat berharga  ini wajib dipelihara dan dilestarikan. Namun sikap dan pandangan masyarakatnya  terhadap warisan budayanya, sedang berubah, seakan tidak lagi memiliki nilai-nilai sakral, bahkan  nilai kearifan lokal pun mulai luntur seiring perjalanan waktu. Keberadaan rumah tradisional Nias Selatan relatif lebih bertahan eksistensinya dibandingkan rumah tradisional lainnya. Untuk mempertahankan eksistensinya, diperlukan perubahan untuk mengakomodasi kebutuhan hunian masyarakat saat ini. Di sisi lain, perubahan tersebut berpotensi menghilangkan karakter atau keaslian  arsitektur tradisional Nias Selatan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui teknologi tradisional dan perubahan arsitektur yang terjadi dan dampaknya terhadap eksistensi dari rumah tradisional Nias Selatan. Dari berbagai masalah warisan budaya Nias Selatan yang sedang dihadapi itu,  maka penelitian ini mencoba menyoroti aspek  arsitektur tradisional maupun kearifan lokalnya, termasuk unsur megalitik yang menyertainya. Subyek yang akan  dikaji ini memakai pendekatan etnoarkeologi dengan  penekanan  pada metode  observasi melalui pengamatan langsung terhadap obyek-obyek budaya material dan aspek sosial di lokasi penelitian. Dengan cara ini memudahkan kita mengamati secara langsung dan detil bentuk-bentuk arsitektur dan komponennya, baik eksterior dan interior maupun ragam hias dalam konteks budaya masa lalu Nias Selatan.Kata Kunci: Arsitektur Tradisional, Megalitik, Warisan Budaya
Dermaga Kuna di Situs Kota Kapur dan Analisis Pertanggalan Absolut Indradjaja, Agustijanto; Siregar, Darwin A.
KALPATARU Vol 25, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2379.279 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v25i1.80

Abstract

Abstract. Archaeological research at the Kota Kapur site is not as intensive as research on Sriwijaya Palembang, but this site can’t be separated from the kingdom of Sriwijaya. The research tried to see ancient port as part of a settlement on the site of Kota Kapur. This study focused on the remaining pillars to search for its absolute dating. Therefore, descriptive analysis and carbon dating (C-14) methods were used to answer the research problems. The results showed that the absolute dating of ancient port were similar with other archaeological data obtained from previous research. It confirms that the port is part of the settlement units in Kota Kapur site at 6th or 7th century AD.Abstrak. Penelitian arkeologi di situs Kota Kapur memang tidak seintensif penelitian tentang Sriwijaya di Palembang, namun situs Kota Kapur tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Sriwijaya. Penelitian kali ini mencoba melihat aspek dermaga kuna sebagai bagian dari tapak permukiman di situs Kota Kapur. Penelitian ini difokuskan pada  data sisa tiang dermaga dan upaya mencari pertanggalan absolutnya. Oleh karena itu, metode analisis deskriptif dan analisis carbon dating (C-14) digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanggalan mutlak sisa dermaga memiliki kesesuaian dengan sejumlah data arkeologi lainnya yang diperoleh dari penelitian sebelumnya. Hal ini menegaskan bahwa dermaga tersebut merupakan bagian dari unit permukiman Kota Kapur pada sekitar abad ke-6 atau 7 M.
Aktualisasi Hasil Penelitian Arkeologi di Maluku Refleksi Arkeologi Maluku Tentang Pluralisme, Integrasi Sosial, Demokrasi, Dan Kedaulatan Bangsa. Handoko, Wuri
KALPATARU Vol 21, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.049 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v21i2.119

Abstract

Ada pelajaran berharga untuk bangsa ini tentang pemahaman atas pluralisme, demokrasidan integritas kebangsaan yang sesungguhnya menjadi identitas nasional bangsa kita. Fenomena kebudayaan masa lampau yang dapat kita jamah melalui bukti-bukti tinggalan arkeologi, nilainilaifilofosis dan budaya yang telah kita interpretasikan sesungguhnya mampu menjadi jembatan reintegrasi sosial sebagai bagian dalam membangun kedaulatan bangsa. Maluku, sebagai wilayah yang masyarakatnya majemuk dan pernah memiliki pengalaman pahit konflik sosial, adalah wilayah dengan potensi arkeologi yang berlimpah, dan dari yang berlimpah itu masih sebagian kecil saja yang sudah terungkap. Dari kecilnya data arkeologi yang terungkap, ternyata meyimpan makna dan nilai-nilai humanisme, pluralisme, demokrasi, yang telah berurat berakar yang bisa menjadi media membangun kemanusiaan yang lebih beradab, perdamaian, toleransi, persaudaraan, yang meskipun sempat tercerabut, tidak sampai merusak akarnya, yang jika ditanam kembali dengan baik, mampu bertumbuh dan berkembang sebagai modal membangun peradaban bangsa yang lebih maju dan bermartabat. Abstract. There is a valuable lesson for this nation about the understanding of pluralism, democracy, and national integrity, which are actually the national characteristics of our nation. The phenomenon of past culture that we can obtain through archaeological evidences, philosophical and cultural values that we have interpreted can serve as the bridge of social re-integration as part of our effort to build national sovereignty. The Moluccas, as an area with multi-dimensional communities and has unfortunately experienced social conflicts, is an area with abundant archaeological potencies. Out of the abundant potencies, only a small part has been revealed, and it contains meanings and values of humanism, pluralism, and democracy, which are deeply rooted and can be used as the media to build more civilized humanity, peace, tolerance, and brotherhood, which had been once destroyed although not entirely perished and if we rebuild them they will grow and flourish as the base to establish more advanced and dignified national civilization.
Apendix Kalpataru Volume 26, Nomor 2, Tahun 2017 arkenas, redaksi
KALPATARU Vol 26, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1230.336 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v26i2.445

Abstract

The Structure of Stupas at Muara Jambi. Santiko, Hariani
KALPATARU Vol 23, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1395.069 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v23i2.58

Abstract

Struktur Stūpa di Muara Jambi. Di Muara Jambi dan sekitarnya terdapat tinggalan arkeologi berupa bangunan-bangunan sakral, di antaranya Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton, dan Candi Astano yang dibuat dari bata. Tinggalan tersebut bersifat agama Buddha, karena banyak terdapat sisa-sisa bata dengan inskripsi “bija-mantra”, gambar-gambar bunga padmā, dan beberapa patung. Struktur bangunan-bangunan khususnya candi induk pada umumnya berdenah segiempat, dengan perpanjangan ke arah timur atau utara, perkecualian terdapat pada Candi Gumpung. Di atas candi induk tersebut kemungkinan diletakkan sebuah stūpa besar seperti Candi Tinggi. Struktur bangunan stūpa semacam itu dikenal sebagai “terrace-stūpa” yang pertama kali didapati di daerah Gandara pada masa pra-Kushana. Candi Gumpung berdenah hampir bujursangkar, tanpa tangga dan tanpa ruang dalam (garbhagŗha). Boechari pada tahun 1985 membaca inskripsi sebagai peripih candi dan berpendapat bahwa peripih berupa susunan dewa-dewa dalam Vajradhātu-maṇḍala, berarti Candi Gumpung bersifat agama Buddha Vajrayāna. Dengan demikian menurut penulis struktur pertama Candi Gumpung hanya berupa lapik dengan 5 buah stūpa di atasnya yang menggambarkan susunan Vajradhātu- maṇḍala. Dari berbagai data yang dilaporkan dan perbandingan dengan sisa-sisa bangunan di Muara Takus dan Biaro Bahal, penulis perkirakan bahwa tinggalan arkeologi di Muara Jambi adalah sisa-sisa bangunan stūpa, khususnya dalam bentuk “terrace-stūpa”. Abstract. In the vicinity of Muara Jambi are found a lot of archaeological remains, among others a group of brick monuments believed to date from the 9th to 13th Century AD, among others are Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Gedong I and II, Candi Kedaton, Candi Astano. These monuments are Buddhist, because the majority of the finds in this area are Buddhist statues, many bricks with “bija mantra” inscriptions and drawing such as padmā motives on them. The structures of the main temple, except Candi Gumpung, are generally square in plan with projecting portico on the east or north, and terrace platform that may well served for the enthronement of the big stūpa like the one at Candi Tinggi. The type of this stūpa structure is called the terrace- stūpa, known for the first time in the Gandhāran regions from pre-Kushana period. In Indonesia terrace-stūpas are found at Muara Takus (Candi Tua) and also candi Borobudur in Central Jawa. Candi Gumpung has different structure, a square ground plan measuring 18 x 18 metres without any trace of an inner-room (garbhagŗha). Boechari in 1985 read the inscriptions found in the deposit boxes found inside the temple floor. He recognized the plan of Vajradhātu-maṇḍala found in the base of candi Gumpung. It means that candi Gumpung is a Vajrayāna temple and it embodies the maṇḍala of the five Tathāgath as with Wairocana in the centre. So I assume that the first candi Gumpung in the 9-10th Century was a square platform with five stūpas on it to form the Vajradhātu-maṇḍala. By studying the archaeological data from Muara Jambi and comparing them with the monuments from Muara Takus and Biaro Bahal, I consider the remains of brick monuments at Muara Jambi belonged to stūpas, especially the terrace-stūpas.
Perniagaan dan Islamisasi Di Wilayah Maluku Handoko, Wuri
KALPATARU Vol 22, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.511 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v22i1.110

Abstract

Abstrak. Perdagangan dan Islamisasi di wilayah Maluku, merupakan kajian yang saling berkaitan, sebagaimana kajian Islam di wilayah Nusantara lainnya. Proses Islamisasi di wilayah Maluku selain karena perluasan kekuasaan, juga perluasan perdagangan akibat persaingan menguasasi jaringan ekonomi. Perluasan ekonomi melalui jaringan perniagaan, adalah salah satu strategi para mubaligh dalam memperluas atau menyebarkan Islam. Dalam berbagai literatur disebutkan, bahwa para mubaligh, juga didominasi oleh pedagang, artinya mubaligh sekaligus pedagang. Dalam konteks perdangan dan Islamisasi, perdagangan semakin berkembang ketika lembaga Islam terbentuk, selanjutnya terjalin jaringan niaga antar kerajaan. Melalui kajian studi pustaka, tulisan ini berusaha menjelaskan masalah tersebut. Wilayah yang menjadi fokus perhatian kajian ini adalah wilayah Maluku Tengah, hal ini mengingat wilayah ini merupakan wilayah penyebaran Islam terbesar yang berasal dari pusat kekuasaan Islam di Maluku Utara. Perjalanan panjang sejarah terbentuknya jejaring perdagangan internasional di kawasan Maluku ini.Abstract. Trade and Islamization in Moluccas. Trade and Islamization in Moluccas, a study of the interrelationship Islam studies in other parts of the archipelago. The process of Islamization in the Moluccas in addition to the expansion of the power of embarrassment, also dominate the expansion of trade due to the competition of economic network. Economic expansion through commercial networks, is also one of the preachers strategy in expanding or spreading Islam. Mentioned in the literature, that the preachers, which are also dominated by traders, meaning that traders preachers as well. In the context of Islamization and commerce, growing trade when Islamic institutions are formed, further established trade networks between the kingdom. Through the study of literature, this paper attempts to explain. The questions that are the focus of this study is a concern in the region of Central Moluccas, it is because the region is the area of greatest spread of Islam from the Muslim power center in North Moluccas. 
Perkembangan Ragam Hias Pada Batu Nisan Tipe Malik As-Shaleh Abad 13 - 17. inagurasi, libra hari
KALPATARU Vol 26, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4620.821 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.259

Abstract

Decorative variety is a decorative element, its main function as a decoration to beautify the appearance of an object so that it becomes a work of art. The function of the decoration is shown through the integrated forms, textures, materials, and art elements. An object decorated with decorative or decorative elements is a tombstone made of stone. Decorative on the gravestone is formed by sculpting then produce certain forms adorn the headstone so it looks not plain. The development of tombstones of this type and their decorations include the dimensions of time and space. The Malik As-Shaleh type headstone originally evolved from the gravestone on the tomb of Sultan Malik As-shaleh in the 13th century. The tombs spread eastwards to Sumatra, Banten, Lombok, and Gowa in South Sulawesi in the 17th century. The variety of decoration on the gravestone Malik As-Shaleh type in its development is distinguished two groups namely the first group of ornamental fashions whose existence always persists from the beginning to the end of its development and the two groups of decoration whose existence is lost or replaced with other types of decorations. The standard Malik As-Shalh standard headstone is in the tomb of Sultan Malik As-Shaleh. All kinds of decorative elements are on the tombstone so it looks beautiful or highway. The similar type of grave on another tomb has a simple ornamental variety. AbstrakRagam hias merupakan elemen dekoratif, fungsi utamanya sebagai hiasan untuk memperindah penampilan suatu obyek sehingga menjadi sebuah karya seni. Fungsi ragam hias tersebut ditunjukkan melalui bentuk, tekstur, bahan, serta unsur seni yang terpadu. Suatu obyek yang diberi elemen ragam hias atau dekoratif ialah nisan yang dibuat dari bahan batu. Ragam hias pada nisan dibentuk dengan cara dipahat selanjutnya menghasilkan bentuk-bentuk tertentu menghiasi nisan sehingga terlihat tidak polos. Perkembangan batu nisan tipe tersebut beserta ragam hiasnya mencakup dimensi waktu dan ruang. Nisan tipe Malik As-Shaleh pada awalnya berkembang dari nisan pada makam Sultan Malik As-shaleh pada abad ke-13. Selanjunya nisan  menyebar ke arah timur ke Sumatra, Banten, Lombok, dan Gowa di Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Ragam hias pada nisan tipe Malik As-Shaleh dalam perkembangannya dibedakan dua kelompok yakni pertama kelompok ragam hias yang keberadaannya selalu tetap ada dari awal hingga akhir perkembangannya dan kedua kelompok ragam hias yang keberadaannya hilang atau diganti dengan ragam hias jenis lainnya. Nisan tipe Malik As-Shaleh yang standar terdapat  pada makam Sultan Malik As-Shaleh. Semu jenis elemen dekoratif terdapat pada nisan tersebut sehingga terlihat indah atau raya. Adapun nisan tipe sejenis pada makam lainnya memiliki ragam hias yang sederhana.
Jejak-Jejak Peradaban Hindu-Buddha Di Nusantara Nastiti, Titi Surti
KALPATARU Vol 23, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1470.358 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v23i1.49

Abstract

Peradaban Hindu-Buddha di Nusantara ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan kuna di Indonesia pada abad ke-4-5 M. dan berakhir pada awal abad ke-16 M. Adapun maksud dan tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui peradaban Hindu-Buddha secara komperhensif di Nusantara, berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Balai-balai Arkeologi di seluruh Indonesia, sejauh yang dapat dijangkau oleh penulis. Metode yang dipakai lebih kepada pengumpulan data dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Balai-balai Arkeologinya, ditelaah, dan dibuat suatu ikhtisar yang menggambarkan jejak-jejak peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Hasil kajian memperlihatkan adanya berbagai aspek kehidupan masyarakat pada masa Hindu- Buddha yang mendukung maju-mundurnya suatu peradaban seperti aspek sosial, politik, ekonomi, agama, kesenian (sastra, arsitektur, arca), ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aspek tata ruang tempat di mana masyarakat itu hidup. Abstract. Traces of Hindu-Buddhist Civilization In The Indonesian Archipelago. The Hindu- Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago was marked by the emergence of ancient kingdoms in Indonesia in 4th–5th Centuries CE up to early 16th Century CE. The aim and purpose of this article is to identify comprehensively the Hindu-Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago based on researches carried out by the National Centre of Archaeology and its Archaeological Offices all over the archipelago, as far as the author can reach. The methods being used are collecting data from the researches to be studied, and making a recapitulation that shows traces of Hindu-Buddhist civilization in the Indonesian Archipelago. The results reveal various aspects of community life during the Hindu-Buddhist period that influenced the growth or fall of a civilization, such as aspects of social, political, economic, religion, art (literature/humanities, architecture, and iconography), knowledge and science, as well as the spatial organization where the communities lived.

Page 1 of 12 | Total Record : 112