JIK- JURNAL ILMU KESEHATAN
Published by STIKES Alifah Padang
ISSN : 2580930X     EISSN : 25978594
Provides a form for original research and scholarship relevant to Ners, Midwife, Public Health and other health related professions.
Articles 70 Documents
ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOARTHRITIS MENGGUNAKAN FOKUS STUDI PENATALAKSANAAN NYERI DI RSUD TIDAR KOTA MAGELANG Nazhifah, Naurah
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 2, No 2 (2018): JIK-Oktober Volume 2 No 2 Tahun 2018
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33757/jik.v2i2.116

Abstract

ABSTRAKRematik atau osteoarthritis adalah penyakit inflamasi sistemik kronis, inflamasi sistemik yang dapat mempengaruhi banyak jaringan dan organ, terutama menyerang sendi. Sering terjadi pada wanita karena berhubungan dengan  menopause dan banyak terjadi pada orang yang obesitas karena berat badan yang leb²ih akan menambah beban pada sendi. Tujuan Studi kasus ini untuk melakukan asuhan keperawatan pada osteoarthritis. Metode Subjek penelitian 1 pasien dengan studi kasus selama 2 hari. Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan dengan  mengambil satu sample sebagai unit analisis. Hasil analis astatistik Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam dengan masalah gangguan nyeri teratasi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dengan hasil implementasi yang dilakukan sesuai dengan respon perkembangan klien. Kesimpulan Pada saat dilakukan evaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan kepada pasien terdapat 3 masalah keperawatan yang teratasi.Kata Kunci : Nyeri, Osteoarthritis, Rematik, AsuhanABSTRACTRheumatism or osteoarthritis are chronic systemic inflammatory diseases, systemic inflammation which can affect many tissues and organs, especially attacking joints. It often occurs in women because it is associated with menopause and occurs in people because of its weight. Purpose This case study is to carry out a nursing care in osteoarthritis.  Methods Study subjects 1 patient with a case study for 2 days. This study uses a nursing care approach by taking a sample as an analysis unit. Statistical Analysis Results nursing actions for 2x24 hours with pain problems were solved according to the criteria set out in the implementation carried out in accordance with the client's developmental response. Conclusion Nursing problems that are resolved.Keywords: Pain, Osteoarthritis, Rheumatism, Care
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TUMBUH KEMBANG BALITA USIA 21-36 BULAN DI DESA BERINGIN DAN AIR DINGIN KELURAHAN BALAI GADANG PADANG ramadhani, ika putri
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 2, No 1 (2018): JIK- April Volume 2 Nomor 1 Tahun 2018
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.913 KB) | DOI: 10.33757/jik.v2i1.42

Abstract

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2015, Puskesmas Air Dingin merupakan puskesmas yang pencapaian deteksi dini tumbuh kembang anak balita sangat rendah, yaitu pada tahun 2013 target (95,5%) hanya terdeteksi (92,6%) dan meningkat pada tahun 2015 target (95%) hanya terdeteksi (69,75%) dari total populasi balita sebanyak 1.838 jiwa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan status gizi dengan tumbuh kembang balita usia 21-36 bulan di Desa Beringin dan Air Dingin Kelurahan Balai Gadang Padang tahun 2017.Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan ± 10 bulan. Populasi yaitu balita yang berusia 21-36 bulan, sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik Total population dengan jumlah sampel 64 orang. Data dikumpulkan dengan penimbangan berat badan berdasarkan umur balita dan KPSP tumbuh kembang. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square (p=<0,05).Hasil penelitian menjelaskan bahwa sebagian kecil (34,4%) responden dengan tumbuh kembang meragukan, lebih dari separuh (76,6%) responden memiliki status gizi baik. Dari hasil uji statistik Chi-Square  ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan tumbuh kembang balita usia 21-36 bulan, dengan nilai p value 0,038.Hasil penelitian diketahui ada hubungan status gizi dengan tumbuh kembang balita. Diharapkan pada petugas kesehatan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam bidang status gizi balita dan untuk selalu meningkatkan pemantauan tumbuh kembang balita secara berkesinambungan dan melakukan stimulasi berkelanjutan pada balita yang memiliki tumbuh kembang meragukan, dengan memberikan penyuluhan dan leaflet.Based on data obtained from Padang City Health Office 2015, Puskesmas Air Dingin is a health center that achieves early detection of low-growth children under five is very low, that is in the year 2013 target (95,5%) only detected (92,6%) and increase at By 2015 the target (95%) is only detected (69.75%) of the total population of toddlers as many as 1838 inhabitants. The purpose of this study to determine the relationship of nutritional status with the growth of infants aged 21-36 months in the village of Beringin and Air Dingin Balai Gadang Padang Village in 2017. type of research is analytic with cross sectional design. This research was conducted in   ± 10 months. Population of children aged 21-36 months, the study sample was taken using the technique Total population with a sample size of 64 people. Data were collected by weight weighing by age and KPSP growth. Data were analyzed univariat and bivariate using Chi-Square test (p = <0,05). The result of the research showed that a small number (34,4%) of respondents with dubious growth, more than half (76,6%) of respondents have good nutritional status. From Chi-Square statistical test results there is a significant relationship between nutritional status with the growth of infants aged 21-36 months, with p value 0,038. The result of the research shows that there is a correlation of nutritional status with the growth of infants. It is expected that health workers can improve health services, especially in the field of nutritional status of children under five and to always improve the continuous growth monitoring of children under five and continuous stimulation of toddlers who have dubious growth, by providing counseling and leaflets. Keyword : Nutrition Status, Growing ToddlerLiteratur: 36 (1995 – 2016)
HUBUNGAN POLA ASUH KELUARGA DENGAN KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA DI RSJ. HB. SA’ANIN PADANG TAHUN 2017 Arianti, Diana; Novera, Milya; Rosa, Afrida Yani
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 1, No 1 (2017): JIK - Oktober Volume 1 No 1 Tahun 2017
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33757/jik.v1i1.29

Abstract

Schizophrenia is the most severe and chronic mental disorder (psychotic) among the many mental disorders that have been classified. Data from 33 mental hospitals (RSJ) that exist throughout Indonesia to say the number of people with severe mental disorders reached 2.5 million peoples. The Objective of study was to knows The Relation of Family Foster Pattern with Schizophrenia Recurrence at RSJ. of HB. Sa’anin of Padang in 2017.Type of the research is analytical descriptive with cross-sectional approach. The research has been conducted at RSJ. of HB. Sa’anin of  Padang.  Data is collected on 03 – 09 August  in 2017. The population in this study were the all families who accompany patients in RSJ. of HB. Sa'anin of Padang.  Samples taken by accidental sampling  of 61  peoples. Data analysis is done univariately and bivariately by using chi-square test..Research findings showed that  54.1% the patient experiences a high recurrence rate.  50,8%  the patient has an ineffective parenting pattern. There is a relationship between parenting patterns with recurrence rates of schizophrenics in RSJ. of HB. Sa’anin of Padang  (p=0.007).It was concluded that there was a correlation between parenting parenting with the recurrence rate of schizophrenia in RSJ. of HB. Sa’anin of Padang in 2017. The researcher suggests to hospital health workers to provide family health education about good parenting that should be applied to post-treated schizophrenic patients so as to reduce the patient's recurrence rateSkizofrenia merupakan gangguan mental yang paling berat dan kronik (psikotik) di antara sekian banyak gangguan mental yang telah diklasifikasikan. Pola asuh dalam keluarga sangat dibutuhkan dalam mengatasi hal ini. Pola asuh keluarga yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik kesehatan sosial dan agama yang diberikan merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat (Widodo, 2014). Penelitian ini bertujuan untuk menngidentifikasi hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Kekambuhan pasien Skizofrenia di RSJ. HB. Sa’anin Padang Tahun 2017”.Jenis penelitian ini analitik menggunakan  desain cross sectional study. Penelitian dilakukan pada tanggal 03  – 18 Agustus 2017. Sampel keluarga pasien skizofrenia sebanyak 159 orang dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling di poliklinik RSJ. Hb Saanin  Padang. Hasil penelitian didapatkan 54.1% pasien mengalami tingkat kekambuhan tinggi.  50,8%  pasien mempunyai pola asuh orang tua  tidak efektif. Ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan tingkat kekambuhan penderita skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa HB. Sa’anin Padang (p=0.007).Disimpulkan bahwa  ada hubungan pola asuh orang tua dengan tingkat kekambuhan penderita skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa HB. Sa’anin Padang Tahun 2017. Peneliti menyarankan kepada petugas kesehatan rumah sakit   untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang pola asuh yang baik yang harus diterapkan kepada pasien skizofrenia  pasca dirawat sehingga bisa menekan tingkat kekambuhan pasien
PAJANAN PM2,5 TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI KAWASAN PEMUKIMAN INDUSTRI DAN NON INDUSTRI KOTA PADANG TAHUN 2017 Handiny, Febry; Hermawati, Ema
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 2, No 2 (2018): JIK-Oktober Volume 2 No 2 Tahun 2018
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.416 KB) | DOI: 10.33757/jik.v2i2.91

Abstract

ABSTRAKPneumonia merupakan penyebab kematian utama anak-anak di seluruh dunia daripada penyakit-penyakit lainnya.. Period prevalence pneumonia pada balita di Indonesia adalah 18,5% per mil. Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan jumlah kasus pneumonia di Kota Padang. Inhalasi bahan kimia beracun seperti partikulat juga dapat menyebabkan inflamasi dan kerusakan jaringan di paru-paru sehingga diduga menjadi penyebab pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pajanan PM2,5 di udara dengan kejadian pneumonia pada balita yang tinggal di kawasan pemukiman industri dan dan non industri dan faktor risiko lainnya yang dapat menimbulkan pneumonia. Penelitian ini menggunakan desain case control. Sampel terdiri dari masing-masing 51 sampel untuk wilayah industri dan non industri berusia 12 bulan – 60 bulan. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan dengan pneumonia pada balita adalah ASI eksklusif dan pemberian vitamin A. Sedangkan konsentrasi PM2,5 di udara dan faktor pencemaran dalam ruangan tidak berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita. Kesimpulan didapatkan bahwa pneumonia pada balita dipengaruhi oleh PM2,5 di udara setelah dikontrol variabel letak dapur, ASI eksklusif vitamin A, status gizi, dan imunisasi campak. Di harapkan ibu balita meningkatkan kesadaran memberikan ASI eksklusif, memberikan vitamin dan menjaga kesehatan balita  agar terhindar dari pneumonia.                                                Kata kunci : pneumonia; balita; pajanan PM2,5ABSTRACTPneumonia is the leading cause of death among children worldwide than any diseases. More than 2 million children aged 1 to 5 years died of pneumonia each year across the region. The prevalence of children pneumonia in Indonesia is 18.5% per mile. From year to year there is an increasing number of cases of pneumonia in Padang, West Sumatera. Inhalation of toxic chemicals such as particulates can also cause inflammation and tissue damage in the lungs that suspected to be the cause of pneumonia. This study aims to analyze the relationship of PM2.5 to incidence of children pneumonia living in industrial and non-industrial areas in Padang and other risk factors that lead to pneumonia. This study used case-control design. The sample consisted of 51 samples each for industrial and non-industrial areas aged within 12 months - 60 months. The results indicated that variables associated with pneumonia in children were exclusive breastfeeding and vitamin A. While the concentration of PM2,5 and indoor air pollution factor were not associated to the incidence of pneumonia in children. In conclusion, the incidence of pneumonia in children is affected by the concentration of PM2.5 after controlled by the location of the kitchen, exclusive breastfeeding, vitamin A, nutritional status, and measles immunization. It is recommended to improve the awareness of mothers to give exclusive breastfeeding, provide vitamin A and maintain the health of the children to avoid pneumonia.Keywords : pneumonia; children; PM2,5 exposure.ABSTRAK Pneumonia merupakan penyebab kematian utama anak-anak di seluruh dunia daripada penyakit-penyakit lainnya.. Period prevalence pneumonia pada balita di Indonesia adalah 18,5% per mil.Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan jumlah kasus pneumonia di Kota Padang.Inhalasi bahan kimia beracun seperti partikulat juga dapat menyebabkan inflamasi dan kerusakan jaringan di paru-paru sehingga diduga menjadi penyebabpneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pajanan PM2,5 di udara dengan kejadian pneumonia pada balita yang tinggal di kawasan pemukiman industri dan dan non industri dan faktor risiko lainnya yang dapat menimbulkan pneumonia. Penelitian ini menggunakan desain case control. Sampel terdiri dari masing-masing 51 sampel untuk wilayah industri dan non industri berusia 12 bulan – 60 bulan. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan dengan pneumonia pada balita adalah ASI eksklusif dan pemberian vitamin A. Sedangkan konsentrasi PM2,5 di udara dan faktor pencemaran dalam ruangan tidak berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita. Kesimpulan didapatkan bahwa pneumonia pada balita dipengaruhi oleh PM2,5 di udara setelah dikontrol variabel letak dapur, ASI eksklusif vitamin A, status gizi,danimunisasi campak. Di harapkan ibu balita meningkatkan kesadaran memberikan ASI eksklusif, memberikan vitamin dan menjaga kesehatan balita  agar terhindar dari pneumonia.                                                                                                                                                Kata kunci : pneumonia; balita; pajanan PM2,5 ABSTRACT Pneumonia is the leading cause of death among children worldwide than any diseases. More than 2 million children aged 1 to 5 years died of pneumonia each year across the region. The prevalence of children pneumonia in Indonesia is 18.5% per mile. From year to year there is an increasing number of cases of pneumonia in Padang, West Sumatera. Inhalation of toxic chemicals such as particulates can also cause inflammation and tissue damage in the lungs that suspected to be the cause of pneumonia. This study aims to analyze the relationship of PM2.5 to incidence of children pneumonia living in industrial and non-industrial areas in Padang and other risk factors that lead to pneumonia. This study used case-control design. The sample consisted of 51 samples each for industrial and non-industrial areas aged within 12 months - 60 months. The results indicated that variables associated with pneumonia in children were exclusive breastfeeding and vitamin A. While the concentration of PM2,5 and indoor air pollution factor were not associated to the incidence of pneumonia in children. In conclusion, the incidence of pneumonia in children is affected by the concentration of PM2.5 after controlled by the location of the kitchen, exclusive breastfeeding, vitamin A, nutritional status, and measles immunization. It is recommended to improve the awareness of mothers to give exclusive breastfeeding, provide vitamin A and maintain the health of the children to avoid pneumonia. Keywords : pneumonia; children; PM2,5 exposure.
PENGARUH PEMBERIAN TABLET FE PLUS VITAMIN C DIBANDINGKAN TABLET FE PLUS JUS JAMBU BIJI MERAH TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI DI SMK NEGERI 2 PADANG TAHUN 2017 ledia restipa, ledia restipa
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 2, No 1 (2018): JIK- April Volume 2 Nomor 1 Tahun 2018
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.836 KB) | DOI: 10.33757/jik.v2i1.85

Abstract

 AbsrakWorld health Organization (WHO) tahun 2013, prevalansi anemia dunia berkisar 40-88%. Dari hasil Riskesdas tahun 2013, diketahui bahwa prevalensi anemia di indonesia pada remaja putri sebanyak 57,1%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian tablet Fe Plus Vitamin C dibandingkan tablet Fe plus jambu bijji merah terhadap peningkatan kadat hemaglobin pada remaja putri di SMK Negeri 2 Padang tahun 2017. Jenis penelitian menggunakan desain nonequivalent control gruop design populasi penelitian seluruh remaja putri di SMK Negeri 2 Padang kelas X-XI sebanyak 248 orang dengan junlah 20 orang. Teknik pengambilan sampel purposive sampling. Penelitian telah dilaksanakan bulan Januari-Agustus 2017. Data dianalisa secara univariat menggunakan tabel distribusi retara dan bivariat mebggunakan uji statistik wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% =0.05. Rerata-rata Hb sebelum diberikan tablet Fb Plus Vitamin C adalah 10,46 g/dl dan rata-rata Hb sebelum diberikan tablet Fe plus jambu biji merah 9,93g/dl. Terdapat perbedaan yang bermakna kadar Hb sebelum dan sesudah diberikan pemberian tablet Fe plus jus jambu biji merah. Diharapkan pihak sekolah melalui usaha kesehatan sekolah (UKS) bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk melakukan penyuluhan di sekolah sekali sebulan tentang kesehatan remaja khususnya anemia pada remaja dan tenaga atau guru dapat memberikan informasi pada siswi untuk mengkonsumsi jus jambu biji merah dalam meningkatkan kadar Hb. Kata Kunci: Tablet Fe, Vitamin C, Jus Jambu Biji Merah                                                                                                                Absract World Health Organization (WHO) in 2013 stated the prevalence of world anemia ranges from 40-88%. From the results of Riskesdas in 2013, it is known that the prevalence of anemia in adolescent girls as much as 57.1%. The purpose of this research is to determine the effect of Fe and Vitamin C tablets compared to Fe and pink guava to increase of hemoglobin level in female teenagers in SMK Negeri 2 Padang. This research was using nonequivalent control group design, the population is  female teenagers in SMK Negeri 2 Padang X-XI class as many as 248 people with sample 20 people. This research sampling  used technique purposive sampling. The study was conducted from January to August 2017. Data were analyzed using univariate  and bivariate distribution tables using statistical test of wilcoxon with 95% confidence level = 0.05. The mean Hb before given tablets Fe and Vitamin C was 10.46 g / dl and the mean Hb before the tablets and red guava were 9.93g / dl. There was a significant difference in Hb levels before and after given of Fe tablet plus guava juice. It is expected that the school health efforts (UKS) work together with health workers to conduct school counseling once a month about adolescent health, especially anemia in teenagers and can provide information to the students to consume guava juice in raising the levels of Hb.Keywords: Fe tablet, Vitamin C, Guava Red Juice
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PUSKESMAS BELIMBING PADANG Erwani, Erwani; Nofriandi, Nofriandi
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 1, No 1 (2017): JIK - Oktober Volume 1 No 1 Tahun 2017
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.862 KB) | DOI: 10.33757/jik.v1i1.38

Abstract

Insomnia is difficulty in initiating or maintaining sleep is temporary or persistent. Initial surveys found the elderly aged over 60-74 years, 6 elderly have trouble sleeping elderly say sleep less than 4 hours and 30 minutes a day and night, easily awakened night so the time it takes to fall back asleep after waking at night is 30-60 minutes. Seniors say they woke during the night as much as 3-4 times, difficult to start getting back to sleep, wake up early. 2 elderly feel anxious, because they live far from the family of elderly experiencing behavioral restless, uneasy, fingers trembling, shortness of breath and rapid and red face, two elderly men who like to drink coffee and smoke said it was difficult to sleep and often wake up at night, This study aimed Factors Associated With Insomnia In Elderly in PHC starfruit Padang 2016.This type of research used analytic cross sectional design which was held on July 24 to July 28 2016 fruit PHC field in January-August 2016. The entire elderly population residing in fruit Health Center for 3 months in 2015 as many as 806. With a sample size 67 person. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis using Chi -square test p-value ≤ 0.05.Results obtained (59.7%) with insomnia early age , (52.2%) male gender with insomnia, (61.2%) poor lifestyle with insomnia, (67.2%) severe anxiety with insomnia, (65.7%) insomnia .There is significant correlation between age and the incidence of insomnia,sex with the incidence of insomnia, lifestyles with the incidence of insomnia, anxiety with the incidence of insomnia.Based on the above phenomenon can be concluded that a sedentary lifestyle , age, gender , anxiety , insomnia related events. Suggested to the elderly to lower the level of anxiety in a way to get closer to Allah SWT, as well as amend the lifestyle so avoid insomnia so get peace of life . Insomnia merupakan kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur bersifat sementara atau persisten. Survei awal didapatkan lansia berumur diatas 60-74 tahun, 6 lansia mengalami sulit tidur lansia mengatakan tidur kurang 4 jam 30 menit sehari semalam, mudah terbangun malam hari sehingga waktu yang diperlukan untuk tidur kembali setelah terbangun pada malam hari adalah 30-60 menit. Lansia mengatakan mereka terbangun saat malam hari sebanyak 3-4 kali, sulit memulai tidur kembali dan bangun dini hari. 2 lansia merasa cemas karena tinggal jauh dari keluarga lansia mengalami tingkah laku gelisah, tidak tenang, jari gemetar, nafas pendek dan cepat dan muka merah, 2 orang lansia laki-laki yang suka minum kopi dan merokok mengatakan sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Tujuan penelitian mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Insomnia Pada Lansia di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2016.Jenis penelitian yang digunakan analitik dengan desain cross sectional yang telah dilaksanakan tanggal 22 Juli – 28 Juli 2016 di Puskesmas Belimbing Padang pada bulan Januari – Agustus 2016. Populasi seluruh lansia yang berada di Puskesmas Belimbing selama 3 bulan terakhir 2015 sebanyak 806. Dengan jumlah sampel 67 orang. Data dianalisis mengunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-square nilai p ≤ 0,05.Hasil penelitian didapatkan (59,7%) usia awal dengan insomnia, (52,2%) jenis kelamin laki-laki dengan insomnia, (61,2%) gaya hidup buruk dengan insomnia, (67,2%) kecemasan berat dengan insomnia, (65,7%) insomnia. Ada hubungan yang bermakna antara usia dengan insomnia, jenis kelamin dengan  insomnia, gaya hidup dengan  insomnia, kecemasan dengan insomnia.Berdasarkan fenomena diatas dapat disimpulkan bahwa gaya hidup, usia, jenis kelamin, kecemasan, berhubungan dengan insomnia. Disarankan kepada lansia untuk menurunkan tingkat kecemasan dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta merobah pola hidup sehingga terhindar dari insomnia sehingga mendapatkan ketenangan hidup.  
PENGARUH SUPERVISI KEPALA RUANGAN TERHADAP PELAKSANAAN PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RSU AISYIYAH PADANG TAHUN 2018 ananda, yuanita; Asmawati, Asmawati; Alkafi, Alkafi
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 2, No 2 (2018): JIK-Oktober Volume 2 No 2 Tahun 2018
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.815 KB) | DOI: 10.33757/jik.v2i2.125

Abstract

ABSTRAK Supervisi dalam pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan di RSU ‘Aisyiyah Padang didapatkan data berdasarkan hasil pengamatan medical record di ambil 40 sampel dokumentasi rekam medik pasien rawat inap, hanya 21 dokumen (42%) yang dokumentasi asuhan keperawatan terisi lengkap,19 dokumen (58%) di isi tidak lengkap. Berdasarkan wawancara dengan kepala Instalasi Rawat Inap mengenai kegiatan supervisi kepala ruang tentang dokumentasi asuhan keperawatan, diperoleh informasi bahwa selama ini kepala ruangan melakukan supervisi sekali sebulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Supervisi Kepala Ruangan Terhadap Pelaksanaan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat  Inap RSU ‘Aisyiyah Padang Tahun 2018.Jenis penelitian adalah Pre-eksperimental design yang bertujuan melihat ada tidaknya “Pengaruh Supervisi Kepala Ruangan Terhadap Pelaksanaan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat  Inap RSU ‘Aisyiyah Padang Tahun 2018”, dengan rancangan yang digunakan One Group pretest–Postest Design. Dengan jumlah sampel 12 orang dengan teknik total sampling. Analisa data diolah menggunakan univariat ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan analisa bivariat uji statistik yang digunakan uji statistik Paired T-test dengan p value (0,05)Hasil penelitian terdapat perbedaan pendokumentasian asuhan keperawatan sebelum dan sesudah diberikan supervisi, dimana rata-rata pendokumentasian asuhan keperawatan sebelum diberikan supervisi 34,56 standar deviasi 4,912 yaitu tergolong tidak lengkap. Sesudah diberikan supervisi rata-rata pendokumentasian asuhan keperawatan menjadi 28,38 dengan standar deviasi 4,773 atau tergolong lengkap. Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan P value = 0,000, maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh supervisi dalam meningkatkan pendokumentasian asuhan keperawatan.Terdapat pengaruh supervisi kepala ruangan dengan pelaksaan pendokumentasian asuhan keperawatan. Dianjurkan pada kepala ruangan untuk melaksanakan supervisi secara berkala dan melakukan monitoring dengan baik. Kata kunci : Supervisi , Pendokumentasian Asuhan Keperawatan  ABSTRACT Supervision in the implementation of documentation of nursing care at RSU 'Aisyiyah Padang obtained data based on medical record observations taken 40 documentation samples of medical records of inpatients, only 21 documents (42%) with complete nursing care documentation, 19 documents (58%) in incomplete content. Based on the interview with the head of the Inpatient Installation regarding the supervision of the head of the room about nursing care documentation, information was obtained that so far the head of the room had supervised once a month. This study aims to determine the influence of the Supervision of the Head of the Room on the Implementation of Documentation of Nursing Care in the Inpatient Room of RSU 'Aisyiyah Padang in 2018.This type of research is Pre-experimental design that aims to see whether there is a "Effect of Supervision of the Head of the Room on Documentation of Nursing Care in the Inpatient Room of RSU 'Aisyiyah Padang in 2018", with the design used by One Group pretest-Postest Design. With a sample of 12 people with total sampling technique. Analysis of data processed using univariate is displayed in the form of frequency distribution tables and bivariate analysis statistical tests used statistical tests Paired T-test with p value (0.05)The results of the study there are differences in documenting nursing care before and after supervision, where the average documentation of nursing care before being given supervision 34.56 standard deviation 4,912 is classified as incomplete. After being supervised on average, documenting nursing care became 28.38 with a standard deviation of 4,773 or complete. Based on the results of statistical tests obtained P value = 0,000, it can be concluded that there is an influence of supervision in improving documentation of nursing care.               There is the influence of the supervision of the head of the room with the implementation of documenting nursing care. It is recommended to the head of the room to carry out periodic supervision and monitor properly. Keywords: Supervision, Documentation of Nursing Care
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN PASCA STROKE DI POLIKLINIK SYARAF RUMAH SAKIT STROKE NASIONAL BUKITTINGGI TAHUN 2016 Suriya, Melti
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 2, No 1 (2018): JIK- April Volume 2 Nomor 1 Tahun 2018
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33757/jik.v2i1.63

Abstract

                                              ABSTRACTWorld Health Organization (WHO) in 2014 shows that 63% of death case world widely wass caused by non-communicable diseases, namely stroke or it is equivalent to 36 million deaths a year. Post-stroke patient who see themselves negatively not able to see the positive side of the defect in misery. The patient sees himself as an individual with a disability, unable to meet the demands of the moral, full of flawar. The purpose of this study is to determine the relationship between family support and self-concept changes in post-stroke patients in National Stroke Hospital of Bukittinggi 2016. The type of analytical research was cross sectional design. The population of this research was the total number of stroke haemoragic who visited in February - March 2016 there were 366 people with 46 of the sampling. The sampling technique Accidental sampling. This research was held on June 06- 17 june 2016. These Data were analyzed by using univariate which used frequency distribution table and bivariate which use statistical test Chi-Square with α 95% confidence level α = 0.05. The results of the research showed that less than (43.5%) respondents have negative self-concept. More  than (41.3%) respondents have unsupported family. There was a relationship between family support and self-concept (p value = 0,010). In conclusion family support can affect self-concept in stroke patients. Health worker aslo can be expect in National Stroke Hospital of Bukittinggi can give the information to post stroke patients family to regard the post stroke patien and can give counseling guidance about the importance of family support for build the self-concept of post-stroke patient to make then feel more confident with their condition. Keywords: Stroke, Family Support and Self-Concept                                                             ABSTRAKMenurut World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukkan bahwa 63% penyebab kematian di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular yaitu stroke atau setara dengan kematian 36 juta jiwa per tahun. Pasien pasca strok yang memandang dirinya secara negatif tidak mampu memandang sisi positif dari cacat yang dideritanya. Pasien tersebut memandang dirinya sebagai indivindu yang cacat, tidak mampu memenuhi tuntutan moral, penuh kekurangan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan perubahan konsep diri pada pasien pasca stroke di Poliklinik Syaraf Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi tahun 2016.Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien stroke haemoragik yang datang berkunjung di Poliklinik Syaraf Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi pada bulan Februari – Maret 2016 sebanyak 366 orang dengan sampel 46 orang. Teknik pengambilan sampel accidental sampling. Penelitian dilakukan pada tanggal 06 – 17 Juni 2016. Data dianalisa secara univariat menggunakan table distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan ujia statistik Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% α = 0,05.Hasil penelitian menunjukan bahwa kurang dari separuh 43,5% memiliki konsep diri negatif. Kurang dari separuh 41,3% memiliki keluarga tidak mendukung. Ada hubungan dukungan keluarga dengan konsep diri di Poliklinik Syaraf Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi tahun 2016 (p value = 0,010).Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan dukungan keluarga dengan konsep diri pasien stroke. Diharapkan tenaga ksehatan di Poliklinik Syaraf Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi agar dapat memberikan informasi kepada pasien pasca stroke agar dapat memberikan bimbingan konseling tentang pentingnya dukungan keluarga terhadap konsep diri pada pasien pasca stroke sehingga pasien dapat percaya diri dengan keadaanya sekarang.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN AUDIO RECORDER GUIDED IMAGERY MUSIC (GIM) TERHADAP NYERI PADA PASIEN PASCA BEDAH LAPARATOMI DI RS. BLUD PROF DR DR H ALOE SABOE KOTA GORONTALO aswad, yusrin; Pangalo, Paulus
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 2, No 2 (2018): JIK-Oktober Volume 2 No 2 Tahun 2018
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.01 KB) | DOI: 10.33757/jik.v2i2.110

Abstract

                                                           ABSTRAK        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan audio recorder guided imagery music (gim) terhadap nyeri pada pasien pasca bedah laparatomi di rumah sakit blud prof dr dr h aloe saboe kota gorontalo. Jenis penelitian ini adalah  quasi experimen dengan desain “group pre and post test design with control group” pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien pasca bedah laparatomi di ruangan Bedah di rumah sakit RSAS. Pengambilan sampel disini dilakukan dengan cara Non Probobality Sampling dengan teknik Purposif sampling. Peneliti mengambil semua subjek sesuai criteria inklusi sampai jumlah subjek minimal terpenuhi .hingga jumlah minimal sampel terpenuhi. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 15 orang. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat nyeri sebelum dan sesudah diberikan guided imagery musik. Hal ini dapat dilihat bahwa sebelum diberikan intervensi guided imagery musik yang pada pasien pasca bedah   pada pengukuran awal pada kelompok intervensi  didapatkan rata-rata nyeri 5,17 sedangkan pengukuran ke dua menurun mnjadi rata-rata 3,1. Sedangkan pada kelompok kntol didaptakan hasil pengukuran awal rata-rata nyeri 5,11 dan pada pengukuran ke dua didapatkan hasil rata-rata nyeri 4,9 dan 5,0 pada pengukuran ke tiga. Hasil uji statistic  pada penelitian ini (p value <0,05 baik evaluasi pertama maupun evaluasi efek retensi (satu jam setelah post test) atau pengukuran ke dua menunjukkan adanya penurunan nyeri yang bermakna antara sebelum dan sesudah dilakukan teknik guided imagery music pada pasien pasca bedah. Dapat disimpulkan Terdapat pengaruh yang signifikan intervensi Guided Imagery Music terhadap nyeri pada pasien Pasca bedah laparotomy. Disarankan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan pentingnya intervensi mandiri yang dilakukan dalam menurunkan gejala gangguan fisiologis dan psikologis pada pasien-pasien pasca bedah seperti masalah nyeri, cemas dan perubahan tanda-tanda vital. Dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan diharapkan pemberian terapi guided imagery music dapat dijadikan protap dalam mengurangi nyeri dan perunbahan tanda-tanda vital pada pasien pasca pembedahan. Kata Kunci: Nyeri, Laparatomi, penggunaan audio recorder guided imagery music (gim) ABSTRACK This study aims to determine the effectiveness of the use of guided imagery music (gim) audio recorders on pain in patients after laparotomy surgery at a hospital in front of Dr. Aloe Saboe, Gorontalo. This type of research is quasi-experimental with the design of "group pre and post test design with control group" pain measurements performed before and after the intervention. The population in this study were all patients after laparotomy surgery in the Surgery room at RSAS hospital. Sampling here is done by using Non Probobality Sampling with purposive sampling technique. The researcher took all subjects according to inclusion criteria until the minimum number of subjects was fulfilled. until the minimum number of samples is met. The number of samples in this study were 15 people. The results of the research showed that there were differences in the level of pain before and after being given guided imagery music. It can be seen that before being given intervention guided imagery music which in post-surgical patients at initial measurement in the intervention group obtained an average of 5.17 pain while the second measurement decreased to an average of 3.1. Whereas in the kntol group there was an average initial measurement of pain of 5.11 and at the second measurement, the average pain was 4.9 and 5.0 at the third measurement. Statistical test results in this study (p value <0.05 both the first evaluation and evaluation of the effect of retention (one hour after post test) or the second measurement showed a significant reduction in pain between before and after the guided imagery music technique was performed in postoperative patients. It can be concluded that there is a significant influence of Guided Imagery Music intervention on pain in patients. Post laparotomy surgery, it is suggested that the results of this study can provide input to the importance of independent interventions in reducing physiological and psychological symptoms in postoperative patients such as pain, anxiety and changes in vital signs In improving the quality of nursing services it is expected that the provision of guided imagery music therapy can be used as a protap in reducing pain and the development of vital signs in post-surgical patients.Keywords: Pain, Laparatomy, use of audio imagery guided imagery music (gim)
SKRINING KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DAERAH PERDESAAN DI KOTA SALATIGA, PROVINSI JAWA TENGAH INDONESIA Kurniati Hamzah, Prima; Kusnanto, Kusnanto; D. Widarsih, D. Widarsih
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 1, No 1 (2017): JIK - Oktober Volume 1 No 1 Tahun 2017
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33757/jik.v1i1.34

Abstract

In 2012, prevalence of Soil Transmitted Helminths Disease in Salatiga is about 5.12% to 20%. Based on the report of Salatiga Health Department, the prevalence rate did not represent all of secondary schools. Even in 2013, there was a declination in the number of samples dis-screening 26.3%. The purpose of screening is for the reduction prevalence, intensity of intestinal transmintted helminths disease and eradication program in Salatiga. This study was designed by proportional study on 14 th-16th August 2014. Target screening of population was living in poor environmental sanitation, low socio economic and lived in bad health condition. The sample calculation was taken from 64 respondents which consist of students of 1st to 3rd grade. Data colected were collected by direct interview supported clinical reported from doctor. Screening involved two basic procedure; physical examination based on ministry of health and feces examination of stool in the laboratory using eosin technique. Soil transminted helminths prevalence was 3,21% from Ascaris Lumbricoides. Sensitivity, specificity, PPV and NPV based on clinical symptoms include distended stomach helminths (100%,11.29% and 3.51;100%), pale eyes and dirty (100%,27.42% and 4.26%;100%), diarrhea (100%;22.58% and 4%,100%), decreased appetite (100%,33.87% and 4.65%;100%), weight loss (100%;16,13% and 3.7%;100%), lethargy (100%,30.65% and 4.44%;100%), less passion (100%,17.74% and 3.77%;100%), decreased concentration (100%,29.03% and 4.35%;100%), nausea or vomiting (100%,20.97% and 3.92%;100%), a symptoms combination (100%;79,03% and 13.33%;100%). Number of children who did dis-screening sample do not represent the number of elementary school students located in the town of Salatiga. It is very recommended to Salatiga Health Department to conduct screening of the broader target. Then, by providing training in examination of Soil Transmitted Helminths disease in laboratory workers in conducting the examination will produce more accurate result. Moreover, by providing personal hygiene education to elementary school students accompanied by a parent will contribute for good preventive action. Di Kota Salatiga tahun 2012, prevalensi kecacingan cukup tinggi berkisar 5,12-20%. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Salatiga, seksi penanggulangan penyakit, angka prevalensi tersebut belum mewakili semua sekolah dasar. Tahun 2013 terjadi penurunan jumlah sampel yang diskrinning sebesar 26,3%. Guna menurunkan angka prevalensi penyakit cacingan, memutus rantai penularan, serta meningkatkan derajat kesehatan dan prestasi murid sekolah dasar. Desain studi adalah proportional study yang dilaksanakan pada 14-16 Agustus 2014.  Sasaran skrinning adalah populasi yang tinggal di sanitasi lingkungan buruk, social ekonomi rendah serta tidak berperilaku hidup bersih dan sehat. Berdasarkan perhitungan sampel jumlah minimal yang akan diskrinning adalah 64 orang. Data yang dikumpulkan berdasarkan wawancara dengan murid dan pemeriksaan gejala klinis. Skrinning menggunakan 2 dasar prosedur yaitu gejala klinis berdasarkan kriteria Kemenkes RI dan pemeriksaan feses di laboratorium dengan metode eosin. Prevalensi kecacingan di SD N Blotongan adalah 3,21 % dengan jenis cacing ascaris lumbricoides. Ada pun sensivitas, spesifisitas, PPV dan NPV gejala klinik dari kecacingan yaitu nafsu makan berkurang (100%, 33,33%, 2,33%,100%) mata pucat dan kotor (100%, 26,98%, 2,13%, 100%), berat badan menurun (100%, 16,13%, 3,70% 100%) perut buncit (100%, 11,29%, 3,51%, 100%), Diare ( 0%, 21,88%, 2,13%, 1005), Lesu (0%, 29,69%, 0%, 100%), Tidak bergairah (0%, 17,19%, 0%, 100%), Kosentrasi belajar berkurang (0%, 28,13%,0%,100%), Mual (0%, 20,31%,0%,100%) dan gejala kombinasi (0%, 79,03%, 0%, 100%). Penggunaan alat skrinning kecacingan menggunakan metode aeosin kurang efektif karena tidak dapat menghitung dan mengindetifikasi telur cacing untuk mengetahui intensitas infeksi cacing. Disarankan kepada Dinas Kesehatan agar memperbaiki laboratorium dengan mengganti metode Kato Katz. Selain itu perlunya penyuluhan pada anak sekolah didampingi orang tua di SD Blotongan 1 dan 2 tentang pentingnya hygiene sanitasi terutama personal hygiene dan  melakukan skrining kecacingan dengan sasaran yang lebih luas.