cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Eboni
ISSN : 08539200     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni" : 9 Documents clear
Back Cover Info Teknis Eboni Vol. 15 Issue 2, 2018 Masrum, Masrum
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.422 KB)

Abstract

Perkembangan Bintil Akar pada Semai Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Sari, Ramdana; Prayudyaningsih, Retno
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.125 KB)

Abstract

Pembentukan bintil akar pada legum terjadi melalui kontak molekular antara rhizobia (mikrosimbion) dengan legum (makrosimbion), seperti pada jenis sengon laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen). Kontak terjadi ketika akar mensekresikan berbagai macam senyawa (eksudat akar) yang dikenali oleh bakteri sehingga mampu menginfeksi akar. Jumlah dan macam eksudat akar yang dihasilkan tanaman dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik lingkungan, serta jenis dan umur tanaman. Faktor-faktor tersebut tentu saja juga berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan bintil akar. Informasi pembentukan dan perkembangan bintil akar pada berbagai umur tanaman masih sangat terbatas. Tulisan ini bertujuan menjelaskan perkembangan bintil akar sengon laut pada umur semai yang berbeda. Pengamatan dilakukan setiap minggu setelah benih berkecambah untuk melihat pembentukan awal dan perkembangan bintil akar. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sengon laut memiliki tipe bintil akar indeterminate. Awal terbentuknya bintil akar terjadi ketika semai berumur 2 minggu. Jumlah bintil akar relatif meningkat seiring bertambahnya umur semai. Rerata jumlah bintil akar semai adalah 0,33; 1,00; 3,33; 3,33; 2,67; 3,33; 5,00; 4,67; 2,33; 4,67 dan 6,33 (umur semai 2-12 minggu). Informasi awal terbentuknya bintil akar dapat menjadi dasar waktu yang tepat untuk penyapihan dan pemberian inokulum rhizobia pada sengon laut, yaitu pada minggu ke 2-3 setelah berkecambah.
Preface Info Teknis Eboni Vol.15 Issue 2, 2018 Masrum, Masrum
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.952 KB)

Abstract

Kemiskinan Masyarakat Sekitar Hutan dan Program Perhutanan Sosial Dewi, Indah Novita
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.635 KB)

Abstract

Masyarakat sekitar hutan pada umumnya miskin dan berpendidikan rendah. Keterbatasan tersebut membuat mereka seringkali merambah kawasan hutan karena keterdesakan ekonomi dan terbatasnya lahan garapan. Luasnya kawasan hutan yang telah diokupasi oleh masyarakat menunjukkan lemahnya negara dari sisi pengamanan hutan. Tidak ada jalan lain menyelamatkan hutan, kecuali dengan melibatkan masyarakat pada pengelolaan hutan. Sebagai upaya legalisasi akses masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan, pemerintah mengeluarkan kebijakan perhutanan sosial. Tentunya kebijakan ini bukan sekadar bagi-bagi lahan hutan untuk masyarakat, melainkan disertai aturan-aturan yang mengamankan keberadaan pohon di dalam hutan sampai batas usia panennya. Kebijakan ini diharapkan mempunyai manfaat ganda, satu untuk kesejahteraan masyarakat dan yang lain untuk kelestarian hutan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan mengenai kemiskinan masyarakat sekitar hutan dan program perhutanan sosial. Meskipun masih banyak kendala dalam implementasi program perhutanan sosial, namun ke depan program ini diharapkan mampu menanggulangi kemiskinan masyarakat sekitar hutan. Penanggulangan kemiskinan melalui program perhutanan sosial dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat dalam kelompok-kelompok tani. Pemberdayaan masyarakat dilakukan, baik melalui peningkatan kapasitas petani maupun pemberdayaan ekonomi lokal. Setiap wilayah memiliki karakter yang berbeda, dan oleh sebab itu, komoditas yang dikembangkan setiap wilayah juga berbeda-beda sesuai dengan potensinya masing-masing. Komoditas yang dikembangkan diharapkan dapat mengisi pasar nasional dan internasional dengan sistem bisnis sosial yang diselenggarakan oleh kelompok tani melalui koperasi dan mitra. Keuntungan dari bisnis sosial ini pada ujungnya akan kembali kepada kelompok tani, sehingga dapat sepenuhnya digunakan untuk kesejahteraan anggota, selain diputar kembali untuk mengembangkan usaha lebih lanjut dengan tetap mengutamakan kelestarian hutan.
Pentingnya Wanamina sebagai Alternatif untuk Memelihara Tambak di Daerah Pesisir Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Purwanti, Rini
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.129 KB)

Abstract

Kabupaten Takalar memiliki daerah pesisir sebesar 42,52% dari total wilayah, dengan panjang pantai sekitar 74 km dan luas tambak 5.078,6 ha.  Sebagian besar tambak berada dekat dengan pesisir pantai dan mengalami rusak parah akibat terkena hantaman ombak.  Akibat kerusakan ini, nelayan bukan hanya gagal panen, namun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memperbaiki tanggul yang rusak. Salah satu alternatif untuk mengurangi terjadinya kerusakan tanggul tambak adalah dengan sistem wanamina.  Wanamina merupakan model pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman mangrove, yang dapat meningkatkan produktifitas hasil tambak. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui model wanamina yang telah diterapkan oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Takalar. Wanamina telah dikembangkan oleh masyarakat di Kabupaten Takalar terutama pemilik tambak di daerah pesisir dengan model penanaman di pematang tambak terluar yang berbatasan langsung dengan pantai, di sekitar pematang tambak dan di tengah tambak.  Dengan adanya tanaman mangrove yang menjadi pembatas antara laut dan tambak masyarakat, mampu mengurangi terjadinya kerusakan tambak akibat abrasi pantai.  Jenis tanaman mangrove yang ditanam adalah Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa.  Kegiatan sosialisasi dan penelitian tentang manfaat wanamina bagi masyarakat di pesisir kabupaten Takalar belum banyak dilakukan, oleh sebab itu sangat dibutuhkan adanya kegiatan tersebut untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat yang belum menerapkan wanamina ini. 
Appendix Info Teknis Eboni Vol 15 Issue 2 2018 Masrum, Masrum
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.754 KB)

Abstract

Model Peningkatan Air Tanah Berbasis Pemukiman pada Hulu Daerah Aliran Sungai Sallata, M. Kudeng; Nugroho, Hunggul YSH; Suryaman, Ade; Saad, Muhammad
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.641 KB)

Abstract

Rendahnya persentase air hujan pada musim hujan yang tersimpan di daerah imbuhan air baku DAS, akan mengganggu keseimbangan hidrologi khususnya komponen-komponen penyusun siklus air dalam suatu DAS. Diperlukan terobosan dalam mengembangkan program konservasi tanah dan air secara menyeluruh dalam hubungannya dengan program-program pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Metode konsevasi air berupa  sumur resapan dan bentuk metode fisik lainnya seperti teras gulud, pengatur saluran air, untuk mengurangi atau memanen aliran permukaan (runoff) telah dikembangkan di Kampung Babangeng, Desa Pa’bumbungan, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan, untuk meningkatkan kemampuan tanah meresapkan air (Soil infiltration capacity) kedalam tanah. Model kegiatan ini diharapkan menambah ketersediaan air tanah pada daerah imbuhan air DAS Calendu. Tujuan pengembangan adalah meningkatkan resapan air untuk ketersediaan air baku melalui pembangunan sumur resapan air berbasis kelompok pemukiman dan melakukan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah partisipatif di daerah imbuhan air tanah DAS Calendu, Bantaeng. Hasil  pengembangan menunjukkan bahwa  dengan terbangunnya  dua  buah sumur resapan dengan kapasitas masing-masing  8 meter kubik dapat  meresapkan air  atau menambah air tanah  sebanyak  124,92 meter kubik dari 35 kejadian hujan dengan tinggi 1583 mm  periode Juli - Agustus 2017.  Hal yang sama terjadi pada periode hujan dari Oktober - Desember 2017, sumur dapat menampung runoff 122,84 meter kubik dari kejadian hujan lebih banyak yaitu 55 kali.
Front Cover Info Teknis Eboni Vol.15 Issue 2, 2018 Masrum, Masrum
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.159 KB)

Abstract

Peran Nelayan Perempuan dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Pesisir di Desa Tompotana Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Purwanti, Rini
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.733 KB)

Abstract

Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir disebut sebagai masyarakat pesisir. Mayoritas masyarakatnya memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan. Sumberdaya laut yang melimpah harusnya membuat masyarakat pesisir menjadi sejahtera, namun kenyataannya kondisi kehidupan mereka masih berada di bawah garis kemiskinan. Salah satu sumber penghasilan adalah menangkap ikan, namun hasil yang diperoleh masih tergantung pada musim. Hal ini berimplikasi pada pendapatan nelayan yang tidak menentu, sementara kebutuhan keluarga harus tetap terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, maka nelayan melakukan strategi untuk memenuhi kebutuhan melalui pelibatan perempuan dalam mencari nafkah.  Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui peran perempuan dalam meningkatkan pendapatan keluarga di Desa Tompotana, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan adalah melalui wawancara dengan beberapa responden perempuan di Desa Tompotana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan perempuan di Desa Tompotana ikut serta membantu meningkatkan perekonomian keluarga dengan cara menjadi buruh ikat bibit rumput laut, membantu pengepakan arang di industri arang dan mengambil kerang di sekitar hutan mangrove untuk dijual. Hasil mengikat rumput laut, dapat menambah penghasilan rumah tangga mereka sebesar Rp200.000/bulan, buruh industri arang sebesar Rp500.000/tahun dan hasil menjual kerang sebesar Rp750.000/bulan. Penambahan pendapatan tersebut memang kecil, karena di bawah UMR Sulawesi Selatan yaitu Rp2.647.767, tetapi sangat membantu perekonomian keluarga karena dapat menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Page 1 of 1 | Total Record : 9