Journal of Aquaculture Science
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 25500910     EISSN : 25794817
Journal of Aquaculture Science (JoAS) merupakan media pertukaran informasi dan karya ilmiah pada bidang Akuakultur meliputi teknik budidaya, teknologi, reproduksi dan penyakit ikan pada budidaya. Secara umum, Journal of Aquaculture Science menerima artikel hasil penelitian review artikel dan komunikasi singkat. Journal of Aquaculture Science terbit 2 kali dalam setahun (April dan Oktober).
Articles
20
Articles
Bahan Bioflokulan dari Karaginan dan Agar Pada Proses Pemanenan Phytoplankton Dunaliella salina

Abdillah, Annur Ahadi, Alamsjah, Mochammad Amin, Ghoyatul Amin, M. Nur

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 2 (2018): Journal Of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.972 KB)

Abstract

Pemanenan mikroalga adalah bagian penting dalam sistem budaya untuk menghasilkan biomassa yang lebih tinggi. Pemanenan Mikroalga dapat dilakukan dengan beberapa teknik seperti sentrifugasi, filtrasi, sedimentasi, flokulasi, getaran ultrasonik, dan menggunakan filter. Teknik yang saat ini digunakan dalam skala industri adalah flokulasi. Teknik ini digunakan karena lebih cepat dan efisien. Bahan flokulan yang aman adalah polimer rumput laut yaitu polisakarida. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efisiensi penggunaan flokulan dari alginat, karaginan, dan Agar pada proses flokulasi mikroalga Dunaliella salina. Proses flokulasi pada 50 menit menunjukkan flokulasi oleh bahan alginat sebesar 30,52%, 22,85% oleh karagenan, 11% oleh Agar, plankton tanpa flokulasi terjadi flokulasi hanya sebesar 3,96%. Proses flokulasi pada menit ke 240 berubah secara bermakna. Penambahan karagenan meningkatkan flokulasi menjadi 39,84%. Agar meningkat menjadi 31,48%. Penambahan flokulan alginat tidak mengalami perubahan bermakna yang hanya berubah menjadi 30,89%. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas flokulasi terbaik adalah karaginan di mana kecepatan flokulasi sama dengan alginat yang telah sering digunakan sebagai flokulan. Keyword : Dunaliella salina, Bioflokulan, Karaginan, Alginate, Agar 

Penambahan Zinc pada Pakan Terhadap Peningkatan Sistem Imun Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

Oktaviana, Adni

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 2 (2018): Journal Of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.913 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan zinc pada pakan terhadap peningkatan sistem imun udang vaname (L. vannamei).  Penelitian ini terdiri dari dua perlakuan dengan empat ulangan. Penambahan zinc pada pakan dengan dosis 45 mg/kg pakan (P) dan tanpa penambahan zinc pada pakan (C). Penelitian ini dilaksanakan selama lima minggu. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah penambahan zinc pada pakan memberikan pengaruh dalam meningkatkan LPH dan THC udang vaname. Namun tidak memberikan pengaruh terhadap sintasan udang tersebut. Kata kunci: udang vaname, total hemosit, sintasan, zinc

Identifikasi Penyebab Kematian Massal Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Di Sentra Budidaya Ikan Gurami, Desa Beji, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Khumaidi, Achmad, Hidayat, Aris

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 2 (2018): Journal Of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.441 KB)

Abstract

Kasus kematian massal ikan Gurami di Sentra Budidaya Ikan Gurami, Desa Beji, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah berdampak pada menurunnya produksi telur dan benih ikan Gurami. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi patogen penyebab kematian pada ikan Gurami. Metode yang digunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara acak, kemudian diidentifikasi keberadaan patogen pada sampel ikan Gurami. Hasil identifikasi patogen pada ikan Gurami menunjukkan adanya infeksi Bakteri (Aeromonas hydrophila, Aeromonas sobria), Parasit (Henneguya sp., Trichodina sp., Vorticella sp.) dan Jamur (Aspergillus sp.). Penelitian ini menunjukkan bahwa kematian massal pada ikan Gurami disebabkan oleh serangan bakteri, parasit, dan jamur.Kata Kunci: ikan Gurami, kematian massal, bakteri, parasit, jamur.

Efek Padat Tebar Ikan Lele Dumbo (Clarias Sp.) yang Berbeda terhadap Kandungan Amonia (NH3) dan Nitrit (NO2) dengan Sistem Bioflok

Nizar Fanani, Ahmad, Setya Rahardja, Boedi, ., Prayogo

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 2 (2018): Journal Of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.454 KB)

Abstract

Penumpukan limbah dalam akuakultur dapat menyebabkan terakumulasi racun anorganik yaitu amonia (NH3) (amonia yang tidak terionisasi) dan nitrit (NO2) pada perairan. Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif baru dalam mengatasi masalah amonia (NH3) dan nitrit (NO2) dalam akuakultur yang diadaptasi dari teknik pengolahan limbah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh padat tebar ikan lele dumbo (Clarias sp.) pada sistem bioflok terhadap amonia dan nitrit. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisa statistik menggunakan Analysis of Variant (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Hasil  dari penelitian menunjukkan bahwa  pengaruh padat tebar ikan lele dumbo (Clarias sp.)  berbeda nyata (P<0,05) terhadap amonia (NH3). Rata – rata produksi kandungan amonia (NH3) terendah terdapat pada perlakuan PO (padat tebar 15 ekor/ 15 L) sebesar 0.1689±0.0052, dan tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (padat tebar 30 ekor / 15 L) sebesar 0.1819±0.0016. Pengaruh padat tebar ikan lele dumbo (Clarias sp.)  tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap nitrit (NO2). Rata – rata produksi kandungan nitrit (NO2) terendah terdapat pada perlakuan PO (padat tebar 15 ekor/ 15 L) sebesar 0.0358±0.0028 dan tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (padat tebar 30 ekor/ 15 L) sebesar 0.0388±0.0042. Selama masa pemeliharaan suhu 26,4-29,70C, Oksigen terlarut 5,2-8,3 mg/L dan pH antara 7,01-8,66. Kata kunci: Bioflok, Amonia, Nitrit

Tingkat Konversi dan Efisiensi Pakan Benih Ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii) dengan Frekuensi Pemberian Berbeda

Saputra, Ibrahim, Kusuma Atmaja Putra, Wiwin, Yulianto, Tri

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 2 (2018): Journal Of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.535 KB)

Abstract

Nilai tingkat konversi dan efisiensi pakan merupakan parameter penentuan kualitas, perlakuan, atau pakan yang diberikan terhadap pertumbuhan ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh frekuensi pemberian pakan terhadap konversi dan efisiensi pakan dan kelangsungan hidup ikan Bawal Bintang. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan (Kontrol yaitu pemberian pakan 1 hari sekali, A yaitu pemberian pakan 2 hari sekali,dan B yaitu pemberian pakan 3 hari sekali) dengan 3 ulangan. Hasil penelitian terbaik adalah perlakuan Kontrol sebesar 2.11 g (nilai konversi pakan), 47.32% (efisiensi pakan), dan 100% (kelangsungan hidup). Kesimpulan penelitian ini adalah perlakuan yang diberikan selama penelitian secara analisis ANOVA tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap nilai konversi dan efisiensi pakan. Pemberian pakan dengan frekuensi 1 kali sehari (kontrol) menunjukkan pertumbuhan bobot terbaik dan dapat diterapkan pada budidaya. Kata kunci : Tingkat konversi, Efisiensi pakan, Ikan Bawal Bintang,

Aplikasi Bioflok yang dikombinasikan dengan Probiotik untuk Pencegahan Infeksi Vibrio parahaemolyticus pada Pemelihaaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

Azhar, Fariq

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 1 (2018): Journal of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.2 KB)

Abstract

Budidaya udang yang dilakukan dengan sistem intensif ternyata banyak menimbulkan permasalahan. Adanya masalah penyakit di udang yang disebabkan oleh bakteri, virus, ataupun koinfeksi merupakan masalah yang harus ditangani. Penggunaan probitik dan bioflok merupakan salah satu cara untuk mengatasi penyakit yang ada. Selain itu, kombinasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan performa sistem imun udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan bioflok yang dikombinasikan dengan probiotik terhadap sistem imun udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang di uji tantang dengan V. parahaemolyticus. Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan. Perlakuan yang diberikan yaitu penambahan probiotik komersil dalam media budidaya dengan sistem bioflok pada pakan berupa kontrol negatif (tanpa probiotik + tanpa bioflok) (1), kontrol positif (media budidaya bioflok dan tanpa penambahan probiotik) (2), probiotik I + bioflok (3), probiotik II + bioflok (4), dan probiotik III + bioflok (5).. Hasil yang diperoleh untuk performa performa sistem imun udang. terbaik pada perlakuan 4 (probiotik II + bioflok) dengan hasil SR sebesar 76,67%, THC sebesar 9,7 x 106 ml-1, dan total jumlah bakteri sebesar 1.59 x 107. Kata kunci: Udang vaname, Probiotik, Bioflok, Sistem Imun.

Total hemosit udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang dipelihara pada salinitas 10 ppt dengan padat tebar berbeda

Febriani, Dian, Marlina, Eulis, Oktaviana, Adni

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 1 (2018): Journal of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.061 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui total hemosit dan sintasan udang vaname (L. vannamei) yang dipelihara pada salinitas 10 ppt dan dengan padat tebar yang berbeda. Penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan dengan tiga ulangan. Udang vaname dipelihara pada salinitas 10 ppt dengan padat tebar 150 ekor/m2 (A), 200 ekor/m2 (B), dan 250 ekor/m2 (C). penelitian ini dilaksanakan selama lima minggu. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah udang vaname yang dipelihara pada salinitas 10 ppt dengan padat tebar berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan. Namun tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan juga total hemosit udang. Perlakuan yang menghasilkan pertumbuhan terbaik adalah padat tebar 150 ekor/m2.  

Bioakumulasi Logam Berat Merkuri (Hg) Di Musim Hujan Pada Budidaya Kerang Hijau (Perna viridis) Di Perairan Cirebon, Jawa Barat

Nurhayati, Dewi, Putri, Didha Andini

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 1 (2018): Journal of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.261 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bioakumulasi dari logam berat merkuri (Hg) pada kerang hijau, sedimen, dan air pada budidaya kerang hijau di perairan Cirebon, Jawa Barat pada musim hujan yaitu bulan Februari 2018. Sedimen, kerang hijau P. viridis, dan air diambil dari tempat budidaya kerang hijau perairan bondet Cirebon. Sampel diambil pada musim hujan dibulan Februari pada usia panen yaitu usia 6 bulan pemeliharaan. Sampel air laut, sedimen dan kerang hijau diambil sebanyak 3 kali ulangan. Pengujian logam berat merkuri (Hg) mengikuti SNI 01-2354.6-2006 diukur di laboratorium Balai Pengujian dan Pembinaan Mutu Hasil Perikanan (BPPMHP) Cirebon, Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kandungan logam berat merkuri (Hg) pada kerang hijau P. viridis 0,027 ± 0,038 ppm, sedimen sebesar 0,003 ± 0,006 ppm, dan air 0,017± 0,029 ppm. Kata kunci : Kerang hijau, logam berat merkuri, musim hujan, perairan Cirebon

Inventarisasi Ektoparasit Protozoa Dan Arthropoda Yang Menginfestasi Ikan Air Tawar Di Kota Banyuwangi, Jawa Timur

Ulkhaq, Mohammad Faizal, Budi, Darmawan Setia, ,, Kismiyati

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 1 (2018): Journal of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.732 KB)

Abstract

Kerugian yang ditimbulkan akibat infestasi ektoparasit memang tidak sebesar kerugian yang diakibatkan oleh infeksi organisme lain seperti virus dan bakteri, namun infeksi ektoparasit dapat menjadi salah satu faktor predisposisi bagi infeksi organisme pathogen yang lebih berbahaya yang mengakibatkan kematian pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi ektoparasit yang menginfestasi ikan air tawar yang dibudidayakan di beberapa kecamatan di Kota Banyuwangi yang hasilnya diharapkan dapat dijadikan acuan dalam upaya mencegah penyebaran penyakit pada ikan budidaya. Sampel penelitian berupa ikan nila, ikan mas dan ikan lele yang diperoleh dari enam kecamatan di Kota Banyuwangi, yaitu Kecamatan Kota, Kabat, Licin, Kalipuro, Giri, dan Glagah. Metode pemeriksaan ektoparasit dilakukan secara natif dengan mengerok permukaan tubuh, sirip dan insang ikan, lalu diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran mulai 40-400x. Hasil pengamatan selanjutnya didokumentasikan dan diidentifikasi menurut kunci identifikasi. Ektoparasit yang ditemukan menginfestasi ikan air tawar di Kota Banyuwangi terdiri dari 4 genus yaitu Argulus, Lernaea, Chonopeltis dan Trichodina. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui prevalensi dan intensitas ektoparasit dalam rangka mencegah penyebaran ektoparasit di wilayah lain.    Kata Kunci : Inventarisasi, ektoparasit, ikan air tawar, Banyuwangi

Performa Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii dari Maumere dan Tembalang Pada Budidaya Sistem Longline

Zainuddin, Fadli, Rusdani, M. Masyarul

Journal of Aquaculture Science Vol 3, No 1 (2018): Journal of Aquaculture Science
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.042 KB)

Abstract

Rumput laut Kappaphycus alvarezii yang banyak dibudidayakan berasal dari Maumere dan Tembalang.  Kappaphycus alvarezii  memiliki nilai ekonomis tinggi karena kandungan karaginannya yang banyak digunakan untuk produk makanan, produk kosmetik, dan obat-obatan ini  bertujuan untuk  mengevaluasi perbedaan performa rumput laut tembalang dan maumere yang dipelihara dengan metode longline di laut. Penelitan dilakukan dengan membudidayakan rumput laut metode longline yaitu menggunakan tali ris sepanjang 50 m, masing-masing 2 tali untuk rumput laut maumere dan 2 tali untuk rumput laut tembalang kemudian dipelihara selama 45 hari.  Selama pemeliharaan dilakukan pengontrolan setiap hari dan pengambil sampel untuk mengetahui performa rumput laut dilakukan setiap 15 hari sekaligus pengambilan sampel air untuk mengetahui kualitas air lokasi budidaya.  Hasil evaluasi yang didapatkan menunjukkan bahwa performa rumput laut Maumere lebih tinggi dibandingkan dengan rumput laut dan Kualitas air tempat pemeliharaan rumput laut sesuai untuk kelangsungan hidup rumput laut.Kata kunci : Performa, Kappaphycus alvarezii, Tembalang, Maumere.