cover
Contact Name
Prof. M. F. Rahardjo
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : -
Jurnal Iktiologi Indonesia (JII) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII). Awalnya JII terbit dua kali dalam setahun (biannual) yaitu Juni dan Desember, namun semenjak tahun 2014 JII terbit rutin tiga kali dalam setahun (triannual) yaitu pada Februari, Juni dan Oktober. JII menyajikan makalah yang berkenaan dengan segala aspek kehidupan ikan (Pisces) di perairan tawar, payau, dan laut. Aspek yang dicakup antara lain biologi, fisiologi, dan ekologi, serta terapannya dalam bidang penangkapan, akuakultur, pengelolaan perikanan, dan konservasi. Artikel dapat berupa hasil penelitian, rangkuman suatu topik, ulasan singkat, ataupun resensi buku.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
A NEW RECORD OF Cephalopholis igarashiensis KATAYAMA, 1957 (PERCIFORMES, SERRANIDAE) FROM INDONESIA Peristiwady, T.; Rahardjo, M. F.; Simanjuntak, C. P.H.
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 9, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.676 KB) | DOI: 10.32491/jii.v9i1.198

Abstract

Four specimens were collected at Winenet Fish Market, Bitung, North Sulawesi, Indonesia on March 5th, 2008 and October 11th, 2009. Other one specimen was collected at Batuputih Fish Market on October 17th, 2009. The fish was caught by hook and line at a depth about 50 m in Dua Island, North Sulawesi. Distribution of Cephalopholis igarashiensis at Pacific Ocean is found in southern Japan, Taiwan, Guam, Philippines, South China Sea, Samoa, and Tahiti in French Polynesia. Its morphological features and diagnostic characters are discussed and illustrated.
Toxicity of fentin acetate molluscicide on haematological and growth of Nile tilapia, Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) Lukmini, Aisyah; Supriyono, Eddy; Budiardi, Tatag
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 17, No 1 (2017): February 2017
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1186.435 KB) | DOI: 10.32491/jii.v17i1.20

Abstract

Fentin acetate (C20H18O2Sn) as pesticide is extensively used for killing golden apple snail (Pomacea sp.) in paddy field. This study was aimed to determine effect of sublethal molluscicide fentin acetate toxicity on the haematological charac-teristics (erythrocyte, hemoglobin, hematocrit, and leucocyte) and growth of juvenile Oreochromis niloticus. This re-search was conducted from May to July 2015 in Environment Laboratory of Aquaculture Department, Bogor Agricul-tural University. The research used twelve glass aquariums of 100x50x50 cm3 filled with 160 L water and put 30 juve-niles per aquarium. Fish were fed at satiation during the treatment and water exchange for every 24 hour. Research design was complete experimental randomized with four treatments and three replications of different fentin acetate concentrations i.e. 0.00; 0.003; 0.008; 0.015 mg L-1 for 21 days. The haematological characteristics and growth of fish were compared with ANOVA. The result indicates that sublethal concentration of 0.003 mg.L-1fentin acetate was significantly (p< 0.05) decrease the haematological characteristics and growth of tilapia. AbstrakFentin asetat (C20H18O2Sn) digunakan sebagai pestisida di sawah secara intensif untuk mematikan keong mas (Pomacea sp.). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh toksisitas subletal moluskisida fentin asetat terhadap ka-rakteristik hematologi (eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan leukosit) dan pertumbuhan yuwana ikan nila (Oreo-chromis niloticus). Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2015 di Laboratorium Lingkungan Departemen Akuakultur, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini menggunakan 12 akuarium berukuran 100x50x50 cm3. Ikan nila berukuran 8,90±0,13 g dipelihara dengan kepadatan 30 ekor dalam volume air 160 L. Ikan uji diberi pakan secara at satiation serta dilakukan penggantian air setiap 24 jam dengan konsentrasi bahan uji yang sama. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan dengan konsentrasi fentin asetat, yaitu: 0,00 (kontrol); 0,003; 0,008; dan 0,015 mg.L-1 selama 21 hari. Analisis terhadap karakteristik hematologi dan pertumbuhan ikan nila menggunakan anova. Konsentrasi sublethal moluskisida fentin asetat berpengaruh nyata terhadap penurunan karakteristik hematologi dan pertumbuhan ikan nila. 
Keragaman fenotipe tiga populasi belut Monopterus albus (Zuiew 1793) asal Jawa Barat dan respons biometrik pada media air bersalinitas [The phenotypic diversity of three populations of Asian swamp eel Monopterus albus (Zuiew 1793) from West Java and biometrics responses on salinity] Syarif, Ahmad Fahrul; Soelistyowati, Dinar Tri; Affandi, Ridwan
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.604 KB) | DOI: 10.32491/jii.v16i2.36

Abstract

This research aimed to evaluate the phenotype diversity of Asian swamp eel from West Java and the biometric responses on salinity for aquaculture development. Fish were collected from three different locations, i.e., Cianjur, Sukabumi, and Karawang with body size of 23.05+0.63 cm and weight of 7.58+1.04 g. Truss morphometric measurement was conducted for 30 samples from each location and biometric response on salty water media for 200 individuals. The experiment was performed in the media with different level of salinity, no substrate and with some shelters. Completely randomized design (CRD) with three levels of salinity (i.e. 0, 6, 12 g L-1) and density 1 kg m-2 was used in this study. Rearing was carried out for 30 days with 100% of media was changed every day and fish were fed with silk worms once a day with at satiation manner. The results showed that phenotypic diversity of Asian swamp eels from Karawang and Cianjur was similar, but differ from Sukabumi population. The biometric responses of Asian swamp eel from Karawang showed the superior performance and the best salinity of media for culture without substrate was 6 g L-1.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman fenotipe belut asal Jawa Barat serta respons biometriknya dalam pemeliharaan pada media air bersalinitas untuk pengembangan budi daya. Belut ditangkap dari tiga lokasi yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Karawang dengan ukuran tubuh berkisar antara 23,05+0,63 cm dan bobot 7,58+1,04 g. Sebanyak 30 ekor setiap populasi digunakan untuk pengukuran truss morfometrik dan 200 ekor untuk pengujian respons biometrik pada media air bersalinitas. Pemeliharaan dilakukan pada media air bersalinitas tanpa substrat dengan pemberian pelindung. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan perbedaan salinitas media pemeliharaan yaitu 0, 6, dan 12 g L-1 dengan padat penebaran 1 kg m-2. Pemeliharaan belut dilakukan selama 30 hari dengan penggantian air 100% setiap hari dengan pemberian pakan berupa cacing sutera Tubificidae sebanyak satu kali per hari secara at satiation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belut asal Karawang dan Cianjur mirip berdasarkan keragaman fenotipenya dibandingkan populasi Sukabumi. Respons biometrik belut asal Karawang paling unggul dan media terbaik untuk pemeliharaan belut tanpa substrat adalah media dengan salinitas 6 g L-1.
Pemanfaatan tepung testis sapi sebagai hormon alami pada penjantanan ikan cupang, Betta splendens Regan, 1910 [Cow’s testicles flour as the natural hormone masculinization of Siamese fighting fish, Betta splendens Regan, 1910] Hidayani, Andi Aliah; Fujaya, Yushinta; Trijuno, Dody Dharmawan; Aslamyah, Siti
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.781 KB) | DOI: 10.32491/jii.v16i1.52

Abstract

Siamese fighting fish, Betta splendens male is a lovely color ornamental fish with unique shape fins that make it highly demand by the ornamental fish lovers. This study aims to perform sex reversal with masculinization fish production. The study was carried out in two stages i.e.: stage 1 by soaking the 4 days old fish larvae into a solution of cow testicles flour with different doses, stage 2 with different soaking time. Testicular dose tested consists of five levels i.e.: 0 mg L', 20 mg L-1, 40 mg L-1, 60 mg L-1, and 80 mg L-1. Time immersions tested were: 0 hours, 24 hours, 36 hours, 48 hours and 60 hours. The measured parameter was the percentage of male fish produced. The results showed the highest per-centtage of male fish obtained at a dose of 60 mg L-1 and a 24-hour soaking time with a percentage value respectively 88.5% and 87.5%. The study provided information that masculinization technology in a solution of cow testicles applicable for fish larvae. This technology is easy to do so that farmers can use cow's testicles flour for masculinization for their fish production. AbstrakIkan Cupang, Betta splendens jantan merupakan ikan hias yang memiliki keindahan warna tubuh serta keunikan bentuk sirip sehingga sangat diminati oleh pecinta ikan hias. Penelitian ini bertujuan melakukan pembalikan kelamin dengan menjantankan ikan cupang yang diproduksi. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu: tahap pertama dengan meren-dam larva ikan cupang berumur empat hari ke dalam larutan tepung testis sapi dengan dosis berbeda, dan tahap ke dua dengan lama perendaman berbeda. Dosis testis yang diuji terdiri atas lima tingkatan yaitu 0 mg L-1, 20 mg L-1, 40 mgL-1 60 mg L-1, dan 80 mg L-1. Lama perendaman yang diuji adalah: 0 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, dan 60 jam. Parameter yang diukur adalah persentase ikan jantan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ikan berke-lamin jantan tertinggi diperoleh pada dosis 60 mg L-1 dan lama waktu perendaman 24 jam dengan nilai persentasi ber-turut-turut 88,5% dan 87,5%. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa teknologi penjantanan melalui perendaman dalam larutan testis sapi dapat dilakukan pada larva ikan cupang. Teknologi ini mudah dilakukan sehingga pembudidaya dapat menggunakan tepung testis sapi untuk menjantankan ikan cupang produksinya.
Karakterisasi biometrik tiga populasi ikan semah Tor douronensis ^Valenciennes, 1842) dalam mendukung konservasi sumber daya genetik [Biometric characterization three population of semah mahseer Tor douronensis (Valenciennes, 1842) in support to conservation of genetic resources] Arifin, Otong Zenal; Subagja, Jojo; Hadie, Wartono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.876 KB) | DOI: 10.32491/jii.v15i2.68

Abstract

Semah mahseer populations are threatened due to the massive exploitation by fishermen, and disrupt the genetic diversity, thus resulting in the disruption of the natural population sustainability. The purpose of this study was to evaluate the genetic diversity semah mahseer from the Alas River, Mount Leuser, South East Aceh. This is the first step to maintaining a source of genetic diversity semah mahseer. Truss morphometric used to analyze the shape of the body that divides the body of the fish into the truss cell and the truss line. The results showed that the character of the three semah mahseer populations has an increasing internal diversity in the population - 1 to population-3 i.e. 62.5 %, 81.0 % and 85.7 % respectively. Population - 1 is a common form of all populations that showed the relationship between populations. Population - 2 received the sharing allele 25.0 % of the population - 1, and retained in the internal population of 81.0 % and 19.0 %, which is a common form of the population 1 and population- 2. Population-3 received the sharing allele 12.5% of the population - 1, and retained in the internal population of 85.7 % and 14.3%, which is a common form of the population-2 and population - 3. In general, genetic diversity increased from population-1 to population-3. Therefore population-3 is a potential candidate to be developed in the cultivation and conservation. AbstrakEkploitasi berlebih ikan semah oleh para nelayan, merupakan ancaman terhadap populasi dan mengganggu keragaman genetik yang berakibat pada terganggunya kelestarian populasi ikan ini di alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman genetik populasi ikan semah yang berasal dari Sungai Alas, Gunung Leuser Aceh Tenggara sebagai upaya awal langkah yang dapat ditempuh untuk mempertahankan sumber keragaman genetik. Metode yang digunakan adalah analisis bentuk tubuh dengan truss morphometric, yang membagi tubuh ikan kedalam truss cell dan truss line. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa karakter tiga populasi ikan semah dari Sungai Alas memiliki keragaman internal yang semakin meningkat dari populasi-1 hingga populasi-3 secara berturut-turut 62,5%; 81,0%; dan 85,7%. Ke-eratan hubungan antarpopulasi ditunjukkan oleh populasi-1 yang menjadi bentuk umum dari semua populasi. Populasi-2 menerima sharing allele sebesar 25% dari populasi-1 dan dipertahankan dalam populasi internalnya sebesar 81,0% dan 19,0% menjadi bentuk umum (common allele) dari populasi-1 dan populasi-2. Populasi-3 menerima sharing allele dari populasi-1 sebesar 12,5% dan dipertahankan dalam populasi internalnya sebesar 85,7% dan 14,3% menjadi bentuk umum dari populasi-2 dan populasi-3. Secara umum keragaman genetik semakin meningkat dari populasi-1 hingga po-pulasi-3. Dengan demikian populasi-3 dapat digunakan sebagai populasi kandidat untuk dikembangkan dalam budidaya dan konservasi.
Kematangan gonad ikan sumpit (Toxotes jaculatrix Pallas 1767) pada salinitas berbeda [Gonad maturity of archerfish (Toxotes jaculatrix Pallas 1767) in different salinity] Fahmi, Melta Rini; Permana, Asep
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14, No 3 (2014): Oktober 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.567 KB) | DOI: 10.32491/jii.v14i3.84

Abstract

The archerfish (Toxotes jaculatrix Pallas 1767) has a high tolerance to salinity alteration (euryhaline). However the adaptability of archerfish to salinity alteration has not been followed by the information of gonad maturation. This study was conducted to determine development the maturity of gonad of archerfish that was kept in medium with different salinities. Three concrete tank size 300 x 200 x 100 m3 was used in this study; each of them filled water with different salinity; 0, 12-15, and 30-35 ppt respectively. Fish omitted used in this experiment is 15.06 ± 2.05 cm of total length and 50-70 g of body weight. During six months of experiment, all fish were fed crickets twice a day as ad libitum. The gonads maturity level of female observed by egg diameter measurements that were obtained from cannulation while the gonads maturity level of male observed by means quantity and quality (motility) of sperm which were collected from striping. The results obtained show that the archer fish gonads develop in all salinity. Around 25-30% of female gonads develop until level 3 of Gonads Maturity Levels (TKG) in all salinity, whereas the gonad maturity level of male the highest found in fish reared at a salinity of 30-35 ppt followed 12-15 ppt and 0 ppt respectively 20%, 6% and 7%. AbstrakIkan sumpit (Toxotes jaculatrix Pallas 1767) memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan salinitas (eurihalin). Namun kemampuan adaptasi ikan sumpit pada berbagai salinitas belum didukung oleh informasi perkembangan gonadnya. Pe-nelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan kematangan gonad ikan sumpit yang dipelihara pada salinitas berbeda. Wadah yang digunakan adalah bak beton berukuran 300 x 200 x 100 m3 sebanyak tiga bak, masing-masing di isi air dengan salinitas berbeda yaitu 0, 12-15, dan 30-35 ppt. Hewan uji yang digunakan adalah calon induk ikan sum-pit ukuran 15,06±2,05 cm (bobot badan 50-70 g). Selama enam bulan pemeliharaan, ikan diberi pakan jangkrik dua kali sehari secara ad libitum. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan betina diamati melalui pengukuran diameter telur yang didapat dari hasil kanulasi dan tingkat kematangan gonad ikan jantan diamati melalui kuantitas dan kualitas (motilitas) spermatozoa yang diperoleh melalui pengurutan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa gonad ikan sumpit berkem-bang pada semua salinitas media. Sebanyak 25-30% ikan betina mengalami perkembangan gonad hingga TKG 3 pada semua salinitas, sedangkan tingkat kematangan gonad ikan jantan tertinggi didapatkan pada ikan yang dipelihara pada salinitas 30-35 ppt selanjutnya 0 ppt dan 12-15 ppt masing-masing sebanyak 20%, 6% dan 7%.
Struktur trofik komunitas ikan di Sungai Cisadea Kabupaten Cianjur, Jawa Barat [Trophic structure of fish community in Cisadea River, Cianjur, Jawa Barat] Paujiah, Epa; Solihin, Dedy Duryadi; Affandi, Ridwan
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 13, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.154 KB) | DOI: 10.32491/jii.v13i2.100

Abstract

Interactions in fish community in an ecosystem can be assessed through food habits analysis. This study aims to assess the trophic structure of fish communities in Cisadea River. Fishes were collected using active and passive fishing gear at six locations representing upstream, midstream, and downstream areas at the dry season (June-November 2012). During the observation, sample was caught of 666 individuals consists of 48 species. A total of 250 individuals were analyzed for their food composition and digestive tract morphology to determine their trophic groups. Based on large group of organisms, fish community in Cisadea River consists three guild is carnivorous, omnivorous and herbivorous fish which dominated by carnivore and omnivore fish. Based on food organism taxon, the fishes were assigned to four groups i.e. insectivore, phy-toplanktivore, crustacivore, and molluscivore, with eight groups of food organisms (phytoplankton, insects, macrophytes, crustaceans, mollusc, fish, protozoa, and rotifers). In the upstream and midstream areas, the primary diet was insects and algae, whereas in the downstream the diet consists of algae, crustaceans, and insects. AbstrakInteraksi yang terjadi pada suatu komunitas ikan dapat dikaji melalui analisis makanan alaminya. Penelitian ini bertu-juan untuk mengkaji struktur trofik komunitas ikan di Sungai Cisadea. Ikan dikoleksi dengan menggunakan alat tang-kap aktif dan pasif di enam lokasi yang mewakili wilayah bagian hulu, tengah dan hilir selama musim kemarau (Juni-November 2012). Selama pengamatan, sampel yang diperoleh sebanyak 666 individu yang termasuk dalam 48 spesies. Sebanyak 250 individu dianalisis komposisi makanannya dan morfologi saluran pencernaannya untuk mengetahui ke-lompok trofik pada komunitas ikan tersebut. Berdasarkan golongan besar organismenya, komunitas ikan di Sungai Cisadea terdiri atas tiga kelompok, yaitu karnivora, omnivora, dan herbivora dengan kelompok ikan yang mendominasi adalah ikan omnivora dan karnivora. Berdasarkan takson organisme makanannya, komunitas ikan di Sungai Cisadea dibagi menjadi empat kelompok, yaitu insektivora, fitoplanktivora, krustasivora, dan moluskivora. Kelompok takson organisme makanannya ialah fitoplankton, insekta, makrofita, krustase, moluska, ikan, protozoa, dan rotifer. Di wilayah sungai bagian hulu dan tengah makanan utama ikan terdiri atas insekta dan alga, sedangkan di bagian hilir terdiri atas alga, krustase, dan insekta.
Optimalisasi reproduksi ikan pelangi kurumoi Melanotaenia parva Allen, 1990 melalui rasio kelamin induk dalam pemijahan [Optimizing of reproduction kurumoi rainbowfish (Melanotaenia parva Allen, 1990 through sex ratio in spawning] Nur, Bastiar; Nurhidayat, nFN
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.899 KB) | DOI: 10.32491/jii.v12i2.116

Abstract

Kurumoi rainbowfish (Melanotaenia parva) is an ornamental fish from “Kurumoi Lake” West Papua, well known for its potential value as an export ornamental fish commodity in Indonesia. The objective of this research was to determine the optimal sex ratios between males and females of kurumoi rainbowfish, in order to obtain its optimum breeding capacity. Broodstocks sex ratio was used as the treatment on this experiment, four treatments were conducted: (A) 1^: 1$, (B) 2^:1$, (C) 3^:1$, and (D) 4^:1$, with four replications for each treatment. The present experiment was conducted in small scale hatchery of Research Centre for Ornamental Fish Aquaculture, Depok, from May to July 2011. Result shown that the treatment B gave the best result (167±30 eggs). This result was significantly different with the treatment D (85±36 eggs), but in contrary not significantly different with the treatment A (132±29 eggs) and C (127±15 eggs). These results were related positively with the fertilization rate for each treatment, which the best fertilization rate were obtained by the treatment B with 99.69±0.63%, however this result was not significantly different with other treatments (P>0.005). The best hatching rate were obtained in treatment D with 96.49±49%, this result was not significantly different with other treatments. The highest survival rate was obtained from treatment B, with 34.21% (not significantly different with other treatments). Based on that result, we can conclude that sex ratio (B) gave the best result on this experiment. AbstrakIkan pelangi kurumoi (Melanotaenia parva) merupakan ikan hias yang berasal dari perairan “Danau Kurumoi” di dae-rah Papua yang berpotensi sebagai komoditas ekspor ikan hias Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan rasio kelamin induk jantan dan betina terbaik bagi pemijahan ikan pelangi kurumoi yang optimal. Perlakuan dalam pe-nelitian ini adalah rasio kelamin induk jantan dan betina: (A) 1:1, (B) 2:1, (C) 3:1, dan (D) 4:1; masing-masing perlakuan dipijahkan sebanyak empat kali (ulangan waktu pemijahan). Penelitian ini dilakukan di ruang pembenihan Balai Penelitian dan Pengembangan Budi Daya Ikan Hias (BPPBIH) Depok pada bulan Mei-Juli 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemijahan ikan pelangi pada perlakuan (B) menghasilkan jumlah telur yang dipijahkan (ovulasi) tertinggi yaitu sebanyak 167±30 butir. Hasil ini berbeda secara signifikan dengan perlakuan (D) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 85±36 butir namun tidak berbeda dengan perlakuan (A) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 132±29 butir serta perlakuan (C) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 127±15 butir. Demikian pula halnya dengan derajat pembuahan telur di mana pada perlakuan (B) didapatkan nilai tertinggi yaitu sebesar 99,69±0,63% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya (P>0,05). Derajat penetasan tertinggi diperoleh pada perlakuan (D) yaitu sebesar 96,49±49% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya. Sintasan larva umur satu bulan tertinggi diperoleh dari hasil pemijahan menggunakan rasio kelamin induk (B) yaitu sebesar 34,21% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya. Pemijahan ikan pelangi kurumoi dengan rasio kelamin induk (B) memberikan hasil yang terbaik pada penelitian ini.
Iktiofauna perairan lahan gambut pada musim penghujan di Kalimantan Tengah [Fish fauna of Central Kalimantan peatland waters in rainy season] Haryono, nFN
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.999 KB) | DOI: 10.32491/jii.v12i1.132

Abstract

The activities of one million hectares of peatland project in Central Kalimantan have changed the swamp forest to the rice fields and disturb fish community in this area. The purposes of the current study were to determine fish diversity, abundance, distribution, species status, potency, and fish culture aspect. Survey method was conducted at six stations. Throughout the study, 39 fish species belonging to 16 families were collected and Cyprinidae was the dominant family with 13 species. The range number of species among the stations were 8 to 16 species; the highest number of species found in St. 6, whereas the lowest in St. 3. Osteochilus spilurus was the most abundant species with the mean number of 21 individuals per station; while Rasbora cephalotaenia, Pristolepis fasciata, and Belontia hasseltii have the widest distribution in study area (83.33%). According to the fish potency, edible fish were dominant among the fishes (46.15%); while based on species status, two endemic species and one new record species were collected. AbstrakKegiatan proyek lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah telah mengubah hutan rawa gambut menjadi persawahan sehingga mengganggu komunitas ikan di lokasi tersebut. Penelitian ini bertujuan mengungkap keragaman jenis ikan, kelimpahan, distribusi, status jenis, potensi, dan aspek budidayanya. Penelitian ini menggunakan metode survei di enam stasiun pengambilan contoh. Ditemukan sebanyak 39 jenis ikan dari 16 famili. Cyprinidae merupakan famili yang paling dominan dengan 13 jenis. Jumlah jenis ikan pada setiap stasiun berkisar antara 8-16 jenis; St.1, St.2, dan St.6 memiliki jumlah jenis ikan tertinggi masing-masing sebanyak 16 jenis; sedangkan yang paling rendah ditemukan pada St.3 dengan jumlah 8 jenis. Jenis ikan yang paling melimpah adalah Osteochilus spilurus sebesar 21 ind. st-1, dan jenis yang tersebar luas adalah Rasbora cephalotaenia, Pristolepis fasciata, dan Belontia hasseltii masing-masing sebesar 83,33%. Berdasarkan potensi ikan, ikan yang terkoleksi umumnya adalah ikan konsumsi (46,15%); sementara ditinjau dari status jenis, ada dua jenis ikan endemik dan satu jenis sebagai catatan baru yang terkoleksi.
Ukuran ikan tuna matabesar (Thunnus obesus) yang ditangkap dengan menggunakan pancing ulur (hand line) di perairan Maluku [Size of bigeye tuna (Thunnus obesus) which are caught by hand lines in Maluku waters] Widodo, Agustinus Anung; Mahulette, Ralph Thomas
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.366 KB) | DOI: 10.32491/jii.v11i1.148

Abstract

In order to obtain data and information about the size of bigeye tuna ( Thunnus obesus) which caught by hand line in Malu-ku waters, a research was carried out in some coastal villages in Ambon region i.e. Hutumury, Nusalaut, Seri, Latuhalat, Ambalau and Kelang. Random sampling was done once a week in July to December 2009 by trained enumerators. Aspect observed was fish forked length (FL). The results showed that FL bigeye tunas which caught by tuna hand line in Maluku waters were varied during the study. Hand line was not suited to exploit bigeye tunas in August, September, October and November because many juvenile of bigeye tuna was caught in those months (Lc > Lm). Therefore, hand line was appro-priate for bigeye tunas on July and December. AbstrakDalam rangka memperoleh data dan informasi mengenai ukuran ikan tuna matabesar (Thunnus obesus) yang tertangkap dengan pancing ulur di perairan Laut Maluku, maka telah dilakukan penelitian di desa-desa pusat pendaratan tuna di wilayah Ambon yaitu Desa Hutumury, Nusalaut, Seri, Latuhalat, Ambalau, dan Kelang. Pengambilan contoh dilakukan secara acak satu kali setiap minggu pada bulan Juli-Desember 2009. Penelitian dilakukan dengan bantuan enumerator yang terlatih. Aspek yang diamati adalah ukuran panjang cagak (FL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FL ikan tuna matabesar yang tertangkap pancing ulur di perairan Maluku pada bulan Juli-Desember 2009 bervariasi. Pancing ulur tidak cocok untuk mengeksploitasi ikan tuna matabesar pada Agustus, September, Oktober, dan November karena pada bulan tersebut pancing ulur menangkap tuna matabesar yang masih muda (Lc>Lm). Alat tangkap pancing ulur efektif untuk menangkap ikan tuna mata besar pada bulan Juli dan Desember. 

Page 1 of 36 | Total Record : 352


Filter by Year

2001 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 1 (2019): February 2019 Vol 18, No 3 (2018): October 2018 Vol 18, No 2 (2018): June 2018 Vol 18, No 1 (2018): February 2018 Vol 18, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 17, No 3 (2017): October 2017 Vol 17, No 2 (2017): Juni 2017 Vol 17, No 2 (2017): June 2017 Vol 17, No 1 (2017): February 2017 Vol 17, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 16, No 3 (2016): Oktober 2016 Vol 16, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 16, No 1 (2016): Februari 2016 Vol 15, No 3 (2015): Oktober 2015 Vol 15, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 15, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14, No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5, No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5, No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4, No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4, No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3, No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3, No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2, No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2, No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1, No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1, No 1 (2001): Juni 2001 More Issue