cover
Filter by Year
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Articles
224
Articles
IMPLIKASI SISTEM BAGI HASIL TERHADAP KEBERLANJUTAN USAHA (Studi Kasus di Tambak Udang, Pantai Bayeman, Probolinggo)

Efani, Anthon, Manzilati, Asfi

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.02 KB)

Abstract

ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi implikasi sistem bagi hasil terhadap keberlanjutan usaha tambak udang. Dengan mengunakan pendekatan kulitatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem bagi hasil telah mendorong usaha tambak udang lebih sustain. Terdapat dua hasil yang menarik yaitu, 1) Sistem penggajian memberikan jaminan biaya hidup bagi keluarga karyawan; 2) Sebagai mitra, ada persentase tertentu dari keuntungan pemilik yang diberikan kepada karyawan. Hal ini membuat karyawan bekerja dengan giat untuk mempertahankan usaha agar tetap berjalan dan berkembang. Sistem ini menjadikan kegiatan usaha tidak perlu pengawasan berlebih dari pemilik tambak. Jaminan biaya hidup dan bagi hasil diharapkan akan mendorong keberlanjutan usaha budidaya udang.Title: Implication of Sharing System Towards Business Sustainability(Study in Shrimp Culture, Bayeman Beach, Probolinggo) ABSTRACTThis study aims to identify the implication of sharing system toward shrimp-culture business  sustainability. By using qualitative approach, the results show that sharing system has encouraged the sustainability of shrimp-culture business. There are two interesting results: (1) The payroll system gives a guaranteed living cost for employees’ family. (2) As a partner, there is a certain percentage of profit for employees. It leads the employee try hard to maintain the corporate to keep running and developing. This system makes business activities do not need excessive supervision from the owner. Living cost guarantee and expected return will encourage the sustainability of shrimp-culture business. 

PEMAHAMAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR LAUT ARAFURA KABUPATEN MERAUKE

Widiastuti, Maria Diana, Ruata, Novel, Arifin, Taslim

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2625.226 KB)

Abstract

ABSTRAKEkosistem Mangrove mengalami tekanan dan penurunan jasa lingkungan diduga karena abrasi dan fenomena alam serta aktivitas masyarakat seperti penggalian pasir di pesisir pantai. Pemerintah telah melakukan upaya konservasi Mangrove dengan cara penanaman kembali, namun belum berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan masyarakat pesisir tentang Mangrove dan tingkat partisipasinya dalam pengelolaan ekosistem Mangrove dan perencanaan program rehabilitasiekosistem Mangrove. Metode pengumpulan data menggunakan instrument pertanyaan berupa angket, observasi dan wawancara secara bersamaan dengan pola terstruktur baik dalam bentuk pertanyaanterbuka dan tertutup dan dianalisis secara deskriptif tabulatif. Penentuan sampel menggunakan sistem kuota dan pemilihan responden menggunakan simple random sampling. Hasil penelitian menyatakan85 persen masyarakat pesisir paham terhadap pentingnya Mangrove bagi kehidupan mereka. Mereka paham bahwa Mangrove sebagai sumber mata pencaharian masyarakat pesisir dan pelindung pantaidari ombak dan abrasi. Mereka juga mengatakan bahwa Mangrove saat ini dalam keadaan kurang baik (53%). Mereka mengaku terlibat aktif dalam kegiatan program penanaman Mangrove (43%) namun bukan atas inisiatif sendiri. Kegiatan pelestarian Mangrove perlu melibatkan masyarakat setempat dalam bentuk pelatihan, penyuluhan atau pengawasan.Title: Community Understanding and Participation to Mangrove Ecosystem Management in the Coastal Area of Arafura Sea, Merauke DistrictsABSTRACTEcosystem Mangrove had underpressure and decreasing environmental services because of abration as natural phenomena, and unsuistainable community activities such as sand mining. The Government has made the conservation of Mangrove by replanting, but has not succeeded. This study aims to determine community knowledge and participation in management ecosystem Mangrove for rehabilitation. The collecting datamethod use a questionnaire instrument, observations and interviews simultaneously with open and closed questions and analyzed in descriptive tabulative. The sample size using the quota method and the selection of respondents used the simple random sampling. The resultshowed that 85 percent of coastal communities understand the importance of Mangrove for their lives. They understand that Mangrove as a source of livelihood of coastal communities and coastal protectionfrom waves and abrasion. They also said that the Mangrove is currently in a state of poor (53 %). They claimed active involved in Mangrove planting program (43 %), but not on their own initiative. The Mangrove conservation activities should be involvedby local community in such training, counseling or supervision.

PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN LAYUR (Trichiurus lepturus Linnaeus, 1758) DI PERAIRAN TELUK PALABUHANRATU DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM

Airlangga, Angga, Boer, Mennofatria, Zairion, Zairion

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.173 KB)

Abstract

ABSTRAKIkan layur memiliki nilai ekonomis penting dan tersebar hampir di seluruh wilayah di perairan Indonesia. Kegiatan pemanfaatan sumber daya layur telah memberikan kontribusi yang besar bagi sektorperikanan di Indonesia. Kebutuhan dan tingginya permintaan pasar terhadap ikan layur menyebabkan intensitas penangkapan ikan ini semakin meningkat. Produksi perikanan layur tersebut salah satunyadidaratkan di perairan Teluk Palabuhanratu. Peningkatan aktivitas tangkapan ikan layur di perairan Teluk Palabuhanratu apabila terjadi terus menerus tanpa adanya pengelolaan yang tepat, akan mengakibatkan terjadinya penurunan stok sumber daya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa keberlanjutanspesies layur dengan menggunakan analisa peluang dan tantangan pengelolaan perikanan layur berdasarkan indikator pengelolaan perikanan melalui pendekatan ekosistem/ ecosystem approach tofisheries management (EAFM). Hasil evaluasi kondisi pengelolaan perikanan layur di perairan Teluk Palabuhanratu didapatkan nilai rata rata indikator EAFM sebesar 68.1. Hal ini berarti kondisi perikananlayur di perairan Teluk Palabuhanratu termasuk dalam kategori sedang. Strategi pengelolaan ditentukan untuk indikator sumber daya ikan, habitat dan ekosistem, teknologi penangkapan ikan, ekonomi,sosial dan kelembagaan. Langkah taktis dibuat agar dapat mengimplementasikan strategi yang telah ditetapkan.Ecosystem Approach to Largehead hairtail (Trichiurus Lepturus (Linnaeus, 1758)) Management at Palabuhanratu BayABSTRACTLargehead hairtail has an important economic value and widely spread to almost across Indonesian water. The benefit of largehead hairtail resource highly contributes to fisheries sector inIndonesia. The increasing of market demand for Largehead hairtail leads to the increasing number ofits capture. Palabuhanratu is one of the landing port for Largehead hairtail. The continuous impropermanagement for Largehead hairtail, will cause declining offish stock. This study aims to analyze thesustainability of largehead hairtail species by using indicators of ecosystem approach to fisheries management (EAFM). Evaluation for Largehead hairtail management in Palabuhanratu bay results in EAFM score of 68.1. This score indicates that the condition of Largehead hairtail in Palabuhanratu bay isin medium category. Management strategy for Largehead hairtail in Palabuhanratu bay is determined forfish resources, habitats and ecosystems, fishing technology, economic, social and institutional indicator. Some actions should be carried out to ensure the implemention these management strategies.

RISIKO DAN STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI UDANG VANNAMEI DI KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG

Hartoyo, Kania Larasati, Fariyanti, Anna, Suharno, Suharno

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.793 KB)

Abstract

ABSTRAKKecamatan Blanakan merupakan salah satu lokasi produksi udang vannamei di Jawa Barat dan menjadi salah satu lokasi penerapan progam revitalisasi tambak vannamei. Budi daya udang vannameimemiliki risiko produksi yang berasal dari faktor internal dan eksternal yang dapat terlihat pada fluktuasi produktivitas udang vannamei antar petambak. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis faktorfaktoryang memengaruhi produktivitas dan risiko produksi udang vannamei diKecamatan Blanakan. Pemilihan responden dilakukan dengan metodepurposive sampling sebanyak 70 petambak udang vannamei. Model Just and Pope digunakan untuk menganalisis risiko produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel yang dapat meningkatkan produktivitas udang vannamei yaitu pakan, kaporit, bakteri, dan dummy musim. Variabel benur merupakan faktor yang meningkatkan risiko sedangkan bakteri, solar, dan dummy musim merupakan faktor yang mengurangi risiko. Petambak perlu berhati-hati dalam menentukan padat tebar benur pada setiap musim serta mengontrol penggunaan tenaga kerja untuk meminimumkan risiko produksi. Peningkatan pendidikan dan pelatihan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja dalam budi daya udang vannamei.Title: Risk and Improvement Strategy of Vannamei Shrimp Production In the Blanakan Sub-district Subang RegencyABSTRACTBlanakan sub-district is one of the region selected by Ministry of Marine and Fisheries to implement shrimp farm revitalization program and become one of the biggest vannamei shrimp producer in West Java Province. However, vannamei shrimp aquaculture also deals with production risk from internal and external factors indicated from fluctuations of each farmers’ productivity. The objectives of this researchare to analyze the factors influencing vannamei shrimp productivity and production risk in Blanakan sub-district. Data were purposively sampled from 70 vannamei shrimp farmers. Just and Pope model was used in production risk analysis. The results show that variables that would increase vannamei shrimp productivity are shrimp feed, disinfectant, probiotic, and season dummy. Variable of shrimp fry is risk inducing factors, while probiotic, diesel fuel, and season dummy are risk reducing factors. Farmers need to be careful in determining shrimp fry density on every seasons and controlling labor usage to minimize production risk. Education and training improvement are necessary to increase labors’ ability in vannamei shrimp aquaculture.

Front and Back Matter

Ferbiansyah, Ilham

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

PERAN SEKTOR PERIKANAN PADA WILAYAH PESISIR PERBATASAN KALIMANTAN BARAT

Firdaus, Maulana, Rahadian, Rikrik

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.338 KB)

Abstract

ABSTRAKPembangunan wilayah pesisir perbatasan menjadi sebuah tantangan besar karena selalu identik dengan ketertinggalan. Sektor perikanan dianggap telah teruji dan mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan sektor perikanan di wilayah perbatasan (Kalimantan Barat) Indonesia khususnya yang ada di Kabupaten Sambas. Pendekatan kebutuhan minimum dan analisis ”location quotient” digunakan dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor perikanan di wilayah perbatasan Kalimantan Barat memiliki peranan yang besar. Besarnya peranan sektor perikanan ditunjukkan dengan nilai basis multiplier dari sektor perikanan sebesar1,09 dan nilai LQ sebesar 3,18. Pengembangan sektor perikanan di wilayah perbatasan memerlukan dukungan arah kebijakan dan infrastruktur sehingga sektor perikanan dapat menjadi sektor unggulandan penggerak pertumbuhan.The Role of Fisheres Sector in the Coastal Border Areas of West BorneoABSTRACTDevelopment of coastal border areas becomes a great challenge since it is identically the same with backwardness. Fisheries sector is considered capable to be the engine of economic growth. This study aims to identify the role of the fisheries sector in the border areas (West Borneo) of Indonesia particularly in Sambas district. The Minimum Requirement Approach (MRA) and Location Quotient (LQ) were used in this study. The analysis shows that fisheries sector in West Borneo border areas has asignificant role. It is indicated by the value of multiplier basis of the fishery sector in Sambas district of 1.09 and LQ of 3,18. Government policies and infrastructures are required to develop fisheries sector in  the border areas in order to create a leading sector and economic trigger.

PERSEPSI DAMPAK COREMAP II TERHADAP EKOSISTEM DAN BIODIVERSITAS MASYARAKAT PESISIR EKOSISTEM DAN BIODIVERSITAS LAUT DI INDONESIA BAGIAN TIMUR

Muawanah, Umi, Hidayat, Sopian

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1380.315 KB)

Abstract

ABSTRAKProgam COREMAP (Coreal Reef Rehabilitation and Mangement) dicanangkan untuk merehabilitasi dan mengkonservasi terumbu karang di Indonesia. Tujuan dari program ini adalah untuk membantu masyarakat menghadapi dua masalah besar di Indonesia yang dihadapi oleh nelayan yang tinggal di pulau-pulau kecil dan pesisir yaitu: pengentasan kemiskinan dan degradasi karang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi dampak program COREMAP II dari perspektif nelayan terhadap kondisi keanekaragaman hayati laut sebelum dan sesudah tahun proyek COREMAP II dengan membandingkan persepsi nelayan di daerah COREMAPII dan daerah control (Non-COREMAP II). Responden dalam penelitian ini sebanyak 684 rumah tangga nelayan di Indonesia Timur di Kabupaten Wakatobi, Pangkep dan Raja Ampat (sebagai situs COREMAP II), Muna, Makassar dan Kaimana (sebagai situs control). Survei yang dilakukan dari Januari hingga Maret 2016. Metode deskriptif stastik digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menemukan bahwa menurut masyarakat pesisir yang kami survei, COREMAP II memberikan dampak positif terhadap kualitas dan biodiversitas ekosistem lautdibandingkan dengan wilayah Non-COREMAP II. Dampak positif ini merupakan salah satu pertanda bahwa program COREMAP II mempunyai potensi berkontribusi secara ekonomi dari perbaikan kualitas sumber daya perikanan dan ekosistem laut.Title: Coastal Communities Perception on the Impact of COREMAP II on Marine Ecosystem and Biodiversity in the Eastern Part of IndonesiaABSTRACTCoral Reef Rehabilitaiton and Management Program (COREMAP) was launched for reef  conservation and rehabilition in Indonesia. The ultimate goal of this program is to encourage the coastal communities against two major issues of coastal communities across Indonesia: poverty alleviation and reef resource degradation. The objective of this study is to evaluate COREMAP II impact on marine and fishery resource condition based on people’s perception before and after the COREMAP II by comparing people’s perception both in COREMAP II areas and non-COREMAP II areas (control group). Total respondents were 684 households from eastern part of Indonesia: Wakatobi, Pangkep and Raja ampat (COREMAP areas), Muna, Makassar and Kaimana (control areas). The survey was conducted from January to March 2016. Descriptive statistical analysis was used in this study. This study discovered thatbased on coastal communities’ perception, COREMAP II contributes to positive impact toward quality and biodiversity of marine ecosystem compared to non-COREMAP II areas. This result indicates that COREMAP II gives an economic potential contribution for the impovement of fisheries resources and marine ecosystem.

PENGELOLAAN PERIKANAN DEMERSAL DI LAUT ARAFURA: PENDEKATAN BIOEKONOMI

Sari, Yesi Dewita, Syaukat, Yusman, Kusumastanto, Tridoyo, Hartoyo, Sri

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.308 KB)

Abstract

ABSTRAKLaut Arafura merupakan salah satu perairan yang penting, sebesar 21% potensi ikan Indonesia terdapat di perairan Arafura yaitu 2,64 juta ton per tahun. Pemanfaatan sumber daya ikan demersal terutama udang di Laut Arafura telah dilakukan semenjak tahun 1970an oleh perusahaan dengan sistem joint venture. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat optimal pengelolaan sumber daya ikan demersal di Laut Arafura dan perubahan rente ekonomi setelah adanya kebijakan moratorium kapal asing di Indonesia yaitu pelarangan penggunaan kapal pukat dan kapal asing. Penelitian ini menggunakan data sekunder runtun waktu yang bersumber dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan PusatStatistik serta hasil-hasil penelitian yang relevan. Metode analisis data menggunakan model bioekonomi perikanan dengan model surplus produksi Walters dan Hilborn. Analisis kebijakan ekonomi meliputijumlah alat tangkap, jumlah investasi dan rente ekonomi maksimum. Jumlah produksi tertinggi terjadi ketika pengelolaan pada kondisi maksimum secara biologi; sedangkan jumlah alat tangkap tertinggiyang diperbolehkan ketika pengelolaan pada kondisi open akses menggunakan alat tangkap pancing rawai dasar, serta rente ekonomi tertinggi diperoleh ketika pengelolaan pada kondisi maksimum secara ekonomi menggunakan pancing rawai dasar. Kebijakan pemerintah terkait moratorium kapal perikanan asing, memberikan kesempatan lebih banyak untuk kapal perikanan Indonesia dalam melakukanpenangkapan ikan demersal di WPP 718. Jumlah kapal perikanan dengan menggunakan alat tangkap pancing rawai dasar dapat dikembangkan sampai 4 ribuan unit untuk memanfaatkan ikan demersal yangoptimal secara ekonomi, sehingga rente ekonomi maksimum dapat diperoleh sebesar 3,40 trilyun rupiah per tahun.Title: Management of Demersal Fishery in the Arafura Sea: A Bio-Economic ApproachABSTRACT Arafura sea is one of important fishing ground in Indonesia, contributing 21% of fisheries at about 2,64 million ton/year. Arafura’s demersal fishery has been exploited since 1970 by joint venture system.  This study aims to determine the optimum level of demersal fish management in Arafura Sea as well as the fluctuations of economic rent after the foreign fishing vessel moratorium in Indonesia. The studycollected time series data from 2001-2014 from Ministry of Marine and Fisheries, Statistics Indonesia and relevant researches. The data were analyzed using bioeconomic model, particularly Walters and Hilborn Model. Analysis of economic policy includes fishing gears, investments and maximum economic rents. The results show that the maximum production occurs when fisheries management is on maximum yield. The highest number of permitted fishing gear is reached when the management is on open access condition using the set longline, while the maximum economic rents are obtained when the managementis on maximum economic yield using the set long line. Foreign fishing vessel moratorium gives more  opportunity to Indonesian vessels to catch more demersal fish in WPP 718. The number of total optimum fishing vessel could be increased up to 4 thousand units in WPP 718 for demersal fishery in order reach optimum economic rent of 3.40 trillion rupiah per year.

POTENSI EKONOMI PARIWISATA KABUPATEN PULAU MOROTAI

Witomo, Cornelia Mirwantini, Ramadhan, Andrian

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.416 KB)

Abstract

ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung potensi ekonomi pariwisata Kabupaten Pulau Morotai. Kabupaten Pulau Morotai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Bahari menjadikan pariwisata sebagai salah satu sumber pemasukan daerah karena atraksi wisata yang ada berdasarkan potensi sumber daya alam dan peninggalan sejarah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif metode deskritif dan desk study. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis benefit transfer dari hasil penelitian sebelumnya di Kabupaten Pulau Morotai yang menggunakan metode travel cost method (TCM). Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, daya tarik wisata di Kabupaten Pulau Morotai adalah wisata alam seperti wisata alam bawah laut, wisata pantai serta wisata budaya dari hasil peninggalan sejarah diantaranya peninggalansejarah Perang Dunia II. Berdasarkan hasil perhitungan daya tarik wisata di Kabupaten Pulau Morotai potensi ekonomi Pariwisata Kabupaten Pulau Morotai adalah Rp13.295.140.000. Nilai ini disumbang dari wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kabupaten Pulau Morotai selama 4 -11 hari. Memasukan potensi ekonomi dalam dokumen perencanaan pengembangan pariwisata Kabupaten Pulau Morotai merupakan salah satu dasar dasar untuk membuka pintu investasi baik untuk menanamkan modal dalam pengembangan pariwisata.Title: Economic Potential of Tourism at the Morotai Island RegencyABSTRACTThis research aims to calculate economic potential of tourism at Morotai Island Regency. Regency of Morotai has tourist attraction due to its natural resources and historical heritage. It is branded as Special Economic Zone (KEK) of Marine Tourism and make tourism as one of the source of its regional income. This research used descriptive qualitative and desk study method. The data is analyzed using benefit transfer analysis from the previous research which uses travel cost method (TCM). Based on interview and observation, marine tourism such as underwater travel, beach and cultural attraction, is a leading tourist attraction at Morotai Island Regency. Tourist attraction calculates the number of economic potential of tourism at Regency of Morotai Island amount IDR 13.295.140.000. It is contributed mostly from domestic and foreign travelers who traveled to Morotai Island for 4 to 11 days. Therefore, economic  potential of tourism will lead to investment in tourism development.

STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN SOMA PAJEKO DI KECAMATAN SALIBABU KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD SULAWESI UTARA

Salatan, Siska, Manoppo, Victoria E. N., Darwisito, Suria

Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.577 KB)

Abstract

ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah menentukan strategi pemberdayaan masyarakat nelayan soma pajeko di Kecamatan Salibabu Kabupaten kepulauan Talaud. Metode analisis yang digunakan adalah analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Analisis SWOT mempertimbangkan faktor lingkungan internal kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberdayaan masyarakat yang paling tepat diterapkan untuk nelayan soma pajeko yaitu (1). Pembangunan/pengoperasian sarana prasarana usaha perikanan, 2) Memberikan akses modal pengembangan usaha, 3) Pendekatan akses perbankan 4) Kebijakan distribusi BBM khususnelayan 5) Pelatihan pengolahan ikan pasca panen, dan 6) Adanya diversifikasi pekerjaan pada nelayan disaat cuaca buruk/ tidak melaut.Title: Strategy for Empowering Purse Seine Fisher’s Community in the Salibabu District of Talaud Islands Regency, North Sulawesi ProvinceABSTRACTThis research aims to determine the empowerment strategy of Purse Seine fisher’s in Salibabu sub district of Talaud Regency. Data were analyzed using SWOT analysis (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). SWOT analysis considers the strength and weakness of internal environmental factor. This analysis is constructed upon logical comprehension to maximize the strengths and opportunities, but simultaneously minimize the weaknesses and threats. Results of the research suggests the most applicable empowerment toward Purse Seine fishers are: (1). development/operation of fishery infrastructure, (2) acces to business capital, (3) approach to banking access (4) distribution of fishery fuel policy (5) Post-harvest fish processing training, and; 6) Alternative income for the fishers during bad weather.