cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Abdi Seni
ISSN : 20871759     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Articles 94 Documents
TARI TRADISI GAYA SURAKARTA SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN MATERI AJAR DI SANGGAR TARI SEKAR AGENG KLATEN Hartanto, Hartanto
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Artikel ini membahas tentang pelatihan tari tradisi Gaya Surakarta dalam pengembangan materi ajar di Sanggar Sekar Ageng Klaten. Tujuan dari pelatihan untuk mewadahi bakat kemampuan dan pengayaan bidang seni tari bagi peserta didik sanggar, khususnya tari tradisi Gaya Surakarta. Sasaran adalah para peserta didik dan pelatih sanggar. Bentuk kegiatan pelatihan tari dan pengembangan kreativitas. Pelatihan ini tidak menghasilkanbentuk kinerja yang sempurna atau fokus pada penguasaan materisaja, namunlebih ditekankan pada proses, dalamkasus menekankanketerlibatan siswa sanggar dalammenggalikreativitas, kebebasan dan fleksibilitas dalam mengelola tubuh dan mengungkapkannya menjadi sebuah pertunjukan.Pelatihan ini memberikan pemahaman tentang kreativitas dasar, membentuk media kreatif, untuk melakukan karya-karya kreatif dan untuk mendokumentasikan audio-visual agar dapat digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran tari di sanggar. Kata kunci: pelatihan, siswa sanggar, tari, kreativitas. Abstract This article discussed the Surakarta style classic dance training in order to develop of teaching materials at Sanggar Sekar Ageng Klaten. The purpose of the training was to accommodate dancing abilityand enrich the dancing skills in for studio participants, especially Surakarta style classic dance. The targets were students and coaches. The activity took form as dance training and creativity development. This training did not only aim for mere perfect form of performance or focus on mastery of the material, but rather emphasized the process by accentuating the involvement of the studio students in exploring creativity, freedom, and flexibility when managing the body, and expressing it into a performance. This exercise provided anunderstanding of basic creativity, to form creative media, in order to perform creativeworks and to document audio-visual that could be used as a reference in dance learning ath the studio. Keywords: training, studioo participants, dance, creativity.
MURAL SEBAGAI MEDIA BRANDING TAMAN SATWA TARU JURUG Sukirno, Sukirno
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Objek wisata Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) merupakan salah satu tempat wisata dengan konsep wisata alamyang menjadisalah satu objek wisata andalan di Kota Surakarta. Sebagaipenyumbang PAD terbesar dari sektor pariwisata, Taman Satwa Taru Jurug mempunyaibanyak persoalan. Jumlah pengunjung TSTJ dari tahun 2003 mengalamipenurunan. Kondisi fisik dan fasilitas yang tidak terawat merupakan salahsatu penyebabmenurunnyajumlahwisatawan. Olehkarenaitu pentingkiranyamelakukan PPMyang mengangkat citra TSTJ menjadi taman wisata yang bersih, yaitu dengan membuat mural di tempat-tempat yang terbengkalai agar tidak terkesan kumuh.Studi pendahuluan dalam PPM ini dilakukan dengan cara pengumpulan data melaluiobservasi lapangan, studi pustaka/ dokumen dan wawancara kepada pihak terkait. Setelah data terkumpulkemudian dianalisis menggunakan metode SWOT. Hasil dari analisis tersebut yang menjadi dasar program kegiatan dalam PPM ini, yaitu muralsebagai media branding Taman Satwa Taru Jurug”. Kata kunci: TSTJ, SWOT, Mural. Abstract Tourist object Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) was one of the tourist attractions nature tourism concept that became one of the mainstay attractions in the city of Surakarta. As the largest contributor of the region’s original income from the tourism sector, TSTJ had many problems. The number of TSTJ visitors from 2003 had decreased simultantly. Physical condition and facilities that were not maintained was one of the causes of the decline in the number of tourists. Therefore it was important to do community service program that lifted the image of TSTJ into a clean tourist park, that was by making mural in abandoned places so as not to look slum. Preliminary study in PPM was done by collecting data through field observation, literature/document study, and interview to related parties. After the data collected, then the data were analyzed using SWOT method. The result of the analysis was the basis of the program activities in this PPM, the mural as a medium for branding program of Taman Satwa Taru Jurug. Keywords: TSTJ, SWOT, Mural.
PEMBELAJARAN TARI SURAKARTA PUTRI DI SMA WARGA SURAKARTA Rahmani, Dwi
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bentuk kegiatan yang dilaksanakan lebih terarah pada pelatihan tari tradisi gaya Surakarta untuk para siswa SMAWarga Surakarta.Materidanhasildaripelatihantariberupa repertoar taribentuk gaya Surakarta yaitu Tari Golek Sri Rejeki dan Golek Tirtokencono serta karya tari Sesaji Syukur.Dari hasil pelatihan, para siswa dapat memperagakan dan menyajikan tari tradisi gaya Surakarta. Metode pembelajaran yang digunakandalamproses pembelajarandi SMAWarga Surakarta inimeliputi:metode Ceramah, Demonstrasi, dan Drill. Kata kunci: Pembelajaran tari, tari tradisi. Abstract Form of activities that were conducted more focused on the classic dance training in Surakarta style for Warga High School Surakarta students. The material and the result of this dance training was in the form of Surakarta style dance repertoire wgich were Golek Sri Rejeki and Golek Tirtokencono dance, and Sesaji Syukur dance. As the training result, the students could demonstrate and present the of Surakarta style classic dance. The learning method used in the training process at SMA Warga Surakarta included: lecture, demonstration, and intensive trainings. Keywords: dance training, classic dance.
PELATIHAN DASAR-DASAR PRODUKSI FILM FIKSI PENDEK BERBASIS HERITAGE CITY BAGI SISWA SMA NU 1 GRESIK JAWA TIMUR Hudoyo, Sapto
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Seiring perkembangandunia pengetahuan dan teknologi, media dalamdunia pendidikanjuga berkembang dengan pesatnya. Sekarang beraneka macam media yang berbasis teknologi informasi banyak kita jumpai dengan mudahnya dalam dunia pembelajaran. Fungsi media dalam pembelajaran itu sendiri antara lain dapat memperjelas dalam penyajian materi dan informasi kepada siswa. Salah satu media yang sangat menarik bagi siswa adalah film. Manfaat media film dalammeningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran diantaranya adalah: mengatasi keterbatasan waktu dan jarak, mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalamwaktu singkat. Kegiatan pelatihan produksi karya seni yang berbasis audiovisual ini kiranya dirasa sangat dibutuhkan oleh siswa. Apalagi pada realitasnya, penguasaan teknologi videografi di kalangan civitas sekolah masih jauh dari harapan. Lebih jauh, skill di bidang seni audio visual ini dapat menjadiwadah bagi penyaluran talenta dan kreativitas siswa. Program Studi Televisidan Film FSRD ISI Surakarta menyelenggarakansebuahpelatihandanpembimbingan teknis tentang dasar-dasar produksi karya seni audiovisualberupa filmpendek berbasis heritagebagisiswa Sekolah Menengah Atas Nahdatul Ulama 1 Gresik. Sejak lama kota Gresik terkenal dengan banyak bangunan peninggalan sejarah masa lampau yang sampaisaat inimasih kokoh berdiri dandirawat kelestariannyadan dapat dimanfaatkan sebagai objek dalam program PPM ini. Sekolah Menengah Atas Nahdatul Ulama 1 Gresik dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program pengabdian karena memang di sejak tahun 2011 mahasiswa Prodi Televisi dan Film ISI Surakarta telah menjalin kerjasama. Kata kunci: pelatihan, dasar, filmpendek.  Abstract Along with science and technology progress, medias that was used in education area was also going through rapid development. Right now, we could easily find information technology based medias used in learning process. The medias were used for making the learning materials and information easier to learn. One of the medias was film. The advantage of film as a media in enhancing learning process effectivity and efficiency was: overcoming the limitations of time and distance, hence it would able to describe events in the past realistically in a short time. This audiovisual based art production training activities was considered very important for students. Moreover in fact, mastering in videography technology among school faculties was still beneath the expectation. Furthermore, skill in audiovisual could accomodate students’talent and creativity. Television and Film Programme FSRD ISI Surakarta held a technical coaching and training about the basics of audiovisual art productinthat would resulting heritage based short film, for Nahdatul Ulama I High School, Gresik. Gresik had long been known for its historic buildings.the buildings was still standinng strong, and had been well-mainained. they could be uused as PPM objects. Meanwhile, Nahdatul Ulama I High School was chosen as the location of this service program, because collaboration between Television and Film Program ISI Surakarta and the high school had been established since 2011.Keywords: training, basic, short film.
ENGLISH NEWS PRESENTER BAGI MURID SMAN 6 SURAKARTA Kurniawan, Donie Fajar
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Program pelatihan bahasa Inggris merupakan upaya pengajaran Bahasa Inggris sebagaiwujud pelayanan masyarakat. Program ini difokuskan pada eksplorasi ke ‘bahasa Inggris lisan’ dalamseni merekam media kepada siswa-siswi SMANegeri 6 Surakarta. Tujuannya adalah untuk mengetahuidan mampu membawa media berita berbahasa Inggris berupa rekaman audio visual. Peserta didik English News presenter adalah mereka yang berada di kelas XI tahun ajaran 2016-2017 melalui perwakilan yang ditentukan oleh guru Bahasa Inggris. Jumlahrepresifasiadalah empat siswa setiap kelas sehingga jumlahnyaberjumlah 28 siswa. Program ini berlangsung dari bulan Juli sampaiAgustus 2016 dengan keseluruhan 8 pertemuan masing- masing 120 menit. Metode yang digunakan dalampengajaran ini didasarkan pada Bahasa Inggris lisan. Di sini, peserta diberi pengetahuan tentang suara dalam bahasa Inggris, setengah dari jadwal, program ini ditujukan pada siswa bahasa Inggris ‘lancar’. Hal ini dilengkapi dengan menghubungkan pengetahuan teknis tentang pengucapan dan intonasi. Hasil dari program ini adalah untuk menyajikan berita dalam Bahasa Inggris ditambah dengan kesiapan untuk tampil dalam bentuk audio visual, seperti harian yang munculdalamprogramberita berbahasa Inggris ditelevisisuatu topik, setengahjadwalkemudiandifokuskan pada kenyamanan tampil dalam audio visual, sepertiekspresi, menyiapkan nafas yang biasa terlihat dalam membawa berita berbahasa Inggris. Kata kunci: bahasa lisan lisan, presenter berita, audio visual.  Abstract English training program is an effort to the teaching of English as a realization of community service. This program focused on the exploration to the ‘spoken English’ within the art of recording media to the students of the state of senior high school 6 Surakarta. The aims is to know, and able to bring English language news media in the form of audio-visual recording. Learners English News presenters are those who are in class XI 2016-2017 school year through representatives that are determined by English teachers. The number of represntation is four students each class so thatthe total number is 28 students. The program lasted from July to August 2016 with an overall 8 meetings each 120 minutes.The method used in this teaching is based on spoken English. Here, participants were given the knowledge of sounds in english, at half the schedule, the program is directed at ‘fluency’ English students. It is equipped with linking technical knowledge of pronunciation and intonation. The results of the program is to present news in English coupled with a readiness to appear in the form of audio-visual, such as daily appears in the program English language news on television of a topic, half schedule was then focused on the convenience of performing in audio visual, like expression, expression, setting up a common look breath in bringing English language news. Keywords: spoken English , news presenter, audio visual.
PENGEMBANGAN KREATIFITAS ASESORIS INTERIOR BERBAHAN LIMBAH PERCASEBAGAI PEMBERDAYAAN ANAK ASUH DI PANTI ASUHANAISYIYAH Mardjono, Mardjono
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Mitra dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalahAnak asuh PantiAsuhanAisyiyah. Anak asuh yang berada dipantidipilih sebagaimitra dengan alasan mereka harus mampu menjadiinsan yang mandiriuntuk menyongsong masa depan mereka sendiri karena alasan tertentu mereka masuk kedalam PantiAsuhan. Setelah dilakukanpendampingan, lebih khusus diharapkananak asuh menjadimanusia yang lebih tangguh dan berkualitas, umumnya bagipendamping juga mempunyaidaya kreatifitas yang lebih inovatif sehingga nantinya dapat memberikan bekal pelatihan pada anak asuhnya untuk dapat menciptakan wirausaha baru cetusan panti asuhan..Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan selama kurun waktu enambulan. Kegiatan yang direncanakan berupa; workshop pengembangan desain produk yang diminati oleh pasar, serta workshop pembuatanmateripromosi. Setelahmendapatkansentuhandesainyangbaik, media promosi yang menarik diharapkan mampu membekalikeahlian kepada anak asuh sekaligus dapat berkembang dan dapat bersaing di pasaran. Kata kunci: panti asuhan, kreatifitas, kerajinan limbah, perca batik. Abstract Partner of this community service activities was the Aisyiyah Orpanage. Foster children who were in the orphanage were selected as partners with the reason they should be able to become independent persons to welcome their own future. After the assistance, specifically expected that foster children became more resilient and qualified humans, while the caregivers would also have better innovative creativity so that later can provide training provision to foster children in order to create new entrepreneurs as the result of orphanage foster system. This community service activities was carried out over a period of six months. The planned activities were: product development designing workshops for the products that were in market demand, as well as workshops for promotional materials. After getting a great product design, an attractive media campaign was expected to provide skills provision to foster children so that their products can grow and can compete in the market. Keywords: orphanage, creativity, waste-base craft, batik patchwork.
BIMBINGAN DAN PELATIHAN PRODUKSI KARYA SENI AUDIOVISUALBAGI SISWA JURUSAN TPPP (TEKNOLOGI PRODUKSI DAN PENYIARAN PROGRAM PERTELEVISIAN) SMK NEGERI 1 KLATEN JAWA TENGAH Rahmad, Cito Yasuki
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak FKamera tidak hanya digunakan sekedar untuk menangkap objek yang berfungsi sebagai kenang- kenangan semata, tetapi juga digunakan untuk menangkap objek yang sedang bergerak. Sesuai dengan karakter siswa sekolah menengah atas yang masih memiliki antusias tinggi terhadap sesuatu hal yang berbasis teknologi, kegiatan pelatihan produksi karya seni yang berbasis audiovisual kiranya dirasa sangat dibutuhkan oleh siswa. Apalagi pada realitasnya, penguasaan teknologi videografi di kalangan civitas sekolah masih jauh dari harapan. Lebih jauh, skill di bidang seni audiovisual dapat menjadi wadah bagi penyaluran talenta dan kreativitas siswa. Maka pelatihan produksi karya seni audiovisual sebagai media ekspresi seni merupakan usaha sistematis dan strategis sebagaibentuk pengabdian pada masyarakat. Selain pelatihan produksi karya seni audiovisual sebagai bentuk peningkatan kapasistas masyarakat, melalui filmdapat juga mengandung informasi sebagaimedia sosialisasi perandan fungsifilm serta sebagaibentuk lain media alternatif yang menarik bagi masyarakat. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pelatihan produksi film sebagai media ekspresi, yaitu menggunakan metode partisipatoris. Metode inimeletakkan posisi yang seimbang antara guru/fasilitator dan murid/peserta pelatihan. Siswa diharapkan mampu berorientasi dan mempunyaitarget mampu menciptakan karya-karya seni audiovisual seperti film-film fiksi pendek yang cukup baik dan mampu bersaing dengan hasil-hasil karya dari sekolah lainnya tanpa harus bergantung dari peralatan yang serba memadaidisetiap lini produksi.Kata kunci: Pelatihan, Karya seni, Audiovisual, Partisipatoris. Abstract Cameras were not only used to capture objects and to serve as a mere reminiscence, but also used to capture moving objects. Character of high school students were still having high enthusiasm for anything that was technology based, hence this training activity in audiovisual based art production was urgently needed. Especially in reality, the mastery of videography technology among school members was still low. Audiovisual skill could be a means of students’ talent and creativity channeling. For that, the training of audiovisual based art production as an artistic expression media was a systematic and strategic effort in a form of community service. The production training of audiovisual artwork was useful for capacity building of the community. Film could be a medium of information and socialization. The film acts as an alternative form of media that appealed to the community. The method used was a participatory method. This method positioned teacher/facilitator and student/participant equally in the training. Participants were expected to be oriented and had a target of creating audiovisual based art such as great short fiction films and able to compete with other schools’ work without having to rely on advanced equipments.Keywords: training, art work, audiovisual, participator.
BATIK DAN KERIS SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN MUATAN LOKALPENDIDIKAN BERKARAKTER PADAANAK USIADINI ( PAUD ) Darmojo, Kuntadi Wasi; Yuwono, Basuki Teguh; Marwati, Sri
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendidikan dan pelatihan dari PPM ini, memiliki tujuan untuk mengenalkan batik dan keris di Yayasan Pendidikan Uwais Al Qorni KB dan TKAlam Terpadu Uwais Al Qorni : Sumber Nayu Rt 7/12 Kadipiro Surakarta. Target yang ingin dicapai adalahmampu memberi pengetahuan dan ketrampilan tingkat dasar tentang batik dankeris kepada guru-guru TK, untuk dikembangkan menjadimodel pendidikanberkarakter pada pendidikan anak usia dini ( PAUD ), harapan kedepan model pembelajaran pendidikan berkarakter, dapat diteruskandandiaplikasikan di sekolahlainnya melalui Ikatan Guru RadiatulAnfal Surakarta.Metode yang digunakan untuk mencapai target tersebut adalah : ( 1 ) Kegiatan pengenalan dan pelatihan yang mengedepankan kebersamaan tanpa membedakan antara peserta dan fasilitator serta penggunaan media dan modelpelatihan yang efektif dan efisien, serta dapat diterima oleh peserta pelatihan yaitu para guru. ( 2 ) Pendampingan aplikasinya pada anak-anak usia dini dengan pemilihan dan penggunaan media yang sesuai bagi anak-anak melalui media ajar tentang batik dan keris yang berbasis IT. Strategi lain adalah menggunakanpendekatanpersonal, agar peserta dapat menerima dan mampu menerapkanmateripelatihan dengan baik. Peranserta dari lembaga Yayasan Pendidikan Uwais Al Qorni dan Sekolah KB-TKAlam Terpadu Surakarta adalah menyeleksidan memberimotivasi peserta untuk dapat mengikutipelatihan dari awal hingga selesai agar dapat mengerti sekaligus menerapkan semua materi yang diajarkan kepada PAUD.Tindak lanjut dari pelatihan ini, adalah adanya model pembelajaran pendidikan berkarakter yang dapat diteruskan dan diaplikasikan di sekolah lainnya melalui Ikatan Guru RadiatulAnfal Surakarta. Kata kunci: batik, keris, pendidikan berkarakter , PAUD Al Qorni. Abstract The purpose of education and training from Community Service Program was to introduce batik and keris at Yayasan Pendidikan Uwais Al Qorni, Alam Terpadu Playgroup and Kindergarten Al Qorni: Sumber, Nayu Rt 7/12 Kadipiro Surakarta. The aim was to provide basic knowledge and skill about batik and keris to kindergarten teachers, to be developed into model of character building   in early childhood education (PAUD). Hopefully, this character building learning model could be forwarded and be applied in other schools through Radhlatul Athfal Teachers Association Surakarta. The methods used to achieve these targets were: (1) Introducing and training activities that promoted togetherness without separating the participants and facilitators using effective and efficient medias and training models, which were considered acceptable to teacher trainees. (2) Gave assistance in applying to children of early age by selecting and using appropriate media for children through teaching media about batik and keris based on information technology. Another strategy was to use personal approach, so participants could receive and be able to apply the training materials well. The participation of Yayasan Pendidikan Al Qorni and Alam Terpadu Playgroup & Kindergarten Surakarta was to select and motivate the participants to join the complete training in order to understand and apply all the materials taught to PAUD. The follow up of this training was educational model of character building that could be forwarded and be applied in other schools through of Radhlatul Athfal Teachers Association Surakarta. Keywords: batik, keris, character building, PAUD Al Qomi.
KARYA FOTOGRAFI “IMAJI CITYSCAPE” DENGAN TEKNIK RAYOGRAPH astiti, anin
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Karya Fotografi dengan Judul “Imaji Cityscape” Dengan Teknik Rayograph inimerupakan sebuah upaya untuk dapat memberikan wacana baru dalamfotografi khususnya yang berkaitandengan fotografi analog yang sudah lama tergeser dengan munculnya teknologi digital. Digital yang memudahkan segala proses penciptaanfotografisecaratidak langsung menghilangkansebuahesensifotografiitu sendiri. Kali ini dengan melakukan penciptaan menggunakan sebuah teknik kamar gelap, digunakan metode penciptaan yang meliputi ide, ekplorasi, eksperimentasi serta tahapan penciptaan yang meliputi pembuatan sketsa, pencetakan, dan penampilan. Dalam penciptaan dengan teknik rayograph ini, tidak digunakan kamera untuk mencipta,melainkan menggunkan enlarger untukproses pencetakan, merujuk padadefinisi fotografi itu sendiri yaitu melukis menggunakan cahaya. Dalam teknik rayograph inidiciptakan imajidengan tema cityscape atau pemandangan kota. Dengan menggunakan benda-benda yang diletakkan di atas kertas foto, hal yang terpenting adalah adanya pertimbangan bentuk-bentuk yang sesuai dengan apa yang telah digambarkan di sketsa sebelumnya. Kekhasan dari teknik rayograph adalah adanya efek bayangan yang ditimbulkandaribenda-benda yang diletakkandiatas kertas foto yang kemudiandiekspos/disinari. Dengan imaji cityscape akan diciptakan karya rayograph dengan menampilkan imaji yang imajinatif. Cityscape atau pemandangankota yang real/nyata menjadisebuah imaji yangberbeda karena dalamteknik rayograph ini akan dihasilkan kontras yang tinggi hampir tidak ditemukan detail, sehingga akan terlihat gambaran hitam dan putih yang sangat pekat dengan garis-garis tegas yang tercipta dari perekaman objek yang diletakkan dan disusun di atas kertas. Kata kunci: fotografi, rayograph, cahaya, cityscape. Abstract Photography artwork titled “Imaji Cityscape” with Rayograph Technique was an effort in order to provide new discourse in photography, especially related to analog photography which had long displaced with the advance of digital technology. Digital technology facilitated all the process of creating photography but indirectly removed an essence of photography itself. This time by doing the creation using a darkroom technique, creation methods that were used including ideas, exploration, experimentation, as well as creation stages that included sketching, printing, and displaying. Creating artwork using rayograph technique did not use the camera to create, but used enlargers for the printing process, referring to the definition of photography itself that was to paint using light. This rayograph technique created images with cityscape theme or city scene. By using objects placed on photo paper, the most important thing was to considerate the figures that was fitted to what had been described in the previous sketch. A special feature of the rayograph technique was the effect of shadows generated from objects placed on photo paper which were then exposed. Cityscape image would help created rayograph artworks by displaying imaginative reflexion. Cityscape or real city scenery became a distinctive image because this rayograph technique would  be produced high contrast hence the detail would hardly be found, so it would appeared as very thick black and white picture with the firm lines created from recorded object placed and arranged on paper. Keywords: Photography, rayograph, light, cityscape.
PELATIHAN PENGEMBANGAN MEDIA PUBLIKASI UNTUK PROMOSI DESA PADA KELOMPOK TANI KOPI GONDOARUM DI BANJARNEGARA Nugroho, Widhi; Setiawati, Sri Wastiwi; Syuhada Agung, I Putu
Abdi Seni Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Abdi Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Banjarnegara, sebagai daerah dengan luas 24,40% berada di ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut, sehingga wilayah ini cocok digunakan sebagai daerah perkebunan, salah satunya adalah perkebunankopi. Luas wilayahyang digunakanuntuk perkebunankopi mencapai9.105 hektar. Masyarakat di Dusun Gintung, Desa Binangun, Kecamatan Karangkobar, atas inisiatif ImamSajidin, membentuk sebuah Kelompok Tani dan Koperasi Kopi Gondoarum sebagai salah satu langkah melawan praktik tengkulak. Koperasi Gondoarum juga melakukan pengolahan kopi dan hasil olahan kopi dengan brand Gondoarum. Prestasi yang pernah di raih adalah menjadi juara ketiga cupping competition dalam The 5th Indonesian Speciality Coffee Contest di Bali tahun 2012. Belumadanya promosi yang efektif dan informatif menjadi permasalahan utama bagi Kelompok Tani dan Koperasi Kopi Gondoarum. Untuk itu perlu adanya suatu pelatihan danpendampingan dalampengembangan media publikasi dan promosi guna menunjang rintisan pengembangan desa wisata. Dengan alam lingkungannya yang mendukung dan hasil pengolahan kopi sebagaiujung tombaknya, harapannya sebuahdesawisata dapat terbentuk. Metode yang digunakanadalah dengan pelatihan danpendampinganberupa pendokumentasian aktivitas sehari-harikelompok tani dengan medium video/foto serta pengambangan website yang bersifat publikatif dan promotif bagi Kelompok Tani dan Koperasi Kopi Gondoarum. Kata kunci: media publikasi-promosi, video/foto, website, Kopi Gondoarum. Abstract Banjarnegara Regency was an area with 24.40% of its territory located at an altitude of 1,000 m above sea level, so this area was suitable for plantation area, one of which was coffee plantation. The total area used for coffee plantations reached 9,105 hectares. The people of Gintung Hamlet, Binangun Village, Karangkobar Sub-district, at the initiative of Imam Sajidin, formed Gondoarum Coffee Farmer Union as one step against the practices of middlemen. Gondoarum Union also processing coffee with the brand Gondoarum. Achievements that had been gained was third place in cupping competition at The 5th Indonesian Specialty Coffee Contest in Bali, 2012. The absence of effective and informative promotions was a major concern for the Gondoarum Farmers Union. For that, training and assistance was needed in developing media publications and promotions to support the spearhead in tourist village development. Due to the suitable natural environment and the ability in coffee processing as the main weapon, it was expected that a tourist village could be built. The method used was with training and assistance by documenting daily activities of farmer groups with video/photo medium and website developing that would publicly promote the Gondoarum Coffee Farmers Union. Keywords: Publication-promotion media, video/photo, website, Gondoarum Coffee.

Page 1 of 10 | Total Record : 94