cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Memaknai Iconography Kristen dari Perspektif Keluaran 20:4-6 Lola, James Anderson
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.278 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i2.62

Abstract

The presence of statues in the Church has led a debate in various aspects of life, one of the issues raised is related to the commandments in God's ten commandments not to make statues and to worship the statue (Exodus 20: 4-6; Deut. 5: 8-10; Lev. 19: 4). As much as possible, this study wants to see how this statue relates to the second commandment of ten laws. In the hermeneutic approach, the researcher found that the meaning of this command was to clearly reject the establishment of a statue that was used to personalize divinity especially believed to be a manifestation of God himself.Abstraksi: Kehadiran patung dalam Gereja telah menimbulkan pro dan kontra dalam berbagai aspek kehidupan, salah satu isu yang dimunculkan adalah berkaitan dengan salah satu perintah dalam sepuluh perintah Allah untuk tidak membuat patung dan sujud menyembah patung tersebut (Keluaran 20:4-6, bandingkan Ul. 5:8-10; Im.19:4). Penelitian ini sedapat mungkin ingin melihat bagaimana hubungan patung ini dengan perintah kedua dari sepuluh hukum. Dalam pendekatan hermenutik, peneliti menemukan  bahwa makna dari perintah  ini adalah dengan jelas menolak pendirian patung yang digunakan untuk mempersonafikasikan keillahian apalagi dipercaya sebagai wujud dari Allah itu sendiri
Mewartakan Injil - Menahan Roti: Sebuah Catatan Kritis atas Model Pelayanan Yudas Nayuf, Hendrikus
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.304 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i2.9

Abstract

Poverty is often used as an excuse for fighting for justice and solidarity. Poverty becomes a magnet for anyone to raise it as an issue of partiality. Even poverty can be used as a means of struggle to criticize the leaders of the nation and the church. Jude, one of Jesus disciples show this in Jesus anointing narrative in Bethany. Jude fought for justice while at the same time showing his solidarity when criticizing Mary for anointing Jesus by using expensive aromatic oil. At the symbol level, Judas shows a concrete emphaty attitude. He showed partiality and dared to rebuke others so that they were not wasteful while poverty was so rampant. Even though Jude’s attitude was counter-productive with narratives about him. But the story becomes an inspiration and source of learning about the interpretation of poverty and also a warning sign for church leaders so that in their works, the must “proclaim the Gospel – share bread” and not “proclaim the Gospel – hold the bread.”Abstrak: Kemiskinan sering dijadikan alasan dalam memperjuangkan keadilan dan solidaritas. Kemiskinan menjadi magnet bagi siapa saja untuk mengangkatnya sebagai isu keberpihakan. Bahkan kemiskinan dapat dijadikan sebagai alat perjuangan untuk mengkritisi para pemimpin bangsa maupun pemimpin gereja. Yudas, salah satu murid Yesus telah menunjukkan hal tersebut dalam narasi pengurapan Yesus di Betania. Yudas memperjuangkan keadilan sekaligus menunjukkan sikap solidaritasnya saat mengkritik Maria yang mengurapi Yesus dengan menggunakan minyak narwastu yang mahal. Dalam tataran simbol, Yudas menunjukkan sikap empati yang konkrit. Ia menunjukkan keberpihakan dan berani menegor orang lain agar tidak berlaku boros sementara kemiskinan begitu merajalela. Walau sikap Yudas kemudian kontra produktif dengan kelanjutan narasi-narasi tentang dirinya. Tetapi kisahnya kemudian menjadi inspirasi dan sumber pembelajaran tentang penafsiran atas kemiskinan dan juga tanda awas bagi para pemimpin Gereja agar dalam karya-karyanya, harus “mewartakan Injil – membagi roti” dan bukan “Mewartakan Injil – Menahan Roti.”  
Beritakan Injil Kepada Segala Makhluk Gea, Ibelala
BIA Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.73 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i1.19

Abstract

This article aims to describe the results of research on how to preach the gospel to all beings, based on Mark 16:15-16. Preaching the gospel is a great commission from the Lord Jesus to His followers after His resurrection from the dead. The world is the address of the gospel preaching, not only to man but to all beings.The Gospel writer of  Mark wants to explain that the world is synonymous with evil, therefore the gospel serves to salt the evil world, so when Iniil is preached to the wicked, it is expected to change the mindset and human behavior.Greedy and greedy human behavior that only views nature as a commodity. Human evil is seen when only the task of exploiting natural resources and forget the responsibility of caring for, nurturing nature and the environment. Gospel preaching aims to awaken peoples not only to view nature as power (dominio) but as a fellow of creatures, and friends (communio). Preach the gospel to all beings and receiving each other with referring to reduce, reuse, recycle and replace as a responsibility to God who has given the mandate for us. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil penelitian tentang bagaimana memberitakan Injil kepada  seluruh makhluk, bertolak dari Markus 16:15-16. Memberitakan Injil adalah amanat agung dari Tuhan Yesus kepada para pengikut-Nya setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati.Dunia adalah sebagai alamat pemberitaan Injil, bukan hanya kepada manusia melainkan kepada segala makhluk. Penulis Injil Markus hendak menjelaskan bahwa dunia identik dengan kejahatan, sebab itu Injil berfungsi menggarami dunia yang penuh kejahatan itu, karena itu ketika Iniil diberitakan kepada orang-orang jahat, diharapkan akan mengubah mindset dan perilaku manusia. Perilaku manusia yang serakah dan tamak yang hanya memandang alam sebagai komoditi. Kejahatan manusia terlihat ketika hanya bertugas mengeksploitasi sumber-sumber daya alam dan lupa pada tanggung jawab merawat, memelihara alam dan lingkungan hidupnya.  Pemberitaan Injil menyadarkan manusia agar tidak hanya memandang alam sebagai kekuasaan (dominio) tetapi sebagai sesama ciptaan, sahabat yang bersifat communio. Memberitakan Injil kepada seluruh makhluk dan menghargai segala makhluk dengan saling memberi dan menerima dengan mengacu pada pola-pola reduce, reuse, recycle dan replace sebagai tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberi amanat.
Memahami Bangsa-bangsa Lain dalam Injil Matius Putra, Adi
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.128 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i2.59

Abstract

This article described one of the uniqueness of the Gospel of Matthew, namely: the emergence of systemic and consistent elements of other nations (gentile). Though Matthew's Gospel is a gospel written for Jews with an emphasis on fulfilling the Old Testament in Jesus and His ministry. Then, why are the elements of other nations in it? This paper answers it by looking more at the salvation (soteriology) aspects designed by God and also includes other nations in it. Abstrak: Artikel ini menjelaskan salah satu keunikan dari Injil Matius, di mana secara sistematis dan konsisten menjelaskan unsur bangsa-bangsa lain (gentile). Meskipun injil Matius ditulis kepada orang Yahudi dengan sebuah penekanan penggenapan PL dalam Yesus dan pelayanan-Nya. Lalu, mengapa unsur bangsa-bangsa lain dijelaskan secara konsisten dan sistematis di dalamnya? Penelitian ini menjawabnya dengan melihat lebih kepada aspek keselamatan yang telah didesain oleh Allah juga bagi bangsa-bangsa lain
Refleksi Konsep Proto Logos Lukas dalam Membangun dan Meningkatkan Kegiatan Publikasi Ilmiah di Lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Siahaan, Harls Evan R.
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.239 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i2.61

Abstract

The activity of scientific publication is an academic reflection in the field of higher education. This activity has been increasing significantly in the last two years, especially with the regulations of the ministry of research and higher education which regulated publishing research issues in the online journals. Theological College as a higher education under the Ministry of Religion is not immune to the effects of regulations concerning scientific journals. This article aimed to show a biblical reflection on building and improving scientific publications. By using a descriptive analysis method on the text of Luke 1:1-4, the conclusion obtained is that the writing process of the Gospel of Luke reflected the phases of scientific publication, so that it could become a theological reflection for theological colleges to carry out academic activities in building and improving publication activities through online journals.Abstrak: Kegiatan publikasi ilmiah merupakan sebuah refleksi aktivitas akademis di lingkungan sekolah-sekolah pendidikan tinggi. Kegiatan ini telah mengalami eskalasi yang siginifikan dalam dua tahun belakangan, terlebih lagi dengan munculnya peraturan kementrian riset dan pendidikan tinggi yang mengatur publikasi penelitian dalam bentuk jurnal online. Sekolah Tinggi Teologi sebagai pendidikan tinggi yang berada di bawah Kementrian Agama tidak luput dari imbas peraturan yang menyangkut jurnal ilmiah. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan sebuah refleksi biblikal untuk membangun serta meningkatkan publikasi ilmiah. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif pada teks Lukas 1:1-4, maka diperoleh kesimpulan bahwa proses penulisan Injil Lukas merefleksikan fase-fase publikasi ilmiah, sehingga hal ini menjadi sebuah refleksi teologis bagi Sekolah-sekolah Teologi untuk melakukan kegiatan akademis membangun dan meningkatkan kegiatan publikasi ilmiah melalui jurnal online.
Evaluasi Kritis Penggunaan Membangun Jemaat Dari Perspektif Teologi Kontekstual Oktoviandy, Oktoviandy
BIA Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.314 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i1.20

Abstract

Using a qualitative approach we researched and then evaluated the use model of the book Building a Church in the Toraja Church in the South Sangalla Klasis by using a perspective on contextual theology. In this study we found 2 (two) models of using the Church Building book used by the servants there, namely the translation model and the post-translation model. We evaluate these two models as a model of use that is not sufficient to be able to bring the church to the celebration of God's great presence and work that surrounds all. We evaluate Both of these models is still very narrow in providing space for the development of theology and/ or preaching that is truly contextual. AbstrakDengan menggunakan pendekatan kualitatif kami meneliti untuk kemudian mengevaluasi model penggunaan buku Membangun Jemaat di Gereja Toraja se-Klasis Sangalla’ Selatan dengan menggunakan perspektif teologi kontekstual. Dalam penelitian ini kami menemukan 2 (dua) model penggunaan buku Membangun Jemaat yang digunakan oleh para pelayan di sana, yakni model terjemahan dan model post-terjemahan. Kedua model tersebut kami nilai sebagai model penggunaan yang belum memadai untuk bisa membawa jemaat (gereja) kepada perayaan akan kemahahadiran dan karya Allah yang besar dan yang melingkupi semua. Kedua model itu, kami nilai masih sangat sempit dalam memberi ruang bagi pengembangan teologi dan/atau khotbah yang sungguh-sungguh kontekstual.
Menerapkan Prinsip Pelayanan Konseling Berdasarkan Injil Yohanes Selvianti, Selvianti
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.1 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i2.48

Abstract

Counseling is a form of ministry that plays an important role in everyone's life, because everyone is always faced with various problems and in general people often have difficulty dealing with and resolving their problems. Therefore, a competent counselor is needed to provide careful consideration so that it can determine the right decision. The qualification of a counselor greatly influences effective counseling services. The example of a competent counselor can be learned from Jesus Christ because Jesus' loyalty as a counselor causes everyone to always seek and seek advice from Him. The principle of counseling services carried out by Jesus based on the Gospel of John uses very interesting counseling approaches according to the context of the counselee where every problem faced by the counselee can be resolved properly. The main thing that is always made by Jesus in counseling services is solving the problem of sin and sharpening the correct recognition of God because it is the foundation for the counselee in achieving life change. Life change is the main goal in every effective counseling service that is in accordance with Bible principles. Abstrak: Konseling merupakan bentuk pelayanan yang memegang peranan penting dalam kehidupan setiap orang, sebab setiap orang  selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah dan pada umumnya orang sering mengalami kesulitan menghadapi dan menyelesaikan masalalnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan seorang konselor yang kompeten untuk memberikan pertimbangan yang matang sehingga dapat menentukan keputusan yang benar. Kualifikasi seorang konselor sangat mempengaruhi pelayanan konseling yang efektif. Teladan seorang konselor yang kompeten dapat dipelajari dari diri Yesus Kristus sebab loyalitas Yesus sebagai konselor menyebabkan setiap orang selalu mencari dan meminta nasihat kepada-Nya. Prinsip pelayanan konseling yang dilakukan oleh Yesus berdasarkan Injil Yohanes menggunakan pendekatan-pendekatan konseling yang sangat menarik sesuai konteks si konseli dimana setiap masalah yang dihadapi konseli pasti dapat diselesaikan-Nya dengan baik. Hal utama yang selalu dibuat Yesus dalam pelayanan konseling adalah penyelesaian masalah dosa dan mempertajam pengenalan yang benar kepada Allah karena hal tersebut merupakan fondasi bagi konseli dalam mencapai perubahan hidup.  Perubahan hidup adalah sasaran utama dalam setiap pelayanan konseling yang efektif yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.
Kompetensi Pedagogik Menurut Analisis Ulangan 6:7-9 dengan Pendekatan Hermeneutik Schleiermacher Rantesalu, Syani Bombongan
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.429 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i2.14

Abstract

A Primary educator is that parents have an obligation to educate their children to know God. God through Moses ordered the parents of the Israelites to love God with all their heart and not only be limited to that but then also taught their children about God. The method delivered by Moses, which must be done by parents is to teach repeatedly, talk at all times, tie it to the hands and forehead and write on the door and the gate. From these four methods it can be concluded that Moses commanded the Israelites to love God by the method of teaching repeatedly, talking at all times, binding to their hands and forehead and writing on the door of the house and gate, then every Israelite looked at God in sacredness and studied God in the context of life with, so that the teachings of God are one with the child and are realized in every life.Abstrak: Pendidik yang utama adalah para orang tua yang memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka untuk mengenal Allah. Allah melalui Musa memerintahkan agar para orang tua di Israel untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan tidak hanya terbatas pada hal tersebut, melainkan juga mengajarkan anak-anak mereka tentang Allah. Metode yang diajarkan oleh Musa agar para orang tua mengajarkan hal tersebut kepada anak-anak secara berulang-ulang, membicarakannya dalam segala waktu, mengikatnya di tangan dan dahi mereka serta menuliskannya pada pintu rumah dan pintu gerbang. Dari empat metode ini dapat disimpulkan bahwa Musa memberikan perintah orang-orang Israel untuk mengasihi Allah dengan cara mengajarkannya secara berulang-ulang, membicarakannya di segala waktu, mengikatnya pada tangan dan dahi, serta menulikannya pada pintu dan gerbang, maka setiap anak-anak Israel akan memandang Allah dengan kekudusan dan belajar tentang Allah melalui kehidupan, sehingga pengajaran tentang Allah dinyatakan dalam setiap kehidupan.
Tujuh Kebajikan Utama Untuk Membangun Karakter Kristiani Anak Stevanus, Kalis
BIA Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.976 KB) | DOI: 10.34307/b.v1i1.21

Abstract

Character is something that is very important for human progress, both individually and in a nation. This article motivated by the decline of the character of society that appears in the rampant crime, anarchism, vigilante, radicalism, hatred, intolerance, disrespect, terrorism, injustice which is causing violence in various human relationships. Individual and social clashes occurred which are always based on the society background, such as ethnicity, religion and social condition. It cannot be denied if it is said that the root of all this is caused by character problem. Character influences ethical and moral judgment and decision making. By this context, Christian families are called to participate in building the nation through education in family. Christian families become character educators for their children. This article aims to describe seven virtues main, namely compassion, empathy, self-mastery, respect, tolerance, fairness, and patriotism to build child Christian character.  AbstrakKarakter adalah suatu hal yang sangat penting bagi kemajuan manusia, baik secara individual maupun suatu bangsa. Tulisan ini dimotivasi oleh merosotnya karakter masyarakat yang nampak dalam maraknya tindakan kejahatan, anarkhis, main hakim sendiri, radikalisme, kebencian, intoleransi, rasa tidak hormat, terorisme, ketidakadilan, sehingga menyebabkan membudayanya kekerasan dalam berbagai relasi. Terjadi perbenturan-perbenturan  individual dan social yang masih selalu terkait dengan latar  belakang masyarakat, seperti etnis, agama dan keadaan social. Tidak dapat disanggah bila dikatakan akar penyebab semua itu disebabkan oleh problem karakter. Karakter memengaruhi pertimbangan dan pengambilan keputusan etis dan moral. Dalam konteks inilah keluarga Kristen dipanggil untuk turut serta membangun bangsa melalui pendidikan di keluarga. Keluarga Kristen menjadi pendidik karakter bagi anak-anaknya. Tulisan ini bertujuan mendiskripsikan tujuh kebajikan utama, yaitu belas kasih, empati, penguasaan diri, rasa hormat, toleransi, adil, dan cinta tanah air, untuk membangun karakter Kristiani anak.
Refleksi Teologis Kitab Yeremia tentang Pesan Sang Nabi Bagi Orang-orang Buangan Sitorus, Herowati
BIA Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.58

Abstract

The Book of Jeremiah is very difficult to understand because the events are not in chronological order. Jeremiah understanding by critical studies provides a more complete understanding even though it was written not in chronological order. This study is built on the understanding of the supervisor writing the book that would expose us, the author of the book, the time and place of writing, the outline of the contents of the book. Historical background, social and political book is also very necessary to study to provide a broader picture of the book of Jeremiah. Jeremiah did his job during the reforms of Josiah in 621 BC, (2) reign of Jehoiakim king in 609 BC, (3) the reign of King Jehoiachin in December 598 to March 597 BC, and (4) of Zedekiah in 597-587 BC.Abstrak: Kitab Yeremia merupakan kitab yang sangat sulit dipahami karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya tidak berlangsung secara teratur. Memahami Yeremia dengan kajian-kajian yang kritis memberikan sebuah pemahaman yang lebih lengkap sekalipun tidak ditulis secara urut. Kajian ini dibangun atas pemahaman tentang penulisan kitab yang akan menyingkapkan tentang penulis kitab, waktu dan tempat penulisan, garis besar kitab. Latar belakang sejarah, baik secara politik dan ekonomi juga sangat penting untuk dikaji untuk memberikan gambaran yang lebih luas tentang kitab Yeremia. Yeremia melakukan pekerjaannya selama reformasi Yosia pada tahun 621 SM; pemerintahan raja Yoyakhim pada tahun 609; pemerintahan raja Yehoakim pada Desember 598 hingga Maret 597 SM, serta pada masa raja Zedekia tahun 597-587 SM.

Page 1 of 3 | Total Record : 30