cover
Contact Name
I Gusti Agung Paramita
Contact Email
vidyawertta@unhi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vidyawertta@unhi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
ISSN : 08527776     EISSN : 26557282     DOI : -
Core Subject : Education,
Vidya Wertta Journal published by the Religion and Culture Fakulty of the Indonesian Hindu University. Publish twice a year, on April and October. The focus and reach of issues raised in the Vidya Wertta Journal include religion, philosophy, religious and cultural law.
Arjuna Subject : -
Articles 32 Documents
POLA INTERAKSI UMAT HINDU–NASRANI Artatik, I.G.A
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesatnya perkembangan industri pariwisata membawa dampak heterogenitas kultural yang bercampur baur menjadi satu. Hal ini memberikan corak tersendiri bagi kultur masyarakat Bali yang berbasiskan spirit dan nilai–nilai agama Hindu. Serta memiliki paradigma yang selama ini melekat pada orang Bali, bahwa orang Bali adalah orang yang sangat terbuka, toleran, dan ramah terhadap keberadaan suku, bangsa ataupun agama lain. Namun kontak atau interaksi dengan asyarakat pendatang tentu saja akan memberikan suatu pengaruh, baik secara disengaja maupun tidak disengaja bagi kedua belah pihak yang berinteraksi tersebut, seperti halnya yang terjadi di desa Dalung. Dimana interaksi dengan agama Nasrani baik paham Katolik dan paham Protestan (Kristen) telah terjadi sejak tahun 1936, ditandai dengan didirikannya Gereja pertama di Bali yang bertempat di Desa Adat Tuka, Desa Dalung. Beberapa masyarakat desa Dalung beralih agama (konversi agama) dari Hindu ke Katolik dan Protestan. Namun dewasa ini ada juga yang kembali lagi ke agama asal yaitu agama Hindu. Sebagai sebuah masyarakat yang terdiri atas dua komunitas, yaitu Nasrani dan Hindu sangat disadari kemungkinan terjadinya konflik sebab secara ideologi kedua keyakinan ini memang berbeda. Namun dalam perjalanan sejarahnya belum pernah terjadi konflik yang sangat berarti. Walaupun muncul konflik biasanya diselesaikan oleh kedua belah pihak dengan cara musyawarah dan kekeluargaan.
PURA MEKAH DI BANJAR ANYAR DESA POH GADING, UBUNG KAJA, KOTA DENPASAR Djuana, I Nyoman; Surawati, Ni Made
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang keberadaan Pura Mekah di Banjar Binoh Ubung Kaje dengan menggunakan analisis struktur, sejarah dan fungsi. Keberadaan Pura Mekah di Banjar Binoh memang menarik dikaji karena jika dilihat dari namanya seperti berhubungan dengan tempat suci umat Islam. Secara historis Pura ini berhubungan dengan datangnya Majapahit ke Bali. Berdasarkan wacana lisan dinyatakan bahwa di Ubung (yang dulunya satu desa dengan Peguyangan) pernah datang dua utusan Majapahit yang disebut-sebut sebagai Dalem Mekah. Dua utusan ini tinggal dengan dibatasi setra Dalem Poh Gading, yang satu tinggal di sebalah utara setra (Pura Mekah Banjar Anyar) dan satunya lagi tinggal di sebelah selatan. Struktur Pura Mekah berbeda dengan struktur umum pura di Bali yakni menggunakan konsep Tri Mandala, sementara di Pura Mekah hanya Dwi Mandala. Secara fungsional, pura ini berfungsi secara religius dan sosial.
ASRAMA DHARMA DALAM SANTI PARWA Candera Widia Adnyana, Ida Bagus Kade; Sarjana, I Putu
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teks-teks Itihasa saat ini sedang digandrungi masyarakat, khususnya umat Hindu di Bali. Teks tersebut mengisyaratkan ajaran-ajaran luhur Hindu yang sangat relevan dengan situasi moral zaman saat ini. Ajaran Itihasa ini dikenal tersirat dalam dua epos besar yakni Ramayana dan Mahabrata. Epos Mahabrata ini dipecah menjadi delapan belas Parwa yang lantas dikenal dengan Asta Dasa Parwa. Dalam teks-teks Parwa ini sangat banyak tersirat pesan dan isyarat moral Hindu ketika menjalani hidup di dunia. Salah satunya tentu adalah Santi Parwa. Dalam Santi Parwa termuat sebuah perdebatan sengit antara putra Pandu perihal ajaran etik kehidupan Hindu yang dikenal dengan asrama dharma. Di situ juga dijelaskan bahwa Hindu juga memberi legitimasi moral bagi umatnya untuk mencari harta dalam kehidupan di dunia dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip dharma.
WAYANG WONG DALAM UPACARA DEWA YADNYA DI MRAJAN GDE GRIYA PENIDA, DESA BATUAGUNG, KABUPATEN JEMBRANA Ayu Putri Sastrini, Ni Komang; Sri Winarti, Ni Wayan
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Wayang Wong merupakan kesenian yang disakralkan yang mana semua penarinya memakai tapel. Dalam pementasan, Tari Wayang Wong merupakan tari wali, dengan demikian bentuk penokohan dan struktur rangkaian pertunjukan menyesuaikan dengan tingkatan upacara yadnya. Dalam bentuk busana tari, Wayang Wong tetap menggunakan busana tradisional namun ada beberapa yang disesuiakan dengan busana kreasi sekarang seperti penggunaan gelung, kain prada. Sedangkan gerak tarinya memiliki ciri khusus dan  unik yang tidak dimiliki oleh Wayang Wong yang ada dibeberapa daerah di Bali. Rangkaian pementasan Tari Wayang Wong Dalam upacara Dewa Yadnya di Mrajan Gde Griya Penida desa Batuagung pada tingkat utama, biasanya Wayang Wong dipentaskan dengan rangkaian yaitu dari ngebejian, pentas satu babak sampai dengan Wayang Wong melaksanakan ngidergita. Tabuh yang digunakan adalah gamelan bebatelan Ramayana dengan dipentaskan pada tempat di utama mandala atau tempat dipekarangan yang luas. 
PERAN MEDIA GAMBAR DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS V DI SD N 1 TIYINGGADING Martha, I Wayan; Ayu Feby Puspitarini, Ni Kadek
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemanfaatan media gambar agama Hindu dalam meningkatkan minat belajar siswa. Adapun yang dideskripsikan adalah apa saja kreativitas guru pendidikan agama Hindu dalam mengingkatkan minat belajar siswa, upaya-upaya apa saja yang dilakukan Guru Agama Hindu dalam pemanfaatan media gambar Hindu. Penelitian ini dilakukan di di SD N 1 Tiyinggading. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat penjelasan yakni perkembangan media gambar di Indonesia pada saat ini sangat pesat seriring berjalannya waktu, demikian pula dengan penerapan ajaran agama Hindu yang saat ini harus menjadi langkah awal dalam menggunakan media gambar sebagai sarana yang medukung proses belajar agama Hindu. Dengan memanfaatkan media gambar dalam proses belajar agama Hindu, maka akan menjadi proses belajar yang kreatif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan minat belajar siswa di SD N 1 Tiyinggading
SINKRETISME BUDAYA DI PURA TIRTHA HARUM DESA PAKRAMAN SERANGAN KECAMATAN DENPASAR SELATAN Ayu Ngurah, I Gusti; Kartini, Ni Made
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Pura Tirtha Harum (Sinkretisme Budaya dan Nilai Pendidikan Agama Hindu) di Desa Pakraman Serangan Kecamatan Denpasar Selatan. Artikel ini ingin mengkaji keunikan Pura dari segi struktur, fungsi serta nilai–nilai pendidikan yang terkandung di Pura Tirtha Harum. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu dengan menggunakan metode observasi, metode wawancara, studi kepustakaan dan metode analisis data. Berdasarkan analisis di atas maka diperoleh hasil sebagai berikut: struktur Pura Tirtha Harum terdiri dari Dwi Mandala. Secara umum Pura memiliki fungsi sebagai linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau sebagai sang pencipta alam semesta beserta isinya agar tetap berada dalam keadaan yang harmonis. Di samping itu pada Pura Tirtha Harum juga memiliki Fungsi religius yang dapat dilihat dari kepercayaan umat terhadap manifestasi Ida SangHyang Widhi yang bersthana di Pura ini, Fungsi sosial yaitu sebagai tali pengikat persaudaraan antar masyarakat untuk meningkatkan solidaritas kelompok dalam kegiatan upacara di Pura. Selanjutnya fungsi pengobatan yang terlihat dari keyakinan umat yang datang memohon kesembuhan. Fungsi pendidikan yaitu dapat memberikan pendidikan Agama Hindu yang bersifat non formal karena secara tidak langsung mengajarkan ajaran keagamaan kepada umat semenjak kecil. Fungsi Budaya yaitu dapat mengajarkan umat Hindu untuk tetap memelihara warisan budaya seperti adanya sinkretisme antara Siwa dan Budha di Pura Tirtha Harum tersebut.
PERSEMBAHYANGAN DAN PAWINTENAN SARASWATI BAGI SISWA BARU DI SD NO. 1 DENBANTAS Seniwati, Desak Nyoman; Wahyu Marhaenningrat, I Gusti Ayu
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Persembahyangan Saraswati dan Pawintenan Saraswati bagi Siswa Baru di SD No. 1 Denbantas Kajian Pendidikan Agama Hindu. Pada intinya ingin mengkaji tentang tata cara pelaksanaan upacara Persembahyangan Saraswati ditinjau dari Pendidikan Agama Hindu. Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah adanya keinginan untuk memahami secara lebih mendalam mengenai proses, makna filosofis serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam pelaksanaan persembahyangan Saraswati dan pawintenan Saraswati bagi siswa baru SD No. 1 Denbantas, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: proses persembahyangan Saraswati dan pawintenan Saraswati bagi siswa baru di SD No. 1 Denbantas, dilaksanakan dengan urutan-urutan upacara sebagai berikut: tahap persiapan, dengan menyiapkan saranasarana upacara berupa banten Saraswati. Upakara (banten) tersebut ditempatkan sedemikian rupa dihadapan pelinggih Padma sekolah berdampingan dengan tempat pustaka-pustaka atau buku pengetahuan yang merupakan lingga stana Sang Hyang Saraswati yang akan diupacarai. Tahap pelaksanaan; persembahyangan Saraswati dan pawintenan Saraswati bagi siswa baru dipuput oleh seorang pemangku Tri Khayangan yang diawali dengan mebyakala, kemudian dilanjutkan dengan upacara penyucian yaitu meprayascita yangbertujuan untuk menyucikan upakara maupun semua umat (guru dan siswa) yang akan ikut atau terlibat dalam persembahyangan dimaksud. Kegiatan selanjutnya adalah upacara pokok yakni upacara persembahyangan Saraswati yakni pemujaan terhadap keagungan dan kebesaran Ida Sang Hyang Saraswati yang telah menurunkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia. Nilai tattwa terletak pada bentuk-bentuk bebantenan (reringgitan, tetuasan, dsbnya).
NILAI AGAMA DALAM GAMELAN GAMBANG Sukadana, I Wayan
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni dan agama bagi masyarakat Hindu di Bali tidak bisa dipisahkan. Hal itu dapat dibuktikan, dalam pelaksanaan upacara yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu Bali. Gamelan Gambang adalah gamelan golongan tua memiliki Laras Pelog Tujuh Nada. Secara fisik Gamelan Gambang dibentuk oleh instrumen berbilah dengan menghasilkan warna Suara bilahan Bambu dan Bilahan Tembaga. Sebagai salah satu bentuk kesenian, barungan Gamelan Gambang di Bali, memiliki kedudukan strategis dan penting dalam aktivitas yang bersifat ritual khususnya di setiap daerah di Bali. Oleh karena itu, Gamelan Gambang ini perlu dilestarikan. Nilai-nilai agama Hindu yang terkandung dalam Gamelan Gambang yaitu: nilai religi, nilai estetika, dan nilai etika.
KETERKAITAN BUDAYA SEKOLAH DENGAN KINERJA GURU PENDIDIKAN AGAMA HINDU  Lanang Jelantik, I gusti
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru pendidikan agama Hindu memiliki tanggung jawab sebagai pelaksana sistem pendidikan nasional dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk mewujudkan tanggung jawab tersebut, guru dituntut memiliki kinerja yang tinggi. Seorang guru tidak mungkin berkinerja tinggi dalam melaksanakan tanggung jawabnya, jika tidak didukung oleh budaya sekolahnya. Budaya sekolah adalah berkenaan dengan norma-norma, perilaku, nilai-nilai, filosofis, ideologi, asumsi-asumsi yang dimiliki oleh stakeholder di sekolah.  Makin banyak warga sekolah yang menerima nilai-nilai tersebut budaya sekolah semakin kuat, sangat berpengaruh terhadap perilaku guru, karena tingginya tingkat kebersamaan dan intensitas yang akan menciptakan iklim internal atas pengendalian perilaku yang profesional. Budaya sekolah menjadi perekat sosial mempersatukan para guru dan stakeholder yang lain dalam mengimplementasikan standar pendidikan nasional untuk meningkatkan kinerja guru.
AGAMA DAN FENOMENA KEGILAAN Budi Utama, I Wayan; Paramita, I Gusti Agung
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 1 No 1 (2018): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agama sebenarnya memiliki wajah Janus (ganda), di satu sisi agama bisa berwajah keras dan seringkali menimbulkan banyak korban jiwa. Hal ini terjadi ketika agama digunakan sebagai alat pembenar terhadap tindakan kekerasan oleh kelompok tertentu untuk meniadakan kelompok lain yang berbeda. Di sisi lain agama memiliki wajah melankolis sebagai sesuatu yang sejuk mendamaikan. Dalam hal ini agama sering digunakan sebagai penyembuh terhadap “kegilaan” yang terjadi dalam masyarakat. Di Bali agama menjadi penyembuh terhadap mereka yang mengalami keguncangan jiwa misalnya melalui “malukat” atau “mebayuh”. Agama memberi jalan bagi penebusan dosa seperti dalam upacara “guru piduka”. Agama juga menetralisir mereka yang mengalami trance (kerauhan) pada saat ritual di Pura di Bali. Peristiwa tersebut tadi dalam pandangan psikologi dianggap sedang mengalami “kegilaan”. Tulisan ini menjelaskan peran agama sebagai penyembuh dalam masyarakat Hindu di Bali. Pengumpulan data diakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis dan paparan data dilakukan dengan deskriptif interpretatif, melalui pendekatan sosiologi agama. 

Page 1 of 4 | Total Record : 32