cover
Contact Name
Nyoman Angga Krishna Pramana
Contact Email
anggakrishna@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
anggakrishna.dr@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Callosum Neurology
Published by Universitas Udayana
ISSN : 26140276     EISSN : 26140284     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Callosum Neurology Journal is an official journal managed by The Indonesia Neurological Association XXV Branch of Denpasar. This journal is open access to the rules of peer-reviewed journaling which aims as scientific publications and sources of actual information in the field of neurology and neuroscience. Callosum Neurology Journal is published three times a year in January, May, and September and contains original articles of research, case reports, case series reports, literature reviews, and communications from and to editors.
Arjuna Subject : -
Articles 32 Documents
LAPORAN KASUS: PERUBAHAN HASIL PEMERIKSAAN ELEKTROMIOGRAFI PADA PARALISIS NERVUS FASIALIS PERIFER Dewi, Putri Rossyana; Kusumastuti, Dian; Putra, AANB Widya
Callosum Neurology Vol 1 No 2 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i2.32

Abstract

Latar Belakang: Paralisis nervus fasialis perifer dapat menyebabkan gangguan motorik otot wajah. Pemeriksan elektromiografi berguna untuk mendiagnosis sekaligus menentukan prognosis pasien. Laporan ini mengidentifikasi perubahan amplitudo serta potensi bangkitan otot pada paralisis nervus fasialis perifer. Kasus: Seorang pria berusia 58 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan mata kanan tidak bisa ditutup dan bibir tertarik ke sisi kiri sejak seminggu lalu. Pemeriksaan neurologi menunjukkan lesi nervus VII infranuklear kanan. Evaluasi terapi kortikosteroid dan fisioterapi belum menghasilkan perbaikan gejala klinis sehingga disarankan untuk melakukan pemeriksaan elektromiografi. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak adanya respons nervus fasialis kanan, sedangkan pada sisi kiri hasilnya normal. Diskusi: Perubahan hasil pemeriksaan elektromiografi pada kasus ini akibat penurunan eksitasi akson pada degenerasi serabut saraf. Hasil ini dapat menentukan prognosis dari pasien, adanya perbedaan nilai amplitudo dan latensi distal > 90% dibandingkan sisi yang sehat memiliki prognosis buruk. Simpulan: Perubahan hasil pemeriksaan elektromiografi pada kasus paralisis nervus fasialis perifer ditandai dengan menurunnya amplitudo dan pemanjangan latensi distal serabut saraf yang mempersarafi wajah. Hasil tersebut berpengaruh terhadap prognosis Kata Kunci: Paralisis Nervus Fasialis Perifer, Elektromiografi, Prognosis
HUBUNGAN DURASI DUDUK DENGAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PERAWAT RUMAH SAKIT ATMA JAYA, JAKARTA, INDONESIA Utama, Fanuel; Irawan, Robby; Barus, Jimmy; Agustine, Stefanie
Callosum Neurology Vol 1 No 3 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i3.35

Abstract

Latar Belakang: Nyeri punggung bawah (NPB) pernah diderita oleh 24.7% dari seluruh pekerja di Indonesia pada tahun 2013. Prevalensi NPB pada perawat ditemukan sebesar 84.2%. Beberapa penelitian melaporkan bahwa tugas administratif seperti duduk dengan durasi lama menjadi salah satu faktor resiko NPB. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh durasi duduk terhadap kejadian NPB pada perawat di Rumah Sakit Atma Jaya. Metode Penelitian: Penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian potong lintang.Jumlah sampel sebanyak 131 perawat Rumah Sakit Atma Jaya, diambil menggunakan metode total sampling.Penelitian dilakukan sejak bulan Januari-Mei 2017 dengan menggunakan kuesioner NPB yang telah divalidasi. Hasil: Sebanyak 40 (30,5%) perawat ditemukan mengalami NPB dalam 12 bulan terakhir. Hasil analisis ditemukan bahwa durasi duduk berhubungan dengan NPB (p=0,000). Hasil analisis untuk jenis kelamin ditemukan tidak bermakna (p=0.211). Hasil analisis untuk obesitas juga ditemukan tidak berhubungan terhadap NPB (p=0.443). Simpulan: Durasi duduk merupakan salah satu faktor resiko terjadinya NPB. Intervensi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengurangi probabilitas terjadinya NPB. Kata Kunci: Nyeri Punggung Bawah, Penyakit Kerja, Perawat, Durasi Duduk, Petugas Kesehatan
RETINOPATI SEBAGAI PENANDA PROGNOSTIK GANGGUAN NEUROLOGIS PADA PENDERITA MALARIA SEREBRAL YANG BERTAHAN HIDUP : SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIK MINI Gosal, Indra Febryan; Prabata, Adam
Callosum Neurology Vol 2 No 1 (2019): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v2i1.49

Abstract

Latar Belakang: Malaria serebral merupakan komplikasi infeksi Plasmodium falciparum yang dapat menyebabkan gangguan neurologis bagi penderitanya yang bertahan hidup. Tujuan: Untuk menentukan apakah retinopati dapat menjadi penanda prognostik gangguan neurologis pada penderita malaria serebral yang bertahan hidup. Metode: Pencarian terstruktur di beberapa sumber data, termasuk Pubmed, Ebscohost, Ovid, dan Proquest, untuk studi kohort. Studi prognosis yang dipilih telah melalui penilaian kritis berdasarkan studi prognosis Oxford CEEBM. Hasil: Tiga penelitian kohort prospektif yang terdiri dari 458 subjek yang memenuhi semua kriteria inklusi, dinilai secara kritis. Gangguan neurologis yang mungkin muncul adalah epilepsi (9-10%), neurodisabilitas baru atau pemeriksaan neurologis abnormal (7,2-23,1%), dan gangguan perilaku yang mengganggu (10,6%). Rasio Odds berkisar dari 31,8-37,2. Simpulan:  Temuan yang tidak konsisten membuat retinopati masih dapat dipertanyakan sebagai penanda prognostik dari gangguan neurologis pada malaria serebral. Namun masih bisa menjadi penanda penting di masa depan dengan penelitian yang ekstensif. Kata kunci : Retinopati, Malaria Serebral, Gangguan Neurologis
TINJAUAN ASPEK RADIOLOGIS FAHR'S DISEASE Gunawan, Jimmy Indarto; Pinzon, Rizaldy Taslim
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Online First
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.19

Abstract

Latar Belakang: Fahr’s disease merupakan penyakit langka saat deposit kalsium abnormal berada di area otak yang mengontrol pergerakan. Kasus: Wanita 54 tahun datang ke mengeluh badan lemah, sulit menelan, demam, dan sulit berbicara. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus, hipertensi dan stroke. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah tinggi dan tonus otot meningkat. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kondisi hiperglikemia. Pemeriksaan computed tomography (CT)-scan pasien menunjukkan gambaran kalsifikasi di ganglia basalis dan kedua hemisfer serebelum. Diskusi: Fahr’s disease merupakan penyakit yang memiliki satu atau lebih gejala gangguan neurologis, kognitif, dan psikiatri secara progresif atau dengan adanya kombinasi dari kalsifikasi ganglia basalis yang simeteris. Pasien pada kasus ini tergolong sebagai Fahr’s disease idiopatik. Penyakit ini bersifat progresif dan memerlukan CT-scan serial untuk mengevaluasi keberhasilan pengobatan. Saat ini belum ada terapi definitif Fahr’s disease, dan terapi masih simptomatik. Simpulan: Penemuan kasus Fahr’s disease memerlukan pemeriksaan yang runtut dan evaluasi CT-scan berkala sembari mencari faktor risiko pasien. Kata Kunci: Fahr’s disease, CT scan, radiologis, gambaran radiologis
HUBUNGAN TEKANAN DARAH PASIEN SAAT MASUK RUMAH SAKIT TERHADAP MORTALITAS PASIEN DENGAN STROKE PERDARAHAN Arindra Putri, Dyanne Paramita; Paryono, Paryono; Setyaningsih, Indarwati; Anggraeni, Rinaras
Callosum Neurology Vol 1 No 1 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i1.2

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan tekanan darah umum terjadi pada fase akut stroke dan berhubungan dengan luaran klinis yang buruk. Hasil yang bervariasi ditunjukkan oleh studi terhadap tekanan darah pada fase akut stroke sebagai prediktor luaran klinis pasien. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tekanan darah pasien saat masuk rumah sakit terhadap mortalitas pasien dengan stroke perdarahan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito. Metode Penelitian: Metode penelitian menggunakan rancangan cohort retrospective dengan analisis independent sample T-Test dan Mann Whitney. Subyek penelitian adalah pasien yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada bulan Januari 2017 hingga Juni 2017. Subyek penelitian didiagnosis mengalami stroke perdarahan berdasarkan hasil pemeriksaan Computed Tomography (CT)-Scan kepala. Hasil: Terdapat 69 subjek penelitian dengan proporsi terbanyak laki laki (60,8%). Analisis bivariat menunjukkan nilai rerata sistolik (190,5 (±30), p=0,00), rerata diastolik (109 (±19,6), p=0,00), rereata Mean Arterial Pressure (MAP) (136 (±21,1), p=0,00) dan median Glukosa Darah Puasa (GDP) (115 (67-298), p=0,032) bermakna secara statistik terhadap kematian pasien dengan stroke perdarahan. Uji multivariat menunjukkan MAP memiliki korelasi positif terhadap mortalitas pasien (r=0,274: p=0,000). Simpulan: Nilai MAP berhubungan dengan mortalitas pada pasien dengan stroke perdarahan. Kata Kunci: Stroke Perdarahan, Tekanan Darah Masuk Rumah Sakit, Mortalitas, Mean Arterial Pressure
GAMBARAN DEFISIT NEUROLOGIS PASIEN SINDROM KORONER AKUT PASCA TINDAKAN PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION Tamaroh, Emi; Asmedi, Ahmad; Setyopranoto, Ismail
Callosum Neurology Vol 1 No 1 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i1.3

Abstract

Latar Belakang: Komplikasi neurologis pasca tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) jarang terjadi, namun berkaitan dengan mortalitas dan morbiditas tinggi. Defisit neurologis berupa gangguan gaya berjalan dan cacat visual akibat infark lobus oksipital dan serebelar paling sering terjadi, dan terkadang tidak disadari oleh para ahli jantung. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran defisit neurologis yang terjadi pada pasien Sindrom Koroner Akut (SKA) setelah tindakan PCI di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito. Metode: Studi deskriptif data rekam medis pasien SKA yang mengalami defisit neurologis saat dan pasca prosedur PCI yang dikonsulkan ke Bagian Neurologi RSUP Dr. Sardjito pada Januari 2016 hingga Juni 2017. Hasil: Sebanyak 1.409 pasien yang menjalani prosedur PCI hanya 34 (2,4%) pasien yang mengalami defisit neurologis dan didiagnosis sebagai stroke. Diagnosis terbanyak adalah stroke infark pada 33 (97,1%) pasien. Sebanyak 25 (73,5%) pasien mengeluhkan gejala multipel sedangkan 9 (26,5%) bergejala tunggal. Defisit neurologis tersering adalah defisit motorik (25 pasien) dan penurunan kesadaran (11 pasien). Pemeriksaan Computed Tomography (CT)-scan kepala menunjukkan lesi multipel pada 21 (61,8%) pasien. Lokasi lesi terbanyak terjadi di lobus parietalis pada 11 pasien. Sirkulasi anterior (74%) lebih banyak terlibat dibandingkan sirkulasi posterior (26%). Simpulan: Defisit neurologis setelah tindakan PCI bervariasi, terbanyak adalah defisit motorik dan penurunan kesadaran. Kata Kunci: Defisit Neurologis, Stroke, Sindrom Koroner Akut, Percutaneous Coronary Intervention
KORELASI KUALITAS TIDUR TERHADAP TINGKAT DEPRESI, CEMAS, DAN STRES MAHASISWA KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA BALI Hendi Aryadi, I Putu; Andra Yusari, I Gusti Agung Ayu; Dewi Dhyani, Ida Ayu; Eka Kusmadana, I Putu; Sudira, Putu Gede
Callosum Neurology Vol 1 No 1 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i1.4

Abstract

Latar Belakang: Mahasiswa dihadapkan dengan berbagai kegiatan akademik dan non akademik hingga terkadang menyita waktu tidur, sementara waktu tidur yang cukup dibutuhkan untuk menjaga kestabilan emosi. Tujuan: mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan masalah emosional (tingkat depresi, cemas, dan stres) mahasiswa pre-klinik Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana. Metode Penelitian: Studi cross-sectional dilakukan pada mahasiswa kedokteran pre-klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Responden melengkapi kuesioner data demografik, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan kuesioner Depression, Anxiety, and Stress Disorder Scale (DASS). Hasil: Sebanyak 132 responden terlibat dalam studi ini dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 37,1% dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 62,9%, dengan rentang usia 18-22 tahun. Indeks kualitas tidur secara umum memiliki korelasi positif dengan tingkat depresi (r=0,32; p<0,001), tingkat cemas (r=0,26; p=0,002), dan tingkat stres (r=0,36; p<0,001) mahasiswa. Simpulan: Kualitas tidur secara umum berhubungan signifikan dengan tingkat depresi, cemas, dan stres mahasiswa kedokteran pre-klinik di Universitas Udayana, Bali. Penting bagi pihak institusi maupun badan kemahasiswaan guna menekankan program yang mendukung kualitas tidur dan kesehatan psikis mahasiswa. Kata Kunci: Mahasiswa Kedokteran, Stress, Kecemasan, Depresi, Kualitas Tidur
PERBEDAAN LUARAN FUNGSIONAL PASIEN STROKE ISKEMIA AKUT DENGAN KONDISI HIPOALBUMINEMIA DAN TANPA HIPOALBUMINEMIA Citra Mahardina, Dewa Ayu; Setyopranoto, Ismail; Dananjoyo, Kusumo; Darmawan, Anton
Callosum Neurology Vol 1 No 1 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i1.5

Abstract

Latar Belakang: Pasien yang memiliki hipoalbuminemia saat masuk rumah sakit berisiko tinggi mengalami komplikasi, luaran fungsional yang buruk dan berhubungan dengan peningkatan risiko kematian. Penilaian luaran fungsional dengan Index Barthel dianggap sensitif untuk menilai disabilitas serta mudah untuk dikerjakan. Tujuan: Untuk membandingkan luaran fungsional pasien stroke akut dengan kondisi hipoalbuminemia dan tidak hipoalbuminemia. Metode Penelitian: Penelitian analitik observasional menggunakan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian diambil dari rekam medis pasien stroke infark dengan kondisi hipoalbuminemia dan tanpa hipoalbuminemia. Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil Computed Tomography Scan. Metode statistik uji Mann Whitney digunakan untuk membandingkan luaran fungsional pasien stroke iskemia akut dengan kondisi hipoalbuminemia dan tanpa hipoalbuminemia. Hasil: Rerata skor Indeks Barthel kelompok hipoalbuminemia sebesar 40,33 ± 24,81 sedangkan kelompok tanpa hipoalbuminemia sebesar 87,67 ± 24,1. Uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang bermakna (p= 0,00). Simpulan: Terdapat perbedaan nilai luaran fungsional pada pasien stroke akut dengan kondisi hipoalbuminemia dan tanpa hipoalbuminemia. Kata Kunci: Stroke Iskemik Akut, Hipoalbuminemia, Albumin, Indeks Barthel
KORELASI ANTARA NUMERIC RATING SCALE DENGAN PENINGKATAN MONOSIT PADA PASIEN HERNIA NUCLEUS PULPOSUS LUMBAL Putri Adisti, Sili; Yudiyanta, Yudiyanta; Subagya, Subagya; Anggraini, Rinaras
Callosum Neurology Vol 1 No 1 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i1.6

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan infiltrasi makrofag yang berasal dari sel monosit menyebabkan peningkatan ekspresi sitokin proinflamasi berupa tumor necrosis factor-α (TNF-α), interleukin IL-1β, IL-4, IL-6, IL-8, dan IL-12), prostaglandin E2 (PGE2), nitrit oxide (NO), serta interferon-γ (IFN-γ), dan merupakan kunci terjadinya nyeri pada degenerasi intervertebral disc (IVD). Inflamasi dan derajat keparahan nyeri berkaitan dengan peningkatan persentase jumlah monosit pada hitung jenis leukosit darah tepi. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara numeric rating scale (NRS) dengan peningkatan monosit pada pasien hernia nucleus pulposus yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito. Metode Penelitian: studi potong lintang terhadap pasien hernia nucleus pulposus lumbal berdasarkan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Uji korelasi menggunkan Uji Pearson. Hasil: Sebanyak 34 pasien HNP lumbal dengan subjek laki-laki 15 (44,1%) orang dan perempuan 19 (55,9%) orang dengan rerata usia 59 tahun (SD±13,33). Rerata persentase jumlah monosit 5,38% (SD±2,60, CI 4,48-6,29) dan rerata derajat nyeri 4,74 (SD±2,66, CI 3,81–5,66). Uji korelasi Pearson antara persentase jumlah monosit dengan skor NRS adalah r = 0,955; p<0,001. Simpulan: Terdapat hubungan positif persentase jumlah monosit dengan derajat nyeri pasien HNP lumbal. Kata Kunci: Hernia Nucleus Pulposus, Lumbal, Monosit, Inflamasi, Numeric Rating Scale
LAPORAN KASUS SERI: STROKE KARDIOEMBOLI PADA PASIEN DENGAN ATRIAL FIBRILASI Yoesdyanto, Kennytha; Tertia, Clarissa; Irfani, Imam; Nara, Mario GB
Callosum Neurology Vol 1 No 1 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i1.7

Abstract

Latar Belakang: Atrial fibrilasi (AF) meningkatkan 4-5 kali terjadinya stroke iskemia. Insidensi stroke terkait AF berkisar 15-20%, dengan prevalensi antara 5-10 kasus per 1.000 populasi usia 65 tahun ke atas. Kasus: Kasus 1: Seorang wanita berusia 85 tahun menderita diabetes mellitus dengan riwayat atrial fibrilasi (AF) persisten yang tidak diobati mendadak mengalami hemiparesis dekstra dan disartria sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan penunjang menunjukkan normoventricular-respons atrium fibrilasi dan infark serebri multipel di ganglia basalis bilateral terutama sisi kiri. Pasien diterapi angiotensin-receptor blocker, antiplatelet, insulin, dan neuroprotektor dan dirawat selama 10 hari. Kasus 2: Seorang wanita berusia 87 tahun menderita hipertensi dengan riwayat atrial fibrilasi AF persisten yang tidak diobati mendadak mengalami disfagia, afasia global, dan hemiparesis dekstra sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan penunjang menunjukkan normoventricular-respons atrium fibrilasi dan multipel infark di daerah ganglia basalis bilateral dan substansia alba periventrikuler lateralis bilateral. Pasien diterapi antihipertensi, antiplatelet, dan neuroprotektor dan dirawat selama 10 hari. Diskusi: Kondisi AF sebagai faktor risiko utama stroke kardioembolik pada kedua pasien. Penyebaran listrik ektopik menyebabkan irreguleritas kontraksi jantung yang menghasilkan stasis darah dan terbentuknya trombus yang sewaktu-waktu dapat terlepas menjadi emboli pada arteri serebral. Simpulan: Manajemen yang tepat terhadap faktor risiko dapat mengurangi kejadian stroke iskemia dan memperbaiki prognosis pasien. Kata Kunci: Atrium Fibrilasi, Stroke Iskemia, Kardioemboli

Page 1 of 4 | Total Record : 32