Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam
ISSN : 26554909     EISSN : -
Jurnal Legitima: Jurnal hukum keluarga islam diterbitkan oleh Program Studi Al Ahwal Al syakhsiyah Islam Institut Agama Islam Tribakti Kediri. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam satu tahun yakni bulan Agustus dan bulan Pebruari. Fokus dari Jurnal ini mengkaji penelitian dibidang pemikiran hukum Islam dan hukum keluarga Islam, baik penelitian literasi atau pun penelitian lapangan. Cakupan Kajian jurnal ini dalam bidang pemikiran islam dan pemikiran hukum islam yang berkaitan dengan pernikahan, talak cerai, waris, wasiat, zakat dan shodaqoh.
Articles
6
Articles
Cerai Gugat Dan Implikasinya Terhadap Hak-Hak Finansial Perempuan

Fakhria, Sheila

Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2018): Legitima : Jurnal Keluarga Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hukum keluarga merupakan hukum yang menyangkut di dalamnya banyak hak perempuan. Indonesia berupaya mewujudkan kesetaraan dan menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan dalam aturan tentang perkawinan. Namun, tetap saja banyak hal yang masih bisa dikiritisi oleh para pemikir tentang keselarasan undang-undang dengan realita yang berkembang pada masyarakat. Hak pasca perceraian merupakan upaya memberdayakan harkat dan martabat perempuan. Namun, mengenai hak-hak pasca perceraian khususnya hak financial bagi perempuan masih menjadi problematika atas ketidakseimbangan kuantitas hak yang diperoleh ketika istri bercerai atas kehendaknya atau kehendak suaminya. Regulasi yang memberikan ketentuan berbeda serta kewenangan hakim dalam memustuskan perkara juga ikut andil dalam menentukan terjaminnya hak perempuan pasca perceraian.

Interelasi Qowaid Usul Dan Fiqhiyah Sebagai Sebagai Landasan Hukum Islam Yang Universal

Sofwan, Abbas

Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2018): Legitima : Jurnal Keluarga Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Qowaid Ushuliyah dan Qowaid fiqhiyyah adalah kaidah-kaidah universal yang didalamnya terkandung bagian-bagian persoalan yang sama, yang dapat dikelompokkan dalam satu garis besar yang sama yang kemudian melahirkan berbagai macam cabang-cabang fiqh. Kaidah-kaidah hukum tidaklah disusun dalam suatu kurun waktu tertentu. Hukum-hukum itu baru tersusun secara sistematis di kemudian hari sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan ijtihad di kalangan para pakar dan pendiri madzhab dalam hukum islam. Hukum Islam dan ijtihad dalam hukum Islam dan keberadaan Qowaid Ushuliyah dan Qowaid fiqhiyyah, ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, saling mengisi dan melengkapi. Interelasi kedua kaidah hukum ini adalah bahwa Qowaid Usuliyah berfungsi sebagai landasan hukum yang bersifat fundamental sedangkan Qowaid Usuliyah bersifat instrumental dalam menyimpulkan dan merangkai teknis penerapan hukum tersebut. Selain itu interelasi antara Qowaid Ushuliyah dan Qowaid Fiqhiyyah adalah sebagai connector penghubung antara kesempurnaan Illahiah dengan pemikiran fana manusia dalam memahami maksud dari sang pencipta alam semesta Allah SWT.

Penerapan Asas Proporsionalitas Dalam Proses Pembagian Waris Anak Angkat

Fathoni, M. Alfan

Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2018): Legitima : Jurnal Keluarga Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Maraknya adopsi anak di Indonesia karena dikarenakan besarnya harapan orang tua terhadap bayi dan cinta yang diharapkan untuk masa depan. Ternyata hal ini menyisakan permasalahan di kemudian hari, yaitu masalah kewarisan. Fiqh tidak mengatur pembagian harta waris bagi anak  angkat baik melalui wasiat ataupun pewarisan. Pengabaian ini diakomodir dalam Kompilasi Hukum Islam sebagaimana tercantum dalam Pasal 209 yaitu: "Anak-anak yang tidak diadopsi akan menerima tetapi diberikan dipinjam sebanyak 1/3 dari orang tua angkat. Tulisan ini mengkaji tentang penerapan asas proporsionalitas sebagai solusi dalam penyelesaian waris anak angkat selain adanya ketentuan wasiat wajibah yang ditetapkan dalam Kompilasi Hukum Islam.

Hermeneutik Amina Wadud; Upaya Pembacaan Kontekstual Teks Keagamaan

M, Aspandi

Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2018): Legitima : Jurnal Keluarga Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Teks keagamaan diyakini sebagai hudan li annas yang mengandung nilai-nilai universal. Prinsip-prinsip universal diyakini relevan dalam setiap tempus dan locus. Asumsi tersebut berimplikasi bahwa prinsip-prinsip universal dapat dijadikan pijakan dan diimplementasikan dalam rangka menjawab problematika kontemporer dan tuntutan perkembangan zaman yang bersifat temporal dan partikular. Dalam sejarah perkembangan pemikiran hukum Islam, metode penafsiran teks keagamaan terus berubah dan berkembang. Dua dari banyak kecenderungan yang berbeda sering disebut sebagai pendekatan ‘tekstualis’ dan ‘kontekstualis. Di era modern, pendekatan kontekstualis, sebagai sebuah alternatif, mulai mendapatkan perhatian. Para kontekstualis terlibat tidak hanya dalam analisis linguistik, tetapi juga mengadopsi pendekatan dari berbagai bidang seperti hermeneutika dan teori sosial. Amina Wadud merupakan salah satu tokoh yang dapat dikategorikan sebagai kontekstualis modern berusaha mengembangkan cara-cara baru untuk mendekati al-Qur’an.

Dialektika Hak Asasi Manusia (Ham) Internasional Dengan Hukum Islam

Herman, Izzul

Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2018): Legitima : Jurnal Keluarga Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Dalam kajian hak asasi manusia internasional dan hukum Islam ini, Mashood A. Baderin ingin mencoba melakukan dialog atau menghubungkan antara hukum internasional yakni tentang hak asasi manusia internasional dengan agama. Dua aspek yang berbeda, namun dalam waktu yang sama ini oleh Mashood A. Baderin akan dibuat konsep hubungan antara agama dan hukum internasional. Pisau analisis yang digunakan adalah ”analisis sejarah” dengan pendekatan yang berbeda. Dia menganalisis iklim saat ini dari perspektif sejarah spektrum perspektif teoritis yang berbeda. Ia menawarkan narasi dari interaksi yang sesang berlangsung antara agama dan hukum Internasional, dan juga menawarkan analisis bagaimana tentang interaksi yang dapat diakui, dipromosikan dan bisa digunakan untuk menyelaraskan wilayah ketegangan internasional saat ini, dan mendorong pengembangan hak asasi manusia secara universal. Dai melihat adanya ketidak cocokan antara hukum Islam dan HAM. Hal ini disebabkan hukum Islam berdasarkan pada margin mursalah (kesejahteraan), sedang HAM berdasar pada margin apreciation.

Puasa Senin Dan Kamis: Sebuah Telaah Ma’anil Hadith

Karomi, Ahmad

Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2018): Legitima : Jurnal Keluarga Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Di abad dua puluh ini masih banyak manusia yang melakukan puasa dengan berbagai motif dan dorongan. Puasa dalam arti “menahan” dengan niat ibadah, menahan nafsu dari hal-hal yang disukai berupa makanan, minuman, bersetubuh, dan menahan dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala dalam berpuasa, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari dengan mengharap ridha Allah SWT. Puasa dilakukan antara lain dengan tujuan untuk memelihara kesehatan, pengendalian diri, dan untuk memperoleh taqwa, tujuan tersebut bisa dicapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Beberapa puasa sunnah yang amat digemari dan dilestarikan oleh masyarakat khususnya di Indonesia adalah puasa Senin dan Kamis. Kebanyakan mereka beralasan bahwa puasa Senin dan Kamis mempunyai beberapa keistimewaan (fadlail) berupa pahala dan hikmah, terlebih puasa Senin. Namun apakah hanya berupa pahala itukah keistimewaannya? Oleh karena itu, tulisan ini lebih menitikberatkan kepada dua puasa sunnah tersebut dalam kajian ma’anil hadith. Sebab terdapat beberapa perbedaan redaksi yang semestinya perlu dikaji lebih mendalam. Terlebih, puasa hari Senin memiliki nilai historis tersendiri yang akan penulis kemukakan.