Jurnal Al-Fanar
ISSN : 26224658     EISSN : 26222280
The journal of the Science of Ushuluddin (Al-Fanar) is a journal under the auspices of Prodi's science of Qur'an and Tafsir (IAT) and Faculty of Usul al Dawah Al-Quran Sciences Institute (IIQ) Jakarta. This journal is designed to accomodate and mendialogkan scientific paper the researchers, professors, students, practitioners and so on. Review journals covering a wide range of matters relating to study of the Quran, Koran, Qur'an living Ulumul, thought the character of the Qur'an, tafseer, Tafseer, Ulumut and so on.
Articles
11
Articles
Dinamika Tes Peringkat Hafalan

Amalia, Aisyah Nur

Jurnal Al-Fanar Vol 2 No 1 (2019): Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Selain basis kitab, hafalan Al-Qur’an juga merupakan basis utama dari berbagai Pondok Pesantren yang ada di Nusantara ini. Dengan teknik dan metode yang telah banyak digunakan, salah satu tradisi evaluasi hafalan yang khas dilakukan oleh pondok pesantren An-Nur Ngrukem adalah dengan tes peringkat hafalan. Praktiknya, dalam menghadapi tes peringkat hafalan terdapat berbagai dinamika yang dialami oleh para santri putri. Artikel ini menjelaskan bagaimana dinamika santri putri dalam menghadapi tes peringkat hafalan terkait studi living Qur’an di Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem. Penelitian studi kasus yang menjadi dasar tulisan ini, membuktikan adanya faktor internal dan eksternal pada dinamika santri putri dalam menghadapi tes peringkat hafalan. Diantaranya, faktor internal; masa puber, kesiapan mental, keuletan ndandani hafalan, dan kesabaran. Sedangkan faktor eksternal; perlunya tips dari dhuriyyah dan pengurus, ketatnya persyaratan dan ketentuan tes, semakin banyaknya santri di Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem dan perlunya manajemen waktu.

Integritas Intelektual Menurut Al-Qur’an

Mahfudzi, Mahfudzi

Jurnal Al-Fanar Vol 2 No 1 (2019): Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Integritas Intelektual dapat mencegah konflik melalui proses pengkombinasian antara literasi, kompetensi, dan karakter sebagai buah dari penyatuan sistem kerja kepala, tangan, dan hati melalui  pendidikan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak sependapat dengan V. Henry Douglas (2003), yang menyatakan bahwa tindakan arogan hanya dapat dicegah dengan literasi dan kompetensi, tanpa melibatkan unsur karakter. Selanjutnya penelitian ini mendukung Aiden P Gregg dan Nikhila Mahadevan Anthony Gidden’s(2008), Paul. F Kniter (2010), Thomas Metjinger (2011), Nasih A. Ulwan (1997), Mohammad Kamal Hasan (2014), Alfred Binet dan Theodore Simon (2012), William H. Calvin (1994), Al-Mawardi (2009) yang menyatakan bahwa karakter moral dan karakter kinerja berkontribusi besar dalam menciptakan persatuan dan mampu mencegah berbagai bentuk tindak kekerasan dan konflik multi sektoral. Penelitian yang dipakai adalah penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif analisis deskiptif dengan pendekatan filosofis terdiri dari analisa linguistik dan analisa konsep. Dalam hal ini konsep yang dikaji adalah konsep Integritas Intelektual menurut Al-Qur’an. Integritas Intelektual adalah bagian dari kajian filsafat etika (berten 1993, algermond.black 1993) yang kemudian dikaitkan dengan pendidikan. Sementara sumber utama penelitian ini adalah kitab-kitab tafsir Al-Qur’an dan hadis.

Kepemimpinan Non-Muslim dalam Wacana Tafsir

Askan, Fatimah

Jurnal Al-Fanar Vol 2 No 1 (2019): Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode tafsir mauḍū’i. Melalui metode ini, peneliti menelusuri dan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyinggung tentang kepemimpinan non-muslim, yakni ayat-ayat yang mengandung kata awliyā’, kemudian ayat-ayat tersebut dibahas dan dikaji secara mendalam hingga menjadi suatu landasan atas jawaban masalah pokok yang tengah dibahas. Kajian secara historis juga digunakan, mengingat kajian ini berhubungan dengan komunitas Yahudi dan Nasrani. Pendekatan ini akan tampak pada kajian latar belakang turunnya ayat, pengungkapan keadaan Ahl al-Kitāb saat Al-Qur’an diturunkan serta interaksi mereka dengan kaum muslimin. Dari sisi historis ini akan diketahui perjalanan interaksi sosial mereka, selanjutnya digunakan sebagai penilaian secara obyektif. Terakhir, analisa yang mendalam atas hasil penelusuran dan pengumpulan informasi dari ayat-ayat Al-Qur`an berdasar dua metode di atas, dengan sudut analisa terfokus pada kepemimpinan non-muslim dalam tiga lingkup; lingkup keluarga, lingkup masyarakat dan lingkup negara.

Prinsip Komunikasi Al-Qur’an Dalam Menghadapi Era Media Baru

Iskandar, Isman

Jurnal Al-Fanar Vol 2 No 1 (2019): Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini berusaha merekontruksi kembali term komunikasi dalam Al-Qur’an dengan pendekatan yang lebih holistik. Term yang ada semuanya saling menguatkan dan membentuk konfigurasi makna untuk tema besar komunikasi Islam. Setidaknya empat domain media massa Islam; dakwah, tabligh, amar ma’ruf nahi mungkar dan akhlak (communication, information, change and development, and wisdom). Analisis dari key concept komunikasi melahirkan prinsip komunikasi dalam menghadapi media baru  yang disarikan dari nilai-nilai Al-Qur’an. Prinsip tersebut kemudian dijabarkan dalam bentuk: 1) Berkomunikasi dengan cara dan pesan yang baik 2) Kejujuran informasi dan kewajaran 3) Verifikasi informasi dan bertanggung jawab, 4) Mengajak ke jalan Tuhan (Islam) dan atau bedebat dengan cara yang paling baik 5) Antisipasi gangguan dan pelanggaran komunikasi.

Solusi Al-Qur’an Terhadap Ujaran Kebencian

Bakir, Moh.

Jurnal Al-Fanar Vol 2 No 1 (2019): Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Artikel ini ingin menelusuri pandangan Al-Qur’an terhadap ujaran kebencian dengan pendekatan teori maṣlaḥah Najmuddin al-Ṭufi dalam kitab Risālah fī Ri’āyah al-Maṣlaḥah. Temuan penulis menunjukkan bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci universal menekankan pentingnya saling menjaga tindakan yang berpotensi menimbulkan kegaduhan, konflik,disintegrasi sosial serta menyakiti pihak lain, baik dalam bentuk ucapan, sikap, dan perbuatan. Sementara maṣlaḥah menurut imam al-Ṭufi adalah suatu yang keberadaannya menimbulkan keserasian dan tidak menimbulkan kezaliman atau madarat terhadap apapun dan siapapun. Maka tindakan provokatif, seperti namimah, mengadu domba, hoax, menyebarkan ujaran kebencian dan hal-hal yang dapat menyulut kemarahan dari pihak yang lain dapat ditekan jika sama-sama memperhatikan kemasalahatan bersama. Menurutnya, secara hukum, apabila suatu perbuatan sudah jelas dalil keharamannya dalam nash seperti keharaman mengumpat, mengadu domba, ujaran kebencian, hoax, zina, judi, khamar dan sebagainya, maka hukumnya adalah haram meskipun hal-hal tersebut memiliki unsur kebaikan bagi sebagian orang terutama pelakunya.

Moderatisme Islam Dalam Konteks Keindonesiaan

Zamimah, iffaty

Jurnal Al-Fanar Vol 1 No 1 (2018): Tafsir Nusantara
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini membuktikan bahwa moderasi Islam telah dikenal lama dalam tradisi Islam. Hal ini sekaligus membantah anggapan bahwa Islam merupakan ajaran agama yang mengajarkan kekerasan. Penelitian ini terbukti dengan ayat-ayat Al-Qur’anyang telah menjelaskan prinsip moderat (washatiyah). Melalui ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, Quraish Shihab menafsirkan moderatisme Islam yang dapat diaplikasikan pada konteks Indonesia. Proses ini dilakukan dengan mengeksplorasi penafsiran yang dilakukan oleh M. Quraish Shihab melalui banyak karyanya seperti Tafsir Al-Mishbah, Wawasan Al-Qur’an, Membumikan Al-Qur’an, dan lain-lain.

Rekonstruksi Khilafah Dalam Al-Qur’an

Inwan, Mabroer

Jurnal Al-Fanar Vol 1 No 1 (2018): Tafsir Nusantara
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tulisan ini mengkaji pandangan Quraish Shihab terhadap dalil-dalil yang digunakan HTI dan membantah atas legitimisi konsep khilâfah pada tiga aspek, pertama,  kewajiban menegakkan hukum Islam pada QS. al-Mâ’idah [5]: 48, kedua, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, dan ketiga, kewajiban taat pada Allah, Rasul, dan ulil amr. Dari tiga landasan ini, Quraish Shihab memandang kewajiban menegakkan hukum Islam pada QS. al-Mâ’idah [5]: 48 dianggap perlu untuk menerapkan hukum Allah, hanya saja tidak menitik beratkan hukum Allah secara mutlak. Sedangkan amar ma’ruf nahi munkar pada QS. Ali ‘Imrân  [3]: 110  dinilai kewajiban amar ma’ruf terkait kewajiban mengajak kepada kebaikan yang sifatnya ma’rûf  sejalan dengan nilai kebaikan pada kultur di masyarakat, sama halnya kewajiban mencegah melakukan sesuatu yang dapat merusak. Pada QS. an-Nisâ’ [4]: 59 Quraish Shihab tekankan kewajiban taat pada Allah, Rasul, dan ulil amr sebuah kewajiban, hanya saja kewajiban taat pada ulil amr adalah mereka yang membawa nilai kebaikan diantaranya para penguasa/pemerintah, makna lain adalah ulama, dan terakhir yang mewakili masyarakat dalam berbagai kelompok dan profesinya. Mengurai demikian, penulis merujuk pada karyanya Tafsir al Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an dan beberapa karya lainnya. Dengan literatur tafsirnya, penulis mengkaji dan menganalisis dengan kerja pendekatan tafsir dan deskritif analitik dan komparatif dengan penafsiran HTI.

Tapeséré Akorang Mabbasa Ogi

Arafah, Teguh

Jurnal Al-Fanar Vol 1 No 1 (2018): Tafsir Nusantara
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Banyak orang Muslim pribumi menyusun kitab tafsir dengan berbagai jenis bahasa dan metode yang digunakan. Kemudian muncullah penyebutan tafsir ”pribumi”, yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menyebut literatur tafsir yang muncul dari kreasi para muslim Nusantara, baik yang asli maupun keturunan. Misalnya, Tarjumân Mustafîd karya ’Abd Rauf Singkel menggunakan bahasa Melayu, Al-Ibrîs li Ma'rifat at-Tafsîr Al-Qur’an al-'Azîz karya KH. Bishri Musthafa menggunakan bahasa Jawa, Tahrîf Qulûb al-Mu'minîn fî Tafsîr Kalimat Sûrat Yâsîn karya Ahmad Sanusi ibn ’Abd Rahim. Pada artikel ini berupaya mengungkap salah satu literatur tafsir Nusantara dari tanah Bugis yakni AGH. Abd Muin Yusuf dengan karyanya Tapeséré Akorang Mabbasa Ogi bersama  tim Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Sulawesi Selatan. Kitab ini bernama kitab Tapeséré Akorang Mabbasa Ogi pemberian nama tersebut  sebagai pertimbangan praktis untuk memudahkan para pembaca mengetahui dan mengingat kitab tersebut. Agar masyarakat Bugis mudah mencapai tujuan Al-Qur’an,  baik dalam aktivitas keberagamaanya maupun kehidupan sehari- harinya. Kitab Tapeséré Akorang Mabbasa Ogi jika dilihat dari segi penyajiannya termasuk kategori tafsir Tahlili, tetapi dalam uraiannya tidak menggunakan cara kerja seperti dengan tafsir yang menggunakan metode ini. Dengan menganalisis berbagai aspeknya secara detail, terutama aspek kebahasaan. Hal itu dimaksud  untuk memudahkan pembaca tafsirnya  untuk tidak disibukkan dengan analisis-analisisnya.

Identitas Âzar Dalam Literatur Tafsir Nusantara

Sukma Baihaki, Egi

Jurnal Al-Fanar Vol 1 No 1 (2018): Tafsir Nusantara
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Âzar is one character names enshrined in the Qur'an, which appears in the story of Ibrâhîm's preaching dialogue. The figure of Âzar into a debate among historians as well as mufassir.  The difference of views regarding the identity of Âzar, closely related to the sources of the Torah, which was used as a comparison to explain the figure of Âzar mentioned in the Qur'an. The identity of Âzar in the end, a debate in the realm of theology, as it pertains to the sanctity of nasab to the prophets. Differences of interpretation regarding the identity of Âzar keeps going, in every time and every interpretation of written. The coming of Islam to the archipelago, at the same time the entrance for everything related to the teachings of religion including knowledge and debate theology. With the method of comparative thematic and theological approach, it can be concluded that, the issue of the identity of the Âzar also developed in the literature the interpretation of the archipelago. There are three views on the identity of Âzar in the literature the interpretation of the archipelago. First, it holds that Âzar was Ibrâhîm's father which included these groups is Hasbi, Hamka was the Tafsir Kemenag RI. Second, it holds that Âzar was Ibrâhîm's uncle, which useudes this group is al-Nawawi and Quraish Shihab. A second view of the exegetes this Archipelago has theological ramifications as it did on the classical exegetes. For those who consider Âzar was Ibrâhîm's biological father, then they are not disputed there was a pagan Prophet who parents, but for those who think that their father is not  Âzar theologically they hold on the sanctity of nasab the Prophet spared from the pagan ancestors.

Kritik Atas Penafsiran Ayat-Ayat Khilafah

Lufaefi, Lufaefi

Jurnal Al-Fanar Vol 1 No 1 (2018): Tafsir Nusantara
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Al-Qur’an ialah wahyu yang menjelaskan segala persoalan. Termasuk di dalamnya ialah persoalan kepemimpinan (khilâfah). Terlepas seperti apa bentuk khilâfah dalam Al-Qur’an, yang pasti tidak diragukan lagi bahwa khilâfah menjadi sorotan kalam ilahi tersebut. Karena persoalan apapun pasti disinggung dalam Al-Qur’an. Akan tetapi, bagaimana jika interpretasi ayat dibelokkan kepada sesuatu yang bukan maksud ayat itu sendiri? Melalui pendekatan analisa konten dan konteks, dalam tafsir al-Wa’ie banyak ditemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang diinterpretasi dengan jumping conclusion, seperti QS. al-Baqarah [2]: 30, al-Mâ’idah [5]: 49 dan QS. an-Nisâ’ [4]: 59. Ayat-ayat ini secara jelas tidak membahas khilâfah, akan tetapi ditafsiri Rokhmat S. Labib sampai pada kesimpulan sebagai kewajibkan mendirikan institusi Negara Islam (khilâfah islâmiyyah). Penafsiran demikian sungguh jauh dari apa yang ingin disampaikan ayat, bahkan bernilai mempolitisasi ayat-ayat Al-Qur’an.