cover
Filter by Year
e-Farmaka
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles
385
Articles
TEKNIK MENINGKATKAN KELARUTAN OBAT : REVIEW

Dara, Alicia Ima, Husni, Patihul

Farmaka Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.73 KB)

Abstract

Kelarutan merupakan salah satu parameter penting untuk mencapai konsentrasi terapetik obat dalam sirkulasi sistemik , sehingga menghasilkan respon farmakologis yang diinginkan. Obat dengan kelarutan rendah adalah masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan formulasi obat baru. Lebih dari 40% senyawa baru yang dikembangkan di industri farmasi memiliki kelarutan yang buruk dalam air, padahal untuk dapat terabsorpsi obat harus dapat melarut terlebih dahulu. Artikel ini berisi ulasan mengenai berbagai teknik yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat melalui modifikasi obat secara fisik dan kimia seperti pengurangan ukuran partikel, kristalisasi, pembentukan garam, dispersi padat, nanosuspensi, dan kriogenik

REVIEW: AKTIVITAS IMMUNOMODULATOR TANAMAN SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees)

Alkandahri, Maulana Yusuf, Subarnas, Anas, Berbudi, Afiat

Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Artikel ini mengulas tentang aktivitas immunomodulator tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees.) yang digunakan sebagai terapi alternatif dalam meningkatkan sistem imunitas tubuh. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak diteliti saat ini, terutama aktivitas immunomodulator yang dimilikinya. Aktivitas immunomodulator dari sambiloto ini disebabkan karena adanya kandungan senyawa aktif berupa deoxyandrographolide, andrographolide, 14-deoxy-11, neoandrographolide, 12- didehydroandrographolide, homoandrographolide, diterpenoid dan flavonoid yang terkandung di dalam sambiloto. Sebagai agen immunomodulator, sambiloto dapat digunakan sebagai immunostimulator yang meningkatkan respon imun saat kekebalan tubuh menurun, dan juga bisa menjadi imunosupresor yang dapat menurunkan respon kekebalan tubuh saat sistem kekebalan tubuh meningkat melebihi kondisi tubuh normal. Selain itu, sebagai immunomodulator, sambiloto juga mampu menormalkan kondisi tubuh meskipun terjadi infeksi.Kata kunci : Sambiloto, Andrographis paniculata Nees., Immunomodulator, Andrographolide

Studi in vitro dan penambatan molekuler senyawa flavonoid pada inducible nitric synthase (iNOS)

Patala, Recky

Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Beberapa flavonoid, termasuk turunan kuersetin, telah dilaporkan menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap Inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS), sebuah isoenzim yang bertanggung jawab dalam pembentukan nitric oxide (NO) baik penghambatan secara in vitro maupun penambatan molekuler. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi dari senyawa flavonoid dan beberapa turunan kuersetin pada iNOS dengan metode in vitro dan penambatan molekuler. Lima senyawa flavonoid menunjukkan aktivitas sebagai antiinflamasi dalam penghambatan iNOS secara in vitro berdasarkan nilai IC50 yang diperoleh, senyawa tersebut diidentifikasi terhadap sel lisat J774A.1 dan RAW 264.7 menggunakan analisis western blot. Kemudian sepuluh turunan kuersetin digunakan sebagai ligan untuk penambatan molekuler. Struktur iNOS diperoleh dari data PDB (http://www.rcsb.org) dan studi penambatan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak penambatan molekuler. Data hasil simulasi berupa Energi ikatan bebas Gibs (ΔGbind) dan ikatan hidrogen pada residu asam amino untuk menganalisis kestabilan interaksi antara ligan dan sisi aktif iNOS. Hasil penambatan molekuler yang diperoleh adalah Energi ikatan bebas Gibs (ΔGbind) yang bernilai negatif, ini menunjukan bahwa reaksi ikatan yang terjadi bersifat spontan atau stabil. 

Formulasi Gel Aromaterapi Dengan Basis Karagenan

SOFIANI, VALENTINE, Sriwidodo, Sriwidodo, Chaerunisaa, Anis Yohana

Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penggunaan aromaterapi dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak dan beraneka ragam bentuk serta kegunaannya. Sediaan aromaterapi yang beredar di pasaran, diantaranya adalah lilin aromaterapi, dupa, dan sabun aromaterapi. Namun, sediaan aromaterapi lain yang dapat digunakan adalah gel aromaterapi. Gel aromaterapi ini menggunakan minyak atsiri yaitu minyak lemon. Komponen utama yang digunakan sebagai polimer pembuatan gel aromaterapi ini adalah karagenan kappa yang merupakan hasil ekstraksi dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula gel aromaterapi yang tepat dengan basis karagenan, mengetahui karakterisasi, dan stabilitas gel aromaterapi dengan basis karagenan. Metode penelitian ini meliputi optimasi basis gel dengan konsentrasi karagenan 2%;2,5%;3%;3,5%;4%, evaluasi basis gel, formulasi gel aromaterapi dan evaluasi gel aromaterapi. Evaluasi yang dilakukan meliputi pengujian organoleptis, pengujian sineresis gel, pengujian total penguapan zat cair dan persen bobot sisa, dan pengujian kekuatan gel pada suhu penyimpanan 25oC dan 40oC. Hasil pengujian organoleptis gel aromaterapi meliputi tekstur, warna, dan bau menunjukkan hasil yang baik pada suhu penyimpanan 25oC yaitu karagenan dengan konsentrasi 3%, minyak atsiri konsentrasi 7% dengan penambahan minyak nilam 1%, pengujian sineresis gel aromaterapi menunjukkan hasil yang baik yaitu kurang dari 1%, pengujian total penguapan zat cair dan persen bobot sisa yang lebih kecil dapat dilihat pada formula gel aromaterapi yang ditambahkan minyak nilam, dan pengujian kekuatan gel berkisar antara 2,200-3400 g.force.Kata Kunci    : Karagenan Kappa, Gel Aromaterapi, Minyak Lemon, Minyak Nilam 

KHASIAT KACANG KENARI (Canarium Indicum L.) TERHADAP BERBAGAI MACAM PENYAKIT

Masyitah, Nisa, Sumiwi, Sri Adi, Wilar, gofarana

Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

TINJAUAN BAHAN BERBAHAYA DALAM KRIM PENCERAH KULIT

HARYANTI, RETNO

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.706 KB)

Abstract

ABSTRAKSetiap hari, manusia tidak pernah lepas dari kosmetik terutama bagi kaum wanita. Kosmetik digunakan untuk berbagai tujuan seperti agar penampilan menarik. Dari sekian banyak jenis kosmetik yang digunakan, krim pencerah kulit banyak diminati terutama oleh para wanita di Asia, termasuk Indonesia, agar diperoleh tampilan kulit wajah yang putih dan bersih. Begitu luasnya penyebaran dan penggunaan kosmetika jenis ini sehingga produk di pasaran juga sangat beragam. Dalam sediaan krim pemutih tersebut, sering ditambahkan beberapa bahan untuk mencapai efek yang diinginkan. Namun, ada pula yang menambahkan bahan pencerah yang berbahaya. Krim pencerah kulit sangat mungkin mengandung bahan-bahan seperti merkuri, hidrokuinon, steroid dan bahan berbahaya lainnya yang sangat toksik apalagi jika digunakan dalam jangka waktu yang lama.  Merkuri bekerja dengan menghambat sintesis melanin namun efek sampingnya sangat berbahaya, antara lain nefropati membran, nekrosis tubular kerusakan sistem syaraf pusat dan bahkan kanker. Demikian juga hidrokuinon, bersifat hepatotoksik dan karsinogenik. Penelitian terkait bahan berbahaya ini telah banyak dilakukan di berbagai negara. Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan tinjauan menyeluruh dan terbaru mengenai bahan berbahaya dalam krim pencerah kulit dan pengujian bahan berbahaya tersebut. Kata kunci : kosmetika, krim pencerah kulit, bahan pencerah berbahaya ABSTRACTEveryday, people never get out of cosmetics, especially for women. Cosmetics are used for various purposes such as attractive appearance. There are many types of cosmetics used but skin lightening cream products are quite popular, especially by women in Asia including Indonesia, with the aim to obtain a cleaner and whiter facial skin. Skin lightening products on the market are also very diverse. In such bleach creams, often added some substances to achieve the desired effect. However, some are adding harmful ingredients. Skin lightening cream is very likely to contain ingredients such as mercury, hydroquinone, steroids and other hazardous materials that are very toxic especially if used for long periods of time. Mercury works by inhibiting the synthesis of melanin but its side effects are very dangerous, including membrane nephropathy, tubular necrosis, central nervous system damage and cancer. Likewise hydroquinone, is hepatotoxic and carcinogenic. Related research on hazardous ingredients in skin lightening creams has been widely practiced in various countries. The aim of this article is to provide an information review of hazardous skin lightening agents used in the formulation and its testing. Keywords: cosmetics, skin lightening cream, harmful lightening materials

REVIEW ARTIKEL ALTERNATIF PENGOBATAN BATU GINJAL DENGAN SELEDRI

FIKRIANI, HANINDHIYA

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.734 KB)

Abstract

AbstrakBatu ginjal adalah keadaan dimana terdapat batu kristal dibagian ginjal sehingga dapat menyebabkan rasa nyeri hingga gagal ginjal. Pria empat kali lebih beresiko terkena penyakit batu ginjal dibandingkan wanita karena perbedaan morfologi dari organ intim. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menunjukkan bahwa tanaman obat memiliki peran dalam pengobatan batu ginjal seperti terung hijau thailand (saponin), delima(asam ellagat), hijau (katekin) dan seledri (flavonoid). Seledri memiliki segudang potensi dalam pengobatan batu ginjal jika dibandingkan dengan tanaman obat lain. Dimana seledri memiliki aktifitas antioksidan yang kuat, mengandung senyawa kimia lainnya yang dapat mengatasi berbagai macam penyakit, aman dan mudah untuk digunakan serta dapat dimanfaatkan sebagai penyedap makanan. Namun, seledri tidak dapat bertahan lama dalam penyimpanan jangka panjang. Berbagai potensi lainnya menarik untuk dapat dikaji.Kata Kunci : Batu Ginjal, Tanaman Obat, Senyawa Zat Aktif AbstractKidney stones is a state where there is a rock crystal in the kidneys that can cause pain to kidney failure. Men are four times more at risk of the disease affected kidney stones than women because of the difference in morphology of the sex organs. Various studies have been done to show that medicinal plants have a role in the treatment of kidney stones such as Thai Green Eggplant (saponin), pomegranate (ellagat acid), green (catechins) and celery (flavonoids). Celery has a myriad of potential in the treatment of kidney stones when compared with other medicinal plants. Where has the antioxidant activity of celery, contain other chemical compounds can address a variety of diseases, safe and easy to use and can be used as a food flavouring. However, celery could not survive long in long term storage. Various other potential interest to be examined.Keywords: Kidney Stones, Medicinal Plants, Compound Active Substances

REVIEW: TEKNIK ANALISIS INSTRUMENTASI SENYAWA TANIN

FATHURRAHMAN, NAZILLA RESHKA, Musfiroh, Ida

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1819.594 KB)

Abstract

Obat herbal dan sintetik dari berbagai sumber senyawa kian dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kesehatan. Untuk melakukan pengembangan obat diperlukan Teknik Isolasi dan Identifikasi senyawa. Berbagai teknik yang digunakan untuk identifikasi diantaranya adalah penggunaan berbagai instrumen seperti Spektrofotometri UV-Vis, FTIR, HPLC dan NIR. Salah satu senyawa yang dapat dianalisis dengan menggunakan instrumen tersebut adalah Tanin. Tanin adalah salah satu senyawa aktif metabolit sekunder golongan polifenol yang dihasilkan oleh tanaman. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk membahas metode instrumentasi yang dapat digunakan untuk identifikasi tanin pada sampel tanaman. Metode yang digunakan dalam review ini berdasarkan studi literatur dari beberapa publikasi ilmiah baik pada jurnal nasional maupun internasional

KANDUNGAN SENYAWA MINYAK ATSIRI PADA TANAMAN PENGUSIR NYAMUK

Millati, Fariza Fida, Sofian, Ferry Ferdiansyah

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1827.154 KB)

Abstract

Nyamuk merupakan salah satu organisme yang hidup dan berkembang di Indonesia. Sebagian besar nyamuk merugikan karena perannya yang dapat menyebarkan berbagai penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis, dan radang otak hencephalitis. Oleh karena itu, upaya dibutuhkan untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk seperti menggunakan anti nyamuk. Namun, anti nyamuk yang beredar sebagian besar mengandung zat kimia yang berbahaya terhadap lingkungan maupun kesehatan. Oleh karena itu, perlu dibuat alternatif pengobatan menggunakan bahan alam yang salah satunya adalah dengan penggunaan minyak atsiri. Review ini telah menguraikan beberapa jenis tanaman yang terbukti memiliki aktivitas repelen atau pengusir nyamuk, serta komposisi senyawa minyak atsirinya yang berpotensi sebagai pengusir nyamuk dengan potensi paling tinggi yaitu pada tanaman serai, zodia, kemangi, rosemary dan jeruk dengan kandungan senyawa utama sitronela, geraniol, linalool dan limonen.Kata Kunci : Minyak atsiri, pengusir nyamuk

Karakterisasi Efisiensi Penjerapan pada Nanopartikel Natrium Diklofenak dalam Sediaan Topikal

SAVITRY, PUTRI EKA, WATHONI, NASRUL

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3598.06 KB)

Abstract

Sistem penghantar nanopartikel telah banyak dijumpai karena memiliki berbagai keuntungan, di antaranya dapat meningkatkan pelepasan zat aktif. Natrium diklofenak merupakan jenis obat analgesik yang memiliki waktu paruh singkat serta efek samping berbahaya bagi pencernaan apabila dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Rute permberian secara topikal menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini. Sistem penghantaran obat melalui kulit telah banyak mengalami perkembangan, salah satunya dilakukan modifikasi ukuran partikel menjadi nanopartikel guna memanfaatkan keuntungannya sebagai sistem penghantar obat untuk meningkatkan penetrasi obat melalui stratum korneum. Karakterisasi nanopartikel menjadi hal yang penting dilakukan untuk mendapatkan nanopartikel yang optimal melalui berbagai teknik pembuatan nanopartikel. Salah satu karakterisasi yaitu menghitung efisiensi penjerapan/efisiensi enkapsulasi sebab menjadi kriteria penting apabila penggunaan zat aktif dengan harga yang tinggi. Review ini meninjau efisiensi penjerapan natrium diklofenak dalam berbagai polimer dan teknik nanopartikel yang digunakan dalam sediaan topikal. Kata kunci : Nanopartikel, natrium diklofenak, efisiensi penjerapan, sediaan topikal