cover
Contact Name
Siti Nur Qomariah
Contact Email
snurq18@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
snurq18@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. gresik,
Jawa timur
INDONESIA
Journals of Ners Community
Published by Universitas Gresik
ISSN : 20870744     EISSN : 25412957     DOI : -
Core Subject : Health,
Journals of Ners Community hanya menerima naskah asli yang belum pernah diterbitkan. Naskah dapat berupa hasil penelitian, konsep-konsep pemikiran inovatif hasil tinjauan pustaka, kajian, dan analitis di bidang keperawatan dan kesehatan yang bermanfaat untuk menunjang kemajuan ilmu, pendidikan dan praktik keperawatan profesional.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community" : 12 Documents clear
PENGARUH MENGUNYAH PERMEN KARET TERHADAP PERISTALTIK USUS POST APPENDIKTOMI Basri, Ahmad Hasan; Sulistiyawati, Nunuk
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appendiktomi yaitu tindakan pembedahan dengan pengangkatan appendiks yang meradang, pasca appendiktomi dapat menyebabkan kehilangan peristaltik normal selama 24 sampai 48 jam, intervensi keperawatan yang dapat diberikan yaitu mengunyah permen karet untuk mengembalikan peristaltik usus menjadi normal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh mengunyah permen karet terhadap peristaltik usus pada pasien post appendiktomi.Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental jenis One-shot case study pra test post test design. Populasi adalah pasien post appendiktomi sebanyak 28 pasien di Ruang Dahlia RSUD Ibnu Sina.  Sampel berjumlah 26 pasien diambil secara purposive sampling. Variabel independen adalah mengunyah permen karet dan variabel dependen adalah peristaltik usus. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen lembar observasi dan SOP mengunyah permen karet yang dilakukan 3x per hari selama 30 menit selama mengunyah, kemudian data dianalisa menggunakan Paired T Test.            Sebelum dilakukan mengunyah permen karet peristaltik usus seluruh responden tidak normal, sedangkan sesudah intervensi 90% responden peristaltik usus menjadi normal. Hasil uji Paired T Test p=0.000 dimana p<0.05 artinya ada pengaruh mengunyah permen karet terhadap peristaltik usus.Peristaltik usus pada pasien post appendiktomi dapat dilakukan dengan upaya mengunyah permen karet. Mengunyah permen karet dapat dijadikan SOP dan diterapkan oleh perawat di rumah sakit. Kata Kunci: Mengunyah permen karet, peristaltik usus, post appendiktomi.Appendectomy is surgical action by removal of inflamed appendix, appendectomy of one of the abdominal surgical procedures. During the surgery may cause a normal peristaltic loss for 24 - 48 hours. Priority nursing action is chew the bubble gum to restore of intestinal peristaltic to normal. This research is to know the effect of chew the bubble gum on intestinal peristaltic post-appendectomy patient.This research used pre-experimental design type One-shot case study pre-test and post-test design. This population was post-appendectomy patient as much 28 patients in Dahlia Room RSUD Ibnu Sina. 26 samples of patients were taken by purposive sampling. The independent variable is effect of chew the bubble gum and the dependent variable is intestinal peristaltic. Data were collected using observation sheet instrument and SOP chew the bubble gum done 3 times a day for 30 minutes each chew, then data analyzed using Paired T Test.            Before chew the bubble gum, intestinal peristaltic all of respondents are not normal, whereas after intervention 90% of respondents intestinal peristaltik intestine to be normal. Based on result from Paired T Test P: 0.000 where P <0.05 that’s means chew the bubble gum have significant effect to intestine peristaltic.Intestinal peristaltic on patient post-appendectomy can be done by chewing the bubble gum. Chewing gum can be used as SOP and applied by nursed at the hospital.Keywords: Chew the bubble gum, intestinal peristaltic, post-appendectomyDOI: 10.5281/zenodo.1404575
PENGARUH OLAH RAGA JALAN KAKI TERHADAP PENINGKATAN TEKANAN DARAHPADA KLIEN HIPOTENSI DI SMKN III PAMEKASAN Utami, Utami; Yulianto, Ariska; Wibisono, Wibisono
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipotensi adalah tekanan darah rendah kurang dari 90/60 mmHg. Kondisi ini mengurangi aliran darah dalam menerima nutrisi dan transportasi oksigen di organ vital. Berjalan adalah serangkaian langkah satu per satu lurus ke depan dan akan bergerak seiring dengan langkah-langkahnya. Berjalan digunakan dalam rasio 1: 1 yang berarti berjalan dengan santai ke jarak 107 m dalam satu menit dan jalan cepat dengan jarak 160 m dalam satu menit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan (jalan kaki) terhadap peningkatan tekanan darah pada klien yang dirawat hipotensi di SMKN III Pamekasan.Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen, dengan sampel dari 14 individu, penelitian ini menggunakan sampling acak sederhana. Variabel bebas adalah olahraga (berjalan) dan variabel dependen peningkatan tekanan darah dan variabel moderator gizi, tidur dan stres. Tekanan darah diukur dengan menggunakan sphygmomanometer merkuri sebelum dan sesudah berjalan dan dianalisis menggunakan uji Paired T dengan tingkat signifikansi α <0,05.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pre test dan post test. Nilai rata-rata tekanan darah sistolik pretest adalah 84,5 mmHg, sedangkan nilai rata-rata post test adalah 101,6 mmHg. Peningkatan itu terjadi rata-rata 17,14 mmHg. Uji statistik dengan Paired T Test, p value = 0,000 sedangkan nilai rata-rata pre test tekanan darah diastolik adalah 54,21 mmHg, sedangkan nilai rata-rata post test adalah 71,07 mmHg TDD. Peningkatan itu terjadi rata-rata 16,85 mmHg. Hasil pengujian dengan statistik uji diperoleh dengan paired t test p value = 0,000.Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa olahraga (berjalan) meningkatkan tekanan darah pada klien hipotensi di SMKN III Pamekasan.Diharapkan bahwa perawat harus memotivasi klien untuk berolahraga (berjalan) pada jadwal teratur dan dosis latihan yang benar dan juga harus mendukung pemenuhan faktor gizi, kebutuhan tidur, dan penanganan stres. Kata kunci: Latihan (berjalan), tekanan darah tinggi Hypotension is low blood pressure less than 90/60 mmHg. This condition reduces the blood flow in the receiving nutrients and oxygen transport in vital organs. Walking is a series of steps one by one straight forward and will move along with the steps. Walking is used in the ratio 1: 1 which means to walk leisurely to the 107 m distance in a minute and fast road with 160 m distance in one minute. This study aims to determine the effect of exercise (walking) on blood pressure increase in clients treated hypotension in SMKN III Pamekasan.This study uses a pre-experimental design, with samples from 14 individuals, this study used simple random sampling. Independent variable is the sport (walking) and dependent variable increases in blood pressure and moderator variables nutrition, sleep and stress. Blood pressure was measured by using mercury sphygmomanometer before and after the walk and analyzed using the Paired T test with significance level α <0.05. The results showed that there were differences in pre test and post test. The average value pretest systolic blood pressure was 84.5 mmHg, while the average value of post test was 101.6 mmHg. The increase that occurred an average of 17.14 mmHg. Statistical tests with the Paired T Test, the p value = 0.000 while the average value of pre test diastolic blood pressure was 54.21 mmHg, while the average value of post test was 71.07 mmHg TDD. The increase that occurred an average of 16.85 mmHg. The test results with the test statistics obtained by paired t test p value = 0.000.From these results, it can be concluded that exercise (walking) to increase blood pressure in hypotension clients in SMKN III Pamekasan. It is expected that nurses should motivate the client to exercise (walking) on a regular schedule and dose of exercise that right and also should support the fulfillment of nutritional factors, sleep needs, and handling stress.Keywords: Exercise (walking), high blood pressureDOI: 10.5281/zenodo.1405379
PENERAPAN PIJAT OKSITOSIN DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI ASI PADA IBU POSTPARTUM Rahayu, Dwi; Yunarsih, Yunarsih
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya cakupan ASI eksklusif dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu, faktor sosial budaya, kurangnya informasi tentang ASI eksklusif dan konseling laktasi dari tenaga kesehatan serta kuatnya promosi susu formula (Ambarwati, Muis, & Susantini, 2013). Kegagalan Ibu dalam memberikan ASI Eksklusif, akan berdampak pada angka kesakitan bayi yang semakin meningkat. Hal ini berkaitan dengan pemberian makan pada bayi yang terlalu dini. (Juanita, 2013). Oleh karena itu diperlukan tindakan untuk meningkatkan produksi ASI untuk keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan adalah pijat Oksitosin. Pijatan ini berfungsi untuk meningkatkan hormonoksitosin yang dapat meningkatkan kenyamanan ibu menyusui, sehingga ASI pun otomatis keluar (Rahayu, Yunitasari, & Santoso, 2015). Tujuan penelitian ini membuktikan pijat oksitosin dalam meningkatkan kenyamanan dan produksi ASI.Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan pendekatan pre-post test design with control group. Sampling yang digunakan adalah consecutive sampling, sebanyak 18 Responden, dibagi 2 kelompok. Kenyamanan diukur dengan GCQ (General Comfort Questionarre), Produksi ASI diukur dengan Weighing Test. Data diukur sebelum dan sesudah dilakukannya tindakan, kemudian dianalisis dengan ANOVA dengan α ≤ 0,05.Hasil analisis untuk kenyamanan didapatkan nilai p=0,035 yang berarti ada perbedaan kenyamanan yang signifikan antara pijat Oksitosin dan Kelompok kontrol. Hasil pengukuran produksi ASI didapatkan nilai p=0,013 yang berarti ada perbedaan produksi ASI yang signifikan antara pijat oksitosin dan Kelompok kontrol.Pijat oksitosin dapat meningkatkan enyamanan dan produksi ASI pada ibu postpartum. Untuk itu perlu digunakan sebagai intervensi alternatif dalam melakukan perawatan pada ibu postpartum terutama terkait masalah laktasi, dan perawat perlu mengajarkan teknik pijat oksitosin ini kepada pasien dan keluarga, supaya keluarga lebih berperan serta dalam mendukung program ASI Eksklusif. Kata Kunci: Pijat Oksitosin, Kenyamanan, ASI.The low practice of exclusive breastfeeding is due to a lack of mothers knowledge, socio-cultural factors, lack of information on exclusive breastfeeding and lactation counseling from health personnel and strong promotion of infant formula in modern / private health care facilities (Ambarwati, Muis, & Susantini, 2013). The absence of an increase in the number of successful breastfeeding mothers will have an impact on the responsibilities of health workers and local community units on increasing rates of infant morbidity. This is related to infant feeding too early, where it plays an important role in the incidence of disease in infants. It will also have an impact on raising the national budget on health financing (Juanita, 2013). Therefore action is required to increase milk production for the success of Exclusive Breastfeeding. One of the actions that can be done is an oxytocin massage. This massage serves to increase the hormone oxytocin that can improve mother’s comfort, so breastmilk is also automatically out (Rahayu, Yunitasari, & Santoso, 2015). This study purpose was to prove the oxytocin massage in improving Comfort and Production of Breastmilk in Postpartum Mother.The Research design was quasi experimental with the design of pre-post test design with control group. The sampling technique is consecutive sampling, as many as 18 Responden, divided by 2 groups. Comfort is measured by GCQ (General Comfort Questionarre), Breastmilk Production is measured by Weighing Test. The data were measured before and after the action, then analyzed with ANOVA with α≤ 0.05. Result of analysis for convenience obtained p value= 0.035 which means there is difference Comfort significantly between oksitosin massage and control group. The results of breast milk production measurement obtained p value=0.013 which means there is a significant difference in milk production between oxytocin and control group massage. Oxytocin massage can improve comfort and production of breast milk in postpartum mother. It is therefore necessary to be used as an alternative intervention in the care of the Postpartum mother, especially on the issue of lactation, and the nurse needs to teach this oxytocin massage technique to the patient and family, so that the family is more involved in supporting the Exclusive Breastfeeding Program. Keywords: Oxytocin massage, Convenience, Breast milk production.DOI: 10.5281/zenodo.1405371  
VISUAL SUPPORT MENURUNKAN KECEMASAN ANAK YANG MENGALAMI HOSPITALISASI PADA PEMBERIAN INJEKSI RAHAYUNINGRUM, LINA MADYASTUTI; Kusuma Dewi, Pessy Sipora
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK            Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis utama yang tampak pada anak. Anak akan mengalami stress akibat perubahan baik terhadap kesehatannya maupun lingkungannya dalam kebiasaan sehari – hari. Untuk mengurangi kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi pada pemberian injeksi dapat dilakukan visual support. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh visual support terhadap kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi pada pemberian injeksi.Metode penelitian ini menggunakan quasi experimental design. Populasi yang diteliti seluruh anak toddler dan prasekolah usia 2 – 5 tahun. Jumlah sampel sesuai kriteria inklusi 21 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner State-Trait Inventory for Children (STAIC) dari Spielberger (1973) dengan 20 item subskala karakter kecemasan (A-Trait) yang dimodifikasi. Analisis menggunakan uji statistik Paired T.TestHasil penelitian sebelum dilakukan visual support didapatkan rata-rata tingkat kecemasan anak pada skoring 42.09. Setelah dilakukan visual support rata – rata tingkat kecemasan 32.85. Hasil analisa data menggunakan uji statistik Paired T.Test dengan tingkat kemaknaan 95% (α=0.05) didapatkan nilai p value = 0.000 < α = 0.05, artinya ada pengaruh visual support terhadap kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi pada pemberian injeksi.Visual support dapat menurunkan kecemasan pada anak yang dilakukan injeksi saat hospitalisasi, sehingga visual support dapat digunakan dalam meningkatkan komunikasi therapeutik pada anak dalam meningkatkan mutu pelayanan yang ramah anak.Kata kunci: Kecemasan, Hospitalisasi, Visual Support, Anak (Todler dan Pra Sekolah) Pain and hospitalization are major crises seen in children. The child will experience stress due to changes to both his health and his environment in daily habits. To reduce the anxiety of children who experience hospitalization on the injection can be done visual support. The purpose of this study to know the effect of visual support on anxiety of children who experience hospitalization on the injection.This research method has used quasi experimental design. The population has been studied all toddler and preschool children ages 2 - 5 years. The number of samples has match the inclusion criteria of 21 respondents. Data collection has used the State-Trait Inventory for Children (STAIC) questionnaire from Spielberger (1973) with 20 items of characterized A-Trait characteristic subscales. The analysis has used the Paired T.Test statistical test.The results of the research before the visual support has been found the average anxiety level of children on score 42.09. After doing visual support the average anxiety level of children on score 32.85. Keywords: Puzzle therapy, fine motor development, cognitive development, preschool children DOI: 10.5281/zenodo.1404581
Efektifitas Pemberian Cairan Kristaloid dan Koloid pada pasien SC dengan Regional Anestesi terhadap Mean Arterial Pressure Gustomi, Mono Pratiko; Qomariyah, Qomariyah
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipotensi atau penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) pada wanita hamil adalah masalah anestesi pasca-regional yang paling umum dalam sectio caarea. Untuk mengurangi kejadian hipotensi dapat diberikan cairan intravena seperti kristaloid atau koloid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efek penggunaan cairan kristaloid dan koloidal pada Mean Arterial Pressure (MAP) pada pasien sectio caesarea dengan anestesi regional.Penelitian ini menggunakan metode pra eksperimen (pretest - post test group design). Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah pemberian cairan kristaloid dan koloida, sedangkan variabel terikatnya adalah Mean Arterial Pressure (MAP). Sampel penelitian ini sebanyak 20 orang dengan menggunakan puprosive sampling. Analisis data menggunaka paired t-test.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada efek yang signifikan antara pemberian cairan kristaloid dan koloid pada pasien sectio caesarea dengan anestesi regional. Dalam uji statistik, nilai Mean Arterial Pressure (MAP) cairan kristaloid menurun 8,7 mmHg (t hitung = 5,894, α = 0,002) sedangkan Mean Arterial Pressure (MAP) dalam cairan koloid menurun 4,4 mmHg t hitung = 6,410, α count = 0,000). Ini berarti cairan koloid lebih efektif dalam mempertahankan Mean Arterial Pressure (MAP) pada pasien sectio caesarea dengan anestesi regional.Pemberian cairan koloid lebih efektif daripada kristaloid karena dapat mengisi ruang intravaskular yang lebih panjang, berat molekul yang lebih besar, sehingga akan memberikan efek pada ekspansi volume intravaskular yang lebih besar.Kata kunci: tekanan darah, anestesi regional, sectio caesar, kristaloid, koloid.Hypotension or decreased Mean Arterial Pressure (MAP) in pregnant women is the most common post-regional anesthetic problem in sectio cesarea. To reduce the incidence of hypotension can be given intravenous fluids such as crystalloids or colloids. The aim of this study was to compare the effect of crystalloid and colloidal fluid utilization on Mean Arterial Pressure (MAP) in patients sectio cesarea with regional anesthesia. This research used pra-experimental (pretest - post test group design) method. Data collected by using questioner and observation sheet, in this study the independent variable was the administration of crystalloid and colloidal fluids, while the dependent variable was Mean Arterial Pressure (MAP). Large sample of 20 people by using puprosive sampling. Analysis of data with paired t-test.Results showed that there was a significant effect between the administration of crystalloid and colloidal fluids in patients sectio cesarea with regional anesthesia. In the statistical test, the Mean Arterial Pressure (MAP) value of crystalloid liquid decreased by 8.7 mmHg (t count = 5.894, α = 0.002) while the Mean Arterial Pressure (MAP) in colloid fluid decreased by 4.4 mmHg t arithmetic = 6.410, α count = 0,000). This means that colloid fluid was more effective in maintaining Mean Arterial Pressure (MAP) in patients sectio cesarea with regional anesthesia.Colloid fluid administration is more effective than crystalloid because it can fill the longer intravascular space, larger molecular weight, so it will give effect to the greater expansion of intravascular volume as well.Keywords: blood pressure, regional anesthesia, cesarean sectio, crystalloid, colloids.DOI: 10.5281/zenodo.1404640
KORBAN ATAU PELAKU SCHOOL BULLYING ? (ARE YOU VICTIMS OR BULLIES?) Susanti, Rahmi; Ifroh, Riza Hayati; Wulansari, Ika
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia saat ini mendapatkan peringkat kedua terbesar setelah Jepang pada kasus bullying atau kekerasan terhadap anak di sekolah. Terdapat 1.051 anak menjadi korban kekerasan di Indonesia dan 70% anak-anak usia 8 - 12 pernah menjadi pelaku kekerasan atau bullying di sekolah. Anak korban bullying cenderung untuk mengalami gejala somatisasi lebih tinggi dibanding dengan anak-anak yang lain. Sakit kepala berulang hingga sulit tidur merupakan contoh-contoh gejala somatisasi yang dapat terjadiMetode survei deskriptif dilaksanakan pada penelitian ini dengan melibatkan 300 anak usia sekolah dasar. Sebanyak 31 butir pernyataan digunakan untuk mengidentifikasi kecenderungan perilaku school bullying pada anak di kecamatan sambutan dan kecamatan samarinda kota. Data yang diperoleh dianalisis secara univariatMayoritas responden berusia 8 – 10 tahun yakni sebesar 242 anak dan sisanya berusia 11 – 14 tahun yakni 58 anak.Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak lebih cenderung memiliki perilaku sebagai korban bullying yakni berjumlah 154 anak. Pelaku bullying cenderung dilakukan oleh laki laki dibandingkan perempuan yakni sebanyak 66 anak Angka school bullying di kecamatan sambutan cenderung lebih banyak terjadi dibandingkan di kecamatan samarinda kota. Berdasarkan kategori school bullying ditemukan 51,3% anak cenderung sebagai korban bully. Pelaku dan korban bully di sekolah sebaiknya dapat diberikan pemahaman bahwa tindak bully tidak diperkenankan dan dukungan serta kepedulian pada anak yang menjadi korban.Kata kunci : kesehatan mental, pelaku, intimidasi di sekolahIndonesia is currently ranked second largest after japan in the case of bullying or violence against children in school. There are 1.051 children victims of violence in Indonesia and 70% of children aged 8-12 years have been The Bully of violence in schools. Child victims of bullying tend to experience higher symptoms of somatization compare with other children. Reccurent headaches to sleeplessness are examples of possible somatization symptoms.Descriptive survey method was carried out in this study involving 300 school-aged children. 31 statements were used to identify trends in school bullying behavior in the sub-district of Samarinda Kota and Sambutan. The data obtained were analyzed by univariate technique.The majority of respondents aged 8-10 years of 242 children and the rest aged 11-14 years ie 58 children. The results showed that children were more likely to have behaviors as victims of bullying which amounted to 154 children. Bullies tend to be done by boy than girl ie 66 children.The number of school bullying in the sub-district of Sambutan large than Samarinda Kota. Based on the categories school bullying found 51.3% of the children as victims. Bullies and victims in school are given the understanding that bully acts are not allowed and care also support victims. Keywords : Health Mental, Bullies, School BullyingDOI: 10.5281/zenodo.1405375
PENDIDIKAN KESEHATAN MEMPENGARUHI PENGETAHUAN DAN REAKSI PSIKOLOGIS BODY IMAGE PASIEN GANGREN (Health education influence to knowledge and psychological reactions of the body image of gangrene patients) Twistiandayani, Retno; Fadeli, Didik Novianto
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPendidikan kesehatan adalah faktor yang sangat mempengaruhi terhadap pengetahuan dan terhadap reaksi psikologi body image pasien gangrene. kurangya pendidikan kesehatan akan mempengaruhi tingkat pengetahuan pasien dalam menghadapi penyakit dm yang dideritanya, dan dapat berpengaruh pada reaksi psikologi body imagenya sehingga pasien dengan dangren cenderung kearah reaksi maladaptif. tujuan penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan reaksi psikologis body image pasien gangrene.Desain penelitihan ini yaitu pra-pasca test dalam satu kelompok (one-group pre-post-test desing) dimana kelompok objek di observasi sebelum dilakukan intervensi dan kemudian diobservasi lagi setelah diberi intervensi. Populasi adalah Seluruh  pasien diabetes mellitus yang mengalami gangrene di ruang Dahlia dan Gardena RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik sebanyak 24 pasien dengan teknik Purposive Sampling dalam pengambilan sampel sebesar 20 responden. variabel independen dalam penelitian ini adalah pengaruh pendidikan kesehatan dan variabel dependen dalam penelitian ini adalah Pengetahuan, dan body image pasien diabetes mellitusdengan gangrene. Pengambilan data  dengan mengunakan kuesioner dan lembar observasi.BerdasarkanUji Statistik Wilcoxon Signed Rank diketahui nilai Sig.                   (2-tailed) adalah 0,000 menunjukan ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan pasien  gangrene. reaksi psikologi Body Image menunjukan  nilai Sig. (2-tailed) adalah 0,005 menunjukan ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap reaksi psikologis body image pasien  gangrene.Pendidikan kesehatan sangat berperan  dalam meningkatkan  pengetahuan dan memperubah reaksi psikologis Body Image pasien gangrene menjadi adaptif. Pendidikan kesehatan kepada pasien DM dengan gangrene perlu diberikan dalam waktu yang lebih lama dan sesering mungkin. Kata kunci : Pendidikan kesehatan, pengetahuan dan reaksi psikologi Body ImageABSTRACT               Health education is a very influencing factor to the knowledge and to the psychological reaction of Body Image of gangrene patients. the lack of health education will affect the level of knowledge of patients in the face of DM disease, and can affect the psychological reaction of Body Image so that patients with dangren tend towards maladaptive reaction. The purpose of this study is how the influence of health education on the knowledge and psychological reactions of the body image of gangrene patients               The design of this study was pre-post test in one group (one-group pre-post-test desing) where the object group is observed before the intervention and then observed again after being given intervention. Population is All patients with diabetes mellitus who experience gangrene in Dahlia and Gardena spaces RSUD Ibnu Sina Gresik regency as many as 24 patients with purposive sampling technique in sampling of 20 respondents. independent variable in this research is the influence of health education and dependent variable in this research is Knowledge, and body image of diabetes mellitus patient with gangrene. Data collection using questionnaires and observation sheets.               Based on Wilcoxon Signed Rank Statistics Test known Sig value. (2-tailed) is 0,000 shows there is an influence of health education on the knowledge of gangrene patients. psychological reactions Body Image shows the value of Sig. (2-tailed) is 0.005 indicates there is influence of health education to psychological reaction body image of gangrene patient.               Health education plays an important role in improving knowledge and change the psychological reaction Body Image gangrene patients become adaptive. Health education to DM patients with gangrene should be given for longer periods and as often as possible.Keywords: health education, knowledge and psychological reactions of Body     DOI: 10.5281/zenodo.1404631
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENGONTROLAN INTERDIALITIC WEIGHT GAIN DALAM UPAYA MENSTABILKAN KESTABILAN TEKANAN DARAH (Health Education About The Interdialitic Interruption Interference Control In Establishing Stable Of Blood Pressure Effect) Rahmawati, Rita; Tri W., Vian Sigit
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPasien PGK yang secara rutin menjalani hemodialisis biasanya mengalami perubahan tekanan darah. Salah satu faktor penyebabnya adalah penambahan berat badan diantara waktu dialysis (interdialytic weight gain = IDWG). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang pengontrolan IDWG terhadap kestabilan tekanan darah.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode quasi experiment dengan pendekatan pretest-posttest with control group design. Sampel  berjumlah 34 pasien hemodialisis. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pendidikan kesehatan tentang IDWG sedangkan variabel dependen adalah kestabilan tekanan darah, data diambil menggunakan lembar pengkajian tekanan darah dan kuesioner. Penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon dan mann whitney.Hasil penelitian sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan pada kelompok perlakuan didapatkan nilai p = 0,000, sedangkan pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan didapatkan nilai p = 0,004, sedangkan perbedaan pada kelompok kontrol dan perlakuan sesudah dilakukan pendidikan didapatkan nilai p = 0,000.      Rekomendasi hasil penelitian ini adalah agar perawat selalu memberikan pendidikan kesehatan pada setiap pasien hemodialisis supaya tekanan darah stabil. Kata kunci : Daun kersen, Glukosa darah, Diabetes Mellitus tipe 2 ABSTRACTPatients  CKD who regularly undergo hemodialysis usually have a change in blood pressure. One factor was the addition of weight between time dialysis (interdialytic weight gain = IDWG). The purpose of this study to determine the effect of health education on controlling the IDWG to the stability of blood pressure.This research was a quantitative research using quasi experiment method with pretest-posttest approach with control group design. The sample was 34 hemodialysis patients. The independent variable in this research is health education about IDWG while the dependent variable is blood pressure stability, data were taken using blood pressure assessment sheets and questionnaires. This study used the Wilcoxon and mann whitney test.Result of research before and after health education in treatment group got value p = 0,000, whereas in the control group before and after the education obtained p value = 0.004, while the difference in the control group and the treatment after the education obtained p value = 0,000.Recommendation result of this research for was nurse always give health education to every patient of hemodialysis so that blood pressure stable.Keywords: CKD, Blood Pressure, Hemodialysis, IDWG, Health EducationDOI: 10.5281/zenodo.1402275
IDENTIFIKASI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PEMBATASAN ASUPAN CAIRAN PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS Zahroh, Roihatul; Giyartini, Giyartini
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan Interdialytic Weight Gain (IWG) umumnya terjadi pada pasien hemodialisisyang tidak dapat menahan asupan cairan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pembatasan cairan antara lain pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi pengaruh ketiga faktor tersebut di Ruang Hemodialisa  RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik.Penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.  Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, di dalam penelitian ini variabel independent adalah pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga, sedangkan variabel dependent adalah kepatuhan pembatasan asupan cairan. Besar sampel 52 orang dengan menggunakan purposive sampling. Analisa data dengan spearman’s rho.Hasil penelitian didapatkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan (ᵖ = 0,032,  ѓ = 0,298), ada pengaruh yang signifikan antara sikap dengan pembatasan cairan (ᵖ = 0.000 , ѓ = 0,591), ada pengaruh dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan cairan  (ᵖ =  0,008,         ѓ = 0,364).  Faktor yang paling dominan mempengaruhi kepatuhan pembatasan cairan adalah faktor sikap.Pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga dapat mempengaruhi pasien dalam kepatuhan pembatasan asupan cairan. Motivasi serta keyakinan pasien untuk berperilaku positif dalam mentaati program pembatasan asupan cairan perlu ditingkatkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisis.Kata kunci :  Pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dan kepatuhan pembatasan asupan cairan.Increase in interdialytic of his body weight (iwg) generally occurs in patients hemodialisis which cannot hold fluid intake. The factors that affects the public compliance with regulations to limit the number of a fluid aimed among other things at the highest level of  knowledge, the attitude and family encouragement.The purpose of this study to identify the influence of third factors the Hemodialysa Room  RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik.Research used the method of descriptive analytic with cross sectional approach. The data collected by using questionnaire and observation sheets, in the independent variable in this study is the knowledge, the attitude and the family encouragement, while the dependent variable was fluid intake restriction compliance. A large sample of 52 people by used purposive sampling. Analysed of data with spearman rho.The resulted of the study these chareges in the future that there has been recent an influence that in welfare between this knowledge with the public compliance with regulations to limit the number of fluid intake  (ᵖ = 0,032, ѓ = 0,298) , there an effect which is significant between the measures and the behaviour by limitation a fluid           (ᵖ = 0.000, ѓ = 0,591), there an effect family encouragement with the public compliance with regulations to limit the number of a fluid (ᵖ = 0,008, ѓ = 0,364 ). The most dominant factor influencing fluid restriction compliance is the attitude factor.The level of knowledge of, the attitudes and family encouragement can be influence the patient in the public compliance with regulations to limit the number of fluid intake. Motivation of the creation was as well as a belief that it is a patient to behave positive in restriction the against entering the holy place fluid intake needless in is an effort to increase so that it can be to improve quality of  life patients who underwent hemodialysis.Key word: knowledge, attitude, family encouragement, and compliance fluid intake restrictions.DOI: 10.5281/zenodo.1405377
PERAWATAN METODE KANGURU MENINGKATKAN KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) Syaiful, Yuanita; Mukhlishotin, Mukhlishotin
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSalah satu penyebab kematian bayi terbesar adalah bayi lahir kurang bulan dan bayi berat lahir rendah. Sedangkan penyebab kematian BBLR adalah masalah nutrisi karena belum maturnya fungsi organ pencernaan. Pemberian nutrisi melalui ASI pada BBLR tidak mudah, karena masalah reflek hisap dan menelan belum ada atau kurang, energi untuk menghisap kurang, volume gaster kecil, sering terjadi refluk dan peristaltik usus lambat. Perawatan metode kanguru bermanfaat dalam pemberian ASI secara langsung karena bayi selalu berada di dekat payudara ibu, menempel dan terjadi kontak kulit ke kulit sehingga intensitas pemberian ASI lebih sering dilakukan dan sangat dianjurkan pada bayi prematur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh perawatan metode kanguru terhadap keberhasilan pemberian ASI. Desain penelitian ini adalah pra eksperimental satu kelompok pra tes-pos tes desain. Populasi penelitian ini adalah BBLR yang di rawat di ruang NICU RSUD Ibnu Sina Gresik. Sampel yang digunakan adalah 19 responden yang diambil secara purposif sampling, sesuai kriteria inklusi. Variabel independen adalah perawatan metode kanguru dan variabel dependen adalah keberhasilan pemberian ASI. Data dikumpulkan dengan lembar observasi dan intervensi perawatan metode kanguru dilakukan 3 jam selama 2 minggu. Data dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon sign rank dengan tingkat signifikansi pada p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan perawatan metode kanguru keberhasilan pemberian ASI rata-rata 3,11 dan sesudahnya rata-rata 4,79. Sedangkan tingkat signifikasi p=0,00 yang berarti ada pengaruh yang bermakna inervensi PMK terhadap keberhasilan pemberian ASI pada BBLR. Pendekatan dan penjelasan terhadap ibu lebih ditingkatkan lagi, sehingga ibu lebih menyadari tentang pentingnya perawatan metode kanguru pada BBLR. Institusi rumah sakit khususnya bidang keperawatan dapat menerapkan perawatan metode kanguru ini sebagai standar operasional prosedur untuk merawat BBLR khususnya dalam pemberian ASI.Kata kunci : Perawatan metode kanguru (PMK), Air susu ibu, bayi berat lahir rendah.ABSTRACTThe main cause of neonatal mortality are premature birth and low birth weight, kangaroo mother care is now suggested to care premature infants. One of the causes of death in low birth weight infant is disturbance of drinking, which accurs because the maturity of gastrointestinal organs function, breast feeding in low birth weight infant is not easy, often there is failure due to suction and swallowing reflexes have not exist or less, energy to suck less, small gaster volume, frequent reflux and slow bowel peristaltic. Kangaroo mother care makes it easier for mother to give breast milk directly because baby always near mother breast, sticking and skin contact occurs to the skin so that the frequency of feeding so much more often. The purpose of this study was to analyze the effect of kangaroo mother care to the successful of breast feeding in low birth weight infant. The design of this research was pra experimental one group pra test-post test design. The population were low birth weight infant at NICU RSUD Ibnu Sina Gresik. Sample used were 19 respondens taken by purposive sampling, suitable the inclusion criteria.The independent variable was kangaroo mother care and the dependen variable was successful of breast feeding. Data were collected by observation chart and kangaroo mother care intervention the conducted three hours for two weeks. Data were analysed by using Wilcoxon Sign Rank Test with significance level at p < 0,05. The result showed that kangaroo mother care was effective for the successfull breast feeding on low birth weight infant with a significance level of p=0,00, Where before kangaroo mother care intervention the average breast milk value 3,11 and after kangaroo mother care intervention the average breast milk value 4,79. The approach and explanation of the mother is further en hanced, so that the mother is more aware about the importance of kangaroo mother care on low birth weight infant. Institutions of hospital especially in the field of nursing may apply this kangaroo mother care as a standard operational procedure to take care in low birth weight infant especially in breast feeding.Keyword : Kangaroo mother care, breast feeding, low birth weight infant DOI: 10.5281/zenodo.1402279

Page 1 of 2 | Total Record : 12