Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Articles 129 Documents
Pengaruh Konsentrasi Fungisida Mankozeb terhadap Pertumbuhan Tunas, Busuk Kering Ubi dan Susut Bobot Ubi Bibit Kentang (Solanum tuberosum L.) c.v. Granola di Ruang Penyimpanan Hamidin, Emid; Sumadi, Sumadi; Nuraeni, Anne
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.5 KB)

Abstract

Saat ini bibit kentang untuk penanaman di dataran medium biasanya berasal dari bibit yang disimpan di dataran tinggi dengan suhu relatif rendah. Penyimpanan di dataran medium dapat meningkatkan pertumbuhan tunas tetapi memicu perkembangan penyakit. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi fungisida mankozeb dan elevasi ruang simpan bibit terhadap pertumbuhan tunas dan serangan penyakit busuk kering ubi bibit. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah elevasi ruang simpan dan faktor kedua adalah konsentrasi fungisida makozeb. Hasil percobaan menunjukan tidak ada interaksi antara konsentrasi fungisida mankozeb dan elevasi ruang simpan terhadap waktu muncul tunas, persentase bibit bertunas, persentase busuk kering ubi, dan persentase susut bibit. Konsentrasi fungisida mankozeb tidak berpengaruh terhadap waktu muncul tunas, persentase ubi bibit bertunas  pada 2   bulan setelah panen (BSP), dan susut bobot ubi pada 3 dan 4 BSP. Namun, aplikasi  3 g L-1 dan 4.5 g L-1 mankozeb menghasilkan persentase ubi bertunas paa 3 BSP yang lebih tinggi dan persentase busuk kering ubi yang lebih rendah dibandingkan dengan  tanpa fungisida. Sementara itu, ruang simpan di dataran medium memberikan  waktu muncul tunas yang 2 minggu lebih cepat, meningkatkan persentase ubi bertunas pada 2 BSP dan susut bobot ubi yang lebih besar pada 3 BSP dan 4 BSP dibandingkan dengan ruang simpan di dataran tinggi. Di dataran medium waktu muncul tunas 2 minggu lebih cepat, persentase ubi bertunas pada 2 BSP dan susut bobot ubi pada 3 BSP dan 4 BSP lebih besar dibandingkan dengan di dataran tinggi. Penyimpanan di dataran medium tidak meningkatkan persentase ubi berunas pada 3 BSP dan persentase busuk kering ubi dibandingkan dengan ruang simpan di dataran tinggi.
Peningkatan Nilai Tambah dan Strategi Pengembangan Usaha Pengolahan Salak Manonjaya Hapsari, Hepi; Djuwendah, Endah; Karyani, Tuti
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.282 KB)

Abstract

Pengolahan buah salak Manonjaya dapat meningkatkan nilai jual buah dan pandapatan produsen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) nilai tambah pengolahan salak, 2) faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi usaha pengolahan salak, dan 3) strategi pengembangan pengolahan salak. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif. Responden penelitian adalah para pengrajin dan pedagang produk olahan salak di Tasikmalaya. Data dianalisis dengan  analisis nilai tambah, rasio penerimaan terhadap biaya, dan analisis faktor internal-ektenal. Hasil menelitian menunjukkan bahwa produksi dodol, manisan dan keripik salak menciptakan nilai tambah sebesar masing-masing Rp 6.234,65/kg, Rp 10.443,23/kg dan Rp 2.297,33/kg. Faktor internal kekuatan dan kelemahan usaha pengolahan buah salak, dan juga faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancamannya telah diinventarisasi. Strategi untuk mengembangkan usaha pengolahan buah salak di Manonjaya adalah mempertahankan dan memelihara penetrasi pasar serta diversifikasi  produk olahan.
Kemampuan Ekstrak dan Bakteri Inhabitan Mucuna pruriens Linn. dalam Menekan Penyakit Bercak Daun Cercospora dan Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Yulia, Endah; Widiantini, Fitri; Firmansah, Ramdan; Karuniawan, Agung
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2212.172 KB)

Abstract

Tanaman velvet bean (Mucunna spp.) merupakan tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan biopestisida. Senyawa kimia yang diekstrak dari biji Mucuna telah banyak digunakan dalam pengobatan beberapa penyakit dalam bidang kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. serta menguji kemampuan bakteri inhabitan Mucuna dalam memacu pertumbuhan tanaman dan menekan perkembangan penyakit bercak daun cercospora pada tanaman kacang tanah. Metode penelitian berupa metode eksperimen untuk menguji potensi ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. dari dua aksesi Mucuna asal NTT dan Jabar, dan menguji kemampuan isolat bakteri yang diisolasi dari dua aksesi tersebut dalam memacu pertumbuhan tanaman dan penekanan penyakit bercak daun cercospora yang diaplikasikan melalui perlakuan benih pada benih kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada ketinggian + 700 m dpl, dari bulan Juli sampai bulan November 2007. Hasil penelitian menunjukkan potensi antimikrobial ekstrak Mucuna and ekstrak etanol biji Mucuna asal NTT menunjukkan penekanan pertumbuhan Cercospora sp. yang lebih baik dibandingan dengan ekstrak lainnya. Sementara itu, enam isolat bakteri inhabitan Mucuna cenderung meningkatkan pertumbuhan tanaman kacang tanah dan terdapat satu isolat bakteri yang secara nyata menekan penyakit bercak daun cercospora dengan penekanan penyakit sebesar 70,85%.
Efek Aplikasi Jamur Parasit Nematoda G. rostochiensis terhadap Pertumbuhan dan Tajuk serta Serapan P dan K Tanaman Kentang Kalay, Marthin; Natasasmita, Sadeli; Suganda, Tarkus; Simarmata, Tualar
Agrikultura Vol 21, No 1 (2010)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.957 KB)

Abstract

Globodera rostochiensis (Woll)  adalah nematoda sista kuning (NSK)  pengganggu tanaman yang berbahaya pada tanaman kentang baik di daerah tropis maupun sub tropis. Mekanisme NSK untuk menyebabkan penyakit adalah pembentukan sinsitium yang menghambat serapan unsur hara dari tanah oleh akar tanaman. Penelitian rumah kaca ini dilakukan untuk menguji kemampuan jamur parasitik NSK dalam meningkatkan pertumbuhan dan serapan unsur hara makro fosfor (P) dan kalium (K) tanaman kentang yang ditanam di tanah diinfestasi sista NSK. Percobaan rumah kaca dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok yang menguji tujuh spesies jamur antagonis yang diisolasi dari sista NSK. Hasil percobaan menunjukkan bahwa inokulasi Fusarium oxysporum TR1, F. solani TR2, F. oxysporum KT1, F. chlamydosporum KT2, F. oxysporum SM1, Phaecilomyces  lilacinus SM3 dan F. chlamydosporum SM4 pada media tanam yang terinfestasi sista G. rostochiensis, dengan nyata meningkatkan bobot kering tajuk serta serapan P dan K pada daun kentang. Jamur antagonis ini berpotensi untuk digunakan sebagai agen hayati pengendali NSK.
Penggunaan Traktor Roda Dua pada Lahan Padi Sawah di Jawa Barat Bachrein, Saeful; Ruswandi, Agus; Subarna, Trisna
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.918 KB)

Abstract

Pengembangan komoditas padi sawah yang berorientasi agribisnis seharusnya  didukung oleh alat dan mesin pertanian antara lain traktor moda dua. Kajian ini dilakukan untuk mengevaluasi tingkat penggunaan,  keragaan dan kelayakan penggunaan traktor roda dua di lahan  padi sawah  di Jawa Barat. Kajian ini juga bertujuan untuk membuat pendekatan  pengembangan traktor roda dua di Jawa Barat berdasarkan kenyataan di lapangan dan kebijakan pemerintah. Kajian ini dilaksanakan melalui metode Pemahaman Pedesaan  Partisipatif dan survey terstruk-tur. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa ketersediaan traktor relatif memadai dengan tingkat partisipasi rumah tangga pengguna di musim hujan dan kemarau masing-masing  96 % dan 97 %. Usaha jasa traktor layak diusahakan karena  mem-berikan nilai Revenue-Cost Rasio 1,36 dan Pay Back Period 2,74 per tahun dan titik Impas 30,77 ha/tahun. Pada penelitian ini, beberapa masalah sosial, budaya dan teknis dalam pengembangan traktor roda dua pada padi sawah di Jawa Barat telah diinventarisasi.
Lama hidup, Keperidian, serta Kemampuan Memangsa Curinus coeruleus Mulsant (Coleoptera: Coccinellidae) terhadap Bemisia tabaci gennadius (Homoptera: Aleyrodidae) Riyanto, Agung Triantoro; Sudarjat, Sudarjat
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.991 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama hidup pada setiap tahap perkembangan dan keperidian Curinus coeruleus serta kemampuan memangsa C. coeruleus terhadap berbagai kepadatan nimfa Bemisia tabaci. Metode yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial, yang terdiri dari 2 faktor, yaitu: faktor tahap perkembangan predator C.coeruleus (larva instar-1, larva instar-2, larva instar-3, larva instar-4, imago betina dan imago jantan) dan faktor kepadatan mangsa nimfa B. tabaci (60, 120, dan 240 ekor mangsa). Hasil percobaan menunjukkan bahwa lama stadium larva instar-1 C. coeruleus berkisar antara 8–10 hari, larva instar-2  berkisar 4–6 hari, larva instar-3 berkisar 5–8 hari, larva instar-4 berkisar 9–12 hari, prapupa berkisar 2–3 hari, pupa berkisar 6–8 hari, lama hidup imago betina berkisar 63 – 76 hari dan lama hidup imago jantan berkisar antara 52–69 hari. Kemampuan  C. coeruleus meletakkan telur selama hidupnya berkisar antara 11–116 butir dengan persentase penetasan telur 54,55–81,03%, peletakan telur terjadi 2–6 kali. Masa inkubasi telur berkisar antara 6–7 hari. Jumlah pemangsaan tertinggi terjadi pada perlakuan larva instar-4 dengan kepadatan mangsa 240 ekor nimfa B. tabaci, yaitu rata-rata 102,5 ekor nimfa B. tabaci larva-1 hari-1.
Pemberdayaan Koperasi Unit Desa Melalui Analisis Faktor-Faktor Kunci Manajemen Purnomo, Sulistyo Sidik; Sudjana, Briljan
Agrikultura Vol 21, No 1 (2010)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.242 KB)

Abstract

Koperasi Unit Desa (KUD) adalah lembaga pedesaan yang memiliki peran penting dalam pembangungan pertanian. Namun saat ini kemandirian KUD belum kuat karena KUD masih merupakan kepanjangan tangan pemerintah untuk melaksanakan program pembangunan pedesaan terutama di sektor pertanian. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan faktor-faktor kunci manajemen KUD serta menentukan besar pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap kemandirian KUD. Penelitian dilakukan terhadap 10 KUD Kabupaten Garut yang berhasil mengembangkan KUD di tingkat nasional melalui survai lapangan dengan bantuan kuesioner untuk mendapatkan data primer. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) untuk menentukan besarnya pengaruh faktor kunci berupa faktor laten endogen dan eksogen terhadap keberhasilan dalam manajemen KUD. Analisis variabel-variabel yang diteliti menghasilkan l5 faktor kunci laten endogenous dan 80 faktor  kunci latent exogenous. Seluruh faktor kunci tersebut direkomendasikan untuk digunakan sebagai pedoman dalam upaya pemberdayaan KUD ke arah kemandirian.
Aktivitas Enzim Fosfatase dan Ketersediaan Fosfat Tanah pada Sistem Tumpangsari Tanaman Pangan dan Jati (Tectona grandis L.f.) setelah Aplikasi Pupuk Hayati Fitriatin, Betty N.; Hindersah, Reginawanti; Suryatmana, Pujawati
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.025 KB)

Abstract

Pupuk hayati seperti mikrob pelarut fosfat (MPF) dan fungi mikoriza arbuskula (FMA) berperan dalam siklus unsur hara fosfor di dalam tanah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas enzim fosfatase dan ketersediaan fosfat di tanah Ultisols pada sistem tumpangsari jati (Tectona grandis L.f.) dengan tanaman pangan setelah aplikasi pupuk hayati berupa FMA dan MPF.  Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan faktor pertama adalah pupuk hayati (tanpa dan dengan 2 ton ha-1, 4 ton ha-1, dan  6 ton ha-1 pupuk hayati), dan faktor kedua adalah pola tanam tumpang sari dengan jati (jati dengan jagung, jati dengan kedelai, dan jati dengan jagung dan kedelai).        Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara pupuk hayati  dengan pola tumpang sari terhadap aktivitas fosfatase, fosfat tersedia dan populasi MPF. Aplikasi pupuk hayati meningkatkan  aktivitas fosfatase Ultisols dan mempengaruhi  perubahan populasi MPF, namun tidak mempengaruhi kandungan fosfat tersedia tanah. Aktivitas fosfatase tanah lebih tinggi pada pola tumpang sari jati dengan jagung dan kedelai dibandingkan dengan tumpang sari jati dengan jagung atau kedelai saja.  Pola tanam tumpang sari jati dengan tanaman pangan tidak mempengaruhi fosfat tersedia dan populasi MPF di dalam tanah.
Kajian Pengembangan Usahatani Padi Organik SRI (System of Rice Insensification) Berwawasan Agribisnis dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan Secara Berkelanjutan Sugarda, Tarya J; Charina, Anne; Setiagustina, Lisye; Setiawan, Iwan
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2740.391 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah merumuskan alternatif pengintegrasian on farm dengan off farm dalam sistem agribisnis untuk mewujudkan pola pengembangan SRI secara berkelanjutan di Iawa Barat. Melalui wawancara dengan pelaku padi organik di Kab. Ciamis, Kab. Tasikmalaya, dan Kota Sukabumi, serta analisis perbandingan. Diperoleh beberapa temuan; 1) Secara spasial, pilot project SRI masih terkonsentrasi di zona ekologi ]awa Barat bagian selatan. Secara sosial, mayoritas petani belum mengetahui informasi dan teknis SRI. Secara ekonomis, jika input organik diproduksi sendiri, metode SRI lebih menguntungkan dibandingkan dengan metode konvensional. Secara ekologis, dengan metode SRI, tanah menjadi lebih baik. Secara teknis. SRI dipandang rumit oleh petani, sehingga penerapannya masih berada pada tahap mencoba (trial) kecuali beberapa tokoh tani; 2) sosialisasi SRI berjalan terlalu tergesa-gesa dan orientasi yang bias (pseudo); 3) pengembangannya belum didukung payung hukum atau pemihakan politis; 4) perilaku bertani organic petani yang Iemah, ketergantungan pada metode konvensional, kurangnya motivasi, kurangnya supply pupuk, belum berperannya kelompok tani, belum memadainya tenaga fasilitator, minimnya informasi SRI, dan lemahnya akses jaringan pemasaran padi organik berpengaruh terhadap perkembangan padi SRI; dan 5) strategi untuk mengatasi permasalahan di atas meliputi: memproduksi pupuk organik yang lebih praktis dalam skala besar; menerapkan manajemen rice estate dan corporate farming berbasis kelompok tani; mengintegrasikan metode SRI dengan agribisnis peternakan; menguatkan modal sosial (seperti budaya beternak dan kerjasama); mengintegrasikan pasar padi organik; menggulirkan program rehabilitasi lahan, dan mengembangkan petani-petani SRI yang berusia muda, berpendidikan, dan berwawasan lestari.
Formulasi Lengkap Larutan Pengawet Bunga Potong Anyelir (Dyanthus caryophillus) Iriani, Farida
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.038 KB)

Abstract

Pemanfaatan larutan pengawet berfomula bahan dasar sukrosa, asam sitrat, dan lisol adalah efektif mempertahankan kualitas bunga potong anyelir. Pemanfaatan larutan pengawet berformula bahan dasar yang ditambahkan senyawa pengatur tumbuh sitokinin atau senyawa anti etilen telah dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji keefektifannya dalam meningkatkan kualitas bunga potong itu. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri atas lima faktor yang diulang tiga kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan kinetin atau perak tiosulfat ke dalam formula dasar memberi efek yang lebih baik terhadap kualitas bunga potong anyelir dibandingkan dengan perendaman dalam larutan pengawet berformula dasar saja, sebagaimana terukur melalui umur peragaan, jumlah koloni mikroba, perkembangan bobot segar relatif 2-harian, etilen yang disintesis dan respirasi.

Page 1 of 13 | Total Record : 129