Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia
Published by Universitas Indonesia
Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia, Jurnal EKI, presents scientific writings on information and updates of health economic in collaboration with Centre for Health Economic and Policy Studies (CHEPS) Universitas Indonesia and INAHEA (indonesian Health Economic Association). Jurnal EKI is published four times (four number) annually (per volume) in two languages (Bahasa Indonesia and English) electronically and printed. It includes research findings, case studies, and conceptual fields, namely: health economic, health insurance, health administration/policy, pharmaco-economic, and Health Technology Assessment (HTA).
Articles
35
Articles
‚Äč
Perkembangan Asuransi Kesehatan Swasta di Indonesia 2012 ‚?? 2016

Sari, Kurnia

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Total belanja asuransi swasta di tahun 2015 sekitar 3,9% dari pengeluaran kesehatan Indonesia. Walaupun tidak cukup besar, informasi tentang asuransi kesehatan swasta di Indonesia masih terbatas. Kajian ini ditujukan untuk memberikan gambaran perkembangan perusahaan asuransi kesehatan swasta di Indonesia. Jumlah perusahaan asuransi swasta dalam beberapa ta¬≠hun terakhir tidak banyak tumbuh, sementara jumlah kepesertaannya cenderung fluktuatif dalam 5 tahun terakhir, bahkan turun untuk kelompok asuransi kerugian. Uang pertanggungan cenderung naik sampai tahun 2014, lalu stagnan pada periode berikutnya. Jumlah premi yang diterima perusahaan dan klaim yang harus dibayarkan cenderung naik, dengan rasio klaim yang cukup tinggi pada asuransi kerugian dan dalam batas wajar untuk asuransi jiwa. Tidak dapat dipungkiri bahwa program pemerintah untuk mencapai universal health coverage merupakan sebuah ancaman bagi pihak asuransi swasta.AbstractTotal private insurance spending in 2015 is about 3.9% of Indonesia‚??s health expenditures. Although it is not considerably high, the information about private health insurance in Indonesia is still limited. This review is aimed to provide an overview of the private health insurance company growths in Indonesia. The number of private insurance company does not grow significantly, while the number of membership tends to fluctuate in the last 5 years, even it is tend to decrease for non life insurance category. Sums assured tend to rise until 2014, then stagnant for the next period. The amount of premium received by the company and claims to be paid (claim ratio) is considerably increase. It could not be denied that government program for achieving the universal health coverage is a threat to private insurance.

Analisis Pembiayaan Program Promotif dan Preventif Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Bersumber Pemerintah di Kota Semarang Tahun 2013-2015

Kamila, Nisa

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakSelama tahun 2010-2014, Kota Semarang selalu termasuk dalam peringkat tiga besar Incidence Rate Deman Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembiayaan program pemberantasan DBD bersumber pemerintah pada tahun 2013-2015 dan kesenjangan sumberdaya. Pendekatan akun biaya kesehatan (health account) digunakan untuk menelusuri pembiayaan menurut sumber, fungsi, dan penyedia layanan. Hasil studi menunjukkan bahwa total belanja program DBD bersumber APBD tahun 2013 adalah Rp. 4.018.927.020,- meningkat sebesar 101% pada tahun 2014 dan meningkat sebesar 218% pada tahun 2015. Belanja terbesar pada program pemberantasan DBD adalah untuk kegiatan surveilans epidemiologi dan pengendalian penyakit menular. Tidak terdapat kesenjangan antara ketersediaan sumber daya (berdasarkan belanja kesehatan program pemberantasan DBD) dengan kebutuhan program (berdasarkan perhitungan kebutuhan metode SPM). Disarankan agar perencanaan program lebih berfokus pada kegiatan promotif dan preventif.¬†AbstractIn 2010‚??2014, Semarang was involved as the big three city with high incidence rate of dengue in Central Java province. This study aimed to analyze the financing by the local government for Dengue preventive program in 2013-2015, as well as the resources gap.The health account approach was used to analyze spending by source, function, and provider. Total local government spending for dengue in 2013 were IDR 4.018.927.020,- increased by 101% in 2014 and increased by 218% in 2015. The largest expenditure for Dengue Preventive program is epidemiological surveillance and infectious disease control. There was no gap between available resources and requires program according to SPM. The study suggested to improve planning by focusing on the direct activities such as promotive and preventive.

Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingginya Rujukan Kasus Non Spesialistik Pasien Jaminan Kesehatan Nasional pada Puskesmas di Kabupaten Sukabumi Tahun 2015

Alawi, Masykur, Junadi, Purnawan, Latifah, Siti Nur

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakPuskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan dasar diharuskan menuntaskan kasus-kasus non spesialistik. Namun, data laporan BPJS Kesehatan pada tahun 2015 menunjukkaan adanya 11.487 rujukan kasus non spesialistik dari 58 Puskesmas di Kabupaten Sukabumi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingginya rujukan kasus non spesialistik pasien JKN pada puskesmas di Kabupaten Sukabumi tahun 2015. Penelitian menggunakan desain cross sectional, pada sampel 58 Puskesmas dengan satu orang dokter dari setiap Puskesmas dengan menggunakan whole sampling. Hasil analisis data didapatkan ada hubungan antara wilayah (nilai p=0,000); kecukupan obat (nilai p=0,040);kecukupan alat kesehatan (nilai p=0,024) dan jarak puskesmas (nilai p=0,003) dengan rujukan kasus non spesialistik. Perlu adanya pemenuhan obat-obatan, alat kesehatan sesuai standar Puskesmas dan monitoring dan evaluasi rujukan kasus non spesialistik dari Puskesmas dan BPJS Kesehatan.¬†AbstractPublic Health Center is the frontline in the basic health services that include non-specialist cases to be solved in this primary health care level. However, a report from BPJS Kesehatan in 2015 showed that there were 11.487 referral of non-specialist cases in Primary Health Cares (PHCs) in Sukabumi. This study was to determine factors associated with high referral rate of National Health Insurance‚??s members with non-specialist cases by PHCs in Sukabumi in 2015. The study employed cross-sectional design in 58 PHCs along with a general practitioner in each centers using a whole sampling. The result showed that there were correlation between characteristics of the region (P=0,000); adequacy of drug (P=0,040); adequacy of medical devices (P=0,024); and distance from the PHCs to the referral health care facilities (P=0,003) with non-specialist cases referral rate. It is recommended for the PHCs to meet the needs of drugs, medical devices according to the standard, monitor and evaluate the non-specialist referral cases, both from health centers and the Social Security Agency for Health of Sukabumi.

Determinan Harapan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Terhadap Layanan Di Klinik Pratama Kota Depok Periode Mei Tahun 2016

Aini, Baiq Qurrata, Damayanti, Rita

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

¬†Abstrak Hasil survei kepuasan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terhadap pelayanan klinik yang dilakukan pada tahun 2014 mencapai sekitar 80% dan melampaui target Road Map Menuju Jaminan Kesehatan Nasional. Namun, masih banyak keluhan yang disampaikan peserta JKN seperti pada laporan YLKI, situs resmi Kemenpan, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai determinan harapan peserta BPJS Kesehatan terhadap layanan di Klinik Pratama Kota Depok Periode Mei Tahun 2016. Penelitian ini mengkombinasikan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif. Desain penelitian ini adalah sequential exploratory yang diawali dengan penelitian kualitatif dan dilanjutkan dengan penelitian kuantitatif. Dari hasil analisis data didapatkan bahwa ada hubungan antara pendidikan (nilai p= 0,02), personal needs (nilai p= 0,01), word-of-mouth (nilai p = 0,001), dan past experience (nilai p = 0,001) dengan tingkat harapan peserta BPJS terhadap layanan di klinik pratama Kota Depok periode Mei tahun 2016. Faktor yang paling dominan mempengaruhi tingkat harapan peserta BPJS terhadap layanan di klinik pratama Kota Depok periode Mei tahun 2016 adalah personal needs(r =0,919).Abstract The score of JKN member‚??s satisfaction in primary clinic in 2014 reached as high as 80%, which means that it achieved the target of Jaminan Kesehatan Nasional‚??s (JKN) Road Map. However, there were still many complaints coming from the BPJS customer as shown in YLKI report and in Kemenpan official website regarding unfulfillment of their expectations. This study aimed to ob¬≠tain information about the determinant of member‚??s expectation to the service of primary clinic in Depok (May 2016). This study combined qualitative and quantitative study by sequential exploratory, which was started by qualitative study to explore the phe¬≠nomena and then followed by quantitative design. The number of participants in the qualitative and quantitative study were 12 and 203, respectively. The result showed that there were no correlation between gender, age, and occupation with the level of their expectation. On the other hand, there were correlation observed between the level of education, personal need, word-of-mouth, and past experience with the level of their expectation. The most dominant factor that influences the level of respondent‚??s expectation was personal need, which means that the higher respondent frequency to visit primary clinic to get treatment when sick, the higher the level of respondent expectation.

Analisis Perhitungan Kapitasi pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang Bekerja Sama dengan BPJS Kesehatan KCU Kota Bogor Tahun 2015

Kurnia, Ayu Novia, Nurwahyuni, Atik

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

¬†Abstrak Berdasarkan PMK No. 69 Tahun 2013, tarif kapitasi ditetapkan sama untuk semua kelompok umur, hanya dibedakan antar FKTP. Tarif kapitasi tersebut tidak disesuaikan dengan risiko individu. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung tarif kapitasi berdasarkan risiko umur menggunakan metode penelitian cross sectional. Hasil dari penelitian ini yaitu tarif kapitasi berdasar¬≠kan kelompok umur pada puskesmas, DPP, dan klinik. Hasil tarif kapitasi tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tarif antar kelompok umur dengan kapitasi tertinggi terdapat pada kelompok umur 0-4 dan ‚?• 50 tahun dan tarif kapitasi cenderung turun pada kelompok umur produktif.¬†Abstract Based on PMK No. 69 in 2013, capitation is set at the same tariff for all age groups and only distinguished for each primary health care. Capitation is not adjusted by individual risk. This study aimed to calculate the capitation by age, using cross sectional design. The result of this study was capitation by age groups at the primary health care level. It was indicated that there was different capitation between age groups, with higher capitation observed in the age group of 0-4 and ‚?•50 years old and declining in productive age.

Analisis Karakteristik dan Persepsi Pengguna Pelayanan Terhadap Pemanfaatan Puskesmas Sebagai Gatekeeper di Dua Puskesmas Kota Bekasi Tahun 2016

Wulandari, Fitria Kusumawati, Achadi, Anhari

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakKonsep pelayanan kesehatan primer pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dikembangkan dengan penguatan pelayanan primer sebagai gatekeeper dengan konsep managed care. Pada konsep managed care, suksesnya sistem gatekeeper salah satunya dinilai dari angka kunjungan dan angka rujukan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (FKTL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan persepsi pengguna pelayanan terhadap pemanfaatan Puskesmas sebagai gatekeeper di dua puskesmas Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan pengumpulan data melalui pengisian kuesioner oleh 208 pasien peserta JKN di dua puskesmas Kota Bekasi dengan metode pengambilan sampel secara stratified purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan pekerjaan (nilai p=0,018), persepsi terhadap sikap petugas kesehatan (nilai p=0,000), dan lama berobat (nilai p=0,048) berhubungan dengan pemanfaatan puskesmas sebagai gatekeeper. Persepsi terhadap sikap petugas kesehatan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi pemanfaatan Puskesmas sebagai gatekeeper (r=0.720). Penerapan konsep gatekeeper dengan baik dapat meningkatkan pemanfaatan Puskesmas dan menekan angka rujukan ke FKTL.¬†AbstractThe concept of primary health care in the era of National Health Insurance (JKN) is developed by strengthening primary health care as a gatekeeper with the concept of managed care. In this concept of managed care, one og the success story of the gatekeeper system is assessed by the visit and referral rates to the Higher Level of Health Facilities (ALHF/Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut). This study aimed to determine the characteristics and perception of service users towards utilization of public health centers (PHC/Puskesmas) as gatekeeper in two PHC in City of Bekasi. This study used cross-sectional design and data collection by filling up questionnaires by 208 patients of JKN members in two health centers in Bekasi with stratified purposive sampling methods. The results showed that job(p=0.018), perceptions of the health workers‚?? attitudes (p=0.000), and treatment duration (p=0.048) were related to the utilization of PHC as a gatekeeper. Perceptions of the health workers‚?? attitude was the dominant factor affecting the utilization of PHC as a gatekeeper (r=0.720). The health workers‚?? attitude affected the repeated utilization services in PHC and its utilization as a gatekeeper, especially for continuum care. The proper application of gatekeeper concept should be able to increase the utilization of PHC and reduce the number of referrals to the Advanced Level of Health Facilities (ALHF).

Determinan Variasi Klaim Penyakit Stroke Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Rumah Sakit X Sumatera Utara

Mahulae, Joan Xaveria, Ilyas, Jaslis

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Penelitian yang dilakukan oleh IHME pada tahun 2010 terkait Global Burden of Disease menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia. Pembiayaan penyakit stroke oleh BPJS Kesehatan menduduki peringkat kedua terbesar setelah penyakit jantung. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik dominan yang memicu variasi klaim pasien stroke rawat inap peserta JKN di RS X Sumatera Utara Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional dan analisis multivariat dengan uji regresi linear. Karakteristik yang dominan berhubungan dengan total klaim pasien stroke adalah kelas perawatan (p-value=0,0005), jenis kepesertaan (p-value=0,0005), lama hari rawat (p-value= 0,004), dan tingkat keparahan ( p-value = 0,0005). Abstract Refers to IHME study in 2010 about Global Burden of Disease shows that stroke is one of the highest cause of mortality in Indonesia. While the expenditure by BPJS Health for stroke is the 2nd highest after heart disease. This study aims to determine the most dominant characteristics associated with the total claims of stroke patients covered by JKN for inpatient service at X Hospital by doing multivar­iate analysis with variable linear regression method. The most significant characteristics are type of health care, type of membership, length of stay age, and level of severity. The finding shows that X Hospital is still not optimal in providing services for stroke. Some feasible efforts that can be considered are increasing the neurovascular experts and providing better diagnostic equipments in order to deliver the necessary treatment. 

Timbang Besarnya Manfaat dari Salah Sasar Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan

Soewondo, Prastuti

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Salah satu kebijakan pemerintah dalam percepatan capaian Jaminan Kesehatan Semesta bagi seluruh penduduk adalah mem¬≠berikan keringanan keuangan dengan membayarkan iuran Jaminan Kesehatan bagi 92.4 juta masyarakat miskin dan rentan kemiskinan yang mewakili sekitar 35% dari total populasi. Kelompok masyarakat ini disebut sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI). Studi ini mengkaji seberapa banyak masyarakat miskin dan rentan yang telah menerima kebijakan pemerintah dalam pemberian subsidi jaminan kesehatan. Data penelitian menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2016, khu¬≠susnya data konsumsi rumah tangga dan status kepemilikan berbagai jenis jaminan kesehatan. Hasil menunjukkan bahwa, pada tingkat nasional, bantuan subsidi iuran jaminan kesehatan telah dinikmati oleh mayoritas (51%) rumah tangga miskin dan rentan kemiskinan, terlebih lagi rumah tangga yang tinggal di wilayah Timur Indonesia (58%). Bersama dengan Jamkes¬≠da, 59,5% rumah tangga miskin dan rentan kemiskinan (66,4% di wilayah Timur) telah menerima manfaat proteksi jaminan kesehatan. Capaian kebijakan pemerintah ini patutlah dicatat, walaupun level cakupan harus terus ditingkatkan. Janganlah ini ditutupi oleh isu salah sasaran PBI ke sekitar 3% rumah tangga kaya yang dibesar-besarkan untuk menarik perhatian massa.¬†Abstract One of the foremost government policies implemented in achieving Universal Health Coverage for the Indonesian population is the provision of financial assistance through contribution of Social Health Insurance for 92.4 million targeted poor and near poor house¬≠holds. This segment of the population is referred to as Penerima Bantuan Iuran (PBI) and represents about 35% of the total population. This study reveals the government‚??s progress in protecting the health of this sub-population. The data is derived from the 2016 Na¬≠tional Social Economic Survey. The results indicate that, at the national level, the government‚??s health protection program has reached the majority of poor and near poor household (51%), especially those residing in Eastern part of the country (58%). Together with local government‚??s support, 59.5% of poor and near poor households (66.4% in Eastern region) have been insured. While improvements in coverage should still be top policy agenda, this achievement of the government deserves more appreciation. We show that misalloca¬≠tion of PBI to wealthy households is only small (3%), yet often broadcasted with much hype to create agitation.¬†

Analisis Praktik Koordinasi Manfaat (Coodination of Benefit) Layanan Rawat Inap di Indonesia

Dewi, Fera Mutiara, Hidayat, Budi

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Kepemilikan lebih dari satu asuransi (double insured) telah membuka peluang praktik Coordination of Benefit (COB) di Indo­nesia. Pada era JKN saat ini, setiap orang selain memiliki asuransi yang bersifat wajib mereka pun memiliki asuransi keseha­tan tambahan yang kepesertaanya bersifat tidak wajib. Pada praktiknya, beberapa penerapan COB masih ditemukan belum sesuai dengan prinsip universal asuransi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik COB dan besaran biaya COB yang terjadi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah rancangan studi observasional dengan desain cross sectional. Pe­modelan dengan ekonometrik (two-part model) dilakukan untuk memisahkan proses antara praktik COB dengan besaran biaya COB. Hasil penelitian menyatakan kovariat Usia, LOS dan penyakit sistem sirkulasi menunjukkan efek yang signifikan dalam pengujian secara statistik. Kurangnya koordinasi antar provider dengan asuradur atau asuradur dengan asuradur yang lain menyebabkan meningkatnya potensi moral hazard yang dilakukan baik oleh peserta maupun provider sehingga peserta berpotensi mendapatkan cakupan ganda. Perlu dibuat organisasi khusus untuk mengelola COB dan dibuatnya regulasi COB.AbstractNowadays, some people may have double insurance. Besides having compulsory insurance that regulated by government, they also have additional health insurance which is not mandatory. This condition has opened up opportunities for Coordi­nation of Benefit (COB) in Indonesia, especially in JKN era. Unfortunately, in practice COB still not executed according to the principle of general rules of insurance. This research seeks to analyze the practice of the COB and COB fee scale in Indonesia. The method used is the observational study with cross sectional design. The modeling uses an econometric approach that is a two-part model which separates the process between the COB practice and the COB funds. The result of the research states that age covariate, LOS, and circulatory system diseases show significant effects in statistical testing. Lack of coordi­nation between providers and assurer or between assurer and assurer, causes increasing potential moral hazard by both participants and providers so that participants may get double coverage. The suggestions of this research are first the need to create an independent organization that manages COB and second the need to made regulation of COB. 

Analisis Perbandingan Biaya Langsung (Direct Cost) dan Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) pada Pasien Stroke Di Rumah Sakit

Aulia, Destanul, Ayu, Sri Fajar, Nefonafratilova, Nefonafratilova

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Stroke dibagi dalam dua kategori, yaitu stroke iskemik dan hemoragik. Setiap tahunnya terdapat 15 juta orang di seluruh dun­ia yang mengalami stroke. Pengobatan stroke memerlukan biaya yang tinggi. Beban akibat penyakit jantung dan stroke dari tahun 2012 hingga 2030 mencapai Rp. 1,7 triliun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan biaya langsung dan tidak langsung yang dikelarkan oleh pasien stroke di RSUD Kota X tahun 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jum­lah pasien stroke iskemik lebih banyak dibandingkan pasien stroke hemoragik. Secara rata-rata, lama hari rawat untuk pasien stroke hemoragik lebih lama dibandingkan stroke iskemik. Namun demikian, total biaya pasien stroke jenis iskemik lebih be­sar dibandingkan total biaya pasien stroke hemoragik. Biaya rata-rata yang dikeluarkan pasien stroke hemoragik lebih besar Rp 3.763.750 dibandingkan biaya rata-rata pasien stroke iskemik. Total biaya langsung pasien stroke yaitu Rp. 527.895.000 (54,7%) dan total biaya tidak langsung yaitu Rp. 437.295.000 (45,3%). Disarankan agar masyarakat lebih teratur dalam me­mantau kesehatan, pergerakan tekanan darah dan kemungkinan gejala stroke.Abstract Stroke is divided into two categories, ischemic and hemorrhagic. Each year there are 15 million people around the world who suffer a stroke. Stroke treatment requires a high cost. The burden of heart disease and stroke from 2012 to 2030 reaches Rp. 1,7 trillion. This study aimed to analyze the comparison of direct and indirect costs of stroke patient in X hospital in 2017. The results showed that the number of ischemic stroke patients more than hemorrhagic stroke patients. The average cost of hemorrhagic stroke patients is greater at Rp 3,763,750 than the average cost of ischemic stroke patients. The total direct cost of stroke patients is Rp. 527,895,000 (54.7%) and the total indirect cost of Rp. 437,295,000 (45.3%). It is recommended that the public more actively to monitor health, blood pressure movements, and symptoms of stroke.