cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 13, No 3 (2017): Desember" : 6 Documents clear
Pola Distribusi Konsentrasi Klorofil-a di Laut Maluku berdasarkan Pengamatan In Situ INDESO Joint Expedition Program 2016 dan Data Penginderaan Jauh Hermawan, Indra; Setiawan, Agus; Pusparini, Nikita
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6494

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola distribusi konsentrasi klorofil-a di perairan Laut Maluku yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan RI 715 berdasarkan data pengamatan in situ dan penginderaan jauh. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2016 dan merupakan bagian dari Pelayaran Oseanografi INDESO Joint Expedition Program (IJEP) 2016 yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII. Berdasarkan hasil pengamatan in situ pada 8 titik pengamatan di sepanjang Laut Maluku dari selatan ke utara, didapatkan bahwa konsentrasi klorofil-a di permukaan berkisar antara 0,1 hingga 0,6 mg/m3. Hasil perbandingan antara konsentrasi klorofil-a hasil pengamatan in-situ dengan model biogeokimia INDESO dan citra satelit SeaWiFS masing-masing memberikan root mean square error sebesar 0,1507 dan 0,1364 mg/m3. Sementara itu, secara vertikal konsentrasi klorofil-a maksimum (antara 0,4 hingga 1 mg/m3) ditemukan pada kedalaman antara 17 hingga 61 meter, yaitu pada lapisan mixed layer.
Desain dan Layout Tambak Garam Semi Intensif Skala Kecil di Lahan Terbatas Bramawanto, Rikha
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6495

Abstract

Tambak garam rakyat di Indonesia pada umumnya dikelola dalam ukuran kecil, di Jawa Barat dan Pulau Madura hanya berkisar antara 0,3 sampai 1,7 hektar/orang dengan musim produksi hanya berkisar antara 3,5 – 4 bulan. Pola pengelolaan secara konvensional menjadi sebab belum optimalnya produksi garam rakyat, khususnya pada aspek kualitas. Hal tersebut membuat kehidupan petambak selama setahun belum dapat tercukupi, terutama untuk petambak garam sistem sewa atau bagi hasil. Petambak garam skala kecil membutuhkan solusi alternatif untuk meningkatkan produktivitasnya. Beberapa informasi eksisting seperti luas pengelolaan per orang dan produktivitas tambak, biaya produksi dan harga garam dijadikan dasar untuk menentukan target jumlah produksi dan kebutuhan luas lahan rasional sehingga dapat dibuat suatu desain dan layout tambak garam yang ideal dan ekonomis. Target penerimaan total minimal Rp 41.512.336,- dapat dicapai melalui produksi 100 ton garam per tahun. Berdasarkan perhitungan kesetimbangan massa air tua (brine), untuk memproduksi 100 ton garam dibutuhkan 5.000 m3 air laut dan luas lahan sekitar 1 hektar dengan rasio reservoir : condenser1 : condenser2 : meja kristalisasi  adalah 1 : 5 : 1.7 : 1.7. Luas tambak tersebut masih memungkinkan untuk 8 siklus produksi, yaitu 1 siklus awal dan 7 siklus masa pungut garam setiap 10 hari pada kondisi musim kemarau normal. Desain layout ini merupakan hasil perhitungan dan simulasi, namun masih perlu dilakukan penerapan dan pengujian pada skala percobaan maupun skala yang sesungguhnya untuk mengetahui efektifitas desain dan layout tambak garam semi intensif.
Kondisi Hidrooseanografi Perairan dan Hubungannya dengan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Sedanau dan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau Radiarta, I Nyoman; -, Erlania; Haryadi, Joni
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6544

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi kualitas perairan dan hubungannya dengan kondisi fitoplankton di perairan Pulau Sedanau dan Pulau Tiga Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Kondisi kualitas perairan dianalisis secara statistik dengan pendekatan klaster analisis dan indek kualitas air/WQI (Water Quality Index), dengan melibatkan  seluruh parameter dan berdasarkan parameter kunci biota perairan.  Hasil analisis klaster membagi kawasan perairan menjadi tiga klaster di masing-masing lokasi penelitian. Klaster ini membagi kawasan perairan berdasarkan kedekatan dengan daratan dan tingkat keterbukaan (keterlindungan) kawasan. Pembagian kawasan ini dapat digunakan sebagai acuan lokasi pengembangan budidaya laut. Analisa indek kualitas air menunjukkan bahwa perairan Pulau Sedanau dan Pulau Tiga masih dalam kategori baik dengan nilai indek berkisar antara 71-90. Terdapat hubungan yang signifikan (90%) antara klaster kawasan dengan kondisi fitoplankton, sedangkan hubungannya dengan WQI umumnya tidak signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karaktersitik perairan di Pulau Sedanau dan Pulau Tiga cukup berbeda, namun masih sangat baik untuk mendukung pengembangan budidaya laut.
Seleksi Parameter Pembentuk Indeks Kualitas Perairan untuk Pengembangan Budidaya Laut: Studi Kasus Perairan Teluk Sinabang, Aceh -, Erlania; Radiarta, I Nyoman; Haryadi, Joni
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6546

Abstract

Indeks Kualitas Perairan (Water Quality Indices/WQI) telah dikembangkan dan digunakan untuk menganalisis dan menginterpreasikan kondisi perairan, namun implementasi secara spesifik pada budidaya laut masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter penting pembentuk WQI dalam penentuan kesesuaian perairan untuk pengembangan budidaya laut di perairan Teluk Sinabang, Aceh. Nilai pengukuran parameter kualitas perairan yang terkumpul sebanyak 63 titik pengamatan untuk data in situ, dalam proses analisis statistik direduksi menjadi 20 titik pengamatan berdasarkan jumlah data ek situ. Parameter yang diukur meliputi suhu, pH, DO, TDS, konduktivitas, BOD, N total, nitrat, nitrit, amonium, P total, dan ortofosfat. Penghitungan nilai WQI dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu: (1) berdasarkan seluruh parameter (WQIobj); (2) parameter hasil seleksi menggunakan principal component analysis/PCA (WQImin-x); dan (3) parameter kunci yang dipilih menurut kebutuhan aktivitas budidaya laut secara umum (WQImin-aq). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai WQImin yangpaling mendekati nilai WQIobj (72,67) adalah WQImin-2 (69,75) dan diikuti oleh WQImin-aq (60,19).Hal inimenunjukkan bahwa parameter yang membangun WQImin-2 dan WQImin-aq sudah cukup mewakili untuk menggambarkan kondisi perairan Teluk Sinabang. Kedua nilai WQImin yang diperoleh berdasarkan beberapa parameterterseleksi mengindikasikan bahwa nilai tersebut secara umum dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan suatu perairan untuk pengembangan budidaya laut. Kondisi perairan Teluk Sinabang tergolong baik (level II) berdasarkan nilai WQIobj dan sedang (level III) berdasarkan kedua WQImin, yang mengindikasikan bahwa aktivitas budidaya masih dapat dilakukan pada perairan tersebut dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan perairan.
Fluktuasi Nitrat, Fosfat dan Silikat di Perairan Pulau Bintan Meirinawati, Hanny; Muchtar, Muswerry
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6493

Abstract

Pulau Bintan di Provinsi Kepulauan Riau merupakan wilayah perairan yang diandalkan sebagai penghasil bahan tambang bauksit, penghasil komoditas perikanan dan sebagai daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh wisata baik lokal ataupun mancanegara. Wilayah pesisir dan sumber daya yang dimiliki Pulau Bintan merupakan kontributor penting untuk pembangunan ekonomi dan kualitas hidup sehingga perlu dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan Bintan ditinjau dari kandungan nitrat, fosfat, dan silikat pada dua musim yang berbeda yang nantinya dapat digunakan oleh pemerintahan setempat dan instansi terkait dalam mengembangkan dan mengelola perairan kawasan perairan Pulau Bintan. Pengambilan sampel untuk penelitian nutrien (nitrat, fosfat, dan silikat) di perairan timur Kepulauan Bintan telah dilakukan di 27 titik lokasi pada April dan Agustus 2014. Konsentrasi nutrien berfluktuasi pada April dan Agustus. Nilai rata-rata kosentrasi nitrat, fosfat, dan silikat pada April berturut-turut yaitu 0,0510 ± 0,0014 mg/L, 0,0050 ± 0,0026 mg/L dan 0,2660 ± 0,1655 mg/L. Konsentrasi rata-rata nitrat, fosfat, dan silikat pada Agustus berturut-turut yaitu 0,0260 ± 0,0104 mg/L, 0,0160 ± 0,0091 mg/L dan 0,057 ± 0,035 mg/L. Konsentrasi nitrat, fosfat, dan silikat di perairan Bintan termasuk dalam kategori rendah.
Kondisi Terumbu Karang di kawasan KALP Pantai Krakas, Lombok Utara Johan, Ofri; Kusumah, Gunardi; Wisha, Ulung J.
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6548

Abstract

Penelitian tentang Keluaran Air Tanah Lepas Pantai (KALP) masih sedikit dilakukan di Indonesia dan saat ini baru pertama kali melihat dampak terhadap ekosistem terumbu karang terutama terkait kondisi karang di lokasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dampak KALP terhadap kondisi terumbu karang dengan menggunakan metode transek garis sebanyak 3 ulangan dengan panjang 20 m. Transek sabuk berukuran lebar 2 m dan panjang 20 m dengan ulangan sebanyak 3 kali digunakan untuk melihat kelimpahan penyakit karang di lokasi sekitar 1,5 km dari sumber KALP. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kelompok kategori kondisi karang antara lokasi KALP yaitu lebih rendah dari 50% yang termasuk kondisi jelek (18,18% lokasi 1 dan 45,79% lokasi 2) dengan dominasi tutupan karang mati 30,85% dan patahan karang 10,53%. Pada lokasi 3 yang jauh dari KALP memiliki kondisi karang kategori baik karena memiliki tutupan karang hidup diatas 50% (51,37%). Keberadaan penyakit karang “Yellow Syndrome” dan Black Band Disease tidak ditemukan pada kedua lokasi KALP, namun ditemukan pada lokasi 3 yang jauh dari KALP dengan kelimpahan yang tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6