cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 64 Documents
Identification Of Liquefaction Hazard In The Coastal Area Of Merak-Anyer, Banten Based On Cpt And Spt Data Soebowo, Eko
Jurnal Segara Vol 12, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v12i2.7656

Abstract

The coastal area of Merak-Anyer, Banten is located in the high seismic zone therefore it is highly susceptible to seismic hazard such as liquefaction. Earthquake triggered liquefaction could cause destructions to buildings and infrastructures, thus it can hinder evacuation efforts during an earthquake event.   Knowledge of the spatial distribution of liquefaction hazard potential in the coastal area is required as part of the hazard mitigation measures. This paper presents the results of the liquefaction hazard susceptibility analysis in Merak-Anyer, Banten based on geotechnical investigation. Liquefaction analysis was carried out using cone penetration test (CPT) and N-SPT methods with earthquake magnitude of 7, peak ground acceleration of 0.25 g and local groundwater level.  Analysis results showed that all investigation points in the coastal area of Merak-Anyer are prone to liquefaction and its associated settlement. The high liquefaction zone includes the areas of Rencana Pelabuhan Cilegon, Cigading, Mercu Suar dan Cinangka which correlates with the occurrence of loose sand – loose silt at the surface to the depth of 10 m with cone resistance (qc) < 10 MPa  and N-SPT <10.
Estimation of Sediment Distribution Based on Bathymetry Alteration (2014-2016) in the Inner Bay of Ambon, Maluku, Indonesia Rahmawan, Guntur Adhi; Gemilang, Wisnu Arya; Wisha, Ulung Jantama; Dhiauddin, Ruzana; Ondara, Koko
Jurnal Segara Vol 15, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v15i2.6956

Abstract

The development of Ambon city is centered around Ambon Bay. As the major area of marine and social activities, changes occurred directly affect to seawater degradation. Sedimentation is the main issue that has been occurring. Marine ecosystem can be potentially hampered by the high rate of sedimentation in the Inner Bay of Ambon (TAD). This study aimed to determine the distribution of sediment volume within the bay. Bathymetry of TAD was surveyed using transducer (Echosounder Echo track CVM Teledyne Odom Hydrographic Single Beam), which the depth of certain position was connected to GPS to record all the position data accurately. The field data are then analyzed spatially modelled in the form of 2D and 3D maps, overlaid with the past bathymetry data to calculate the bathymetry alteration and sediment volume estimation during 2014-2016. The depth of TAD in 2014 ranged between 0 – -42 meters, while, in 2016 the water depth slightly changed to 0 – -44 meters. The reduction of the water depth is observed in the 25 – 125 m from shoreline, where the bed thickness changes observed ranging from 0.1 - 1.4 m. Total volume of sediment augmentation reaches 13,236,182 m3 that covers about 67.67 Ha. Tidal current, that ranged averagely from 0-1.2 m/s, has a tremendous influence on sediment transport in TAD. The bay mouth, that is a semi-enclosed enclosed area, triggers sediment accumulation due to the weak tidal current transport. If ongoing, these conditions may endanger the environment and biota survival ability.
Mina Wisata Sebagai Alternatif Pengembangan Wisata Bahari di Kawasan Pesisir Buleleng, Bali Utara Yudasmara, Gede Ari
Jurnal Segara Vol 12, No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v12i1.7653

Abstract

Kawasan pesisir Kabupaten Buleleng saat ini telah dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan kepariwisataan, akan tetapi kegiatan tersebut masih belum memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan memiliki kecenderungan mengalami kejenuhan. Untuk itu, diperlukan suatu pengembangan wisata alternatif yang sesuai dengan kondisi dan potensi sumber daya alam yang ada serta saling  bersinergi dengan aktivitas wisata lainnya, seperti contohnya pengembangan mina wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kondisi dan potensi sumberdaya alam pesisir dan laut, tingkat kesesuaian kawasan pesisir Buleleng dalam menunjang pengembangan mina wisata dan menghasilkan model aktivitas mina wisata di kawasan pesisir Buleleng yang terpadu dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kesesuaian kawasan dengan rancangan penelitiannya berupa survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Buleleng apabila dilihat dari kondisi dan potensi sumberdaya alamnya masih mampu untuk mendukung aktivitas mina wisata dengan tingkat kesesuaian kawasan berdasarkan indeks kesesuaian wisata, yaitu pesisir Buleleng timur terkategori cukup sesuai (76,92), pesisir Buleleng tengah terkategori cukup sesuai (61,53) dan pesisir Buleleng barat terkategori sangat sesuai (87,17). Rencana model mina wisata yang dapat dikembangkan antara lain pesisir Buleleng timur adalah mina wisata budidaya laut (ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures), pesisir Buleleng tengah adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures), dan pesisir Buleleng barat adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut, Bandeng, Kerapu, Mutiara, ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures).
Suhu Permukaan Laut Perairan Indonesia dan Hubungannya dengan Pemanasan Global Syaifullah, M. DJazim
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2056.793 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.7356

Abstract

Analisis suhu permukaan laut / SPL (Sea Surface Temperature  ̶  SST) telah dilakukan di perairan Indonesia untuk melihat hubungannya dengan pemanasan global. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut (sumber : National Centers for Environmental Prediction, National Weather Service, NOAA) dalam bentuk grid format ASCII selama 32 tahun (1982 – 2014), dengan skala spasial 1o x 1o geografis dan skala temporal mingguan. Analisis dilakukan dengan dua cara yaitu analisis temporal dan spasial. Analisis temporal untuk melihat trend dari anomali suhu permukaan laut rerata beberapa wilayah tertentu, sedangkan analisis spasial untuk melihat wilayah mana yang mengalami kenaikan suhu permukaan laut dan sebaliknya. Hasil analisis menunjukkan bahwa selama lebih 32 tahun telah terjadi peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Indonesia yang bervariasi. Kenaikan suhu permukaan laut (SPL) yang paling besar terjadi di laut Pasifik Barat di sebelah utara Papua. Secara umum dapat dilihat bahwa anomali SPL di wilayah Indonesia terbagi menjadi anomali positif dan negatif yang terpisah di belahan bumi bagian selatan dan belahan bumi bagian utara.
Penentuan Siklus Glasial – Interglasial Terakhir Pada Sedimen Dasar Laut Kawasan Lepas Pantai Pelabuhan Ratu Zuraida, Rina; Troa, Rainer A.; Hendrizan, Marfasran; Triarso, Eko; Gustiantini, Luli; Nurdin, Nazar; Hantoro, Wahyu S.; Liu, Shengfa
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.416 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.7355

Abstract

Kawasan Lepas Pantai Pelabuhan Ratu yang terletak di wilayah Jawa Barat bagian selatan dipengaruhi oleh dinamika laut Selat Sunda dan Samudera Hindia bagian timur. Kondisi ini terekam dalam sedimen dasar laut dan tersimpan sebagai informasi berbagai proses yang terjadi di perairan tersebut pada rentang waktu geologi tertentu. Penelitian ini menggunakan contoh inti sedimen dasar laut SO184-10043 (7°18,57 LS dan 105° 3,45’ BT, kedalaman 2166 m, panjang 360 cm) yang diambil pada saat cruise PABESIA dengan menggunakan kapal riset Sonne di Selat Sunda. pada tahun 2005. Metode penelitian yang digunakan adalah pentarikhan umur (dating) radiokarbon (14C) dan analisis isotop oksigen (d18O) pada foraminifera plankton Globigerinoides ruber. Hasil pentarikhan umur isotop 14C terhadap 16 cuplikan contoh menunjukkan bahwa contoh inti SO184-10043 merekam Siklus Glasial Terakhir hingga 35.000 tahun yang lalu. Hasil pengukuran d18O memberikan nilai Deglasiasi yang lebih besar dari daerah sekelilingnya yang diduga akibat terbukanya Laut Jawa yang memungkinkan mengalirnya air dari Laut Cina Selatan dengan salinitas dan suhu yang lebih rendah menuju Samudera Hindia melalui daerah penelitian. Rekonstruksi suhu permukaan laut dari data isotop d18O memberikan nilai suhu Deglasiasi yang jauh lebih tinggi yang diduga akibat faktor lokal yang mempengaruhi nilai salinitas di daerah penelitian.
Pemetaan Spasial Jalur Penangkapan Ikan Dalam Rangka Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, Studi Kasus di WPP 713 dan WPP 716 Suhelmi, Ifan Ridlo; Rizki A., Adi; Prihatno, Hari
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.594 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.7352

Abstract

Jalur penangkapan ikan adalah wilayah perairan yang merupakan bagian dari WPP-NRI untuk pengaturan dan pengelolaan kegiatan penangkapan yang menggunakan alat penangkapan ikan yang diperbolehkan dan/atau yang dilarang. Penentuan jalur penangkapan ikan memerlukan berbagai data yang medukung antara lain data garis pantai, data wilayah konservasi, data darah buangan amunisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan batas-batas jalur penangkapan ikan berdasarkan KepmenKP nomor 2 tahun 2011. Metode penarikan batas kewenangan menggunakan Sistem Informasi Geografi dengan cara buffering garis pantai. Selain metode buffering juga digunakana metode analisis tumpangsusun peta. Berdasarkan hasil kajian dengan mempertimbangkan berbagai aspek penentu penarikan jalur penangkapan, diperoleh suatu peta yang menunjukkan batas-batas jalur penangkapan. Batas-batas ini memiliki posisi koordinat geografi tertentu.
Kualitas Air Pada Ekosistem Terumbu Karang Di Selat Sempu, Sendang Biru, Malang Wibawa, I Gusti Ngurah Artha; Luthfi, Oktiyas Muzaky
Jurnal Segara Vol 13, No 1 (2017): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1395.253 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i1.6420

Abstract

Perairan Selat Sempu yang terletak di Kabupaten Malang diketahui dalam kondisi tertekan, baik secara alamiah maupun karena faktor anthropogenic. Salah satu faktor alamiah yaitu adanya sedimentasi diikuti dengan jumlah nutrien yang berlebih yang berasal dari pegunungan diatasnya dan perairan Selat Sempu masih terpengaruh oleh adanya South Java Current yang mengakibatkan pengadukan sedimen dasar perairan. Faktor anthropogenic yang terdapat di Selat Sempu yaitu adanya pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara, kegiatan masyarakat sekitar, dan aktivitas pariwisata yang tidak dikelola secara terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan di ekosistem terumbu karang di perairan Selat Sempu. Pengambilan data parameter dilakukan dengan cara in-situ yang meliputi pengukuran kedalaman, temperatur, konduktivitas, salinitas, turbiditas, pH dan DO, selanjutnya pengolahan data sebaran kualitas air menggunakan program surfer. Hasil pengukuran rata-rata kualitas air diperoleh temperatur berkisar antara 26,92 – 27,06°C, konduktivitas 53,99 – 54,13 mS/cm, salinitas 33,64 – 33,95 PSU, turbiditas 0,54 – 1,43 NTU, pH 9,03 – 9,07 dan DO 8,36 – 8,71 mg/L.. Kualitas air menunjukkan masih dalam batasan normal untuk kehidupan terumbu karang. Apabila kondisi yang sudah baik ini tidak dijaga bisa jadi kondisi perairan akan berubah dan dapat mengancam kehidupan ekosistem terumbu karang di Selat Sempu di masa yang akan datang.
CHARACTERISTIC OF SALEH BAY COASTLINE Yulius, Yulius; Ramdhan, Muhammad; Ardiansyah, Ardiansyah
Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1206.682 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i2.6609

Abstract

Indonesia is an archipelagic country with numbers of natural resources including bays. As a closed estuary, bay has a strategic role as one of the ecological resources and environmental services. Saleh Bay is an outstanding bay of West Nusa Tenggara province which is situated between Sumbawa regency and Dompu regency. The study aimed to explain the criteria for the determination of a bay based on UNCLOS and bathymetry system by using Geographic Information System (GIS). The results of the identification indicated that the Ocean Map issued by Dishidros had not entirely referred to the criteria of UNCLOS in determining an area as a bay, in which an indentation is regarded as a bay if its total area is larger than the area of t he semi-circle whose diameter is a line drawn across the mouth of that indentation. Subsequently, spatial analysis found out that the depth of the waters in Saleh Bay can be classified into eleven classes, which are: (1) 0 – 10 meter with area of 294.27 km2, (2) 10 - 20 meter with area of 205.45 km2, (3) 20 - 30 meter with area of 259.45 km2, (4) 30 - 40 meter with area of 146.25 km2, (5) 40 - 50 meter with area of 137,83 km2, (6) 50 - 60 meter with area of 148.19 km2, (7) 75 - 100 meter with area of 57.08 km2, (8) 100 - 150 meter with area of 73.78 km2, (9) 150 - 200 meter with area of 109.46 km2, (10) 200 - 300 meter with area of 533.42 km2 , and(11) >300 meter with area of 134.89 km2.
DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP KONDISI PADANG LAMUN DI PERAIRAN TIMUR PULAU BINTAN KEPULAUAN RIAU Supriyadi, Indarto Happy; Rositasari, Ricky; Iswari, Marindah Yulia
Jurnal Segara Vol 14, No 1 (2018): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.861 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i1.6630

Abstract

Padang lamun memiliki peran penting sebagai sumber utama produktivitas primer atau penghasil bahan organik, habitat untuk berbagai biota, tempat asuhan, tempat memijah, sumber makanan bagi biota langka dan penyokong keanekaragaman jenis-jenis biota laut serta bernilai ekonomis dari jasa ekosistem lamun. Aktivitas pembangunan di wilayah pesisir yang terus meningkat telah mengakibatkan kerusakan padang lamun di perairan timur pulau Bintan. Saat ini kajian terbaru terkait dengan kondisi lamun belum tersedia. Kajian ini dilakukan pada Mei dan September (2015-2016) dengan tujuan untuk mengetahui dampak perubahan tutupan lahan terhadap kondisi lamun di perairan timur pulau Bintan. Kondisi lamun ditentukan berdasarkan persentase tutupan lamun. Analisis perubahan penggunaan lahan menggunakan perangkat lunak ENVI 5.1 dan ArcGIS 10.1. Pengukuran debit sungai dan penanganan sampel air dilakukan di lapangan dan laboratorium P2O-LIPI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan menjadi lahan terbuka, perkebunan dan semak belukar pada DAS Kawal telah memberikan dampak menurunnya kondisi lamun khususnya di sekitar muara Sungai Kawal. Secara umum kondisi lamun di perairan timur Pulau Bintan menurun ditunjukkan dengan persentase tutupan lamun yaitu 46 % (2006) dan 41 % (2015). Dalam penelitian ini ditemukan tujuh spesies lamun, antara lain Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halodule uninervis dan Syringodium isoetifolium.
Pola Distribusi Konsentrasi Klorofil-a di Laut Maluku berdasarkan Pengamatan In Situ INDESO Joint Expedition Program 2016 dan Data Penginderaan Jauh Hermawan, Indra; Setiawan, Agus; Pusparini, Nikita
Jurnal Segara Vol 13, No 3 (2017): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.012 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i3.6494

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola distribusi konsentrasi klorofil-a di perairan Laut Maluku yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan RI 715 berdasarkan data pengamatan in situ dan penginderaan jauh. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2016 dan merupakan bagian dari Pelayaran Oseanografi INDESO Joint Expedition Program (IJEP) 2016 yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII. Berdasarkan hasil pengamatan in situ pada 8 titik pengamatan di sepanjang Laut Maluku dari selatan ke utara, didapatkan bahwa konsentrasi klorofil-a di permukaan berkisar antara 0,1 hingga 0,6 mg/m3. Hasil perbandingan antara konsentrasi klorofil-a hasil pengamatan in-situ dengan model biogeokimia INDESO dan citra satelit SeaWiFS masing-masing memberikan root mean square error sebesar 0,1507 dan 0,1364 mg/m3. Sementara itu, secara vertikal konsentrasi klorofil-a maksimum (antara 0,4 hingga 1 mg/m3) ditemukan pada kedalaman antara 17 hingga 61 meter, yaitu pada lapisan mixed layer.