cover
Filter by Year
Jurnal Segara
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Articles
37
Articles
KAJIAN INDEKS VARIABILITAS TINGGI GELOMBANG SIGNIFIKAN DI INDONESIA

Habibie, Muhammad Najib, Fitria, Welly

Jurnal Segara Vol 14, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Informasi karakteristik gelombang merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai bidang seperti pelayaran, industri, pariwisata dan keamanan struktur lepas pantai. Penelitian mengenai karakteristik gelombang telah dilakukan oleh banyak peneliti baik dalam skala global maupun regional. Metode yang digunakan umumnya adalah perata-rataan yang menghilangkan variasi selama data tersebut diproduksi. Variasi data tersebut ada kalanya dibutuhkan untuk melihat tingkat kestabilan data selama kurun waktu tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi spasial dan temporal tinggi gelombang signifikan di wilayah Indonesia serta mengetahui tingkat kestabilannya. Pada penelitian ini dilakukan analisa kestabilan tinggi gelombang melalui perhitungan koefisien variasi, indeks variabilitas bulanan dan indeks variabilitas musiman. Data yang digunakan adalah luaran model WAVEWATCH-III pada jangka waktu tahun 1991-2015 dengan time step 3 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelombang signifikan memiliki pola variabilitas berdasarkan siklus monsunal. Gelombang signifikan di Indonesia mencapai puncaknya bersamaan dengan aktifnya monsun Asia dan Australia di bulan DJF dan JJA. Tingkat kestabilan yang direpresentasikan oleh koefisien variasi mencapai nilai terendah juga pada musim ini. Hal ini berarti pada saat monsun aktif, gelombang signifikan cenderung stabil dibandingkan dengan musim peralihan. Distribusi spasial menunjukkan bahwa daerah laut lepas lebih tinggi gelombangnya dibanding di laut tertutup. Koefisien variasi dan indeks variabilitas musiman dan bulanan menunjukkan daerah laut lepas memiliki tingkat kestabilan yang lebih tinggi. Daerah yang paling stabil yaitu S. Hindia diikuti S. Pasifik dan Laut Cina Selatan. Sedangkan perairan yang tidak stabil meliputi Teluk Tomini, Laut Flores dan Selat Malaka.

Suhu Permukaan Laut Perairan Indonesia dan Hubungannya dengan Pemanasan Global

Syaifullah, M. DJazim

Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Analisis suhu permukaan laut / SPL (Sea Surface Temperature  ̶  SST) telah dilakukan di perairan Indonesia untuk melihat hubungannya dengan pemanasan global. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut (sumber : National Centers for Environmental Prediction, National Weather Service, NOAA) dalam bentuk grid format ASCII selama 32 tahun (1982 ?? 2014), dengan skala spasial 1o x 1o geografis dan skala temporal mingguan. Analisis dilakukan dengan dua cara yaitu analisis temporal dan spasial. Analisis temporal untuk melihat trend dari anomali suhu permukaan laut rerata beberapa wilayah tertentu, sedangkan analisis spasial untuk melihat wilayah mana yang mengalami kenaikan suhu permukaan laut dan sebaliknya. Hasil analisis menunjukkan bahwa selama lebih 32 tahun telah terjadi peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Indonesia yang bervariasi. Kenaikan suhu permukaan laut (SPL) yang paling besar terjadi di laut Pasifik Barat di sebelah utara Papua. Secara umum dapat dilihat bahwa anomali SPL di wilayah Indonesia terbagi menjadi anomali positif dan negatif yang terpisah di belahan bumi bagian selatan dan belahan bumi bagian utara.

CHARACTERISTIC OF SALEH BAY COASTLINE

Yulius, Yulius, Ramdhan, Muhammad, Ardiansyah, Ardiansyah

Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Indonesia is an archipelagic country with numbers of natural resources including bays. As a closed estuary, bay has a strategic role as one of the ecological resources and environmental services. Saleh Bay is an outstanding bay of West Nusa Tenggara province which is situated between Sumbawa regency and Dompu regency. The study aimed to explain the criteria for the determination of a bay based on UNCLOS and bathymetry system by using Geographic Information System (GIS). The results of the identification indicated that the Ocean Map issued by Dishidros had not entirely referred to the criteria of UNCLOS in determining an area as a bay, in which an indentation is regarded as a bay if its total area is larger than the area of t he semi-circle whose diameter is a line drawn across the mouth of that indentation. Subsequently, spatial analysis found out that the depth of the waters in Saleh Bay can be classified into eleven classes, which are: (1) 0 10 meter with area of 294.27 km2, (2) 10 - 20 meter with area of 205.45 km2, (3) 20 - 30 meter with area of 259.45 km2, (4) 30 - 40 meter with area of 146.25 km2, (5) 40 - 50 meter with area of 137,83 km2, (6) 50 - 60 meter with area of 148.19 km2, (7) 75 - 100 meter with area of 57.08 km2, (8) 100 - 150 meter with area of 73.78 km2, (9) 150 - 200 meter with area of 109.46 km2, (10) 200 - 300 meter with area of 533.42 km2 , and(11) >300 meter with area of 134.89 km2.

BUKTI LANGSUNG INTERAKSI PERDAGANGAN DI KEPULAUAN RIAU; STUDI PADA SITUS ARKEOLOGI BAWAH AIR DI PULAU NATUNA DAN PULAU BINTAN

Adhityatama, Shinatria, Sulistyarto, Priyatno Hadi

Jurnal Segara Vol 14, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kepulauan Riau merupakan pintu gerbang masuknya para pedagang internasional ke Nusantara. Kepulauan ini memiliki sejarah maritim yang panjang, dan aktivitas perdagangan global terekam secara detail di kawasan ini dengan ditemukannya situs kapal karam dan barang komoditasnya. Kapal karam merupakan bukti langsung secara arkeologi untuk merekonstruksi aktivitas pelayaran laut. Dari temuan kapal karam kita dapat mempelajari teknologi struktur kapal itu sendiri, navigasi laut dalam jalur perdagangan, interaksi budaya, serta jenis komoditas yang dipasarkan di Perairan Nusantara secara khusus. Kerajaan-kerajaan Melayu berkembang pesat seiring makin ramainya aktivitas perdagangan di laut Cina Selatan dan Selat Malaka. Data arkeologi menunjukkan pedagang-pedagang dari India, Arab, Persia, bahkan Eropa telah singgah dan beraktivitas di perairan Kepulauan Riau. Para ahli pun berpendapat bahwa Perairan Laut Cina Selatan hingga Selat Malaka tidak kalah ramainya dengan perairan Mediteranian. Hal ini tergambar pada situs-situs arkeologi bawah air yang berada di Perairan Pulau Natuna dan Pulau Bintan. Kedua pulau ini hingga sekarang memiliki peran yang signifikan bagi aktivitas pelayaran dan perdagangan di Indonesia. Aktivitas perdagangan masa lalu tersaji dengan sangat baik di situs-situs arkeologi bawah air di perairan kedua pulau tersebut. Namun, aktivitas penjarahan juga terus terjadi pada situs-situs arkeologi bawah air sehingga memunculkan diskusi mengenai perlunya dikembangkan model pelestarian yang aman untuk situs arkeologi bawah air di Kepulauan Riau agar masyarakat dapat menerima manfaatnya.

PENGELOLAAN WILAYAH GAMBUT MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA PESISIR DI KAWASAN HIDROLOGIS GAMBUT SUNGAI KATINGAN DAN SUNGAI MENTAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Ramdhan, Muhammad, Siregar, Zaenal Arifin

Jurnal Segara Vol 14, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Area gambut yang ada di wilayah pesisir memiliki peran ekologis yang penting sebagai penyimpan karbon, penyimpan air, konservasi biodiversitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. Pengelolaan wilayah gambut dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan faktor sosial, ekonomi dan juga lingkungan fisik. Makalah ini akan memaparkan usaha pengelolaan wilayah gambut di kawasan hidrologis gambut Sungai Katingan ?? Sungai Mentaya seluas 254.522 hektar yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah.Metode kuantitatif-kualitatif melalui teknik GIS dan survey lapangan dilakukan untuk mendapat parameter terkait pengelolaan lahan gambut di lokasi studi.Upaya restorasi yang dilakukan oleh pemerintah ada tiga jenis yaitu melakukan rewetting di areal gambut yang berkanal dan pernah terjadi kebakaran,revegetasi bagi wilayah gambut yang tutupan vegetasinya sudah < 25% danpembentukan desa-desa peduli gambut yang dilakukan melalui suatu pendekatan sosial pada masyarakat sekitar yang beraktivitas sehari-hari di kawasan gambut tersebut.

KARAKTERISTIK SEBARAN SEDIMEN DAN LAJU SEDIMENTASI PERAIRAN TELUK BANTEN

Rustam, Agustin, Adi, Novi Susetyo, Mustikasari, Eva, Kepel, Terry Louise, Kusumaningtyas, Mariska A.

Jurnal Segara Vol 14, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Teluk Banten di utara kota Serang, Banten, menampung berbagai muatan sedimen dari 7 (tujuh) sungai yang bermuara di teluk ini. Penelitian yang dilakukan pada bulan Oktober 2008 di perairan teluk ini bertujuan untuk memahami karakteristik sebaran sedimen permukaan dan komposisi bahan organik serta laju sedimentasi sebagai bagian dari penelitian karbon laut di Indonesia. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif, dengan memeriksa sedimen yang diambil menggunakan grab sampler. Analisis sedimen meliputi pengukuran tekstur sedimen, bahan organik total atau total organic matter (TOM) dan laju sedimentasi; analisis perairan meliputi bahan organik terlarut dan total padatan tersuspensi atau total suspended solids (TSS). Dalam klasifikasi pasir, debu dan liat, sample yang dikumpulkan dari Teluk Banten menunjukkan tekstur sedimen pasir rata-rata sebesar 54,86 %, sedangkan nilai TOM dan karbon organik berkisar 5,33 ?? 20,57 % dan 0,47 ?? 3,44 %. Laju sedimentasi tercatat berkisar antara 0,011 ?? 0,035 kg/m2/hari dengan komposisi tertinggi pada tekstur pasir.

PENGARUH PENAMBANGAN PASIR LAUT TERHADAP KEKERUHAN PERAIRAN TELUK BANTEN SERANG

Ernas, Zuleha, Thayib, M. Hasroel, Pranowo, Widodo S

Jurnal Segara Vol 14, No 1 (2018): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pesatnya pertumbuhan ekonomi dan penduduk di daerah pesisir menjadikan kebutuhan akan ruang yang lebih luas sehingga reklamasi kawasan pesisir menjadi pilihan utama yang banyak ditempuh. Pemanfaatan pasir laut yang berlebihan dan tidak terkendali dapat merusak daya dukungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji gangguan pada kekeruhan perairan Teluk Banten Kabupaten Serang yang disebabkan kegiatan penambangan pasir laut pada periode 2004-2015. Penelitian ini menggunakan metode analisis korelasi dan regresi polinomial orde 2. Penambangan pasir laut oleh sebuah perusahan swasta dilakukan di Teluk Banten pada perairan Desa Lontar Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang dan Desa Pulo Panjang Kecamatan Pulo Ampel Kabupaten Serang. Penambangan dilakukan mulai tahun 2004 hingga 2015, dengan total produksi hingga Januari 2015 adalah 11.513.972 m3.Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang kuat (r = 0,9835) antara penambangan pasir laut dengan peningkatan kekeruhan perairan Teluk Banten dengan persamaan regresi, y(x)= 90,8494 + 9,2392.10-3 x - 1,3059.10-7 x2.  Disarankan aktivitas penambangan pasir laut dapat dipertimbangkan untuk dihentikan sementara karena telah meningkatkan TSS perairan Teluk Banten hingga melampaui ambang batas baku mutu lingkungan.

THE IMPACT OF ENVIRONMENTAL CHANGING, FOOD AVAILABILITY AND ANTROPOGENIC PRESSURE ON SARDINE (Sardinella lemuru) CPUE IN BALI STRAIT WATERS

Puspasari, Reny, Rachmawati, Puput Fitri, Susilo, Eko, wijopriono, wijopriono, Wiadnyana, Ngurah Nyoman

Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

As a dominant small pelagic fishery in Bali Strait waters, significant decrease of sardine (lemuru) production was bothering fisheries industries, particularly in Muncar and Pengambengan District in East Java and Bali province. Besides of over exploitation, changing environment condition such as temperature, salinity and thermocline depth, indicated the affect on decreasing of sardine production. The interaction among environment variabels, food source availability (Chl-a) and anthropogenic pressure (fishing effort) generate the number of sardine abundance showed by CPUE (Catch per Unit Effort) value that determined sardine production. The current research aims to analyze the simultant impact of changing environment, food availability and antropogenic pressure on sardine CPUE. Field research was conducted in Bali Strait where primary and secondary fisheries data were gathered at Muncar Fishing Port of Banyuwangi District East Java Province and Pengambengan Fishing Port of Jembrana District Bali Province. Oceanography data such as temperature, salinity, and chlorophyll-a profile were collected from INDESO Model. Data analysis was done by time series analysis of each variabels such as CPUE, SST and SSTA, thermocline depth, chl-a and also the number of trip. Partially analysis of those variabels was done by overlayed one another, and principal component analysis determined to analyze the effect of all those varibales simultaneously on sardine CPUE. Results show that there were an influenced of regional climate phenomenon on the dynamic of environment condition of Bali Strait waters, particularly IOD (Indian Ocean Dipole). The CPUE of sardine was determined by the interaction of environment variabels (SST/SSTA, salinity, thermocline depth), food source availabity (Chl-a) and antropogenic pressure (fishing trip) simultaneously, however SSTA gives a significant negative correlation on CPUE. Regional climate phenomenon might cause an extreme condition in Bali strait waters leading to unstable environment for sardine habitat. Drastically changing habitat condition occured under influenced of extreme condition would lead to disruption of sardine CPUE.

MODELING TIDAL CURRENT OF BANTEN BAY DURING TRANSITIONAL MONSOONS 2015-2016

Bayhaqi, Ahmad, Wisha, Ulung Jantama, Surinati, Dewi

Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hydrodynamic condition of Java sea as a part of Indian-Pacific throughflow system influenced by monsoon will affect the condition of Banten Bay such as tidal current. Bordered by Java Sea makes Banten Bay preoccupied with fisheries and shipping activities, so the information regarding current pattern that is tidal current is very necessary. This study aims to simulate the tidal current pattern using flow model fm as a numerical approach. Two-dimensional hydrodynamic model was employed to perform the simulation of tidal current. Model was validated by using current and tidal observation data which was taken on September 2015 and April 2016. The result shows that the current moves southwestern toward the land during high neap and high spring tidal conditions ranged 0 - 0.142 m/s at the first transitional monsoon and 0 - 0.153 m/s at the second transitional monsoon respectively. During low spring tidal condition for both transitional monsoons, the current flowed northwestward on west side and northeastward on east side within the bay ranged 0 - 0.137 m/s and 0 - 0.127 m/s respectively. The hydrodynamic conditions of Banten Bay are slightly different between 2 transitional seasons, especially for the current speed and direction. Those conditions induce a different transport mechanism, resulting in unstable accretion and abrasion along Banten Bay coast.

THE ANALYSIS OF TIDAL CURRENT IN SURAMADU BRIDGE PIER FOR MARINE POWER GENERATION TEST SITE

Nugraha, R. Bambang Adhitya, Erwandi, Erwandi, Syahputra, Hendry, Nurman Mbay, La Ode

Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Recently, the interest in renewable ocean energy has been?growing rapidly among the ocean researchers in Indonesia. In?this paper, the pattern of tidal current in Madura Strait was analyzed and it is used as First?we present the general information of the structure of?Suramadu Bridge and explain the purpose of installing tidal current turbine between its piers. Second, we develop the numerical model of Madura Strait. The bottom topography of Madura Strait is digitized from bathymetry map produced by Indonesian Navy. A nested hydrodynamic model has been developed to refine the specific area of interest around the piles of the Suramadu Bridge. MIKE-21 program is then employed to simulate the tidal current that passes between the piles of the bridge. Next, we validate the model by conducting the field measurement of the speed of tidal current between pile no. 56 and pile no. 57. We deployed ADCP and measured the current speed for 15 days. The obtained data is then compared with the numerical model. The results show that the simulated currents has similar pattern with the measured data. We also discuss the characteristics of the simulated tidal current comparing with the ADCP results. Finally we estimate the possible produced power produced from the kinetic energy of the predicted tidal current of hydrodynamic.