cover
Filter by Year
Jurnal Kelautan Nasional
Jurnal Kelautan Nasional (JKN) ISSN 1907-767X, e-ISSN 2615-4579 adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) adalah nomenklatur baru, sejak tahun 2017, untuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir (P3SDLP). Jurnal Kelautan Nasional, sebelum dikelola oleh Pusriskel maupun P3SDLP, adalah dikelola oleh Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP). Pada tahun 2016, P3TKP kemudian merger ke P3SDLP.
Articles
96
Articles
​
KONDISI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI LOKASI DAN BUKAN LOKASI PENYELAMAN PULAU MARATUA

IDRIS, Idris .

Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Maratua Island lies in the Makassar Strait was a destination for marine tourism especially international divers. Currently, no activities in monitoring the effect of tourism is in place, and therefore, there is a need compare the condition of the dive sites and non-dive site as a proxy for the impact of diving to coral reefs. Nine locations in total representing dive and non-dive sites were observed. The result shows that the condition of dive sites and non-dive sites were generally the same, 48% (Good) and 43% (Good) respectively. Analysis using ANOVA single factor also shows that there is no significant difference between dive sites and non-dive sites (Fcrit= 1.36; F calc= 4.28, P<0.05). This means that diving not yet posed a significant threat to the coral reefs in Maratua Island. Other animal were also being observed and the most abundant fish are Pterocaesio diagramma, Caesio cuning, and Cirrhilabrus cyanopleura.

KESESUAIAN KONDISI OSEANOGRAFI DALAM MENDUKUNG EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PULAU PARI

Corvianawatie, Corry, Abrar, Muhammad

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Parameter kualitas air laut meliputi suhu, salinitas, pH, dissolved oxygen (DO), dan kekeruhan (turbiditas) memiliki peran yang penting bagi biota laut. Karang merupakan salah satu biota yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air laut, khusunya Suhu Permukaan Laut (SPL). Kondisi kualitas air yang melebihi ambang batas yang dapat ditolerir oleh karang, diduga dapat menghambat laju pertumbuhan maupun proses resiliensinya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kondisi oseanografi dan kesesuaiannya dalam mendukung ekosistem terumbu karang di Perairan Pulau Pari. Pengukuran kualitas air secara in-situ dilakukan pada Maret dan Juni 2015 di PR01 (Daerah Perlindungan Biota Laut), PR02 (Goba Pulau Tikus), dan PR03 (Bintang Rama) yang merupakan area ekosistem terumbu karang. Selain itu dilakukan pula pengukuran di 14 stasiun pengamatan untuk mengetahui pola kualitas air secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan, nilai sebaran SPL berkisar antara 28,5 - 29,5 °C; salinitas berkisar 29,0 - 30,5 psu; pH berkisar 8,3 - 8,43 satuan; turbiditas berkisar 0 - 1,4 NTU; dan DO berkisar antara 4 - 5,3 mg/L. Kondisi tersebut menunjukkan kualitas air masih sesuai dengan baku mutu air laut khususnya bagi karang, sesuai yang ditetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, kecuali untuk parameter salinitas dan DO (Juni 2015) yang berada di bawah ambang batas minimum.

PENGARUH LOKASI DAN KONDISI PARAMETER FISIKA-KIMIA OSEANOGRAFI UNTUK PRODUKSI RUMPUT LAUT DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN

Ramdhan, Muhammad, Arifin, Taslim, Arlyza, Irma Shita

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pertumbuhan rumput laut jenis Eucheuma sp. dipengaruhi oleh faktor oseanografi meliputi parameter fisika, kimia dan biologi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial parameter fisika-kimia oseanografi dan pengaruhnya terhadap produksi rumput laut Eucheuma cottonii. Distribusi spasial parameter fisika-kimia perairan dianalisis menggunakan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis, PCA).Hubungan antara parameter fisika-kimia dengan produksi rumput laut dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Analisis distribusi spasial parameter fisika-kimia menghasilkan 3 kelompok utama, dimana pengaruh stasiun sangat dominan dalam pengelompokan tersebut. Parameter fisika-kimia memberikan karakteristik yang berbeda antara kedua lokasi pengamatan (Kecamatan Sanrobone dan Mangarabombang). Adapun produksi rumput laut di Kecamatan Sanrobone dapat diramalkan menggunakan persamaan ini (R = 98,6%.): Produksi = - 2343 + 331 suhu - 48.6 salinitas – 41,6 DO - 708 pH – 3,33 TSS + 48,5 BOT + 458 kecepatan. arus – 8,6 kecerahan + 46,5 kedalaman - 159 nitrogen - 615 fosfat + 1,625 silikat. Sedangkan untuk produksi rumput laut di Kecamatan Mangarabombang dapat diramalkan menggunakan persamaan ini (R = 76,9%.): Produksi = - 385 + 448 suhu - 499 salinitas + 940 DO + 220 pH – 12.4 TSS + 12.2 BOT + 5.997 kecepatan arus - 311 kecerahan + 60 kedalaman - 726 nitrogen - 106 fosfat - 8,577 silikat.

PENGARUH ALIH FUNGSI KAWASAN MANGROVE PADA SIFAT SEDIMEN DAN KEMAMPUAN PENYIMPANAN KARBON

Kepel, Terry Louise, Ati, Restu Nur Afi, Rahayu, Yusmiana Puspitaningsih, Adi, Novi Susetyo

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa penyimpanan karbon terbesar di ekosistem ini ada di sedimen. Namun demikian, kapasitas penyimpanan ini akan menurun karena deforestrasi dan konversi lahan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa dampak alih fungsi lahan mangrove terhadap sifat sedimen serta kemampuannya dalam menyimpan karbon dengan membandingkan dua tipe mangrove yang dikategorikan sebagai mangrove alami dan degradasi/terkonversi. Penelitian dilakukan di empat lokasi yaitu di Kabupaten Berau - Kalimantan Timur dan Karimunjawa-Jawa Tengah yang mewakili daerah alami serta, Kabupaten Pati - Jawa Tengah dan  Kabupaten Indramayu - Jawa Barat yang mewakili mangrove yang pernah mengalami alih fungsi lahan dan telah direhabilitasi. Sedimen diambil minimal sampai pada kedalaman satu meter dengan menggunakan soil auger. Sebanyak empat sampel diambil pada setiap core sediment pada interval kedalaman 0-15, 15-30, 30-50 dan 50-100 cm. Hasil menunjukkan bahwa mangrove yang pernah mengalami alih fungsi lahan memiliki nilai prosentasi C (%), densitas C (mg cm-3) dan simpanan karbon (MgCha-1) yang lebih rendah dibandingkan dengan lokasi yang alami. Kisaran nilai prosentasi karbon, densitas dan simpanan karbon pada daerah rehabilitasi berturut-turut adalah sebesar 1,11 - 2,25 %, 0,01 - 0,02 mg cm-3 dan 94,92-265,26 Mgha-1, sementara untuk wilayah alami pada kisaran 12,54 - 17,14 %, 0,07 - 0,09 mg cm-3 dan 427,54 - 606,92 Mgha-1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alih fungsi lahan mangrove menurunkan kemampuan penyimpanan karbon ekosistem.

PEMETAAN HABITAT BENTIK PADA EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN

Ampou, Eghbert Elvan, Radiarta, I Nyoman, Hanintyo, Rizky, Andrefouet, Serge

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ekosistem pesisir yang meliputi tiga bagian penting yakni mangrove, padang lamun dan terumbu karang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pemetaan habitat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan habitat secara geomorfologi di Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat, Bali. Pengumpulan data lapangan dilakukan pada bulan Februari, April dan Agustus 2017.  Total 104 titik sampling telah dikumpulkan, dan dilakukan analisis perbedaan tekstur menggunakan program ENVI v4.7 dari data citra satelit  Worldview 2 dengan resolusi spasial 2 m, tanggal 14 Oktober 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara geomorfologi, kawasan pesisir Pulau Menjangan terbagi dalam 6 tipe habitat yakni mangrove, terumbu depan, lereng terumbu, rataan terumbu, pecahan karang (rubble), pasir dan teras. Berdasarkan hasil foto transek habitat dengan pendekatan skala medium (Medium Scale Approach) khususnya pada daerah rataan terumbu dan terumbu depan (fore reef/crest) dapat diklasifikasikan dalam 12 jenis habitat dengan komposisi bentik dominan karang  adalah 30% yang meliputi beberapa jenis karang keras (Scleractinia) yakni Acropora sp, Montipora sp, Porites lutea dan Porites cylindrica; Rubble & Alga (dari divisi Chlorophyta dan Phaeophyta) masing-masing sebesar 16 %; Pasir  12%; Lamun (diantaranya Syringodium sp, Cymodocea sp dan Thalasia sp) 11% dan sisanya adalah asosiasi karang Heliopora coerulea (non Scleractinia), karang mati dan teras. Daerah rataan terumbu memiliki kategori rugosity berada pada level 1 - 2, sedangkan  terumbu depan dengan rugosity level 3 - 4.

INDEKS KEBERLANJUTAN SUMBER DAYA LAUT DAN PESISIR DI LOKASI REKLAMASI TELUK BENOA BALI

Kenyo Handadari, Asri Setianingrum, Soesilo, Tri Edhi Budhi, Pranowo, Widodo Setiyo

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Reklamasi menjadi sebuah topik yang hangat dan sensitif di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Argumentasi berkembang mengingat konflik kebutuhan ruang untuk kepentingan ekonomi makro, sementara pada lokasi yang diinginkan telah banyak aktivitas ekonomi mikro dan sosial masyarakat sebelumnya. Pemerintah sebagai regulator mengatur kegiatan reklamasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil melalui Peraturan Presiden 122/2012. Secara norma regulatif reklamasi tersebut adalah upaya restorasi atau upaya meningkatkan manfaat terhadap sumber daya lahan yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi dan nilai ekologi, pelaksanaannya pun tidak menimbulkan konflik sosial. Reklamasi seharusnya bertujuan untuk meningkatkan manfaat sumber daya lahan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. Riset ini bertujuan untuk mengetahui keberlanjutan sumber daya laut dan pesisir di Teluk Benoa manakala dilakukan reklamasi. Penilaian keberlanjutan didasarkan kepada 4 dimensi: lingkungan, sosial, ekonomi, dan pemanfaatan ruang laut. Penyusunan indeks menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Multi-dimensional Scaling (MDS), dengan uji signifikansi Monte Carlo, dan uji sensitivitas setiap atribut dimensi. Hasil analisis secara multi-dimensi memperlihatkan bahwa reklamasi Teluk Benoa adalah tidak/ kurang berkelanjutan (43,15%). Apabila ditelaah indeks masing-masing dimensi maka: pemanfaatan ruang laut (27,05%), ekonomi (44,313%), sosial (49,79%), lingkungan (49,88%). Pemanfaatan ruang laut di Teluk Benoa memerlukan intervensi kebijakan pemerintah lebih lanjut untuk menghindari konflik sosial dengan masyarakat dengan menegakkan regulasi penataan ruang laut. Pemerintah daerah dalam perencanaan pemanfaatannya untuk mendapatkan PAD harus melibatkan para tokoh masyarakat. Kelestarian lingkungan perairan Teluk Benoa juga tetap harus dijaga, terutama masalah sedimentasi harus dikendalikan karena dapat berdampak kepada sumber daya ikan.

STATUS MUTU AIR PELABUHAN PANGGULUBELO BERDASARKAN INDEKS STORET DAN INDEKS PENCEMARAN

Asuhadi, Sunarwan, Manan, Abdul Manan

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Metode penentuan status mutu air dapat menggunakan Indeks Storet dan Indeks Pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang status mutu air laut Pelabuhan Panggulubelo. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan dan pengukuran kualitas sampel air laut, selain itu dikumpulkan publikasi tahun 2013 s.d. 2015 (time series) yang terkait dengan kualitas air laut di lokasi Pelabuhan Panggulubelo. Penentuan status mutu air menggunakan analisis Indeks Storet dan Indeks Pencemaran. Hasil pengukuran kualitas perairan menurut Indeks Storet menunjukkan skor -14 (tercemar sedang), sedangkan nilai Indeks Pencemaran adalah 2,79 (tercemar ringan). Ini menunjukkan bahwa perairan Pelabuhan Panggulubelo telah mengalami cemaran ringan dan sedang, serta memiliki potensi untuk mengalami pencemaran dengan status tercemar berat bilamana tidak dilakukan upaya yang tepat untuk mengurangi berbagai sumber pencemaran di area pelabuhan.

KAJIAN PENENTUAN GETARAN SISTEM PROPULSI KAPAL PATROLI DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

Putranto, Teguh, Imron, Asjhar, Yulianto, Totok

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kapal patroli adalah salah satu kapal perang berkecepatan tinggi yang digunakan untuk melakukan operasi militer dalam rangka menjaga kedaulatan wilayah maritim suatu negara. Kapal patroli tidak hanya mampu beroperasi sesuai dengan targetnya tetapi juga perlu diperhatikan juga faktor kenyamanan dan keselamatan awak kapalnya. Sebelum kapal dibangun, penentuan desain dan konstruksi kapal patroli menjadi tahap yang sangat penting karena kapal cepat sering terjadi persoalan terhadap getaran kapal yang diakibatkan sistem propulsi. Penelitian ini akan mengkaji tentang metode numerik untuk menganalisa getaran sistem propulsi kapal. Finite Element Method (FEM) merupakan salah satu metode numerik untuk menyelesaikan persamaan diferensial parsial dengan cara membagi model menjadi elemen-elemen. Pemodelan numerik dilakukan pada sistem propulsi dan sebagian dari badan kapal. Untuk memulai simulasi, kondisi batas ditentukan berdasarkan posisi sekat ceruk buritan, sekat pada strut, transom, center girder, dan side girder. Setelah simulasi selesai, frekuensi alami pada mode shape 1 - 5 didapatkan sebesar 26,26; 35,68; 44,23; 90,62; 97,66 Hz secara berurutan. Frekuensi eksitasi propeller pada kecepatan dinas didapatkan sebesar 54,93 Hz dimana fungsi dari rotasi propeller dan jumlah daunnya. Frekuensi 26,26 dan 35,68 Hz (mode shape 1 dan 2) mengalami getaran ke arah lateral sedangkan frekuensi 44,23 Hz (mode shape 3) mengalami getaran ke arah vertikal. Sistem propulsi akan beresiko mengalami resonansi pada mode shape 3 ketika beroperasi pada kecepatan 25 knot.

PEMETAAN DINAMIKA HUTAN MANGROVE MENGGUNAKAN DRONE DAN PENGINDERAAN JAUH DI P. RAMBUT, KEPULAUAN SERIBU

Salim, Hadiwijaya Lesmana, Afi Ati, Restu Nur, Kepel, Terry Louise

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pengamatan sebaran dan luas hutan mangrove di Pulau Rambut telah dilakukan pada bulan November 2017 dan Juli 2010 dengan menggunakan analisis foto udara dan citra Geo Eye 1. Kunjungan lapang dilakukan untuk validasi lapang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah segementasi dan klasifikasi terbimbing menggunakan metode analisis berbasis objek (OBIA). Hasil analisis foto udara, data citra dan validasi data pengamatan lapangan, diestimasi bahwa sebaran dan luas hutan mangrove di Pulau Rambut adalah 16,73 ha untuk tahun 2010 dan 17,48 ha di tahun 2017 atau terjadi penambahan sebesar 0,75 ha. Mangrove di P. Rambut terdapat 10 jenis dan didominasi oleh rhizophora mucronata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis dijital berbasis objek terhadap foto udara hasil akuisisi menggunakan drone memberikan hasil yang lebih baik untuk pemetaan dinamika hutan mangrove jika dibandingkan dengan penggunaan citra satelit Geo Eye 1, dengan akurasi keseluruhan sebesar 77,3% dan nilai koefisien kappa sebesar 0,62.

PENGELOLAAN KONDISI EKOSISTEM MANGROVE DAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN KAWASAN WISATA BAHARI MANGROVE DI KARANGSONG INDRAMAYU

Prihadi, Donny Juliandri, Riyantini, Indah Riyantini, Ismail, Mochamad Rudyansyah

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 1 (2018): APRIL
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Riset ini dilakukan pada bulan April sampai September 2017. Lokasi riset ini di kawasan mangrove Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Propinsi  Jawa Barat. Tujuan riset ini adalah untuk memperoleh data keanekaragaman dan kerapatan mangrove, mendapatkan status biofisik ekosistem mangrove di Karangsong Indramayu, mengevaluasi daya dukung lingkungan kawasan wisata bahari di Karang Song Indramayu, dan mengevaluasi status pengelolaan kawasan wisata bahari mangrove di Karang Song Indramayu. Metode yang digunakan adalah metode survey dan wawancara. Metode ini untuk mengetahui data keanekaragaman, kerapatan mangrove dan biofisik kawasan wisata mangrove. Hasil yang ditemukan adalah ditemukannya 3 jenis mangrove yaitu Avicennia marina, Rhizophora stylosa, dan Rhizophora mucronata. Dalam kawasan mangrove ditemukan Kepiting Uca (Uca sp), Kepiting bakau (Scyalla serata) yang berlimpah, sehingga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar. Kerapatan mangrovenya yaitu berkisar dari 380 â?? 1040 individu/Ha. Adapun daya dukung lingkungan kawasan mangrove sebesar 643 orang/hari yang bisa ditampung secara efisien agar kawasan tersebut tetap terjaga lestari. Evaluasi status pengelolaan oleh kelompok masyarakat Pantai Lestari adalah dengan mempertahankan dan memajukan wisata bahari sebagai program unggulannya. Penambahan luasan kawasan oleh kelompok Pantai Lestari adalah dengan menjadikan arboretum dan silvofishery dengan apik dan rapih kelompok masyarakat Pantai Lestari menjaga dan mengembangkannya, walaupun kawasannya berada berbeda di sebrangnya kawasan ekowisata mangrove Karangsong Indramayu. Sesuai wawancara dengan kelompok masyarakat Pantai Lestari akan mengajak masyarakat yang mempunyai tambak dan akan bisa menambah luasan kawasan ekowisata mangrove.