cover
Filter by Year
AMERTA
AMERTA Journal of Archeology Research and Development publish and issued by Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (the National Research Centre of Archaeology) - Agency of Research and Development - Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia, publish since 1985. AMERTA is an open access journal without any charge during article processing. AMERTA presents original articles about knowledge and information of the results of the latest research and development in the archeology and related sciences, such as chemistry, biology, geology, paleontology, and anthropology, etc.
Articles
147
Articles
​
PRASASTI WARU?GAHAN SEBUAH DATA BARU DARI MASA AWAL MAJAPAHIT

Sambodo, Goenawan A

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract. Waru?gahan Inscription, A New Data from Early Majapahit Period. This paper discusses about a new inscription found at Tuban, East Java. The inscription is a new one, and both the transliteration and translation have never been published. It is necessary to write about it so that the existing data can be known to public and be a contribution in the writing of ancient history of Indonesia. The method used in this study was inductive reasoning with descriptive-analytic approach. The analysis used in this study was structural analysis, which is making internal critic on inscriptions’ transliterations to generate interpretation about aspects of human life. This inscription is called the Waru?gahan Inscription, dated to 1227 ?/1305 CE. The inscription from the early Majapahit period contains a description of the re-establishment of a s?ma by King Nararyya Sanggramawijaya because the previous inscription was lost when an earthquake occurred. There are several names of figures that have never been appeared in the inscription from the same period. Abstrak. Prasasti Waru?gahan adalah sebuah prasasti yang ditemukan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang belum pernah diterbitkan (alih aksara dan tafsirnya) sehingga dirasa perlu untuk menuliskannya agar data yang ada dapat diketahui oleh banyak pihak dan menjadi sumbangan dalam penulisan sejarah kuno Indonesia. Cara yang digunakan adalah penalaran induktif dengan sifat deskriptif-analitis. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis struktural; yaitu melakukan kritik intern pada alih aksara isi prasasti untuk memperoleh penafsiran berupa aspek kehidupan manusia. Prasasti Waru?gahan yang ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa Kuno ini berasal dari tahun 1227 ?/1305. Prasasti dari masa awal Majapahit ini berisi uraian penetapan ulang anugerah s?ma oleh Raja Nararyya Sanggramawijaya karena prasasti sebelumnya hilang ketika terjadi gempa bumi. Ada beberapa nama tokoh yang belum pernah muncul dalam prasasti semasanya.

Preface Amerta Volume 36, Nomor 1, Tahun 2018

Puslit Arkenas, Redaksi

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ARKEOLOGI ISLAM BERBASIS WebGIS: KAJIAN ARKEOLOGI PUBLIK

Makmur, Makmur

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract. WebGIS-Based Archaeological Geographic Information System of Islam: Study on Public Archaeology. Information technology has become a necessity in storing and providing information. The availability of fast and accurate information is vital to human survival today. This study aims to design Islamic archeology information systems in South, Southeast, and West Sulawesi based on WebGIS. The research method used is literature study and system design using HTML (Hypertext Markup Language) programming language, PHP (Hypertext Preprocessor), and JavaScript. A series of program codes are connected to an open source program called MapServer and Google maps. The method of data collection is to explore the reports of Archeology Research Institute of South Sulawesi from 1996 to 2017, then the archaeological data are integrated into one database. Next, all the archaeological data are compiled into spatial format in order to have the same geographical reference. The overlay between Google maps with Islamic archaeological data in South, Southeast, and West Sulawesi is very easily accessible effectively and efficiently by various parties due to the  use of the Information System of Islamic Archaeological based WebGIS. Abstrak. Teknologi informasi sudah menjadi sebuah keharusan dalam penyediaan dan pemberian informasi. Ketersediaan informasi yang cepat dan akurat menjadi hal penting bagi kelangsungan hidup manusia saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem informasi peninggalan arkeologi Islam di Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat berbasis WebGIS. Metode penelitian yang digunakan ialah studi pustaka dan perancangan sistem dengan menggunakan bahasa pemrograman HTML (Hypertext Markup Language), PHP (Hypertext Preprocessor), dan JavaScript. Rangkaian kode-kode program dikoneksikan dengan sebuah program open source bernama MapServer dan peta Google. Metode pengumpulan data yaitu mengeksplorasi laporan hasil penelitian Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dari tahun 1996 sampai 2017, kemudian data arkeologi diintegrasikan kedalam satu database, selanjutnya menset-up seluruh data arkeologi kedalam format spasial agar memiliki referensi geografis yang sama. Hasil penyatuan (overlay) antara peta Google dengan data-data arkeologi Islam yang ada di Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat sangat mudah diakses secara efektif dan efisien oleh berbagai pihak yang berkepentingan karena sudah menggunakan Sistem Informasi Arkeologi Islam berbasis WebGIS.

RE-INTERPRETASI NAMA CANDI BOROBUDUR

Nastiti, Titi Surti

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract. Re-Interpretation the Name of Borobudur Temple.Borobudur temple is the largest Mah?yana Buddhist temple in Indonesia built in the 8th century. The origin of the name Borobudur is still debated until today, therefore it is necessary to review the origin of the name of Borobudur. Thera are plenty of scholars from Indonesia and the Netherlands that hypothesised  around the origin of the name. A few scholars thought the name originated from the word boro which means monastery and there is no agreement yet on the definitation of the word "budur". There are those who defined budur as big, buddha, or hill. According to J.G. de Casparis, he theorised that Borobudur came from the word bh?misambh?rab?dhara which means "hill of the accumulation of virtues on the ten stages of Boddhisattva". If we look at it from the textual context budur is a name for a kind of palm tree and tuak (a kind of wine) is also made from bu?ur tree. There many places in Java that originated from the name of a tree such as Jombang, Gebang, Kampung Rambutan, Kebon Nanas, so it can also be theorised that budur is derived from the name of a tree that was made into a name of place. This research used comparative methods with etymology approach. From this research we conclude that Borobudur originated from two words boro and budur. Boro from vihara is  monastery and budur is the name of the village that was derived from the name of a tree, the budur tree. Therefore Borobudur is name for a monastery located in Budur Village.   AbstrakCandi Borobudur merupakan candi Buddha M?h?yana terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-8. Mengingat bahwa sampai sekarang nama Borobudur masih menjadi bahan perdebatan, dirasakan perlu untuk mengkaji kembali mengenai asal-usul nama Borobudur. Banyak sarjana Belanda dan Indonesia yang telah membuat hipotesis mengenai nama Borobudur. Beberapa sarjana mengartikan kata boro dengan ‘biara’, sedangkan kata budur masih belum ada kesepahaman. Ada yang mengartikannya ‘besar’, buddha berarti ‘bukit’ sehingga Borobudur bisa diartikan ‘biara yang agung’, ‘kota Buddha’, dan ‘biara di atas bukit’. Namun, J.G. de Casparis mempunyai asumsi yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata bh?misambh?rab?dhara yang artinya ‘bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Boddhisattwa’. Di pihak lain, dalam data tekstual dikatakan bahwa budur adalah nama pohon sejenis palem dan nama tuak yang terbuat dari pohon budur. Karena banyak nama tempat di Jawa yang memakai nama pohon, seperti jombang, gebang, kampung rambutan, kebon nanas, kemungkinan besar budur adalah nama tumbuhan yang menjadi nama tempat. Dalam penelusuran nama Borobudur dipakai metode komparatif dengan pendekatan etimologi. Dari kajian ini diketahui bahwa nama Borobudur berasal dari dua kata, yaitu boro dan budur. Boro berasal dari kata biara dan budur adalah nama desa yang diambil dari nama tumbuhan, yaitu pohon budur. Dengan demikian, Borobudur dapat diartikan ‘biara yang terletak di Desa Budur’.

Appendix Amerta Volume 36, Nomor 1, Tahun 2018

Puslit Arkenas, Redaksi

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

MENGHADIRKAN KEMBALI SITUS KUBUR TAJAU DI GUNUNG SELENDANG, SANGASANGA KABUPATEN KUTAI KERTANEGARA

Hartatik, Hartatik, Hartatik, Hartatik

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract. Representing Jar Burial Site in Selendang Mountain, Sangasanga District, Kutai Kertanegara. The jar burial site in Selendang Mountain is one of the unique sites because it is a secondary burial site with 52 tajau containers that cluster tightly and without funeral gifts. The radio carbon dating from two bone samples from the jar it reveal that this burial is originated from the late 17th century (1682-1999). That is in accordance with the relative dating of the Martavan jar and ceramic plate (jar cover) from the Ming Dynasty in 16th-17th centuries AD. The identities of the people who were buried in the jars are not known yet, because of limitated DNA comparing data of the tribes in Kalimantan. What are the important values contained in the jar burial site in Mount Selendang, and how can it be understood by the people? This article aims to explain the important value of jar burial sites in Mount Selendang and strategies to presenting the jar burial site in order to be known and understood by society. This article is result a descriptive one with inductive reasoning. The primary data used are from Sangasanga jar burial researches in 2010 and 2011, reviewing research recommendations and follow-up of those recommendations. The results of the research of the jar burial site in Sangasanga is expected to be known and provide benefits for the society, in form of  knowledge about the burial system and social aspects of the past religion and the history of community life in Sangasanga. Thus it will raise an understanding the diversity of society in Sangasanga since since a long time ago until now. Abstrak. Situs Kubur Tajau di Gunung Selendang Sangasanga merupakan salah satu situs yang unik karena merupakan situs penguburan sekunder dengan wadah 52 tajau yang mengelompok rapat dan tanpa bekal kubur. Hasil uji radiokarbon dari dua sampel tulang dari dalam tajau diketahui bahwa kubur ini berasal dari akhir abad ke-17 (tahun 1682 s.d. 1699). Hal tersebut sesuai dengan pertanggalan relatif dari wadah kubur jenis tajau Martavan dan piring keramik (tutup tajau) yang berasal dari masa Dinasti Ming sekitar abad 16-17 M. Identitas manusia yang dikuburkan dalam tajau belum diketahui karena keterbatasan data pembanding DNA suku-suku di Kalimantan. Nilai penting apa yang terkandung dalam Situs Kubur Tajau di Gunung Selendang dan bagaimana caranya supaya nilai penting itu dapat dipahami oleh masyarakat? Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan nilai penting Situs Kubur Tajau di Gunung Selendang dan strategi untuk menghadirkan Situs Kubur Tajau tersebut supaya dapat dikenal dan dimaknai oleh masyarakat. Penelitian ini merupakan hasil penelitian deskriptif dengan penalaran induktif. Data primer yang digunakan berasal dari penelitian kubur tajau Sangasanga tahun 2010 dan 2011, telaah rekomendasi penelitian, dan tindak lanjut dari rekomendasi tersebut. Hasil dari penelitian Situs Kubur Tajau Sangasanga diharapkan dapat dikenal dan memberikan manfaat bagi masyarakat, berupa pengetahuan tentang sistem penguburan dan aspek sosial religi masa lalu serta sejarah kehidupan masyarakat Sangasanga. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman tentang keberagaman masyarakat di Sangasanga sejak zaman dahulu hingga kini.

Back Cover Amerta Volume 36, Nomor 1, Tahun 2018

Puslit Arkenas, Redaksi

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AGE ESTIMATION OF PAWON MEN THROUGH TEETH IDENTIFICATION USING JOHANSON METHOD THROUGH CBCT 3D RADIOGRAPH

Elizabeth, Elizabeth -, Yondri, Lutfi, Pramanik, Farina, Rusminah, Nunung

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak. Estimasi Usia Manusia Pawon melalui Identifikasi Gigi dengan Metode Johanson pada Radiograf CBCT 3D.Manusia Pawon merupakan manusia prasejarah yang ditemukan di Gua Pawon. Di dalamnya, terdapat sisa tulang yang telah rapuh dan gigi yang masih tertanam pada tulang alveolar meskipun telah tertimbun tanah ribuan tahun lamanya. Gigi tersebut kemudian dijadikan sebagai alat identifikasi primer dalam penelitian forensik odontologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi usia Manusia Pawon melalui identifikasi gigi menggunakan metode Johanson pada radiograf CBCT 3D. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel sebanyak 21 gigi yang tertanam pada tulang alveolar dan tidak terdapat pada garis fraktur. Pengukuran estimasi usia dengan metode Johanson dilakukan dengan perangkat lunak Ez-Implant menggunakan teknik non-invasif CBCT 3D. Hasil penelitian pada Rangka I (R.I) menghasilkan estimasi usia dengan kisaran antara 32,00-33,92 tahun, Rangka III (R.III) dengan estimasi usia 32,94-36,28 tahun, Rangka IV (R.IV) dengan estimasi usia 34,42 tahun, dan Rangka V (R.V) dengan estimasi usia 27,36-31,35 tahun. Simpulan penelitian menunjukkan estimasi usia Manusia Pawon dengan metode Johanson pada radiograf CBCT 3D berkisar antara 27,36-36,28 tahun. Abstract.Pawon men are prehistoric humans who lived in Pawon cave. The skeletons found in the cave consist of remains of brittle bones and teeth which are still attached to alveolar bone even though it had been buried in soil since thousands of years ago. The teeth are then used as primary identification in forensic odontology research. This research’s aim is to compare the existing age estimation of Pawon men with more recent method, namely Johanson method through CBCT 3D Radiograph. Previously, the age estimation was only based on visual observation of posterior molars’ attrition by Brothwell method. This research is a descriptive study using purposive sampling. The samples are 21 teeth that are intact and attached to the alveolar bone without any fracture line. The age estimation with Johanson method using Ez-Implant software is non-invasive age measurement by Cone Beam Computed Tomography 3D radiograph. The results showed that the age of the first Pawon man is 32-33.92 years old, the third Pawon man is 32.935-36.275 years old, the fourth Pawon man is 34.42 years old, and the fifth Pawon man is 27.36-31.35 years old. The second Pawon man is not included in sampling criteria. The measurement using Johanson method through CBCT 3D is more specific and detailed in yielding the age estimation compared to the Brothwell method.

Cover Amerta Volume 36, Nomor 1, Tahun 2018

Puslit Arkenas, Redaksi

AMERTA Vol 36, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Cover Amerta Volume 27, Nomor 1, Tahun 2009

Puslit Arkenas, Redaksi

AMERTA Vol 27, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract