Jurnal Sosiologi Agama
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X
Jurnal Sosiologi Agama merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Edisi cetak jurnal ini terbit perdana pada tahun 2007. Untuk edisi online terbit mulai 2016. Jurnal Sosiologi Agama terbit 6 bulan sekali pada bulan Juli dan Desember.
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2018)" : 9 Documents clear
Kontruksi Media Dalam Gerakan Islam Populis 212 Mujibuddin SM, M.
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

This paper studied the movement of Aksi Bela Islam (ABI) which was propagated by the GNPF MUI group to bring down Basuki Tjahaja Purnama from the governor position. This demonstration not only in Jakarta but also the various cities in Indonesia. The involvement of Muslims are influenced by social media. Social media has succeeded in becoming a public sphere for society. Today, society can take a truth from social media. Therefore,  social construction is not only formed from individuals or society but also social media. This research uses literature study with analytical descriptive writing method. This paper uses framing analysis approach and Islam populist. The results of this paper show that social media has an important role in the construction of public awareness. This social construction can be seen with the birth of Islam populist movement 212 which has a goal to reform the bureaucracy in government.Keyword: Social Contruction, Islam Populist, Aksi Bela Islam, Social Media, Post-Truth.
Ketika Agama dan Masyarakat Digital Menjadi Senjata Baru Propagada Politik Rantona, Safutra; Husna, Asmaul
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Nineteen months have passed, but the action of the political religious social movements which born post religious sacrilege case on Elections Jakarta turned out to be far from over. The movement originally was a step of consolidation in order to evoke the political consciousness of Muslims, now began to be infiltrated by other groups with particular interests. These interest groups considered to sharpen the conflict and cause the political noise never ended across this country. This article try to expose how the social-political issues played massif and structured in virtual spaces by interest groups in order to form the force and gained the power of politics. And how the relationship between religion, state, and people are pitted in order that the collective identity look sharper. So no wonder that the people of Indonesia now seems to have split in two major axis, Religious versus Nationalist.Sembilan belas bulan telah berlalu, namun aksi dari gerakan sosial politik religius yang lahir pasca kasus penistaan agama pada Pilkada DKI Jakarta ternyata belumlah usai. Gerakan yang semula merupakan sebuah langkah konsolidasi guna membangkitkan kesadaran politik umat islam, kini mulai ditunggangi oleh kelompok lain dengan kepentingan tertentu. Kelompok kepentingan inilah yang ditengarai memperkeruh konflik dan menyebabkan kegaduhan politik tak kunjung usai di seantero negeri. Artikel ini mencoba memaparkan bagaimana isu-isu sosial politik kemudian dimainkan secara massif dan terstruktur dalam ruang-ruang virtual oleh kelompok kepentingan guna membentuk kekuatan politik dan demi meraih kekuasaan. Serta bagaimana relasi antara agama, rakyat, dan negara dibenturkan agar identitas kolektif terlihat lebih tajam. Maka tak heran jika kini rakyat Indonesia seolah telah terpropaganda dan terbelah dalam dua poros besar, Agamis dan Nasionalis.
Transformasi Konflik Pasca Perusakan Rumah Ibadat (Studi Kasus Gereja Baptis Indonesia (GBI) Saman Bantul Tahun 2015) Ajiyastuti, Retno
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Isu pendirian rumah ibadat di Indonesia kerap kali terjadi karena mengalami penolakan. Penolakan ini sering terjadi karena adanya penolakan dari sekelompok umat beragama mayoritas di suatu wilayah. Penolakan tersebut cenderung mengarah pada timbulnya konflik yang menciptakan pula berbagai tindak kekerasan yang dialami dalam fase eskalasi konflik maupun de eskalasi konflik. Dalam artikel ini, penulis akan memaparkan sebuah gambaran mengenai bentuk kekerasan yang terjadi di dalam konflik perusakan Gereja Baptis Indonesia (GBI) Saman oleh sekelompok ormas Islam serta menjelaskan bagaimana sebuah transformasi konflik dalam mengelola sebuah situasi pasca konflik di lingkungan Dusun Saman Bantul.
Radikalisme Islam dalam Media Sosial (Konteks; Channel Youtube) Harianto, Puji -
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Abstract;Globalisasi sebagai proses sejarah dan trend ekonomi telah memberi pengaruh pada struktur sosial masyarakat, tak terkecuali pada agama. Pada titik ekstremnya, globalisasi telah mempertemukan banyak budaya dalam satu waktu dan melahirkan budaya-budaya baru dalam masyarakat. Sekat pemisah yang sakral-profan atau lokal-global telah memudar. Dalam bidang agama, entitas sacral (ajaran) tidak lagi menjadi konsumsi pribadi bagi pemeluknya semata, tapi melintas ke semua pemeluk agama. Dari sekian ajaran agama tersebut, radikalisme menjadi isu yang trend di era media hari ini. Radikalisme tidak lagi diproduksi dan disebarkan oleh satu kelompom tertutup, melainkan sudah mendunia. Media yang digunakan sangat beragam, salah satunya channel Youtube. Dalam channel Youtube, konten radikalisme meliputi tiga hal (ciri); mengajarkan puritanisme, anti pada sistem negara serta intoleransi SARA. Dalam tulisan ini, tiga channel Youtube yang diamati (Media Dakwah Sunnah, Cahaya Islam, Cahaya Tauhid) telah memenuhi syarat sebagai media sosial radikal. Dengan menggunakan teori simulacrum Baudrillard, apa yang disampaikan oleh channel tersebut dilihat sebagai tawaran realitas baru terhadap kenyataan sosial yang sedang berlangsung. Ia memiliki banyak makna tafsir, tak ada kejelasan tentang yang asli/palsu serta tiap orang bebas mengartikulasikannya. Kesimpulannya, bahwa media Youtube tersebut bisa saja menginspirasi, menggerakkan dan mempengaruhi cara pandang seseorang. Pada akhirnya, makna simulacrum dalam media Youtube yang dijadikan realitas keseharian adalah tafsiran yang mendekati kenyataan lampau. atau jika tidak, tafsiran yang bisa mewakili, mendeskripsikan dan mencirikan kelompok masyarakat tertentu. Saat ada kesesuaian antara makna baru dari simulacra tersebut, maka proses reproduksi menjadi keharusan yang harus dilakukan setiap saat. Keywords; Agama, Channel Youtube, Radikalisme
Labelisasi Halal di Tengah Budaya Konsumsif Khotimah, Umi Khusnul
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Bisa dikatakan pasca Orde Baru adalah titik balik peran agama Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dimana sebelumnya masyarakat Muslim diyakini besar dalam jumlah namun minim peran dan pengaruhnya dalam masyarakat. Berbeda dengan saat ini, simbol keIslaman dapat dengan mudah ditemukan dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Beragam sektor kehidupan tersebut dikaitkan dengan simbol keIslaman seperti dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) Syari’ah, Bank Syari’ah, adanya tren fashion Muslim serta komoditas konsumsi yang bernuansa Islami lainnya. Bangkitnya semangat keagamaan tersebut di atas disambut baik oleh Pemerintah dalam bentuk regulasi yaitu UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) yang mewajibkan penggunaan sertifikat halal bagi para produsen. Dampaknya, berbagai barang konsumsi berlomba menjadi pertama dalam kepemilikan sertifikat halal, seperti jilbab Zoya, minyak angin Fresh Care dan detergen Total. Sedangkan yang baru-baru ini kembali muncul sebagai produk yang bersertifikasi halal pertama adalah lemari es SHARP. UU JPH sendiri dibentuk untuk menjamin setiap pemeluk agama untuk beribadah dan menjalankan ajaran agamanya. Namun, regulasi tersebut justru mendatangkan tanda-tanda yang berlawanan yaitu semakin konsumtifnya masyarakat Muslim Indonesia dimana masyarakat Muslim seharusnya bersikap sederhana dalam mengonsumsi sesuatu. Paper ini akan menjelaskan konsumsi dalam Islam sehingga dapat ditarik benang merah bahwa regulasi produk halal tidak menjamin terciptanya masyarakat yang semakin Islami melainkan menjadi keuntungan bagi produsen untuk memasarkan produk-produknya. Kata Kunci: Konsumsi, Sertifikasi Halal, Regulasi
Peleburan Realitas Nyata dan Maya: Hoax Menjadi Konsumsi Masyarakat Global agustina, dwi
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

The emergence of globalization show the existence of two sides to the light and the dark. The increasing of digital information technology becomes one of the obvious facts about the bright side of globalization. However, globalization in fact also provides a dark side in the era of increasingly advanced technology, one of which is the emergence of news hoax. Social media has become a new space for people to express their opinions without any social restrictions. The result between the real and the no longer becomes unlimited. This paper wants to analyze critically about the emergence of news hoax consumed by the public, with data collection used is literature study. News hoaxes are increasingly flooding the virtual world is now a cultural product in the consumption by the wider community. With just one click, hoax can spread all over the world. Thus, the virtual world becomes a public space that people consume to bullying and disseminate content that is not true.Keywords: social media, hoax, consumption culture, globalization
Agama, Kekerasan, dan Kontestasi Politik Elektoral: Penggunaan Simbol Keagamaan Kiai dan Kekuasaan Blater dalam Pertarungan Politik Lokal Madura hannan, abd -
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Diskursus politik Madura tidak dapat dipisahkan dari praktik dominative, baik yang bersumber dari kelas social, ideology, ataupun symbol keagamaan. Salah satu bentuk praktik dominative yang hingga saat ini mewarnai jalannya politik Madura, ada pada penggunaan sarana keagamaan kiai dan kekuasaan blater. Baik kiai maupun blater, selain berkedudukan sebagai kelas social atas, juga berperan stretgis dalam menentukan peta politik local Madura. Paper ini berjudul, Agama, Kekerasan, dan Kontestasi Politik Elektoral; Penggunaan Simbol Keagamaan Kiai dan Kekuasaan Blater Dalam Pertarungan Politik Lokal Madura. Terdapat tigas isu social uatama yang menjadi focus permasalahan penulisan paper ini, yaitu; dimensi kegamaan kiai, praktik kekerasan blater, dan realitas politik politik electoral. Tiga permasalahan krusial di atas akan dijelaskan sedalam dan serinci mungkin dalam dua kerangka pertanyaan, 1) Bagaimana dinamika kontestasi kepemimpinan local di Madura? 2) Bagaimana dimensi keagamaan kiai dan sarana kekerasan kelompok blater memainkan peran sentral dalam perhelatan politik electoral setempat. Dua pertanyaan tersebut ditujukan untuk menderskripsikan realitas politik electoral Madura, melakukan kajian secara mendalam perihal mobilisasi jaringan kekuasaan kiai dan kelompok blater, kaitannya dengan perebutan kursi kepemimpinan local di Madura. Paper ini merupakan studi kepustakaan yang mendasarkan pada metode kualitatif. Data yang digunakan dalam paper ini adalah data sekunder, khususnya data yang bersumber dari buku, jurnal, dan berbagai hasil penelitian sebelumnya. Adapun teori yang digunakan dalam penulisan ini adalah teori genalogi kekuasaan Michel Foucault. Secara keseluruhan, paper ini memiliki fungsi besar dalam menjelaskan dinamika dan arah sosio-politik Madura ke depan. Khususnya menyangkut peran dan fungsi strategis keagamaan kiai dan kekuasaan blater dalam nenentukan arah politik electoral setempat.
Assessing “the Religious” and “the Secular” in the Pilgrimage to Gus Dur’s Grave Sya'rani, Afifur Rochman
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Abdurrahman Wahid, well-known as Gus Dur, is the fourth president of Indonesia. He was also the leader of Nahdlatul Ulama’ (NU), the largest Muslim organization in the country. Located in the area of Pesantren (Islamic boarding school) Tebuireng, Jombang, East Java, his grave is one the most visited places for pilgrimage, not only in Java, but also in Indonesia. It is reported that in 2017, “more than 3.000 people visit the grave per day, and can increase three times as much during Saturday and Sunday”. Due to the growing number of visitors, the grave has been renovated, and infrastructural facilities have been built, including the establishment of museum, monument, library, and area of parking. It is noteworthy that pilgrimage to particular religious sites has been called as wisata religi (religious tourism). For example, Gus Dur’s grave has been awarded as the best religious tourism in East Java by Anugerah Wisata Jawa Timur (AWJ) in 2017. This is interesting, as it implies that pilgrimage is not always religious, but also may contain secular instances. This article, thus, seeks to investigate how the religious and the secular go hand in hand in the context of pilgrimage by using Gus Dur’s grave as a case of study. I would argue that the problems should be putted in the context of debate over pilgrimage and tourism, considering that the term wisata religi or religious tourism has been attributed to religious sites and gravesites in particular which have been objectified as a tourist site. Pilgrimage is not merely about religious-based practices, but also about tourist practices. Therefore, this implies that pilgrimage and tourism cannot be viewed in a binary opposition. In the context of global tourism, both are intertwined and overlapped in some ways. In other words, pilgrimage may contain both religious and secular elements. Keywords: Gus Dur’s Grave, Pilgrimage, Tourism, Religious, Secular
Masjid dan Perubahan Masyarakat Pascaindustri di Indonesia: Amalan NU dalam Bingkai Muhammadiyah Saifullah, Muhammad
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Muhammadiyah was frequently being similarized with who denied tradition and NU was not. Though one tries to coerce, it will be merely culture movement without tradition. This article desires to look further the soft contestation which is occurred between Muhammadiyah and NU’s movement within Masjid Jendral Sudirman (MJS). MJS is one of mosque in Yogyakarta whose Muhammadiyah affiliation, yet almost all activities therein use NU’s peculiarities. Boards (takmir) enliven the mosque were coming from NU since 2008 and so that it is decently plausible. I’m interesting to investigate what actually happened beyond the board’s movement in instilling NU’s particularities upon Muhammadiyah’s mosque: is it insurgency, coup d’etat, or a new mode of hybrid, and why it can be occurred. The article thus argues that the pattern of NU’s board movement in MJS is merely mass movement which emerges unconsciously as an effect of unawareness shift, borrowing Selo Soemardjan’s phrase. The shift which is entangled society change in postindustrial, internet milieu.  Keywords: Masjid Jendral Sudirman (MJS), Muhammadiyah and NU, Mass movement, unconscious shift, postindustrial society.

Page 1 of 1 | Total Record : 9