cover
Filter by Year
Journal TA'LIMUNA
ISSN : 20852975     EISSN : 26229889
TA`LIMUNA Journal of Islamic Education ISSN 2622-9889 (Print) and ISSN 2085-2975 (Online) is a journal published twice a year by STAI Ma’had Aly Al Hikam Malang. This journal emphasizes aspects related to Islamic Education, with special reference to applied research in Islamic education that can be focused on the components of learning including curriculum, methods, models, psychology, thought and several issues of Islamic education and its problems.
Articles
54
Articles
INTEGRASI PENDIDIKAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP LEMBAGA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Rusdiyanto, Rusdiyanto

journal TALIMUNA Vol 7, No 1 (2018): edisi MARET
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Wacana Integrasi di Indonesia sudah lama digaungkan sebagaimana yang tertuang dalam UUSPN Nomor 20 Tahun 2003 pasal 30 yang mewajibkan penyelenggaraan pendidikan Agama pada semua strata pendidikan sebagai bentuk kesadaran bersama untuk mencapai kualitas hidup yang utuh. Pelaksanaan pendidikan memiliki dua misi utama yaitu pembinaan daya intelektual dan pembinaan daya moral, Mensinergikan sains dan Islam (Agama) merupakan sesuatu yang sangat penting, bahkan keharusan, karena dengan mengabaikan nilai-nilai Agama dalam perkembangan sains dan tekhnologi akan melahirkan dampak negatif yang luar biasa. Dampak negatif dari kecendurungan mengabaikan nilai-nilai (moral Agama) bisa kita lihat secara emperik pada perilaku korup dan lain sebagaianya yang dilakukan oleh manusia dimuka bumi ini dengan munggunakan kekuatan sains dan tekhnolog. Fokus Pembahasan:  Apa Pengertian Integrasi Pendidikan dan Bagaimana Implikasinya terhadap lembaga Pendidikan di Indonesia.

PENDIDIKAN ISLAM DAN KESADARAN PLURALISME

Mahmudin, Afif Syaiful

journal TALIMUNA Vol 7, No 1 (2018): edisi MARET
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Islam menurut mayoritas pemeluknya adalah agama holistik. Islam tidak hanya diartikan sebagai agama tauhid belaka, melainkan ajaran yang menyangkut semua aspek kehidupan, agama publik, pluralisme agama tidak sekedar persoalan mengakomodasi klaim-klaim kebenaran agama dalam wilayah pribadi, tetapi juga persoalan kebijakan publik di mana pemimpin muslim harus mengakui dan melindungi kebebasan beragama, tidak hanya intra-umat Islam, tetapi antar-agama dan agama penutup yang mengajarkan ketuhanan dan kemanusiaan, termasuk di dalamnya persoalan pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu terlahir dari dalil ajaran ketuhanan. Akal menyimpulkan bahwa jika keesaan hanya milik Allah, maka selain-Nya tidak layak untuk menyandangnya yang berarti selain Allah adalah pluralitas. Kemajemukan serta keberagaman dalam hal agama, tradisi, kesenian, kebudayaan, cara hidup, dan pandangan nilai yang di anut oleh kelompok etnis masyarakat Indonesia. Pada satu sisi, keberagaman dan kemajemukan ini bagi Indonesia bisa menjadi kekuatan yang positif dan konstruktif. Pada sisi lain, akan menjadi kekuatan yang negatif dan destruktif apabila tidak di arahkan dengan positif

MEMBINGKAI KEPRIBADIAN ULUL ALBAB GENERASI MILENIAL

Munir, Misbahul

journal TALIMUNA Vol 7, No 1 (2018): edisi MARET
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Problematika kepribadian yang dihadapi generasi millenial saat ini sangat memprihatinkan, diantaranya adalah persoalan adiksi gadget, tidak fokus pada belajar, emosinya mudah terganggu, pornografi, pergaulan bebas. Sebagai tawaran solusi adalah internalisasi nilai kepribian ulul albab, yaitu melalui pengamalan dzikir, fikir, amal soleh. Internealisasi kepribadian ulul albab memungkinkan bisa mengatasi krisis moral yang sedang terjadi saat ini. Keunikan yang dimiliki generasi millenial ulul albab ialah terampil dalam mengakses teknologi digital, sekaligus mempunyai prinsip nilai agama yang kokoh.

UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN (Studi Kasus di SMP Islam Muqorrobin Singosari Malang)

Sumarji, Sumarji, Rahmatullah, Rahmatullah

journal TALIMUNA Vol 7, No 1 (2018): edisi MARET
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Peningkatan membaca al-Qur’an menjadi hal penting dalam dunia pendidikan. Dengan mempelajari al-Qur’an maka diharapkan tingkat spiritual anak didik meningkat, sehingga akan berdampak kepada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor anak didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui upaya guru dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an. Hasil penelitian menyatakan bahwa upaya guru dalam meningkatan kemampuan membaca al-Qur’an di SMP Islam Muqorrobin Singosari Malang dilakukan dengan pertama, optimalisasi pelaksanaan proses pembelajaran intra kulikuler. Kedua, optimalisasi proses pembelajaran ekstra kulikuler. Ketiga, evaluasi pembelajaran. Kempat, penambahan sarana dan prasarana. Kelima, Peningkatan kualitas Guru.

MENDIALOGKAN LEGITIMASI NIKAH SIRRI DALAM RANAH TEOLOGIS DAN YURIDIS (Interpretasi Hadits Larangan Nikah Sirri Dalam Perspektif Antropologi)

Muna, Moh. Nailul

journal TALIMUNA Vol 7, No 1 (2018): edisi MARET
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Dalam memperbincangkan pernikahan, tidak bisa lepas dari dua ranah yang melikupinya yakni, keyakinan dan hukum. Permasalahan nikah sirri adalah permasalahan yang sampai saat ini masih menarik untuk diperbincangkan karena masih maraknya praktek ini. hadits yang merupakan sumber hukum Islam kedua telah melarang secara jelas praktek nikah yang tidak dihadiri oleh wali, meski al-Qur’an tidak menyinggung hal ini namun dalil-dalil yuridis telah menguatkan larangan nikah sirri karena akan mengakibatkan ketidak-jelasan hubungan suami istri, selain itu keengganan untuk mencatatkan pernikahan yang menjadi faktor utama pelarangan nikah sirri. Namun dalam perspektif antropologi, nikah sirri tidak selamanya dilarang dengan mempertimbangkan eksistensi hadits serta keadaan sosiologi yang ada. Tulisan ini bertujuan supaya memberikan new meanings dalam memahami nikah sirri dengan menggunakan perspektif antropologi.

PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN KEHIDUPAN SOSIAL SANTRI

Zamzami, Muh. Rodhi

journal TALIMUNA Vol 6, No 1 (2017): edisi Maret
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia, sejak sebelum masa penjajahan pesantren sudah menjadi lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Pesantren memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, pesantren ikut andil dalam kemerdekaan, mengusir penjajah. Pesantren juga berperan dalam pembangunan Negara Indonesia, terutama dalam bidang non fisik yaitu pendidikan. Pesantren membangun mental bangsa Indonesia untuk selalu berpegang teguh menjaga warisan bangsa, budaya dan karakter bangsa Indonesia. Tidak sedikit kearifan budaya lokal, dan kearifan sosial yang ada di Indonesia sudah selaras dengan ajaran-ajaran Islam. Sikap saling menghormati, menghargai, dan memahami antar sesama, rendah, diri, dan hidup sederhana, sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia, yang semua itu selalu ditekankan dan diajarkan di pesantren. Semua tradisi sosial pesantren adalah bentuk gambaran masyarakat Indonesia, sehingga struktur sosial antara masyarakat pesantren, dan masyarakat umum diluar pesantren tidak jauh berbeda.

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN DALAM AL-QURAN (Studi Pustaka Kisah-kisah dalam al-Quran)

Rosidin, Rosidin

journal TALIMUNA Vol 6, No 1 (2017): edisi Maret
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Al-Quran is the main source of Islamic educational concept. The Quranic text is constant, while its contextualization and its implementation are dynamic throughout Muslim history. Therefore its verses could be interpreted as the answer to the problems of Islamic education nowadays. One of the Educational problems within  Islamic education is the problem of leadership. At least, there are seven stories of leadership within the Quran. The lesson learned from these stories of leadership can be concluded as follows; there are four leadership competencies, i.e: moral, professional, social, and intellectual competencies. These competencies are equivalent to the prophetic qualities: Siddiq, Amanah, Tabligh, and Fatanah.

INTERAKSI ANTARA KYAI DAN SANTRI DALAM MEMBENTUK KEMANDIRIAN ANAK PADA PONDOK PESANTREN ANAK-ANAK

Subekti, Yusuf Agung, Mutamakin, Mutamakin

journal TALIMUNA Vol 6, No 1 (2017): edisi Maret
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Independent attitude education for santri (student in islamic boarding school) has existed in Indonesia since long time ago, in general, the pesantren (Islamic boarding school) specializing handle prioritize education of children to read and write the Koran, which is the core element kiai, Mrs. housekeeper, teacher council, students, mosque, hostel, and learning curriculum Koran has become a sub-culture of its own. Because of the character education very early age how urgent it is to form a sub-culture of personal private life tough face reality era of modernization and globalization. In addition, many stakeholders stated that schools are educational institutions that can serve as a model character education in Indonesia. Two questions will be addressed in this paper is how interaction between kyai and santri in forming childrens independent attitude  on kids boarding shool This study focuses attention on Nur Mambaul Hisan Satreyan Kanigoro Blitar.

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM BERBUDAYA NIRKEKERASAN

Sudrajat, Adi

journal TALIMUNA Vol 7, No 2 (2018): edisi SEPTEMBER
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendidikan merupakan alat untuk mencetak manusia yang humanis, cinta damai, dan juga solusi dari segala masalah, tapi banyak masalah muncul dari dunia pendidikan salah satunya kekerasan dalam pendidikan, ironisnya itu terjadi mulai dari tingakat dasar sampai perguruan tinggi, untuk menghadapi masalah ini perlu diadakan rivitalisasi pendidikan yaitu dengan mengembangkan pendidikan agama Islam berdudaya nirkekerasan. Ini sebagai tawaran solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah kekerasan yang terjadi didalam dunia pendidikan saat ini. Seperti apa yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW bagaiamana cara menanamkan nilai-nilai pendidikan yang humanis sehingga Islam menjadi agama rahmatan lil`alamin.

PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KEMAJEMUKAN

Zaman, Kamilus

journal TALIMUNA Vol 7, No 2 (2018): edisi SEPTEMBER
Publisher : STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Guru agama seharusnya menjadikan peserta didik menjadi yang berperadaban, berbudaya, berakhlak, berkarakter, ala Indonesia. dengan menjunjung tinggi nilai-nilai al-qur’an, dan pancasila, menghargai kemajmukan, suku, agama ras, sesuai dengan ajaran Islam yang dibawa Oleh Nabi Muhammad SAW, yang membangun Kota Yastrib menjadi kota Madinah yang didalamnya juga bermajmuk. Sebagai upaya Pengembangan Kurikulum PAI Berbasis Kemajemukan , disini lembaga harus mencoba mengembangkan dan merekontruksi kembali kurikulum Pemerintah dari yang sentralisasi menjadi Desentralisasi, agar Tujuan Pendidikan Agama Islam di lembaga tersebut tercapai, Untuk merealisasikannya Maka:1). Pengembangan kurikulum PAI: pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat berarti: (1) kegiatan menghasilkan kurikulum PAI; atau (2) proses yang mengaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum PAI yang lebih baik; dan/atau (3) kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian dan penyempur¬naan kurikulum PAI. 2). Langkah-Langkah dalam Pengembangan Kurikulum PAI Berbasis Kemajemukan, dari berbagai Aspek: (1) aspek Tujuan: Menjaga akidah dan ketakwaan peserta didik. 2) Menjadi landasan untuk lebih rajin mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama. 3) Mendorong peserta didik untuk lebih kritis, kreatif dan inovatif. 4) Menjadi landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari didalam masyarakat. Dengan demikian bukan hanya mengajarkan pengetahuan secara teori semata tetapi juga untuk dipraktekkan atau diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (membangun etika sosial). 5) Nasionalis 6) Membentuk Pribadi Muslim (2)  Aspek Materi: Memperluas/menambah indikator,  Muatan lokal, konten pelajarannya tidak harus sejarah tentang perang dan kesenjangan antara Islam dan non Islam, yang diajarkan karya Tokoh-Tokoh Nusantara. Materi yang disajikan hendaknya lebih  bersifat fungsional (3) Aspek Lembaga: Lembaga Pendidikan Agama Islam harus toleran terhadap kemajemukan siswa baik Ras, Suku bahkan Agama.