Amerta Nutrition
Published by Universitas Airlangga
Amerta Nutrition (p-ISSN:2580-1163; e-ISSN: 2580-9776) is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. The scope for Amerta Nutrition include: public health nutrition, community nutrition, clinical nutrition, dietetics, food science and food service management. Each volume of Amerta Nutrition is counted in each calendar year that consist of 4 issues. Amerta Nutrition is published four times per year every March, June, September, and December.
Articles
104
Articles
Aktivitas Fisik Saat Istirahat, Intensitas Penggunaan Smartphone, dan Kejadian Obesitas Pada Anak SD Full day School (Studi di SD Al Muslim Sidoarjo)

Ramadhani, Sakinah, Mundiastuti, Luki, Mahmudiono, Trias

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: obesity prevalence in elementary school student increased due to low physical activity rate also excessive food intake. The habit of watching tv, using computer and smartphone is also related to this obesity prevalence.Objective: Analyze physical activity at recess, intensity of smartphone use, and incidence of obesity among students at Full Day Elementary SchoolMethod: Using a case control with 110 elementary school children consisting of two groups, namely the normal nutritional status group of 55 respondents and the obesity status group of 55 respondents.Sampling was done by propotional random sampling. This study will compare physical activity at rest, and the intensity of smartphone use on obesity status and normal nutritional status. Analysis of this study data using chi-square test and logistic regression.Results : The results showed that there was a relationship between physical activity during the first break with obesity (p=0.010) and an OR value of 0.059 with a 95% CI (0.011-0.509) which meant that students who did physical activity first break by sitting at risk 0.059 times less to be obese. As for physical activity at the second rest (p=0.748), intensity of smartphone usage during weekdays (p=0.225), and intensity of smartphone use when there was no correlation with the incidence of obesity.Conclusion: Physical activity at the first break was related to the incidence of obesity in elementary school children Full Day School. As for the second resting activity, the intensity of smartphone usage during weekdays and weekends is not related to the incidence of obesity in elementary school children Full Day School.ABSTRAKLatar Belakang: Peningkatan obesitas disebabkan kurang melakukan aktivitas fisik dan kelebihan asupan makanan. Kebiasaan menonton tv, bermain komputer, dan smartphone yang dikaitkan dengan prevalensi obesitas saat ini.Tujuan:  Menganalisis hubungan aktivitas fisik saat istirahat dan intensitas penggunaan smartphone, pada anak dengan status obesitas dan status gizi normal di SD Full Day School.Metode: Mengunakan case control dengan 110 anak Sekolah Dasar yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok status gizi normal sebanyak 55 responden dan kelompok status obesitas sebanyak 55 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan propotional random sampling. Penelitian ini akan membandingkan aktivitas fisik saat istirahat, dan intensitas penggunaan smartphone pada status obesitas dan status gizi normal. Analisis data penelitian ini menggunakan uji chi-square dan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik saat istirahat pertama dengan obesitas (p=0,010) dan didapatkan nilai OR sebesar 0,059 dengan CI 95% (0,011-0,509) yang berarti bahwa siswa yang melakukan aktivitas fisik istirahat pertama berisiko 0,059 kali lebih kecil untuk mengalami obesitas. Sedangkan untuk aktivitas fisik saat istirahat kedua (p=0,748), intensitas penggunaan smartphone saat weekdays (p=0,225), dan intensitas penggunaan smartphone saat weekend (p=0,246) tidak terdapat hubungan dengan kejadian obesitas.Kesimpulan: Aktivitas fisik saat istirahat pertama berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak SD Full Day School. Sedangkan untuk aktivitas istirahat kedua, intensitas penggunaan smartphone saat weekdays dan weekend tidak berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak SD Full Day School.

Hubungan Kepatuhan Minum Obat Anti Diabetik dengan Regulasi Kadar Gula Darah pada Pasien Perempuan Diabetes Mellitus

Nanda, Oryza Dwi, Wiryanto, Bambang, Triyono, Erwin Astha

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: Blood glucose level controlling is the important thing for diabetes mellitus treatment. Diabetics patients need to understand the factors which influence blood glucose level such as the compliance of anti-diabetic drug.Objective: Determine the relationship and the risk of between oral anti-diabetic drug consumption adherence and blood glucose level regulation for diabetes mellitus female patients.Method: Case control study design with purposive sampling technique, in order to obtain 26 research samples which consist of two groups, they are case group (unregulated blood glucose) which has 13 samples and the control group (regulated blood glucose) whice has 13 samples. The samples are female respondents aged 45-59 years old suffering diabetes mellitus. This research analyzed the relationshipand risk between anti-diabetic consumption adherence and blood glucose level regulation in diabetes mellitus patients using chi-square test.Results: Patients with unregulated blood glucose showed 46.2% people were obedient and 53.8% were not obedient in consuming anti-diabetic drugs. Patients with regulated blood glucose showed 92.3% people were obedient and 7.7% people were not obedient in consuming anti-diabetic drugs. Chi square test showed that there was a relationship between anti-diabetic drugs consumption adherence and blood glucose level regulstion for diabetes mellitus patients with p = 0.015 (p <0.05) and an OR value of 14 with a 95% CI (1.385-141.485), which means that unobedient have 14 times risker suffered terrible blood glucose regulation than obedient patients.Conclusion: There was a relationship between anti-diabetic drug consumption adherence and blood glucose level regulation in female patients aged 45-59 years in Mojo Health Center, Pucang Sawu, and Keputih Surabaya. Patients with uncontrolled blood sugar level are more disobedient in consuming anti-diabetic drugs. Meanwhile, patients with controlled blood glucose were most obedient people in consuming anti-diabetic drugs.ABSTRAKLatar Belakang: Pengendalian kadar gula darah merupakan hal yang penting dalam penanganan diabetes melitus. Pasien diabetes perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pengendalian kadar gula darah salah satunya adalah kepatuhan minum obat anti diabetik.Tujuan:  Mengetahui hubungan dan besar risiko kepatuhan minum obat oral anti diabetik dengan regulasi kadar gula darah pada pasien perempuan diabetes mellitus.Metode: Desain penelitian kasus kontrol dengan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh 26 sampel penelitian yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok kasus (gula darah tidak teregulasi) sebanyak 13 dan kelompok kontrol (gula darah teregulasi) sebanyak 13 responden perempuan berusia 45-59 tahun yang menderita diabetes melitus. Hubungan dan besar risiko kepatuhan minum obat anti diabetik dengan regulasi gula darah pasien diabetes mellitus menggunakan uji chi-square. Hasil: Pasien dengan gula darah tidak teregulasi menunjukkan sebanyak 46,2% patuh dan 53,8% tidak patuh dalam minum obat anti diabetik. Pasien dengan gula darah teregulasi menunjukkan sebanyak 92,3% patuh dan 7,7% tidak patuh dalam minum obat anti diabetik. Uji chi square menunjukkan terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat anti diabetik dengan regulasi kadar gula darah pada pasien diabetes melitus dengan nilai p=0,015 dan nilai OR sebesar 14 dengan CI 95% (1,385-141,485) yang berarti responden yang tidak patuh minum obat anti diabetik berisiko 14 kali mengalami regulasi gula darah yang buruk dibandingkan dengan pasien yang patuh dalam minum obat anti diabetik.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat anti diabetik dengan regulasi gula darah pada pasien perempuan rawat jalan usia 45-59 tahun di Puskesmas Mojo, Pucang Sawu, dan Keputih Surabaya. Pasien dengan kadar gula darah tidak terkontrol lebih banyak tidak patuh dalam minum obat anti diabetik, sedangkan pada pasien dengan gula darah terkontrol sebagian besar cukup patuh dalam minum obat anti diabetik.

Pengaruh Radikal Bebas Terhadap Proses Inflamasi pada Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Suryadinata, Rivan Virlando

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease is diseases caused by exposure to cigarette smoke. Cigarette smoke carries free radicals into the airways which can lead to acute exacerbations in patients.Objectives: explanation of inflammatory processes in the airways in patients with PPOK due to an increase in free radicals.Discusion: In the human body, free radicals are metabolic products from normal cells and function as one of the bodys defense systems. Free radicals can be Reactive Oxygen Species (ROS) and Reactive Nitrogen Species (RNS), both of which can be obtained from the inside (endogenous) or from outside the body (exogenous). In the pathological, exposure to cigarette smoke causes an imbalance between the amount of free radicals produced in the body so that it can lead to oxidative stress.Conclusion: An increase in the number of free radicals will directly affect inflammatory mediators in the body. Increased free radicals will trigger the inflammatory process locally in the airways and systemically, so increasing the rate of exacerbations in COPD patients.ABSTRAKLatar Belakang : Penyakit PPOK ditimbulkan akibat paparan asap rokok yang terus menerus. Radikal bebas yang dibawa oleh asap rokok terhirup masuk kedalam saluran napas dapat menimbulkan eksaserbasi.Tujuan : Menjelaskan proses eksaserbasi yang dipengaruhi oleh proses inflamasi pada penderita PPOK akibat peningkatan radikal bebas.Ulasan : Pada tubuh manusia, radikal bebas merupakan produk hasil metabolisme dari sel normal. Pada keadaan normal, Radikal bebas berfungsi sebagai salah satu sistem pertahanan tubuh. Radikal bebas dapat berupa Reactive Oxygen Spesies (ROS) dan Reactive Nitrogen Spesies (RNS), keduanya dapat diperoleh melalui dari dalam  (endogen) maupun dari luar tubuh (eksogen). Pada keadaan patologis akibat paparan asap rokok menimbulkan ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas yang dihasilkan dalam tubuh sehingga dapat mengakibatkan terjadinya stress oksidatif.Kesimpulan:Peningkatan jumlah radikal bebas secara langsung akan berpengaruh pada mediator inflamasi pada tubuh. Peningkatan radikal bebas akan memicu proses inflamasi secara lokal pada saluran napas dan sistemik sehingga meningkatkan angka kejadian eksaserbasi pada penderita PPOK. 

Hubungan antara Kehamilan Remaja dan Riwayat Pemberian ASI Dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pujon Kabupaten Malang

Larasati, Dwi Agista, Nindya, Triska Susila, Arief, Yuni Sufyanti

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: Stunting is growth failure which commonly occurs among children. In Indonesia, the prevalence of stunted growth is still high. The high number of stunted children is a result of the risk factors, which are early marriage that causes adolescent pregnancy, and non-exclusive breastfeeding.Objectives: To analyze the relationship between teenage pregnancy and a history of exclusive breastfeeding against the incidence of stunting in infants under five years.Method: This research was a descriptive analysis which used case-control method. The samples in this research were 58 children, who were selected using multiple stage sampling, and divided into two groups; stunting and non-stunting. The collected data include the children’s height measurement andquestionnaire of exclusive breastfeeding history, as well as questionnaire of mother’s age at first pregnancy and the respondents’ identity. The data were analyzed using SPSS software with chi square test and WHO AnthroResults: The results of this research revealed significant correlation between adolescent pregnancy and stunted children (p=0.016), with odds ratio of 3.86. Moreover, significant correlation was also manifested between non-exclusive breastfeeding and stunted children (p=0.003), with odds ratio of 3.23. The younger the mother at pregnancy and the absence of exclusive breastfeeding resulted in higher risk of child stunting. Therefore, this research concluded that adolescent pregnancy and non-exclusive breastfeeding might increase the risk of child stunting.Conclusion: This research concluded that adolescent pregnancy and non – exsclusive breastfeeding might increase the risk of stunting in children.ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah kejadian gagal tumbuh yang sering terjadi pada anak. Prevalensi stunting di Indonesia sendiri masih tinggi. Tingginya jumlah anak yang mengalami stunting merupakan hasil dari tingginya faktor yang memengaruhinya seperti; pernikahan dini yang menyebabkan terjadinya kehamilan pada remaja dan pemberian ASI yang tidak eksklusif.Tujuan: Menganalisis apakah terdapat hubungan antara kehamilan remaja dan riwayat pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik, menggunakan metode case – control. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 58 anak, yang dipilih menggunakan metode multiple stage sampling dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu stunting dan non – stunting. Data yang dikumpulkan meliputi pengukuran panjang badan anak dan kuisioner riwayat pemberian ASI eksklusif, kuisoner usia ibu pertama kali hamil dan identitas responden. Analisis data menggunakan software SPSS dengan uji Chi – square untuk menganalisis hubungan variabel dependen dengan independen sedangkan software WHO Antro digunakan untuk menganalisis status gizi balita (TB/U) menurut z – score.Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukan hubungan yang signifikan antara kehamilan remaja dengan kejadian stunting pada balita (p = 0,016) dengan nilai Odds – ratio adalah 3,86. Di samping itu juga ditemukan hubungan yang signifikan antara pemberian ASI non – eksklusif dengan kejadian stunting pada balita (p = 0,00) dengan nilai Odds – ratio adalah 3,23. Semakin muda usia ibu mengalami kehamilan dan anak tidak diberikan ASI eksklusif maka akan semakin besar risiko anak mengalami stunting.Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa kehamilan remaja dan pemberian ASI non – eksklusif dapat meningkatkan risiko anak mengalami stunting.

Hubungan Tingkat Kematangan dengan Sisa Makanan Pokok pada Pasien Anak di RUMKITAL Dr. Ramelan Surabaya

Rabbani, Fathia

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: The plate waste is one indicator of the success of the  food management in hospitals. Currently, there are still many hospitals that have plate waste over 20%.  Staple food is a food that is often not eaten by the patient. This can be caused by the level of ripeness that is less appropriate. Objective: To analyze the correlation between level of ripeness  with  the plate waste of staple food  among pediatric patients in Dr. Ramelan Surabaya Naval Hospital. Methods: This study used an observational study design with cross sectional study design. The sample size was 34 respondents. The samples in this study were children aged 2-12 years and treated in second- and third-class hospital wards. This was a cross sectional study involving 34 respondents at the RUMKITAL Dr. Ramelan Surabaya. The samples in this study were children aged 2-12 years old. Plate waste of staple food was collected for measurement using comstock method; level of ripeness were measured using questionnaires. Statistical analysis used was Chi Square test.Results: The average of respondents’ plate waste which shows the level of ripeness as inappropiate, appropriate, and very appropriate are 100%, 62%, dan 33%. This resea rch founds that there is a significant relation between the level of ripeness (p=0.024) with the plate waste of staple food. Conclusions: There is a significant relation between the level of ripeness (p=0.024) with the plate waste of staple food among pediatric patients Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. The level of ripeness can cause the texture of the staple food served to be inappropriate so that the pediatric patients become lazy to spend it.ABSTRAKLatar Belakang: Sisa makanan termasuk dalam indikator keberhasilan penyelenggaraan makanan rumah sakit. Sekarang, masih terdapa banyak rumah sakit dengan tingkat sisa makanan dalam kategori banyak yaitu >20%. Makanan pokok merupakan makanan yang paling banyak jumlah sisanya. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor tingkat kematangan yang kurang sesuai.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara tingkat kematangan dengan sisa makanan pokok pada pasien anak di Ruang Rawat Inap RUMKITAL Dr. Ramelan Surabaya.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Besar sampel penelitian sebanyak 34 responden. Sampel adalah pasien anak berusia 2-12 tahun. Sisa makanan pokok dihitung dengan metode comstock; tingkat kematangan makanan didapat melalui wawancara dan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi square.Hasil: Rerata jumlah sisa makanan responden yang menyatakan tingkat kematangan kurang sesuai, sesuai, dan sangat sesuai yaitu sebesar 100%, 62%, dan 33%. hubungan yang signifikan antara tingkat kematangan (p=0,024) dengan sisa makanan pokok didapatkan melalui penelitian ini.Kesimpulan: Tingkat kematangan memiliki hubungan yang signifikan dengan sisa makanan pokok pada pasien anak Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. Tingkat kematangan dapat menyebabkan tekstur makanan pokok yang disajikan tidak sesuai sehingga pasien anak menjadi malas untuk menghabiskannya.

Peran Asam Amino Sitrulin dalam Meningkatkan Performa Olahraga Pada Atlet

Rizal, Mochammad, Segalita, Calista

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: Citrulline is an ergogenic non-essential amino acid which is able to increase production, efficiency, and use of energy, as well as performance in sport. Purpose: The objective of this literature review was to explain the role of citrulline in improving exercise performance through both aerobic and anaerobic metabolic pathways. Discussion: The results showed evidence that citrulline has role in improving exercise performance. Several articles indicate that the consumption of citrulline either supplement or watermelon given during certain period or acute before the test might increase VO2max, retard muscle fatigue, and decrease delayed onset muscle soreness. Some studies used 6-8 g citrulline before exercise, but lower dose was used in some other studies. Conclusion: Amino acids citrulline either supplement or watermelon is believed to have role in improving exercise performance in athletes although there is no recommendation dose has been found. ABSTRAKLatar Belakang: Sitrulin merupakan asam amino non esensial yang bersifat ergogenik yaitu dapat meningkatkan produksi, efisiensi, dan penggunaan energi serta performa olahraga.Tujuan: Tujuan penulisan kajian pustaka ini adalah untuk menjabarkan peran sitrulin dalam meningkatkan performa olahraga melalui jalur metabolisme baik aerobik maupun anaerobik.Ulasan: Hasil literature review menunjukkan bukti bahwa sitrulin memiliki peran dalam meningkatkan performa olahraga atlet. Beberapa artikel menunjukkan bahwa konsumsi sitrulin baik dalam bentuk suplemen maupun buah semangka yang diberikan selama jangka waktu tertentu maupun sesaat sebelum dilakukan tes latihan fisik mampu meningkatkan VO2max, menunda kelelahan otot, dan mengurangi rasa nyeri otot pasca latihan. Beberapa penelitian menggunakan dosis 6-8 g sitrulin sebelum olahraga, beberapa penelitian lain menggunakan dosis yang lebih rendah.Kesimpulan: Asam amino sitrulin baik dalam bentuk suplemen maupun buah semangka diyakini memiliki peran dalam meningkatkan performa olahraga atlet walaupun rekomendasi dosis baku yang disarankan belum ditemukan.

Asupan Vitamin A, C, E, Dan IMT (Indeks Massa Tubuh) Pada Lansia Hipertensi dan Non Hipertensi Di Puskesmas Banyu Urip, Surabaya

Amalia, Intan Putri Risky, Triyono, Erwin Astha

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: Hypertension is a non-comunicable disease that easy found in ederly. Dietary intake had an important role as prevent and manage hypertension.Objectives: The objective of this study was to invistigate correlation of dietary intake of vitamins A, C, E and Body Mass Index (BMI) with hypertension among ederly at Puskesmas Banyu Urip Surabaya.Methods: This study was observational that uses case-control desain. Samples calculated according Lemeshow formula amount of 32 respondent (total case and control). This study was held in July until August 2018. Statistical analysis use Chi Square.Results: The result showed that most of subjects were 66-70 years old, woman (87.5%), who had education history primary school (37.5%), and work as house wife (71.9%). Most of subject had adequate vitamin A (96.9%), inadequate vitamin C (87.5%) and inadequate vitamin E (100%). BMI most subject was normal (59.4%). This study demostrated that there was no significant correlation between vitamin C intake and hypertension (OR=3.462; 95% CI=0.32-37.473; p=0.300), and no significant correlation between BMI and hypertension (OR=0.455; 95% CI=0.18-1.921; p=0.236). Averange intake of vitamin A in respondent hypertension was 1301.02±407.84 ug and 1968.03 ±407.84 ug in respondent with normo tension. Averange intake of vitamin E in respondent hypertension was 3.06 ±1.2 mg and 3.34 ±1.23 mg in respondent with normo tension. Conclusions: There was no significant correlation between dietary intake vitamin C and BMI with hypertension. Averange intake of vitamin A, C, and E was better in respondent with normo tension. ABSTRAKLatar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dan mudah ditemui pada usia lansia. Asupan makanan memegang peranan penting dalam mencegah dan penatalaksanaan hipertensi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan vitamin A, C, E dan IMT dengan hipertensi pada lansia di Puskesmas Banyu Urip Surabaya.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan desain case control. Sampel penelitian ini dihitung sesuai dengan rumus Lemeshow yakni sebesar 32 responden (total kelompok kasus dan kontrol). Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli hingga bulan Agustus 2018. Analisis statistik yang digunakan uji Chi Square.Hasil: Sebagian besar responden berusia 66-70 tahun, berjenis kelamin wanita (87,5%), riwayat pendidikan terakir SD sederajat (37,5%), dan berkerja sebagai ibu rumah tangga (71,9%). Tingkat kecukupan vitamin A sebagian besar baik (96,9%). Tingkat kecukupan vitamin C sebagian besar kurang (87,5%). Tingkat kecukupan vitamin E kurang (100%). IMT sebagian besar responden normal (59,4%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan vitamin C dengan hipertensi (OR=3,462; 95% CI=0,32-37,473; p=0,300) dan tidak terdapat hubungan yang signifikan IMT dengan hipertensi (OR=0,455; 95% CI=0,18-1,921; p=0,236). Rata-rata asupan vitamin A pada responden hipertensi sebesar 1301,02 ±407,84 ug dan pada tekanan darah normal 1968,03 ±956,67 ug. Rata-rata asupan vitamin E  pada responden hipertensi sebesar 3,06 ±1,2 mg dan pada tekanan darah normal sebesar 3,34 ±1,23 mg.Kesimpulan: Asupan vitamin C dan IMT tidak berhubungan signifikan dengan kejadian hipertensi. Rata-rata asupan vitamin A, C, dan E lebih besar pada responden kelompok tekanan darah normal.

Obesitas: Pentingkah Memperhatikan Konsumsi Makanan di Akhir Pekan?

Kandinasti, Syafira, Farapti, Farapti

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: The prevalence of obesity in all age groups has increased in some countries. Epidemiological studies indicated that the intake of energy and macronutrient over the weekend were increasing rather than on weekdays and contributed to the incidence of obesity. Objectives: The aim of this literature review is to analyze the different between intake of energy and macronutrients in weekdays compared to weekend and how it contributes to obesity . Methode: The literature review method used international journal article that was searched using the electronic database such as Medline NCBI (National Center for Biotechnology Information), embases, and google scholar.Result: The results showed that energy and macronutrient intake were increasing over the weekend than on weekdays. Consumption of unhealthy food on weekend such as foods and beverages with high sugar, high fat and alcohol increase the energy and play a role in the incidence of obesity. Conclusion: The health promotion concerning food intake on weekdays and weekend both in terms of quantity and quality is needed for obesity prevention.ABSTRAKLatar belakang: Prevalensi obesitas pada semua kelompok umur meningkat di hampir seluruh negara di dunia. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa asupan energi dan zat gizi makro diakhir pekan meningkat dibandingkan hari biasa dan berperan pada kejadian obesitas.Tujuan: Tujuan dari literatur review ini adalah untuk menganalisis perbedaan asupan energi dan zat gizi makro diakhir pekan dibandingkan hari biasa dan bagaimana kontribusinya terhadap obesitas.Metode: Metode yang digunakan adalah metode penelusuran artikel  jurnal internasional yang ditelusuri menggunakan electronic database seperti medline NCBI (National Center for Biotechnology Information), embase, dan penelusuran dengan google schoolar.Hasil: Hasil telaah beberapa artikel menunjukan bahwa rata-rata asupan energi dan zat gizi makro mengalami peningkatan saat akhir pekan dibandingkan hari biasa. Konsumsi unhealthy food di akhir pekan seperti makanan dan minuman dengan kandungan tinggi gula, tinggi lemak, dan alkohol tampaknya menyebabkan peningkatan kalori dan berperan pada insiden obesitas.Kesimpulan: Diperlukan upaya pencegahan obesitas melalui promosi kesehatan masyarakat dengan memperhatikan asupan makanan saat hari libur baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.

Hubungan Berat Badan Lahir Rendah dan Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Desa Maron Kidul Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo

Dewi, Novianti Tysmala, Widari, Dhenok

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: Stunting is a nutritional problem that has a high prevalence in Indonesia. Stunting among children under two years of age has a higher risk compared to other age groups because it will permanently affect the physical and cognitive development of children in the future. Factors that can cause stunting include low birth weight and infectious diseases.Objectives: The aim of this study was to determine the relationship between low birth weight and infection disease with incident of stunting among children under two years of age in Maron sub district, District of Probolinggo, East Java. Methods: This research was an observational research with case-control design. Sampling technique using multistage random sampling. the study was conducted in June until July 2018. The samples of study were 52 children (26 stunted children in case group and 26 normal growth children in control group. Data collection of infectious diseases was carried out by structured questionnaire interviews and medical records while low birth weight was obtained by looking at KIA book. Stunting was determined from measurement of childrens recumbent length by metline. Data were analyzed by using chi square test for determining odds ratio. Results: The results showed that low birth weight (p=0.042; OR=0.157; 95% CI: 0.030-0.822) and infection disease (p=0.049; OR=3.071; 95% CI: 1.155-11.861) had significant relation with stunting among children under two years of age. Conclusions: Low birth weight and infection disease in the last 3 months increased the risk of 0.157 and 3.017 times stunting among children under two years of age. It is recommended for children under two years of age who have low birth weight and infectious disease should be given special attention by Integrated Health Post and there should be a monitoring related development routinely so developmental disruptions can be identified and immediately get the treatment. ABSTRAKLatar Belakang:Stunting merupakan masalah gizi yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia. Stunting pada baduta memiliki risiko lebih tinggi jika dibanding dengan kelompok usia lain karena akan berdampak secara permanen terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak dimasa depan. Faktor penyebab stunting diantaranya adalah berat badan lahir rendah dan penyakit infeksi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis hubungan antara berat badan lahir rendah dan penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada baduta di Desa Maron Kidul Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo.Metode: Jenis penelitian menggunakan desain case-control. Sampel diambil dengan teknik sampel acak bertahap. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga Juli 2018. Besar sampel sebanyak 52 baduta (26 anak stunting dan 26 anak non-stunting). Pengumpulan data penyakit infeksi dilakukan dengan wawancara kuisioner terstruktur dan rekam medik sedangkan berat badan lahir rendah diperoleh dengan melihat buku KIA. Penentuan stunting baduta diperoleh melalui pengukuran panjang badan dengan metline. Data dianalisis menggunakan chi-square untuk menentukan odds ratio.Hasil:  Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan berat badan lahir rendah (p=0.042; OR=0,157; 95% CI: 0,030-0,822), dan penyakit infeksi (p=0,049; OR=3,071; 95% CI: 1,155-11,861) dengan kejadian stunting pada baduta.  Kesimpulan:Berat badan lahir rendah dan Rerat badan lahir rendah dan dutdah diperoleh dengan melihat buku KIA. of alcohol penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir meningkatkan risiko sebesar 0,157 dan 3,017 kali terhadap kejadian stunting pada baduta. Disarankan untuk baduta yang memiliki masalah BBLR dan penyakit infeksi diberikan perhatian khusus oleh posyandu serta perlu dilakukan peninjauan terkait perkembangan secara rutin agar gangguan perkembangan yang mungkin terjadi dapat segera dikenali dan diatasi.

Pengaruh Usia, Pendidikan, dan Pengetahuan Terhadap Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil di Puskesmas Maron, Kabupaten Probolinggo

Shofiana, Fauziah Itsnaini, Widari, Denok, Sumarmi, Sri

Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Background: Anemia is a major nutritional problem in Indonesian, one of the occurs in pregnant women. Therefore the government issued prevention and control program of iron deficiency anemia through consecutive iron supplementation for at least 90 days during pregnancy.Objectives: This study aimed to analyze the influence of age, education and knowledge of consumption of iron tablets.Methods: This research was conducted in Maron Public Health Center, District of Probolinggo using a cross sectional design. A sample of 40 pregnant women in their last trimester who have received 90 iron tablets was recruited with a simple random sampling technique. The influence of age, education, and knowledge was analyzed using logistic regression test with significance value < 0,05.Results: The results showed that the knowledge of pregnant women affected of consumption of iron tablets (p=0.026), but age (p=0.914), education (p=0.419) did not affected of consumption of iron tablets. Conclusion: The conclusion of this research is that consumption of iron tablets in pregnant women is influenced by knowledge of pregnant women. The lack knowledge of the mother, the lower the level consumption of iron tablets. ABSTRAKLatar Belakang: Anemia merupakan masalah gizi utama di Indonesia, salah satunya terjadi pada ibu hamil. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan program pencegahan dan pengendalian anemia defisiensi besi melalui suplementasi besi berturut-turut selama setidaknya 90 hari selama kehamilan.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh usia, pendidikan, dan pengetahuan terhadap konsumsi tablet tambah darah.Metode: Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Maron, Kabupaten Probolinggo menggunakan desain cross sectional, sampel sebanyak 40 ibu hamil TM III yang mendapatkan 90 tablet besi dengan teknik simple random sampling. Pengaruh usia, pendidikan, dan pengetahuan dianalisis menggunakan uji regresi logistik dengan nilai signifikansi <0,05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu hamil berpengaruh terhadap konsumsi tablet besi (p = 0.026) , tapi usia (p = 0.914), pendidikan (p = 0.419) tidak berpengaruh terhadap konsumsi tablet besi.Kesimpulan: Konsumsi tablet besi pada ibu hamil dipengaruhi oleh pengetahuan ibu hamil. Rendahnya pengetahuan ibu, maka akan tingkat konsumsi tablet tambah darah semakin rendah.