cover
Contact Name
Trias Mahmudiono, SKM., MPH (Nutr), GCAS., PhD
Contact Email
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
amertanutr@fkm.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Amerta Nutrition
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 25801163     EISSN : 25809776     DOI : -
Amerta Nutrition (p-ISSN:2580-1163; e-ISSN: 2580-9776) is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. The scope for Amerta Nutrition include: public health nutrition, community nutrition, clinical nutrition, dietetics, food science and food service management. Each volume of Amerta Nutrition is counted in each calendar year that consist of 4 issues. Amerta Nutrition is published four times per year every March, June, September, and December.
Articles 131 Documents
Aktivitas Fisik Saat Istirahat, Intensitas Penggunaan Smartphone, dan Kejadian Obesitas Pada Anak SD Full day School (Studi di SD Al Muslim Sidoarjo) Ramadhani, Sakinah; Mundiastuti, Luki; Mahmudiono, Trias
Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.608 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i4.2018.325-331

Abstract

Background: obesity prevalence in elementary school student increased due to low physical activity rate also excessive food intake. The habit of watching tv, using computer and smartphone is also related to this obesity prevalence.Objective: Analyze physical activity at recess, intensity of smartphone use, and incidence of obesity among students at Full Day Elementary SchoolMethod: Using a case control with 110 elementary school children consisting of two groups, namely the normal nutritional status group of 55 respondents and the obesity status group of 55 respondents.Sampling was done by propotional random sampling. This study will compare physical activity at rest, and the intensity of smartphone use on obesity status and normal nutritional status. Analysis of this study data using chi-square test and logistic regression.Results : The results showed that there was a relationship between physical activity during the first break with obesity (p=0.010) and an OR value of 0.059 with a 95% CI (0.011-0.509) which meant that students who did physical activity first break by sitting at risk 0.059 times less to be obese. As for physical activity at the second rest (p=0.748), intensity of smartphone usage during weekdays (p=0.225), and intensity of smartphone use when there was no correlation with the incidence of obesity.Conclusion: Physical activity at the first break was related to the incidence of obesity in elementary school children Full Day School. As for the second resting activity, the intensity of smartphone usage during weekdays and weekends is not related to the incidence of obesity in elementary school children Full Day School.ABSTRAKLatar Belakang: Peningkatan obesitas disebabkan kurang melakukan aktivitas fisik dan kelebihan asupan makanan. Kebiasaan menonton tv, bermain komputer, dan smartphone yang dikaitkan dengan prevalensi obesitas saat ini.Tujuan:  Menganalisis hubungan aktivitas fisik saat istirahat dan intensitas penggunaan smartphone, pada anak dengan status obesitas dan status gizi normal di SD Full Day School.Metode: Mengunakan case control dengan 110 anak Sekolah Dasar yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok status gizi normal sebanyak 55 responden dan kelompok status obesitas sebanyak 55 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan propotional random sampling. Penelitian ini akan membandingkan aktivitas fisik saat istirahat, dan intensitas penggunaan smartphone pada status obesitas dan status gizi normal. Analisis data penelitian ini menggunakan uji chi-square dan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik saat istirahat pertama dengan obesitas (p=0,010) dan didapatkan nilai OR sebesar 0,059 dengan CI 95% (0,011-0,509) yang berarti bahwa siswa yang melakukan aktivitas fisik istirahat pertama berisiko 0,059 kali lebih kecil untuk mengalami obesitas. Sedangkan untuk aktivitas fisik saat istirahat kedua (p=0,748), intensitas penggunaan smartphone saat weekdays (p=0,225), dan intensitas penggunaan smartphone saat weekend (p=0,246) tidak terdapat hubungan dengan kejadian obesitas.Kesimpulan: Aktivitas fisik saat istirahat pertama berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak SD Full Day School. Sedangkan untuk aktivitas istirahat kedua, intensitas penggunaan smartphone saat weekdays dan weekend tidak berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak SD Full Day School.
Hubungan Kepatuhan Minum Obat Anti Diabetik dengan Regulasi Kadar Gula Darah pada Pasien Perempuan Diabetes Mellitus Nanda, Oryza Dwi; Wiryanto, Bambang; Triyono, Erwin Astha
Amerta Nutrition Vol 2, No 4 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.656 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i4.2018.340-348

Abstract

Background: Blood glucose level controlling is the important thing for diabetes mellitus treatment. Diabetics patients need to understand the factors which influence blood glucose level such as the compliance of anti-diabetic drug.Objective: Determine the relationship and the risk of between oral anti-diabetic drug consumption adherence and blood glucose level regulation for diabetes mellitus female patients.Method: Case control study design with purposive sampling technique, in order to obtain 26 research samples which consist of two groups, they are case group (unregulated blood glucose) which has 13 samples and the control group (regulated blood glucose) whice has 13 samples. The samples are female respondents aged 45-59 years old suffering diabetes mellitus. This research analyzed the relationshipand risk between anti-diabetic consumption adherence and blood glucose level regulation in diabetes mellitus patients using chi-square test.Results: Patients with unregulated blood glucose showed 46.2% people were obedient and 53.8% were not obedient in consuming anti-diabetic drugs. Patients with regulated blood glucose showed 92.3% people were obedient and 7.7% people were not obedient in consuming anti-diabetic drugs. Chi square test showed that there was a relationship between anti-diabetic drugs consumption adherence and blood glucose level regulstion for diabetes mellitus patients with p = 0.015 (p <0.05) and an OR value of 14 with a 95% CI (1.385-141.485), which means that unobedient have 14 times risker suffered terrible blood glucose regulation than obedient patients.Conclusion: There was a relationship between anti-diabetic drug consumption adherence and blood glucose level regulation in female patients aged 45-59 years in Mojo Health Center, Pucang Sawu, and Keputih Surabaya. Patients with uncontrolled blood sugar level are more disobedient in consuming anti-diabetic drugs. Meanwhile, patients with controlled blood glucose were most obedient people in consuming anti-diabetic drugs.ABSTRAKLatar Belakang: Pengendalian kadar gula darah merupakan hal yang penting dalam penanganan diabetes melitus. Pasien diabetes perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pengendalian kadar gula darah salah satunya adalah kepatuhan minum obat anti diabetik.Tujuan:  Mengetahui hubungan dan besar risiko kepatuhan minum obat oral anti diabetik dengan regulasi kadar gula darah pada pasien perempuan diabetes mellitus.Metode: Desain penelitian kasus kontrol dengan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh 26 sampel penelitian yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok kasus (gula darah tidak teregulasi) sebanyak 13 dan kelompok kontrol (gula darah teregulasi) sebanyak 13 responden perempuan berusia 45-59 tahun yang menderita diabetes melitus. Hubungan dan besar risiko kepatuhan minum obat anti diabetik dengan regulasi gula darah pasien diabetes mellitus menggunakan uji chi-square. Hasil: Pasien dengan gula darah tidak teregulasi menunjukkan sebanyak 46,2% patuh dan 53,8% tidak patuh dalam minum obat anti diabetik. Pasien dengan gula darah teregulasi menunjukkan sebanyak 92,3% patuh dan 7,7% tidak patuh dalam minum obat anti diabetik. Uji chi square menunjukkan terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat anti diabetik dengan regulasi kadar gula darah pada pasien diabetes melitus dengan nilai p=0,015 dan nilai OR sebesar 14 dengan CI 95% (1,385-141,485) yang berarti responden yang tidak patuh minum obat anti diabetik berisiko 14 kali mengalami regulasi gula darah yang buruk dibandingkan dengan pasien yang patuh dalam minum obat anti diabetik.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat anti diabetik dengan regulasi gula darah pada pasien perempuan rawat jalan usia 45-59 tahun di Puskesmas Mojo, Pucang Sawu, dan Keputih Surabaya. Pasien dengan kadar gula darah tidak terkontrol lebih banyak tidak patuh dalam minum obat anti diabetik, sedangkan pada pasien dengan gula darah terkontrol sebagian besar cukup patuh dalam minum obat anti diabetik.
Front Matter Vol 1 No 2 Matter Vol 1 No 2, Front
Amerta Nutrition Vol 1, No 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.196 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.%p

Abstract

Nugget Tahu Formula Pury (Tafory) sebagai Alternatif Kudapan Tinggi Protein Rifqi, Mahmud Aditya; Kusharto, Clara M.; Astuti, Trina
Amerta Nutrition Vol 1, No 1 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.733 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i1.2017.22-30

Abstract

Background: Tofu nugget with pury flour is an alternative form of snack food that high in protein. Pury flour made from silkworm pupa that came from by product of silk industry. Pupa is known to have highly nutritious component specially  protein that has not been optimizely used. The use of pupa flour is applicable for many form of processed food. Objective: Tofu nugget as soure of plant protein is added by pury flour to higher the protein component. Methods: This study used one factor Complete Randomized design with six levels. Level on additon pupa flour are 0%, 60%, 70%, 80%, 90% and 100% followed by organoleptic test to get chosen product. Results: The chosen product according to the test is the addition of 70% pupa flour that indicated highest best reponse by panelist. Proximate test showed that  subtitution of tofu and pury flour is significanly different  for water component, protein, carbohydrate, and seng. Ash elements, fat, fiber, ferum, and calcium significanlly not different. Taffory nugget contains linolenic acid. Total plate count test showed that taffory nugget is safe according to National Standard. Conclusion: It could be conclude that tafory nugget is potential as snack food with high protein.ABSTRAK Latar belakang: Tofu nugget dengan tepung Pury adalah alternatif bentuk makanan ringan yang tinggi protein. Tepung Pury terbuat dari ulat pupa yang berasal dari hasil samping industri sutra. Pupa dikenal memiliki zat gizi khususnya protein yang belum digunakan secara optimal. Penggunaan tepung pupa berlaku untuk banyak bentuk makanan olahan.Tujuan: Tofu nugget sebagai sumber protein nabati, ditambah dengan tepung Pury lebih tinggi komponen protein.Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan enam taraf. Penambahan tepung pupa adalah 0%, 60%, 70%, 80%, 90% dan 100% diikuti dengan uji organoleptik untuk mendapatkan produk yang dipilih.Hasil: Produk yang dipilih sesuai dengan uji adalah penambahan 70% tepung pupa yang ditunjukkan nilai terbaik oleh panelis. Uji proksimat menunjukkan bahwa substitusi dari tahu dan tepung pury berbeda nyata untuk komponen air, protein, karbohidrat, dan seng.  Sedangkan abu, lemak, serat, zat besi dan kalsium tidak berbeda secara signifikan. Nugget Taffory mengandung asam linolenat.Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa tafory nugget dapat menjadi alternatif kudapan tinggi protein bagi anak.
Hubungan Konsumsi Camilan dan Durasi Waktu Tidur dengan Obesitas di Permukiman Padat Kelurahan Simolawang, Surabaya Pratiwi, Azizah Ajeng; Nindya, Triska Susila
Amerta Nutrition Vol 1, No 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.646 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.153-161

Abstract

Background: Obesity in women with low socioeconomic status is easily found in slum area. Low socioeconomic status can have an impact on dietary changes, such as snacking that are known to be the cause of obesity. In addition to dietary changes, lifestyle changes such as sleep deprivation can also occur due to environmental conditions and job demands. Reduced bedtime will have an impact on health. Objectives: The purpose of this study was to analyze the association of sleep duration and snacking to obesity. Methods: This research was an observational analytical with cross sectional design. The sample was 70 married women aged 20-55 years in Simolawang, Simokerto Distict, Surabaya. Selection of smaple was using multistage random sampling. The data were collected by interview method with questionnaire to collect respondent characteristics data and sleep duration. Food Frequency Questionnaire (FFQ) was conducted to determine the snacking habits. Chi square test was used in the statistical analysis (a=0.05).Results: The data showed that  54.3% of respondents rarely consumed snack and 50% of them had sleep less time. The sleep duration had a significant association with obesity (p=0.009). In addition, snacking habits and obesity also showed a significant relationship (p=0.004).Conclusions: It is necessary to reduce the consumption of snacks and improve sleep time which is 7 hours per night to prevent obesity.ABSTRAK Latar Belakang: Obesitas pada wanita dengan status sosial ekonomi rendah banyak ditemui di permukiman padat. Rendahnya status sosial ekonomi dapat berdampak pada perubahan pola makan, seperti kebiasaan konsumsi camilan yang diketahui menjadi penyebab obesitas. Selain perubahan pola makan, perubahan gaya hidup seperti berkurangnya waktu tidur juga dapat terjadi karena kondisi lingkungan maupun tuntutan pekerjaan. Berkurangnya waktu tidur akan berdampak pada kesehatan.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kebiasaan konsumsi camilan dan durasi waktu tidur dengan obesitas pada ibu rumah tangga di permukiman padat penduduk. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian adalah 70 wanita yang sudah menikah berusia 20-55 tahun di Kelurahan Simolawang Kecamatan Simokerto, Surabaya. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan multistage random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data karakteristik responden dan durasi waktu tidur. Food Frequency Questionnaire (FFQ) dilakukan untuk mengetahui kebiasaan konsumsi camilan. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji chi square (a=0,05).Hasil: Hasil menunjukkan bahwa 54,3% responden jarang mengonsumsi camilan dan 50% responden memiliki waktu tidur yang kurang. Durasi waktu tidur memiliki hubungan yang signifikan dengan kondisi obesitas (p=0,009). Selain itu kebiasaan konsumsi camilan dan obesitas juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p=0,004).Kesimpulan: Diperlukan adanya pembatasan konsumsi camilan dan tidur dengan durasi waktu cukup, yaitu 7 jam per malam untuk mencegah terjadinya obesitas.
Citra Tubuh Pada Remaja Perempuan Gemuk Dan Tidak Gemuk: Studi Cross Sectional Wati, Dewi Kartika; Sumarmi, Sri
Amerta Nutrition Vol 1, No 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.375 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.398-405

Abstract

Background: Adolescents are one of the vulnerable age groups who are overweight and obese. Physical changes influence psychological development, and will have an impact on body image. The lack of satisfaction on body image and the desire to be thinner are the factors related to the reason why adolescents do certain diets.Objectives: The objective of the study was to analyze the differences of body image between overweight adolescent girls and non overweight adolescent girls. Methode: This is an observational research using cross sectional design, conducted in Santa Agnes junior high school Surabaya. The sample size was 36 adolescent girls, and randomly selected from student’s list. The observed variables were body image, body dissatisfaction and fear of fatness. Measurement of data using modification from Multidimensional Body Self Questionnaire-Appearance Scales (MBSRQ-AS). The data were analyzed by Chi-square test with α=0.05. Result: The result of the research showed that there was difference of perception about body shape and body weight  between overweight and non overweight adolescent girls with value p=0.044. Coclusion: It was concluded that  overweight girls tend to have negative body image, whereas non overweight girls tend to have positive body image.ABSTRAK Latar Belakang: Remaja adalah salah satu kelompok umur yang rentan mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Perubahan fisik sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis seseorang, serta akan membawa dampak pada citra tubuh. Ketidakpuasan citra tubuh dan keinginan menjadi lebih kurus merupakan faktor yang berhubungan dengan alasan remaja melakukan diet. Tujuan: Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan citra tubuh antara remaja putri overweight dengan remaja putri non overweight. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional, yang dilakukan di SMP Santa Agnes Surabaya. Besar sampel adalah 36 remaja putri, dan dipilih secara acak dari daftar siswa. Variabel yang diamati adalah citra tubuh, remaja yang tidak puas dengan bentuk tubuhnya sendiri dan rasa takut menjadi gemuk pada remaja perempuan. Pengukuran data dari modifikasi Multidimensional Body Self Questionnaire-Appearance Scales (MBSRQ-AS). Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square  dengan nilai α= 0,05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan persepsi mengenai bentuk dan berat tubuh yang dimiliki antara kelompok remaja putri overweight dan non overweight dengan nilai p = 0,044 (p < 0,05). Kesimpulan: Simpulan dari hasil yaitu remaja putri overweight cenderung memiliki citra tubuh yang negatif, sedangkan remaja putri non overweight cenderung memiliki citra tubuh yang positif.
Penerapan Sistem Hazard Analisis Critical Control Point (HACCP) Pada Produk Ayam Bakar Bumbu Herb Di Divisi Katering Diet PT. Prima Citra Nutrindo Surabaya Rachmadia, Novira Dian; Handayani, Nanik; Adi, Annis Catur
Amerta Nutrition Vol 2, No 1 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (853.813 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i1.2018.17-28

Abstract

Background: Healthy catering as a place of catering service providers are required to have clear safety standards in ensuring the quality of their products to the hands of consumers. PT. Prima Citra Nutrindo (PCN) as one of the healthy caterers has HACCP standard on one of its products that is Herb Roasted Chicken product. Quality control of food with HACCP standard needs to be done considering the occurrence of foodborne illnes very easily occur if food safety is not guaranteed.Objectives: The purpose of this research is to identify the application of HACCP system on Herb Roasted Chicken product in PT. Prima Citra Nutrindo (PCN).Methode: The method used is qualitative descriptive method including field observation, discussion, interview, and question and answer to complete the application of HACCP on Herb Roasted Chicken product.Result: Phase production of roasted chicken Herb starts from boiling water until serving known there are 2 stages which is the Critical Control Point to watch out for the cooling and serving stages. The control of the risk of foodborne illness in Herb Roasted Chicken can be done by keeping the time lag between cooling and packaging.Conclusions: The results of this study are useful as recommendations for improvement in order to maintain the quality management system that has been achieved and for the development of HACCP procedures on other products so as to produce products that are safe for consumption.ABSTRAKLatar Belakang: Katering sehat sebagai tempat penyedia jasa boga diharuskan mempunyai standar keamanan yang jelas dalam menjamin mutu produknya hingga ke tangan konsumen. PT. Prima Citra Nutrindo (PCN) sebagai salah satu katering sehat telah mempunyai standar HACCP pada salah satu produknya yaitu Ayam Bakar Bumbu Herb. Pengendalian mutu makanan dengan standar HACCP perlu dilakukan mengingat kejadian foodborne illnes sangat mudah terjadi apabila keamanan pangan tidak terjamin.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan sistem HACCP pada produk Ayam Bakar Bumbu Herb di PT. Prima Citra Nutrindo (PCN).Metode: Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif meliputi observasi lapangan, diskusi, wawancara, dan tanya jawab untuk menyempurnakan penerapan HACCP pada produk Ayam Bakar Bumbu Herb.Hasil: Tahap produksi ayam bakar bumbu Herb dimulai dari proses perebusan air hingga serving diketahui terdapat 2 tahap yang merupakan Critical Control Point yang harus diwaspadai yaitu tahap pendinginan (cooling) dan tahap penyajian (serving). Pengendalian resiko kejadian foodborne illnes pada produk Ayam Bakar Bumbu Herb dapat dilakukan dengan menjaga jeda waktu antara pendinginan dan pengemasan.Kesimpulan: Hasil studi ini bermanfaat sebagai rekomendasi perbaikan dalam rangka mempertahankan sistem manajemen mutu yang telah tercapai serta untuk pengembangan prosedur HACCP pada produk yang lain sehingga menghasilkan produk yang aman untuk dikonsumsi.
Daya Terima dan Uji Kekenyangan pada Bakso yang disubtitusi Jantung Pisang dan Modified Cassava Flour (Mocaf) Saroh, Siti Mei; Mundiastuti, Luki
Amerta Nutrition Vol 2, No 2 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.699 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i2.2018.155-162

Abstract

Background: One of the efforts to reduce the prevalence of obesity is by increasing the consumption of dietary fiber. Dietary fiber can reduce weight, because it can enhance satiety and prevent excessive calorie consumption. Banana and Modified Cassava Flour (mocaf) are source of fiber . The substitution of banana blossom and mocaf in the meatball-one of favorite food is expected to be one of alternative solution of a healthy and fiber-rich food to reduce the prevalence of obesity.                                                                                                  Objective: The purpose of this research was to determine the acceptability , and Satiety study of banana blossom and mocaf meatball .Methods: The first stage of the study using a factorial crossed design, 3 best formulas were selected from 7 formulas by 3 professional panelists, then the best 3 formulas were selected by 25 untrained panelists. At the satiety test stage using a cross-over trial design. Subjects were students Universitas Airlangga Students, age criteria 12-25 years, BMI 18.5-28 kg.Results: The best formula was F3 in terms of acceptance value and dietary fiber content. There was no significant difference in hunger after meal (p=0.122) on both test foods. There was no significant difference in satiety feeling after meals (p=0.080).Conclusion: There was no significant difference for hunger and satiety between the F3 meatballs substituted with 20% banana blossom and 10% mocaf with control meatballs. This is due to insufficient fiber content to give a satiety effect.ABSTRAKLatar Belakang: Salah satu upaya untuk menurunkan prevalensi obesitas adalah dengan peningkatan konsumsi serat pangan yang dapat meningkatkan kekenyangan dan mencegah konsumsi kalori berlebih. Subtitusi jantung pisang dan tepung mocaf yang kaya serat pada bakso yang digemari masyarakat, diharapkan bisa menjadi alternatif makanan yang sehat dan kaya serat untuk mengurangi prevalensi obesitas.Tujuan: Mengetahui daya terima, dan uji kekenyangan terhadap produk bakso Jantung Pisang dan tepung mocafMetode: Penelitian tahap pertama menggunakan rancangan percobaan faktorial menyilang, 3 formula terbaik dipilih dari 7 formula oleh 3 panelis terlatih, selanjutnya 3 formula terbaik dipilih oleh 25 panelis tidak terlatih. Pada tahap uji satiety menggunakan desain cross-over trial. Subjek adalah mahasiswa Universitas Airlangga, umur 12-25 tahun, IMT antara 18,5-28 kg/m2. Penelitian cross-over trial dilakukan pada 14 subjek yang sehat yang memenuhi kriteria. Masing-masing 200 g Bakso biasa (F0) dan bakso modifikasi diberikan saat waktu sarapan pada hari yang berbeda. Penilaian hunger dan satiety diambil dengan kuisioner Visual Analog Scale (VAS).Hasil: Formula terbaik adalah F3 ditinjau dari daya terima dan kandungan serat. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam rasa lapar setelah makan (p=0,122) pada kedua makanan uji. Tidak terdapat perbedaan signifikan rasa kenyang setelah makan (p=0,080).Kesimpulan : Tidak ada perbedaan yang signifikan untuk rasa lapar dan rasa kenyang antara Bakso F3 yang disubtitusi 20 % jantung pisang dan tepung 10 % tepung mocaf dengan bakso kontrol. Hal ini terkait kandungan serat pada bakso modifikasi (F3) yang tidak cukup untuk memberikan efek kekenyangan. 
Hubungan kebiasaan melewatkan sarapan dan Pemilihan jajanan dengan kejadian Wasting di Desa Sembung Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik Rakhman, Aditya Faisal; Taufiqurrahman, Taufiqurrahman
Amerta Nutrition Vol 2, No 3 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v2i3.2018.237-244

Abstract

Background: Wasting prevalence in Indonesia is never been decreased for years. Wasting caused by many factors such as skipping breakfast and inappropriate selection of snacks that contribute to children’s level of nutritional intake adequacy.Objectives: The purpose of this research was to analyze correlation between skipping breakfast and selection of snack among elementary school children. Method: This was an analytical observational research with case control design conducted in three elementary schools in Sembung Village, Gresik. The sample size was 22 students in each group, which taken using a simple random sampling technique at student of 3rd, 4th and 5th grade. Data was collected by interviewing the respondent with structured questionnaire. Nutritional status was classified with BMI/Age using WHO-MGRS standard. Association among variables were analyzed using Chi-Square test. (α=0.05). Result: The result showed that 68.2% respondent from cases used skipping breakfast while 27.3% respondent from control used to skip breakfast. 22.7% respondent in cases used to consume high nutritional value snack food while 72.7% respondent in control used to consume high nutritional value snack food. Chi-Square test showed there was an association between breakfast habits and the selection of snack with wasting (p=0.007; OR=5.714) (p=0.001; OR=9.067).Conclusion: Skipping breakfast habits and the selection of snack had a correlation with wasting incident in village children.ABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi wasting di Indonesia tidak pernah mengalami penurunan yang signifikan selama tahun ke tahun. Kejadian wasting dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kebiasaan sarapan dan pemilihan makanan jajanan yang mampu berkontibusi terhadap tingkat kecukupan energi dan zat gizi anak.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan melewatkan sarapan dan kebiasan memilih jajanan makanan kejadian wasting pada anak sekolah dasar di pedesaan.Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain case control ini dilakukan di 3 sekolah dasar di Desa Sembung Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Besar sampel penelitian ini adalah 22 sampel untuk masing -masing kelompok yang berasal dari kelas III, IV dan V dan diambil secara simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara pada anak dengan kuisioner tersktutur. Klasifikasi berdasarkan pada nilai tabel z-score IMT/U WHO-MGRS.  Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square (α=0,05)Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68,2% responden kelompok kasus, terbiasa melewatkan sarapan sedangkan 27,3% responden kelompok kontrol terbiasa melewatkan sarapan. 22,7% responden kelompok kasus terbiasa membeli makanan jajan bernilai gizi tinggi sedangkan 72,7% responden kelompok kontrol terbiasa membeli makanan jajan bernilai gizi tinggi. Hasil Uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan sarapan dan pemilihan makanan jajanan dengan kejadian wasting (p= 0,007 OR: 5,714) (p= 0,001 OR: 9,067).Kesimpulan: Kebiasaan melewatkan sarapan dan pemilihan makanan jajanan berhubungan dengan kejadian wasting pada anak pedesaan.
Kebiasaan Makan Remaja Putri yang Berhubungan dengan Anemia : Kajian Positive Deviance Akib, Alfishar; Sumarmi, Sri
Amerta Nutrition Vol 1, No 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.364 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.105-116

Abstract

 Background: Female adolescents are at risk of anemia due to the imbalance of nutrient intake and unhealthy consumption habits. Objectives: Research aimed to analyzed food consumption habits related to anemia of  female college students. Moreover, this research aims to analyzed the positive deviance of female college students who did not experience anemia. Methods:  A cross sectional study was conducted, with the sample of 60 were randomly selected from female college students aged 17-20 years old who live at female boarder of the Airlangga Universitas. The dependent varible was status of anemia, meanwhile independent variables were nutrient intake including the intake of carbohydrate, protein, vitamin C and Fe, enhancer and inhibitor subtances. Pearson correlation test was used for ratio data, while Spearman correlation test was used for nominal and category data. In-depth interview was used to explore the positive habits of respondents who did not suffer from anemia. Results: The result shows that 70% of the respondents was anemia. The Most poor nutrition intake among respondents was intake of vitamin C and Fe (95%). Moreover, there is a correlation between the intake of protein (p=0.027) and enhancer substance (p=0.046) with the anemia status. However, the intake of carbohydrate (p=0.275), vitamin C (p=0.132) and Fe (p=0.618) and inhibitor substance (p=0.771) did not show any correlation with status of anemia status. The informants stated that their positive consumption habits are consuming animal protein and fruits rich of vitamin C, cooking by her self and choosing healty snacks.Conclusion : The intake of protein and enhancer substances has related with the anemia status of the female adolescents. This is partly due to  consumption habits of sufficient animal proteins and fruits rich of vitamin C.ABSTRAK Latar Belakang: Remaja putri berisiko mengalami anemia, disebabkan oleh asupan gizi yang rendah dipicu oleh kebiasaan makan remaja yang tidak sehat. Diantara remaja mungkin ada yang tidak anemia, meskipun berada di lingkungan yang kurang mendukung.Tujuan: Penelitian bertujuan untuk menganalisis asupan zat gizi dan kebiasaan makan yang berhubungan dengan status anemia, serta mengkaji kebiasaan makan positif pada remaja yang tidak anemia.Metode : Penelitian dengan rancangan cross sectional, dilakukan di asrama putri Universitas Airlangga. Besar sampel 60 mahasiswi berusia 17-20 tahun diambil dengan metode simple random sampling. Variabel yang tergantung adalah status anemia dan variabel bebas adalah asupan zat gizi meliputi karbohidrat, protein, vitamin C dan mineral Fe serta asupan zat enhancer dan inhibitor bagi penyerapan zat besi. Uji korelasi Pearson digunakan untuk data berskala rasio dan korelasi spearman untuk data nominal dan kategori. In-dept interview, dilakukan untuk menggali kebiasaan makan responden yang tidak anemia.Hasil: Sebesar 70% responden mengalami anemia. Sebagian besar (95%) responden asupan vitamin C dan Fe tergolong kurang. Ada hubungan antara asupan protein (p=0,027) dan zat enhancer (p=0,046) dengan status anemia. Tidak ada hubungan antara asupan karbohidrat (p=0,275), vitamin C (p=0,132) dan Fe (p=0,618) serta asupan zat inhibitor (p=0,771) dengan status anemia. Kebiasaan makan positif pada remaja putri yang tidak anemia adalah sering mengkonsumsi protein hewani, memilih buah sumber vitamin C, memasak diwaktu luang dan memilih snack bergizi.Kesimpulan: Asupan protein dan zat enhancer berhubungan dengan status anemia pada remaja putri. Hal ini disebabkan kebiasaan mengkonsumsi protein hewani dan buah-buahan dengan kandungan vitamin C tinggi. 

Page 1 of 14 | Total Record : 131