cover
Contact Name
Fitria Yulistiani
Contact Email
fitria.yulistiani@polban.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
fitria.yulistiani@polban.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
FLUIDA
ISSN : 14128543     EISSN : -     DOI : -
Jurnal FLUIDA (ISSN: 1412-8543) berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian laboratorium, hasil simulasi suatu permasalahan, analisis konseptual (kajian penyelesaian masalah secara tertulis) tentang proses produksi, troubleshooting, dan maintenance serta hasil kajian/evaluasi kinerja suatu sistem proses, khususnya di bidang Teknologi Kimia, Energi Terbarukan, dan Pangan.
Articles 11 Documents
Isolasi Mikroorganisme Anaerob Limbah Cair Tekstil Menggunakan Desikator Sebagai Inkubator Anaerobik Kurnia, Dianty Rosirda Dewi; Permatasari, Ira; Rafika, Yuni
FLUIDA Vol 11, No 1 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolasi Mikroorganisme Anaerob Limbah Cair Tekstil Menggunakan Desikator Sebagai Inkubator Anaerobik. Penggunaan mikroorganisme untuk mengolah limbah cair tekstil yang mengandung bahan organik tinggi sangat potensial untuk dikembangkan. Mikroorganisme anaerob dapat digunakan pada pengolahan limbah cair, yaitu untuk mendegradasi senyawa- senyawa organik kompleks berantai panjang menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat menurunkan beban kerja dari pengolahan aerobik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas desikator termodifikasi sebagai inkubator anaerob dan melakukan isolasi mikroba dari unit pengolahan air limbah tekstil sehingga diperoleh konsorsium mikroorganisme (mixed culture) anaerobik. Desikator dimodifikasi dengan dialiri gas nitrogen untuk menghilangkan gas oksigen di dalam desikator. Parameter yang digunakan sebagai indikator adalah pengamatan secara makroskopis, mikroskopis dan uji pembentukan hidrogen sulfida. Isolat pembanding yang digunakan adalah Pseudomonas aeruginosa sebagai bakteri aerob obligat, Escherichia coli sebagai bakteri anaerob fakultatif, Desulvofibrio desulfuricans dan Methanobrevibacter ruminantium sebagai anaerob obligat. Desikator termodifikasi juga digunakan sebagai inkubator untuk melakukan isolasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desikator yang dimodifikasi mempunyai efektivitas sebagai inkubator anaerob meskipun bakteri obligat aerob dan aerob fakultatif masih dapat tumbuh karena pada media yang digunakan masih terdapat oksigen terlarut yang ditandai dengan warna pink di bagian atas media dan lilin dinyalakan di dalam desikator dapat juga digunakan sebagai indikator keberadaan oksigen. Desikator ini juga menunjukkan efektivitas untuk digunakan sebagai inkubator anaerob. Pada proses isolasi dari pengolahan limbah anaerob pabrik tekstil diperoleh 6 jenis isolat yang dapat digunakan sebagai konsorsium mikroorganisme (mixed culture) anaerobik.
Simulator Storage Tank: Sebuah Alat Praktikum Untuk Melatih Pengoperasian Tangki Nurcahyo, Nurcahyo; Rispiandi, Rispiandi; Kusumah, Randy Surya; Sopian, Sandra
FLUIDA Vol 11, No 2 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Storage tank merupakan tangki penyimpanan untuk fluida cair dan gas. Dalam penelitian ini, storage tank digunakan untuk proses loading dan unloading fluida cair dan gas dengan tujuan untuk melihat fenomena yang akan terjadi akibat kekeliruan karena venting tidak dibuka yang akan menimbulkan potensi ledakan untuk proses loading dan bahaya collapse untuk proses unloading. Parameter yang digunakan adalah variasi laju alir volumetrik terhadap waktu dan tekanan ketika ledakan serta collapse. Adapun spesifikasi dari storage tank yang dibuat sesuai dengan desain dan rancangan dari API 620 dan 650 dengan ketinggian 50 cm, diameter 20.32 cm dan ketebalan 0.7 cm dari bahan carbon steel. Simulator keamanan dari storage tank ini menekankan pada aspek fenomena dari keamanan pengoperasian storage tank. Indikator untuk bahaya ledakan adalah balon, karet pipet dan plastik tebal, sementara untuk simulasi bahaya collapse, indikator yang digunakan adalah botol plastik dengan ukuran 450, 700 dan 1600 ml. Setiap indikator tersebut dimaksudkan sebagai sebuah simulator dari bahaya keamanan pada storage tank, tetapi tidak merepresentasikan daripada kekuatan tangki. Indikator yang digunakan untuk melihat fenomena ledakan saat proses loading maupun collapse saat proses unloading menekankan pada aspek penyadaran terhadap orang atau operator yang bersangkutan bahwa untuk setiap kekeliruan dari proses loading maupun unloading akan mengakibatkan konsekuensi. Dalam skala industri yang lebih besar dan dengan fluida yang lebih sensitif dan berbahaya, kekeliruan ini bisa fatal dan tidak bisa ditolerir. Hasil dari penelitian dan uji simulasi kemanan tersebut untuk proses loading fluida cair diperoleh tekanan maksimumnya 1 barg untuk indikator karet pipet pada nilai laju alir volumetrik pada 30 l/min dengan waktu loading 19.48 detik. sementara untuk proses loading fluida gas mempunyai tekanan maksimum sebesar 0.6 barg untuk indikator karet pipet pada nilai laju alir volumetrik 30 l/min dengan waktu pengisian adalah 11.91 detik untuk indikator karet pipet. sementara untuk proses unloading fluida cair botol berukuran 1600 ml menunjukan ketahanan terhadap collapse yang lebih kuat (lama) dengan waktu 0.58 detik untuk laju alir volumetrik maksimumnya. Terakhir untuk proses unloading fluida gas bahwa ketahanan botol berukuran 400 ml lebih kuat dengan waktu collapse yaitu 13.61 detik. Adapun indikator optimum untuk penelitian pada proses loading adalah dengan menggunakan karet pipet, dan proses unloading dengan menggunakan botol berukuran 700 ml.
Optimasi Sulfonating Agent H2SO4 dan Temperatur Operasi pada Sintesis Senyawa a-Naftalen Sulfonat Manfaati, Rintis; Rahman, Dede Dini; Widianti, Neng Sri
FLUIDA Vol 11, No 2 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sulfonasi adalah proses memasukkan gugus sulfonic acid (-SO2OH) atau sulfonil halida (-SO2Cl) pada bahan baku senyawa organik hidrokarbon. Pada penelitian ini proses sulfonasi dilakukan dengan menggunakan bahan baku naftalen teknis dan sulfonating agent H2SO4 98 % untuk mendapatkan produk á-naftalen sulfonat. Sulfonasi naftalen dipilih karena memiliki kondisi operasi yang ringan yaitu berlangsung pada temperatur dibawah 80oC sehingga dapat diterapkan pada Laboratorium Satuan Proses sebagai modul praktikum Satuan Proses. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah sulfonating agent (H2SO4 98%) dan temperatur reaksi optimum pada sulfonasi naftalen. Variabel yang divariasikan adalah jumlah sulfonating agent H SO 98% yang dihitung berdasarkan pada variasi nilai ð dan temperatur operasi. Nilai pi menyatakan konsentrasi SO minimum yang harus dipertahankan di dalam 3 reaktor agar proses sulfonasi tetap berlangsung. Analisis yang dilakukan adalah pengujian titik leleh, %yield produk, serta sisa asam. Proses sulfonasi naftalen dilakukan dengan massa naftalen 5 gram, waktu reaksi 60 menit dan kecepatan pengadukan 40-50 rpm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum diperoleh pada jumlah sulfonating agent H2SO4 98% sebanyak 2,9 ml untuk nilai pi = 52 dan temperatur operasi 70oC dengan titik leleh 78,9oC dan persentase yield produk sebesar 43,23%.
Evaluasi Kondisi Operasi Proses Pencampuran Bahan Pada Pembuatan Produk Chloroprene Rubber (Studi Deskriptif Di Industri Polimer) Fauzan, Ishmar Balda; Rahmita, Nelsa; Moehady, Bintang Iwhan
FLUIDA Vol 11, No 1 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chloroprene rubber adalah salah satu jenis karet sintetis yang biasa dikenal dengan namaNeoprene. Proses pembuatan chloroprene rubber dengan cara pencampuran bahan-bahan yang terdiri dari polimer, oil, bahan kimia, carbon, dan accelerator. Pencampuran chloroprene rubber menggunakan mesin mixing yang dinamakan kneader.Pada produksi chloroprene rubber di industri, terdapat dispersi bintik putih. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi operasi optimum pada proses pencampuran bahan pada produksi chloroprene rubber yang tidak terdispersi, terdispersi, dan mendapatkan efisiensi pencampuran. Indikator keberhasilan proses yaitu jika tidak terdapat bintik putih secara visual dan memiliki persen dispersi <0,5%. Evaluasi terhadap produk chloroprene rubber dilakukan dengan menganalisis % jumlah produk chloroprene rubber yang terdispersi bintik putih dengan cara visual dan mengevaluasi kondisi proses dengan beberapa variasi. Kondisi operasi proses meliputi temperatur pencampuran, kecepatan putar rotor, dan waktu pencampuran. Variasi temperatur operasi yang diambil adalah 72°C, 74°C, 76°C, 78°C, dan 86°C. Kecepatan putar rotor dengan variasi 21rpm, 23rpm, 25rpm, 28rpm, dan 30rpm. Variasi waktu pencampuran yaitu pada 14,5 menit, 15 menit, 17 menit, 18 menit, dan 20 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi operasi optimum terjadi pada 86°C, 30rpm, dan 18 menit yaitu produk tidak memiliki bintik putih, dengan jumlah produk terdispersi 0,49% dan memiliki efisiensi pencampuran sebesar 4,5%, sehingga memenuhi kriteria indikator keberhasilan.
Evaluasi Kinerja Aqueous Ammonia Plant (Studi Deskriptif di Pabrik Pupuk) Amalia, Nur Aida; Fatayatunnajmah, Nurul Syefira; Moehady, Bintang Iwhan
FLUIDA Vol 11, No 2 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesian terdapat pabrik pupuk yang memproduksi aqueous ammonia dengan konsentrasi 25-30%. Pembuatan aqueous ammonia dilakukan dengan cara mencampurkan amonia anhidrat dengan air. Kendala yang dihadapi ialah adanya aqueous ammonia yang hilang sehingga kebutuhan amonia anhidrat sebagai umpan menjadi lebih banyak. Hilangnya aqueous ammonia terjadi karena kondisi operasi proses pembuatan aqueous ammonia belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan tekanan optimum pada proses pembuatan aqueous ammonia 25-30% dengan fasa uap yang terbentuk kurang dari 13%. Angka tersebut merupakan batas maksimum % amonia hilang yang diperbolehkan berdasarkan data aktual yang diperoleh dari lapangan. Proses optimasi menggunakan perangkat lunak HYSYS. Proses simulasi mengikuti urutan proses yang terjadi di industri yang terdiri dari Mixer, Shell and Tube Heat Exchanger (STHE), dan Tangki Penyimpanan. Simulasi diawali dengan menentukan variasi tekanan, suhu, dan fraksi aqueous ammonia untuk optimasi kondisi operasi di tangki penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi operasi optimum di Tangki Penyimpanan terjadi pada suhu 30-45oC, tekanan 1,2-2 kg/cm2 dan konsentrasi 26-30%. Optimasi kemudian dilanjutkan ke Mixer dan STHE yang mengacu pada kondisi operasi tangki penyimpanan. Suhu optimum keluaran Mixer adalah pada 57-58oC. Kondisi optimum STHE adalah pada rentang suhu masukan 57-58oC dan keluaran 43-45oC. Perbedaan kondisi antara hasil simulasi dengan data aktual adalah pada laju alir umpan amonia anhidrat dan air (kebutuhan amonia berkurang 24,9-54,9 kg/h dari kebutuhan amonia aktual), suhu keluaran STHE (2oC lebih kecil dari data aktual), dan tekanan optimum pada Tangki Penyimpanan lebih besar dari tekanan aktual (1,5 kg/cm2 terhadap 2 kg/cm2).
Pemisahan Campuran Asam Lemak Dengan Metode Kromatografi Kolom Menggunakan Fasa Diam Berbahan Dasar Abu Sekam Padi Widiastuti, Endang
FLUIDA Vol 11, No 1 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai negara agraris mempunyai banyak jenis tumbuhan penghasil minyak nabati yang mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak tersebut dimanfaatkan oleh industri makanan dan obat-obatan. Asam-asam lemak yang masih berupa campuran perlu dipisahkan, salah satunya dengan metoda kromatografi ion perak. Prinsip dari metode ini adalah berdasarkan perbedaan afinitas antara asam lemak dengan fasa diam dan fasa gerak. Salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan proses pemisahan pada kromatografi adalah fasa diam.   Pada penelitian ini, fasa diam diperoleh dengan memanfaatkan silika yang terkandung dalam abu sekam padi. Silika yang diperoleh berbentuk sol yang kemudian dimodifikasi dengan AgNO3 menggunakan senyawa pendukung yang divariasikan jenisnya yaitu amino propil trimetoksisilan (APTS) dan kitosan. Kedua jenis silika yang dimodifikasi kemudian dianalisis kadar ion Ag yang terikat secara titrasi potensiometri, Selanjutnya silika tersebut digunakan sebagai fasa diam pada kolom kromatografi padat-cair, untuk memisahkan campuran asam oleat, asam palmitat dan asam stearat yang telah dimetilasi. Eluen yang digunakan pada pemisahan adalah campuran kloroform- metanol atau benzene-metanol yang komposisinya divariasikan antara 100:0 hingga 90:10. Hasil pemisahan dari kolom tersebut dianalisis menggunakan kromatografi gas (GC). Dari penelitian ini, ion Ag yang terikat pada silika-kitosan adalah 87% sedangkan silika-APTS adalah 89% karena perbedaannya tidak signifikan maka sebagai fasa diam pada kolom kromatografi digunakan silika kitosan. Berdasarkan hasil analisis secara SEM dan EDS, silika tersebut mengandung SiO2 69% dan Ag2O 18%. Hasil pemisahan dari kolom kromatografi menunjukan bahwa campuran metil oleat dan metil palmitat dapat dielusi dengan pelarut kloroform – methanol, sedangkan campuran metil palmitat dan metil stearat dielusi dengan pelarut benzena-metanol. Kedua jenis eleun tersebut mempunyai perbandingan komposisi yang sama yaitu 97:3.
Studi Awal Pengambilan Kembali Aluminium Dari Limbah Kemasan Sebagai Alumina Widyabudiningsih, Dewi; Widiastuti, Endang
FLUIDA Vol 11, No 1 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada dewasa ini, selain besi, aluminium merupakan logam yang paling banyak digunakan di sektor industri dibandingkan dengan logam lain, salah satunya sebagai kemasan. Kemasan yang terbuat dari aluminium ini banyak digunakan untuk mengemas produk makanan dan minuman, yang jika sudah digunakan isinya, maka wadah kemasan ini akan menjadi sampah. Sampah ini termasuk sampah anorganik yang tidak akan terurai secara alami dan memerlukan pengolahan tertentu untuk menguraikannya. Proses pengambilan kembali aluminium dari limbah ini dilakukan dengan metode gravimetri yaitu melarutkan limbah tersebut dengan HCl 18%. Untuk memisahkan ion-ion yang tidak diinginkan, maka digunakan pereaksi tambahan seperti asam suksinat 5%, 2 gram urea dan 5 gram ammonium klorida. Untuk menghilangkan kandungan air dari endapan maka dilakukan proses pembakaran. Pembakaran ini juga berfungsi untuk menghasilkan endapan murni yang diperoleh dari proses pengambilan aluminium sebagai alumina dari limbah kemasan tersebut. Pada suhu ruang (27oC), HCl 18% merupakan pelarut yang baik untuk melarutkan sampel yang mengandung aluminium. Alumina terbanyak didapat dari sampel yang berbentuk pizza pans yaitu 8,8203 gram dari 5 gram sampel, dengan persentase aluminium sebesar 93,39%.
Pembuatan Biodiesel dengan Proses Ekstraksi Reaktif dari Ampas Perasan Kelapa Ridwan, Iwan; Meylin, Meylin; Puspitasari, Rima; Dewi, Dianty Rosirda; Ghozali, Mukhtar
FLUIDA Vol 11, No 2 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biodiesel merupakan energi terbarukan yang berasal dari minyak nabati atau minyak hewani. Pada penelitian ini pembuatan biodiesel dilakukan dengan metode ekstaksi reaktif (transesterifikasi insitu). Bahan baku yang digunakan yaitu ampas perasan kelapa dengan bilangan asam 0,5426 mg KOH/g, diameter partikel sebesar 1,12 mm. Katalis yang digunakan yaitu KOH 2%b/b pro analisis sedangkan metanol atau etanol teknis sebagai pereaksi. Transesterifikasi in situ ampas kelapa dilakukan pada temperatur reaksi 65°C dan kecepatan pengadukan 1000 rpm. Variasi variabel adalah waktu reaksi 4,5,6,7,8,9 jam dan jenis pereaksi yaitu metanol dan etanol teknis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa waktu reaksi dan jenis pereaksi berpengaruh terhadap yield biodiesel. Hasil penelitian menunjukan penggunaan metanol sebagai reaktan menghasilkan yield sebesar 85,97 % sedangkan etanol sebesar 53,57 %. Yield biodiesel 85,97% dengan reaktan metanol dicapai selama 8 jam. Hasil analisis biodiesel tersebut menunjukan bahwa nilai densitas, kadar air, viskositas memenuhi standar SNI Biodiesel No.7182-2012 sedangkan untuk gliserol total, dan bebas tidak memenuhi SNI.
Pembuatan gula Cair dari Pati Singkong dengan menggunakan Hidrolisis Enzimatis Permanasari, Ayu Ratna; Yulistiani, Fitria
FLUIDA Vol 11, No 2 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada penelitian ini dibuat gula cair dari tepung tapioka yang dihidrolisis dengan enzim. Hidrolisis enzimatis pati terdiri dari dua tahapan yaitu liquifikasi dan sakarifikasi. Pada proses liquifikasi digunakan enzim á-amilase untuk memecah pati yang mengandung amilosa dan amilopektin menjadi dekstrin. Selanjutnya pada tahapan kedua proses sakarifikasi, dimana dekstrin dihidolisa menjadi glukosa dengan bantuan enzim glukoamilase. Volume enzim cair yang ditambahkan adalah 0,3; 0,4; dan 0,5 ml sedangkan konsentrasi substrat divariasikan 25%; 33,3%; dan 40%. Hasil terbaik diperoleh pada konsentrasi substrat 33,3% dan volume enzim sebesar 0,3 ml, yaitu memiliki kecepatan hidrolisis yang paling cepat untuk proses liquifikasi dan sakarifikasi.
Carbon Steel Corrosion In The Atmosphere, Cooling Water Systems, And Hot Water Subiyanto, Gatot; Ngatin, Agustinus
FLUIDA Vol 11, No 1 (2015): Fluida, Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi merupakan proses kerusakan material akibat berinteraksi dengan lingkungan yang korosif. Untuk mempelajari proses korosi di industri, maka dilakukan pengujian korosi di atmosfer, simulasi dalam skala lab untuk sistem air pendingin dan sistem air panas. Pengujian korosi dilakukan pada material baja lunak dengan metode Coupon dan laju korosi dihitung berdasarkan metode kehilangan berat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju korosi di lingkungan atmosfer, air pendingin, dan air panas berdasarkan pengaruh waktu. Hasil pengujian korosi di atmosfer menunjukkan bahwa lingkungan sekitar laboratorium kimia (gedung A) masih sangat baik dengan laju korosi 0,39mpy, sistem air pendingin mencapai 3,52 mpy dan di sistem air panas mencapai 137,12 mpy. Produk korosi dari ke tiga sistem berupa lapisan berwarna coklat dari Fe2O3.xH2O atau FeO(OH) menempel di permukaan logam. Dari ketiga lingkungan yang menunjukkan laju korosi terbesar adalah di sistem air panas.Pengendalian dengan coating dan proteksi katodik anoda korban dapat menurunkan potensial baja sampai dibawah kriteria proteksi (<-850mV/CSE), untuk coating mencapai – 896 mV/CSE, proteksi katodik anoda korban Mg dapat mencapai – 1696 mV/CSE, sedangkan potensial baja telanjang -762 mv/CSE

Page 1 of 2 | Total Record : 11