ARSHI Veterinary Letters
ISSN : 25812416     EISSN : -
ARSHI Veterinary Letters (ARSHI Vet Lett) (e-ISSN 2581-2416) is an open access, peer-reviewed, online journal that publishes original manuscript should be produced from latest scientific results which not last than 5 years in all areas of veterinary sciences. Manuscripts is written in Indonesian or English ARSHI Vet Lett includes a rapidly and briefly updated scientific study with not only limited to reports of case study but also covering all aspects of practical clinical science in veterinary medical services. ARSHI Vet Lett is published by the Faculty of Veterinary Medicine of the Bogor Agricultural University (FKH IPB) in collaboration with the Indonesian Veterinary Hospital Association (ARSHI). This journal is published since 2017 (first in mid of the year, volume 1, published in 2 issue i.e. August and November), and next volume will publish 4 (four) times in 1 (one) year, i.e. in February, May, August, and November.
Articles 78 Documents
Pouch Skin Flap pada Kasus Cutaneous Melanoma di Anjing Silky Terrier Zaenab, Siti; Alamsari, Osye; Sherlin, Kemala; Alifianti, Benda; Ramadhani, Fathia
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 2 (2017): ARSHI Veterinary Letters - November 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.1.2.31-32

Abstract

Cutaneous melanoma adalah tumor yang muncul dari sel-sel pigmen yang terjadi pada kulit dan paling umum terjadi pada anjing, kuda, dan beberapa breed babi. Melanoma yang terjadi pada kulit umumnya bersifat benign pada anjing. Tindakan bedah berupa pengangkatan dipilih untuk menangani cutaneous melanoma berukuran sekitar 3 x 2.5 cm pada kaki anjing jenis Silky Terrier di My Vets Animal Clinic Kemang Selatan. Skin flap metode pouch digunakan untuk merekonstruksi kulit anjing yang telah diangkat tersebut. Anjing sudah dapat beraktivitas menggunakan keempat kakinya dengan aktif setelah pelepasan kaki dari kantung (pouch). Pouch flap memberikan hasil yang bagus untuk mengatasi kerusakan kulit setelah pengangkatan cutaneous melanoma pada ekstremitas bagian bawah.
Efektifitas Penggunaan Antibiotik Beta Laktam dan Amitraz Topikal untuk Demodikosis Lokal pada Anjing Golden Retriever Kristianty, Tri Ayu; Ichsanniyati, Zulfa; Setiawati, Anjani Retno; Efendi, Zella Nofitri; Budiharjo, Bagus Satrio; Ramadhani, Fathia
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 2 (2017): ARSHI Veterinary Letters - November 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.1.2.33-34

Abstract

Demodex canis adalah mikroflora normal komensal pada kulit anjing. Demodex spp. berhabitat di bawah folikel rambut atau kelenjar sebum. Bakteri kokus juga merupakan mikroflora normal pada kulit dan umum ditemukan pada kondisi infeksi kulit. Infeksi bakteri pada kasus demodikosis terjadi sebagai kejadian sekunder. Antibiotik beta laktam merupakan golongan antibiotik pilihan yang digunakan terhadap kasus infeksi bakteri kokus. Amitraz adalah akarisida topikal dan digunakan pada kasus demodikosis. Anjing Golden Retriever berusia 7 tahun datang ke My Vets Animal Clinic Bumi Serpong Damai (BSD) dengan kondisi kedua pipi erythema, pustul, erosi, dan pruritic akibat demodikosis dan infeksi sekunder bakterial. Anjing tersebut diberikan terapi fluralaner oral satu kali untuk satu bulan dan amitraz topikal setiap minggu untuk mengatasi demodikosis. Lesi pada anjing tersebut tidak terlihat berkurang nyata. Terapi antibiotik beta laktam oral kemudian diberikan untuk membantu mengatasi infeksi bakteri yang diduga terjadi sekunder dari demodikosis tersebut dan amitraz topikal diberikan setiap hari pada lesi di kedua pipi tersebut. Terapi ini menunjukkan perbaikan yang nyata dalam 8 hari. Lesi erythema, pustul, dan erosi semakin berkurang nyata dan lesi pustule sudah menghilang pada pemberian antibiotik hari keempat. Berdasarkan pengamatan, penggunaan antibiotik beta laktam dan amitraz topikal cukup efektif pada kasus demodikosis lokal.
Analisis kadar fibrinogen sebagai biomarker diabetik pada tikus wistar yang diinduksi streptozotocin Rosyadi, Imron; Romadhona, Ella; Utami, Ajeng Tyas; Hijrati, Yayik Nur; Santosa, Christin Marganingsih
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.3-4

Abstract

Penyakit diabetes mellitus adalah serangkaian proses penyakit yang bermula dari kerusakan jaringan terutama di pankreas dimana awalnya ditandai dengan munculnya protein fase akut. Pada mamalia, konsentrasi protein fase akut yang dominan adalah serum amyloid A protein, C-reaktive protein dan fibrinogen. Penelitian ini bertujuan untuk mencari korelasi protein fase akut fibrinogen untuk digunakan sebagai biomarker pada tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin. Tikus yang digunakan adalah tikus Wistar jantan sebanyak 20 ekor, umur sekitar 2 bulan dengan berat badan 180-250 gram. Tikus dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok 10 ekor tikus sebagai kelompok perlakuan (I) dan kelompok kontrol (II). Kelompok I dipuasakan selama 24 jam kemudian diinjeksi streptozotocin 1 kali dengan dosis 40 mg/kg bb yang dilarutkan dalam bufer sodium sitrat 0,1 M pH 4,0. Tikus diambil darahnya pada jam ke-0, 6, 12, 24, 48, 60, 72, 84 dan 96  post induksi diabetes untuk diperiksa kadar konsentrasi protein fase akut fibrinogen Hasil penelitian rata-rata kadar fibrinogen pada jam ke-0 dan ke-6 yaitu sebesar 0,57±0,06 mg/mL dan 0,60±0,35 mg/mL masih dalam range normal, kemudian mulai meningkat terus berturut-turut di jam ke-12 sebesar 0,6±0,4 mg/mL, jam ke-24 0.93±0,46 mg/mL, jam ke-36 1,1±0,1 mg/mL, jam ke-48 1,13±0,81 mg/mL, jam ke-60 1,17±0.40 mg/mL, jam ke-72 1,47±0,06 mg/mL, jam ke-84 1,6±0,1 mg/mL dan jam ke-96 1,8±0,1 mg/mL. Hasil dari penelitian ini menunjukkan protein fase akut fibrinogen dapat dijadikan sebagai salah satu marker pada tikus yang diinduksi diabetes mellitus.
Profil hematologi anjing lokal di wilayah endemik rabies Wijaya, Agus; Tarigan, Ronald; Santoso, Koekoeh; Ridwan, Yusuf; Sudarnika, Etih; Ilyas, Abdul Zahid; Lukman, Denny Widaya; Wicaksono, Ardilasunu; Nugraha, Arifin Budiman; Afiff, Usamah; Murtini, Sri; Sukmawinata, Edi; Parampasi, Annisa Madyanti Geminastiti
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.1-2

Abstract

Provinsi Jawa Barat merupakan satu dari 24 provinsi di Indonesia yang dilaporkan belum bebas Rabies. Usaha pembebasan wilayah Jawa Barat dari penyakit Rabies sangat strategis mengingat posisi Jawa Barat berada di antara daerah bebas Rabies. Jampang Tengah menjadi salah satu kecamatan di Sukabumi yang pada tahun 2016 dilaporkan telah terjadi 13 kasus gigitan Rabies. Penelitian ini menggunakan 81 sampel darah anjing lokal yang dikoleksi dari enam desa di kecamatan Jampang Tengah dan diperiksa dengan menggunakan alat Rayto® hematology analyzer. Parameter profil hematologi dikelompokkan berdasarkan perbedaan umur dan jenis kelamin anjing. Hasil pemeriksaan hematologi secara umum berdasarkan umur menunjukkan nilai rataan yang lebih besar pada anjing lokal umur ≥1 tahun dan konsentrasi leukosit menunjukkan nilai statistik yang signifikan berbeda (p<0.05). Berdasarkan jenis kelamin, nilai rataan parameter hematologi secara umum lebih tinggi pada anjing lokal betina dan adanya perbedaan signifikan (p<0.05) pada konsentrasi leukosit dan granulosit.
Urolithiasis oksalat monohidrat pada kucing lokal Utama, Iwan Harjono; Widyastuti, Sri Kayati; Erawan, I Gusti Made Krisna; Prasetya, Ekklesia
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.2.21-22

Abstract

Kasus urolithiasis oksalat monohidrat dijumpai pada kucing lokal yang datang ke Rumah sakit Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan anamesis kucing mengalami penurunan nafsu makan. Gejala klinis yang terlihat adanya kifosis ringan. Palpasi di abdomen bagian atas hingga belakang dilakukan dan hewan meronta kesakitan saat palpasi di bagian hypogastrium medial vesica urinaria. Kucing juga menunjukkan ekspresi nyeri saat dilakukan palpasi pada bagian penis saat pemeriksaan uretra dan urinasi. Kucing sedikit-sedikit mengeluarkan urin berdarah dengan konsistensi cair. Pemeriksaan lanjut dilakukan menggunakan ultrasonografi dan urinalisis menggunakan uji cepat dipstik. Hasil pemeriksaan ultrasonografi memperlihatkan adanya bintik bintik putih di vesika urinaria, sedangkan pemeriksaan fisik urin memperlihatkan hematuria dan mikroskopik memperlihatkan adanya kristal oksalat monohidrat. Penanganan yang dilakukan pada kasus ini adalah memberikan antibiotik amoxicillin injeksi dosis 11-22 mg/kg bb untuk mengurangi infeksi pada saluran kemih. Selain itu Nephrolit® yang mengandung Orthosiphon stamineus (kumis kucing) dan beberapa herbal lainnya juga diberikan untuk membantu alkalinisasi dan pelarutan kristal-kristal dalam urin agar mudah dikeluarkan saat urinasi. Hasil penanganan memperlihatkan kucing membaik dalam waktu 10 hari terapi.
Feline ceruminous cystomatosis pada kucing persia 7 tahun Zaenab, Siti; Alamsari, Osye; Sherlin, Kemala; Alifianti, Benda; Martin, Belinda; Ramadhani, Fathia
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.2.37-38

Abstract

Feline ceruminous cystomatosis (ceruminous adenoma, apocrine cystadenomatosis) adalah kelainan nonneoplastik dan tidak umum yang terjadi pada kucing. Kucing Persia berusia 7 tahun datang ke My Vets Animal Clinic di Kemang Selatan dengan keluhan ada kutil-kutil hitam di sepanjang kedua daun telinga. Tindakan bedah berupa pengangkatan dipilih untuk menangani feline ceruminous cystomatosis tersebut dengan teknik ablasi saluran telinga vertikal sebagai pilihan. Ablasi terhadap kista menggunakan laser karbon dioksida adalah metode penanganan yang lebih dipilih, namun tindakan bedah berupa pengangkatan total pernah menjadi terapi pilihan. Hasil persembuhan luka jangka panjang pascabedah pada feline ceruminous cystomatosis menunjukkan hasil yang cukup bagus.
Keracunan paracetamol pada kucing lokal Wijaya, Putu Jodie Kusuma; Wulansari, Retno; Hamdi, Husnul; Mihardi, Arief Purwo; Maylina, Leni
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.2.39-40

Abstract

Kucing domestik betina berumur satu tahun bernama Kesi datang ke Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) dengan keluhan wajah yang membengkak. Anamnesa yang didapat dari pemiliknya bahwa hewan terlihat lesu, sehingga pemiliknya memberikan Decolgen® pada Kesi sehari sebelumnya. Kelainan yang paling umum diamati pada pemeriksaan fisik dari kucing adalah: tingkat pernapasan meningkat, pucat-berlumpur selaput lendir, hipotermia, dan takikardia. Tanda-tanda lain adalah depresi, anoreksia, muntah, wajah dan cakar membengkak, air liur, diare, koma dan kematian. Dari temuan klinis dan anamnesa pemilik didapati bahwa hewan mengalami keracunan paracetamol. Prognosa yang didapat dari kasus adalah dubius apabila segera ditangani dan infausta apabila tidak segera ditangani. Pemberian paracetamol pada kucing tidak disarankan karena dapat berakibat fatal pada kucing. Pemberian acetylcysteine pada Kesi bertujuan untuk membantu kucing dalam pembentukan glutathione seluler. Setelah dilakukan pengobatan selama 3 hari, terlihat adanya kemajuan yang dapat diamati dari mukosa yang sudah tidak membengkak  dan mukosa sudah tidak berwarna pucat lagi. Setelah 4 hari pengobatan, hewan sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang oleh dokter.
Gambaran kadar gula darah tikus wistar diabetes hasil induksi streptozotocin dosis tunggal Rosyadi, Imron; Romadhona, Ella; Utami, Ajeng Tyas; Hijrati, Yayik Nur; Santosa, Christin Marganingsih
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.3.41-42

Abstract

Penyakit diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya kenaikan kadar gula dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kadar gula darah tikus wistar yang diinduksi diabetes dengan streptozotocin. Tikus yang digunakan adalah tikus Wistar jantan sebanyak 20 ekor, umur sekitar 2 bulan dengan berat badan 180-250 gram. Tikus dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok 10 ekor tikus sebagai kelompok perlakuan (I) dan kelompok kontrol (II). Kelompok I dipuasakan selama 24 jam kemudian diinjeksi streptozotocin 1 kali dengan dosis 40 mg/kg bb yang dilarutkan dalam bufer sodium sitrat 0,1 M pH 4,0. Tikus diambil darah pada jam ke-0, 6, 12, 24, 48, 60, 72, 84 dan 96  post induksi diabetes untuk diperiksa kadar gula darah. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar gula darah tikus masih dalam keadaan normal pada jam ke-0 sebesar 90,6±15,88 gr/dL dan jam ke-6 126±11,73 gr/dl lalu menurun pada jam ke-12 sebesar 48,4±6,26 gr/dL dan meningkat tajam sebesar 348,3±33,17  gr/dL pada jam ke-24 sampai akhir penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan streptozotocin dapat menginduksi tikus menjadi diabetes mellitus.
Isolasi Brucella abortus dari cairan higroma dan susu Handayani, Tri; Noor, Susan Maphilindawati; Pasaribu, Fachriyan Hasmi
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.3.55-56

Abstract

Brucella abortus merupakan salah satu bakteri penyebab keguguran pada ternak sapi. Sampel cairan higroma dan susu digunakan untuk screening keberadaan bakteri B. abortus dari ternak yang dicurigai menderita brucellosis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh bakteri B. abortus dari sampel cairan higroma dan susu. Total 36 sampel cairan higroma dan susu diperoleh dari NTT dan Jawa barat. Sampel ditumbuhkan dalam media TSB dan TSA dengan CO2 5 %. Hasil pemeriksaan menunjukkan morfologi koloni bakteri bulat, halus dan permukaan convex, hasil pewarnaan Gram menunjukkan bakteri gram negatif, coccobacillus dan memiliki kecenderungan sendiri-sendiri ataupun berpasangan. Uji biokimiawi katalase dan  oksidase menunjukkan hasil positif, sedangkan uji sitrat negatif.  Bakteri memerlukan penambahan 5% CO2 dalam pertumbuhannya, memiliki kemampuan memproduksi H2S, dan urease serta  tumbuh dengan keberadaan Basic Fuchin, tetapi tidak tumbuh di zat warna Thionin. Bakteri yang tumbuh tersebut diidentifikasi sebagai B. abortus.Total isolat B. abortus yang diperoleh pada penelitian ini adalah 16 isolat dari 36 sampel cairan higroma dan susu.
Nefrolithiasis pada red eared slider (Trachemys scripta elegans) Paramitha, Devi; Citraningputri, Intan; Noviana, Deni; Ulum, Mokhamad Fakhrul
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.3.43-44

Abstract

Kasus nefrolithiasis ini ditemukan pada seekor red eared slider (RES) atau di Indonesia dikenal dengan nama kura-kura Brazil, secara tidak disengaja ketika hewan tersebut diperiksa secara radiografi untuk melihat morfologi normalnya. Kura-kura telah dipelihara selama satu tahun oleh pemilik tanpa ada keluhan apapun. Kura-kura tersebut dipelihara di dalam kolam bersama dengan ikan, pakan yang diberikan pemilik adalah ikan kecil dan sayur. Riwayat kura-kura sebelum dipelihara pemilik tidak diketahui. Radiografi dilakukan melalui 3 standar pandang, yaitu dorsoventral, laterolateral dan craniocaudal. Hasil radiografi dari ketiga standar pandang tersebut menunjukkan adanya massa radiopaque di bagian kanan dan kiri abdomen kura-kura. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) dilakukan sebagai diagnosa penunjang. Hasil yang didapat dari pemeriksaan USG ini adalah ditemukan massa hiperekhoik pada ginjal.