ARSHI Veterinary Letters
ISSN : 25812416     EISSN : -
ARSHI Veterinary Letters (ARSHI Vet Lett) (e-ISSN 2581-2416) is an open access, peer-reviewed, online journal that publishes original manuscript should be produced from latest scientific results which not last than 5 years in all areas of veterinary sciences. Manuscripts is written in Indonesian or English ARSHI Vet Lett includes a rapidly and briefly updated scientific study with not only limited to reports of case study but also covering all aspects of practical clinical science in veterinary medical services. ARSHI Vet Lett is published by the Faculty of Veterinary Medicine of the Bogor Agricultural University (FKH IPB) in collaboration with the Indonesian Veterinary Hospital Association (ARSHI). This journal is published since 2017 (first in mid of the year, volume 1, published in 2 issue i.e. August and November), and next volume will publish 4 (four) times in 1 (one) year, i.e. in February, May, August, and November.
Articles 78 Documents
Profil hematologi pada kucing lokal selama proses kesembuhan skin flaps H-plasty dan linear closure Fleuryantari, Hastjarjo; Noviana, Deni; Gunanti, .; Erwin, .
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.2.35-36

Abstract

Skin flaps merupakan salah satu prosedur bedah rekonstruksi untuk penutupan luka. Tujuan penelitian ini adalah melihat profil hematologi selama proses kesembuhan luka menggunakan teknik skin flaps H˗plasty dan linear closure pada kucing (Felis catus). Pembuatan luka dengan luas 2x2 cm dilakukan pada daerah toraks 6 kucing lokal jantan sehat yang dibagi dalam dua kelompok teknik penutupan luka, skin flaps H-plasty dan linear closure. Pengambilan darah sebanyak 1 ml dilakukan secara aseptis pada vena saphena pada hari ke˗0 pra operasi, hari ke˗3, 6, 9, dan 12 pascaoperasi. Parameter pengamatan pada nilai sel darah merah (SDM), hemoglobin (Hb), hematokrit (Hct), Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) dan trombosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata SDM, hemoglobin, hematokrit, MCHC, dan trombosit tidak terjadi perbedaan yang signifikan (P>0.05) antar kelompok perlakuan H-plasty dengan linear closure. Parameter MCV dan MCH menunjukkan perbedaan signifikan (P<0.05) antar kelompok perlakuan. Pengamatan rata-rata SDM, hemoglobin, hematokrit, MCV, MCH, MCHC dan trombosit menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0.05) diantara hari pengamatan. Kedua teknik skin flaps menunjukkan nilai rata˗rata profil hematologi yang fisiologis selama proses kesembuhan luka.
Immune mediated haemolytic anemia pada anjing siberian husky Loisa, .; Anggraini, Nur Fitria; Khairunisa, Talitha; Bahar, Novri Wandi
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.2.29-30

Abstract

Immune Mediated Haemolytic Anemia (IMHA) merupakan anemia yang muncul akibat hemolisis eritrosit di dalam pembuluh darah yang berhubungan dengan mediator sistem imun. Salah satu penyebab kondisi IMHA yaitu keberadaan parasit darah (Babesia sp.) dengan vektor caplak (Rhipicephalus sanguineus). Diagnosa IMHA yang disebabkan oleh infeksi Babesia sp pada anjing kasus ini terlihat melalui pemeriksaan sitologi dengan ditemukannya spherocyte dan terjadi hemolisis intravaskular sehingga masuk dalam kategori secondary IMHA. Pemeriksaan fisik di abdomen bagian kanan teraba adanya massa keras dan dilanjutkan pemeriksaan ultrasonografi dan radiografi. Hasil pemeriksaan ultrasonografi ditemukan adanya hepatomegali dan splenomegali.  Hasil radiografi bagian thoraks tampak adanya tromboemboli di paru-paru, sedangkan pada bagian abdomen menunjukkan adanya internal bleeding.  Berdasarkan hasil pemeriksaan darah menunjukkan rendahnya MCV dan MCHC (anemia mikrositik hipokromik oleh hemolisis), serta peningkatan RBC yang disebabkan oleh produksi RBC (eritrogenesis) khususnya retikulosit. Infeksi Babesia sp. pada anjing ini tampak pada tingginya persentase granulosit.  Kejadian IMHA merupakan kondisi kronis, sehingga untuk mencegah IMHA diperlukan edukasi secara menyeluruh mengenai bahaya dampak infeksi ektoparasit (tick dan fleas) dalam jangka panjang dan cara mengendalikan ektoparasit.
Chronic ginggivostomatitis pada kucing lokal Pawitri, Diah
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.2.23-24

Abstract

Feline chronic ginggivitis stomatitis (FCGS) banyak dilaporkan pada kucing Siamese, Persian, Abysinian, Somali, namun kejadiannya pada kucing lokal belum mendapat perhatian. Kejadia FCGS ditandai peradangan kronis yang menyebabkan lesio erosi dan proliferasi pada mukosa oral dan ginggiva. Terapi penyakit ini sulit dan sangat membuat frustasi karena menyerang kucing berbagai usia termasuk usia muda dengan terapi seumur hidup. Penyebab pasti belum diketahui tetapi berkorelasi dengan virus FeLV, FIV, FCV, bakteri anaerob, Bartonella sp., Borellia sp., serta non infeksius antigen pada makanan, flea, debu, atau serbuk bunga. Karakteristik kasus ini adalah adanya infiltrasi plasma sel, eosinofil, limfosit, dan makrofag. Secara histopatologi kejadian FCGS, ditemukan banyaknya infiltrasi sel eosinofil, umumnya berhubungan dengan reaksi alergi terkadang tidak hanya muncul pada oral mukosa, tetapi juga pada kulit. Keadaan ini disebut eosinophilic granuloma complex (EGC). Gambaran histopatologi kejadian FCGS ditemukan limfosit, sel plasma, dan makrofag, serta diduga berhubungan dengan imun sistem dan penyakit viral serta lesio pada seluruh rongga mulut hingga ke bagian caudal disebut lymphocyitic plasmositic ginggivitis stomatitis (LPGS). Diagnosa berdasarkan gejala klinis, hasil pemeriksaan rongga mulut dengan anestesi, hemogram lengkap, pemeriksaan virus, dan histopatologi biopsi. Managemen FCGS terutama adalah kebersihan rongga mulut, pemberian antimikrobial, anti inflamasi. Ekstraksi gigi molar/premolar, imunosupresan, imunomodulator, terapi laser, dan diet hidrolisa protein juga dapat digunakan.
Diare Kronis pada Trenggiling Jawa (Manis Javanica) Choliq, Chusnul; Nisa, Chairun; Hambandima, Danny Umbu Tay; Rifai, Muhammad Sulthan Rasyid
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 1 (2017): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl111-2

Abstract

Seekor trenggiling jawa (Manis javanica) jantan mengalami diare kronis selama kurun waktu dua bulan. Pemeriksaan fisik menunjukkan trenggiling mengalami kaheksia dan letargi. Hasil identifikasi laboratorium ditemukan Eschercia coli, Salmonella sp., Eimeria sp., Entamoeba sp., Giardia sp., dan telur cacing tipe ascarid dan strongylid yang diduga sebagai penyebab diarekronis dan malnutrisi. Pengobatan menggunakan kombinasi dari Flagyl® (metronidazole), Bactrim® (sulfamethoxazole dan trimethoprim), dan Spasminal® (methampyrone, papaverin HCl, dan ekstrak belladona) aman dan mampu memberikan peningkatkan kondisi trenggiling.
Fistula tembolok pada kakatua putih (Cacatua alba) Paramita, Intan Maria; Fajrin, Leoisna Nirbhita; Oktrianinta, Ranin; Darmawan, Haris
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 1 (2017): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.1.1.3-4

Abstract

Pemeliharaan burung kakatua di Indonesia secara individual menyebabkan burung mudah mengalami stress dan menimbulkan perilaku feather pecking atau mencabuti bulunya sendiri. Perilaku ini dapat menyebabkan luka pada area yang bulunya dicabuti dan jika hal tersebut terjadi di area tembolok akan menyebabkan fistula tembolok. Fistula juga dapat disebabkan oleh kesalahan manajemen pakan dengan memberikan pakan terlalu banyak atau terlalu panas. Tembolok yang sudah berlubang dapat diperbaiki dengan melakukan penjahitan dan pemberian enrofloxacin secara oral. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki edukasi klien terkait manajemen pemberian pakan agar tidak terlalu banyak atau terlalu panas, dan juga terkait enrichment pada kakatua yang dipelihara secara individual.
Pendekatan Metode Double Advancement Flap pada Operasi Tumor Kulit pada Anjing Maylina, Leni; Lestari, Citra Ayu; Nefia, Elma; Ulia, Siti Sarah; Dilla, Christia; Komariah, Siti
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 1 (2017): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl115-6

Abstract

Anjing King Charles Spaniel (KCS) dan Golden Retriever (GR) berumur dua tahun memiliki jenis kelamin jantan datang ke Animal Clinic Jakarta (ACJ) pada tanggal 8 November 2016 dengan gejala klinis adanya pertumbuhan massa kenyalyang menempel pada kulit di bagian thoraks kanan (KCS) dan di kaki kiri depan, ventral thoraks dan pada daerah scapula kanan (GR). Hasil pemeriksaan darah lengkap dan kimia darah menunjukkan kedua anjing boleh dilakukan anaesthesia untuk terapi pengangkatan tumor. Terapi yang dilakukan adalah operasi pengangkatan tumor dengan luka operasi ditutup menggunakan metode penjahitan double advancement flap. Terapi injeksi yang diberikan pada kedua anjing setelah operasi yaitu pemberian antibiotik Ceftriaxone®. Terapi oral untuk rawat jalan yang diberikan adalah Cefadroxil®dan Metacam®syrup. Tambahan terapi oral untuk anjing KCS adalah Metronidazole® dan Tramadol®. Operasi berhasil dengan baik dan kedua anjing diperbolehkan pulang dengan rawat jalan.
Hyperadrenocorticism Induces Demodicosis in Shih Tzu Dog Putra, Maulana ArRaniri; Sajuthi, Cucu Kartini
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 1 (2017): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.1.1.7-8

Abstract

A 10-year old male intact Shih Tzu, was presented to our clinic with complains of skin and hair problem. The condition had been appeared for 3 months. The antifungal medicated shampoo was given to the patient by the previous veterinarian, but there was no any clinical improvement. The clinical symptoms included alopecia in the dorsal body and trunk, comedones, hyperpigmentation, scales, lichenification, pot bellied, polyuria and polydipsia. Skin scraping and trichogram in the face area and fore limb found Demodex sp. Adult onset generalized demodicosis usually has an underlying cause. Endocrine disorders such as hypothyroidism and hyperadrenocorticism must be ruled out. From the clinical sign and laboratory work suggested for Low Dose Dexamethasone Suppressing Test (LDDST). Cortisol value after 8 hours of low dose dexamethasone injection was greater than basal cortisol, it means dexamethasone failed to suppressing cortisol level due to the high number of cortisol in the body. From LDDST the diagnose of hyperadrenocorticism (Cushing syndrome) has been made. The dog was given trilostane (Vetoryl®) 3mg/kg SID for the Cushing and imidacloprid and moxidectine spot on (Advocate® spot on) every 2 weeks for the demodicosis. Scales and lichenification was reduced and the skin got better after 3 weeks. Unfortunately, after 3 months of treatment, the dog had neurological sign including seizure, head tilt and nystagmus. From the neurological sign, we suspected that the dog had macroadenoma type of hyperadrenocorticism. A week after hospitalization, the owner decided to euthanize the dog.
Studi Awal Perbandingan Anestesia Akupunktur dengan Anestesia Obat dari Aspek Gambaran Darah pada Domba Soehartono, Raden Harry
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 1 (2017): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.1.1.9-10

Abstract

Perbandingan daya kerja anestesia akupunktur dengan anestesia obat melalui gambaran darah domba untuk menangani berbagai kasus operasi di lapangan.  Pengamatan profil darah meliputi: Hb (Haemoglobine), PCV (Pack Cell Volume), SDM (Sel Darah Merah), SDP (Sel Darah Putih) dan diferensiasi limfosit serta kimia klinik darah meliputi: Ca, Creatinin dan SGOT. Domba sebanyak 10 ekor mendapat 3 perlakuan dalam interval waktu tertentu, yaitu Akupunktur, Xylazin (Xylazil-20R) dan Pentobarbital (NembutalR) dengan 3 periode percobaan, yaitu pre-anestesia, anestesia dan post-anestesia. Hasil penelitian memperlihatkan adanya variasi profil darah pada setiap perlakuan anastesia. Secara umum akupunktur meningkatkan kadar Hb, PCV, SDM dan SDP, sementara kimia klinik darah relatif konstan, sedangkan gambaran darah dari kedua obat bius bersifat menurun. Nilai kimia klinik darah baik perlakuan obat Xylazin dan akupunktur relatif sama, kecuali Pentobarbital mengakibatkan penurunan kurva limfosit dan Ca, sedangkan Creatinin meningkat tajam.
Kecacingan pada Saluran Pencernaan Trenggiling Jawa (Manis javanica) dan Pengendaliannya Setiadi, Riyan Wahyu; Tiuria, Risa; Nisa, Chairun
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 1 (2017): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.1.1.11-12

Abstract

Salah satu kendala dalam upaya konservasi Trenggiling jawa secara ex-situ adalah masalah penyakit, salah satunya kecacingan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis cacing saluran pencernaan yang menginfeksi empat ekor Trenggiling jawa,serta mengetahui efektivitas dari anthelmintika yang diberikan. Identifikasi tipe telur, jenis larva, dan derajat infeksi kecacingan dilakukan dengan menggunakan teknik parasitologi. Hasil menunjukkan trenggiling yang dipelihara di kandang terinfeksi oleh cacing tipe Strongylid dan Ascarid. Seluruh trenggiling terinfeksi oleh cacing genus Strongylus. Infeksi ganda terjadi pada duaekortrenggiling, masing-masingoleh cacing genus Strongylus dan Trichostrongylus, serta cacing genus Strongylus dan Ascaris. Trenggiling terinfeksi cacing dengan derajat infeksi kategori ringan hingga sedang. Pemberian Albendazole dengan dosis 10 mg/ kgbb setiap pekan mampu menurunkan jumlah telur cacing sebesar 100%.
Vaginal Leiomyoma pada Anjing Betina 8 Tahun Zaenab, Siti; Alamsari, Osye; Sherlin, Kemala; Ramadhani, Fathia
ARSHI Veterinary Letters Vol 1, No 1 (2017): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.1.1.13-14

Abstract

Vaginal leiomyoma adalah tumor benign yang berasal dari sel-sel otot halus (smooth muscle tumor) yang terdapat pada vagina. Anjing betina berusia 8 tahun datang ke My Vets Animal Clinic di Kemang Selatan dengan keluhan ada benjolan di antara anus dan vagina, dan anjing tidak bisa urinasi maupun defekasi dengan lancar. Tindakan bedah berupa episiotomi dan ovariohisterektomi dipilih untuk menangani vaginal leiomyoma tersebut. Tumor bersifat benign yang berada pada vulva-vagina memiliki respon yang bagus terhadap tindakan bedah berupa pengangkatan lokal (local excision) dan ovariohisterektomi. Vaginal leiomyoma pada anjing memiliki prognosa yang bagus jika berhasil didiagnosa dan dilakukan tindakan bedah berupa episiotomi dan ovariohisterektomi.