ARSHI Veterinary Letters
ISSN : 25812416     EISSN : -
ARSHI Veterinary Letters (ARSHI Vet Lett) (e-ISSN 2581-2416) is an open access, peer-reviewed, online journal that publishes original manuscript should be produced from latest scientific results which not last than 5 years in all areas of veterinary sciences. Manuscripts is written in Indonesian or English ARSHI Vet Lett includes a rapidly and briefly updated scientific study with not only limited to reports of case study but also covering all aspects of practical clinical science in veterinary medical services. ARSHI Vet Lett is published by the Faculty of Veterinary Medicine of the Bogor Agricultural University (FKH IPB) in collaboration with the Indonesian Veterinary Hospital Association (ARSHI). This journal is published since 2017 (first in mid of the year, volume 1, published in 2 issue i.e. August and November), and next volume will publish 4 (four) times in 1 (one) year, i.e. in February, May, August, and November.
Articles 78 Documents
Infeksi protozoa berflagela pada kura-kura indian star Mihardi, Arief Purwo; Wulandari, Eka Dewi; Hage, George Marthienz Do
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.5-6

Abstract

Protozoa biasa ditemukan pada saluran pencernaan hewan reptil. Jumlah protozoa yang tinggi dapat menimbulkan masalah kesehatan pada hewan reptil seperti kura-kura. Pasien jenis kura-kura jantan dengan ras indian star datang dengan keluahan menurunnya nafsu makan serta feses yang encer dan berwarna putih.  Penetapan diagnosa diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi pengamatan pada sampel feses secara natif, pengapungan dengan larutan gula jenuh serta pewarnaan sampel feses. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa kura-kura terinfeksi protozoa berflagela. Berdasarkan morfologi protozoa yang diamati, diduga termasuk ke dalam genus trichomonad. Namun perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan jenis protozoa, karena sulit bila hanya berdasarkan pemeriksaan morfologi secara sekilas.
Terapi giardiasis penyebab diare non-spesifik pada kucing Akbari, Rizal Arifin; Wientarsih, Ietje; Prasetyo, Bayu Febram; Madyastuti, Rini
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.7-8

Abstract

Kucing jantan berumur 4 tahun bernama Rambo datang ke Klinik Star Vet Ciomas Bogor dengan keluhan menderita diare selama 6 bulan. Kucing memiliki kebiasaan diberikan minum air mentah, sering minum air toilet dan air got. Kucing di diagnosa menderita Giardiasis dengan menggunakan teknik fecal flotation yang ditunjukan dengan adanya kista Giardia sp. sebanyak >30 kista per lapang pandang. Kucing di terapi menggunakan antibiotika metronidazol dosis 20 mg/kg BB, imunomodulator (Echinacea extract) dosis 0.1 ml/kg BB dan Vitamin B12 dosis 0.025 mg/kg BB secara peroral selama 10 hari. Dilakukan pemantauan melalui pengamatan bentuk feses dan menghitung jumlah kista Giardia pada hari ke-0, 5, dan 10 pascaterapi. Pada hari ke-10 pascaterapi, feses sudah mulai berbentuk dan tidak ditemukan kista Giardia sp. sehingga kucing dinyatakan sembuh dari Giardiasis.
Profil protein lambung tikus model ulkus peptikum hasil induksi aspirin dengan terapi ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus) Enola, Janice; Prasetyawan, Sasangka; Vidiastuti, Dian
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.9-10

Abstract

Ulkus peptikum dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang menginduksi terjadinya perubahan profil protein berupa Heat Shock Proteins (HSPs). Penelitian ini memelajari efek antioksidan flavonoid daun katuk untuk pengobatan ulkus peptikum hasil induksi aspirin pada tikus. Tikus putih (Rattus norvegicus) sebanyak 20 ekor dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol positif (ulkus peptikum), kontrol negatif, terapi P1 (8,1 mg/100 gram BB), terapi P2 (16,2 mg/100 gram BB), dan terapi P3 (24,3 mg/100 gram BB). Perlakuan diberikan selama 14 hari. Induksi ulkus peptikum dilakukan dengan pemberian aspirin 200 mg/kg BB selama 5 hari secara peroral. Isolasi protein lambung dan penentuan profil protein dilakukan dengan metode SDS-PAGE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa protein yang muncul adalah HSP70, HSP60, HSP47, dan ubiquitin. HSP47dengan ukuran protein 47 kDa muncul pada kelompok P2 dan P3 sedemikian sehingga dapat diduga sebagai marker dalam proses kesembulan ulcer pada kasus ulkus peptikum.
Tata laksana pemotongan kuku pada sapi perah Hinarno, .; Anggraeni, Henny Endah; Bari, Fathul; Suwandi, Asep; Setiawan, Iyus; Rukmana, .
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.11-12

Abstract

Hoof trimming aims to restore normal hoof position, cleaning up dirts at slit hoof, avoiding lameness, facilitate early detection of laminitis and infection. This final report is purpose to explain the hoof treatment and trimming in dairy cows at Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang West Java. Primary data obtained discuss with interviewees and join activities of hoof trimming and treatment such as preparing equipment, handling dairy cows, and hoof trimming implementation. Thus secondary data supported by study literature. Hoof trimming in dairy cows at KPSBU Lembang is carried out every 4-6 months. First, farmer should report hoof trimming implantation to officer of health. Officer prepared hoof trimming equipments. Dairy cows were handled before hoof trimming began. Hoof trimming done in a standing position cows starting from the axial and abaxial wall then continued at the sole. Hoof trimming implementation for avoiding hoof infection which disserves dairy cow production.
Sonometri fetus kambing kacang usia 7 minggu hasil superovulasi menggunakan hormon PMSG Arif, Ridi; Andriyanto, .; Boediono, Arief; Winarto, Adi; Satrija, Fadjar; Manalu, Wasmen
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.13-14

Abstract

Teknologi superovulasi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sekresi endogen hormon kebuntingan. Salah satu manfaat dari peningkatan sekresi endogen hormon kebuntingan adalah perbaikan perkembangan lingkungan uterus selama kebuntingan. Kambing Kacang betina sebanyak 8 ekor dan telah dewasa kelamin dengan bobot rataan 22 kg dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok kontrol (tidak disuperovulasi) dan kelompok superovulasi menggunakan hormon Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG) dengan dosis 15 IU/kgBB. Kambing Kacang percobaan diserentakkan berahinya menggunakan PGF2α sebanyak 2 kali dengan selang 11 hari. Penyuntikan PMSG dilakukan bersamaan dengan penyuntikan PGF2α kedua pada kelompok superovulasi. Setelah berahi, semua kambing dikawinkan secara alami dengan pejantan pilihan. Fetus kemudian diukur secara ultrasonografi (USG) pada usia kebuntingan 7 minggu. Hasil pengukuran menunjukkan kelompok Kambing Kacang hasil superovulasi memiliki ukuran fetus yang lebih panjang daripada kelompok kontrol (P<0.05). Ukuran diameter amnion terpanjang dan terpendek serta tebal dinding uterus terlihat cenderung meningkat pada kelompok superovulasi dibandingkan dengan kelompok kontrol (P>0.05). Kesimpulan penelitian ini adalah superovulasi pada induk Kambing Kacang mampu meningkatkan pertumbuhan fetus sampai dengan usia kebuntingan 7 minggu.
Suspect feline infectious peritonitis pada kucing Widhyari, Sus Derthi; Kusuma, Bayu Firmala; Widodo, Setyo; Esfandiari, Anita; Wulansari, Retno; Maylina, Leni
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.15-16

Abstract

Feline infectious peritonitis (FIP) adalah penyakit menular akibat infeksi corona virus dan dapat berakibat kematian. Diagnosa FIP dijumpai pada seekor kucing  dengan gejala anoreksia, lemas, perut membesar dan diare. Hasil pemeriksaan abdomen menunjukkan adanya undulasi positif diduga akibat penimbunan cairan di rongga abdomen. FIP tipe ini dijumpai adanya akumulasi cairan dalam rongga perut dan menyebabkan terjadinya pembesaran daerah abdomen dan disertai kesulitan bernafas. Berdasarkan pemeriksaan klinis dan laboratories, kucing di diagnosa mengalami suspect Feline Infectious Peritonitis (FIP) tipe basah. Perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk lebih meneguhkan diagnosa, seperti uji serologis, radiografi, dan ultrasonografi.
Radiographic measurement of cardiac size in laboratory mice Ulum, Mokhamad Fakhrul; Noviana, Deni
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.19-20

Abstract

This study was to establish quantitative reference range measurements that could be used to support basic data of cardiac size in the laboratory animals. Right and left lateral recumbency (R/L view) and ventral and dorsal recumbency (VD/DV view) radiographs were obtained in 6 normally laboratory mice (Mus musculus). The R/L view heart measurements were the apicobasal length (AB); the maximum width (CD); the distance between the cranial edge of the fifth rib and the caudal edge of the seventh rib (R5-7); the vertical depth of the thorax (H). The VD/DV view cardiac silhouette measurements were maximum length (L); maximum width (W); the width of the thorax (T). In order to determine vertebral heart scale score (VHS), the length and width of the heart were measured and then superimposed to the thoracic vertebrae starting at fourth vertebral (T4) caudally. In order to determine intercostals space (ICS), the CD were measured perpendicularly and superimposed on the intercostals space from fourth costal caudally. The cardiac silhouette was evaluated objectively to describe the cardiac appearance. Lengths of the parameter were determined with a caliper and a ruler in millimeters scale. The result showed that all measurements have not differed significantly between radiographic views (p>0.05).
Metode nephrosplenic entrapment reposition untuk penanganan kasus large colon displacement pada kuda Rihansyah, Hadi Putra; Wijaya, Agus; Fatonah, Yohan Naim Nurul; Wulandari, Wahyu Sri; Satrio, Faisal Amri; Elmanaviean, Muhammad; Paramita, Intan Maria; Lestari, Citra Ayu
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.1.17-18

Abstract

Large colon displacement merupakan perpindahan posisi kolon menjadi ke arah kiri disebut left dorsal displacement of colon (LDDC), atau ke arah kanan disebut right dorsal displacement of colon (RDDC). Perpindahan ini menyebabkan kolik pada kuda. Palpasi per rektal pada kuda G. Galunggung menunjukkan adanya perubahan konsistensi dan perpindahan lokasi kolon sehingga dugaan utama adalah terjadinya large colon displacement. Palpasi per rektal daerah nephrosplenic menunjukkan limpa pindah ke arah caudal di dinding kiri abdomen. Hal ini menunjukkan bahwa kuda G. Galunggung mengalami LDDC. Reposisi mekanis metode nephrosplenic entrapment reposition menggunakan katrol dilakukan untuk mengembalikan posisi kolon yang terperangkap di antara ginjal dan limpa setelah kuda G. Galunggung dibius terlebih dahulu. Konfirmasi secara palpasi per rektal menunjukan bahwa metode tersebut berhasil mengembalikan posisi kolon pada kasus kuda G. Galunggung. Setelah 3 hari perlakuan, kuda makan dan minum secara normal, konsitensi feses normal, serta tidak terjadi kolik maupun ambruk.
Profil gas darah anak babi (Sus scrofa) setelah induksi sepsis dan resusitasi cairan Rizky, Ega Iftahul; Dewi, Rismala; Gunanti, .; Siswandi, Riki; Rahmiati, Dwi Utari
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.2.31-32

Abstract

Sepsis merupakan respon sistemik yang disebabkan oleh infeksi. Mortalitas sepsis dapat mencapai 30% meskipun telah dilakukan perawatan intensif. Renjatan sepsis adalah sepsis yang disertai dengan gangguan pada organ kardiovaskular dan respirasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi parameter gas darah setelah induksi sepsis dan resusitasi cairan. Sebanyak 10 ekor anak babi dengan berat badan 10-13 kg dan umur 2-3 bulan dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok pertama diresusitasikan dengan cairan koloid modifikasi gelatin 4% (MFG 4%) sedangkan kelompok dua diresusitasikan dengan cairan kristaloid ringer asetat malat (RAM). Lipopolisakarida E. coli sebanyak 50 ug/kg berat badan diberikan dengan rute intravena untuk menginduksi terjadinya sepsis. Induksi sepsis menyebabkan penurunan pH dan PaO2, serta peningkatan PaCO2 dan laktat secara nyata (p<0.05). Resusitasi cairan dilakukan setelah renjatan sepsis. Resusitasi dengan cairan koloid dapat mengembalikan nilai PaCO2 dan PaO2 mendekati normal, serta menekan edema paru. Resusitasi dengan cairan koloid dinilai lebih baik karena dapat meminimalisir kerusakan yang terjadi akibat renjatan sepsis.
Nilai vertebrae heart size anjing kintamani bali pada usia berbeda Arjentinia, I Putu Gede Yudhi; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.2.2.33-34

Abstract

Anatomical physiological clinical studies such as cardiac image, is one of the important studies that must to strengthen the position of kintamani bali dog as a dog recognized by the FCI. Cardiac image that can be seen is the size of the cardiac based on the value of vertebral heart size (VHS). The results obtained are used as the standard size and assessment of cardiac of kintamani bali dogs. This study aims to determine the VHS value of kintamani bali dog based on age group 12 and 24 months. The sample used 40 kintamani bali dogs, such as 20 dogs of 12 months and 20 dogs of 24 months. Images were taken by X-ray to determine the value of VHS kintamani bali dogs. The method used a lateral thoracic radiograph. Measured by using calipers at the longest axis from cardiac silhouette from carina to the apex, and the short axis were measured from the widest part of the cardiac silhouette. Then transfer that measured to the vertebrae, starting at the cranial edge of T4, count the number of vertebrae that fall within the caliper points, and sum of the two measurements. The result showed that the values of VHS at 12 months kintamani dogs were 9.4v±1.6 and the 24 month were 9.4v±0.8