ARSHI Veterinary Letters
ARSHI Veterinary Letters (ARSHI Vet Lett) (e-ISSN 2581-2416) is an open access, peer-reviewed, online journal that publishes original manuscript should be produced from latest scientific results which not last than 5 years in all areas of veterinary sciences. Manuscripts is written in Indonesian or English ARSHI Vet Lett includes a rapidly and briefly updated scientific study with not only limited to reports of case study but also covering all aspects of practical clinical science in veterinary medical services. ARSHI Vet Lett is published by the Faculty of Veterinary Medicine of the Bogor Agricultural University (FKH IPB) in collaboration with the Indonesian Veterinary Hospital Association (ARSHI). This journal is published since 2017 (first in mid of the year, volume 1, published in 2 issue i.e. August and November), and next volume will publish 4 (four) times in 1 (one) year, i.e. in February, May, August, and November.
Articles
57
Articles
Tingkat kesadaran dan pengetahuan pemilik anjing di kota Malang mengenai infestasi ektoparasit

Widyaputri, Tiara ( Universitas Brawijaya ) , Titisari, Nurina ( Faculty of Veterinary Medicine, Brawijaya University ) , Swastomo, Rahadi ( Faculty of Veterinary Medicine, Brawijaya University )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Anjing dan kucing merupakan hewan yang paling banyak dipelihara sebagai hewan kesayangan sebagaimana masyarakat di kota Malang. Ektoparasit seperti caplak dan pinjal seringkali menyerang anjing sehingga menyebabkan gangguan kesehatan baik pada anjing maupun pemiliknya. Pemeriksaan terhadap infestasi ektoparasit pada anjing sedianya dilakukan secara rutin. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemeriksaan ektoparasit dan pemberian obat anti-ektoparasit yang dilakukan di Pawvillion dog cafe, Kota Malang dan didatangi oleh 18 orang pemilik anjing dengan total anjing yang diikutsertakan sebanyak 35 ekor. Hasil pemeriksaan ektoparasit ditemukan 2 jenis ektoparasit yaitu caplak dan pinjal. Anjing sebanyak 16 ekor telah terinfeksi ektoparasit spesies Ripichephalus sp. dan 3 ekor anjing terinfeksi pinjal Ctenocephalides sp. Evaluasi kuesioner yang telah diisi oleh pemilik anjing, diketahui bahwa pemberian obat kutu dan pembersihan lingkungan masih jarang dilakukan. Para pemilik anjing diberi selebaran berisi informasi mengenai ektoparasit sebagai media edukasi mengenai pentingnya menghindarkan anjing dari infestasi ektoparasit.

Gambaran histologi ovarium sapi aceh pascavitrifikasi menggunakan dimetyl sulfoksida dengan konsentrasi berbeda

Syafruddin, . ( Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ) , Sayuti, Arman ( Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ) , Sumardi, Rahmat Aditya ( Program Studi Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ) , Panjaitan, Budianto ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aims to determine the morphology of Aceh bovine ovarian pasca vitrification, after its been exposed to dimetyl sulfoksida (DMSO) cryoprotectant. This study use a completely randomized design of one-way pattern ANOVA acquire three replications. Ovaries used in this study are Aceh cattle ovarian which collected from slaughter house (RPH) accounted as 4 organs, to the next sliced into 9 pieces. Ovarian pieces are then grouped into 3 treatment groups namely ovaries which exposed into solution containing DMSO 10% (P1), 20% (P2), and 30% (P3). The results showed that the average number of normal follicles is highest at P1 41,33 ± 32,51; followed by P2 20,00 ± 16,09 , and P3 15,66 ± 10,50. It was concluded that  the ovarian tissue was exposed with DMSO 10% was able to maintain of the normal follicle than DMSO 20% and 30% although statistical test results showed no significant difference between group (P>0,05).

Suspect leptospirosis pada anjing lokal mix

prasetyo, dodik ( Faculty of Veterinary Medicine, Brawijaya University ) , Pamungkas, Khoirin Nisa’ Irdiani Nanda ( Faculty of Veterinary Medicine, Brawijaya University )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Anjing jenis lokal mix berumur 3 tahun dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Brawijaya dengan kondisi lemas, mukosa kuning. Pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa anjing bernama chika mengalami lethargic, mukosa dan konjunctiva tampak ikterus suhu rendah 36°C, capillary refil test > 2 detik, dan mengalami dehidrasi. Hasil pemeriksaan radiografi menunjukan adanya hepatomegali dan pemeriksaan darah menunjukan kondisi anemia, serta neutrofil yang menunjukkan adanya infeksi bakteri. Pemeriksaan kimia darah menunjukan adanya gangguan pada hati. Diagnosis penyakit pasien ini adalah suspect leptospirosis. Terapi yang diberikan berupa antibiotik dan suplemen, namun pasien mengalami kematian setelah dilakukan perawatan selama 7 hari.

Prevalensi malposisi pada embrio itik lokal jawa barat yang ditetaskan dengan sudut dan frekuensi pemutaran berbeda

Widyastuti, Rini ( Universitas Padjadjaran ) , Garnida, Dani ( Laboratorium Unggas, Departemen Produksi ternak Universitas Padjajaran, Jatinangor ) , Kartana, Ade Riki ( Laboratorium Unggas, Departemen Produksi ternak Universitas Padjajaran, Jatinangor ) , Hiroyuki, Andi ( Departemen Ilmu Kedokteran Dasar, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Daya tetas telur itik selama proses penetasan dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya adalah pengaturan sudut dan frekuensi pemutaran pada mesin tetas. Sudut dan frekuensi pemutaran yang tepat akan memberikan suhu yang merata pada permukaan telur sehingga embrio itik dapat berkembang secara sempurna, namun ketidaksesuaian sudut dan frekuensi pemutaran akan mengakibatkan malposisi yang berakibat pada rendahnya daya tetas telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek sudut dan frekuensi pemutaran terhadap posisi embrio itik selama minggu terakhir massa inkubasi pada itik lokal jawa barat. Sampel yang digunakan adalah 30 ekor butir telur fertile dari itik lokal yang dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan berdasarkan pada pengaturan sudut (SP) dan frekuensi pemutaran (FP) per hari. Kelompok T1; SP 45°, FP 8 kali, kelompok T2: SP 45°, FP 24 kali, Kelompok T3: SP 90° dengan FP 8 kali; Kelompok T4: SP 90°, FP 8 kali;kelompok T5: SP 180°, FP 8kali dan kelompok T6 : SP 180° FP 24 kali. Hasil meniunjukan bahwa terjadi malposisi pada kelompok perlakuanT1 dan T2, pesentase malposis tertinggi pada kelompok perlakuan T1 apabila dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya (67,33%). Kejadian malposisi embrio itik dapat dikurangi dengan meningkatkan sudut dan frekuensi pemutaran. Pada T2 malposisi embrio turun menjadi 33,67% dan pada kelompok T3, T4,T5 dan T6 tidak ditemukan kejadian malposisi.  Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa untuk mengurangi kejadian malposisi dapat diminimalisir dengan meningkatkan sudut dan frekuensi pemutaran selama masa inkubasi dalam mesin tetas embrio.

Palatabilitas pakan ternak ruminansia berimbuhan antelmintika

Winarso, Aji ( Universitas Nusa Cendana ) , Novian, Dede Rival ( Universitas Nusa Cendana ) , Djungu, Dewi Fesbayati Lestari ( Universitas Nusa Cendana )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kendala-kendala dalam pengobatan ternak seperti yang telah disebutkan dapat memboroskan waktu, tenaga, obat-obatan, dan mungkin berisiko bagi keselamatan. Administrasi obat yang kurang sempurna juga berisiko membuat pengobatan di bawah dosis efektif (under dose) sehingga memicu resistensi. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengobatan ternak, maka perlu dilakukan inovasi dalam sediaan obat menjadi sediaan pakan berimbuhan. Dengan demikian administrasi obat dilakukan secara voluntary per oral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui palatabilitas pakan berimbuhan berupa biskuit dengan beberapa golongan antelmintika yaitu albendazole, piperazine citrate dan levamisole. Biskuit dasar dibuat dari bahan dedak gandum yang direkatkan dengan bubur kanji dan maizena. Biskuit pakan berimbuhan dijemur dibawah terik matahari selama dua hari dan diberikan kepada hewan coba sesuai dosis anjuran. Sediaan biskuit dirancang untuk dosis pemberian 1 biskuit per 20 kg BB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencampuran antelmintik kepada pakan berupa biskuit dedak gandum menghasilkan pakan berimbuhan memiliki palatabilitas yang baik untuk ketiga antelmintika yaitu albendazole, piperazine citrate, dan levamisole.

Infeksi Heterodoxus spiniger pada Canis lupus familiaris

Kristianty, Tri Ayu ( Klinik Hewan My Vets Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten ) , Ichsanniyati, Zulfa ( Klinik Hewan My Vets Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten ) , Arifah, Sukmasari ( Klinik Hewan My Vets Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Seekor anjing domestik (Canis lupus familiaris) liar didiagnosa terinfeksi kutu pengunyah Heterodoxus spiniger di Klinik hewan My Vets Bumi Serpong Damai. Heterodoxus spiniger merupakan kutu pengunyah yang menginfeksi anjing domestik (Canis lupus familiaris), ras anjing lain, dan hewan marsupialia. Kutu ini juga merupakan inang antara dari cacing pita Dipylidium caninum dan filaria cacing gilig Dipetalonema reconditum. Studi kasus ini akan membahas tentang tata cara pendiagnosaan dan penanganan terhadap infeksi Heterodoxus spiniger pada Canis lupus familiaris. Diagnosa dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan penegakan diagnosa dengan pemeriksaan mikroskopis teknik trichogram pada contoh kutu. Pengobatan terhadap kutu ini dilakukan menggunakan kombinasi flumethryn dan ivermectin efektif hingga 7 hari.

Kecacingan pada kucing di Klinik Star Vet Bogor

Muriana, Alif Nur Muhamad ( Program Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Ridwan, Yusuf ( Divisi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Tiuria, Risa ( Divisi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Akbari, Rizal Arifin ( Klinik Star Vet Ciomas, Bogor Indonesia )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Helminthiasis adalah salah satu penyakit yang perlu diperhatikan pada kucing karena tidak menimbulkan gejala klinis yang serius, kecuali pada infeksi berat dan kronis. Penelitian ini bertujuan mempelajari kejadian kecacingan pada kucing di klinik hewan Starvet Bogor. Data sekunder didapat dari rekam medis periode 2016-2018 dengan total kasus yang ditangani berjumlah 2 535. Total kasus yang diduga kecacingan pada kucing sebesar 49 kasus. Kasus kucing yang positif kecacingan sebesar 43 kasus dan negatif sebesar 6 kasus. Kucing dapat terinfeksi lebih dari satu jenis cacing parasit pada satu waktu yang sama. Jenis cacing parasit yang berhasil diidentifikasi adalah hookworm sebesar 14 dari 27 kasus, Toxocara sp sebesar 11 dari 27 kasus, dan Dipylidium sp sebesar 2 dari 27 kasus. Antelmintika yang banyak digunakan untuk mengobati kasus kecacingan pada kucing memiliki zat aktif praziquantel dan pirantel pamoat.

Infeksi Anisakid pada lumba-lumba hidung botol indo-pasifik (Tursiops aduncus) di situs konservasi lumba-lumba, Indonesia

Salmah, Ismah Atika ( Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Tiuria, Risa ( Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Setiyono, Agus ( Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Dewi, Tri Isyani Tungga ( Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Institut Pertanian Bogor )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penyakit parasit dapat mempengaruhi kesehatan lumba-lumba yang dipelihara di konservasi. Informasi berkaitan dengan jenis parasit yang menginfeksi lumba-lumba di konservasi masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi parasit lumba-lumba hidung botol indo-pasifik (Tursiops aduncus) di situs konservasi lumba-lumba, Indonesia. Sampel feses diambil secara langsung dari rektum menggunakan rubber catheter. Sampel feses dilakukan pemeriksaan dengan metode pengapungan sederhana, filtrasi dan sedimentasi, serta metode Baermann. Hasil dari pemeriksaan sampel feses menunjukkan satu dari tiga lumba-lumba hidung botol indo-pasifik (Tursiops aduncus) terinfeksi Anisakid. Hasil tersebut menunjukkan perlunya dilakukan pengendalian parasit di situs konservasi lumba-lumba.

Tracheotomy pada Anjing American Pit Bull Terrier yang mengalami Vulnus Morsum

Chrisnanta, Kenan Wisnu ( Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Fitri, Arni Diana ( Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan , Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Vulnus morsum atau luka akibat gigitan hewan pada regio cranium dan cervic di anjing trah medium dan besar sering terjadi akibat perkelahian. Apabila tidak segera dilakukan penanganan dapat berakibat fatal. Tulisan ini melaporkan kasus luka di leher seekor anjing American Pit Bull Terrier akibat perkelahian dengan anjing lain sejenis. Luka akibat gigitan tersebut sangat parah, muskulus-muskulus di leher terkoyak, terjadi perdarahan, bahkan sampai mengakibatkan tracheal rupture. Penangan dilakukan dengan ligasi pembuluh darah yang mengalami perdarahan, tracheotomy, serta penjahitan luka-luka yang terbuka. Perkembangan kasus tidak dapat teramati sampai akhir, karena anjing dibawa pulang atas keinginan pemilik dua hari setelah operasi.

Fiksasi fraktur kominutif os femur menggunakan intramedullary pin dan wire pada kucing domestik (Felis domestica)

Erwin, . ( Laboratory of Clinic and Surgery Faculty of Veterinary Medicine Syiah Kuala University Banda Aceh, Indonesia ) , Rusli, . ( Laboratory of Clinic and Surgery Faculty of Veterinary Medicine Syiah Kuala University Banda Aceh, Indonesia ) , Etriwati, . ( Laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ) , Imanda, Dirga Rizki ( Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ) , Fadli, Hanif ( Rumah Sakit Hewan Provinsi Sumatra Barat, Padang )

ARSHI Veterinary Letters Vol 2, No 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kucing lokal jantan, berusia 3,5 tahun, berat badan 3,3 kg dengan keluhan berjalan pincang akibat tertabrak kendaraan bermotor. Pemeriksaan fisik dilakukan termasuk pemeriksaan saraf dan ortopedik yang menunjukkan gangguan pada ekstremitas posterior. Hasil pemeriksaan x-ray dengan posisi dorsal ventral (DV) terlihat fraktur bagian diaphysis os femur dekstra berbentuk kominutif. Tindakan bedah dilakukan secara steril dan aseptis untuk pemasangan kombinasi intramedullary pin (Ø 4 mm) dan wire. Satu minggu setelah tindakan bedah, kucing sudah mampu menggerakkan ekstremitas dekstra posterior dan menunjukkan perkembangan yang baik. Metode penanganan pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa kombinasi intramedullary pin dengan wire dapat digunakan sebagai fiksasi internal fraktur kominutif os femur dengan tingkat stabilisasi kedua fragmen fraktur sangat baik.