cover
Filter by Year
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 14129507     EISSN : 25276778
AL-BANJARI merupakan Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman yang diterbitkan oleh Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin sebagai media penuangan dan pengkajian karya ilmiah dalam bidang studi Islam. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun (Januari dan Juli)
Articles
155
Articles
ALTERNATIF MENANGANI INDIVIDU GELANDANGAN DAN BERISIKO BERSUMBERKAN AL-QURAN DAN HADIS

Mohamed, Rafiza, Mat Nong, Nor Faridah, Awang, Jaffary, Long, Ahmad Sunawari, Ab Rahman, Zaizul

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Environment, economy, social relations and lack of religious appreciation can expose individuals to problematic risks. The appreciation of religious values should be based on the Quranic and Hadith approach. The writing is aimed at examining homeless and risk groups to identify the Quran and Hadith Manhaj as an alternative to their social guidance. This writing is qualitative using content analysis techniques. Thus, manhaj 'al wisdom ' and'al din al nasihah 'are seen as one of the practical guidance to be presented. Therefore, this paper will discuss the Quranic and Hadith approaches to address the problem of homelessness and risk group by focusing on the 'al wisdom ' and 'al din al nasihah '. The application of Quranic and Hadith based is seen to be very significant in addressing individual and group issues. The outcome of the discussion suggests that alternatives suggested by Islam were recognized and significant for troubled individuals especially homeless and risk groups. Persekitaran, ekonomi, hubungan sosial dan kekurangan penghayatan agama boleh mendedahkan individu kepada risiko bermasalah. Aspek penghayatan nilai agama perlu diterapkan berasaskan pendekatan al-Quran dan Hadis. Penulisan ini bertujuan meneliti kelompok gelandangan dan kelompok yang berisiko seterusnya mengenalpasti manhaj al-Quran dan Hadis sebagai alternatif bimbingan sosial kepada mereka. Penulisan ini berbentuk kualitatif yang menggunakan teknik analisis kandungan. Justeru, manhaj ‘al hikmah’ dan ‘al din al nasihah’ dilihat sebagai salah satu bimbingan yang praktikal untuk diketengahkan. Oleh itu, penulisan ini akan membincangkan tentang pendekatan al-Quran dan Hadith bagi menangani permasalahan gelandangan dan  berisiko dengan memfokuskan kepada kaedah ‘al hikmah’ dan ‘al din al nasihah’. Penerapan yang berasaskan al-Quran dan Hadis dilihat sangat signifikan dalam menangani permasalahan individu serta kelompok tersebut. Hasil perbincangan menunjukkan bahawa alternatif yang dianjurkan oleh Islam ternyata diiktiraf dan signifikan dengan individu yang bermasalah terutamanya gelandangan dan individu berisiko.

SIRAH DALAM MENEGAK PERUBAHAN SOSIAL MENGIKUT PANDANGAN SYEIKH SAID RAMADAN AL-BUTI

Abu Bakar, Nurul Salsabila, Ahmad, Mohd Nazri

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The life of  Prophet Muhammad/ Sirah Rasullullah, SAW, (peace and blessings of Allah be upon him) is one of the written works of scholars to be featured as having played a major role in developing da'wah and Islamic Shari'ahs around the world from the past. The bond between Moslems and the prophet is strong so the Moslems can use sirah as a reference to strengthen faith, morals, foster the struggle of Islam and encourage the Muslim to hold on to the truth.  This study will highlight the role of the sirah in strengthening the social aspect of society and this will be seen based on the views of Sheikh Ramadan al-Buti. Content analysis is  used to analyze Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah. The data was analysed descriptively and explanatory. The findings show that the need for a sirah approach in the social aspect is high for the good of  social aspect itself. However, Syeikh Ramadan al-Buti has opened the opportunity so that the aspects of the sirah is applied to the social change of the Islamic society from time to time. The implications of the study show that the Prophet's sirah/life has succeeded in forming a good Islamic Government over the history of Western civilization. Sirah Rasulullah SAW merupakan salah satu karya penulisan ulama perlu diketengahkan kerana telah memainkan peranan yang besar dalam mengembangkan dakwah dan syariat Islam diseluruh dunia sejak dahulu lagi. Mempelajari sirah Nabi ini bukanlah semata-mata untuk mengetahui peristiwa menarik dan aneh yang berlaku di zaman Nabi SAW.Pengkajian sirah ini juga bukan sekadar ingin mengetahui peristiwa-peristiwa yang telah melakar sejarah sebagaimana kajian-kajian sejarah yang lain sebagai contoh sejarah hidup seorang khalifah atau sejarah tamadun yang silam. Sirah juga bukanlah sekadar satu kisah yang dibaca pada hari keputeraan baginda SAW sahaja. Apa yang lebih besar sebenarnya adalah ikatan seseorang Muslim dengan Rasulnya sehinggakan pada akhirnya Muslim itu berjaya menjadikan sirah sebagai sesuatu yang dapat menambahkan iman, memperelok akhlak, menyemarakkan perjuangan Islam serta dapat mendorong Muslim itu untuk terus berpegang dengan kebenaran dan seterusnya istiqamah kepadanya. Kajian ini akan mengetengahkan peranan sirah dalam mengukuhkan aspek sosial masyarakat dan perkara ini akan dilihat berdasarkan kepada pandangan Syeikh Ramadan al-Buti. Kaedah analisis kandungan akan digunakan dalam mengkaji kitab Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah bagi mendapatkan data. Data tersebut akan dianalisis secara deskriptif dan eksplanatori. Dapatan kajian menunjukkan bahawa keperluan pendekatan sirah dalam aspek sosial adalah tinggi bagi membentuk aspek sosial yang baik itu sendiri. Walau bagaimanapun, Syeikh Ramadan al-Buti telah membuka ruang sepenuhnya supaya aspek sirah diaplikasikan kedalam perubahan sosial masyarakat islam dari masa ke semasa. Implikasi kajian menunjukkan bahawa sirah Rasulullah telah berjaya membentuk satu Kerajaan Islam yang baik berbanding sejarah tamadun Barat yang musnah ekoran tiada sisa-sisa kemanusiaan yang dihidupkan.

STRATEGI PSIKOLOGI MEREKRUT PEMIKIRAN MUSLIM DALAM MAJALAH DABIQ

Che Zawawi, Noor Izatie, Yaakob, Zul?Azmi, Abdul Rahman, Nur Farhana

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The emergence of more propaganda magazine because of propagandas or strategies development to spread the ideology of Islamic extremist groups.Dabiq magazines appear as a result of the development of the propagandas of militan Islamic State (IS), which has its own narratives to spread its ideology and attrack people around the world to join their jihad. This paper focuses on the narratives of psychological strategies by IS contained in the Dabiq magazine in recruiting people’s mind to join the Khilafah.Munculnya lebih banyak majalah propaganda karena propaganda atau pengembangan strategi untuk menyebarkan ideologi kelompok-kelompok ekstremis Islam. Majalah-majalah DMAB muncul sebagai hasil pengembangan propaganda militan Negara Islam (IS), yang memiliki narasi sendiri untuk menyebarkan ideologinya. dan attrack orang-orang di seluruh dunia untuk bergabung dengan jihad mereka. Makalah ini berfokus pada narasi strategi psikologis oleh IS yang terdapat dalam majalah Dabiq dalam merekrut pikiran orang untuk bergabung dengan Khilafah.

MEMBACA FENOMENA ZIARAH WALI DI INDONESIA: MEMAHAMI TRADISI TABARRUK DAN TAWASSUL

Asmaran, Asmaran

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pilgrimage, tabarruk (seeking blessings) and tawassul (mediation) are three interrelated activities. A person who does such journey usually aims for the blessing of the Islamic scholars or the saints whose grave to be visited. This article analysed the phenomenon of Pilgrimage in Indonesia, especially in South Kalimantan.  Applying theological-normative approach, this study is expected to help the reader understand which activities of tawassul are allowed and which are not. Pilgrimage was once prohibited by Prophet Muhammad SAW, but, then allowed due to the reason that Moslems have possessed stronger faith.  Tabarruk and tawassul are somewhat prohibited. Based on the existed arguments, Tabarruk and tawassul is allowed in the sense that seeking blessings and meditating is on the virtues of the saints who have the privilege (karamah) from Allah SWT and believe that the will and consent is only from Allah SWT.Ziarah kubur, tabarruk (mencari berkah) dan tawassul (bermediasi) adalah tiga kegiatan yang saling berhubungan. Ketika seseorang berziarah kadang-kadang tujuannya adalah mencari berkah (tabarruk) sekaligus bermediasi (tawassul) dengan perantaraan berkah ulama atau wali yang berkubur di makam yang diziarahi. Tulisan ini bermaksud menganalisis fenomena ziarah wali yang marak di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan. Dengan pendekatan teologis-normatif, kajian ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami mana aktivitas tawassul yang boleh dilakukan dan mana yang terlarang dengan alasan yang lebih kuat, berdasar dalil yang saheh atau mu’tabar. Ziarah awalnya pernah dilarang Nabi saw, kemudian dibolehkan karena orang Islam sudah kuat imannya. Tabarruk dan tawassul memang ada yang dilarang. Berdasarkan dalil-dalil yang ada, mencari berkah dan bermediasi pada prinsipnya dibolehkan asal jangan sampai mensyarikatkan Allah Swt, dalam arti ketika mencari berkah dan bermediasi kepada orang-orang saleh yang mendapat keistimewaan (karamah) dari Allah Swt bukan mereka itu yang mampu memberi mannfaat atau sebaliknya tetapi semuanya atas kekendak dan izin Allah Swt semata.

FATWA SEBAGAI MEDIUM COUNTER-TERRORISME

Ramli, Mohd Anuar Bin, Abdul Rahim, Rahimin Affandi, Abdul Razak, Muhd Imran, Yusof Salleh, Muhammad Yusri, Hasan, Paiz, Zulkepli, Muhammad Izzul Syahmi

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Fatwa has proven to play a significant role in the history of Islamic law. From the legal view of a personal matter until it is formalized, the role of fatwa is crucial to the community as it has either positive or negative impacts.There is no exception to religious extremism, the fatwa of certain figures has influenced individual psychology and beliefs or groups committed to acts of terrorism. As for the opposing parties, various fatwa have also been issued to deal with such extremism. Based on these facts, this study examines the weakness of fatwa as a medium of counter religious terrorism. By using a full qualitative methodology, documentation data related to this study are analyzed inductively, deductively and comparative. The findings show that extremist groups have used fatwa methods to develop their ideology and influence. In addition, various parties including Western scholars have realized the importance of fatwas as counter-ideological tools, but the study found that there is still room for fatwa improvement such as more detailed ideological justification, consistency in fatwa and even justice in its contents. Fatwa telah terbukti memainkan peran penting dalam sejarah hukum Islam. Dari pandangan hukum masalah pribadi sampai diformalkan, peran fatwa sangat penting bagi masyarakat karena memiliki dampak positif atau negatif. Tidak ada pengecualian untuk ekstremisme agama, fatwa tokoh-tokoh tertentu telah mempengaruhi psikologi dan keyakinan individu. atau kelompok-kelompok yang berkomitmen terhadap tindakan terorisme. Sedangkan untuk partai-partai oposisi, berbagai fatwa juga telah dikeluarkan untuk menghadapi ekstremisme semacam itu. Berdasarkan fakta-fakta ini, penelitian ini menguji kelemahan fatwa sebagai media kontra terorisme agama. Dengan menggunakan metodologi kualitatif penuh, data dokumentasi yang terkait dengan tema penelitian dianalisis secara induktif, deduktif dan komparatif. Temuan menunjukkan bahwa kelompok ekstrimis telah menggunakan metode fatwa untuk mengembangkan ideologi dan pengaruh mereka. Selain itu, berbagai pihak termasuk sarjana Barat telah menyadari pentingnya fatwa sebagai alat kontra-ideologi, tetapi studi ini menemukan bahwa masih ada ruang untuk peningkatan fatwa seperti pembenaran ideologis yang lebih rinci, konsistensi dalam fatwa dan bahkan keadilan dalam isinya.

ANALISIS MODEL PENDALILAN GOLONGAN HABIB: AMALAN TAWASSUL DENGAN ORANG MATI DAN TAWASSUL DENGAN PERKATAAN MADAD

Amiruddin, Nur Adilah, Othman, Fadlan Mohd

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Discussions on Tawassul have been done by scholars since antiquity. However, the diversity of beliefs that have emerged lately including the existence of the 'Selawat Perdana' and ‘Malam Cinta Rasul’ phenomenon that was brought by Habib group causing discussion on this issue to become warm again. Among the expressions introduced by the Habib group in their occasion were al-Madad Ya Rasulullahwhich in that expression includes the practice of Tawassul with the dead and Tawassul with the word Madad.What is more alarming is that the Islamic community is so easy to accept the practices introduced by Habib group because of their position as the descendants of the Prophet. Hence, this paper is produced to re-evaluate the arguments submitted by the Habib group in defending the practice of Tawassul with the dead and with the word of Madad. This study is a qualitative study using case study method where the data collection process is done through content analysis and internet studies. Meanwhile, the data analysis process is done through descriptive, thematic and comparative approaches. The findings show that the arguments posed by some of the Habib's groups against these two issues were not strong and thus the necessity of the practices was also questioned. The results of this study have important implications for the Muslim community to evaluate whether the Tawassul practices highlighted by the Habibians are in accordance with the law or otherwise.Pembicaraan tentang masalah Tawassul telah dilakukan oleh para ulama sejak jaman dahulu. Namun, keragaman keyakinan yang muncul akhir-akhir ini termasuk keberadaan fenomena 'Selawat Perdana' dan 'Malam Cinta Rasul' yang dibawa oleh kelompok Habib menyebabkan diskusi tentang masalah ini menjadi hangat lagi. Di antara ekspresi yang diperkenalkan oleh kelompok Habib dalam kesempatan mereka adalah al-Madad Ya Rasulullah yang dalam ungkapan itu termasuk praktek Tawassul dengan orang mati dan Tawassul dengan kata Madad. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa komunitas Islam begitu mudah untuk menerima praktik yang diperkenalkan oleh kelompok Habib karena posisinya sebagai keturunan Nabi. Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk mengevaluasi kembali argumen yang diajukan oleh kelompok Habib dalam membela praktik Tawassul dengan orang mati dan dengan kata Madad. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus dimana proses pengumpulan data dilakukan melalui analisis isi dan studi internet. Sementara itu, proses analisis data dilakukan melalui pendekatan deskriptif, tematik dan komparatif. Temuan menunjukkan bahwa argumen yang diajukan oleh beberapa kelompok Habib terhadap dua masalah ini tidak kuat dan dengan demikian perlunya praktik juga dipertanyakan. Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi komunitas Muslim untuk mengevaluasi apakah praktik Tawassul yang disorot oleh Habibian sesuai dengan hukum atau sebaliknya.

PENGURUSAN STRES MELALUI PENDEKATAN ISTIGHATHAH

Omar, Nur Adilah Adilah, Wan Abdullah, Wan Nasyrudin

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Every individual will not escape stress, and each individual face different stress situations because stress is closely related to lifestyles. From a religious perspective, stress is a test from God to mankind. Therefore, religion plays an important role in addressing various issues and questions of human life, especially those related to stress problems. There are various approaches in religion that can be used to treat stress disorders, including the approach of faith, worship and morals. This study identified the stress management with the approach of worship i.e Istighathah worship. The method used in this study is qualitative research method which based on literature reviews from books, journals, theses, al-Quran and hadiths that serve as informational analysis purposes. The findings suggest that the methods may be used to treat stress with Istighathah approach is to perform dzikr,  prayers, reading al-Quran and istighfar.  These methods are expected to be able to provide calm and peace of mind.Setiap individu tidak akan terlepas daripada mengalami stres, dan setiap individu itu menghadapi situasi stres yang berbeza kerana ianya berkait rapat dengan gaya hidup masing-masing.  Dari perspektif agama stres adalah bentuk ujian dari Allah terhadap hambaNya. Oleh sebab itu agama memainkan peranan penting dalam menangani pelbagai permasalahan dan persoalan hidup manusia terutamanya yang berkaitan dengan masalah stres. Ini kerana agama berkait rapat dengan kesihatan mental dan emosi. Terdapat pelbagai pendekatan dalam agama yang boleh digunakan bagi merawat penyakit stres, antaranya ialah dengan pendekatan iman, ibadah dan akhlak.  Oleh yang demikian kajian ini dijalankan adalah untuk mengenal pasti pengurusan stres dengan pendekatan ibadah iaitu ibadah Istighathah. Metode yang digunakan dalam kajian ini ialah kaedah penyelidikan kualitatif berdasarkan kajian lepas dan analisis sumber primer seperti buku, jurnal, tesis, al –Quran dan hadis digunakan bagi tujuan analisis maklumat. Hasil kajian mendapati pendekatan yang boleh digunakan untuk merawat stres dengan pendekatan Istighathah ialah dengan melaksanakan zikir, doa, solat, baca al-Quran dan istighfar, ianya mampu memberi ketenangan dan ketenteraman hati. Diharapkan  pendekatan tersebut sesuai di gunakan oleh masyarakat Islam dalam merawat stres.

MODEL EVALUASI PENDIDIKAN BERBASIS PROSES MENURUT HADITS

Zainab, Nurul

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hadith is the second source of knowledge for Muslims after the Quran. The proclamation of a hadith needs to be extracted, to provide power for the development of science because it really comes from the words, actions and taqrir of Prophet Muhammad SAW. In the context of education, there are many hadiths that can serve as the basis of developing the subject of educational evaluation. Based on the study of hadith contained in this article, it is found a hadith history at-Tirmidhi which explains the virtue of honesty and get away from the nature of lies. In addition to the results of research, sanad and matan hadith,  this hadith is sahih because the aspect of the content of the hadith does not conflict with the Quran and other sahih hadiths. In this article it is also found the meaning of hadith and its implications for the development of educational evaluation that can provide treasures for educators in carrying out the assessment process in learning.Hadis merupakan sumber pengetahuan kedua bagi umat muslim setelah al-Qur’an, kehujjahan sebuah hadis perlu digali sehingga memberikan kekuatan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena memang benar-benar berasal dari ucapan, tindakan maupun taqrir Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks pendidikan khususnya evaluasi banyak hadis yang dijadikan sumber landasan pengembangan evaluasi. Berdasarkan penelitian hadis yang ada di dalam artikel ini, didapati sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi yang menjelaskan keutamaan kejujuran dan menjauhi sifat kebohongan. Hadits ini bernilai shohih karena secara jalur sanad tidak ada yang terputus dan dari aspek isi hadits tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits-hadits shohih lainnya. Selain hasil penelitian sanad dan matan hadits. Di dalam artikel ini juga didapati makna hadis serta implikasinya terhadap pengembangan evaluasi pendidikan yang dapat memberikan khazanah bagi pendidik dalam melaksanakan proses penilaian dalam pembelajaran.

PARALLEL FRAMEWORK OF MUḤAMMAD AND MOSESS STORY: AN ANALYSIS OF THE NARRATIVES OF ḤALĪMAH AL-SAʿDIYYAH

Azmi, Ahmad Sanusi

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kajian modern tentang asal-usul sīrah Nabawiyah telah menelusuri dan menemukan keberadaan pengaruh kitab suci sebelumnya dan unsur-unsurnya dalam narasi sīrah. Kisah tentang Halimah, sang ibu susuan, menurut Raven, menunjukkan kejadian paralel dengan kematangan Yesus ketika bayi, dalam Injil. Selain itu, para sarjana Muslim seperti Ibn Hisham ditemukan konsisten dalam membuat perbandingan paralel antara Muhammad dan Musa dalam karyanya. Tulisan ini memfokuskan pada kehidupan awal yang terfokus pada periode Ḥalīmah al-Sadiyyah dengan menganalisis penggunaan referensi Al-Quran dalam narasi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode pendekatan kritis dan analisis tekstual untuk membaca cerita. Kajian ini menemukan proposisi bahwa ada dua kemungkinan alasan yang mengarahkan Ibn Hisham menambahkan ayat 28:12 dari Al-Quran sebagai referensi atas catatan waktu Muhammad sebagai bayi yang menyusu. Isu pertama ketidakjelasan digital dalam narasi Ibn Isāq. Dan yang kedua adalah memberikan kepercayaan kepada kisah kedua nabi, Muhammad dan Musa.Modern studies of the origin of sīrah nabawiyyah have traced and suggested the existence of influence of previous scriptures and their elements within the sīrah narrative. The extraordinary speed and marks of physical maturity in Prophet Muḥammad’s wet-nurse period with Halimah, which, according to Raven, indicates a parallel occurrence with Jesus precocity in the Gospels of the Infancy. Besides, Muslim scholars such as Ibn Hishām was found to consistently make parallel comparison between Muḥammad and Moses in his work. This study aims to explore the narratives of Prophet Muḥammad’s early life, with special focus to his period with Ḥalīmah al-Sa’diyyah and analyse the use of Quranic reference in the narrative. The study is qualitative in nature in which the researcher employed critical and textual analysis to examine the story. The present study in its finding proposes that there are two possible reasons which lead Ibn Hishām to adduce verse 28:12 of the Quran as his reference to the account of Muḥammad’s time as a suckling infant. The first is to elucidate lexical obscurity in the narration of Ibn Isḥāq. And the second is to give credence to the similarity between the accounts of two prophets, Muḥammad and Moses.

PENGARUH ISLAM DAN KEBUDAYAAN MELAYU TERHADAP KESENIAN MADIHIN MASYARAKAT BANJAR

Akmal, Atqo

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Banjaresse Culture is a transformation and transculturation of the pre-Islamic religious beliefs with post-Islamization. The contact between the two cultures resulted in a new Banjar entity that strongly influenced by the values of Islam and Malay culture. In art, madihin emerges as the result of assimilation between Malay-Muslim and Banjar art cultures. Madihin has similarities to the oral literature of Malay, pantun and verse, but it is delivered in Banjaresse language, with rhymes that are not necessarily follow certain pattern (eg: must be a-a-a-a or a-b-a-b), no limitation for number of stanza, and not play a particular drama. The emergence of madihin is a transformation of qasida form which present to mark the presence of Islam in the archiplego. The use of tarbang as a musical instrument in madihin, similar to qasida with its rebana-drums. However, madihin is different from the qasida arts whose lyrics are the verses of the song. Madihin is likely an oral literature that has no pattern of regular rhyme and lyric, and not too concerned with the suitability of the lyrics, verse with the rhythm, as an important conformity in the music of qasida.Budaya masyarakat Banjar merupakan transformasi dan transkulturasi religiusitas kepercayaan pra-Islam dengan paska islamisasi. Pertemuan keduanya menghasilkan suatu entitas Banjar baru yang dipengaruhi kuat oleh nilai dan ajaran Islam serta kebudayaan melayu. Dalam bidang kesenian, sastra lisan madihin muncul sebagai hasil dari asimilasi antara kebudayaan Melayu-Islam dan Banjar. Madihin memiliki kesamaan dengan sastra lisan melayu sejenis pantun dan syair, namun disampaikan dalam bahasa Banjar, dengan rima yang tidak mesti teratur (misalnya harus: a-a-a-a atau a-b-a-b), jumlah bait yang tidak baku, dan tidak melakonkan suatu drama tertentu. Kemunculan madihin merupakan transformasi bentuk qasida yang hadir ke nusantara saat berkembangnya Islam. Penggunaan tarbang sebagai instrumen musik pengiring dalam pertunjukkan madihin, mirip dengan kesenian qasida dengan gendang rebana-nya. Namun madihin berbeda dengan kesenian qasida yang liriknya merupakan bait-bait lagu, madihin merupakan penyampaian sastra lisan sejenis pantun dan syair yang dilagukan, serta tidak terlalu mementingkan kesesuaian bait lirik dengan irama, satu kesesuaian yang penting dalam musik qasida.