cover
Filter by Year
Jurnal Pemikiran Keislaman
Jurnal ini dikelola dan diterbitkan oleh Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri . Jurnal ini memuat kajian-kajian Kebudayaan dan Pemikiran keislaman yang meliputi pendidikan Islam, syarî‘ah, pemikiran Islam, Dakwah Islam, ekonomi, Psikologi Islam dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Januari dan September. E-journal ini merupakan versi online dari edisi cetak Tribakti.
Articles
229
Articles
PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI MADRASAH ALIYAH

Makhromi, Makhromi

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini dibingkai oleh persoalan kepemimpinan di lembaga pendidikan Islam yang fokusnya berkaitan dengan peran kepemimpinan. Dua pertanyaan pokok yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah peran kepemimpinan apa yang tampak pada perilaku kepala madrasah serta apakah peran kepemimpinan tersebut menjadi unsur yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah yang bersangkutan. Penulis menetapkan MA Al-Mahrusiyah sebagai lokusnya dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peran kepemimpinan demokratis tampak lebih dominan sebagai kecenderungan perilaku kepala madrasah dan ternyata peran tersebut mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Madrasah Aliyah Al Mahrusiyah Lirboyo, Kota Kediri.

PENERAPAN BUDAYA RELIGIUS DI SD AL MAHRUSIYAH

Wasito, Wasito, Turmudi, Moh.

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini berusaha mendiskripsikan dan memaknai penerapan budaya religius di SD al Mahrusiyah. Hal ini karena krisis  moral  yang  melanda  bangsa  ini  nampaknya  menjadi  sebuah kegelisahan  bagi  semua  kalangan. Bagaimana  tidak dari  maraknya  kasus  korupsi yang  tidak pernah  surut  bahkan  mengalami  peningkatan  dari  waktu  ke  waktu. Di sisi  lain  krisis  ini menjadi  komplek dengan  berbagai  peristiwa  yang  cukup memilukan  seperti  tawuran  pelajar, penyalahgunaan  obat  terlarang, pergaulan bebas, aborsi, penganiayaan  yang  disertai  pembunuhan. Fenomena  ini sesungguhnya  sangat  berseberangan  dengan  suasana  keagamaan  dan  kepribadian bangsa  Indonesia. Jika  krisis  ini  dibiarkan  begitu  saja  dan  berlarut-larut  apalagi dianggap sesuatu  yang  biasa  maka  segala  kebejatan  moralitas  akan  menjadi budaya.  Sekecil  apapun krisis  moralitas  secara  tidak langung  akan dapat merapuhkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan, yaitu; 1). Bentuk-bentuk budaya religius di SD Al Mahrusiyah meliputi belajar baca tulis al-Qur`an dan tadarrus, pemakaian busana muslim, pelaksanaan shalat jamaah di sekolah, kegiatan madin, pembiasaan senyum, sapa dan salam, berperilaku sopan santun kepada semua warga sekolah, dan doa bersama, serta peringatan hari-hari besar agama Islam. 2). Model penerapan budaya religius di SD Al Mahrusiyah meliputi 4 (empat) model, yaitu: pertama model struktural (melalui kebijakan dan peraturan), kedua, model formal (menanamkan commitment dan dedikasi untuk menjalankan ajaran agama), ketiga, model mekanik (membangun dan membiasakan berperilaku sopan dan santun terhadap sesame), dan keempat, model organik (melalui internalisasi dan transformasi pengetahuan tentang ajaran agama yang bersumber pada al Quran dan Hadits).

PENANAMAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP ANAK

Nurfalah, Yasin

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Setiap anak mempunyai pembawaan berbeda dengan anak lain. Pembawaan itu merupakan cikal bakal dari karakteristik setiap individu. Pembawaan setiap anak juga akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungan sosial mereka karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Ini berarti, munculnya kenakalan pada anak dalam berbagai bentuk dan jenisnya bukan semata-mata kesalahan mereka, tapi juga salah satu dampak negatif dari sebuah lingkungan yang kurang edukatif. Karena ada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Artinya, pertumbuhan dan perkembangan anak secara jasmani dan rohani adalah tanggung jawab semua pihak yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tanpa kesesuaian dan kerjasama antar ketiga komponen itu, maka anak akan menjadi rentan terpengaruh dan kemudian terbawa oleh perilaku-perilaku yang dianggap menyimpang. Dalam konteks ini, sering kali yang menjadi sasaran kesalahan adalah anak, orang tua, dan dalam lingkup sekolah yang menjadi sasaran utama adalah mata pelajaran agama. Padahal, titik pijakan yang terpenting adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai islami dalam diri anak sejak dini dan dilakukan oleh semua elemen secara kooperatif dan memberikan keteladanan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Sehingga pengetahuan dan pemahaman akan nilai-nilai ajaran Islam dapat terwujud dalam bentuk perilaku.

TASAWUF DAN PROBLEM PSIKOLOGI MODERN

Imron, Ali

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Selain berbagai macam kemajuan dan kemudahan, modernitas juga melahirkan berbagai krisis sosial dan individual yang mencakup krisis identitas, legalitas, penetrasi, partisipasi, distribusi dan krisis moral yang seakan tak terpecahkan dalam kacamata pengetahuan Barat. Berbagai krisis tersebut berakar dari problem psikologis manusia modern yang pada saat tertentu berkembang menjadi sebuah krisis kolektif yang mewabah. Jika demikian, problem psikologi modern yang tak berkesudahan akan sangat berpeluang memberikan dampak negatif dalam kehidupan sosial. Di sini, tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu dalam khazanah keilmuan Islam yang fokus pada dimensi spiritual untuk menyeimbangkan aspek jasmani dan rohani manusia digunakan untuk mengatasi berbagai problematika tersebut. Pada akhirnya usaha ini turut memperkaya khazanah keilmuan yang merupakan salah satu integrasi antara ilmu psikologi dengan ilmu tasawuf, yaitu psikologi transpersonal. Melalui bantuan tasawuf, manusia modern diingatkan kembali bahwa hakikat manusia bukan hanya sebagai makhluk fisik, tetapi juga makhluk spiritual. Aspek spiritual inilah yang seringkali diabaikan manusia modern sehingga merasakan ketidakbermakaan dan kekosongan hidup.

IMPLEMENTASI PENELITIAN HADITS: KRITIK SANAD DAN MATAN HADITS

Makhfud, Makhfud

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hadits critic was very easy when Rasulullah was still alive.  Because the friends of Rasulullah directly could understand which one was true and not true by confirming to Rasulullah S.A.W. directly.  Confirmation system was the first critic toward hadits when Rasulullah was still alive . It did not mean that They suspected him  as liar  but They carefully kept the truth because Hadits is also the source of Islamic after al-Qur`an.  It could make their belief stronger in  implementing  the Hadits which They directly  got from Rasulullah S.W.A.  Some priests have decided that confirmation of Hadits in Rasulullah era was important as the birth of hadits critic science.

MEMAHAMI ISLAM DALAM PERSPEKTIF FILOSOFIS

Khoiruddin, M. Arif

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Memahami Islam melalui pendekatan filosofis dimaksudkan agar memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpai, menangkap hikmah, hakikat atau inti yang terkandung dalam ajaran Islam sehingga dalam melakukan amal ibadah tidak merasa hampa, kekeringan spiritual serta menimbulkan kebosanan dalam menjalankannya. Selain itu dapat meningkatkan sikap, penghayatan dan daya spiritualitas sehingga tidak terjebak dalam pemahaman agama yang sekedar formalistik dan tidak menemukan nilai-nilai didalamnya. Pendekatan filosofis diibaratkan sebagai pisau analisis untuk membedah Islam secara mendalam, integral dan komprehensif untuk melahirkan pemahaman dan pemikiran tentang Islam yang senantiasa relevan pada setiap waktu dan ruang atau shalih fi kulli zaman wal makan. Pentingnya pendekatan ini, pendekatan filosofis juga digunakan dalam memahami berbagai bidang lainnya selain agama. Misalnya filsafat hukum Islam, filsafat sejarah, filsafat kebudayaan, filsafat ekonomi, dan lain sebagainya. Meskipun secara teoretis memberikan harapan dan kesejukan, namun secara luas belum dapat dipahami dan diterima kecuali oleh sekelompok kecil saja, terutama bagi kaum tradisionalis formalistis yang cenderung memahami agama terbatas pada ketetapan melaksanakan aturan-aturan formalistik dari pengalaman agama.

EKSEKUTIF HYPER-PERFORMER: SEBUAH POTRET BUDAYA KERJA MANAJER KOSMOPOLIT

Zahara, Rifqiawati

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 2 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bekerja terasa dipastikan (terdeterministik seperti dalam alam yang dikuasai oleh suatu hukum objektif), tidak lagi seperti halnya di mana kemampuan seseorang diukur berdasarkan seseorang itu sendiri. Akan tetapi merupakan hasil paksaan dari kekuasaan luar yang asing yang tidak diketahui dari mana dan kemana tujuannya. Hal itu muncul sebagai suatu kesadaran uncontrollable, bahkan sebaliknya lepas dari kemauan dan perjalanan manusia. Sehingga manusia dipaksa menjalani urutan penahapan dan tingkatan perkembangan di bawah suatu perintah. Hal itu yang menggambarkan performa eksekutif profesional dewasa ini. Adanya tuntutan beban kerja yang menumpuk telah menciptakan peran eksekutif yang super sibuk. Muncul distorsi dalam hidup eksekutif yang disebabkan adanya suatu pola yang tidak sistemik dan proporsional. Terutama dalam menetapkan pola kerja sehingga muncul budaya eksekutif “gila kerja” (workaholic). Karena itu sebagai anti tesis workaholic muncul paradigma baru dengan melahirkan performa hyper-performer sebagai alternasi. Dari situ, seberapa jauh eksekutif hyper-performer tersebut dapat tercipta di lingkungan bisnis? Bagaimanakah konsteratif pola kerja eksekutif puncak dalam menempatkan secara tepat hyper-performance dan tidak terjebak pada pola workaholic. Maka tulisan ini berusaha untuk menjelajah konsep tersebut.

TANTANGAN MODERATISME PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DARI KONSERVATISME

Mukhlison, Moch.

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 2 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tantangan Moderatisme Pendidikan Agama Islam Dari  Konservatisme, bukan kajian baru sebagai usaha melihat wajah baru keislaman di Indonesia, terlebih pasca reformasi. Sebagian kalangan menilai perjalanan demokrasi yang belum tuntas dianggap sebagai ladang subur pertarungan ideologi di semua level masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Sikap negara pun dianggap menilai kebutuhan berdasarkan kepentingan politik semata, termasuk dalam skop kecil politik pengetahuan. Tulisan ini, menstudi politik pendidikan dalam konteks pertarungan ideologi moderatisme dan konservatisme dalam sekolah agama Islam. Studi dimulai melacak konteks kemunculan pendidikan Islam di Indonesia hingga saat ini. Metode yang digunakan, studi literasi berbasis dokumen ilmiah dan laporan hasil penelitian. Hasil studi ini, melihat pendidikan agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan berideologi moderatisme sedang mengalami serangan ideologi konservatisme dari pelbagai arah. Misalnya, materi dalam bahan-bahan ajar mata pelajaran agama seperti konsep jihad dengan doktrin amar makruf nahi munkar. Contoh lain adalah penjelasan tentang kerajaan Bani Umayyah atau Abbasiyah. Konteks yang diperlihatkan sistem pemerintahan khilafah (kepeminpinan tunggal). Sikap pemerintah yang mencerminkan demokrasi dihilangkan. Topik-topik seperti inilah yang sangat berpotensi dijadikan gerakan konservatisme untuk mengembangkan ideologinya.

Pendidikan Perempuan Perspektif Quraish Shihab Dalam Tafsir al Misbah

Firdaus, Dhomirotul, Arifin, Zaenal

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 2 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The focus of this article is to discuss how the conception of a womans position according to M. Quraish Shihab in his book "Tafsir al Misbah". The writing of this article is motivated by the fact that society today still positions women in a marginal position, despite the fact that many Moslems thinkers argue that women have the same dignity as men. And even among certain (urban) communities, women have become drivers of social, economic and political change. But understanding the Indonesian people (especially rural) still positions women in marginal positions. This study generate several conclusions, first, that womens education must be emphasized more on the principle of sharing in improving quality rather than competence to win and lose, continuously empowering, strengthening with religious material, and starting early. Second, according to M. Quraish Shihab womens education is oriented towards material (physical) and immaterial (mind and soul). And third, the paradigm and thought map of M. Quraish Shihab is a critique of the conservative and liberal paradigms, where education should free women from subordination and marginalization due to the discriminative ideology adopted by the people today, as a reflection of religious interpretations of the community against religious teachings, impressive concern for the issue of social injustice, lawsuit for gender discrimination, and social issues.   Fokus pada artikel ini adalah membahas tentang bagaimana konsepsi kedudukan perempuan menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya “Tafsir al Misbah”. Penulisan artikel ini dilatarbelakangi dengan fakta masyarakat saat ini yang masih memposisikan perempuan dalam posisi yang marginal, meskipun sebenarnya telah banyak pemikir muslim yang berpendapat bahwa perempuan memiliki martabat yang sama dengan kaum laki-laki. Dan bahkan di kalangan masyarakat tertentu (perkotaan), perempuan telah menjadi penggerak perubahan sosial, ekonomi dan politik. Namun mainstrem masyarakat Indonesia (khususnya pedesaan) masih memposisikan perempuan di posisi yang marginal. Studi ini menghasilkan beberapa kesimpulan, pertama, bahwa pendidikan perempuan harus lebih ditekankan pada prinsip saling berbagi dalam meningkatkan kualitas bukan kompetensi untuk menang dan kalah, kontinyu melakukan pemberdayaan, melakukan penguatan dengan materi agama, dan dimulai sejak dini. Kedua, menurut M. Quraish Shihab pendidikan perempuan diorientasi pada unsur material (jasmani) dan imaterial (akal dan jiwa). Dan Ketiga, peta paradigma dan pemikiran M. Quraish Shihab merupakan kritik terhadap paradigm konservatif dan liberal, di mana pendidikan seharusnya membebaskan kaum perempuan dari subordinasi dan marginalisasi akibat ideologi diskrimatif yang dianut masyarakat saat ini, sebagai cerminan dari tafsiran keagamaan masyarakat tehadap ajaran agama, mengesankan kepeduliannya terhadap persoalan ketidakadilan sosial, gugatan atas diskriminasi gender, dan persoalan sosial.

FIQH AL-BI’AH RAMAH LINGKUNGAN: KONSEP THAHARAH DAN NADHAFAH DALAM MEMBANGUN BUDAYA BERSIH

Jamaluddin, Jamaluddin

Jurnal Pemikiran Keislaman Vol 29 No 2 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Realitas sosial saat ini telah membuktikan adanya kerusakan lingkungan hidup yang sangat masif. Penanganannya secara teknik-intelektual sudah banyak diupayakan, tetapi secara moral-spiritual belum mendapatkan perhatian yang cukup serius. Oleh karena itu pemahaman masalah lingkungan hidup dan penanganannya harus diletakkan pada suatu fondasi moral yang kuat dengan cara menghimpun dan merangkai sejumlah prinsip. Prinsip nilai, prinsip norma, (baik sosial maupun norma susila), dan kepastian hukum yang bersumber dari ajaran agama dan konstitusional. Dalam rangka mengatasi krisis lingkungan hidup yang sekarang sedang melanda dunia tidak hanya persoalan teknis, ekonomi, politik, hukum dan sosial budaya semata, melainkan diperlukaan upaya penyelesaian dari berbagai perspektif, termasuk salah satunya adalah perspektif fiqh. Karena fiqh pada dasarnya merupakan “jembatan penghubung” antara etika (perilaku manusia) dan norma-norma hukum untuk kesalamatan alam semesta (ekosistem) di dunia ini.