cover
Contact Name
Dr. Ir. Lestari Ujianto, M.Sc.
Contact Email
ujianto@unram.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cropagro@unram.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy
Published by Universitas Mataram
ISSN : 19788223     EISSN : 26215748     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram yang memuat tulisan berupa hasil penelitian yang terkait dengan bidang budidaya tanaman, terbit enam bulan sekali. Redaksi menerima naskah dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro" : 10 Documents clear
SELEKSI KLON SEDERHANA SECARA SIMULTAN TERHADAP KETAHANAN PENYAKIT EMBUN UPAS DAN CEKAMAN KEKERINGAN PADA TANAMAN BAWANG MERAH KULTIVAR AMPENAN Sudika, I Wayan; Sutresna, I Wayan; Ngawit, Ketut; Wirajaswadi, Lalu; Lutfi, M.; Hipi2, Awaluddin
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemajuan seleksi klon sederhana secara simultan terhadap tingkat ketahanan penyakit embun upas dan hasil (umbi bibit dan umbi konsumsi) bawang merah kultivar Ampenan. Seleksi klon sederhana siklus pertama dilakukan terhadap penyakit embun upas kemudian diikuti dengan seleksi hasil pada cekaman kekeringan. Metode yang digunakan dalam pengujian kemajuan seleksi adalah metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap kelompok. Data dianalisis dengan analisis varian dan kemajuan seleksi diperoleh dari koefisien regresi linear antara sifat yang diamati dengan siklus seleksi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kemajuan seleksi klon selama dua siklus untuk intensitas penyakit embun upas, rata-rata sebesar -3,87 % pada pengamatan umur 28 hari dan -7,84 % untuk umur 42 hari per siklus keduanya bersifat linear yang nyata. Sedangkan kemajuan seleksi hasil umbi bibit sebesar 0,307 kg/plot dan hasil umbi konsumsi sebesar 0,702 kg/plot per siklus keduanya juga bersifat linear yang nyata. Daya hasil umbi bibit sebesar 1,541 kg/plot(12,842 t/ha) dan hasil umbi konsumsi 3,684 kg/plot (30,700 t/ha) untuk populasi hasil seleksi siklus kedua dan lebih besar dibandingkan dengan populasi awal, yaitu 0,928 kg/plot(7,733 t/ha) untuk hasil umbi bibit dan 2,161 kg/plot (18,008 t/ha) untuk hasil umbi konsumsi. ABSTARCT   This research aimed  to know the genetic advance of two cycles selection for downey mildew disease  resistance and germ bulb yield and consumer bulb yield of shallot cultivar Ampenan. One cycle of simple clone selection to improve resistant character of downey mildew and followed with selection of yield on drought condition. The methods employed of testing genetic advance were experimental  with randomized completely block design. The data were analyzed by analysis of variance and genetic advance  from coefficient regression linear between traits observed with cycles of selection. The results of this research show the genetic advance  of the two cycles selection to intensity of downey mildew were -3.87 % on 28 days and -7.84 % on 42 days per cycle with  linear significant difference. Genetic advance of germ bulb yield was 0.307 kg/plot and consumer bulb yield, 0.702 kg/plot per cycle and linear significant difference. Potential germ bulb yield was 1.541 kg/plot (12.842 t/ha) and consumer bulb yield was 3.684 kg/plot (30.700 t/ha) for population of the second cycles was bigger compared with based population, which was 0.928 kg/plot (7.733 t/ha) for germ bulb yield and 2.161 kg/plot (18.008 t/ha) for consumer bulb yield.
PRE-HARVEST MANAGEMENT WITH FRUIT RESISTANCE INDUCERS DECREASED ANTHRACNOSE DISEASE IN MANGO ., Zainuri
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Mango industry has developed significantly worldwide in recent years and there is increasing demand for fresh mangoes (Mangifera indica L.). However, postharvest disease anthracnose, caused by Colletotrichum gloeosporioides, causes major losses. The objectives of this research were to determine the effect of resistance activators (BionÒ and KasilÒ) on anthracnose severity and mango fruit ripening. There were four treatments including BionÒ (150 mg L-1), KasilÒ (200 mg L-1 and 1000 mg L-1), and water as control. The treatments were applied 3 times at 3, 2 and 1 month before harvest. Fruit were assessed during storage for disease severity and incidence, skin colour and hand firmness. Results from this research indicated that pre-harvest dips of Bion® and KasilÒ significantly reduced anthracnose disease severity in mango fruit, although the fruit were not completely free from anthracnose disease. Bion® and KasilÒ treated fruit had significant lower disease severity compared with the control fruit. However, BionÒ was not able to significantly reduce anthracnose incidence on the fruit. In addition, BionÒ and KasilÒ did not significantly affect mango fruit ripening. Further research will be required to confirm the effectiveness of these two defence activators in inducing mango fruit resistance. ABSTRAK Industri mangga berkembang dengan pesat akhir-akhir ini dan permintaan buah mangga segar mengalami peningkatan. Akan tetapi penyakit pasca panen anthraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides menyebabkan kehilangan produksi buah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh aktivator ketahanan (BionÒ dan KasilÒ) terhadap intensitas penyakit anthraknosa dan kematangan buah mangga. Percobaan ini terdiri atas empat perlakuan yaitu BionÒ (150 mg L-1), KasilÒ (200 mg L-1 dan 1000 mg L-1), dan air sebagai Kontrol. Semua perlakuan diaplikasikan tiga kali yaitu 3, 2, dan 1 bulan sebelum panen. Pengamatan intensitas penyakit dan perubahan warna serta tekstur buah dilakukan setiap hari selama penyimpanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan pra-panen dengan Bion® and KasilÒ secara signifikan menurunkan intensitas penyakit pasca panen anthraknosa pada buah mangga meskipun buah tidak bebas dari serangan penyakit anthraknosa. Buah yang diperlakukan dengan Bion® and KasilÒ mempunyai intensitas penyakit yang lebih rendah dibandingkan dengan control. Walaupun perlakuan Bion® tidak berpengaruh secara nyata terhadap penurunan persentase buah yang terserang penyakit, buah yang diperlakukan dengan Bion® mempunyai kejadian penyakit yang lebih rendah. Perlakuan Bion® and KasilÒ juga tidak berpengaruh terhadap proses kematangan buah mangga. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan keefektifan Bion® and KasilÒ dalam menginduksi ketahanan buah mangga.
EFEKTIVITAS STRAIN Bradyrhizobium japonicum PADA TANAMAN KEDELAI VARIETAS MAHAMERU DAN BALURAN Muhibuddin, A.
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas ”45” Makassar yang  berlangsung dari Mei hingga September 2009. Penelitian bertujuan untuk mempelajari efektivitas tiga strain Bradyrhizobium japonicum terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai varietas Mahameru dan Baluran.  Perlakuan dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas enam perlakuan, yaitu: varietas Mahameru yang diinokulasi dengan strain Rhizobium trifolii (TAL 185), strain R. phaseolii (TAL 182), dan strain  R.  melioti (TAL 380), Varietas Baluran diinokulasi strain R. trifolii (TAL 185), strain R. phaseolii (TAL 182), dan strain R. melioti (TAL 380).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Strain Bradyrhizobium japonicum yang diuji tidak memperlihatkan pengaruh pada jumlah bintil akar, jumlah bintil akar warna merah dan serapan N, baik pada verietas Mahameru maupun Baluran, 2)  Strain yang efektif pada varietas Mahameru adalah TAL 182 berdasarkan jumlah bintil akar dan serapan N, strain 380 berdasarkan jumlah bintil akar warna merah, strain TAL 185 berdasarkan bobot 100 biji, TAL 182 berdasarkan hasil biji kering. Sedangkan pada varietas Baluran strain yang efektif adalah TAL 185 berdasarkan jumlah bintil akar, jumlah bintil akar warna merah, serapan N, dan strain TAL 185 berdasarkan hasil biji kering, serta TAL 185,        TAL 182 berdasarkan skala warna daun. ABSTRACT               The research was conducted at the greenhouse of Faculty of Agriculture University of "45" Makassar, from May to September 2009. The research aimed to study the effectiveness of three strains of Bradyrhizobium  japonicum on growth and yield of Mahameru and Baluran soybean varieties. Treatments were designed using Randomized Block Design. The treatments were Mahameru variety inoculated with  R. trifolii (TAL 185), R. phaseolii (TAL 182), and R. melioti (TAL 380), Baluran variety inoculated with strains  R. trifolii (TAL 185), R. phaseolii (TAL 182), and R. melioti (TAL 380). Results show that: 1) Bradyrhizobium japonicum strains tested show no effect on the number of nodules, red colour nodule number and N uptake, both on Mahameru and Baluran varieties, 2) strain that was effective in Mahameru variety was TAL 182 based on the number of root nodules and N uptake, strain 380 based on the number of red root nodules, strain TAL 185 based on the weight of 100 seeds, TAL 182 based on dry beans. While in Baluran variety, the effective strains were TAL 185 based on the number of nodules, nodule number in red, N uptake, and the strain TAL 185 based on the results of dry beans, and TAL 185, TAL 182 based on leaf color scale.
INDUKSI MUTASI DENGAN IRADIASI SINAR GAMMA DAN SELEKSI IN VITRO UNTUK IDENTIFIKASI EMBRIO SOMATIK KACANG TANAH CV. LOKAL BIMA YANG TOLERAN PADA MEDIA POLIETILENA GLIKOL Hemon, A. Farid
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sinar Gamma untuk meningkatkan frekuensi diperolehnya embrio somatik (ES) kacang tanah cv. Lokal Bima yang toleran terhadap cekaman larutan polietilena glikol (PEG). Percobaan diawali dengan menginduksi ES kacang tanah. Induksi mutasi dengan sinar Gamma dilakukan pada kultur ES. Embrio somatik yang telah diiradiasi dengan sinar Gamma diseleksi dalam media yang mengandung PEG 15%. Hasil penelitian yang diperoleh adalah 1) dosis sinar Gamma berpengaruh terhadap pertumbuhan ES kacang tanah. Penggunaan dosis sinar Gamma 15 Gy memberikan pertumbuhan ES yang lebih baik dibanding dosis yang lebih tinggi, 2) Kalus embriogenik yang diiradiasi dengan dosis sinar Gamma 15 Gy dan 20 Gy menghasilkan proliferasi ES, jumlah ES per eksplant, dan total ES yang lebih tinggi ketika diseleksi dalam media yang mengandung PEG 15%. Pertumbuhan ES pada kalus embriogenik yang tidak disinari dengan sinar Gamma dan dosis sinar Gamma 25 Gy lebih rendah ketika diseleksi dalam media yang mengandung PEG 15%. ABSTRACT  The objective of this experiment was to evaluate effectiveness of Gamma ray  to    increase the frequency of obtaining polyethylene glycol (PEG)  insensitive somatic embryos (SE) from peanut cv. Local Bima. The experiment was iniciated with induction of peanut SE followed by induction mutation  with Gamma ray on SE culture. Somatic embryos that had been irradiated with Gamma ray were selected in medium containing 15% of PEG 6000. The results of experiment show that: 1) Gamma ray irradiation influenced the growth of SE.  Irradiation with the dosage of 15Gy resulted in better SE growth than higher dosages,  2) Embriogenic calli irradiated with 15 and 20 Gy of Gamma ray demonstrated higher number of total SE when selected in  medium containing 15% of  PEG 6000, and 3) lower SE growth  occured on SE calli without irradiation or with  25 Gy Gamma irradiation.
PERTUMBUHAN DAN KUALITAS BIBIT JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) ASAL STEK BATANG PADA BERBAGAI PANJANG DAN DIAMETER B. Santoso, Bambang
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pengembangan teknik perpanyakan tanaman secara vegetatif yang efisien akan memberikan keuntungan pada industri pembibitan untuk menseleksi dan memproduksi beberapa klon tanaman dengan karakter yang diinginkan. Oleh karena itu, dua percobaan berikut dilakukan untuk mencari teknik perbanyakan vegetatif jarak pagar dengan menggunakan stek batang yang berbeda ukuran. Percobaan telah dilakukan selama September – Desember 2007. Percobaan pertama adalah panjang stek (20 cm, 25 cm, dan 30 cm) dengan masing-masing diameter stek berukuran 2.5 – 3.0 cm. Percobaan kedua adalah diameter stek (3 cm, 2.5-2.9 cm, 2.0-2.4 cm, and 1.5-1.9 cm) dengan masing-masing panjang stek 30 cm. Masing-masing percobaan didesain menurut in Completely Randomized Design dengan ulangan 3 dan setiap ulangan terdiri atas 25 bibit. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pertumbuhan stek bervariasi tergantung pada ukuran panjang dan diameter stek. Akan tetapi, pertumbuhan bibit tanaman jarak pagar yang baik dengan daya adaptasi yang baik pula setelah penanaman di lapang diperoleh dari bibit yang berasal dari stek dengan panjang 20 – 30 cm dan juga bibit yang berasal dari stek dengan diameter 2.0 – 2.9 cm. ABSTRACT Development of efficient techniques for asexual propagation would benefit the nursery industry for selection and production of particular clones with desirable characters. Therefore, two following studies were conducted to develop a protocol for vegetative propagation of physic nut by stem cutting in different size of cut from September until December 2007. The first experiment was dealt with stem cutting length (20 cm, 25 cm, and 30 cm) with the same size of diameter (2.5-3.0 cm), and the second experiment was dealt with diameter of stem cutting (3 cm, 2.5-2.9 cm, 2.0-2.4 cm, and 1.5-1.9 cm) with the same size of length (30 cm). Each of experiment was designed in Completely Randomized Design with three replications and contained 25 seedlings of each. The results show that cutting growth varied depending on length and diameter of stem cutting. However, better seedlings growth and better survival of young plants of physic nut can be obtained from stem cutting with 20-30 cm in length and stem cutting with 2.0-2.9 cm in diameter.
ANALISIS RERATA GENERASI HASIL PERSILANGAN DUA VARIETAS PADI TAHAN TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN AAK, Sudharmawan
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tindak gen ketahanan terhadap cekaman kekeringan dalam kaitan dengan sifat akar dengan analisis rerata generasi. Padi varietas Selat dan Soba adalah dua varietas tahan terhadap cekaman kekeringan, dan dari persilangannya dihasilkan generasi F1, F2, BC1 dan BC2. Sifat panjang akar dipengaruhi tindak gen aditif yang dibawa oleh Soba. Pada sifat diameter akar menunjukkan interaksi gen duplikat. Sifat jumlah akar dikendalikan oleh lebih dari dua gen, dan sifat berat akar kering terjadi tindak gen resesif epistasis. Ini mengimplikasikan bahwa ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan dikendalikan oleh banyak gen yang berlainan, yang sebagian bertanggung jawab untuk sifat yang berbeda, yang  bersama-sama mendorong ke arah ketahanan. ABSTRACT             This research aimed to study gene action of drought stress resistance in terms of root characters by  generation mean analysis.Two  varieties which are drought stress resistant, were crossed to produc F1, F2, BC1 dan BC2 generations. Root length was affected by additive gene acting toward short root brought by Soba. Root diameter showed duplicate gene interaction. Number root characters were controlled by more than two genes. Root dry weight character was controlled by recessive epistatic genes. This implied that drought stress resistance was controlled by many different genes, with part of it responsible for different characters but together leading to drought stress resistance.
ANALISIS KORELASI DAN SIDIK LINTAS ANTARA KARAKTER MORFOLOGI DAN KOMPONEN BUAH TANAMAN NENAS (Ananas comosus L. Merr.) Arif Nasution, Muhammad
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK    Penelitian bertujuan untuk mempelajari korelasi genetik antara karakter morfologi dan karakter komponen buah nenas menggunakan sidik lintas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter kedudukan daun dan daun berduri berasosiasi dengan tebal daging buah. Tinggi tanaman, jumlah daun,  dan lebar daun  berkorelasi positif dan nyata dengan diameter buah.  Diameter buah bersama tinggi tanaman, diameter tajuk, dan lebar daun berkorelasi positif dan nyata terhadap bobot buah.  Tinggi tanaman, jumlah shoot, umur panen, panjang tangkai buah, jumlah spiral, diameter buah, tebal daging buah, diameter empulur dan total asam mampu menjelaskan ragam bobot buah sebesar 82.8%. Hasil analisis lintas menunjukan bahwa tinggi tanaman, panjang tangkai buah, diameter buah, tebal daging buah dan total asam mempunyai pengaruh langsung positif terhadap bobot buah. Jumlah shoot dan umur panen mempunyai pengaruh tidak langsung melalui diameter buah dan total asam terhadap bobot buah. Duduk daun terbuka dan karakter duri pada daun dapat dijadikan kriteria seleksi untuk perbaikan karakter tebal daging buah dan panjang tangkai buah dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk perbaikan bobot buah.   Abstract The objectives of this research were to study the genetic correlation and path analysis between morphological characters and fruit component characters of pineapple. The results of the research show that the foliage attitude and leaf spines were  associated with flesh thickness. The correlation analysis showed that plant height, leaf number and   leaf width  had  positively and siqnificantly correlation  with fruit diameter. The fruit diameter together plant height, canopy diameter and leaf width have positively and siqnificantly correlated with fruit weight.  Plant height, number of shoot, days to harvest, peduncle lenght, fruit diameter, flesh thickness, core diameter, and total acid  contribute  to  fruit weight. The value of it contribution was about 82.8 %. Based on path analysis, characters plant height, peduncle length, fruit width, flesh thickness, and total acid have positive direct effect on fruit weight. The results also showed that number of shoot and days to harvest had indirect effect on fruit weight. The foliage attitude and leaf spines characters can be selected as criteria to improve flesh thickness character and peduncle length can be  selected as criteria to improve fruit weight.
MORPHOLOGY AND PHYSIOLOGY OF PITAYA AND IT FUTURE PROSPECTS IN INDONESIA Damar Jaya, I Komang
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Pitaya or known as dragon fruit (Hylocereus spp.) is a fleshy fruit of climbing cacti, originated from America tropics. In Indonesia, this fruit is relatively new but has already got a good place and good price in the markets. The three most common pitaya species available in Indonesia are red skin with white flesh (Hylocereus undatus Haw. Britton&Rose), red skin with red flesh (Hylocereus sp.) and red skin with strong red flesh (Hylocereus polyrhizus Webb. Britton&Rose). Other two species available in small quantity are red skin with red-purple flesh (Hylocereus costaricencis Web. Britton&Rose) and yellow pitaya (Selenicereus megalanthus A. Berger Riccob). On the island of Lombok, pitaya plantations were first established in 2006 and the first production was in 2008. Cultural practices are very basic and some areas, such as stand (support systems), pruning, and fertilizer, pest, as well as disease managements need some improvements. Physiology, flowering behaviour, pollination, and fruit growth and development of pitaya are discussed in this paper. ABSTRAK   Pitaya atau banyak dikenal dengan nama buah naga (Hylocereus spp.) adalah buah berdaging segar dari kaktus merambat yang berasal dari benua Amerika tropik. Di Indonesia, buah ini relatif baru dan sudah mendapatkan tempat dan harga yang baik di pasaran. Tiga spesies buah naga yang umum terdapat di Indonesia adalah buah naga merah dengan daging buah putih (Hylocereus undatus Haw. Britton&Rose), buah naga kulit merah dengan daging buah merah (Hylocereus sp.) dan kulit merah dengan daging buah sangat merah (Hylocereus polyhirzus Web. Britton&Rose). Dua spesies lainnya yang dijumpai dalam jumlah yang relatif sedikit adalah buah naga kulit merah dengan daging buah merah keunguan (Hylocereus costaricencis Web. Britton&Rose) dan buah naga kuning (Selenicerius megalanthus A. Berger Riccob). Di pulau Lombok, kebun-kebun buah naga pertama kali dijumpai sekitar tahun 2006 dan produksi pertama pada tahun 2008. Teknik budidaya yang diterapkan sangat sederhana sehingga dalam beberapa hal, seperti tiang penyangga, pemangkasan, pemupukan serta pengelolaan hama dan penyakit perlu dilakukan perbaikan. Fisiologi, perilaku pembungaan, penyerbukan, pertumbuhan dan perkembangan buah tanaman buah naga dibahas dalam tulisan ini.
UJI KESERAGAMAN, HERITABILITAS DAN KEMAJUAN GENETIK GALUR PADI BERAS MERAH HASIL SELEKSI SILANG BALIK DI LINGKUNGAN GOGO Aryana, IGP Muliarta
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Tujuan penelitian untuk  mengetahui keseragaman genotipe, heritabilitas dan kemajuan genetik karakter kuantitatif  padi beras merah  hasil empat kali seleksi  silang balik.  Percobaan dilaksanakan dengan menanam secara gogo di lahan tegalan, dengan jenis tanah Inseptisol. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan 23 genotipe (20 genotipe hasil silang balik dan 3 tetua:  Piong, Angka dan Kenya).  Data yang diamati: tinggi tanaman, panjang malai, bobot 100 butir gabah, bobot gabah per rumpun, total jumlah anakan per rumpun dan total jumlah gabah per malai. Analisis data dilakukan  untuk mengetahui keragaman dalam genotipe, heritabilitas, dan kemajuan genetik  harapan. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Terdapat 16 genotipe hasil seleksi silang balik  yang seragam dan 4 genotipe yang tidak seragam. Ke empat genotipe adalah G2(A1) dan G17(P15) yang ditunjukan dari panjang malai, bobot gabah per rumpun, total gabah per malai dan total anakan per rumpun; G3(A2) dan G13(P4) dan G17(P15) yang ditunjukkan dari tinggi tanaman;  2) Genotipe yang tidak seragam mempunyai nilai heritabilitas tinggi pada karakter yang teramati, kecuali  bobot gabah per rumpun pada G2(A1)/1, G2(A1)/2, G17(P15)/1 dan G17(P15)/3; panjang malai pada G17(P15)/3; total jumlah gabah per malai pada G2(A1)/3 dan G17(P15); total jumlah anakkan per rumpun pada G2(A1)/1, G2(A1)/2; G17(P15)/1 dan G17(P15)/3 mempunyai kriteria sedang;  dan 3)  Kemajuan genetik bobot gabah per rumpun tergolong tinggi; panjang malai tergolong sedang kecuali pada G17(P15)/1 tergolong tinggi; total jumlah gabah  per malai  tergolong tinggi kecuali G2(A1)/3 dan G17(P15)/2 tergolong sedang, total jumlah anakan per rumpun tergolong tinggi kecuali G17(P15)/1 tergolong sedang;  tinggi tanaman tergolong rendah, kecuali G13(P4)/1 dan G17(A15) tergolong sedang. ABSTRACT               The aim of this research was  to study genotype populations uniformity, heritability and genetic gain of red rice obtained  from back cross selection.  The experiment was conducted  in  dryland  with  an inseptisol soil. The experimental design used  was a Randomized Complete Block Design with 23 genotypes (20 genotypes from back cross selection and 3 parents [Piong, Angka and Kenya]). Characters observed were plant height, panicle length, weight of 100 grain, grain weight per clum, total grain  numbers per penicle and tiller numbers per clum. Data analysed  were genotype population uniform; heritability  and  expected  genetic gain.  The results indicate that: 1)  There were sixteen uniform red rice genotypes resulted from  four times back crossed selection and  4 non-uniform genotypes. The four genotypes were G2(A1) and G17(P15) indicated by panicle length, grain weight per clump, total   grain   numbers   per panicle  and    tiller numbers per  clump;   G3(A2 ) and    G13   (P4) and G17(P15) indicated by plant height; 2) The non uniform genotypes showed high heritability value in observed  character except grain weight per clum in G2(A1)/1, G2(A1)/2, G17(P15)/1 and G17(P15)/3; panicle lenght in G17(P15)/3; total grain numbers per penicle in G2(A1)/3 and G17(P15); total tiller numbers per clump in  G2(A1)/1, G2(A1)/2; G17(P15)/1, G17(P15)/3 and all have medium creteria;  and 3)  Expected genetic gain of grain weight per clump was high; panicle lenght was medium except in  G17(P15)/1 was high; total grain numbers per penicle  was high except in G2(A1)/3 and G17(P15)/2 classified as medium, total tiller numbers per clump was high except G17(P15)/1 was classified as medium;  plant height was low,  except in G13(P4)/1 dan G17(A15) was classified medium.
PENINGKATAN HASIL JAGUNG HIBRIDA VAR. BISI-2 DENGAN APLIKASI PUPUK KANDANG SAPI DAN PENINGKATAN FREKUENSI PEMBERIAN UREA DAN CAMPURAN SP-36 DAN KCl Wangiyana 1, Wayan; anan 2, M. H; Ngawit 1, I Ketut
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada umumnya anjuran pemberian pupuk N pada jagung hibrida adalah 3 kali sedangkan pupuk P dan K sebagai pupuk dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian pupuk kandang sapi dan peningkatan frekuensi pemberian pupuk Urea dan campuran pupuk SP-36 dan KCl dapat meningkatkan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) Hibrida var. Bisi-2. Percobaan dilaksanakan di lapangan, yang ditata menurut Rancangan Acak Kelompok dengan 3 faktor pelakuan, yaitu pemberian pupuk kandang, frekuensi pemberian Urea, dan frekuensi pemberian campuran SP-36 dan KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pemberian pupuk kandang sapi dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung, terutama jumlah daun hijau selama fase pengisian biji (63-84 hst), mempercepat umur keluar malai dan rambut tongkol serta meningkatkan hasil, komponen hasil dan indeks panen; (2) Peningkatan frekuensi pemberian pupuk Urea dari 3 kali menjadi 4 kali, juga meningkatkan hasil biji dan berat 1000 biji; (3) Peningkatan frekuensi pemberian campuran pupuk SP-36 dan KCl pada umumnya tidak memberikan pengaruh yang nyata, namun ada kecenderungan bahwa pemberian 2 kali lebih baik daripada pemberian hanya sekali pada saat tanam; (4) Kombinasi pemberian pupuk kandang sapi, pemberian Urea 4 kali dan pemberian campuran SP-36 dan KCl 2 kali memberikan hasil tertinggi dibandingkan dengan yang lainnya. ABSTRACT             In general, recommendation for application of N fertilizer to hybrid maize is three times while for P and K fertilizers it is only once at planting. This research was aimed to examine if application of cattle manure and increasing frequency of Urea as well as SP-36 and KCl fertilizers can increase maize yield. A field experiment was conducted according to Completely Randomized Block Design, with three treatment factors, i.e. cattle manure application, frequency of Urea application, and frequency of application of SP-36 and KCl fertilizers. Results indicate that (1) application of cattle manure increased maize growth, especially number of green leaves during seed-filling period (63-84 DAP), fastened anthesis and silking and increased grain yield, yield components and harvest index; (2) increasing frequency of Urea application also increased grain yield and weight of 1000 seeds; (3) increasing the frequency of SP-36 and KCl applications, however, in general did not show significant effects, but there was a tendency that twice application was better than only once at planting. The treatment of cattle manure application combined with 4 times application of Urea and twice application of combination of SP-36 and KCl fertilizers resulted in the highest grain yield.

Page 1 of 1 | Total Record : 10