cover
Contact Name
Dr. Ir. Lestari Ujianto, M.Sc.
Contact Email
ujianto@unram.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cropagro@unram.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy
Published by Universitas Mataram
ISSN : 19788223     EISSN : 26215748     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram yang memuat tulisan berupa hasil penelitian yang terkait dengan bidang budidaya tanaman, terbit enam bulan sekali. Redaksi menerima naskah dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro" : 10 Documents clear
KESESUAIAN JENIS KEMASAN, SUHU, DAN LAMA PENYIMPANAN INOKULUM KOMERSIAL JAMUR MIKORIZA TANAH VERTISOL LOMBOK Astiko, Wahyu
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mencari kesesuaian jenis kemasan, suhu dan lama penyimpanan inokulum komersial jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) tanah Vertisol Lombok, telah dilakukan dengan percobaan pot di rumah kaca. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan percobaan faktorial 3 faktor dan semua kombinasi perlakuan yang diperoleh diulang 3 kali. Perlakuan yang dicoba adalah  jenis kemasan yang terdiri dari : (1) botol plastik, (2) plastik polietilin, (3) aluminium foil, suhu penyimpanan terdiri dari : (1) suhu kamar (27+2oC), (2) ruang AC (15oC), (3) kulkas (4oC), serta lama penyimpanan terdiri dari : (1) 1 bulan, (2) 2 bulan, (3) 3 bulan, dan (4) 4 bulan. Bentuk sediaan inokulum yang diberi perlakuan tersebut adalah dalam bentuk pelet. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kemasan yang paling baik untuk mengemas inokulum MVA adalah jenis kemasan aluminium foil, karena dapat mempertahankan derajat infeksi dan potensi inokulum yang tetap tinggi. Ruang penyimpanan yang baik untuk menyimpan inokulum MVA adalah kulkas dengan suhu sekitar 4oC. Setelah 4 bulan lama penyimpanan inokulum MVA sudah menampakkan gejala menurun viabilitasnya, ini terutama terlihat dengan semakin menurunnya derajat infeksi dan potensi inokulum jamur MVA. Kesesuaian jenis kemasan dan ruang tempat penyimpanan inokulum MVA terbaik adalah  pada jenis kemasan aluminium foil dengan ruang penyimpanan di dalam kulkas. ABSTRACT The aim of the investigation was to find out the  suitability of packaging materials,  temperature  and storage duration  for commercial inoculum of Vesicular Arbuscular Mycorrhiza (VAM) fungus on vertisol  of Lombok. The investigation has been accomplished by conducting a pot culture experiment in glasshouse.The experiment  was designed according to Completely Randomized Design with the treatments arranged factorially, consisting of three factors and each treatment combination was made in three replicates. The treatment factors are packaging materials: (1) plastic bottle, (2) polyethylene, and (3) aluminium foil; storage temperature: (1) room temperature (27±2°C), (2) air-conditioned room (15°C), refrigerator (4°C); and storage duration: (1) one month, (2) two months, (3) three months, (4) four months. The inoculum treated was in the form of pellets. The results indicated that the best packaging material for VAM inoculum was aluminium foil since it can maintain high infection degrees and potential of the inoculum. Refrigerator with temperature of 4 °C was the best room for storing the inoculum. After four months of storage the inoculum has shown a tendency of reducing its infection degrees and potential. Therefore, aluminium foil packaging stored in a refrigerator is the most suitable packaging system.
TEKNIK PEMBIBITAN TANAMAN JARAK PAGAR B. Santoso, Bambang; S. Purwoko, Bambang
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pembibitan merupakan tahapan penting yang menentukan kualitas bahan tanam dalam pengembangan jarak pagar, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan bibit dipengaruhi oleh kualitas benih dan saat pindah tanam semai. Telah dilakukan dua percobaan terpisah yang bertujuan mengetahui pengaruh lama simpan benih (1, 2, 3, dan 4 bulan) terhadap viabilitas benih, dan percobaan penentuan stadia perkembangan semai saat pindah tanam terhadap pertumbuhan dan perkembangan bibit dalam polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viabilitas benih menurun seiring dengan semakin lama penyimpanan pada suhu kamar, oleh karena itu diperlukan pembibitan secara tidak langsung. Umur semai 3-10 hari setelah tanam benih atau saat fase mulai berkecambah hingga hingga semai berbentuk pancing merupakan saat pindah tanam yang baik. ABSTRACT Seedling is critical phases and determined seedling quality in physic nut (Jatropha curcas L.), while seedling growth and development depend on seed quality and time of transplanting germinated seed. Two split experiments were conducted by using the Completely Randomized Design with purpose to know the effect of seed storage period on seed viability, and the second experiment to decide time of transplanting germinated seed on seedling growth and development.  The result shows that seed storage in the room temperature was significantly affected to decreasing seed viability. The early of seed sprout stage and curve (bend) stages are better phases for transplanting time for physic nut.
AKTIFITAS ACTINOMYCETES ENDOFIT SEBAGAI BIONEMATISIDA TERHADAP MELOIDOGYNE JAVANICA Anugrahwati, Dwi Ratna
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Peranan actinomycetes endofit sebagai agen pengendali hayati telah banyak diketahui, terutama dalam menghambat jamur pathogen tanaman, tetapi perannya dalam menekan infestasi nematode masih sedikit diketahui.  Tujuan penelitian ini untuk mengamati potensi actinomycetes endofit dalam menghambat nematoda parasit tanaman Meloidogyne javanica.  Ekstrak methanol dari 42 strain actinomycetes endofit diuji secara in vitro untuk mengamati efeknya sebagai nematisida pada root-knot nematode (Nematoda puru akar) M. javanica.  Metabolit dari 84% strain-strain yang diuji secara signifikan menurunkan motilitas nematoda, sedangkan 21% menyebabkan kematian juvenile.  Metabolit dari Streptomyces somaliensis PM143 dan Streptomyces peruviensis EN26 menunjukkan efek nematostatic tertinggi dengan tingkat penurunan motilitas M. javanica yang signifikan, berturut-turut 54% dan 44%.  Evaluasi selanjutnya dilakukan in planta untuk menguji aktifitas nematisida dari 8 strain terpilih representasi dari berbagai tingkat aktifitas nematisida secara in vitro pada tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) sebagai crop model.  Walaupun jumlah nematode yang memasuki system perakaran tidak terpengaruhi, tetapi S. somaliensis PM143 dan S. peruviensis EN26, juga S. somaliensis PM349 mampu menghambat perkembangan stadia nematode dan menurunkan jumlah puru akar (root galls) pada tanaman mentimun. ABSTRACT The role of endophytic actinomycetes as biocontrol agents has been studied, especially in inhibiting fungal plant pathogens.  However, little is known on their role in suppressing nematode infestation.  Therefore, the main aim of this study was to observe the potential of endophytic actinomycetes in suppressing plant-parasitic nematodes Meloidogyne javanica.  Methanol extracts of 42 strains of endophytic actinomycetes were screened in vitro to determine their nematicidal effects on the root-knot nematode M. javanica.  Metabolites from 84% of the strains tested significantly reduced the motility of nematodes, while 21% caused juvenile mortality.  Metabolites of Streptomyces somaliensis PM143 and Streptomyces peruviensis EN26 showed the highest nematostatic effect in vitro, with a significant reduction in motility of M. javanica by 54% and 44%, respectively.  Further evaluation was carried out in planta to test the nematicidal activity of eight strains representing various level of nematicidal activity in vitro using cucumber (Cucumis sativus L.) as crop model.  Even though the number of nematodes invading the root system was not affected, S. somaliensis PM143 and S. peruviensis EN26, as well as S. somaliensis PM349, were able to inhibit nematode growth and reduce the number of root galls in cucumber plants.
POLA PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN KEDELAI PADA KONDISI CEKAMAN INTENSITAS CAHAYA RENDAH DAN PEMBERIAN INHIBITOR PLASTIDA (UJI CEPAT TOLERANSI KEDELAI TERHADAP CEKAMAN NAUNGAN ., Kisman
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan awal tanaman kedelai pada kondisi cekaman intensitas cahaya rendah dan pemberian inhibitor plastida. Percobaan disusun berdasarkan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan tiga faktor: faktor genotipe (G1 = genotipe toleran, varietas Ceneng; G2 = genotipe peka, varietas Godek), faktor jenis inhibitor plastida (I1 = kontrol/aquades, I2 = lincomycin, dan I3 = chloramphenicol), dan faktor cahaya (L1 = terang total dan L2 = gelap total). Dengan demikian terdapat 12 kombinasi perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (i) Benih kedelai yang ditumbuhkan pada kondisi cahaya penuh menunjukkan perkembangan awal mengikuti pola fotomorfogenesis dengan ciri-ciri kandungan klorofil a dan b yang lebih tinggi, kotiledon dan hipokotil berwana hijau, tumbuh bulu akar yang lebih banyak, hipokotilnya lebih pendek dan kuat, posisi kotiledon tegak dan kotiledon berkembang dengan baik dan terbuka. Sebaliknya, perkembangan kecambah kedelai pada kondisi gelap total mengikuti pola skotomorfogenesis dengan cirri-ciri kandungan klorofil a dan b rendah, kotiledon dan hipokotil berwana pucat, tidak tumbuh bulu akar, hipokotilnya lebih panjang dan ramping, posisi kotiledon mernduk dan kotiledon tidak berkembang dengan baik dan masih tertutup. (ii) Pemberian inhibitor translasi plastida (lincomycin dan chloramphenicol) dapat menghambat pembentukan klorofil (khususnya kolorofil a), keduanya tidak memberikan penghambatan yang berbeda. (iii) Kedelai toleran dan peka naungan tidak menunjukkan pola perkembangan awal yang berbeda pada kondisi cekaman cahaya dan jenis inhibitor plastida. ABSTRACK Aim of the study was to know the seedling growth pattern of soybean under the effect of low light intensity stress and plastid inhibitors. The study was conducted using factorial in completely randomized design (CRD) with three factors: soybean genotypes (G1 = tolerant genotype, Ceneng; G2 = sensitive genotype, Godek); plastid inhibitor (I1 = control/aquadest, I2 = lincomycin, I3 = chloramphenicol); and light (L1 = light, L2 = dark), each combination was in three replicates. Results of the study showed that: (i) seedling growth pattern of soybean germinated under fully light was in photomorphogenesis as indicated by higher contents of chlorophyll a and b, green color of cotyledons and hypocotyls, more root hairs, shorter and stronger hypocotyls, no apical hock, and well developed and opened cotyledons. Contrastly, under dark condition, growth pattern of soybean seedling was in scotomorphogenesis as indicated by lower contents of chlorophyll a and b, pale color of cotyledons and hypocotyls, less root hairs, longer and weaker hypocotyls, along with apical hock, and cotyledons were not develop and open. (ii) Application of plastid inhibitors (lincomycin and chloramphenicol) prevented the formation of chlorophyll (especially for chl a) though no significant different on both. (iii) No difference between tolerant genotype and sensitive genotypes of soybean on seedling growth pattern under low light intensity stress and the application of plastid inhibitors.
PENGARUH JENIS DAN DOSIS NEMATISIDA TERHADAP AKTIFITAS MELOIDOGYNE JAVANICA 1, Sudirman; Pasorong, M.E.P.
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis nematisida terhadap tetasnya telur, penetrasi, perkembangan dan reproduksi Meloidogyne javanica. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap, percobaan tersarang. Tiga jenis nematisida (furadan, petrofur, dan basamid) dengan tiga dosis (0,05; 0,125; dan 0,2 g/kg media) diuji. Untuk penetasan telur, percobaan dilakukan pada media agar yang diperlakukan nematisida dalam cawan Petri yang ditaburi 100 telur M. javanica, dan J2 yang menetas diamati mulai 1 hari setelah inokulasi (hsi) selama 10 hari. Percobaan untuk penetrasi, perkembangan dan reproduksi dilakukan pada bibit tanaman tomat yang berumur 15 hari pada polybag dengan 1 kg tanah yang diinokulasi dengan 200 telur M. javanica dan diperlakukan dengan nematisida. Jumlah J2 yang penetrasi akar diamati 15 hsi. Sedangkan perkembangan dan reproduksi nematoda diamati 30 hsi. Untuk tiap percobaan disiapkan lima ulangan. Data hasil percobaan dianalisa dengan analisis keragaman dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nematisida petrofur, furadan dan basamid efektif menekan semua aktifitas M. javanica dengan penekanan tertinggi didapatkan pada perlakuan dengan nematisida basamid. Tingkat penekanan aktifitas M. javanica semakin tinggi dengan peningkatan dosis nematisida. Abstract Research aimed at knowing effects of types and dosages of nematicides on egg hatching, penetration, development, and reproduction of Meloidogyne javanica. The study was done with completely randomized design, nested experiment. Three types of nematicides (furadan, petrofur, and basamid) with three dosages (0.05; 0.125; and 0.2 g/kg medium) were tested. The experiment for egg hatching was conducted on nematicides treated agar in Petri dish spread with 100 eggs of M. javanica, and J2 hatching was recorded since one day after inoculation (dai) for 10 days. For penetration, development, and reproduction, experiments were carried out on 15-day-old tomato seedlings grown in polybag with 1 kg soil invested with 200 eggs of M. javanica and treated with nematicides. Whilst numbers of J2 penetrated roots were observed 15 dai, development and reproduction of nematodes were recorded 30 dai. Each experiment was provided with five replicates. Data were analyzed with analysis of variance followed by least significant different test at 5% level. Results of experiments showed that all nematicides; furadan, petrofur, and basamid were effective in suppressing all activities of M. javanica with the highest level of suppression was resulted from basamid treatment. Levels of activity suppression were in accordance with dosages of nematicide tested.
PERTUMBUHAN BIBIT GAHARU PADA BEBERAPA JENIS NAUNGAN Zubaidi, Akhmad; Farida, Nihla
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini merupakan suatu penelitian eksplorasi yang dilakukan di Laboratorium Lapangan dan Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Mataram tentang upaya perbaikan pembibitan tanaman gaharu dengan perlakuan naungan.  Pemakaian naungan yang tepat dan sesuai diharapkan dapat memperbesar keberhasilan pembibitan gaharu yang sejauh ini masih merupakan salah satu kendala pengembangan tanaman gaharu di pulau Lombok.  Pada penelitian ini dilakukan pemberian beberapa jenis naungan untuk bibit gaharu, berupa anyaman daun kelapa, kanopi pohon mahoni, plastik hitam, rumah kaca, paranet, dan tanpa naungan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis naungan yang dapat mengurangi intensitas sinar matahari sampai 50% dan dapat mengurangi peningkatan temperatur sekitar bibithingga tidak melampaui 30oC, yaitu naungan anyaman daun kelapa, kanopi pohon mahoni, dan plastik hitam memberikan hasil pertumbuhan bibit yang lebih baik dibanding naungan rumah kaca, dan paranet.  Hal ini ditunjukkan oleh laju pertumbuhan biomassa kering, biomassa basah, tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar yang lebih besar persentasenya.  Perlakuan tanpa naungan menyebabkan bibit gaharu sangat tertekan pertumbuhannya sehingga mengalami kematian 70 hari setelah perlakuan. ABSTRACT An explorative experiment was conducted in field laboratory and glass house of Faculty of Agriculture The University of Mataram, to develop agarwood seedling preparation with shading treatments.  Providing good seedling environment by using appropriate shading will increase seedling vigour, hence the successful of transplanting will be higher as well.  Seedlings is one of agarwood plantation constrain in Lombok.  In this experiment, agarwood seedlings were treated with 6 different shading materials, as follows: plaited coconut leaves, mahagony canopy, black polyethylene film, glass house, net house, and without shading.  Result showed that shadings which can screen sunlight intensity until 50% also can prevent temperature reach 30oC or higher in seddling area, ie. coconut leaves, mahagony canopy, and black polyethylene film, gave a better seedling quality than other shading materials.  Better growth of seedlings showed by a higher growth rate in term of biomass, leaves number, and root length.  Seedling under direct sunlight was died after 70 days of treatment.
SKRINING Streptomyces sp. ISOLAT LOMBOK SEBAGAI PENGENDALI HAYATI BEBERAPA JAMUR PATOGEN TANAMAN Muthahanas, Irwan; Listiana, Erna
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan Streptomyces sp. isolat Lombok yang memiliki kemampauan antagonis yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati beberapa jamur patogen tanaman di pulau Lombok. Penelitian dilaksanakan di lapang dan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram mulai dari bulan April sampai dengan bulan Nopember 2007. Dari hasil penelitian diperoleh 45 isolat Streptomyces sp. Isolat tersebut 9 terdiri dari isolat dari rizosfer cabe Steling, 10 dari rizosfer tomat Bayan, 13 dari rizosfer bawang Sembalun, dan 13 dari rizosfer cabe Aikmal.  Data dianalisis dengan analisis varian, dan uji lanjut menggunakan uji beda nyata jujur pada taraf 5%. Warna koloni isolat yang berhasil di isolasi dikelompokan dalam warna putih, coklat, abu-abu, kuning, hijau, hitam dan ungu. Semua isolat bereaksi gram positif pada pengecatan gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 20 isolat (44,4%) dari isolat Streptomyces sp. yang berhasil diisolasi mampu menghambat pertumbuhan jamur patogen tanaman pada uji antagonis secara berpasangan. Satu isolat (BSi) mampu menghambat tiga jamur patogen tanaman (Fusarium oxysporum, Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii). Dua isolat (CSb dan CSk) menghambat pertumbuhan dua jamur patogen tanaman (F.  oxysporum, R. solani). Tiga isolat (CSa, CSe, CSg) hanya mampu menghambat  F. oxysporum, satu isolat (CAl) hanya mampu menghambat S. rolfsii, dan 13 isolat lainnya hanya menghambat R. solani.  Persentase hambatan oleh Streptomyces sp. terhadap jamur patogen tanaman bervariasi dari yang paling kecil 20% (Streptomyces sp. isolat CAj terhadap R. solani), sampai yang paling besar 70% (Streptomyces sp. isolat BSi terhadap S. rolfsii). ABSTRACT The objective of the research was to obtain Lombok isolate of Streptomyces sp. those has the antagonist ability can be used as biological control agent of several fungal plan pathogens in Lombok Island. The experiments were undertaken in the field and Laboratorium of Microbiology the Faculty of Agriculture Mataram University started from April up to November 2007.The result of the research showed that 45 isolates of Streptomyces sp. have been obtained.  Those isolates includes 9 isolates obtained from the rhizosphere of chili in Steling, 10 from the rhizosphere of tomato in Bayan, 13 from the rhizosphere of chili in Aikmal.  The colour of the colony of the isolate that has been successfully isolated were grouped in the colour of white, brown, grey, yellow, green, black, and purple.  All isolates are gram-positive bacteria according to gram staining test. As much as 20 isolates (44,4%) of isolates of Streptomyces sp. being isolated were capable of inhibiting the growth of fungal plant pathogens according to antagonism test.  One isolate (BSi) was capable of inhibiting three fungal plant pathogens (Fusarium oxysporum, Rhizoctonia solani, and Sclerotium rolfsii).  Two islates (CSb and CSk) were capable in inhibiting two fungal plant pathogens (F. oxysporum and R. solani).  Three isolates (CSa, CSe, CSg) were only able to inhibit F.  oxysporum, one isolate (CAl) was only capable in inhibiting S. rolfsii, and the other 13 isolates were only able to inhibit R. solani.  The percentage of inhibition of the fungal plan pathogens by Streptomyces sp. is varied from the smallest inhibition of 20% (Sterptomyces sp. isolate of CAj against R. solani) to the biggest inhibition of  70% (Streptomyces sp. isolate of BSi against S. rolfsii).
KERAGAAN AKSESI KACANG KOMAK (Lab-lab purpureus (L.) Sweet) PULAU LOMBOK PADA LAHAN BASAH DAN KERING Listiana, Erna; ., Sumarjan
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengevaluasi karakter kuantitatif dari aksesi kacang komak pada dua tipe lahan. (2) Untuk mengetahui potensi dari masing-masing aksesi untuk dikembangkan melalui program pemuliaan tanaman. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga blok sebagai ulangan. Evaluasi dilakukan terhadap 10 aksesi kacang komak Lombok yang sekaligus sebagai perlakuan. Pengamatan dilakukan terhadap karakter-karakter kuantitatif yaitu umur berbunga (hst), umur berbuah (hst), jumlah biji per polong, umur panen (hst), jumlah daun, berat brangkasan basah (gram), berat brangkasan kering (gram), berat biji per tanaman (gram) dan berat 100 butir biji (gram). Data hasil pengamatan dianalisa menggunakan Analisis keragaman pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keragaan kacang komak Lombok lebih baik ketika ditanam pada lahan kering daripada lahan basah. Sedangkan aksesi K11 memiliki daya hasil tertinggi baik pada penanaman di lahan basah (sawah) maupun kering (tegalan). Oleh karena itu aksesi tersebut berpotesi untuk dikembangkan lebih lanjut dalam program pemuliaan tanaman ABSTRACT The objectives of this research are (1) To evaluate quantitative characters of hyacine bean accessions in two types of land. (2) To know the potential of each accession to be develops further through plant breeding programs. This research used experimental method, Randomized Complete Block Design (RCBD) with 3 block as a replication. Evaluation was done on 10 accessions of hyacine bean as a treatment. Observation was done on quantitative characters, that are age of flowering (day), age of fruiting (day), number of seeds/pod, age of harvest (day), number of leaves, weight of wet biomass (gr), weight of dry biomass (gr), weight of seeds/plant (gr) and weight of 100 seeds (gr). The observed data was analyzed by Analysis of Variance at level of 5% of significant. The results of this research revealed that accession K11 has the highest yield on wet and dry land. Therefore it is a potential accession to be develops through plant breeding programs. Furthermore, the performance of quantitative characters of Lombok accessions of hyacine beans was better while grown in dry land compare to wet land.
PENGENDALIAN HAMA KEONG MAS (Pomacea analiculata L.) DENGAN TEKNIK PERANGKAP DAN JEBAKAN Wiresyamsi, Astam; Haryanto, Hery
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini ádalah untuk menguji pengaruh beberapa teknik perangkap dan jebakan untuk menekan populasi dan intensitas serangan hama keong mas pada tanaman padi, serta untuk mencari alternatif pengendalian yang paling tepat guna mengurangi serangan hama keong mas berdasarkan prinsip-prinsip PHT guna menunjang ‘gerakan pertanian selaras alam.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan percobaan di lapangan, dirancang menurut Rancangan Acak Lengkap Berblok yang terdiri atas lima perlakuan, dan setiap perlakuan diulang dalam tiga blok.  Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis keragaman pada taraf signifikansi 5%, dan jika terdapat beda nyata antar perlakuan maka diuji lanjut dengan uji beda-nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah kelompok telur hama keong mas paling tinggi pada perlakuan teknik pengendalian dengan tiang pancang, 17,37 kelompok telur/m2, dan terendah pada teknik perangkap batang dan daun pepaya, 0,79 kelompok telur/m2.  Rata-rata jumlah populasi hama terendah didapat pada perlakuan teknik penghalang/penyekatan menggunakan karung plastik, 3,87 ekor/m2 dan tertinggi pada perlakuan pemberian umpan, 109,33 ekor/m2.  Intensitas serangan hama keong mas tertinggi pada perlakuan pembanding (tanpa pengendalian), 75,2% dan terendah pada perlakuan teknik penyekatan menggunakan karung plastik, 1,27%.  Pengendalian dengan teknik penghalang menggunakan karung plastik ternyata merupakan teknik yang paling baik untuk mengurangi perkembangan populasi dan intensitas serangan hama keong mas yang menyerang tanaman padi. ABSTRACT The aim of this research is to examine the effect of several attracting and trapping methods to reducing the population and the damage intensity of the Golden snail at the rice cultivation.  It is also to find an alternative method to controll the snail based on the Integrated Pest Management (IPM) principles to support the agricultural movement on natural wisdom.  The findings of the research are hoped to give a recommendation on attempting to controll the snails to the farmers, and introductory information to other researchers who are interested in this topic.  A randomized complete block design (RCBD) was used with five treatments and three replications.  Data were analyzed by Analysis of Variance on 5% significant level.  Results show that the highest colony of the snail eggs was recorded at treatment by preparing some sticks (17.37 colony/m2), and the lowest was at treatment of ‘perangkap” (0.79 colony/m2). The lowest population found at treatment of using barrier of plastic banner (3.87 snails/m2), and the highest was at treatment of ‘perangkap’ (109.33 snails/m2). Whereas the highest damage intensity was at no treatment (75.2%) and the lowest was at treatment using barrier of plastic banner (1.27%). In general, barrier is a good treatment to reduce snail population that attack rice cultivation.
AMPLIFIED FRAGMENT LENGTH POLYMORPHISM (AFLP) ANALYSIS OF GENETIC DIFFERENTIATION AMONG ASCOCHYTA BLIGHT RESISTANT ACCESSIONS OF FABA BEAN Yakop, Uyek Malik
CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Ascochyta blight caused by Ascochyta fabae is one of the most destructive diseases on faba bean. There was variation among putatively resistant faba bean accessions in their response to various isolates of A. fabae. The present study was conducted to investigate genetic similarities among the Ascochyta blight resistant faba bean accessions and to identify whether there was a relationship between the genetic similarity and genetic control of resistance to A. fabae, as well as between the genetic similarity and origin of the accessions. Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP) analysis was utilised to identify the genetic distance among 20 resistant and 2 susceptible accessions.  Three primer combinations (PstACA-MseCAG, PstACA-MseCCA and Ps ACA-MseCGA) revealed a high level of polymorphisms.  The average genetic distance over all accessions was 0.34 with the pair-wise ranged from 0.09 to 0.53. The phylogenetic tree divided the 22 accessions into two major groups and several groups of two and three.  The analysis was inconclusive when the genetic control of resistance to A. fabae, the region of origin and the source population were compared to the genetic distances among the accessions. ABSTRAK Bercak daun yang disebabkan oleh Ascochyta fabae merupakan salah satu kerusakan karena penyakit yang parah terhadap kacang babi (faba bean). Terdapat perbedaan respon diantara galur-galur yang tahan terhadap isolate A. fabae yang berbeda. Penelitian ini telah dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji keeratan genetic diantara galur-galur kacang babi yang tahan terhadap isolate A. fabae dan untuk melihat apakah ada hubungan antara keeratan genetic dengan gen pengontrol ketahanan terhadap A. fabae, dan juga antara keeratan genetic dengan tempat asal  dari galur-galur tersebut. Analisis AFLP (Amplified Fragment Length Polymorphisms) telah digunakan untuk mengidentifikasi keeratan genetic diantara 20 galur tahan dan 2 galur tidak tahan sebagai control.  Tiga kombinasi primer ((PstACA-MseCAG, PstACA-MseCCA dan Ps ACA-MseCGA) menghasilkan polimorpi yang tinggi.  Rata-rata keeratan genetic dari semua ke 22 galur adalah 0,34 dengan rentang pasangan dari 0,09 hingga 0,53.  Pohon pilogenetik membagi 22 galur menjadi dua grup utama dan beberapa grup terdiri dari dua dan tiga galur. Hasil analisis menunjukkan bahwa keeratan hubungan antara sifat tahan terhadap A. fabae, asal dan populasi sumber tidak dapat disimpulkan dengan nyata.

Page 1 of 1 | Total Record : 10