Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies
ISSN : 25286110     EISSN : 25287435
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies (JCIMS) is a peer reviewed academic journal, established in 2016 as part of the Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Medan, dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of contemporary Islam and Muslim societies in Indonesia, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. JCIMS welcomes contributions of articles on Indonesian Islam studies, especially local Islamic studies.
Articles 25 Documents
POLEMIK SAYYID USMAN BETAWI DAN SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAU TENTANG SALAT JUMAT

Ilyas, Ahmad Fauzi ( STIT Ar-Raudhatul Hasanah )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.3194

Abstract

Abstrak: Penelitian ini membahas polemik antara Sayyid Usman Betawi dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau tentang pelaksanaan salat Jumat di dua masjid di Palembang. Artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dengan memanfaatkan metode analisis isi. Kajian ini dimulai dari pengungkapan biografi kedua ulama dan polemik kedua ulama dalam bidang fikih, khususnya tentang salat Jumat. Perdebatan ini memang menyita perhatian Sayyid Usman yang menulis sepuluh karya tentang objek yang diperdebatkan. Studi ini menunjukkan bahwa tradisi kritik tidak saja berlaku pada ulama di era klasik, tetapi juga ulama Nusantara di era Kolonial. Perdebatan di antara dua ulama dalam satu persoalan terjadi pada satu masa tetapi berbeda tempat. Studi ini berkontribusi bagi pengkajian hukum Islam di era kolonial Belanda, sekaligus telah membuktikan bahwa ulama-ulama Nusantara berkontribusi dalam pengkajian hukum Islam di Nusantara.Abstract: Polemic of Sayyid Usman Betawi and Shaykh Ahmad Khatib Minangkabau about Friday Prayer. This study discusses the polemic between Sayyid Usman Betawi and Shaykh Ahmad Khatib Minangkabau about carrying out Friday prayers in two mosques in Palembang. This article is the result of library research using the content analysis method. This study begins with the disclosure of the biographies of the two ulemas and polemics of the two scholars in the field of jurisprudence, especially regarding Friday prayers. This debate indeed caught the attention of Sayyid Usman, who wrote ten works on the debated objects. This study shows that the tradition of criticism not only applies to the ulama in the classical era, but also the scholars of the Archipelago in the Colonial era. The debate between the two scholars in one problem occurred at one time but at a different place. This study contributes to the study of Islamic law in the Dutch colonial era, while also proving that the archipelago’s scholars contributed to the study of Islamic law in the archipelago region.Kata Kunci: fikih, ulama, naskah, Haramain, Nusantara

HISTORIOGRAFI ILMU FALAK DI NUSANTARA: Sejarah, Motivasi dan Tokoh Awal

Rakhmadi Butar-Butar, Arwin Juli ( Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Indonesia )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.2928

Abstract

Abstrak: Studi ini mengkaji perkembangan ilmu falak di Nusantara. Perkembangan studi falak memang relatif tertinggal jauh dari perkembangannya di pusat-pusat peradaban Islam seperti Damaskus, Baghdad, Kairo dan Cordova. Ilmu falak baru berkembang di Kepulauan Nusantara sejak abad 19-20 M. Penulisan karya-karya ilmu falak oleh ulama Nusantara abad 19-20 pun lebih didasari oleh pemenuhan kebutuhan ibadah sehari-hari, khususnya salat dan puasa. Dalam konteks ini, penggambaran historiografi dan transmisi perkembangan ilmu falak dari Timur Tengah ke Nusantara masih terhitung sebagai kajian terlantar. Karena itu, diperlukan kajian komprehensif tentang perkembangan studi ilmu falak di Indonesia. Sebagai studi awal, artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dengan pendekatan sejarah dimana datanya didasarkan pada telaah dokumen. Kajian ini mengemukakan bahwa ilmu falak mulai berkembang di Nusantara mulai abad ke-19, dimana para ulama Nusantara mendalami ilmu tersebut dari Timur Tengah dengan ragam motivasi, dan kemudian mereka mengembangkannya di tanah kelahiran dan mewariskan sejumlah karya dalam bidang ini.Abstract: Historiography of the Science of Astronomy in Indonesian Archipelago: History, Motivation and Early Figures. This study examines the development of astronomy in Indonesian archipelago which was relatively left behind by its development in the centers of Islamic civilization such as Damascus, Baghdad, Cairo and Cordova. As a matter of fact, astronomy did not develop in the Archipelago until in the 19th and 20th centuries, when some works on the field were identified. These works of the 19th and 20th century scholars mostly fulfilled the needs of daily worship, especially prayer and fasting. The historiography of astronomy in Indonesia and its transmission from the Middle East present an interesting field of research that has not been. The present article is a result of a preliminary library research focusing on history, motivation, and the early scholars of the field. Apparently, local scholars studied astronomy in different seats of knowledge in the Middle East and then brought it home. In order to meet local need they authored several books on the field which need to be be studied further in the coming years.Kata Kunci: astronomi, ulama, Nusantara, Timur Tengah

KESULTANAN PEUREULAK DAN DISKURSUS TITIK NOL PERADABAN ISLAM NUSANTARA

Muchsin, Misri A. ( Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.3154

Abstract

Abstrak: Pada Maret 2017, pemerintah Indonesia menetapkan Barus sebagai titik nol peradaban Islam Indonesia, yang ditandai dengan pembangunan sebuah monumen sederhana yang diresmikan langsung oleh Presiden RI. Para sejarawan Muslim memberikan respons terhadap kebijakan tersebut, ada yang mendukung dan ada yang tidak. Penulis merasa penting untuk sekali lagi menekankan bahwa Peureulak di pantai timur Sumatra adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Sesungguhnya ini sudah merupakan kesimpulan dari sejumlah kajian para sejarawan. Sebab itu, dari perspektif akademik, penetapan Barus sebagai titik nol peradaban Islam masih perlu dikaji dan ditinjau kembali. Sebab meskipun Barus menjadi lokasi pertama yang menerima Islam pertama sekali, tetapi masyarakat Muslim di sana tidak membentuk kekuatan politik, melainkan Peureulak lah yang sukses mencapai kekuatan politik Islam pertama di Nusantara.Abstract: Peureulak Sultanate and the Discourse on ‘Zero Point of Nusantara’s Islamic Civilization’. In March 2017, Indonesian Government officially recognized Barus, a historical small city at the western coast of Sumatra, as the zero point of Indonesian Islamic Civilization. This recognition was marked by a relatively modest monument, inaugurated by the President of the Republic of Indonesia. Muslim historians responded differently: some agree and others disagree. The present author finds it very important to underline once again that Peureulak Sultanate at the eastern coast of Aceh was the first sizeable Islamic Kingdom of not just the Indonesia archipelago but also of the whole Southeast Asian archipelago. As a matter of fact, this has been the conclusion of several historical studies. Therefore, from scholarly point of view, the placement of this important monument at Barus needs to be studied and revisited. While Barus was indeed the first point of the arrival of Islam, the Muslim community there did not form any sizeable socio-political force. Peureulak, on the other hand, was successful in doing so.Kata Kunci: Peureulak, Aceh, Nusantara, politik

GERAKAN PEMBARUAN PENDIDIKAN AL ITTIHADIYAH DI SUMATERA TIMUR, 1935-1975

Soiman, Soiman ( Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Sumatera Utara )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.2752

Abstract

Abstrak: Studi ini mengkaji gagasan pendidikan Al Ittihadiyah meliputi bidang pendidikan dan metode pendidikan. Studi ini dilatarbelakangi oleh kelangkaan referensi tentang organisasi asal Sumatera Timur ini, terutama gerakan dan gagasan Al Ittihadiyah dalam bidang pendidikan. Studi ini merupakan hasil penelitian kualitatif. Data diperoleh dari kegiatan studi dokumen yang dianalisis dengan metode analisis isi dan diperkaya dengan menggunakan teknik wawancara. Kajian ini mengajukan temuan bahwa Al Ittihadiyah berkontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam di Sumatera Timur, dimulai dari era Kolonial sampai pasca kemerdekaan. Sebagaimana organisasi Islam pembaharu lain, Al Ittihadiyah sebelum masa kemerdekaan telah melakukan pembaruan kurikulum dan metode pendidikan, sehingga organisasi ini berperan dalam memperbaiki kualitas pendidikan kaum Muslim di Nusantara. Tetapi belakangan ini, terlihat organisasi ini relatif kurang memainkan peran dalam pengembangan pendidikan Islam mengingat lembaga-lembaga pendidikan tidak lagi dikelola oleh organisasi secara sentralistis.Abstract: Al Ittihadiyah Education Modernisation Movement in East Sumatra, 1935-1975. This study examines the ideas of Al Ittihadiyah’s education in the fields of education and education methods. This study was motivated by the scarcity of references about organizations from East Sumatra, especially Al Ittihadiyah’s movements and ideas in the field of education. This study is the result of qualitative research. Data obtained from document study activities which was then analyzed by the method of content analysis and enriched using interview techniques. This study proposes findings that Al Ittihadiyah contributed to the development of Islamic education in East Sumatra, starting from the Colonial era to post-independence. As with other reforming Islamic organizations, Al Ittihadiyah prior to independence had carried out reforms in curriculum and educational methods, so that this organization played a role in improving the quality of education of Muslims in the archipelago. However, in the latest development, it appears that this organization has relatively little role to play in the development of Islamic education since educational institutions are no longer managed by organizations centrally.Kata Kunci: Al Ittihadiyah, pendidikan, Sumatera Timur, Melayu

NARASI PENDIDIKAN DARI TANAH BETAWI: Pemikiran Sayyid Usman tentang Etika Akademik

Harahap, Radinal Mukhtar ( Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.2919

Abstract

Abstrak: Studi ini mengkaji pemikiran Sayyid Usman tentang etika pendidikan dalam perspektif Islam. Studi ini perlu dilakukan mengingat belum banyak studi tentang tokoh lokal dari Nusantara yang berkontribusi dalam bidang pendidikan Islam. Artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan yang mengandalkan metode analisis isi, dan mengajukan temuan bahwa Sayyid Usman menulis sebuah karya dalam bidang etika yang berjudul Âdâb al-Insân. Kitab ini relatif kurang diteliti dalam sudut pandang pendidikan Islam. Berdasarkan telaah terhadap naskah Nusantara ini, penulisnya menegaskan bahwa pendidikan merupakan solusi utama dalam rangka memperbaiki adab orang-orang jahat dengan mengajarkan serangkaian adab yang melingkupi aspek kepribadian, sosial dan profesionalitas. Studi ini berkontribusi dalam penguatan gugusan literatur dalam bidang pendidikan Islam mengingat tidak banyak tokoh Nusantara yang dikenalkan dan dikaji di perguruan tinggi Islam.Abstract: Paedagogical Narrative from Betawi Land: Sayyid Usman’s Thoughts on Educational Ethics. This study examines Sayyid Usman’s thinking concerning the ethics of education in an Islamic perspective. This study is necessary considering the scarcity of research on local scholars who have contributed to the field of Islamic education. This article is the result of library research that relies on the method of content analysis, and proposes findings that Sayyid Usman wrote a work in the field of ethics, entitled Âdâb al-Insân. This book is relatively under-researched in the perspective of Islamic education. Based on a review of this archipelago script, the author emphasizes that education is the main solution in improving the ethics of bad people by teaching a series of âdâb which covers aspects of personality, social and professionalism. This study contributes to the strengthening of the literature in the field of Islamic education considering that there are not many Nusantara figures introduced and studied in Islamic Higher Education institutions.Kata Kunci: pendidikan, etika, Nusantara, Betawi, Sayyid Usman

ALIRAN MINORITAS DALAM ISLAM DI INDONESIA

Wahid, Ramli Abdul ( Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.638 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i2.1071

Abstract

Abstrak: Indonesia menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, dan pandangan hidup dalam kehidupan bangsa dan negara. Meskipun bukan negara agama, mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam, khususnya mazhab Ahlussunnah Waljamaah (Sunni). Di antara masyarakat Sunni tersebut berafiliasi dengan organisasi Al Jam’iyatul Washliyah, Nahdlatul Ulama, Persis, dan Muhammadiyah yang memiliki wakil di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Meskipun didominasi oleh masyarakat Muslim Sunni, aliran baru juga muncul seperti Syiah dan Ahmadiyah yang dinilai oleh MUI sebagai aliran yang menyimpang. Tidak jarang muncul diskursus dan konflik antara kelompok Sunni dan aliran minoritas Muslim tersebut. Artikel ini mengkaji keberadaan aliran minoritas yang dinilai menyimpang di Indonesia, dan respons MUI terhadap berbagai aliran tersebut. Berdasarkan observasi dan studi dokumen, ditemukan aliran dan paham menyimpang di Indonesia dengan jumlah pengikut signifikan yang memunculkan respons dari MUI, termasuk organisasi-organisasi Islam, yang pada gilirannya melahirkan fatwa keagamaan tentang aliran dan paham menyimpang di Indonesia. Abstract: Islamic Minority Groups in Indonesia. Indonesia makes Pancasila the basis of the state, and the way of life of the nation and state. Although not being a religious state, the majority of the Indonesian population embraced Islam, especially Ahlussunnah Waljamaah (Sunni). Among the Sunni communities are affiliated with the organization Al Jamiyatul Washliyah, Nahdlatul Ulama, Persis, and Muhammadiyah all of which represent in the Majelis Ulama Indonesia (MUI). Although dominated by Sunni Muslim majority, new mainstreams have also emerged as Shia and Ahmadiyah as perceived by the MUI as deviant sects. Frequently there are discursions and conflicts between Sunni and Muslim minorities. This article examines the existence of Muslim minorities in Indonesia, and the MUIs response to the various streams. Based on observations and document studies, there are significant influxes and understandings in Indonesia with a significant number of followers raising responses from MUI, including Islamic organizations, which in turn led to religious fatwas on the deviation of faith and  perversion in Indonesia. Kata Kunci: Indonesia, fatwa, MUI, aliran sesat, Syiah, Ahmadiyah

PEREMPUAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN AL JAM’IYATUL WASHLIYAH

Hanum, Latifah ( FKIP Universitas Islam Sumatera Utara )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.455 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1755

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji kedudukan perempuan di lembaga pendidikan Al Jam’iyatul Washliyah di Sumatera Utara. Organisasi Al Washliyah merupakan organisasi Islam tradisional yang menganut mazhab Ahlussunnahwaljamaah dalam bidang akidah dan Syâfi‘iyah dalam bidang fikih. Afiliasi organisasi ini dalam kedua mazhab tersebut disinyalir akan tidak memberikan kedudukan yang setara antara perempuan dengan laki-laki. Artikel ini merupakan hasil penelitian kualitatif dimana data penelitian diperoleh dari kegiatan telaah dokumen dan observasi. Kajian ini mengajukan temuan bahwa lembaga pendidikan Al Washliyah yang dikelola oleh Majelis Pendidikan Al Washliyah ternyata belum memberikan porsi signifikan bagi kaum perempuan dalam struktur organisasinya. Tidak pernah ditemukan perempuan menjadi ketua atau sekretaris majelis, kecuali sebagai bendahara. Tetapi, kaum perempuan telah dilibatkan sebagai manajer di lembaga pendidikan Al Washliyah. Sebab, beberapa jabatan pimpinan madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi Al Washliyah dipegang oleh kaum perempuan. Tenaga pendidik di lembaga pendidikan Al Washliyah telah banyak diisi oleh kaum perempuan. Sebagian guru dan dosen perempuan Al Washliyah telah memiliki ijazah master. Memang, beberapa dari mereka dipercayakan sebagai manajer dengan tanggung jawab yang besar.  Abstract:  Women in Al Jam’iyatul Washliyah Educational Institution. This article examines women’s position in Al Jam’iyatul Washliyah educational institutions in North Sumatra. Al Washliyah organization is a traditional Islamic organization that practices the Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah theology and Shâfi‘i school of law. It has been alledged that these school of theology and law would not allow equal opportunity for man and woman. Nevertheless, this study—which mainly based on document review and observation—found that that was not exactly the case. While it is true that in Al Washliyah Education Council women are under respresented, the condition is much better in educational institutions. In Al Washliyah educational institutions, it is common to find female teachers and lecturers with master degrees. Indeed, some of them are entrusted as managers with substantial responsibilities.  Kata Kunci: gender, perempuan, Al Washliyah, madrasah, Sumatera Utara

PERSEPSI PEMUKA AGAMA TERHADAP BIAS GENDER DITINJAU DARI LATAR BELAKANG SUKU

Lubis, Dahlia ( Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.894 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i1.321

Abstract

Abstrak: keberadaan berbagai kajian dan literatur tentang gender tidak serta merta merubah pandangan masyarakat tentang keadilan gender. Sebab, kajian gender tetapi memiliki pendukung dan penentang. Ada pendapat bahwa kajian gender berupaya merubah ajaran agama itu sendiri. Dalam kajian gender selama ini, ditemukan banyak pihak yang ikut berkontribusi bagi muncul dan berkembangnya paham yang bias gender dalam masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. Di antara pihak yang bertanggungjawab terhadap kelestarian paham yang diskriminatif terhadap perempuan adalah para pemuka agama yang diwakili oleh para ustaz dan ustazah dimana mereka memainkan peran sebagai penyampai ajaran agama kepada masyarakat Muslim. Artikel ini mengkaji pandangan para ustaz dan ustazah terhadap ketidakadilan gender yang dilihat dari latar belakang suku masing-masing, sehingga akan terungkap perihal adakah kaitan antara latar belakang suku seorang ustaz dan ustazah terhadap persepsi mereka tentang ketidakadilan gender. Didasari oleh studi lapangan, dimana data penelitian diperoleh dari angket dan wawancara, kajian ini menemukan bahwa masih ditemukannya pemahaman bias gender dalam persepsi ustaz dan ustazah di kota Medan. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kajian gender di Indonesia.   Kata Kunci: ustaz, ustazah, ketidakadilan, gender, suku Abstract: The Perception of Islamic Preachers about Gender Bias Reviewed From Ethnic Group Backgrounds. The existence of various studies and literature on gender does not automatically change the societys opinion about gender equality. As such, supporters and opponents of the idea are readily found. One opinion goes as far as saying that gender studies try to alter the teachings of religion itself. In the gender studies has been found that many contributed to the emergence and development of gender biased ideology in Muslim societies, especially in Indonesia. Among those responsible to discriminatory preservation of women are religious leaders who are represented by ustaz and ustazah where they play the role of religious teachings to the Muslim community. This article examines the opinions of ustaz and ustazah on gender inequality realized from the background of each ethnic group, so it will be revealed about whether there is a link between ethnic background of an ustaz and ustazah to their perception of gender injustice. Based on field studies, where the research data was obtained from questionnaires and interviews, this study found that there is an understanding of gender bias in ustaz and ustazah perceptions in Medan city. This study is expected to contribute to gender studies in Indonesia. Keywords: ustaz, ustazah, injustice, gender, ethnic group

RESISTENSI PENEGAKAN SYARIAT ISLAM DI ACEH TENGGARA

Agustiansyah, Agustiansyah ( STIT Babussalam Aceh Tenggara )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.031 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i2.1392

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji peran Wilayatul Hisbah dalam menegakkan syariat Islam di Aceh Tenggara. Kajian ini merupak hasil dari penelitian lapangan dan data diperoleh melalui kegiatam wawancara dan observasi untuk menjawab fokus kajian. Kajian ini mengajukan temuan bahwa penegakan syariat Islam di daerah Aceh Tenggara masih mengalami kemandegan. Wilayatul Hisbah masih menghadapi berbagai kendala dalam menegakkan syariat Islam terutama yang berkaitan dengan aspek kelembagaan, penerapan hukum, proses hukum dan kesiapan perangkat hukum dan sumber daya manusia. Kesulitan dalam menegakkan syariat Islam diperparah oleh belum adanya kesadaran hukum masyarakat di Aceh Tenggara. Pelanggaran qânûn syariat Islam masih terjadi di perkampungan, dan aparat penegak hukum syariat Islam tidak banyak hanya berdiam diri. Diperlukan reformasi struktur hukum dan birokrasi penegak qanun di Aceh. Kajian ini berkontribusi untuk membantu pemerintah Aceh dalam memperbaiki sistem dan mensukseskan penegakan syariat Islam di Aceh. Abstract: The Resistence of the Application of Islamic Law in Aceh Tenggara. This article examines the role of the Wilayatul Hisbah Region in enforcing the Sharia of Islam in Southeast Aceh. This study is the result of field research and data obtained through interviewing and observation activities to answer the focus of the study. This study proposes that the enforcement of Islamic law in the Southeast Aceh region is still stagnating. The Wilayatul Hisbah area still faces various obstacles in enforcing Islamic law especially related to institutional aspect, law implementation, legal process and readiness of law and human resources. Difficulties in enforcing Islamic Shariah is worsened by the absence of legal awareness of the community in Southeast Aceh. Violations qânûn Islamic Sharia still occur in the village, and law enforcement officers of sharia Islam is not much just silence. Required reform of the legal structure and bureaucracy of qanun enforcers in Aceh. This study contributes to assisting the Aceh government in improving the system and succeeding the enforcement of Islamic Shariah in Aceh. Kata Kunci: Aceh, Wilayatul Hisbah, syariat Islam, qânûn

ORGANISASI ISLAM DI TANAH MELAYU: Ideologi dan Gerakan Al-Ittihadiyah Sebelum Era Reformasi

Rasyidin, Al ( Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara )

Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.501 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1746

Abstract

Abstrak: Artikel ini menelaah organisasi Al-Ittihadiyah di Sumatera Utara. Secara khusus, artikel ini akan menguak ideologi yang diperjuangkan organisasi, amal usaha, serta perkembangannya di komunitas yang majemuk. Artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan yang didukung oleh data lapangan. Metode yang digunakan adalah analisis isi. Artikel ini mengajukan temuan bahwa Al-Ittihadiyah merupakan salah satu organisasi Islam yang lahir di Kota Medan dimana kelompok ulama dan tokoh Melayu menjadi patron utama organisasi ini. Al-Ittihadiyah seakan menjadi corong bagi etnis Melayu di Sumatera Timur, dan ini yang membedakan mereka dengan etnis Minangkabau yang berafiliasi dengan Muhammadiyah dan etnis Mandailing yang berafiliasi dengan Al Jam’iyatul Washliyah. Selain itu, Al-Ittihadiyah sebagai organisasi tidak berafiliasi dengan mazhab akidah dan fikih tertentu, tetapi para pendukungnya adalah penganut mazhab Asy‘ariyah dan Syâfi‘iyah. Kemudian, Al-Ittihadiyah bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah dan amal sosial, meskipun mulai dari awal kemerdekaan Al-Ittihadiyah terlibat dalam Partai Masyumi, dan kelak tokoh-tokohnya melibatkan diri dalam PPP yang akhirnya membuat organisasi ini kalah bersaing dengan Al Washliyah dan Muhammadiyah dalam pengembangan amal usahanya.    Abstract: Islamic Organization in Malay Land: Ideology and Movements of Al-Ittihadiyah Before-Reform Era. This article examines the Al-Ittihadiyah organization in North Sumatra, focusing on its ideology, programs, and its development in a pluralistic community. This article is based on content analysys study, combining literary information and field data. This article proposes that Al-Ittihadiyah was one of the Islamic organizations established in Medan City, initiated and patronized by Malay clerics and prominent figures. As such this organisation has a very close ties with Malays, very much like the association of the Minangkabaus with Muhammadiyah and Mandailings with Al Jam’iyatul Washliyah. In addition, Al-Ittihadiyah as an organization is not affiliated with certain schools of faith and jurisprudence, but its supporters are adherents of the Ash‘ariyah and Syâfi‘iyah schools. Al-Ittihadiyah engages in education, da’wah and social charity. In the beginning of independence, Al-Ittihadiyah leaders joined the Masjumi Party, and later on the Unity and Development Party (PPP). It seems that this political involvement makes this organization unable to compete with Al Washliyah and Muhammadiyah.Kata Kunci: organisasi Islam, Al-Ittihadiyah, mazhab, pendidikan, dakwah, politik, Melayu

Page 1 of 3 | Total Record : 25