Jurnal Penyakit Dalam Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25802925     EISSN : 25802933
Udayana Journal of Internal Medicine is an open access, peer-reviewed journal aiming to communicate high quality research articles, reviews and general articles in the field of internal medicine. Udayana Journal of Internal Medicine publishes articles which encompass all aspects of basic research/clinical studies related to the field of internal medical sciences. The Journal aims to bridge and integrate the intellectual, methodological, and substantive diversity of medical scholarship, and to encourage a vigorous dialogue between medical scholars and practitioners.
Articles
19
Articles
Diagnosis dan tatalaksana renal sel karsinoma

Adnyani, Ni Made Dwi, Widiana, I Gde Raka

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 2 (2018): Vol 2 No 2 (2018) July-December 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1282.828 KB)

Abstract

Karsinoma sel renal (KSR) merupakan kanker yang cukup sering terjadi, sekitar 3 sampai 4% kasus di Amerika Serikat, namun di Asia kasusnya cukup jarang. Insiden KSR semakin menigkat dalam beberapa tahun terakhir. Perokok aktif dan pasif seperti juga hipertensi merupakan faktor risiko KSR. Dilaporkan sebuah kasus, perempuan, 61 tahun, dengan Chronic Kidney Disease (CKD) stadium V et causa chronic pyelonephritis (PNC) single kidney, batu ureter 1/3 distal sinistra, hidronefrosis derajat IV ginjal sinistra, adenokarsinoma (Adeno Ca) renal dextra stadium III post radical nefrectomy. Pasca operasi kondisi pasien sempat membaik, produksi urine cukup ± 800 cc/24 jam, dan ada penurunan serum kreatinin. Pasien sempat menjalani beberapa kali hemodialis selama perawatan dan direncanakan hemodialisis regular. Sepuluh hari paska MRS pasien kembali dirawat dengan pneumonia (Health Care Associated Pneumonia) dan diberikan antibiotik empiris, dalam perkembanganya kondisi semakin memburuk dan akhirnya meninggal dengan penyebab kematian syok sepsis. Kasus ini diangkat untuk memperdalam mengenai diagnosis dan tatalaksana seorang penderita dengan renal sel karsinoma sehingga dapat mencegah terjadinya prognosis buruk di kemudian hari.

Faktor determinan kesintasan hidup lebih dari lima tahun pada pasien hemodialisis reguler

Sudjana, Karismayusa, Ayu, Nyoman Paramita, Kandarini, Yenny, Widiana, Raka, Sudhana, Wayan, Loekman, Jodi Sidharta, Suwitra, Ketut

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 2 (2018): Vol 2 No 2 (2018) July-December 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.878 KB)

Abstract

Latar Belakang: Pasien hemodialisis regular memiliki risiko mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan populasinormal. Angka kesintasam hidup lima tahun pasien hemodialisis regular adalah 35,8% namun angka ini bervariasi di tiap populasi dan dipengaruhi berbagai faktor.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor determinan dari kesintasan hidup lebih dari lima tahun pada pasien hemodialisis regular.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kasus-kontrol. Data diambil dari Indonesian Renal Registry Report di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali. 37 pasien yang menjalani hemodialisis regular selama lebih dari 5 tahun dicocokkan dengan 37 pasien yang menjalani hemodialisis regular selama kurang dari 5 tahun, berdasarkan umur. Data dianalisis dengan uji chi-square.Hasil: Prevalensi pasien yang menjalani hemodialisis regular selama lebih dari 5 tahun didapatkan 9,52%. Kamimenganalisa etiologi penyakit ginjal kronik (PGK), jenis kelamin, tekanan darah, anemia, dan status kecukupanhemodialisis. Perbedaan signifikan kedua kelompok didapatkan pada etiologi PGK (p = 0,021) dan anemia  p=0,0). Tidak didapatkan perbedaan signifikan pada jenis kelamin, tekanan darah, dan status kecukupan hemodialisis (p = 0,63, p = 0,64, dan p = 0,34).Simpulan: Penelitian kami menunjukkan bahwa faktor determinan yang berperan signifikan pada kesintasan hidup lebih dari 5 tahun adalah etiologi PGK dan status anemia.

Satu tahun kesintasan penderita limfoma non-hodgkin berdasarkan klasifikasi histopatologi working formulation

Ludirdja, Evan Pratama, Rena, Ni Made Renny Anggreni, Suega, Ketut, Bakta, Made

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 2 (2018): Vol 2 No 2 (2018) July-December 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.149 KB)

Abstract

Latar belakang: Limfoma Non-Hodgkin (LNH) memiliki manifestasi dan gambaran histologi yang heterogen. Berdasarkan klasifikasi Working Formulation, LNH dibagi menjadi 3, yaitu derajat keganasan rendah, menengah, dan tinggi, yang mencerminkan derajat agresifitas LNH berdasarkan gambaran histopatologiknya. Pada beberapa studi dikatakan LNH tipe indolen cenderung tumbuh lambat dan memiliki kesintasan lebih panjang dibanding tipe yang lebih agresif Tujuan: Membandingkan median kesintasan penderita LNH dari jenis sel B berdasarkan derajat keganasannya sesuai dengan klasifikasi Working Formulation Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif, antara bulan Januari 2013 sampai Juli 2017 di RSUP Sanglah Denpasar. Analisis menggunakan Kaplan meier dan seluruh data dianalisis menggunakan SPSS. Hasil: Dari 88 penderita LNH, diambil 38 subyek yang eligible. Dari data didapatkan sebanyak 21 penderita (55,3%) berjenis kelamin laki-laki, dengan gambaran histopatologi terbanyak berupa Diffuse Large Cell (36,8%). Sebanyak 3 penderita (7,9%) termasuk dalam derajat keganasan rendah, 25 penderita (65,8%) termasuk dalam derajat keganasan menengah, dan 10 penderita (26,3%) dengan derajat keganasan tinggi. Median kesintasan pada LNH derajat keganasan rendah di atas 1 tahun (IK 95%), derajat keganasan menengah 271 hari (IK 95%), dan derajat keganasan tinggi 31 hari (0-72,837, IK 95%), dengan nilai p=0,133, namun kelompok dengan derajat keganasan tinggi cenderung memiliki kesintasan yang lebih rendah dibanding 2 kelompok yang lain. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan kesintasan penderita LNH dengan derajat keganasan rendah, sedang, dan tinggi.

Kadar hemoglobin awal sebagai faktor prognostik penderita limfoma non-hodgkin (LNH) yang menjalani kemoterapi

Winarto, Daniel, Rena, Ni Made Renny A, Adnyana, Wayan Losen, Dharmayuda, Tjokorda Gede, Suega, Ketut, Bakta, I Made

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 2 (2018): Vol 2 No 2 (2018) July-December 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.073 KB)

Abstract

Latar belakang: Anemia sering ditemukan pada saat diagnosis awal LNH. Anemia dapat terjadi karena beberapa kondisi, seperti perdarahan terkait LNH dengan atau tanpa anemia defisiensi besi, anemia karena penyakit kronik, infiltrasi sel-sel LNH ke sumsum tulang, anemia hemolitik autoimun maupun anemia terkait kemoterapi. Anemia mempengaruhi perjalanan klinis dan kesintasan pasien-pasien LNH. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa kadar Hb awal merupakan faktor prognostik penderita LNH yang menjalani kemoterapi.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif mulai bulan Januari 2013 sampai bulan September 2017 pada penderita LNH yang menjalani kemoterapi di RSUP Sanglah Denpasar. Hubungan antara kadar Hb dengan skor R-IPI dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Analisis kesintasan menggunakan metode Kaplan Meier dan Cox Proportional Hazard Mode dengan menggunakan software SPSS. Hasil: Dari 88 penderita LNH, dieksklusi 31 penderita, sehingga total sampel sebanyak 57 orang. Dengan menggunakan analisis komparatif Mann Whitney didapatkan perbedaan signifikan pada skor R-IPI antara pasien LNH dengan Hb ≥ 10 g/dl (md=1, n=46) dan kadar Hb < 10 g/dl (md=3, n=11) (z= -2,106; p= 0,035; d= 0,28). Analisis dengan Kaplan Meier, didapatkan penderita dengan kadar Hb<10 gram/dL memiliki kesintasan lebih pendek dibanding penderita dengan kadar Hb≥10 gram/dL (± 255 vs ± 850 hari; p= 0,002; IK 95%) dan  dengan analisis Cox Regression didapatkan Hazard ratio sebesar 4.46 (p= 0,005). Simpulan: Kadar hemoglobin awal dapat digunakan sebagai faktor prognostik mortalitas penderita LNH yang menjalani kemoterapi.

Faktor – faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar

Surya Rini, Sandra, Kuswardhani, Tuty, Aryana, Suka

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 2 (2018): Vol 2 No 2 (2018) July-December 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.024 KB)

Abstract

Latar Belakang: Gangguan kognitif merupakan salah satu masalah kesehatan lansia dan merupakan prediktor mayor kejadian demensia yang masih menjadi permasalahan kesehatan dan sosial. Penurunan fungsi intelektual merupakan masalah paling serius ketika proses penuaan yang akan mengakibatkan lansia sulit untuk hidup mandiri, dan meningkatkan risiko terjadinya demensia sehingga lansia akan mengalami gangguan perilaku dan penurunan kualitas hidup. Tujuan: Melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar, Bali. Metode: Studi ini menggunakan desain analitik potong lintang dengan metode pengambilan sampel adalah total sampling. Sebanyak 30 sampel terkumpul, dengan 10 sampel dengan fungsi kognitif normal dan 20 sampel memiliki gangguan kognitif. Sampel dilakukan wawancara untuk mengetahui karakteristik demografi. Variabel gangguan pendengaran dinilai dengan kuisioner Hearing  Handicap  Inventory  for  the  Elderly-Screening, Frailty diukur dengan menggunakan Fried Frailty Index, tingkat kemandirian dinilai dengan Activity Daily Living Barthel dan fungsi kognitif dengan kuisioner Montreal Cognitive Assessment Indonesia. Analisis data menggunakan SPSS 17 dengan uji fisher’s exact. Hasil: Sejumlah 30 sampel lansia yang berusia 61-94 tahun mengikuti studi ini dengan median usia 73,73 tahun. Sebanyak 20 sampel didapatkan ada gangguan kognitif dan 10 sampel memiliki fungsi kognitif normal. Skor MoCA-INA berkisar antara 11 – 27 dengan rata-rata skor 19. Dari berbagai variabel yang dianalisis, gangguan pendengaran(p=0,000), tingkat kemandirian (p=0,005), frailty (p=0,017) berhubungan dengan gangguan kognitif secara bermakna. Simpulan: Terdapat 20 orang (67%) mengalami gangguan kognitif. Gangguan pendengaran, frailty, tingkat kemandirian merupakan variabel yang berhubungan dengan gangguan kognitif pada studi ini.

Impending krisis tiroid pada struma multinodusa toksik dengan pneumonia komunitas

Permana, I Gede Komang Aditya

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 1 (2018): Vol 2 No 1 (2018) January-June 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.789 KB)

Abstract

Hipertiroidisme yang berlanjut menjadi krisis tiroid merupakan salah satu komplikasi yang jarang ditemui. Berbagai faktor dapat mencetuskan krisis tiroid pada tirotoksikosis seperti trauma, pembedahan, emboli paru, infark miokard, gangguan serebrovaskular, infeksi, ketoasidosis diabetikum, toksemia gravidarum, dan ketidakpatuhan mengkonsumsi obat anti tiroid. Angka mortalitas yang tinggi menyebabkan penanganan pada kasus ini harus cepat dan tepat, penyebab kematian tersering pada krisis tiroid ialah kegagalan sistem kardiopulmonal. Apabila mendapat penanganan lebih awal maka angka mortalitas dapat dikurangi, oleh karena itu akan dipresentasikan sebuah kasus seorang perempuan usia 58 tahun dengan struma multinodusa yang mengalami impending krisis tiroid dengan faktor pemicu infeksi pneumonia komunitas. Penilaian dengan skor Burch Wartofsky didapatkan nilai 40, yang menunjukkan kecurigaan akan terjadinya impending krisis tiroid, faktor pencetusnya kemudian ditangani dengan pemberian antibiotika, kemudian untuk kondisi tirotoksikosisnya ditangani dengan pemberian obat anti tiroid, antipiretik, beta bloker dan glukokortikoid, setelah menjalani perawatan, kondisi pasien membaik dan diperbolehkan pulang.

Hubungan antara depresi, gangguan fungsi kognitif, dan kualitas hidup penduduk usia lanjut di Desa Pedawa, Kabupaten Singaraja, Bali

Juniarta, Pande Made, Aryana, I Gusti Putu Suka

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 1 (2018): Vol 2 No 1 (2018) January-June 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.615 KB)

Abstract

Latar Belakang: Depresi adalah gangguan psikiatri yang paling sering ditemukan pada usia lanjut di seluruh dunia. Insiden depresi pada usia lanjut sering tidak terdeteksi dan bentuk depresi onset lambat sangat terkait dengan gangguan kognitif, risiko penyakit, kecacatan, dan kualitas hidup yang rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara depresi, gangguan kognitif, dan kualitas hidup penduduk di Desa Pedawa, Singaraja. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong-lintang yang dilakukan pada 13-14 Agustus 2016 dengan sampel sebanyak 117 orang. Penilaian depresi menggunakan kuesioner GDS-15, gangguan kognitif menggunakan kuesioner AMT, dan kualitas hidup dinilai menggunakan kuesioner EQ5D. Sampel diperoleh dengan menggunakan metode konsekutif sampling dan data dianalisis menggunakan SPSS versi 16.0. Hasil: Karakteristik sampel adalah 54 orang (46,2%) pria dan 63 orang (53,8%) adalah wanita. Prevalensi depresi didapatkan sebanyak 24 orang (20,5%) dan gangguan kognitif sebanyak 64 orang (54,7%). Sampel dengan kualitas hidup yang baik, sedang dan buruk masing-masing adalah 35 (29,9%), 66 (56,4%), dan 16 orang (13,7%). Hasil analisis bivariat didapatkan hubungan bermakna antara depresi dengan gangguan fungsi kognitif dan tingkat ekonomi (p < 0,05). Sedangkan hubungan antara depresi dan kualitas hidup diperoleh hasil yang tidak bermakna (p = 0,49). Simpulan: Didapatkan hubungan yang bermakna antara depresi dan gangguan kognitif dan tingkat ekonomi pada penduduk di Desa Pedawa, Kecamatan Singaraja, Bali

Kadar interleukin 6 serum sebagai prediktor luaran rawat inap pada lanjut usia di desa Pedawa Buleleng Bali

Semaradana, Wayan Giri Putra, Suka Aryana, I Gusti Putu, Tuty Kuswardhani, RA, Astika, I Nyoman, Putrawan, Ida Bagus, Rai Purnami, Ni Ketut

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 1 (2018): Vol 2 No 1 (2018) January-June 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.044 KB)

Abstract

Latar Belakang: Angka rawat inap semakin meningkat seiring pertambahan usia sehingga meningkatkan biaya kesehatan. Salah satu faktor risikonya adalah adanya immunosenescence. Inflamasi kronik merupakan penyebab dari immunosenescence dan dapat ditandai dengan peningkatan serum interleukin 6. Tujuan: Mengetahui apakah kadar interleukin 6 (IL-6) serum merupakan prediktor terjadinya luaran rawat inap pada lanjut usia. Metode: Penelitian ini merupakan studi prospektif analitik dengan jumlah sampel sebanyak 76 orang lanjut usia (usia ≥ 60 tahun) di Desa Pedawa Buleleng Bali yang diambil secara stratified random sampling. Pemeriksaan IL-6 kadar serum memakai reagen Quantikine HS Human IL-6 Immonoassay dengan satuan pg/mL. Luaran rawat inap diobservasi selama 6 bulan. Analisis data berupa deskriptif, bivariat (uji komparasi dan uji tabulasi silang) dan analisis multivariat yang menggunakan regresi logistik. Hasil: Rerata kadar IL-6 serum didapatkan 2,8 ±4,09 pg/mL. Dari hasil observasi selama 6 bulan, didapatkan subyek yang mengalami luaran rawat inap sebanyak 12 orang (15,8%). Perbedaan rerata kadar IL-6 serum yang siginifikan didapatkan antara kelompok yang mengalami rawat inap (IK 95%; p <0,01) dibandingkan dengan yang tidak. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa kadar IL-6 serum tetap mempengaruhi terjadinya luaran rawat inap setelah mengendalikan variabel perancu (IK 95%; p <0,01). Uji chi-square menunjukkan subyek dengan kadar IL-6 serum tinggi mempunyai resiko relatif mengalami luaran rawat inap sebesar 18,8 (IK 95%; p <0,01). Simpulan: Kadar IL-6 serum yang tinggi merupakan prediktor luaran rawat inap lanjut usia.

Korelasi antara kadar hemoglobin dengan status kognitif pada pasien geriatri di RSUP Sanglah

Nopriantha, Made, Kuswardhani, RA Tuty

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 1 (2018): Vol 2 No 1 (2018) January-June 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.595 KB)

Abstract

Latar Belakang : Pada pasien Geriatri terjadi penurunan kadar hemoglobin seiring pertambahan usia. Pada keadaan anemia akan timbul kondisi hipoksik sehingga akan mempengaruhi tidak hanya fungsi fisik tetapi juga fungsi kognitif. Tujuan : Untuk mengetahui korelasi antara kadar hemoglobin dan status kognitif pada pasien geriatri di RSUP Sanglah Metode: Penelitian ini merupakan analisa potong lintang. Data diambil dari rekam medis pasien Geriatri (umur > 60 tahun) yang dirawat di RSUP Sanglah dari Mei-Juli 2017. Anemia ditentukan berdasarkan kriteria klinis (hemoglobin < 10 gr/dl) dan status kognitif ditentukan berdasarkan Mini-Mental State Examination (MMSE). Uji pearson digunakan untuk mengetahui korelasi antara 2 variabel numerik dengan distribusi normal. Data secara statistik signifikan bila p < 0,05. Hasil: Total 78 pasien diikutsertakan dalam penelitian ini dimana memuat 37,4% pria dan 52,6% wanita. Prevalensi gangguan kognitif pada pasien geriatri sebesar 41% dan tidak didapatkan perbedaan signifikan berdasarkan umur dan jenis kelamin. Terdapat korelasi antara kadar hemoglobin dan status kognitif pada pasien geriatric. Uji regresi linear menunjukkan umur dan kadar hemoglobin mempengaruhi status kognitif pada pasien geriatri. Simpulan: . Terdapat korelasi antara kadar hemoglobin dan status kognitif pada pasien geriatri.

DIAGNOSIS CEPAT INFEKSI SALURAN KEMIH DENGAN MENGHITUNG JUMLAH LEUKOSITURIA PADA URINALISIS METODE FLOWCYTOMETRY SYSMEX UX-2000 DENGAN BAKU EMAS KULTUR URIN DI RSUP SANGLAH DENPASAR

Pratistha, Fernanda Savitri Mega, Sudhana, I Wayan, Adnyana, I Wayan Losen

Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 2 (2017): Vol. 1 No. 2 (2017) June-December 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.467 KB)

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi bakteri pada saluran kemih, merupakan salah satu penyakit infeksi tersering di Negara berkembang. ISK menempati peringkat kedua, setelah infeksi luka operasi sebagai infeksi nosokomial. Kultur urin merupakan baku emas yang masih digunakan sampai saat ini untuk mendiagnosis ISK, namun memiliki kelemahan yaitu biaya yang mahal, dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil. Pemeriksaan urinalisis otomatis dengan metode flowcytometry dapat digunakan karena lebih praktis dan lebih cepat dalam mendiagnosis ISK. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi pada Urinalisis Otomatis metode Flowcytometry menggunakan Sysmex UX-2000. Penelitian ini merupakan penelitian uji diagnostik dengan menggunakan data rekam medis pasien yang didiagnosis secara klinis mengalami ISK di RSUP Sanglah pada tahun 2016 sampai dengan 2017. Subjek penelitian berjumlah 100 orang dengan rentang usia 2 tahun sampai dengan diatas 65 tahun. Analisis statistik menggunakan program komputer SPSS.23 dan kurva ROC untuk mendapatkan cut-off point leukosituria paling optimal lalu dihitung sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, nilai prediksi negatif dan akurasinya. Berdasarkan analisis kurva ROC didapatkan area under the curve (AUC) jumlah leukosituria berdasarkan metode flowcytometry sebesar 0,846 dan dengan menggunakan cut-off point ≥52,8/mL, memberikan hasil sensitivitas 82,3% spesifisitas 76,3%, nilai prediksi positif 85% nilai prediksi negatif 72,5% dan akurasi 80%. Alat Urinalisis Otomatis dengan metode Flowcytometry memiliki nilai sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang tinggi sehingga dapat diterapkan untuk membantu diagnosis ISK.