cover
Contact Name
Made Edwin Sridana
Contact Email
edwin@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
edwin@unud.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25802925     EISSN : 25802933     DOI : -
Udayana Journal of Internal Medicine is an open access, peer-reviewed journal aiming to communicate high quality research articles, reviews and general articles in the field of internal medicine. Udayana Journal of Internal Medicine publishes articles which encompass all aspects of basic research/clinical studies related to the field of internal medical sciences. The Journal aims to bridge and integrate the intellectual, methodological, and substantive diversity of medical scholarship, and to encourage a vigorous dialogue between medical scholars and practitioners.
Articles 19 Documents
Korelasi Kadar Serum Leptin dengan Aterosklerosis pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus Wanita Manaek, Andi; Kambayana, Gede
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 1 (2017): JPD Vol. 1 No.1 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.195 KB)

Abstract

Penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian tertinggi di dunia. SLE diduga berkontribusi kuat mempercepat timbulnya aterosklerosis. Baru-baru ini, banyak bukti ditemukan berhubung dengan efek hormon pada sistem imun termasuk efeknya pada penyakit autoimun. Leptin dikenal sebagai hormon yang menyerupai sitokin dengan aksi pleiotropik dalam memodulasi respon imun. Penelitian yang dilakukan sebelumnya mendapatkan level leptin yang tinggi pada pasien SLE dengan plak aterosklerosis namun berkorelasi lemah dengan carotid Intima Media Thickness (cIMT). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui korelasi serum leptin dengan aterosklerosis pada pasien SLE. Penelitian dilakukan dengan disain analitik potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple sampling. Konsentrasi serum leptin diperiksa dengan menggunakan metode ELISA dan aterosklerosis diperiksa dengan mesin Duplex carotid-intima Doppler Ultrasound oleh satu orang dokter spesialis radiologi. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Tingkat kemaknaan jika p < 0,05. Sebanyak 54 orang pasien SLE wanita diikutkan dalam penelitian. Rerata kadar serum leptin  adalah 203,83 ± 179,06 ng/ml. Pada pasien didapatkan rerata CIMT adalah 0,48 ± 0,12 mm dengan frekuensi yang mendapat plak 5,5% dan tidak plak 92,7%. Terdapat korelasi lemah antara kadar serum leptin dengan aterosklerosis dalam hal ini yaitu CIMT (r = 0,028; p = 0,843) dan plak (r = 0,008; p = 0,955), tetapi secara statistik tidak bermakna (p < 0,05). Pada penelitian ini tidak didapatkan korelasi antara kadar serum leptin dengan aterosklerosis pada pasien SLE wanita.
Glycated Albumin Sebagai Penanda Kontrol Glikemik Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Ake, Anselmus; Saraswati, Made Ratna; Widiana, I Gde Raka
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 1 (2017): JPD Vol. 1 No.1 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.173 KB)

Abstract

Latar Belakang: Glycated albumin (GA) merupakan indeks kontrol glikemik yang relatif baru. GA mencerminkan statusglukosa darah yang lebih pendek dibandingkan HbA1C, yakni 2-4 minggu sebelumnya. Tujuan: untuk mengetahuiapakah GA dapat digunakan sebagai penanda kontrol glikemik pada penderita DM tipe 2 (DMT2) dengan mencarisensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), dan nilai duga negatif (NDN) dari GA. Metode: Penelitian inimerupakan uji diagnostik, studi potong lintang, dilaksanakan di RSUP Sanglah dari Desember 2015 hingga Februari2016 menggunakan sampel 59 pasien DMT2. Kontrol glikemik ditentukan dengan HbA1C, glukosa puasa dan glukosa2JPP (baku emas). Hasil: Didapatkan area under ROC curve GA adalah 0,9135 (91,35%). Didapatkan 5 cut off point GAdimana 2 cut off point menunjukkan kemampuan skrining GA yakni ≥18,7% dan ≥19%, 2 cut off point menunjukkankemampuan diagnostik GA yakni ≥21,4% dan 22,4%, dan 1 cut off point optimal yakni 20,4%. Hasil uji diagnostikdengan menggunakan tabel silang 2x2 pada masing-masing cut off point yaitu GA ≥18,7% sensitivitas 94,7%;spesifisitas 76,2%; NDP 87,8%; NDN 88,9%. GA ≥19% sensitivitas 89,5%; spesifisitas 81%; NDP 89,5%; NDN 81%. GA ≥20,4% sensitivitas 81,6%; spesifisitas 85,7%; NDP 91,2%; NDN 72%. GA ≥21,4% sensitivitas 76,3%; spesifisitas 90,5%;NDP 93,5%; NDN 67,9%. GA ≥22,4% sensitivitas 63,2%; spesifisitas 95,2%; NDP 96%; NDN 58,8%. Berdasarkan ujikorelasi, terdapat hubungan positif kuat antara GA dengan HbA1C, GA dengan glukosa puasa dan GA dengan glukosa2JPP. Kesimpulan: Pemeriksaan GA darah dapat digunakan sebagai modalitas diagnostik dalam menilai kontrolglikemik pada penderita DMT2.
Hubungan Obesitas Pada Orangtua Dengan Terjadinya Obesitas Pada Anak Remaja SMA Di Kota Denpasar, Provinsi Bali Gozali, Theodorus Onesiforus; Saraswati, Made Ratna
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 1 (2017): JPD Vol. 1 No.1 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.636 KB)

Abstract

Tujuan: Studi ini bertujuan melakukan pencarian prevalensi obesitas orangtua, anak, serta hubungan obesitas orangtua terhadap obesitas anak remaja sekolah menengah atas (SMA) di Denpasar tahun 2015. Metode: Penelitian observasional ini memiliki rancangan studi potong lintang dengan melakukan pengambilan data anak sekolah menengah atas dibeberapa sekolah di Denpasar. Secara acak dipilih sampel yang dapat mewakili Denpasar. Kuesioner dibagikan dan diminta untuk diisi oleh siswa-siswi. Dilanjutkan dengan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, maupun lingkar lengan atas. Pengukuran dilakukan pada siswa-siswi maupun kedua orangtuanya. Hasil: Dari 298, 188 (63,09%) yang dapat diambil menjadi data. Prevalensi obesitas orangtua 40,96% dan obesitas anak sekolah menengah atas 15,4%, di Denpasar tahun 2015. Analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status nutrisi atau gizi ibu ditinjau dari indeks massa tubuh dengan lingkar pinggang atau lingkar lengan atas terhadap status gizi anak sekolah menengah atas di Denpasar. Hubungan dari status gizi pada jumlah orangtua obesitas berdasarkan indeks massa tubuh dengan status gizi pada anak sekolah menengah atas di Denpasar pada 2015 juga ditemukan, nilai p < 0,05. Simpulan: Terdapat hubungan obesitas orangtua ditinjau dari indeks massa tubuh terhadap obesitas anak sekolah menengah atas di Denpasar pada tahun 2015. Adanya kelemahan di dalam penelitian membuat perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut dengan topik ini, dengan sampel lebih besar dan memperhatikan faktor-faktor perancu penelitian.
Kadar Resistin Serum Berhubungan Dengan Skor Child-Turcotte Pugh Pada Penderita Sirosis Hati Koncoro, Hendra; Primadharsini, Putu Prathiwi; Mariadi, I Ketut; Somayana, Gde; Suryadarma, I Gusti Agung; Purwadi, Nyoman; Wibawa, I Dewa Nyoman
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 1 (2017): JPD Vol. 1 No.1 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.413 KB)

Abstract

Latar Belakang: Sirosis hati (SH) sering disertai tingginya resistensi insulin dan kondisi proinflamasi. Resistin yang merupakan suatu adipokin, diketahui memiliki hubungan dengan resistensi insulin dan inflamasi. Studi-studi resistin pada SH memperlihatkan hasil yang bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari hubungan kadar resistin serum dengan skor Child-Turcotte Pugh (CTP) pada penderita SH. Metode: Penelitian observasional, studi potong lintang ini dilaksanakan di RSUP Sanglah dari September 2014 sampai dengan Juni 2015 dengan menggunakan 75 pasien sirosis hati sebagai sampel. Kriteria inklusi mencakup pasien sirosis hati tanpa memandang etiologinya dan berusia 12 tahun atau lebih. Variabel yang diperiksa pada penelitian ini yaitu skor CTP (kadar albumin serum, kadar bilirubin total serum, nilai waktu protrombin, kadar international normalized ratio (INR), tanda ascites, tanda ensefalopati hepatikum), kadar C-reactive protein (CRP), dan kadar resistin serum. Hasil: Enam puluh lima persen dari 75 sampel adalah laki-laki dan sisanya perempuan. Sebelas diantaranya (14,7%) adalah kelas CTP A, 31 (41,3%) kelas CTP B, dan 33 (44%) kelas CTP C. Rerata kadar CRP adalah 15,05 ± 15,86 mg/L. Rerata kadar resistin adalah 23,39 ± 17,79 ng/mL. Hasil uji korelasi didapatkan korelasi positif yang sedang antara kadar resistin dan skor CTP (r = 0,438; p < 0,001). Korelasi positif sedang juga didapatkan antara CRP dan resistin (r = 0,478; p < 0,001). Simpulan: Kadar resistin memiliki korelasi sedang dengan skor CTP pada pasien SH. Kadar resistin didapatkan lebih tinggi kadarnya pada SH yang berat. Hal ini menunjukkan adanya kondisi inflamasi dan resistensi insulin seiring dengan peningkatan derajat beratnya SH.
Korelasi Antara Derajat Beratnya Osteoarthritis Lutut dan Cartilage Oligomeric Matrix Protein Serum Andriyasa, Ketut; Putra, Tjokorda Raka
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 2 (2017): Vol. 1 No. 2 (2017) June-December 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalence of knee Oateoarthritis (OA) in the community is quite high.  Various attempts have been made to find markers of cartilage damage. One potential marker is Cartilage Oligomerix Matrix Protein (COMP). Based on this, researchers want to know whether there is a correlation between the severities of knee OA with serum concentration of COMP in human. This study is a cross sectional analytic study. The diagnosis of knee OA based on ACR criteria and the degree of knee OA severity is determined based on the Kellgren and Lawrance criteria. COMP patients are checked by using ELISA method. The correlation between the severities of knee OA and serum COMP was analyzed by Spearman correlation test. Level of statistical significance used was p < 0.05. Sixty-six patients included in this study, in which 28 (42,4%) of them were male and 38 (57,6%) were women. The mean age is 63,9 ± 7.0 years with a range of 50 to 84 years. The severity of knee OA are :  4.5% for grade one, 35.8% grade two, 38.8% grade three and 20.9% at grade 4. The mean serum COMP concentration is 1084,0 ng / mL with range from 575.3 ng / mL to 2278,6 ng/mL. There is a trend of increasingly grade of severity of knee OA, the higher the concentration of serum COMP, but not statistically significant (r = 0.127, p = 0.31). In conclusion, there is no positif correlation that statistically significant between severity of knee OA and  serum COMP concentration.
Hubungan Konsumsi Purin Tinggi Dengan Hiperurisemia: Suatu Penelitian Potong Lintang Pada Penduduk Suku Bali di Kota Denpasar Indrawan, IGNM Budiana; Kambayana, Gede; Putra, Tjokorda Raka
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 2 (2017): Vol. 1 No. 2 (2017) June-December 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.298 KB)

Abstract

Latar Belakang: Hiperusemia adalah istilah yang menggambarkan kadar asam urat darah di atas normal. Konsumsi purin tinggi merupakan salah satu faktor yang erat kaitannya dengan hiperurisemia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan konsumsi purin tinggi dengan hiperurisemia pada penduduk suku Bali di kota Denpasar. Metode: Penelitian ini adalah studi potong lintang analitik yang dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September 2004. Populasi pada penelitian ini adalah penduduk suku Bali yang bertempat tinggal di Kota Denpasar. Sampel ditentukan dengan cara stratified random sampling. Penilaian konsumsi purin dilakukan dengan semi quantitative food frequency questionnaire. Analisis dilakukan dengan tabulasi silang dan regresi logistik. Hasil: Penelitian ini melibatkan 302 orang sampel yang memenuhi kriteria inklusi dengan rata-rata umur 43,35 ± 16,72 tahun yang terdiri dari 137 (45,4%) laki-laki dan 165 (54,6%) perempuan. Didapatkan prevalensi obesitas 22,51% dan prevalensi hiperurisemia 18,2%. Didapatkan hubungan yang bermakna antara konsumsi purin tinggi (RP 13,27; IK 95% 6,79-25,88; p < 0,001) dan obesitas (RP 3,32; IK 95% 2,11-5,23; p < 0,001) dengan hiperurisemia. Pada analisis multivariat didapatkan faktor risiko independen hiperurisemia adalah konsumi purin tinggi (OR 26,72; IK 95% 11,69-61,04; p < 0,001) dan obesitas ( OR 4,06; IK 95% 1,81-9,12; p = 0,001). Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi purin tinggi dengan hiperurisemia pada penduduk suku Bali di kota Denpasar.
Perbandingan Kadar C-Reactive Protein Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Yang Diterapi Dengan Insulin dan Obat Hipoglikemik Oral di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Dwipayana, Pande; Saraswati, IMR; Suastika, K
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 2 (2017): Vol. 1 No. 2 (2017) June-December 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.187 KB)

Abstract

Latar belakang: Proses inflamasu pada pasien diabetes merupakan salah satu pathogenesis kejadian kardiovaskular. C-reactive protein (CRP) merupakan penanda inflamasi yang dapat digunakan untuk memprediksi penyakit-penyakit kardiovaskular. Data mengenai perbandingan efek insulin dan obat hipoglikemik oral (OHO) dalam menurunkan kaadr CRP masih kurang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah kadar CRP pada pasien diabetes tipe melitus 2 dengan terapi insulin lebih rendah dibandingkan dengan pasien dengan OHO. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong-lintang analitik yang melibatkan 75 pasien diabetes tipe 2 dengan insulin dan OHO dengan metode consecutive sampling. Kriteria eksklusi meliputi pasien dengan infeksi akut/sepsis, penyakit koroner, keganasan, penyakit ginjal kronik, penyakit hati, pasien yang menjalani terapi radiasi, perokok, dan pasien dengan terapi statin atau fibrat. Data dianalisis dengan t-test tidak berpasangan dan ANCOVA untuk meng-adjust variabel perancu. Hasil: Sebanyak 35 pasien (52%) dari total 75 pasien menggunakan insulin dan 36 (48%) menggunakan OHO. Rerata kadar CRP pada pasien diabetes tipe 2 yaitu 1,9 ± 2,08 mg/L. Rerata kadar CRP pada kelompok yang menggunakan insulin dan OHO sebesar 1.5 ± 1.78 mg/L dan 2,4 ± 2,30 mg/L (p = 0.04). Setelah penyesuaian terhadap variabel perancu, perbedaan kadar CRP antara kelompok yang menggunakan insulin dan OHO tetap signifikan (p = 0.02). Simpulan: Kadar CRP pada pasien diabetes tipe 2 dengan terapi insulin lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan menggunakan OHO.
DIAGNOSIS CEPAT INFEKSI SALURAN KEMIH DENGAN MENGHITUNG JUMLAH LEUKOSITURIA PADA URINALISIS METODE FLOWCYTOMETRY SYSMEX UX-2000 DENGAN BAKU EMAS KULTUR URIN DI RSUP SANGLAH DENPASAR Pratistha, Fernanda Savitri Mega; Sudhana, I Wayan; Adnyana, I Wayan Losen
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 2 (2017): Vol. 1 No. 2 (2017) June-December 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.467 KB)

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi bakteri pada saluran kemih, merupakan salah satu penyakit infeksi tersering di Negara berkembang. ISK menempati peringkat kedua, setelah infeksi luka operasi sebagai infeksi nosokomial. Kultur urin merupakan baku emas yang masih digunakan sampai saat ini untuk mendiagnosis ISK, namun memiliki kelemahan yaitu biaya yang mahal, dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil. Pemeriksaan urinalisis otomatis dengan metode flowcytometry dapat digunakan karena lebih praktis dan lebih cepat dalam mendiagnosis ISK. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi pada Urinalisis Otomatis metode Flowcytometry menggunakan Sysmex UX-2000. Penelitian ini merupakan penelitian uji diagnostik dengan menggunakan data rekam medis pasien yang didiagnosis secara klinis mengalami ISK di RSUP Sanglah pada tahun 2016 sampai dengan 2017. Subjek penelitian berjumlah 100 orang dengan rentang usia 2 tahun sampai dengan diatas 65 tahun. Analisis statistik menggunakan program komputer SPSS.23 dan kurva ROC untuk mendapatkan cut-off point leukosituria paling optimal lalu dihitung sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, nilai prediksi negatif dan akurasinya. Berdasarkan analisis kurva ROC didapatkan area under the curve (AUC) jumlah leukosituria berdasarkan metode flowcytometry sebesar 0,846 dan dengan menggunakan cut-off point ≥52,8/mL, memberikan hasil sensitivitas 82,3% spesifisitas 76,3%, nilai prediksi positif 85% nilai prediksi negatif 72,5% dan akurasi 80%. Alat Urinalisis Otomatis dengan metode Flowcytometry memiliki nilai sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang tinggi sehingga dapat diterapkan untuk membantu diagnosis ISK.
Seorang penderita hipopituitarisme akibat kraniofaringioma Nugraha, Ida Bagus Aditya; Winarka, Made Arie Dwi; Budiartha, Anak Agung Gede
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 1 No 2 (2017): Vol. 1 No. 2 (2017) June-December 2017
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.181 KB)

Abstract

Hipopituitarisme merupakan suatu kelainan di bidang endokrinologi yang ditandai dengan kurangnya sekresi baik secara total atau sebagian dari hormone pituitari anterior atau posterior atau keduanya. Kraniofaringioma merupakan tumor intrakranial tersering pada anak-anak dan merupakan tumor tersering pada region hipotalamus dan hipopituitari. Berikut ini akan dilaporkan satu kasus hipopituitarisme yang terjadi pada seorang penderita perempuan usia 15 tahun dengan kraniofaringioma yang juga telah dilakukan tindakan pembedahan.Diagnosis kraniofaringioma ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yaitu adanya gangguan pertumbuhan baik dari tinggi badan, pertubuhan tulang, rambut pada pubis, ketiak, atau ekstremitas, pasien tampak lemas, nafsu makan berkurang sedikit, dan saat kontrol pasien belum haid. Dari pemeriksaan MRI kepala + kontras menunjukan adanya massa di intersella sampai supra sella. Diagnosa hipopituitari didapatkan dari beberapa pemeriksaan hormonal yang terjadi. Penatalaksanaan yang telah dilakukan yaitu terapi pengganti hormonal GH, glukokortikoid, tiroksin, dan estradiol. Monitoring dilakukan tiap 3 bulan awal yang kemudian nantinya dapat diulang tiap 6 bulan.
Impending krisis tiroid pada struma multinodusa toksik dengan pneumonia komunitas Permana, I Gede Komang Aditya
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 1 (2018): Vol 2 No 1 (2018) January-June 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.789 KB)

Abstract

Hipertiroidisme yang berlanjut menjadi krisis tiroid merupakan salah satu komplikasi yang jarang ditemui. Berbagai faktor dapat mencetuskan krisis tiroid pada tirotoksikosis seperti trauma, pembedahan, emboli paru, infark miokard, gangguan serebrovaskular, infeksi, ketoasidosis diabetikum, toksemia gravidarum, dan ketidakpatuhan mengkonsumsi obat anti tiroid. Angka mortalitas yang tinggi menyebabkan penanganan pada kasus ini harus cepat dan tepat, penyebab kematian tersering pada krisis tiroid ialah kegagalan sistem kardiopulmonal. Apabila mendapat penanganan lebih awal maka angka mortalitas dapat dikurangi, oleh karena itu akan dipresentasikan sebuah kasus seorang perempuan usia 58 tahun dengan struma multinodusa yang mengalami impending krisis tiroid dengan faktor pemicu infeksi pneumonia komunitas. Penilaian dengan skor Burch Wartofsky didapatkan nilai 40, yang menunjukkan kecurigaan akan terjadinya impending krisis tiroid, faktor pencetusnya kemudian ditangani dengan pemberian antibiotika, kemudian untuk kondisi tirotoksikosisnya ditangani dengan pemberian obat anti tiroid, antipiretik, beta bloker dan glukokortikoid, setelah menjalani perawatan, kondisi pasien membaik dan diperbolehkan pulang.

Page 1 of 2 | Total Record : 19