cover
Contact Name
Danan Satriyo Wibowo
Contact Email
insight@unmuhjember.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
insight@unmuhjember.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Insight : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
ISSN : 18584063     EISSN : 25030949     DOI : -
Core Subject : Health,
Sejak Tanggal 9 Juli 2018 berdasarkan KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGUATAN RISET DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI NOMOR 21/E/KPT/2018 TENTANG PERINGKAT AKREDITASI JURNAL ILMIAH PERIODE I TAHUN 2018.
Arjuna Subject : -
Articles 103 Documents
PERSEPSI SISWA TENTANG FUNGSI BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH Halim, Eny Marlinda; Iin Ervina, Iin
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.63 KB) | DOI: 10.32528/ins.v10i2.296

Abstract

Bimbingan konseling (BK) di sekolah sangat penting bagi perkembangansiswa baik secara fisik maupun psikologis. Fungsi BK di sekolah ada 4 (emapat)yaitu fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pengentasan, serta fungsipemeliharaan dan pengembangan. Fungsi BK ini diterapkan dalam bentukprogram-program yang disesuaikan dengan spesifikasi dari 4 (empat) fungsi BKtersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa tentangfungsi bimbingan konseling (BK) di sekolah. Penelitian ini mengambil populasikelas 1 SMA Negeri 3 Jember. Sampel dari penelitian ini 25% dari jumlahpopulasi yaitu 60 orang dengan menggunakan teknik purposive random sampling.Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan skala persepsi siswa tentangfungsi BK di sekolah.Berdasarkan analisis deskriptif dengan menggunakan bantuan SPSS 15.0For Windows menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (60.83%) memberikanpersepsi positif terhadap fungsi BK di sekolah dan fungsi BK yang dipersepsikanpositif adalah fungsi BK yang manfaatnya dapat dirasakan siswa secara langsungseperti fungsi pengentasan serta fungsi pemeliharaan dan pengembangan.Berdasarkan dari penelitian ini, sekolah dapat mengembangkan sosialisasifungsi BK dengan menggunakan media yang sesuai sehingga siswa dapatmemanfaatkan layanan BK dengan lebih optimal.
PERBEDAAN PERSEPSI KUALITAS PELAYANAN DITINJAU DARI PENDONOR DARAH SUKARELA DAN PENDONOR DARAH PENGGANTI DI UNIT DONOR DARAH PALANG MERAH INDONESIA KABUPATEN JEMBER Veramawati, Hevy; ’aini, Siti Nur
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.63 KB) | DOI: 10.32528/ins.v10i2.301

Abstract

Persepsi kualitas pelayanan merupakan hasil interpretasi pendonor sukarelamaupun pendonor pengganti yang diberikan UDD PMI sebagai instansi kepadapendonor sebagai pelanggannya sesuai kebutuhan dengan harapan pendonormendapatkan pelayanan yang optimal dan memiliki motivasi serta ketertarikan untukmenjadi pendonor darah secara rutin dan terhimpun secara sukarela.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan persepsikualitas pelayanan antara pendonor darah sukarela maupun pendonor darah penggantidi Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kabupaten Jember.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, dengan menggunakanteknik incidental sampling dalam pengambilan sampel. Jumlah populasi dalampenelitian ini sebanyak 220 orang pendonor dan sampel penelitian ini sebanyak 134orang terdiri dari 67 pendonor darah sukarela dan 67 orang pendonor darah penggantiyang mendonorkan darahnya secara langsung di UDD PMI Kabupaten Jember.Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala persepsi kualitaspelayanan, α = dengan menggunakan teknik analisa data yang digunakan adalahregresi sederhana.Hasil analisa menunjukkan bahwa ada perbedaan antara persepsi kualitaspelayanan pendonor darah sukarela dengan persepsi kualitas pelayanan pendonordarah pengganti, yang ditunjukkan dengan nilai t sebesar 4,576; p < 0,005. Persepsikualitas pelayanan direspon secara positif sebesar 20,9 % dan 25,4 % secara negatif,dan persepsi kualitas pelayanan pada pendonor pengganti direspon sebesar 23,9 %secara positif, dan 25,4 % secara negatif.
PENGEMBANGAN MICRO SKILLS SEBAGAI PENGUATAN KOMPETENSI PENDIDIK SEBAYA DAN KOSELOR SEBAYA PIK-KRR Istiqomah, Istiqomah
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.889 KB) | DOI: 10.32528/ins.v11i1.306

Abstract

Salah satu peran dan tugas PIK-M adalah memberikan layanan konseling.Pendidik sebaya diharapkan memiliki keterampilan berkomunikasi yang tujuannyadapat memberikan penyuluhan atau melakukan edukasi kepada remaja. Konselorsebaya, selain memiliki keterampilan komunikasi, juga diharapkan telah memilikiketerampilan konseling. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh anggotaPIK-M menjadi salah satu indikator untuk membantu tugas anggota PIK-M dalammemberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan remaja, sehinggadiharapkan dapat berdampak kepada perilaku remaja dalam menjaga kesehatanreproduksi mereka.Pelatihan micro skills ini mengacu pada program basic attending skillsyang merupakan metode untuk mengajarkan cara-cara membangun hubungandengan orang lain. Basic attending skills didesain untuk memfasilitasi konselordengan pemahaman dan kompetensi fundamental untuk konselor pemula.Kompetensi-kompetensi dasar tersebut adalah: 1) Attending behavior, 2) Openinvitation to talk, 3) Minimal encourage, 4) Paraphrase, 5) Responding to feelingsand emotion, 6) Summarization, 7) Leading (indirect leading, direct leading,focussing).
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP MATA PELAJARAN IPS DI SMPK MARIA FATIMA JEMBER Murdani, Vinsensius Andi; Rahmanawati, Festa Yumpi
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.889 KB) | DOI: 10.32528/ins.v11i1.311

Abstract

Minat belajar siswa SMPK Maria Fatima Jember pada mata pelajaran IPSsangat menonjol dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswaterhadap mata pelajaran IPS di SMPK Maria Fatima Jember.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Populasipenelitian berjumlah 120 siswa. Penentuan sampel dengan teknik quota sampling.Jumlah sampel penelitian sebanyak 89 siswa. Teknik analisis mempergunakananalisis faktor model confirmatory. Rancangan skala terdiri dari 6 faktor yangdikembangkan oleh Rahayu (dalam Muhibbin, 2005) dan Chritine (dalam Painun2008).Hasil penelitian ini yaitu, nilai reliabilitas sebesar 0.923 (memenuhikriteria skala baik). Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajarsiswa terhadap mata pelajaran IPS di SMPK Maria Fatima Jember, antara lain:faktor perasaan senang (35.229%), faktor perhatian lebih (11.894%), faktor caramengajar guru (6.400%), faktor karakter guru (5.904%), faktor suasana kelas(5.051%), faktor fasilitas belajar (4.271%).
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG PRIA MENIKAH MELALUI TRADISI NYOLONG LARE Rahmah, Etika
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 11, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1142.084 KB) | DOI: 10.32528/ins.v11i2.317

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yangmendorong seseorang untuk menikah melalui tradisi nyolong lare di Desa GlagahKabupaten Banyuwangi. Nyolong lare adalah salah satu prosesi adat perkawinanyang mengharuskan si pemuda nyolong atau mencuri kekasihnya untuk menikahkarena tidak mendapatkan restu dari salah satu pihak orangtua.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-studi kasus.Penelitian ini menggunakan dua subjek untuk mengungkap fenomena nyolonglare. Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data informasi daripenelitian dengan panduan guide interview.Metode analisis data yang digunakanadalah thematic analysis, dimana menentukan tema kemudian dimasukkan dalamsubtema penelitian.Hasil dari penelitian ini adalah seseorang melakukan nyolong lare karenadorongan dari emosi yang dirasakan akibat ketidakmatangan emosi dari pelakudan mendakapat dukungan sosial yang digunakan sebagai emosional focus copingbagi pelaku. Diharapkan tradisi ini ditinggalkan oleh masyarakat karena tidaksesuai dengan kesopanan dan keramahan warga Indonesia serta tidak sesuaidengan ajaran Islam.
KEKERASAN TERHADAP ANAK : TINJAUANDARI SISI PELAKU (STUDI DI WILAYAH KABUPATEN JEMBER) Gani, Husni Abdul
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.568 KB) | DOI: 10.32528/ins.v12i1.325

Abstract

Anak (0-18 tahun) berada dalam proses tumbuh kembang yang sangatdipengaruhi oleh tiga kebutuhan dasar yaitu asuh, asih, dan asah. Terpenuhinyakebutuhan dasar tersebut akan berdampak positif terhadap kualitas hidup anak.Kenyataannya, masih banyak anak Indonesia yang belum memperoleh jaminanterpenuhi hak-haknya, antara lain banyak yang menjadi korban kekerasan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kejadian kekerasan terhadap anak,ditinjau dari sudut pelaku yang terjadi di wilayah kerja lembaga Pusat PelayananTerpadu Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB)Kabupaten Jember.Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Maret 2012 dengan metodediskriptif analitik menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporanpendampingan pada kasus kekerasan terhadap anak di wilayah kerja lembagaPusat Pelayanan Terpadu BPPKB Kabupaten Jembertahun 2011.Data-datatersebut kemudian diolah dan dianalisa secara deskriptif dengan menggunakanpemikiran yang logis dikaitkan dengan konsep kesehatan masyarakat.Telaahpustaka juga dilakukan untuk memperkaya dan mempertajam analisa data yangdilakukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik korban kekerasan meliputijenis kelamin korban yang terbesar adalah anak perempuan dengan usia 13-18tahun, dan tingkat pendidikan SLTP. Sedangkan karakteristik kekerasan yangbanyak dialami anak adalah kekerasan seksual. Karakteristik pelaku kekerasanmeliputi berjenis kelamin laki-laki dengan usia 18-25 tahun, dimana terkaithubungan dengan korban merupakan orang lain, dengan tingkat pendidikanSLTA, dan berstatus belum menikah.Karakteristik tempat terjadinya pelakuadalah tempat lain seperti kos-kosan, rumah saudara/teman, hotel, warung dansebagainya.
STUDI DESKRIPTIF MENGENAI PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI DARI PERSPEKTIF PENDIDIK PAUD Kursistin H, Panca
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.492 KB) | DOI: 10.32528/ins.v12i2.331

Abstract

Pemahaman tentang pengetahuan dan ketersediaan keterampilan para pendidikPAUD sangat diperlukan sebagai dasar pijakan untuk memulai aplikasi pendidikan sekstersebut, sehingga urgensi ini tidak hanya datang dari para pakar pendidikan namun jugaberangkat dari kebutuhan yang dirasakan oleh pendidik PAUD sendiri.Penelitian ini bertujuan mengetahui perspektif pendidik PAUD tentangpendidikan seks anak usia dini dengan menggunakan rancangan kualitatif deskriptif.Subyek penelitian adalah 5 orang guru PAUD di lingkungan Himpaudi KabupatenJember.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pendidik PAUD tentangpendidikan seks usia dini berkisar pada pengenalan anatomi tubuh dan cara menjagakebersihannya. Pendidikan seks dianggap sangat penting untuk diberikan di usia dini agaranak bisa menjaga dirinya, menjaga kesehatannya, mengetahui yang boleh dan tidakboleh dilakukan terkait tubuh dan peran jenisnya. Namun dampak pemberian pendidikanseks yang tidak utuh dan bersinergi dengan pihak orangtua akan menyebabkan anakmenjadi salah mengartikan yang diajarkan.Media yang efektif dalam mengajarkan pendidikan seks pada anak usia dinimenurut pendidik PAUD adalah alat peraga, gambar dan praktek terutama bila terkaitketerampilan. Media cerita dan dongeng juga cukup efektif untuk mengajarkan situasisituasiatau kejadian yang harus diantisipasi anak, termasuk nilai-nilai dan batas-batasperilaku yang diterima secara normatif. Media film dan video masih dirasa kurang efektifuntuk anak usia dini, karena anak belum memahami pesan simbolis dari film yangditayangkan dan belum mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lama untuk mengikutitayangan. Keterlibatan dan dukungan orangtua sangat diperlukan, agar adakesinambungan antara yang diajarkan di sekolah dengan yang diajarkan di rumah.
LAYANAN KESEHATAN MENTAL DI PUSKESMAS : APAKAH DIBUTUHKAN? Mawarpury, Marty; Sari, Kartika; Safrina, Lely
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.731 KB) | DOI: 10.32528/ins.v13i1.578

Abstract

Pada masa berlakunya konflik di Aceh, terutama masyarakat yang langsung bersentuhan dengan konflik mengalami kekerasan dalam berbagai bentuk. Konflik selama lebih dari tiga dekade telah menunjukkan adanya ekses terhadap gangguan mental penyintas konflik. Salah satu rekomendasi dari hasil temuan pada penelitian asesmen kebutuhan psikosisal masyarakat Aceh tahun 2007 adalah kebutuhan investasi berkelanjutan dalam pengembangan jangka panjang sistem kesehatan dan kesehatan mental di Aceh. Kesehatan psikologis menjadi kebutuhan masyarakat, mengingat kesehatan fisik dan psikis menentukan kualitas hidup dan produktivitas individu. Kebutuhan ini telah dianalisis  dan dilaksanakan oleh beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya Yogyakarta dengan menempatkan layanan psikologi pada pusat layanan kesehatan dasar (Puskesmas), sehingga jangkauan pelayanan kesehatan mental semakin luas serta sistem rujukan dan diagnosis pasien dapat sesuai dengan tahapan seperti pada pelayanan kesehatan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk  mengidentifikasi masalah dalam pelayanan kesehatan mental masyarakat di Aceh. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini berlokasi di Aceh Utara. Pengambilan data dilakukan dengan interview petugas kesehatan di puskesmas dan diskusi kelompok pada masyarakat.  Analisis data menghasilkan gambaran layanan kesehatan mental di Puskesmas.Kata kunci: Pelayanan kesehatan mental, Puskesmas, Aceh Utara
CYBERBULLYING PADA REMAJA SMA DI BANDA ACEH Rachmatan, Risana; Ayunizar, Shella Rizky
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.539 KB) | DOI: 10.32528/ins.v13i2.811

Abstract

Remaja menggunakan internet sebagai salah satu contoh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Efek yang muncul dengan adanya kemajuan teknologi bisa berdampak positif dan negatif, salah satu dampak negatif yang ditimbulkan adalah cyberbullying. Pengakses internet di Indonesia saat ini didominasi oleh remaja sebanyak 64%, hal ini menyebabkan semakin banyaknya perilaku cyberbullying yang terjadi di kalangan remaja Indonesia. Dalam membahas cyberbullying isu gender merupakan salah satu yang banyak dibicarakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku cyberbullying ditinjau dari jenis kelamin pada remaja di kota Banda Aceh. Sampel pada penelitian ini sebanyak 364 siswa SMA yang terdiri dari 182 siswa lakilaki dan 182 siswa perempuan. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan metode probability sampling dengan teknik Multi-Stage Cluster dan Nonpropotionate Stratified Random Sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Student Needs Assessment Survey (SNAS) diajukan oleh Willard (2007). Hasil analisa menggunakan Mann-Whitney U yang menunjukkan nilai Z sebesar 0,627 (p=0,474). Hasil penelitian menyatakan tidak terdapat perbedaan perilaku cyberbullying antara remaja laki-laki dan remaja perempuan di Banda Aceh. Dengan demikian jelas bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan cyberbullying.
GAMBARAN ASPIRASI BELAJAR SISWA SMP DENGAN ORANG TUA NELAYAN Pitaloka, Winata Rias; Istiqomah, Istiqomah; Wibowo, Danan Satriyo
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.502 KB) | DOI: 10.32528/ins.v13i2.816

Abstract

Aspirasi belajar adalah harapan atau keinginan yang ingin dicapai dan didasari oleh perubahan perilaku karena adanya respon terhadap stimulus untuk kearah perbaikan dalam belajar siswa agar memiliki gambaran keinginan agar belajar sebagai tujuan utama dalam pembelajaran siswa SMP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran aspirasi belajar siswa SMP dengan orang tua nelayan. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah mengambarkan bagaimana aspirasi belajar pada siswa SMP dengan orang tua nelayan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan bentuk deskriptif. Populasi dan sampel penelitian ini adalah siswa-siswi MTs Muncar yang berjumlah 307, jumlah sampel yang digunakan 174. Penelitian ini menggunakanvariabel tunggal yaitu aspirasi belajar. Metode pengambilan data menggunakan skala psikologi dan instrumen penelitian. Metode pengujian alat ukur adalah uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas dan uji deskriptif dengan menggunakan SPSS 21 for Windows.Hasil yang ditemukan bahwa gambaran aspirasi belajar siswa SMP dengan orang tua nelayan dari ketiga aspek yaitu aspek cita-cita, hasrat, dan ketetapan hati tersebut adalah kategori sedang dengan perolehan prosentase nilai 58,04% dengan 101 subyek untuk aspek cita-cita, 64,94% dengan 113 subyek untuk aspek hasrat dan 60,91% dengan 106 subyek untuk aspek ketetapan hati pada aspirasi belajar. Berdasarkan hasil analisa data yang menggunakan deskriptif memiliki kategori sedang yang artinya siswa mempunyai cita-cita namun belum tentu atau kurang untuk hasrat dan keketapan hati untuk meraih cita-cita siswa.Kata Kunci : aspirasi, belajar, orang tua nelayan

Page 1 of 11 | Total Record : 103