Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 2548513X     EISSN : -
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia is an online journal published by Department of Epidemiology, Faculty of Public Health Universitas Indonesia. This journal publishes Epidemiology and Public Health scientific article as respons to development of Public Health and Epidemiology. This journal will be published every 6 months.
Articles
13
Articles
Hubungan Pengetahuan HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS di Kalangan Remaja 15-19 Tahun di Indonesia (Analisis Data SDKI Tahun 2012)

Situmeang, Berliana, Syarif, Syahrizal, Mahkota, Renti

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.274 KB)

Abstract

Stigma terhadap ODHA menjadi salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan, perawatan, pengobatan, dan dukungan HIV/AIDS. Pengetahuan tentang HIV/AIDS mempengaruhi terjadinya stigma terhadap ODHA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap ODHA di kalangan remaja usia 15-19 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2012 dengan disain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 8.316 orang. Hasil studi menunjukkan 71,63% remaja mempunyai stigma terhadap ODHA, 49,10% remaja mempunyai pengetahuan yang kurang tentang HIV. Pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS berhubungan dengan stigma terhadap ODHA (PR= 1,210 95% CI: 1,149-1,273) setelah dikontrol oleh keterpaparan media massa. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja guna mengurangi stigma terhadap ODHA.

Determinant of timely hepatitis B zero dose immunization in East Lombok, West Nusa Tenggara

Machmud, Putri Bungsu, Gayatri, Dwi, Wahyono, Tri Yunis Miko

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.648 KB)

Abstract

Hepatitis B remains as one of health problem in the world. The results of several studies related to factors in predicting of timely hepatitis B immunization were still inconsistent. Aim of this study is to identify determinant of timely hepatitis B zero dose immunization in East Lombok. We used cross sectional design study derived from immunization coverage survey at six districts/cities in 2013. A Total of 227 children aged 12 to 23 months who already got immunization of hepatitis B zero dose and well documented were included as samples in this study. Timely immunization was defined based on the distance between time of birth and time of received hepatitis B immunization (zero dose) that is within 24 hours after birth. Data was analyzed using Chi-square and Logistic regression in multivariate level. The result of this study showed only 60.4% of children were get timely hepatitis B zero dose immunization. Mother’s behavior agains immunization program is the only factor that can predict the timely hepatitis B zero dose immunization (P-value 0.007 CI 95% 1.94-3.62). Meanwhile, other factors i.e. sex, socio-economic status, parent’s education, knowledge and attitude of mother and place of immunization service have not able to predict the outcome, statistically. The stakeholder should improve the optimal exsisting services, which will be impact to maternal behavior in immunization programe.Keywords : Immunization, Hepatitis Zero dose, Timely

Hubungan Obesitas dengan Kejadian Hipertensi Derajat 1 di Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandung Tahun 2016

Rohkuswara, Teguh Dhika, Syarif, Syahrizal

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.479 KB)

Abstract

Hipertensi sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Prevalensi hipertensi di Indonesia, cukup tinggi yaitu sebesar 25,8% (Riskesdas, 2013). Sebagian besar penderita hipertensi termasuk dalam kelompok hipertensi derajat 1 dan separuhnya tidak menyadari sebagai penderita. Hipertensi bukan penyakit kausal tunggal, ada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap munculnya hipertensi, salah satunya yang sering ditemukan adalah obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi derajat 1 di Posbindu PTM Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandung. Desain penelitian adalah cross sectional , menggunakan data sekunder kegiatan Posbindu PTM KKP Bandung tahun 2016. Subjek penelitian adalah pegawai instansi Pemerintah dan BUMN di lingkungan Bandara Husein Sastranegara Bandung dan Pelabuhan Cirebon yang melakukan pemeriksaan kesehatan di Posbindu PTM KKP Bandung pada tahun 2016 yaitu sebanyak 206 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi hipertensi derajat 1 di Posbindu PTM KKP Bandung tahun 2016 yaitu sebesar 41,7% dan obesitas sebesar 54,9%. Berdasarkan analisis cox regresi, responden yang obesitas (IMT ≥25) memiliki risiko sebesar 1,681 kali untuk menderita hipertensi derajat 1 dibandingkan yang tidak obesitas setelah dikontrol variabel umur, riwayat hipertensi keluarga dan aktivitas fisik. Pengoptimalan Posbindu PTM, meningkatkan peran serta masyarakat dan mengaplikasikan perilaku GERMAS diharapkan dapat mengendalikan obesitas dan hipertensi. Kata kunci: Hipertensi derajat 1, Obesitas, Posbindu PTM

Prediktor Kejadian TB pada ODHA di Salah Satu RS Pemerintah Bogor, Tahun 2014-2016

Karima, Ulya Qoulan, Sudaryo, Mondastri Korib, Kiptiyah, Nuning Maria

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.282 KB)

Abstract

TB merupakan tantangan bagi pengendalian Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) karena merupakan infeksi oportunistik terbanyak pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). TB dapat meningkatkan progresivitas HIV dan meningkatkan risiko kematian bagi penderita HIV. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prediktor yang berhubungan dengan kejadian TB pada ODHA di salah satu RS tahun 2014-2016. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan menggunakan data register ART dan Rekam Medis. Sampel berjumlah 817 pasien HIV. Analisis data dilakukan dengan menggunakan multiple cox regression. Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya peningkatan risiko TB pada kelompok dengan anemia (PR=1,54, 95% CI: 1,17-2,03) dibandingkan kelompok tanpa anemia, adanya status IO (PR=5,9, 95% CI: 2,92-11,91) dibandingkan kelompok tanpa IO, stadium HIV 3-4 (PR=8,794, 95% CI: 4,54-17,00) dibandingkan stadium HIV 1-2. Selain itu ditemukan adanya interaksi antara variabel stadium HIV dan status IO. Perlu adanya perhatian khusus kepada ODHA dengan anemia, infeksi oportunis, dan stadium HIV lanjut (3-4) serta perlu perhatian khusus kepada ODHA dengan stadium HIV awal (1-2) tetapi disertai dengan infeksi oportunis

Pengaruh Jarak Kelahiran terhadap Kematian Bayi di Indonesia, Filipina, dan Kamboja (Analisis Data Survei Demografi Kesehatan)

Fitri, Adelina, Adisasmita, Asri, Mahkota, Renti

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.796 KB)

Abstract

Kematian bayi didef inisikan sebagai kematian yang terjadi pada tahun pertama kehidupan. Angka kematian bayi di Indonesia dan Kamboja sendiri masih berada diatas AKB Asia Tenggara, sedangkan Filipina sudah sama dengan AKB Asia Tenggara. Jarak kelahiran merupakan salah satu factor yang memegang peran penting pada kematian bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi di Indonesia, Filipina dan Kamboja. Penelitian menggunakan data dari Demographic Health Survey (DHS). Desain penelitian adalah cross sectional dan sampel pada masing-masing negara berjumlah 10.162, 4.741 dan 4.330 bayi. Hasil penelitian memperlihatkan, jarak kelahiran < 18 bulan memiliki risiko paling besar terhadap kematian bayi di Indonesia (OR = 2,43: 95% CI 1,26 - 4,70), Kamboja (OR = 4,39: 95% CI 1,76 - 10,94) dibandingkan jarak kelahiran 18 - 23 bulan, 24 - 35 bulan dan > 36 bulan. Sedangkan di Filipina jarak kelahiran 18 - 23 bulan merupakan risiko paling besar pada kematian bayi dibandingkan jarak kelahiran < 18 bulan dan >2 4 bulan (OR = 2,59: 95% CI 1,13 - 5,95). Jarak kelahiran yang ideal untuk mengurangi risiko kematian bayi adalah > 24 bulan.

Feeding Problems sebagai Prediktor Kejadian Obestitas pada Anak Autis

Noviyanti, Qisty Afifah

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.506 KB)

Abstract

Latar belakang: Obesitas merupakan masalah yang dapat terjadi pada anak autis. Hal ini disebabkan adanya perubahan perilaku dan pola makan akibat kondisi autisme. Akan tetapi, belum banyak studi yang menjelaskan hubungan perilaku makan bermasalah (feeding problems) dengan kejadian obesitas pada anak autis. Tujuan: Penelitian ini untuk melihat hubungan antara masalah perilaku makan (feeding problem) dengan kejadian obesitas anak autis. Metode: Peninjauan artikel dilakukan dengan kata kunci autism OR autism spectrum disorder AND feeding problem OR food selectivity dan autism AND childhood obesity. Dua studi ditemukan sesuai dengan kriteria inklusi yang dibuat Anak autis memiliki perilaku makan bermasalah yang lebih tinggi dibandingkan anak tidak autis. Prevalensi obesitas serta pengukuran antropometri yang mengindikasikan obesitas juga lebih tinggi pada kelompok autis. Kesimpuan: Kedua studi yang ditinjau menguatkan argumentasi bahwa perilaku makan bermasalah (feeding problems) merupakan predictor kejadian obesitas pada anak autis.

Pengaruh Konsumsi Fruktosa pada Minuman Kemasan terhadap Toleransi Glukosa Terganggu pada Kelompok Usia Dewasa Muda di Perkotaan Indonesia

Lumbuun, Nicolaski, Kodim, Nasrin

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.037 KB)

Abstract

Peningkatan konsumsi minuman kemasan (soft drink/beverages) tampak nyata di dunia, termasuk Indonesia. Peningkatan ini terutama terjadi di kelompok usia muda. Konsumsi soft drink/beverages ini berkaitan dengan gangguan metabolik, antara lain obesitas, toleransi glukosa terganggu (TGT) dan diabetes melitus. Hal ini disebabkan penggunaan pemanis tinggi fruktosa (high fructose corn syrup, HFCS). TGT terutama menjadi masalah kesehatan yang cukup serius karena umumnya tidak menunjukkan gejala dan terlambat untuk dideteksi sehingga sering kali telah berprogresi menjadi diabetes mellitus. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya TGT dengan faktor lingkungan menjadi faktor yang lebih dominan. Penelitian ini dilakukan dengan desain potong lintang yang menggunakan data riset kesehatan dasar (RISKESDAS 2007). Analisis data dimulai dari univariat, bivariat dan dilanjutkan dengan multivariat. Ditemukan bahwa prevalensi TGT pada kelompok usia muda di Indonesia adalah 5,7% dan prevelensi pengkonsumsi fruktosa tinggi sebesar 20,5%. Kontribusi konsumsi fruktosa tinggi terhadap kejadian TGT usia muda adalah 24,3%. Secara umum, prevalensi TGT pada usia muda di Indonesia cukup tinggi (melebihi 50% prevalensi di semua umur), dan konsumsi fruktosa memiliki kontribusi yang signifikan dalam terjadinya TGT.Kata kunci: konsumsi fruktosa, indeks fruktosa, TGT

Indeks Massa Tubuh dan Waktu Terjadinya Konversi Sputum pada Pasien Tuberkulosis Paru BTA Positif di RSUP Persahabatan Tahun 2012

Tama, Tika Dwi, Adisasmita, Asri C, Burhan, Erlina

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.809 KB)

Abstract

Lebih dari 50% pasien tuberkulosis memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang rendah. Rendahnya IMT dapat memperburuk respon pengobatan dan memperbesar risiko gagal pengobatan. Studi kohort retrospektif ini dilakukan untuk mengetahui hubungan IMT dengan konversi sputum pada pasien tuberkulosis paru BTA positif. Studi dilakukan pada Desember 2013-Januari 2014 di poli paru RSUP Persahabatan dengan jumlah sampel sebanyak 120 pasien (60 pasien dengan IMT < 18,5 kg/m2 dan 60 pasien dengan IMT >18,5 kg/m2). Sampel diambil secara konsekutif. Probabilitas kumulatif gagal konversi pada pasien tuberkulosis paru BTA positif adalah 17% dan 9,2% pasien mengalami gagal konversi. Pasien tuberkulosis paru BTA positif dengan IMT < 18,5 kg/m2 (24,4%) memiliki probabilitas kumulatif gagal konversi yang lebih besar dibanding pasien dengan IMT > 18,5 kg/m2 (9,3%). Pada pasien dengan IMT < 18,5 kg/m2, hazard rate konversi sputum semakin rendah jika peningkatan berat badan yang dialami pasien di akhir tahap intensif < 1 kg dibandingkan dengan pasien yang mengalami peningkatan berat badan > 1 kg. Analisis Regresi Cox menunjukkan bahwa IMT < 18,5 kg/m2 menurunkan peluang terjadinya konversi sebesar 37,8% (HR 0,622; 95% CI 0,389-0,995) setelah dikontrol kategori pengobatan, peningkatan berat badan di akhir tahap intensif, dan hasil sputum di awal pengobatan. Status gizi pasien selama pengobatan perlu ditingkatkan untuk menunjang keberhasilan pengobatan.Kata kunci: Indeks masa tubuh, konversi sputum, RSUP Persahabatan, tuberkulosis paru

Penggunaan Obat Nyamuk dan Pencegahan Demam Berdarah di DKI Jakarta dan Depok

Wahyono, Tri Yunis Miko, MW, Oktarinda

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.573 KB)

Abstract

Dari hasil salah satu studi diketahui bahwa penggunaan obat nyamuk memiliki efek lebih besar dalam menanggulangi penyakit Demam Berdarah dibandingkan penggunaan larvasida dan fogging. Tujuan studi ini untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan obat nyamuk di masyarakat. Studi ini merupakan studi deskriptif yang pengumpulan datanya dilaksanakan pada Februari-Maret 2013 di DKI Jakata dan kota Depok. Dari hasil studi ini didapatkan bahwa: Dari 83 responden yang mengisi kuesioner (terdiri dari 65% perempuan, 45% berpendidikan SLTA dan 11% salaah satu anggota keluarganya pernah menderta demam berdarah), didapatkan bahwa Jenis obat nyamuk yang sering digunakan adalah obat nyamuk lotion (32,5%), disusul dengan spray (26,5%), semprot/cair (18,1%), elektrik (15,7%) dan bakar (1,2%). Obat nyamuk yang dianggap paling efektif; lotion (29%), spray (19%), elektrik (16%) dan semprot/cair (13%). Obat nyamuk yang dianggap paling aman; lotion (31%), elektrik (30%), spray (15%) dan semprot/cair (12%). Alasan penggunaan obat nyamuk oleh masyarakat yaitu; murah, mudah di dapat dan memiliki aroma khusus. Studi menyarankan agar masyarakat menggunakan obat nyamuk dengan baik, benar dan aman.Kata kunci: obat nyamuk, studi deskriptif, obat nyamuk efektif dan aman

Hubungan Prematuritas dengan Kematian Neonatal Tahun 2010

Sari, Tyagita Widya, Syarif, Syarizal

Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Department of Epidemiology, FoPH, UI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.148 KB)

Abstract

Prematuritas merupakan salah satu penyebab terbesar morbiditas dan mortalitas bayi termasuk kematian neonatal. Penelitian ini bertujuan mengetahui besar Odds Ratio hubungan prematuritas dengan kematian neonatal di Indonesia setelah seluruh variabel confounding (umur ibu, urutan kelahiran, jarak kelahiran, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi ibu, frekuensi ANC, komponen ANC 5T plus, penolong persalinan, tempat persalinan, jenis persalinan, dan wilayah tempat tinggal ibu) dikendalikan dan mengetahui besar Population Attributtable Risk prematuritas terhadap kematian neonatal di Indonesia tahun 2010. Desain studi penelitian ini adalah kasus kontrol dengan analisis multivariat regresi logistik ganda menggunakan data sekunder Riskesdas 2010. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 120 kasus dan 480 kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar hubungan prematuritas dengan kematian neonatal setelah dikendalikan variabel confounding (komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, frekuensi ANC) yaitu Odds Ratio sebesar 9,31 (95% CI : 4,63-18,70) dan Population Attributable Risk sebesar 19,96%. Untuk menurunkan kematian neonatal, diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat berperan aktif dalam penurunan dan penanggulangan prematuritas dengan peningkatan pelayanan antenatal.Kata kunci : prematuritas, kematian neonatal, Riskesdas 2010