cover
Filter by Year
JURNAL SELULOSA
Jurnal Selulosa (JSel) is a journal that provides scientific information resources aimed at researchers and engineers in academia, research institutions, government agencies, and industries. Jurnal Selulosa publishes original research papers, review articles and case studies focused on cellulose, cellulose derivatives, pulp technology, paper technology, environment, biorefinery and other related topics. Formerly known as Berita Selulosa, and the first publication was in 1965. Since 2011, the journal renamed to Jurnal Selulosa.
Articles
169
Articles
​
Pengaruh Sumber Karbon pada Produksi Lakase dari Jamur Pelapuk Putih Marasmius sp. dalam Fermentasi Kultur Padat

Risdianto, Hendro, Sofianti, Elis, Suraya, Suraya, Suhardi, Sri Harjati, Setiadi, Tjandra

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 02 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Lakase merupakan salah satu enzim ligninolitik yang memiliki kemampuan mendegradasi lignin. Lakase telah diproduksi menggunakan jamur pelapuk putih Marasmius sp. dalam Fermentasi Kultur Padat (FKP) menggunakan jerami padi sebagai media pertumbuhan. Pengaruh sumber karbon yaitu glukosa, gliserol, dan molase dalam medium produksi lakase digunakan dalam penelitian ini. Konsentrasi 0,5%; 1,0%; dan 2,0% digunakan untuk tiap jenis sumber karbon. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas tertinggi lakase diperoleh pada kultivasi hari ke 6-10  dengan masing-masing aktivitas (872,0 U/L (hari ke-6), 1516,67 U/L (hari ke-9) dan 1270,69 U/L (hari ke-10). Aktivitas lakase tertinggi diperoleh pada penggunaan medium gliserol dan molase masing-masing adalah 1422,36 U/L (pada konsentrasi 1%, hari ke-7) dan 113,19 U/L (pada konsentrasi 2%, hari ke-8). Aktivitas tertinggi tersebut sebanding dengan penggunaan medium glukosa. Oleh karena itu, gliserol dan molase dapat digunakan sebagai alternatif sumber karbon untuk produksi lakase dengan fermentasi kultur padat.Kata kunci: glukosa, gliserol, lakase, molase, Marasmius sp., fermentasi kultur padat Influence of Carbon Sources on Laccase Production by White Rot Fungus Marasmius sp. in Solid State FermentationAbstractLaccase is an one of the ligninolytic enzymes that capable to degrade lignin in biomass. Laccase has been produced by white rot fungus Marasmius sp. in Solid State Fermentation (SSF) using rice straw as the solid support media. The influence of carbon sources, i.e. glucose, glycerol and molasses in medium of laccase production were studied in this paper. The concentration of 0.5%, 1.0% and 2.0% were used for each carbon sources. The results showed that the highest lacase activity was obtained within 6-10 days of cultivation. Glucose concentration of 0.5%, 1.0% and 2.0% gave the highest laccase activity were 872.0 U/L (day 6), 1516.67 U/L (day 9) and 1270.69 U/L (day 10) respectively. The highest laccase activity on using glycerol and molasses was 1422.36 U/L (at concentration of 1 % on day 7th) and 1113.19 U/L (at concentration of 2% on day 8th), respectively. This activity was comparable to that of glucose substrate. Therefore, glycerol and molasses gave a potential chance as carbon sources for the strategy on low cost laccase production in solid state fermentation.Keywords: glucose, glycerol, laccase, molasses, Marasmius sp., solid state fermentation. 

The Effect of Pulping Process Variable and Elemental Chlorine Free Bleaching on the Quality of Oil Palm Trunk Pulp

Pratiwi, Wieke, Sugiharto, Andoyo, Sugesty, Susi

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 02 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Oil Palm Trunk (OPT) is a non-wood cellulosic raw material which is not yet widely utilized in pulping and papermaking. Research on the utilization of abundant Oil Palm Trunk (OPT) from Sabah (Malaysia) and Lebak (West Java Province) for pulp production was carried out using kraft and soda anthraquinone processes with active alkali (AA) of 13-17%. The raw material was chipped and depithed as pretreatment. Bleaching of pulp was carried out using Elemental Chlorine Free (ECF) process. Analysis of raw material covered physical and chemical properties, and fiber morphology. Both OPT fibers were classified into the moderate fiber length (1.05-1.37 mm). Sabah OPT were very bulky with the chips pile density of 102.16 kg/m3 and 62.91 kg/m3 for undepithed and depithed OPT, respectively. The physical properties of OPT pulps were comparable to that of Acacia mangium pulp. With respect to the bleachability and physical properties, pulping of Lebak OPT using kraft or soda-anthraquinone process with AA of 15% were considered as optimum condition. Depithing on Sabah OPT with high pith content could increase physical properties of pulp. ODEoDnD bleaching sequence on pulps from Sabah OPT gave satisfactory results with respect to the physical properties. Since Sabah OPT had a high pith content, the yields of bleached pulp were relatively low (24.67-26.73%). However, the physical properties of the undepithed and depithed Sabah OPT bleached pulp were higher compared to those of the SNI of Leaf Bleached Kraft Pulp (LBKP).Keywords: depithing, Elemental Chlorine Free, bleached pulp, physical properties, LBKP Pengaruh Variabel Proses Pulping dan Pemutihan Elemental Chlorine Free pada Kualitas Pulp Batang Kelapa SawitAbstrakBatang Kelapa Sawit adalah bahan baku selulosa non-kayu yang belum banyak digunakan dalam pembuatan pulp dan kertas. Penelitian tentang pemanfaatan Batang Kelapa Sawit (BKS) dari Sabah (Malaysia) dan Lebak (Provinsi Jawa Barat) yang berlimpah untuk produksi pulp menggunakan proses kraft dan soda antrakuinon dengan alkali aktif (AA) kisaran 13-17% telah dilakukan. Penyerpihan dan proses depithing bahan baku dilakukan sebagai perlakuan awal. Pemutihan pulp dilakukan menggunakan Elemental Chlorine Free (ECF). Analisis bahan baku mencakup sifat fisik dan kimia, serta morfologi serat. Kedua serat BKS dapat diklasifikasikan sebagai serat moderat dengan panjang 1,05-1,37 mm. BKS dari Sabah sangat ruah dengan densitas tumpukan serpih masing-masing 102,16 kg/m3 untuk yang belum di-depithing dan 62,91 kg/m3 untuk yang telah di-depithing. Sifat fisik pulp BKS sebanding dengan pulp dari Acacia mangium. Sehubungan dengan kemampuan pemutihan dan sifat fisik, pembuatan pulp BKS dari Lebak menggunakan proses kraft atau soda-antrakuinon dengan AA 15% adalah kondisi optimal. Depitihing BKS dari Sabah dengan kandungan pith yang tinggi dapat meningkatkan sifat fisik pulp. Pemutihan dengan urutan ODEoDnD untuk pulp BKS dari Sabah memberikan hasil sifat fisik yang memuaskan. BKS dari Sabah memiliki kandungan pith yang tinggi sehingga rendemen pulp yang diputihkan relatif rendah (24,67-26,73%). Namun, sifat-sifat fisik pulp putih BKS dari Sabah yang belum dan telah di-depithing lebih tinggi dibandingkan SNI Pulp Kraft Putih Kayudaun (LBKP).Kata kunci: depithing, Elemental Chlorine Free, pulp putih, sifat fisik, LBKP

Oxidation of Cellulose from Oil Palm Empty Fruit Bunch Using Hydrogen Peroxide in Alkaline Condition

Isroi, Isroi, Cifriadi, Adi

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 02 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

There are growing interest to use cellulose as renewable material in order to replace non-renewable polymeric materials. Alteration and chemical modifications of the cellulose by oxidation is needed to improve its properties and functionality. The aim of this study was to evaluate oxidation effect of the cellulose from oil palm empty fruit bunch (OPEFB) using hydrogen peroxide in alkaline condition. Cellulose has been isolated and purified by sodium hydroxide method followed by sodium hypochlorite bleaching. The oxidation effect of the cellulose by hydrogen peroxide was investigated by component analysis of the lignocelluloses, visual analysis, physical and chemical properties. Fourier transform infrared spectroscopy was employed to evaluate the changes of functional groups. Digesting of the OPEFB by sodium hydroxide at temperature 160oC for 4 hours reduced lignin content from 22.58% to 16.60%, increase cellulose and hemicelluloses content from 60.76% to 73.87% and 25.86% to 30.95%, respectively. Treatment of the OPEFB pulp using sodium hypochlorite removed all residual lignin. Cellulose content was increased up to 90.86%. Degree of polymerization of the oxidized cellulose was reduced from 1997 to 658. Carboxyl groups of celluloses was significantly increased and confirmed by titration analysis. OPEFB cellulose fiber was damage and broken, meanwhile crystallinity of the cellulose was reduced.Keywords: cellulose, oxidation, oil palm empty fruit bunch, carboxyl group, crystallinity, physical properties Oksidasi Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit menggunakan Hidrogen Peroksida dalam Kondisi BasaAbstrakPerhatian untuk memanfaatkan selulosa sebagai polimer terbarukan untuk menggantikan polimer tidak terbarukan mengalami peningkatan. Perubahan dan modifikasi kimia selulosa melalui proses oksidasi diperlukan untuk meningkatkan sifat dan fungsi selulosa. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh oksidasi selulosa dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menggunakan hidrogen peroksida dalam suasana basa. Selulosa diisolasi dan dimurnikan dengan metode natrium hidroksida dan dilanjutkan dengan pemutihan natrium hipoklorit. Efek oksidasi selulosa oleh hidrogen peroksida dievaluasi menggunakan analisis komponen lignoselulosa, analisis visual, sifat fisik dan kimia. Analisis spektroskopi inframerah (FTIR) digunakan untuk mengevaluasi perubahan gugus fungsional selulosa. Pemasakan TKKS dengan natrium hidroksida pada suhu160oC selama 4 jam mengurangi kandungan lignin dari 22,58% menjadi 16,60%, meningkatkan kandungan selulosa dari 60,76% menjadi 73,87% dan hemiselulosa dari 25,86% menjadi 30,95%. Perlakuan pulp TKKS menggunakan natrium hipoklorit menghilangkan semua sisa lignin. Kandungan selulosa meningkat hingga 90,86%. Oksidasi selulosa dengan hidrogen peroksida menurunkan derajat polimerisasi selulosa dari 1997 menjadi 658. Gugus karboksil selulosa meningkat secara signifikan dan dikonfirmasi dengan analisis titrasi. Analisis visual menunjukkan kerusakan serabut selulosa, sesuai dengan pengurangan kristalinitas selulosa.Kata kunci: selulosa, oksidasi, tandan kosong kelapa sawit, gugus karboksil, kristalinitas, sifat fisik 

Kandungan Hexenuronic Acid pada Pulp serta Pengaruhnya terhadap Kualitas Pulp dan Air Limbah: Tinjauan

Rizaluddin, Andri Taufick, Septiningrum, Krisna

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 02 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Proses pemasakan kayu dengan cara alkali aktif akan menghasilkan hexenuronic acid (HexA) yang berasal dari grup glucuronoxylan, tepatnya 4-O-methylglucuronoxylan pada hemiselulosa. Proses hidrolisis HexA menghasilkan dua jenis senyawa furan, yaitu 2-furancarboxylic acid (FA) dan 5-formyl-2-furancarboxylic acid (FFA). Proses hidrolisis HexA hasil proses pemasakan dan terkandung dalam pulp dan kertas merupakan salah satu penyebab proses penguningan pada kertas akibat adanya paparan kelembapan dan panas dari lingkungan. Selain itu, kandungan HexA pada pulp juga dapat meningkatkan konsumsi bahan kimia pada proses produksi pulp dan kertas, terutama pada proses pemutihan dan pengujian parameter bilangan Kappa, serta dapat  berkontribusi pada kandungan senyawa organik klorin terlarut dalam air limbah industri pulp dan kertas. Metode untuk menurunkan kandungan HexA dari pulp dan kertas antara lain dengan mengaplikasikan proses oksidatif kimia pada proses pemutihan atau dengan menggunakan proses enzimatis. Kandungan HexA yang rendah, akan dapat mempertahankan pulp dan kertas dari terjadinya proses penguningan, menghemat konsumsi bahan kimia serta menurunkan kandungan adsorbable organic halides (AOX) pada air limbah.Kata kunci: hexenuronic acid, pemasakan kayu, bilangan Kappa, AOX, enzimatis Hexenuronic Acid Content on Pulp and its Effects on Pulp Quality and Wastewater: a ReviewAbstractThe wood active alkali cooking process will produce hexenuronic acid (HexA) originating from 4-O-methylglucuronoxylan of the glucuronoxylan group in hemicellulose. Hydrolysis process of HexA produces two types of furan compounds, namely 2-furancarboxylic acid (FA) and 5-formyl-2-furancarboxylic acid (FFA). The HexA hydrolysis process contained in pulp and paper resulting from the cooking process is one of the causes of the yellowing process on paper due to exposure to moisture and heat from the environment. In addition, the HexA content of pulp can also increase the consumption of chemicals in the pulp and paper production process, especially in the bleaching process and testing of Kappa number parameters, and can also contribute to the content of organic chlorine soluble compounds in the waste water of the pulp and paper industry. There are several methods for reducing the HexA content of pulp and paper including by applying the oxidative chemical process to the bleaching process or by using an enzymatic process. Low HexA content, will be able to maintain pulp and paper from the occurrence of the pulp yellowing process, save on chemical consumption and reduce the adsorbable organic halides (AOX) content in wastewater.Keywords: hexenuronic acid, wood cooking, Kappa number, AOX, enzymatic

Pemanfaatan Air Limbah Wet Scrubber Flue Gas Desulphurization (FGD) Industri Kertas sebagai Medium Pertumbuhan Spirulina platensis

Khairunnissa, Isni Nur, Asthary, Prima Besty, Saepulloh, Saepulloh, Mulyani, Rahmaniar

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 02 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Proses flue gas desulohurization (FGD) dengan wet scrubber adalah suatu proses untuk menurunkan konsentrasi SOx gas buang hasil pembakaran. Proses inidapat mengatasi polusi udara dengan cara menurunkan emisi gas dan partikel debu sehingga menghasilkan gas buangan yang lebih bersih. Air limbah wet scrubber bersifat asam. Salah satu alternatif pemanfaatan air limbah wet scrubber adalah untuk budidaya mikroalga. Spirulina platensis merupakan mikroalga yang berwarna hijau kebiruan yang mempunyai nilai gizi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi air limbah wet scrubber sebagai medium pertumbuhan S. platensis dan untuk mengetahui konsentrasi air limbah yang optimum bagi pertumbuhan S. platensis. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Air limbah wet srubber dengan konsentrasi 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% digunakan sebagai medium pertumbuhan S. platensis. Selama kultivasi, dilakukan pengamatan pH, produksi biomassa, dan kandungan fikosianin. Hasil menunjukkan bahwa air limbah wet scrubber dapat dimanfaatkan sebagai medium pertumbuhan S. platensis. Konsentrasi optimum bagi pertumbuhan S. platensis adalah campuran dari 75% air limbah  wet scrubber dan 25% medium Zarrouk.Kata kunci : air limbah, flue gas desulphurization, wet scrubber, Spirulina platensis Utilization of Wet Scrubber Wastewater from Flue Gas Desuphurization (FGD) of Paper Industry as a Growth Medium for Spirulina platensisAbstractThe flue gas desulohurization (FGD) withwet scrubber is a process to reduce the concentration of SOx of the flue gas from combustion. This process can resolve the air pollution by reducing gas emission and the dust particles in the liquid droplets to produce cleaner flue gas. The wet scrubber wastewater is acidic. An alternative utilization of wet scrubber wastewater is for cultivation of microalgae. Spirulina platensis is bluish-green microalgae containing high nutritional value. The objective of this research is to determine the potential and the optimum concentration of wastewater from wet scrubber as growth medium of Spirulina. platensis. The research method was observation in the laboratory with a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 5 repetitions. The wastewater from wet scrubber with a concentration of 0 %, 25 %, 50 %, 75 %, and 100 % was used as growth medium of S. platensis. During cultivation, pH, biomass production, and pigment phycocyanin were measured. The results indicated that the wastewater of wet scrubber can be utilized as a growth medium of S. platensis. The optimum concentration for the growth of S. platensis is the mixture of 75% of the wastewater from wet scrubber and 25% of medium Zarrouk.Keywords : wastewater, flue gas desulphurization, wet scrubber, Spirulina platensis

Produksi β-Glukosidase Aspergillus niger BIO 2173 dengan Fermentasi Padat Menggunakan Substrat Dedak

Sugiwati, Sri, Suhartono, Maggy Thenawidjaja, Hanafi, Muhammad, Lioe, Hanifah Nuryani

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 01 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Production of β-Glucosidase Aspergillus niger BIO 2173 on Solid State Fermentation Using Rice Bran as SubstrateAbstractβ-Glucosidase (EC 3.2.1.21) is a part of the cellulase enzyme complex which acts synergistically with exoglucanase and endoglucanase to hydrolyze cellulose into glucose. The purpose of this study was to obtain the maximum fermentation conditions for production of b-glucosidase Aspergillus niger BIO 2173 with solid state fermentation using rice bran as fermentation substrate. The factors that affect the production of b-glucosidase which consist of initial pH of the fermentation medium, incubation period, ratio of water content to fermentation substrate, incubation temperature and addition of the Mandelâ??s mineral salts solution were examined in the study. The results showed that maximum fermentation conditions for β-glucosidase production were at initial of fermentation pH of 2,0, incubation period of 7 days, ratio of water content to substrate of 1:1, and incubation temperature of 32oC. Addition of Mandelâ??s mineral salts solution to the fermentation substrate at maximum fermentation conditions increased the activity and specific activity of β-glucosidase crude extract up to 5,24 ± 0,57 U/mL and 2,46 ± 0,04 U/mg, respectively.Abstrakβ-Glukosidase (EC 3.2.1.21) merupakan bagian dari enzim multi kompleks selulase, yang bekerja secara sinergis dengan eksoglukanase dan endoglukanase menghidrolisis selulosa menjadi glukosa. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan kondisi fermentasi maksimum untuk produksi β-glukosidaseAspergillus niger BIO 2173 dengan fermentasi media padat menggunakan substrat dedak. Pengujian dilakukan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produksi b-glukosidase, yaitu pH awal medium fermentasi, waktu inkubasi, perbandingan kandungan air terhadap substrat medium fermentasi, suhu inkubasi dan penambahan larutan garam mineral Mandels. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fermentasi maksimum untuk produksi b-glukosidase adalah pada pH awal medium fermentasi 2,0; waktu inkubasi 7 hari, perbandingan kandungan air terhadap substrat medium fermentasi 1:1, dan suhu inkubasi 32oC. Penambahan larutan garam mineral Mandels ke dalam substrat fermentasi pada kondisi fermentasi maksimum menyebabkan peningkatan aktivitas dan aktivitas spesifk ekstrak kasar b-glukosidase masing-masing sebesar 5,24 ± 0,57 U/mL dan 2,46 ± 0,04 U/mg protein. Kata kunci: β-glukosidase, Aspergillus niger, dedak padi, fermentasi padat, ekstrak kasar

Potensi Penggunaan Dua Spesies Agave untuk Pembuatan Pulp dan Kertas

Jamil, Arini Hidayati, Tjahjono, Heronimus Judi, Parnidi, Parnidi, Marjani, Marjani

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 01 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Potential of Two Agave Species for Pulp and Paper MakingAbstractBoth of Agave sisalana and A. cantala are the most favorite agave species for fiber producer plant in Indonesia. Nevertheless, research study for using fiber of A. sisalana and A. cantala for pulp and paper purpose is hard to find. This study aims to observe the characteristics of A. sisalana and A. cantala fibers as a raw material of pulp including fiber morphology, chemical components, pulp characteristics, optical and physical properties of the handsheets. The observation of all characters was based on Indonesian National Standard (SNI). The pulping method used both of soda process with 18% active alkali and kraft process with 18% active alkali and 25% sulfidity. The result of the study for the handsheets from A. sisalana and A. cantala fibers shows that the brightness, dirt, and tear index were fulfilled to SNI standard for NBKP while the tensile index and burst index just fulfilled to SNI standard for LBKP. The handsheet of A. sisalana fiber has a higher tear index, tensile index, and burst index than the A. cantala ones. Soda pulping of both agave species resulting higher pulp yield, cellulose polymerization degrees and physical properties than kraft pulping.Keywords : Agave sisalana, A. cantala, characteristics of the fiber, pulp AbstrakAgave sisalana dan A. cantala merupakan dua spesies agave yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia sebagai tanaman penghasil serat alam. Namun penelitian mengenai fungsi serat A. sisalana dan A. cantala sebagai bahan baku pulp dan kertas masih sulit ditemukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari karakteristik serat A. sisalana dan A. cantala sebagai bahan baku pulp yang meliputi morfologi serat, komposisi komponen kimia, karakeristik pulp, sifat optik dan fisik lembaran pulp yang dihasilkan. Pengamatan seluruh karakter dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia. Pemasakan menggunakan metode soda dengan alkali aktif 18% dan kraft dengan alkali aktif 18% dan sulfiditas 25%. Hasil pengamatan pada lembaran pulp yang dihasilkan dari serat A. sisalana dan A. cantala menunjukkan bahwa derajat cerah, noda, dan kekuatan sobek memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) Pulp Kraft Putih Kayujarum (NBKP) sementara kekuatan tarik dan kekuatan retak memenuhi SNI Pulp Krat Putih Kayudaun (LBKP). Lembaran pulp A. sisalana memiliki kekuatan sobek, tarik, dan retak lebih tinggi dibanding lembaran pulp A. cantala. Metode pemasakan soda pada serat kedua spesies agave tersebut menghasilkan rendemen pulp, derajat polimerisasi selulosa, dan kekuatan fisik lebih baik dibanding metode kraft.Kata kunci : Agave sisalana, A. cantala, karakteristik serat, pulp 

Pembuatan dan Karakterisasi Dissolving Pulp Serat Panjang dari Bambu Duri (Bambusa blumeana)

Purwita, Chandra Apriana, Sugesty, Susi

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 01 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Preparation and Characterization of Long Fiber Dissolving Pulp from Spiny Bamboo (Bambusa blumeana)The need for long fiber dissolving pulp in Indonesia can only be met from imports. Bamboo is a nonwood plant and known as source of long fiber. This research aims to study the potential of spiny bamboo to be used as raw material for producing long fiber dissolving pulp. This research was conducted using two different types of raw materials preparation to produce bamboo chip and decorticated bamboo. The pulping process is carried out by pre-hydrolysis kraft and bleaching performed with two different bleaching sequences, i.e Do ED1 D2 and Do EpD1 D2 . Based on the experimental results, spiny bamboo has good potential to be used as raw material for dissolving pulp. Spiny bamboo belongs to long fibers with an average fiber length of 2.46 mm. The dissolving quality depends on the preparation of the raw material and the bleaching sequence. The yield of spiny bamboo dissolving pulp ranged from 37.97 - 40.76% with alpha cellulose content of 94.88 - 98.67%, and viscosity of 16.43 - 25.75 cP. Decorticated bamboo with bleaching sequence of Do EpD1 D2 produced the highest quality of dissolving pulp with the highest brightness and alpha cellulose were 89.61% ISO and 98.67%, respectively.AbstrakKebutuhan dissolving pulp serat panjang di Indonesia hanya dapat dipenuhi melalui impor. Bambu adalah tanaman nonkayu dan dikenal sebagai sumber serat panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi bambu duri untuk dijadikan bahan baku pembuatan dissolving pulp serat panjang. Penelitian ini dilakukan dengan dua jenis persiapan bahan baku yang berbeda untuk menghasilkan serpih bambu dan bambu dekortikasi. Proses pemasakan dilakukan dengan proses pra-hidrolisis kraft dan pemutihan dilakukan dengan dua urutan pemutihan yang berbeda, yaitu  DoED1D2 dan DoEpD1D2. Berdasarkan hasil penelitian, bambu duri memiliki potensi yang baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan dissolving pulp. Bambu duri tergolong serat panjang dengan panjang serat rata-rata 2,46 mm. Kualitas dissolving pup yang dihasilkan tergantung dari persiapan bahan baku dan urutan pemutihan. Rendemen dissolving pulp bambu duri berkisar 37,97 - 40,76%, dengan kandungan selulosa alfa 94,88 - 98,67%, dan viskositas 16,43 - 25,75 cP. Bambu dekortikasi dengan urutan pemutihan DoEpD1D2 menghasilkan dissolving pulp paling unggul dengan derajat cerah dan selulosa alfa tertinggi berturut-turut 89,61 %ISO dan 98,67%.Kata kunci: dissolving pulp, bambu duri (Bambusa blumeana), serpih bambu, bambu dekortikasi, prahidrolisis kraft 

Serat Bambu Petung (Dendrocalamus asper) Teralkalisasi sebagai Penguat Komposit Polimer

Refiadi, Gunawan, Bayu, Novan, Judawisastra, Hermawan, Mardiyati, Mardiyati

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 01 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The alkalized of petung bamboo fiber (Dendrocalamus asper) as reinforcement of polymer compositeAbstractPetung bamboo (Dendrocalamus asper) has good fiber characteristic and it has potential to substitute glass fiber as reinforcement in polymeric composite. However, like other natural based materials, bamboo fiber has a high variability in mechanical properties and inherently hygroscopic characteristic. Therefore it is required to optimize the petung bamboo qualities. The fiber optimization was carried out by alkalization process using NaOH solution with varying concentration of 0, 3, 5, and 10% v/v. Bamboo fiber processed in chemomechanical was used in this investigation. Characterization of density, mechanical and chemicals was conducted by pycnometry method, tensile strength testing, Fourier Transform Spectroscopy (FTIR) and Scanning Electron Microscopy (SEM). The data variability was analyzed by Weibull distribution. Result indicates that the optimum condition of alkalization process of bamboo fiber using NaOH solution of 5% v/v which has fiber diameter of 175.098 ± 58.017 mm, tensile strength of 384 MPa, and characteristics strength of 390.5 MPa.Keywords: petung bamboo; alkalization; characteristics AbstractBambu petung memiliki karakteristik serat yang baik sehingga berpotensi sebagai pengganti serat gelas untuk penguat komposit polimer. Namun, seperti umumnya serat alam, serat bambu memiliki variabilitas sifat mekanis tinggi dan sifat higroskopik yang inheren. Oleh karena itu diperlukan upaya optimalisasi kinerja serat bambu petung. Optimalisasi kinerja serat dilakukan melalui proses alkalisasi dengan variasi larutan NaOH pada konsentrasi 0, 3, 5, dan 10% v/v. Serat bambu hasil dari proses kimia-mekanik digunakan dalam penelitian ini. Karakterisasi densitas, sifat mekanik, dan sifat kimia serat masing-masing dilakukan dengan metode piknometri, uji tarik, Fourier Transform Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM). Analisis variabilitas data menggunakan distribusi Weibull. Hasil menunjukkan bahwa kondisi optimum alkalisasi serat bambu petung yaitu menggunakan larutan NaOH 5% v/v yang menghasilkan serat berdiameter 175,098 ± 58,017 mm, kekuatan Tarik 384 MPa, dan kekuatan karakteristik 390,5 MPa.Kata kunci: bambu petung; alkalisasi; karakteristik 

Pemanfaatan Lumpur Primer Industri Kertas sebagai Absorben

Wardhana, Krisna Adhitya, Saepulloh, Saepulloh, Biantoro, Reynaldo

JURNAL SELULOSA Vol 8, No 01 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The Utilization of Primary Sludge from Paper Mills as AbsorbentAbstractThe primary sludge from paper mill contains cellulose fiber that has high absorption capacity and potential to be used as an absorbent for hydrophobic compounds. The utilization of primary sludge from paper mill using raw material of waste paper and virgin pulp to be used as an absorbent has been conducted. The stages process of absorbent fabrication was consisted of three stages such as drying, mechanical and chemical processes. Mechanical process conducted were crushing and grinding methods to increase surface area and pore volume of sludge. Meanwhile silanization process as chemical treatment using solution of γ-metacryloxypropyl trimethoxysilane in ethanol to improve the hydrophobic properties of primary sludge was also done. Absorbent products were tested for the maximum sorbency, the sorbent performance, absorption of hydrophobic liquid, absorption of hydrophobic dust, and contact angle test to conduct their performance. The absorbency of absorbent product which is covered by cushion material was also tested. Result indicated that the absorption performance of some absorbent product is higher than commercial absorbent on hydrophobic liquid and hydrophobic dust absorption test. But it was lower than commercial absorbent on maximum sorbency and the sorbent performance test. The use of cushion material as a wrapper could make it easy in the collection and could increase the absorbency.Keywords: primary sludge; mechanical; silanization; absorbent; hydrophobic AbstrakLumpur primer dari industri kertas mengandung serat selulosa yang memiliki daya serap tinggi dan memiliki potensi dimanfaatkan sebagai absorben senyawa hidrofobik. Pemanfaatan lumpur primer industri kertas berbahan baku kertas bekas dan virgin pulp sebagai absorben telah dilakukan. Tahapan proses pembuatan absorben dari lumpur primer meliputi proses pengeringan, proses mekanis, dan proses kimia. Proses mekanis yang dilakukan adalah crushing dan grinding untuk meningkatkan luas permukaan dan volume pori-pori lumpur dilanjutkan dengan proses silanisasi (silanization) sebagai perlakuan kimia menggunakan larutan γ-metacryloxypropyl trimethoxysilane dalam etanol untuk meningkatkan sifat hidrofobik lumpur. Produk absorben diuji daya serap maksimum (maximum sorbency), kinerja absorben, penyerapan cairan hidrofobik, penyerapan debu hidrofobik, dan pengujian sudut kontak. Daya serap produk absorben yang ditutup bahan bahan cushion juga diuji. Hasil menunjukkan kemampuan absorbsi cairan hidrofobik dan debu hidrofobik dari beberapa perlakuan produk absorben lebih tinggi dari absorben komersial, sedangkan hasil maximum sorbency dan uji kinerja absorben menunjukkan hasil lebih rendah dari absorben komersial. Penggunaan bahan cushion sebagai pembungkus dapat memudahkan dalam pengumpulan dan dapat meningkatkan penyerapan.Kata kunci: lumpur primer; mekanis; silanisasi; absorben; hidrofobik