cover
Contact Name
Teguh Ariyanto
Contact Email
teguh.ariyanto@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
teguh.ariyanto@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Proses
ISSN : 1978287X     EISSN : 25491490     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Rekayasa Proses (J. Rek. Pros) is an open-access journal published by Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada as scientific journal to accommodate current topics related to chemical and biochemical process exploration and optimization which covers multi scale analysis from micro to macro and full plant size.
Arjuna Subject : -
Articles 126 Documents
Studi Eksperimental Pengendalian Korosi pada Aluminium 2024-T3 di Lingkungan Air Laut Melalui Penambahan Inhibitor Kalium Kromat (K2CrO4) Wibowo, Waris ; Ilman, Mochammad Noer
Jurnal Rekayasa Proses Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.1893

Abstract

Aluminium paduan seri 2024-T3 banyak digunakan di industri manufaktur seperti pesawat terbang, otomotif, dan kapal laut karena aluminium merupakan logam ringan dan memiliki sifat mekanik yang baik. Namun demikian aluminium paduan 2024-T3 rentan terhadap korosi bila dioperasikan di lingkungan yang korosif, seperti air laut. Salah satu upaya untuk mengendalikan laju korosi adalah dengan penambahan inhibitor. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh inhibitor kalium kromat (K2CrO4) dalam mengendalikan laju korosi Al 2024-T3 di lingkungan air laut. Pada penelitian ini, jenis inhibitor yang dipakai adalah kalium kromat (K2CrO4) yang ditambahkan di media air laut dengan variasi konsentrasi 0,1%; 0,3%; dan 0,5%. Selanjutnya laju korosi diukur dengan menggunakan metode sel potensial tiga elektroda dengan kalomel (Hg2Cl2) jenuh sebagai elektroda baku sedangkan elektroda tambahan digunakan platina (Pt). Sebagai data pendukung dilakukan uji komposisi, uji struktur mikro, uji kekerasan Vickers dan uji tarik. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa laju korosi Al 2024-T3 di media air laut tanpa inhibitor sebesar 0,0216 mm/tahun. Penambahan inhibitor kalium kromat (K2CrO4) cenderung menurunkan laju korosi dan konsentrasi optimum tercapai pada 0,5% K2CrO4 ditandai dengan laju korosi minimum yaitu sebesar 0,0134 mm/tahun atau terjadi penurunan laju korosi sebesar 38%. Bentuk korosi yang terjadi berupa korosi sumuran (pitting corrosion) yang disebabkan karena rusaknya selaput pasif. Pada kasus ini inhibitor berfungsi menutup selaput pasif yang rusak tersebut sehingga dapat menghambat laju korosi. Kata kunci: aluminium paduan, 2024-T3, air laut, korosi , inhibitor, K2CrO4 Aluminium alloy 2024-T3 is widely used in manufacturing industries such as aircraft, automotive and ship industries due to its light weight and good mechanical properties. However, aluminium alloy 2024-T3 is suffered from corrosion attack when it is operated in corrosive environment such as sea water. One of the corrosion control methods is inhibitor addition. The present investigation aimed to study the effect of K2CrO4 inhibitor on controlling corrosion rate in sea water. In this research, K2CrO4 was added to sea water environment with various concentrations, i.e. 0.1, 0.3 and 0.5%. Subsequently corrosion rates were measured using three-electrode potential technique with saturated calomel (Hg2Cl2) electrode as a reference electrode whereas the auxiliary electrode was platinum (Pt). Additional experiments including compositional analysis, microstructural examination, hardness measurement and tensile test were also carried out to gain better understanding to the mechanism in which corrosion attacks aluminium alloy 2024-T3. Experimental results showed that corrosion rate of aluminium alloy 2024-T3 in sea water without inhibitor is around 0.0216 mm/year. The additions of K2CrO4 inhibitor tended to reduce the corrosion rate until a minimum value was obtained, typically 0.0134 mm/year (or 38% decrease) as the amount of K2CrO4 was 0.5%. The type of corrosion observed in this investigation was pitting corrosion as a result of local damage in passive film. Inhibitor seemed to form thin protective film on metal surface hence reducing corrosion rate. Keywords: aluminium alloy, 2024-T3, sea water, corrosion , inhibitor, K2CrO4
Pemanfaatan Abu Sekam Padi pada Ozonisasi Minyak Goreng Bekas untuk Menghasilkan Biodiesel Riadi, Lieke ; Sapei, Lanny ; Kristiani, Yosephine ; Sugianto, Octovania
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.5020

Abstract

Penggunaan abu sekam padi sebagai katalis pendukung pada ozonasi minyak goreng bekas untuk menghasilkan biodiesel dipelajari pada penelitian ini. Ozonasi minyak goreng bekas termasuk proses yang hemat energi dan ramah lingkungan karena menggunakan minyak goreng bekas sebagai bahan baku biodiesel serta suhu reaksi yang relatif rendah yaitu pada suhu kamar. Proses pembuatan biodiesel dilakukan dengan mereaksikan minyak goreng bekas dan metanol dengan bantuan katalis KOH pada sebuah reaktor. Gas ozon dialirkan secara kontinu dalam reaktor berpengaduk pada suhu 30oC dan tekanan atmosfer. Pengaruh penggunaan abu sekam padi sebagai supporting catalyst terhadap konsentrasi metil ester yang dihasilkan dikaji dalam percobaan ini. Abu yang digunakan adalah abu hitam (pemanasan pada 350oC) dan putih (pemanasan pada 750oC) dengan konsentrasi masing-masing sebesar 0,5 ; 1 ; 1,5% (b/b). Produk metil ester dikarakterisasi menggunakan Gas Chromatography untuk mengetahui jumlah metil ester rantai pendek (SCME) maupun metil ester rantai panjang (LCME). Di samping itu, dilakukan juga uji densitas dan viskositas, abu yang digunakan diuji dengan analisa XRD dan BET. Konsentrasi SCME paling tinggi dihasilkan pada variasi abu putih dengan konsentrasi 1,5%. Namun, penambahan abu tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan LCME. Dengan demikian, abu putih lebih berperan sebagai supporting catalyst dibandingkan abu hitam. Kata kunci: biodiesel, minyak goreng bekas, abu sekam padi, proses ozonasi,metil ester rantai pendek,metil ester rantai panjang Biodiesel is one of the alternatives for the shortage of fossil fuel. In this experiment biodiesel from waste cooking oil which is made using an ozonation process was studied. The process is energy extensive and environmentally friendly because of the use waste cooking oil as a raw material and the experiment was carried out at low reaction temperature which is room temperature. Waste cooking oil was reacted with methanol, KOH as the base catalyst, and ozone that was continually flowed into a stirred reactor at 30oC and atmospheric pressure. The effect of rice hulk ash addition as the supporting catalyst on methyl esters concentrations was observed in this experiment. Two different types of ashes were used, namely black (heating at 350oC) and white (heating at 750oC) with the concentrations of 0.5; 1; 1.5% (w/w). Methyl esters products were characterized using GC apparatus for Short Chain Methyl Ester (SCME) and Long Chain Methyl Ester (LCME) concentrations. They were also analyzed in terms of density and viscosity. The ashes were characterized by XRD and BET. The highest amount of SCME was achieved at the white ash concentration of 1.5%. However, the ash additions seemed not significant on the LCME production. Thus, the white ash was more useful as a supporting catalyst than the black one. Keywords: biodiesel, used cooking oil, rice hulk ash, ozonation process, short chain methyl ester, long chain methyl ester
Pengaruh Penambahan Surfaktan Sodium Lignosulfonat (SLS) dalam Proses Pengendapan Nano Calcium Silicate (NCS) dari Geothermal Brine Ulya, M Ridho; Perdana, Indra; Mulyono, Panut
Jurnal Rekayasa Proses Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.28245

Abstract

High concentration of dissolved silica in geothermal brine frequently causes operational problem in production of steam for electric generation.  Mitigation of silica scaling is necessary to reduce the risk of steam production failure. In the present work, silicic acid in Dieng geothermal brine was reduced by introduction of calcium hydroxide that lead to formation of insoluble nano calcium silicates (NCS).The purpose of this work was to control size of the precipitated NCS by introducing surfactant sodium lignosulfonate (SLS) as surfactant in the Ca(OH)2 added geothermal brine. The effect of temperature (30, 50 and 70°C), pH (7, 8 and 9), and surfactant concentration (0.05, 0.15 and 0.30% (w/v)) on the particle size of the resulting NCS was studied to obtain the optimum operating condition. The precipitation-sedimentation behavior of the resulting particles was measured in a vertical tube. Having measured the solid density and solution density and viscosity, average diameter of the precipitated particles was determined using stoke’s principle. The calculated particle size was the compared with measurement result using particle size analyzer (PSA). The soluble silica concentration in the solution was measured using spectroscopy method while composition of the resulting solid particles was measured using EDX and FTIR. Experimental results showed that the dissolve silica in Dieng geothermal brine can be reduced and controlled with the addition of Ca(OH)2 and surfactant SLS. The greater the concentration of surfactant SLS, the smaller the resulting particle size. It was found that the formation of NCS particles was accompanied with precipitation of silica and salts. The optimum condition of NCS formation was at temperature 30°C and pH 9 while the concentration of surfactant SLS added to the brine was 0.3 % (w/v).ABSTRAKKonsentrasi yang tinggi dari kelarutan silika dalam larutan geothermal menyebabkan masalah dalam pengoperasian produksi uap di PLTP Dieng. Mitigasi silika scaling diperlukan untuk mengurangi resiko kegagalan produksi uap. Dalam penelitian ini, asam silika dalam larutan geothermal direaksikan dengan kalsium hidroksida (Ca(OH)2) membentuk n ano calcium silicate (NCS). Tujuan penelitian ini adalah membentuk endapan NCS dari surfaktan SLS dan Ca(OH)2 ke dalam larutan geothermal. Mempelajari perubahan suhu (30, 50 dan 70°C), pH (7, 8 dan 9), dan konsentrasi surfaktan (0,05, 0,15 and 0,30% (w/v) serta mengetahui kondisi optimum. Pengujian yang dilakukan yaitu pengendapan partikel yang dilakukan di gelas ukur vertical, densitas padatan, densitas larutan, viskositas, dan diameter rata-rata partikel yang mengendap ditentukan dari persamaan diameter stokes. Kemudian membandingkan hasil perhitungan dari diameter stokes dengan particle size analyzer (PSA). Konsentrasi silika yang terlarut dapat diukur dengan metode spectroscopy dan komposisi padatan di uji dengan instrumen EDX dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silika terlarut dalam larutan geothermal berkurang dan dapat dikontrol dengan penambahan Ca(OH)2 dan penambahan surfaktan SLS. Semakin besar konsentrasi surfaktan maka ukuran partikel akan semakin kecil. Pembentukan NCS dapat dihasilkan dan disertai juga dengan partikel silika dan garam. Kondisi optimum pembentukan NCS terjadi pada suhu 30 oC pH 9 dan konsentrasi surfaktan SLS 0,30 %w/v.
Penentuan Rasio Optimum Campuran CPO: Batubara Dalam Desulfurisasi dan Deashing Secara Flotasi Sistem Kontinyu Aladin, Andi
Jurnal Rekayasa Proses Vol 3, No 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.567

Abstract

Salah satu problem penggunaan batubara Indonesia adalah kandungan sulfur dan abu yang relatif tinggi sehingga dapat berdampak pada kerusakan alat pembakar dan pencemaran lingkungan. Flotasi merupakan salah satu metode untuk mereduksi kandungan sulfur (anorganik) dan abu batubara. Penelitian desulfurisasi dan deashing batubara asal daerah Mallawa (Sulawesi) dilakukan dalam sebuah alat kolom flotasi dengan sistem kontinyu. Diamati beberapa variabel flotasi yang dapat memberikan hasil desulfurisasi yang maksimum, diantaranya adalah variabel rasio campuran surfaktan CPO (Crude Palm Oil) terhadap bahan batubara, dibahas dalam artikel ini. Diperoleh rasio campuran optimum adalah 1:4, berdasarkan kondisi optimum variabel lain yang telah diperoleh sebelumnya yaitu waktu tinggal 60 menit, laju alir udara 1,22 liter/menit, pH 6,5 dan ukuran partikel batubara 169 m. Pada kondisi optimum ini kandungan sulfur batubara dapat direduksi dari 3,3% menjadi 0,93% atau recovery sulfur 72% dan kandungan abu dapat diturunkan dari 11,25% menjadi 9,75% dengan nilai kalor dapat dipertahankan 6000 kkal/kg. Batubara hasil desulfurisasi dan deashing ini telah memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai bahan bakar di industri. Kata kunci: abu, sulfur, flotasi, nilai kalor, kontinyu, rasio CPO:Batubara The problem related to the utilisation of Indonesian coal is the high sulphur and ash contents of the coal which may defect the combustor units and pollute the environment. Flotation is one of the methods to reduce the inorganic sulphur and ash in coal. Research on desulphurisation and deashing of coal from Mallawa (Sulawesi) was performed in a continuous flotation column. Variables which give maximum desulphurisation were studied and covered in this article, e.g. mixing ratio of crude palm oil (CPO) surfactant to coal. It was found that optimum mixing ratio of CPO to coal was 1:4, based on optimum conditions previously determined, i.e. resident time of 60 minutes, air flow rate of 1.22 l/min, pH 6.5 and coal particle size of 169 m. In these optimum conditions, the sulphur content was reduced from 3.3% to 0.93% or 72% sulphur recovery, while the ash content was reduced from 11.25% to 9.75%, the calorific value was maintained at 6000 kcal/kg. The desulphurised and deashed coal meets the specification criteria of the industrial fuel. Key words: ash, sulphur, continuous flotation, caloric valve, ratio CPO:coal
Pengolahan Gas CO2 Hasil Samping Industri Amoniak Melalui Gasifikasi Batubara yang Telah dipirolisis dengan Menambahkan Ca(OH)2 Sobah, Saripah ; Sulistyo, Hary ; Syamsiah, Siti
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.4943

Abstract

Gas CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca yang dianggap memiliki kontribusi terhadap pemanasan global. Industri amoniak menghasilkan emisi CO2 cukup besar dengan faktor emisi 3,273 ton CO2/ton amoniak. Salah satu upaya untuk mengurangi emisi gas CO2 yang dapat dilakukan adalah mengkonversi gas CO2 menjadi gas sintesis (CO) melalui proses gasifikasi batubara. Gas CO merupakan salah satu bahan baku pembuatan metanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar gas CO2 dapat dikurangi kadarnya melalui proses gasifikasi arang batubara. Reaksi karbon dari arang batubara dengan gas CO2 pada proses gasifikasi merupakan reaksi endotermis dan berlangsung sangat lambat pada suhu di bawah 1000oC sehingga digunakan Ca(OH)2 sebagai katalisator. Proses gasifikasi batubara dijalankan dalam reaktor fixed bed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gasifikasi arang batubara dengan penambahan Ca(OH)2 pada proses pirolisis dapat mengurangi gas CO2 sampai sebesar 63,17%, sementara untuk gasifikasi tanpa Ca(OH)2 , gas CO2 hanya berkurang sampai 35,2%. Kata kunci: karbondioksida, pemanasan global, gasifikasi, arang batubara, kalsium hidroksida CO2 is one of the greenhouse gases that is considered to cause global warming. Ammonia industry produces emission gas of CO2 in relatively great amount with an emission factor of 3.273 ton CO2/ton ammonia. One of the attempts to reduce CO2 gas emissions is by converting CO2 into syngas (CO) through gasification process. CO is one of the methanol feedstock. This research aimed to find out the amount of CO2 that can be reduced through charcoal gasification process. The reaction of carbon from coal can be reduced through the gasification process. Since the carbon reaction from coal with CO2 gas in the gasification process was an endothermic and occured very slowly at temperatures below 1000°C, Ca(OH)2 was used as a catalyst. The coal gasification process was conducted in a fixed bed reactor. The experimental results showed that coal gasification with the use of Ca(OH)2 in the pyrolysis process could reduce CO2 levels by 63.17%, meanwhile without Ca(OH)2, the CO2 could be reduced only up to 35.2%. Keywords: carbon dioxide, global warming, gasification, charcoal, calcium hydroxide.
Uji Validitas Model Shrinking Core terhadap Pengaruh Konsentrasi Asam Sitrat dalam Proses Leaching Nikel Laterit Wanta, Kevin Cleary; Petrus, Himawan TBM; Perdana, Indra; Astuti, Widi
Jurnal Rekayasa Proses Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.23321

Abstract

Atmospheric pressure acid leaching process is one of nickel laterite processing which has a big potential to be applied in industry. The leaching process is influenced by several factors and one of them is concentration of acid as leachant. The purpose of this present study is to learn the effect of concentration of citric acid  on the use of shrinking core kinetic model. The process was done by varying citric acid concentration at 0.1, 1, and 2 M. The other operation conditions, such as particle size, solid-liquid ratio, temperature, stirring speed, and leaching process were kept constant at 125-150 μm, 0,2 sample mass/volume of acid solution, 85 oC, 200 rpm, and 120 minutes, respectively. The experimental results showed that the higher concentration of citric acid was used, the higher the percentage recovery of nickel was obtained. In addition, the validity test of shrinking core model indicated a positive impact to describe physical phenomenon of leaching process.ABSTRAKProses atmospheric pressure acid leaching merupakan salah satu proses pengolahan nikel laterit yang berpotensi untuk diaplikasikan dalam skala industri. Proses leaching ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya konsentrasi asam sebagai leachant. Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi asam sitrat terhadap penggunaan model kinetika shrinking core dalam proses leaching nikel laterit. Proses leaching dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi asam sitrat sebesar 0,1; 1,0, dan 2,0 M. Kondisi operasi lainnya, seperti ukuran partikel, rasio padat-cair, suhu, kecepatan pengadukan, dan lama proses dijaga konstan pada 125-150 μm, 0,2 massa sampel/volume larutan asam, 85 oC, 200 rpm, dan 120 menit, secara berurutan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi asam sitrat yang digunakan, maka semakin tinggi pula nilai persentase recovery nikel yang diperoleh. Selain itu, uji validitas model shrinking core terhadap data percobaan menunjukkan dampak yang positif dalam mendeskripsikan fenomena fisis proses leaching. 
Pengaruh Konsentrasi dan Jenis Larutan Perendaman terhadap Kecepatan Ekstraksi dan Sifat Gel Agar-agar dari Rumput Laut Gracilaria verrucosa Distantina, Sperisa ; Anggraeni, Devinta Rachmawati; Fitri, Lidya Eka
Jurnal Rekayasa Proses Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.549

Abstract

Rumput laut jenis Gracilaria penghasil agar-agar banyak tumbuh di Indonesia, tetapi studi pengolahannya belum banyak. Penelitian ini bertujuan mempelajari proses transfer massa pada ekstraksi agar-agar dari rumput laut Gracilaria verucosa (pantai Pekalongan) secara bacth menggunakan pelarut air. Pengaruh penggunaan alkali NaOH (1,5 N dan 3,75 N) dan asam asetat (0,2 N, 0,6 N, dan 0,8 N) pada tahap perendaman terhadap koefisien transfer massa (kca) dan sifat gel agar-agar (gel strength, melting dan setting temperature) juga dipelajari. Rumput laut direndam menggunakan larutan alkali atau asam selama 15 menit. Setelah dicuci menggunakan air sampai pH netral, rumput laut diekstraksi menggunakan pelarut air. Ekstraksi dijalankan di dalam gelas beker yang dilengkapi motor pengaduk. Cuplikan sampel diambil setiap interval waktu tertentu. Cuplikan dibekukan semalam dalam freezer, kemudian diangin-anginkan sehingga air mencair dan terpisah dari agar-agar. Agar-agar yang dihasilkan dikeringkan mengunakan oven (70C) sampai berat konstan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dengan alkali menghasilkan kecepatan ekstraksi yang lebih lambat, rendemen lebih rendah tetapi sifat gel agar-agar yang lebih baik dibandingkan perendaman menggunakan larutan asam. Kata kunci: Alkali, Asam Asetat, Perendaman, Ekstraksi, kca Seaweeds of Gracilaria species are abundantly cultivated in Indonesia. However, studies related to its extraction process are still rare. In the present work, the mass transfer process on a batch extraction of agar was studied by extracting seaweeds in hot water solvent. The effect of alkali (NaOH) and acetic acid (CH3COOH) in the soaking process on the volumetric mass transfer coefficient (kca) and the quality of gel agar were investigated. Seaweeds (Gracilaria verrucosa) from Pekalongan coast were soaked in aqueous NaOH (1.5 N and 3.75 N) or in aqueous acetic acid solution (0.2 N, 0.6 N, and 0.8 N). After being washed, the seaweeds were extracted in hot water of 98C and neutral pH. Some of the extract samples at various times were freezed, thawed, dried and weighed. The evaluation of experimental data showed that the mass transfer coefficient kca decreased and the gel strength of agar increased with the increase of alkali concentration. Meanwhile, the value of kca increased and the gel strength of agar decreased with the increase of acetic acid concentration. Key words: Alkali, Acetic Acid, Soaking, Extraction, Volumetric Mass Transfer Coefficient (kca), Gel strength
Studi Simulasi pada Unit Reformer Primer di PT Pupuk Sriwidjaya Palembang Abdurrakhman, Sigit ; Sutijan, ; Hidayat, Muslikhin
Jurnal Rekayasa Proses Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.4693

Abstract

Pabrik amonia merupakan salah satu pabrik yang terdapat di industri pupuk. Unit Reformer Primer merupakan salah satu alat di pabrik amonia yang merupakan tempat terjadinya reaksi katalitik antara steam dengan metana dikenal dengan proses steam methane reforming. Bahan baku utama adalah steam (H2O) dan gas alam dengan kandungan utama metana (CH4). Penelitian ini membuat model proses unit Reformer Primer untuk menghitung profil temperatur, tekanan dan komposisi untuk kondisi operasi steady state dengan berdasarkan kondisi operasi di pabrik Amonia Pusri 3 PT Pupuk Sriwidjaya Palembang. Asumsi yang digunakan adalah plug flow baik pada sisi furnace maupun pada sisi reaktor katalitik dan kondisi steady state. Untuk menyelesaikan persamaan diferensial ordiner yang digunakan pada penelitian ini dipakai metode Runge Kutta dengan program SciLab sehingga didapat profil konversi dan temperatur di Reformer Primer. Variabel yang mempengaruhi dalam reaksi di Reformer Primer adalah temperatur, tekanan, dan komposisi. Hasil simulasi jika dibandingkan dengan data operasional pabrik menunjukkan ralat rerata 3,94 %. Jika model tersebut digunakan pada berbagai kondisi operasi menghasilkan ralat rerata 7,01 %. Kata kunci: reformer primer, metana, steam, amonia Ammonia plant is the main part of fertilizer industry. Primary reformer is an unit operation where catalytic reaction between steam and methane take place, or it is known as steam methane reforming. The main raw material is steam (H2O) and natural gas with major content of methane (CH4). The objective of this research was to develop primary reformer unit process model to calculate temperature, pressure and composition profiles for steady state operation according to operating condition on Ammonia III plant in PT Pupuk Sriwidjaya Palembang. The assumption used was plug flow model both on the furnace side and on the catalytic reactor side for steady state conditions. The ordinary differential equations were solved using Runge Kutta method with Scilab software to get the conversion, pressure and temperature profiles on primary reformer. Variabels evaluated were temperature, pressure, and composition. The simulation result showed that an average error of 3.94 % compared to the operational plant data. For various operating conditions this simulation showed an average error of 7.01 %. Keyword: primary reformer, methane, steam, ammonia
Seleksi Isolat Bakteri Amilolitik dari Rhizosfer Canna edulis, Kerr. untuk Produksi Poli Hidroksi Alkanoat dari Limbah Cair Tapioka Nurhayati, Nurhayati; Radjasa, Ocky Karna; Prijambada, Irfan Dwidya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.33194

Abstract

Petrochemical-based plastic waste accumulated in landfills have been posing serious threat to the environment as this kind of plastics are non-biodegradable. Replacing petrochemical-based plastics with biodegradable plastics constitutes a challenging solution both in terms of mechanical design of the process and most importantly the availability of powerful local microorganism for the process. Therefore, the current study was searching for appropriate local microorganisms for poly hydroxyl alkanoate (PHA) production from starch waste, which was considered as one of cheap carbon sources. Waste water of cassava industry is a good resource of such starch waste water. The microbes were isolated from Canna edulis, Kerr. rhizosphere from Cangkringan.  The expected isolates were the bacteria enable the coupling of carbon catabolic pathways with PHA anabolic pathways. It was found that ten isolates were able to use waste water of cassava flour industry as carbon source. The PHA quantitative analysis by spectrophotometer showed that the isolate of Bacillus sp. C8 produced the highest PHA of 2,095 g/L. Further FTIR analysis showed specific bands near 1363,67 cm-1, 1641,42 cm-1, 2929,87 cm-1, 3408,22 cm-1 wavelengths which revealed the presence of CH3, ester carbonyl group (C=O), C-H and terminal OH group of PHA. ABSTRAKAkumulasi sampah plastik berbasis petrokimia di tempat pembuangan sampah mengganggu lingkungan karena plastik sifatnya tidak mudah didegradasi secara biologi dan sangat tahan di lingkungan. Penggantian plastik yang berasal dari bahan petrokimia dengan bahan plastik yang mudah terdegradasi secara biologi merupakan tantangan tersendiri, baik dari sisi perancangan proses maupun ketersediaan mikrobia lokal yang sesuai untuk proses tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan bakteri lokal penghasil PHA yang mampu mengkonsumsi substrat berupa pati. Substrat pati dipilih karena ketersediaan limbat industri tapioka sebagai bahan baku potensial dan murah untuk produksi PHA. Bakteri amilolitik untuk produksi PHA telah berhasil diisolasi dari rhizosfer Canna edulis, Kerr. di Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Bakteri yang diisolasi merupakan bakteri dengan kemampuan memproduksi PHA dan memiliki kemampuan melakukan rangkaian reaksi pada limbah cair industri tapioka dan rangkaian reaksi pembentukan PHA. Telah berhasil didapatkan 10 bakteri yang memiliki aktivitas amilolitik dan dapat menghasilkan PHA  menggunakan limbah cair industri tapioka. Analisis kuantitatif PHA menggunakan spektrofotometer menunjukkan bahwa isolat Bacillus sp. C8 menghasilkan PHA paling tinggi sebesar 2,095 mg/mL. Analisis hasil metabolism isolat C8 menggunakan FTIR memperlihatkan puncak spesifik 1363,67 cm-1, 1641,42 cm-1, 2929,87 cm-1, 3408,22 cm-1 adalah verifikasi adanya CH3, C=O, C-H dan OH dari PHA.
Kinerja dan Kinetika Produksi Biohidrogen secara Batch dari Sampah Buah Melon dalam Reaktor Tangki Berpengaduk Sarlinda, Febrina; Sarto, Sarto; Hidayat, Muslikhin
Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.33611

Abstract

Melon fruit waste with high sugar and water content is potential as a substrate for hydrogen production by dark fermentation. This study investigated the performance of biohydrogen production from melon fruit waste in a stirred tank reactor with initial concentration of 13100 mg sCOD/L, in room temperature, initial pH of 7 and controlling final pH at 5.5 by adding NaOH. The fermentation was carried out for 24 hours. The value of pH, volatile solid (VS), soluble chemical oxygen demand (sCOD), volatile fatty acid (VFA), biogas volume, hydrogen content, and cell concentration was analized every hour to determine the performance of reactor. Hydrogen content reached 16.20% with hydrogen production rate (HPR) of 458.12 mL/Lreactor/day in the standard temperature and pressure (STP) condition. Substrate consumption at the end of fermentation reached 24.61% of sCOD and 78.28% of VS. Metabolite products were dominated by acetate and butyrate with butyrate to acetate ratio of 7:6.  The kinetic of product formation was evaluated by the kinetic model of Gompertz. Meanwhile the kinetics of cell growth was approximated by logistics model  A B S T R A KSampah buah melon yang cukup melimpah dan kaya akan gula dan air sangat berpotensi sebagai substrat untuk produksi biohidrogen secara fermentasi gelap. Pada penelitian ini dipelajari kinerja produksi biohidrogen dari sampah buah melon menggunakan reaktor tangki berpengaduk. Konsentrasi awal substrat 13.100 mg sCOD/L pada suhu ruang, pH awal 7 dan dan dilakukan kontrol terhadap pH akhir fermentasi agar tidak turun lebih rendah dari pH 5,5 dengan penambahan NaOH. Fermentasi berlangsung selama 24 jam dan setiap jam dilakukan analisis terhadap pH, volatile solid (VS), soluble chemical oxygen demand (sCOD), volatile fatty acid (VFA), volume biogas, kadar hidrogen dan konsentrasi biomassa untuk mengetahui kinerja reaktor. Kadar biohidrogan yang diperoleh sebesar 16,20% dengan laju produksi hidrogen sebesar 458,12 mL/Lreaktor/hari pada keadaan STP. Konsumsi substrat pada akhir fermentasi mencapai 24,61% sCOD dan 78,28% VS. Produk metabolit dominan adalah asetat dan butirat dengan ratio butirat per asetat sebesar 1,2.  Kinetika pembentukan hidrogen dipelajari melalui model kinetika persamaan Gompertz. Sedangkan kinetika pertumbuhan sel didekati dengan model kinetika persamaan logistik.                                                                                               

Page 1 of 13 | Total Record : 126