cover
Filter by Year
Jurnal Rekayasa Proses
ISSN : 1978287X     EISSN : 25491490
Jurnal Rekayasa Proses (J. Rek. Pros) is an open-access journal published by Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada as scientific journal to accommodate current topics related to chemical and biochemical process exploration and optimization which covers multi scale analysis from micro to macro and full plant size.
Articles
120
Articles
Benefisiasi Bijih Emas dan Perak Kadar Rendah Menggunakan Palong dan Metode Flotasi

Astuti, Widi, Isnugroho, Kusno, Mufakhir, Fika Rofiek, Herlina, Ulin, Nurjanah, Isti

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.071 KB)

Abstract

A B S T R A C TBeneficiation of low-grade gold and silver ores were investigated by gravity concentration flotation methods. The ores were obtained from Way Kanan Region and Mount Burhan in Province of Lampung. In this study, gravity concentration in sluice box and flotation were performed in sequence. Effect of particle size was investigated in gravity concentration by sluice box. Furthermore, effect of various parameters in flotation operation such as concentration of collector, ore particle size, and processing time were studied. Gravity concentration in sluice box indicated that the highest recovery of gold and silver were 76.52% and 94.83%, respectively when using ore particle size of 100+150 mesh. Flotation experiments showed that the maximum recoveries of gold and silver obtained were 98.33% and 86.42%. The conditions to obtain maximum recovery in this study were -100+150 mesh of ores particle size, 25 mL/kg concentration of collector, and 25 minutes of processing time.Keywords: beneficiation; flotation, gold ore; silver ore; sluice box.A B S T R A KBenefisiasi bijih emas dan perak kadar rendah menggunakan konsentrasi gravitasi dengan palong dan menggunakan flotasi telah dilakukan. Bijih emas dan perak yang digunakan berasal dari daerah Way Kanan dan Gunung Burhan di Provinsi Lampung. Pada penelitian ini, konsentrasi gravitasi dengan palong dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan benefisiasi menggunakan flotasi. Pengaruh ukuran partikel dipelajari pada konsentrasi gravitasi dengan palong. Sedangkan pengaruh beberapa variabel seperti konsentrasikolektor, ukuran partikel, dan waktu flotasi dipelajari dalam proses benefisiasi menggunakan flotasi. Pada konsentrasi gravitasi dengan palong, hasil percobaan menunjukkan bahwa persen recovery emas dan perak tertinggi secara berturut-turut adalah 76,52% dan 94,83% ketika digunakan ukuran partikel -100+150 mesh. Pada proses flotasi, hasil percobaan menunjukkan bahwa persen recoveryemas dan perak maksimum yang diperoleh adalah 98,33% dan 86,42% ketika digunakan ukuran partikel -100+150 mesh, konsentrasi kolektor 25 mL/kg dan waktu flotasi 25 menit.Kata kunci: benefisiasi; emas; flotasi; palong; perak

Studi Kinetika Proses Atmospheric Pressure Acid Leaching Bijih Laterit Limonit Menggunakan Larutan Asam Nitrat Konsentrasi Rendah

Wanta, Kevin Cleary, Tanujaya, Felisha Hapsari, Susanti, Ratna Frida, Petrus, Himawan Tri Bayu Murti, Perdana, Indra, Astuti, Widi

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.63 KB)

Abstract

A B S T R A C TKinetics study of atmospheric pressure acid leaching (APAL) process is indispensable for extractor design in an industrial scale. So far, the kinetic model used for this process is the shrinking core model. In this study, the shrinking core model was evaluated against experimental data for laterite leaching process using a solution of low concentration nitric acid (0.1 M). Variations in temperature and particle size were carried out at 303–358 K and <75–250 microns. Other operating conditions, such as pulp density, stirring speed, and time were kept at 20% w/v, 200 rpm, and 120 minutes, respectively. The model evaluation results showed that the shrinking core model was not suitable for this process because the process controlling stage is not just one stage only.Keywords: kinetics; laterite; leaching; shrinking core.A B S T R A KStudi terkait kinetika proses atmospheric pressure acid leaching (APAL) sangat diperlukan untuk proses perancangan ekstraktor dalam skala industri. Selama ini, model kinetika yang digunakan untuk proses tersebut adalah model shrinking core. Dalam studi ini, model shrinking core dievaluasi terhadap data percobaan proses leaching bijih laterit dengan menggunakan larutan asam nitrat konsentrasi rendah, 0,1 M. Variasi suhu dan ukuran partikel dilakukan pada 303–358 K dan <75–250 mikron. Kondisi operasi lainnya, seperti densitas pulp, kecepatan pengadukan, dan lama proses dijaga tetap pada 20%b/v, 200 rpm, dan 120 menit, secara berurutan. Hasil evaluasi model menunjukkan bahwa model shrinking core tidak cocok untuk proses ini karena tahapan pengendali proses tidak hanya satu tahapan saja.Kata kunci: kinetika; laterit; leaching; shrinking core

Kajian Dampak Lingkungan pada Sistem Produksi Listrik dari Limbah Buah Menggunakan Life Cycle Assessment

Marendra, Fajar, Rahmada, Anggun, Prasetya, Agus, Cahyono, Rochim Bakti, Ariyanto, Teguh

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.368 KB)

Abstract

A B S T R A C TProducing biogas by anaerobic digestion (AD) is a promising process that can simultaneously provide renewable energy and dispose solid waste safely. However, this process could affect environment e.g. due to greenhouse gas emissions. By life cycle assessment (LCA), we assessed the environmental impact (EI) of an integrated fruit waste-based biogas system and its subsystems of Biogas Power Plant Gamping. Data were collected from an actual plant in Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia that adopted a wet AD process at mesophilic condition. The results showed that the global warming potential (GWP) emission of the system reached 81.95 kgCO2-eq/t, and the acidification potential (AP), eutrophication potential (EP), human toxicity potential (HTPinf) and fresh water ecotoxicity (FAETPinf) emissions were low. The EI was mainly generated by two subsystems, namely, the electricity generation and the digestate storage. A comparison analysis showed that the GWP become the main contributor of environmental loads produced by Biogas Plant Gamping, Suazhou Biogas Model, Opatokun Biogas Model, Opatokun Pyrolisis Model, dan Opatokun Integrated System Anaerobic Digestion and Pyrolisis. The GWP impact control and reduction could significantly reduce the EI of the system. It has been shown that improving the technology of the process, the electricity generation and the digestate storage will result in the reduction of EI of the biogas system.Keywords: environmental impact; fruit waste; life cycle assessment (LCA); renewable energyA B S T R A KProduksi listrik dari biogas dengan anaerobic digestion (AD) merupakan proses yang menjanjikan karena dapat menghasilkan energi listrik dan penanganan limbah padat dengan aman. Namun, proses ini mempengaruhi lingkungan akibat emisi gas rumah kaca. Penilaian dampak lingkungan (environmental impact atau EI) sistem biogas berbasis limbah terpadu dan subsistemnya terhadap Biogas Power Plant Gamping (BPG) dilakukan dengan metode life cycle assesement atau LCA. Data dikumpulkan dari plant yang sebenarnya di Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia yang mengadopsi proses AD basah pada kondisi mesofilik. Potensi pemanasan global (global warming potential atau GWP) dari sistem mencapai 81,95 kgCO2-eq/t, sedangkan potensi keasaman (acidification potential atau AP), potensi eutrofikasi (eutrophication potential atau EP), potensi toksisitas manusia (human toxicity potential atau HTPinf) dan ekotoksisitas air (fresh water ecotoxicity atau FAETPinf) potensi emisinya cukup rendah. Potensi EI terutama dihasilkan oleh dua subsistem, yaitu, pembangkit listrik dan penyimpanan digestate. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa dampak GWP menjadi kontributor utama dari beban lingkungan yang dihasilkan oleh Biogas Plant Gamping, biogas model Suazhou, biogas model Opatokun, model pirolisis Opatokun, serta model integrasi AD dan pirolisis Opatokun. Pengendalian dan pengurangan dampak GWP secara signifikan dapat mengurangi EI dari sistem. Telah terbukti bahwa peningkatkan teknologi proses, pembangkit listrik dan penyimpanan digestate akan menghasilkan pengurangan EI dari sistem biogas.Kata kunci: dampak lingkungan; energi terbarukan; life cycle assessment (LCA); limbah buah

Perbandingan Kinerja Penyetelan Hagglund-Astorm dan Tyreus-Luyben pada Sistem Kendali Pendinginan Susu

Agustriyanto, Rudy, Febrianto, Anastasia, Widiawati, Putu Sri

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.444 KB)

Abstract

 A B S T R A C TMilk cooling process is one of the most important milk processing steps after milk extraction process. Milk cooling process is carried out to inhibit the microbial growth. The milk is cooled from room temperature to 4 °C. Generally, this process is performed in batch installation. In this research, continuous milk cooling would be simulated. First, the model of the system was derived from the mass and heat balance. The simulation results were then identified using the System Identification Toolbox (SIT) on Matlab. System Identification Toolbox was used to build the mathematical models of dynamic system based on measured input and output data. The result of system identification is useful for setting control and stability analysis. The milk cooling system was then controlled by Proportional Integral (PI) Control. There are two kinds of tuning methods that will be analyzed. These are Hagglund-Astorm method and Tyreus-Luyben. The results showed that the control performance tuned using the Tyreus-Luyben method was better than the Hagglund-Astorm method from the criteria of its SSE (sum squared of error).Keywords: control; proportional integral; system identification; tuningA B S T R A KProses pengolahan susu yang sangat penting setelah pemerahan adalah proses pendinginan. Proses pendinginan susu digunakan untuk menghambat perkembangbiakan mikrobia. Susu didinginkan dari suhu kamar sampai 4 °C. Umumnya proses ini dilakukan secara batch pada instalasi di koperasi susu. Dalam penelitian ini, disimulasikan sistem pengendalian suhu susu secara kontinu. Model sistem diperoleh dari penurunan neraca massa dan panas. Hasil simulasi kemudian diidentifikasi dengan menggunakan System Identification Toolbox pada Matlab. System Identification Toolbox digunakan untuk menyusun model matematis dari sistem dinamis berdasarkan data input dan output yang diukur.  Hasil identifikasi sistem berguna untuk penyetelan pengendali maupun analisis kestabilan. Sistem pendinginan susu kemudian dikendalikan dengan Proportional Intergral (PI) Control. Metode penyetelan yang dianalisis ada dua macam yaitu metode Hagglund-Astorm dan metode Tyreus-Luyben. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kinerja pengendali yang disetel menggunakan metode Tyreus-Luyben lebih baik dibandingkan dengan metode Hagglund-Astorm dilihat dari kriteria SSE nya.Kata kunci: identifikasi sistem; pengendalian; proportional integral; tuning

Kajian Transpor Kreatinin Menggunakan Membran Kitosan-Alginat Tertaut Silang Polivinil Alkohol (PVA)

Ayuni, Ni Putu Sri, Yuningrat, Ni Wayan, Citra, Ni Wayan

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.631 KB)

Abstract

A B S T R A C TThe objective of this research was to determine the efficiency of the creatinine transport using chitosan alginate cross linked by polyvinyl alcohol (PVA) 0.1% with 70, 100, and 130 mg/L of creatinine concentration. The subject of this study was the membranes of chitosan alginate PVA, while the object of this study was the efficiency of the creatinine transport. The PVA 0.1% cross-linking chitosan-alginate membrane (1:0.15) was successfully synthesized. The membrane synthesized was characterized by FTIR, as well as tensile and strain test. The FTIR spectra showed that there is a new peak of the amino group of chitosan and carboxyl group of alginate at ca. 1651 cm-1. The hydroxyl group appears at ca. 1088 cm-1 while ester groups at ca. 1088 cm-1 and ca. 1265 cm-1 which indicate the cross binding between alginate and PVA. The water uptake test of the chitosan alginate PVA membrane reaches 257.76% for 6 hours. The tensile test results of the membrane before and after creatinine transport are 2.77 MPa and 12.56 MPa while the strain tests yield 14.24% and 18.51%, respectively. The maximum efficiency of the creatinine transport using the chitosan-alginate cross linked by PVA is 51.02% at 130 mg/L creatinine. This creatinine transport result using the PVA cross linking chitosan-alginate membrane are more efficient than chitosan-pectin membrane (25.24%) with the same creatinine concentration.Keywords: chitosan-alginate PVA membrane; creatinine; cross-link; synthesis; transportA B S T R A KPenelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai efisiensi transpor kreatinin menggunakan membran kitosan-alginat tertaut silang polivinil alkohol (PVA) 0,1% dengan konsentrasi kreatinin 70, 100 dan 130 mg/L. Subjek dalam penelitian ini adalah membran kitosan-alginat PVA, sedangkan objek penelitian ini adalah pengaruh efisiensi transpor pada variasi konsentrasi kreatinin. Membran kitosan alginat (1:0,15) tertaut silang PVA 0,1% telah berhasil disintesis. Karakterisasi membran kitosan-alginat tertaut silang PVA diperoleh untuk spektra FTIR membran menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran serapan gugus amino dari kitosan dan gugus karboksil dari alginat pada puncak sekitar 1651 cm-1. Pada bilangan gelombang 3363,86 cm-1 terdapat serapan gugus –OH serta pada bilangan gelombang sekitar 1088 cm-1 dan 1265 cm-1 berasal dari gugus ester yang menunjukkan ikatan silang antara alginat dan PVA. Hasil uji serapan air pada membran kitosan-alginat PVA selama 6 jam mencapai rata-rata 257,76%. Hasil uji tarik membran sebelum dan setelah transpor masing-masing: 2,77 MPa dan 12,56 MPa dan untuk hasil uji regang membran sebelum dan setelah transpor masing-masing: 14,24% dan 18,51%. Efisiensi transpor kreatinin pada membran kitosan-alginat tertaut silang PVA mencapai efisiensi transpor maksimal pada konsentrasi 130 mg/L (51,02%). Efisiensi transpor kreatinin ini lebih tinggi jika dibandingkan menggunakan membran kitosan-pektin (25,24%) pada konsentrasi yang sama.Kata kunci: kreatinin; membran kitosan-alginat PVA; sintesis; taut silang; transpor

Aplikasi Koagulan Biji Asam Jawa dalam Penurunan Konsentrasi Zat Warna Drimaren Red pada Limbah Tekstil Sintetik pada Berbagai Variasi Operasi

Martina, Angela, Effendy, Dian Santoso, Soetedjo, Jenny Novianty M

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.93 KB)

Abstract

A B S T R A C TSince textile industries use a lot of water in their processes, a huge volume of waste water containing dyes are produced by the increase of the production capacity. Coagulation and flocculation are the common processes applied since they can effectively decrease the dye concentration in the waste water. These treatments usually utilize chemical coagulant and flocculant which are expensive and non-biodegradable. In this research, tamarind seed as one of biobased-coagulants was studied and developed to reduce drimaren dark red HF-CD concentration which is used widely in textile industry in the synthetic waste water. The research was designed using Design Expert 7.0.0, Central Composite Design with range of variables as follows: pH (2-7), tamarind seed concentration (1-3 g/L), and dye concentration (20-30 ppm). The result shows a promising application of natural coagulant up to 94.25% decrease of dye concentration in the optimum condition of 3.68 g/L tamarind seed concentration, 25 ppm dye concentration and pH value of 4.5.Keywords: coagulation; dye concentration acid; natural coagulant; tamarind seedsA B S T R A KIndustri tekstil merupakan industri yang banyak menggunakan air dalam proses produksinya sehingga menghasilkan limbah yang mengandung zat warna tekstil dengan volume yang besar. Pengolahan yang umum digunakan untuk mengolah limbah tekstil ini adalah koagulasi dan flokulasi. Metode ini efektif dalam mengurangi konsentrasi zat warna pada air limbah. Koagulan yang digunakan pada penelitian ini adalah koagulan alami yang terbuat dari biji asam jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan kondisi optimum biji asam jawa sebagai koagulan alami dalam menurunkan konsentrasi zat warna pada limbah tekstil. Limbah tekstil yang digunakan merupakan limbah sintetik zat warna drimaren dark red HF-CD. Rancangan penelitian dibuat menggunakan Design Expert 7.0.0 metode central composite design dengan memvariasikan variabel pH (2-7), dosis koagulan (1-3 g/L), dan dosis zat warna (20-30 ppm). Kondisi terbaik yang didapat dari penelitian diperoleh pada pH 4,5, dosis koagulan 3,68 g/L, dosis zat warna 25 ppm dengan hasil persen penurunan konsentrasi zat warna sebesar 94,29%.Kata kunci: biji asam jawa; koagulasi; koagulan alami; konsentrasi zat warna

Pengaruh Suhu Operasi terhadap Penentuan Karakteristik Pengeringan Busa Sari Buah Tomat Menggunakan Tray Dryer

Hariyadi, Tri

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.285 KB)

Abstract

A B S T R A C TFood damage can be caused by intrinsic and extrinsic factors. The causes of intrinsic factors involve water activity (aw) and moisture content, the level of maturity and the nature of the food material itself. Meanwhile, the causes of extrinsic factors were the air composition, temperature, pressure, population and microbial contamination.  Drying is one of the most widely used preservative methods, namely by evaporating most of the water contained in food by heat energy. This work studied the effect of operating conditions on the characteristics of tomato drying using tray dryer with the addition of foaming agent albumin and carrier agent dextrin which function as foam stabilizer. Tomatoes used as raw materials were ripe tomatoes, fresh red, and the same relative diameter, not physiologically and mechanically damaged. In this work, tomatoes were sliced, crushed for 10 minutes using blender, separated from the seeds and the residues with a 60-mesh sieve, and then mixed with dextrin and foaming agent albumin each as much as 5% weight. The mixture was blended for 10 minutes. The tray dryer was filled with hot air at 2.0 m/sec with temperature variation of 40, 50, 60 or 70°C. The stainless-steel dish containing tomato paste with thickness of 2 mm or 4 mm was inserted to the dryer. The tomato paste was weighted every 5 minutes. It is found, at a thickness of 2 mm, the optimum drying occurred at a temperature of 70 ℃ with critical time, tc, for 0.92 hours, critical water content of the sample, Xc, 1.40 %, and constant drying rate, Rc, 897.12 kg/m2.hour. In drying operations of 4 mm thickness, optimum drying occurs at 50 ℃ temperature with critical time, tc, for 1.92 hours, critical water content of sample, Xc, 2.56 %, and constant drying rate, Rc, 175.52 kg/m2.hour.Keywords: cake thickness, drying rate, foaming agent, tomato, tray dryer.A B S T R A KTerjadinya kerusakan bahan pangan dapat disebabkan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Penyebab faktor intrinsik di antaranya aktivitas air (aw) dan kadar air, tingkat kematangan dan sifat bahan pangan itu sendiri. Sedangkan penyebab dari faktor ekstrinsik seperti komposisi udara, suhu, tekanan, populasi dan tingkat kontaminasi mikrobia. Pengeringan merupakan salah satu metode pengawetan yang paling banyak digunakan, yaitu dengan cara menguapkan sebagian besar air yang terkandung di dalam bahan pangan dengan menggunakan energi panas. Penelitian ini mempelajari karakteristik pengeringan busa sari buah tomat menggunakan tray dryer dengan penambahan foaming agent albumin dan carrier agent dextrin yang berfungsi sebagai foam stabilizer. Tomat yang digunakan sebagai bahan baku adalah tomat matang, merah segar, diameter relatif sama, tidak rusak secara fisiologis dan mekanis. Di dalam penelitian ini, tomat diiris dan dihaluskan menggunakan blender selama 10 menit. Biji dan ampasnya dipisahkan dari bubur tomat dengan ayakan berukuran 60 mesh. Kemudian bubur tomat dicampurkan dextrin dan foaming agent albumin masing-masing sebanyak 5% berat. Campuran tersebut dihaluskan dengan blender selama 10 menit. Tray dryer dialiri udara panas dengan laju 2,0 m/detik dengan variasi temperatur 40, 50, 60 atau 70 oC. Loyang stainless steel yang berisi bubur tomat dengan ketebalan 2 mm atau 4 mm dimasukkan ke dalam tray dryer. Berat bubur tomat diukur setiap 5 menit. Hasil yang diperoleh, pada ketebalan 2 mm, pengeringan optimum terjadi pada temperatur 70 ℃ dengan waktu kritis, tc, selama 0,92 jam, kadar air kritis sampel, Xc, 1,40 %, dan laju pengeringan konstan, Rc, 897,12 kg/m2.jam. Pada operasi pengeringan dengan ketebalan 4 mm, pengeringan optimum terjadi pada temperatur 50 ℃ dengan waktu kritis, tc, selama 1,92 jam, kadar air kritis sampel, Xc, 2,56 %, dan laju pengeringan konstan, Rc, 175,52 kg/m2.jam.Kata kunci: foaming agent, ketebalan bubur, laju pengeringan, tomat, tray dryer.

Nilai Parameter Kadar Pencemar sebagai Penentu Tingkat Efektivitas Tahapan Pengolahan Limbah Cair Industri Batik

Indrayani, Lilin, Rahmah, Nur

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Batik industry sector has a strategic role in development, especially to increase the level of employment and its contribution in encouraging the growth of creative economy. Along with the development of batik industry that has been known globally, batik industry produces a negative impact of liquid waste in a large amount which will potentially pollute the environment. This paper described the characteristics of batik industrial wastewater and its treatment stages both in physics, chemistry and biology. The treated wastewater is analyzed and adjusted to the required wastewater quality standard parameters. The wastewater treatment plant in Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) consist of physical process i.e. sedimentation, biological process i.e. anaerobic treatment and chemical process i.e. coagulation. The efficiency of the process is determined by the value of test results at each stage of wastewater treatment. The efficiency of physical, biological and chemical process in this plant were 71.69%; 55,31%; 40.75%, respectively. According to the results, the treated wastewater could be discharged safely to the environment.ABSTRAKSektor industri batik mempunyai peranan strategis dalam pembangunan, terutama untuk menumbuhkan tingkat penyerapan tenaga kerja serta kontribusinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Seiring dengan perkembangan industri batik yang sudah dikenal secara global, industri batik menghasilkan dampak negatif berupa limbah cair dalam kuantitas cukup besar yang berpotensi mencemari lingkungan. Dalam makalah ini dijelaskan karateristik limbah cair industri batik dan tahapan pengolahan limbah baik secara fisika, kimia dan biologi. Limbah yang telah diolah dianalisis dan disesuaikan dengan parameter baku mutu limbah yang dipersyaratkan. Dari nilai hasil pengujian dilakukan perhitungan nilai efisiensi pada tiap tahapan pengolahan limbah. Instalasi pengolahan limbah cair batik di IPAL BBKB menggunakan proses pengolahan fisika yaitu sedimentasi; pengolahan biologis dengan pemanfaatan bakteri anaerob; pengolahan kimia dengan penambahan koagulasi. Efektivitas pengolahan dari proses-fisika, biologi dan kimia tersebut berturut- turut adalah 71,69%; 55,31%; 40,75%. Keseluruhan kadar pencemar mengalami penurunan nilai sehingga limbah cair batik yang telah dilakukan pengolahan pada IPAL BBKB dapat dinyatakan aman untuk dibuang ke lingkungan.

Karakteristik Bio-Briket Berbahan Baku Batu Bara dan Batang/Ampas Tebu terhadap Kualitas dan Laju Pembakaran

Nurhalim, Nurhalim, Cahyono, Rochim Bakti, Hidayat, Muslikhin

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Indonesia has a very large fossil fuel source such as coal. In Indonesia, almost all power plants and industries use coal as solid fuel. Burning coal produces fly ash, bottom ash, poisonous gas and unused coal residue. The coal waste is commonly found in mining operations, abandoned mining areas, laboratories and power plants. This problem could be solved by producing bio-briquette using the coal waste. In this study, laboratory scale pyrolysis and non pyrolysis methods were used to produce bio-briquette using the coal waste with measurement of proximate analysis and burning rate. Pyrolysis was carried out at constant temperature of 400 oC for 2 hours. The total weight of briquette sample as much as 99.87 g was burnt at 400 oC with sufficient air space in the furnace. The waste coal was mixed with biomass bagasse and sugar cane stems before the briquetting process. The composition of the briquette material was 50 g of coal waste, 30 g of sugar cane biomass, and 10 g of bagasse. To form the briquette, tapioca was used as adhesive in addition to 5 g of clay with 50 mesh of size and application of 50 kg/cm2 pressure. The result of proximate analysis and combustion of the non-pyrolysis bio-briquette showed that non-pyrolysis bio-briquette contained 4.17 % of moisture content, 18.39% of fly ash, 25.56% of ash content, 5157.87 cal/g of calorific value. The mass of of pyrolysis bio-briquette (50 g) decreased to 30 g during 30 minutes, the compulsion reached maximum speed on 1.93 g/s and the smoke disappeared on the 24th minute The pyrolysis process on coal waste decreased the smoke and the addition of biomass increased the calorific value of bio-coal briquette.ABSTRAKIndonesia memiliki sumber energi fosil yang sangat besar seperti batu bara. Hampir seluruh pembangkit listrik dan industri di Indonesia menggunakan bahan baku batu bara. Batu bara memiliki limbah berupa flying ash, bottom ash, gas beracun dan sisa batu bara yang tidak terpakai. Limbah batu bara tidak terpakai banyak terdapat di pertambangan yang masih beroperasi, sisa lahan pertambangan, laboratorium, pembangkit listrik, sehingga perlu penanganan yang tepat seperti pembuatan briket bio-batu bara. Pada pembuatan briket bio-batu bara ini, batu bara diproses menggunakan metode pirolisis dan tanpa pirolisis dengan uji skala laboratorium seperti uji proksimat dan laju pembakaran. Proses pirolisis menggunakan suhu 400 oC selama 2 jam dan karbonisasi biomassa tanpa menggunakan parameter suhu dan waktu. Berat sampel briket sebesar 99,87 g dibakar pada suhu pembakaran 400 oC dengan menggunakan udara ruang didalam furnace. Sebelum proses pembriketan, batu bara yang telah mengalami proses pirolisis dan tanpa pirolisis dicampur dengan limbah biomassa ampas dan batang tebu. Variabel penelitian menggunakan 50 g limbah batu bara, 30 g biomassa batang tebu dan 10 g ampas tebu. Briket bio-batu bara menggunakan perekat tepung kanji dan tanah liat dengan berat masing–masing 5 g. Sedangkan untuk tingkat kelembutan setiap bahan briket adalah 50 mesh dengan kuat tekan 50 kg/cm2. Hasil analisis proksimat briket bio-batu bara PP (50 g) mengandung kadar air sebesar 4,17%, zat terbang 18,39%, kadar abu 25,56%, nilai kalori sebesar 5157,87 kal/g. Briket bio-batu bara PP (50 g) mengalami penurunan massa sebanyak 30 g selama 30 menit, laju pembakaran mencapai kecepatan maksimum 1,93 g/s dan asap hilang pada menit ke-24. Batu bara dengan proses pirolisis dapat menurunkan asap dan penambahan biomassa dapat menaikkan nilai kalori briket bio-batu bara.

Kinerja dan Kinetika Produksi Biohidrogen secara Batch dari Sampah Buah Melon dalam Reaktor Tangki Berpengaduk

Sarlinda, Febrina, Sarto, Sarto, Hidayat, Muslikhin

Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Melon fruit waste with high sugar and water content is potential as a substrate for hydrogen production by dark fermentation. This study investigated the performance of biohydrogen production from melon fruit waste in a stirred tank reactor with initial concentration of 13100 mg sCOD/L, in room temperature, initial pH of 7 and controlling final pH at 5.5 by adding NaOH. The fermentation was carried out for 24 hours. The value of pH, volatile solid (VS), soluble chemical oxygen demand (sCOD), volatile fatty acid (VFA), biogas volume, hydrogen content, and cell concentration was analized every hour to determine the performance of reactor. Hydrogen content reached 16.20% with hydrogen production rate (HPR) of 458.12 mL/Lreactor/day in the standard temperature and pressure (STP) condition. Substrate consumption at the end of fermentation reached 24.61% of sCOD and 78.28% of VS. Metabolite products were dominated by acetate and butyrate with butyrate to acetate ratio of 7:6.  The kinetic of product formation was evaluated by the kinetic model of Gompertz. Meanwhile the kinetics of cell growth was approximated by logistics model  A B S T R A KSampah buah melon yang cukup melimpah dan kaya akan gula dan air sangat berpotensi sebagai substrat untuk produksi biohidrogen secara fermentasi gelap. Pada penelitian ini dipelajari kinerja produksi biohidrogen dari sampah buah melon menggunakan reaktor tangki berpengaduk. Konsentrasi awal substrat 13.100 mg sCOD/L pada suhu ruang, pH awal 7 dan dan dilakukan kontrol terhadap pH akhir fermentasi agar tidak turun lebih rendah dari pH 5,5 dengan penambahan NaOH. Fermentasi berlangsung selama 24 jam dan setiap jam dilakukan analisis terhadap pH, volatile solid (VS), soluble chemical oxygen demand (sCOD), volatile fatty acid (VFA), volume biogas, kadar hidrogen dan konsentrasi biomassa untuk mengetahui kinerja reaktor. Kadar biohidrogan yang diperoleh sebesar 16,20% dengan laju produksi hidrogen sebesar 458,12 mL/Lreaktor/hari pada keadaan STP. Konsumsi substrat pada akhir fermentasi mencapai 24,61% sCOD dan 78,28% VS. Produk metabolit dominan adalah asetat dan butirat dengan ratio butirat per asetat sebesar 1,2.  Kinetika pembentukan hidrogen dipelajari melalui model kinetika persamaan Gompertz. Sedangkan kinetika pertumbuhan sel didekati dengan model kinetika persamaan logistik.