Pelataran Seni
ISSN : 25025848     EISSN : 25286404
Pelataran Seni published by the The Performing Arts Education Study Program (Faculty of Teacher Training and Education, Lambung Mangkurat University) in collaboration with AP2SENI (Association of Indonesian Drama, Dance and Music Education Study Programs). Pelataran Seni contains research articles, findings, ideas, and scientific studies related to the field of arts education and art studies. The Editor also receives a review or book review related to the scope of the Pelataran Seni.
Articles
33
Articles
Claude Debussy dan Gamelan Jawa

Sunarto, Sunarto

Pelataran Seni Vol 3, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Debussy sebagai komposer Prancis salah satu musisi terpenting pada masanya. Inovasi harmonisnya memiliki pengaruh besar pada generasi komposer. Debussy membuat langkah tegas dari Wagnerisme dalam satu opera lengkap Pelléas et Mélisande. Pada karyanya untuk piano dan orkestra, Debussy menciptakan genre baru dan mengungkapkan berbagai warna timbre dan warna yang menunjukkan estetika musik yang sangat orisinil. Debussy terpesona oleh teater Annam dan Gamelan Jawa pada Universal Exposition tahun 1889, sebuah penemuan yang menyelesaikan pembentukan keyakinan estetikanya. Sesudah Universal Exposition, Debussy mulai tertarik dan menggali Gamelan Jawa sebagai sumber inspirasi pada beberapa komposisinya. Hal itu bukanlah keinginan Debussy untuk memadukan kesan estetis sepintas, namun pengungkapkan secara harafiah dari beberapa sumber teknik dan kaidah seni, dalam mencari musik baru dengan persepsi estetis yang lebih luas.Kata Kunci: debussy, impresionisme, universal exposition, gamelan jawa

NEGATIVITAS TOTAL: KRITIK ADORNO TERHADAP RASIONALITAS DAN SENI MASYARAKAT MODERN

Sunarto, Sunarto

Pelataran Seni Vol 1, No 2
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969) adalah salah satu tokoh dari Mazhab Frankfurt, yang sangat akrab dengan Max Horkheimer. Keduanya membesarkan Mazhab Frankfurt. Adorno ahli dari berbagai bidang: filsafat, sosiologi, dan musikolgi. Pemikirannya saling bertautan. Kritiknya terhadap seni modern lebih kepada pertautan dengan sosiologi. Kondisi masyarakat modern post-aufklarung telah begitu memprihatinkan dengan mengorbankan hidup demi rasionalitas teknologi yang instrumental. Adorno menganggap telah terjadi pembalikkan total atas peran manusia sebagai subjek menjadi objek. Masyarakat modern telah terjebak rasionalitasnya sendiri. Bidang seni telah terjebak pada industrialisasi, yang memungkinkan manusia telah kehilangan daya estetis. Manusia menciptakan seni dan sebagai subjek seni akhirnya menjadi objek seni. Realitas inilah yang disebut sebagai “negativitas total”, manusia ingin menguasai alam akhirnya terkuasai oleh alam itu sendiri. Seni yang diciptakan manusia, akhirnya menjadi seni untuk kebutuhan “sesaat” dan konsumtif belaka.Kata Kunci: seni, negativitas total, teori kritis, rasionalitas Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969) is one of the leaders of the Frankfurt School, who is very familiar with Max Horkheimer. Both raise the Frankfurt School. Adorno experts from various fields: philosophy, sociology, and musikolgi. Their thinking is interlocked. His criticism of modern art is more to engagement with sociology. Conditions Aufklarung post-modern society has been so alarming at the expense live for rasionality instrumental technology. Adorno considers there has been a total reversal of the role of man as a subject to an object. Modern society has stuck own rationality. The arts have been stuck on industrialization, which allows humans have lost their aesthetic. Humans create art and as a subject of art eventually became an art object. Reality is what is referred to as "total negativity", humans want to control nature eventually possessed by nature itself. Art created humans, eventually becoming an art for the needs of “instantaneous” and a mere consumer.Keywords: art, total negativity, critical theory, rationality 

Nilai Budaya dalam Lirik Lagu “Kambang Goyang” Karya H. Anang Ardiansyah (Suatu Kajian Semiotik)

Najamudin, Muhammad

Pelataran Seni Vol 3, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini mengkaji nilai budaya pada lagu Banjar, khususnya dalam lirik lagu “Kambang Goyang” karya H. Anang Ardiansyah”. Lagu Banjar adalah lagu berbahasa Banjar, pada lagu Banjar mengisyaratkan makna etis dan nilai-nilai budaya. Lagu Banjar memiliki dua ciri khas, rantau pandahan dan pesisiran. Peneliti melihat fenomena sekarang banyak generasi muda mampu menyanyikan lagu dengan baik dan benar, akan tetapi makna atau arti dari lagu tersebut tidak memahaminya. Dalam rangka menganalisis lagu Banjar ini, digunakan pendekatan semiotika. Dukungan pengumpulan data mengandalkan teknik observasi dan studi dokumen. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa dalam lirik lagu “Kambang Goyang” karya H. Anang Ardiansyah mengandung makna nilai budaya masyarakat Banjar, yakni tentang hakikat manusia dengan sesamanya dan hakikat karya seni untuk penikmatnya. Secara semiotik, ditemukan sistem denotasi dan konotasi pada lirik lagu, serta ditemukan sistem petanda dan penanda yang mengacu pada konsep kebudayaan masyarakat Banjar.Kata kunci: semiotika, lirik lagu, nilai budaya, kambang goyang, H. Anang Ardiansyah

Pembelajaran Musik Kintung Berbasis Kreativitas pada Peserta Didik di Dapur Teater

Mahendra, Benny

Pelataran Seni Vol 3, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengimplementasikan desain konsep pembelajaran musik kintung berbasis kreativitas di Dapur Teater Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan untuk menggali data-data tentang musik kintung di desa Kelampaian Ilir dilakukan secara deskriptif melalui pendekatan kualitatif, sedangkan untuk menguji coba desain konsep pembelajaran musik kintung digunakan metode eksperimen melalui pendekatan kuantitatif. Kedua metode tersebut dibantu dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka, dan angket. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan sistem koleksi data, penyajian, reduksi data, verifikasi data, dan uji t hitung. Temuan penelitian ini adalah model pembelajaran musik kintung dengan desain konsep pembelajaran yang terdiri dari empat tahapan yaitu: (1) persiapan, (2) verifikasi, (3) representasi yang diterapkan pada lima kali pertemuan di Dapur Theater. Pembelajaran tersebut berisi empat materi pokok yaitu apresiasi musik kintung, mengaransir atau membuat komposisi musik kintung secara berkelompok, berlatih memainkan aranseman atau komposisi musik kintung secara berkelompok, dan menampilkan hasil proses pembelajaran berupa produk karya musik kintung. Pembelajaran musik kintung di Dapur Teater Kalimantan Selatan, menghasikan peningkatan wawasan dan pengetahuan peserta didik tentang kesenian musik kintung serta meningkatkan kreativitas dan produktivitas peserta didik di Dapur Theater Kalimantan Selatan sebesar 83%.Kata kunci: pembelajaran, musik kintung, kreativitas, dapur teater, kalimantan selatan 

Bentuk Penyajian Tari Jaranan Butho di Desa Danda Jaya Kabupaten Barito Kuala

Rahman, Fathur, Nugraheni, Edlin Yanuar, Hadi, Sumasno

Pelataran Seni Vol 3, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk penyajian tari Jaranan Butho di Desa Danda Jaya, Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tahapan analisis data lapangan, reduksi data, penarikan keseimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian diperoleh simpulan, yaitu: (1) terdapat 10 ragam gerak dalam bentuk penyajian (2) terdapat 2 pokok pola lantai lurus ke samping kanan dan lingkaran serta 7 komposisi tari; (3) tata rias penari menggunakan rias karakter, busana tarian 11 bagian dan mengguakan 2 properti; (4) musik pengiring menggunakan 8 instrumen alat musik dan diiringi dengan syair; (5) tempat pertunjukan menggunakan bentuk tapal kuda.Kata kunci: jaranan butho, desa danda jaya, bentuk penyajian tari

Feminisme dalam Tubuh Laki-Laki pada Film A Man Space

Afandi, Haekal Ridho

Pelataran Seni Vol 3, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pada perkembangan film sampai sekarang ini, sedikit ditemukan film yang menggunakan satu gender. Hal ini dikarenakan para pembuat film menganggap bahwa laki-laki dan perempuan adalah bagian yang sangat integritas dalam sebuah film. A man space adalah film fiksi pendek karya Haekal Ridho Afandi yang hanya menggunakan satu gender yaitu laki-laki. Film ini mengadopsi sifat maskulin dan feminim di dalam satu tubuh manusia. Persoalan yang diangkat pada film ini bukan hanya pada perempuan yang melakukan emansipasi, namun juga emansipasi dari sisi laki-laki. Laki-laki pada film ini diposisikan berada pada gerakan perjuangan untuk lepas dari kuasa perempuan. Film ini bertujuan untuk menciptakan kesan dan pesan baru, bahwa atas dasar kebudayaan, laki-laki memiliki peranan yang lebih penting dan berusaha kembali mengemansipasi dirinya dari tekanan-tekanan yang dihadirkan perempuan, dengan gerakan feminisme.Kata Kunci: a man space, tanpa wanita, maskulin, feminim, satu tubuh

Peristiwa Teater Tu(m)buh sebagai Konstruksi Politik Tubuh

Saputra, Andi Taslim, Murtana, Nyoman

Pelataran Seni Vol 3, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini membaca fenomena teater yang melahirkan bentuk politis baru dengan fokus studi kasus peristiwa Tu(m)buh Karya Tony Broer. Bertujuan untuk menjelaskan bentuk politik tubuh Tony Broer dalam peristiwa teater, sehingga membahas persoalan deskripsi praktik politik tubuh Tony Broer menggunakan konsep politik tubuh Foucault. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan analisis data. Hasilnya menunjukkan, konstruksi tubuh yang digodok dalam peristiwa teater Tu(m)buh berupa politik tubuh. Dalam konteks ketubuhan, Tony Broer, melaksanakan praktek konstruksi dan sistem politik tubuh dalam peristiwa teater. Hasil kontruksi tubuh Tony Broer berupa pendisiplinan dan pembentukan tubuh yang intens, keras, dan radikal. Tindakan Tony Broer tersebut melahirkan konsep dan nilai praktis yang lebih dominan penampakan politik tubuh, baik terhadap diri sendiri dan politik tubuh atas orang lain, sehingga peristiwa teater Tu(m)buh adalah penyajian dengan citra tubuh yang politis.   Kata Kunci: teater, politik tubuh, tu(m)buh 

Perkembangan Etnomusikologi di Indonesia: Review Tiga Disertasi

Setiawan, Aris

Pelataran Seni Vol 2, No 2
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Perkembangan Etnomusikologi di Indonesia selama ini belum dapat dibaca dengan jelas, karena tidak adanya parameter dan tolok ukur ideal. Dengan demikian, dibutuhkan upaya untuk mengetahui sejauh mana Etnomusikologi dan dunia kajian musik telah hadir, eksis dan berubah dari waktu ke waktu. Artikel ini, berusaha menyajikan review penelitian-penelitian etnomusikologi dan kajian musik mutakhir, terutama dalam konteks penggunaan aplikasi teori. Tiga naskah terpilih adalah disertasi dari Aton Rustandi Mulyana tentang fenomena Ramen di Indramayu, Zulkarnain tentang Khejungan di Madura Barat, serta Bambang Sunarto tentang epistemologi penciptaan musik. Pemilihan tiga disertasi tersebut didasarkan pada alasan, karena ketiganya menempatkan musik dalam kerangka dan perspektif yang berbeda sehingga dapat memungkinkan terbentuknya suatu wacana dan paradigma yang baru. Review ini adalah upaya pembacaan, tidak sekadar mengulas, namun juga melakukan kritik dan koreksi terhadap persoalan, wacana, paradigma, dan teori yang digunakan. Hasil dari review tiga disertasi tersebut menunjukkan bahwa dunia etnomusikologi dan kajian musik di Indonesia telah mengalami perluasan objek kajian, tidak semata menempatkan musik sebagai teks yang diteliti, namun juga pada sisi konteksnya seperti masyarakat, sosial, politik dan kultural.Kata kunci: etnomusikologi, kajian musik, keramaian, gaya nyanyian, epistemologi penciptaan seni

Fungsi Musik Pada Ritual Aruh Ganal Masyarakat Dayak Meratus

Lutfhi, Muhammad Razief, Subroto, Wisnu, Maryanto, Maryanto

Pelataran Seni Vol 2, No 2
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi musik pada ritual aruh ganal masyarakat Dayak Meratus Desa Malaris Kecamatan Loksado Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Seni musik menjadi bagian dari ritual aruh ganal pada suku Dayak Meratus. Mereka menamakannya dengan istilah musik bagandang. Musik bagandang adalah musik khas yang dimiliki Kalimantan Selatan. Musik ini belum banyak diketahui oleh masyrakat, karena musik bagandang kurang populer dibandingkan kesenian tradisional lain yang ada di Kalimantan Selatan seperti musik panting, dan belum pernah ada penelitian tentang fungsi musik pada ritual aruh ganal. Ada beberapa hal yang akan dideskripsikan dari hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) ritual aruh ganal (2) instrument-instrument musik bagandang (3) organologi instrument musik (4) fungsi-fungsi musik pada ritual aruh ganal yaitu, (a) fungsi ekspresi emosional (b) Fungsi penghayatan estetis (c) fungsi perlambangan (d) fungsi komunikasi (e) fungsi reaksi jasmani (f) fungsi norma sosial (g) fungsi kesinambungan budaya (h) fungsi hiburan (i) fungsi pengiring (j) fungsi ritual.Kata kunci: fungsi musik, aruh ganal, dayak meratus

Meningkatkan Keterampilan Bernyanyi Paduan Suara Siswa dengan Media Pembelajaran Software Encore

Annisa, Rizqi

Pelataran Seni Vol 2, No 2
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini merupakan jenis PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Prosedur penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas Kemmis & McTaggart. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Populasi dan sampel penelitian ini adalah semua siswa di kelas XI Busana-2 SMKN 2 Amuntai yang berjumlah 22 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan teknik penilaian. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya peningkatan keterampilan bernyanyi paduan suara melalui pembelajaran teknik vokal menggunakan media software encore. Hal ini dilihat dari peningkatan nilai rata-rata kelas sebelum dan sesudah diberikan tindakan. Peningkatan siswa bernyanyi paduan suara ini dapat dilihat dari hasil tes yang dilakukan pada saat pra-siklus yang masuk dalam kriteria “kurang baik” dan sesudah diberikan tindakan hasilnya masuk dalam kriteria “baik”. Nilai rata-rata kelas XI Busana-2 SMKN 2 Amuntai mengalami peningkatan dari pra-siklus ke siklus I sebesar 45,45%. Kemudian dari siklus I ke siklus II nilai rata-rata kembali mengalami peningkatan sebesar 31,82%.Kata Kunci : bernyanyi paduan suara, pembelajaran teknik vokal, software encore