cover
Contact Name
Dessy Wahyuni
Contact Email
dewahyuni77@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmadahriau@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra
Published by Balai Bahasa Riau
ISSN : 20866038     EISSN : 25809717     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra is published by Language Center of Riau with P-ISSN 2086-6038 and E-ISSN 2580-9717. Madah publishes articles in the form of research results, conceptual ideas, studies, applications, theories, criticism that have not been published in other journals. Madah first published in April 2010, published twice a year, April and October.
Arjuna Subject : -
Articles 168 Documents
The Love of Suffering in “Зеркало (Zerkalo)” by Andrei Tarkovsky Budiana, Kirana Chandra Mumpuni; Kaprisma, Hendra; Limbong, Banggas
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2019): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v10i1.840

Abstract

Topik yang diangkat dalam penelitian ini adalah kecintaan pada penderitaan dalam film “Зеркало (Zerkalo)” ‘Cermin’ karya Andrei Tarkovsky. Penelitian ini dibuat bertujuan untuk mengidentifikasi makna penderitaan yang ditampilkan melalui tokoh Maria dan latar tempat yang terdapat dalam film. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotik Roland Barthes, denotasi dan konotasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekspositori, deskriptif, dan kritik. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini, pertama, tokoh Maria dalam film “Зеркало (Zerkalo)” merupakan tokoh yang masokis. Cara tokoh Maria menghadapi penderitaan dimaknai sebagai suatu bentuk страдание (stradanie) ‘penderitaan’ yang harus dinikmati. Kecintaan terhadap penderitaan tersebut terkait dengan konsep смирение (smirene) ‘kerendahan hati’ dan судьба (sud’ba) ‘takdir’ yang menjadi karakteristik masokisme di Rusia. Kedua, latar tempat dalam film ini digambarkan dengan indah seakan-akan penderitaan seharusnya dimuliakan. The topic discussed in this research is the love of suffering in “Зеркало (Zerkalo)” ‘Mirror’ by Andrei Tarkovskiy. This paper is intended to identify the meaning of suffering that is displayed through the character of Maria and background of the place in film. The main theory used in this research is Roland Barthes's semiotic theory, denotation and connotation. The methods that being used in this research are expository, descriptive, and criticism. The result of this research, firstly, the character of Maria in “Зеркало (Zerkalo)” is a masochist figure. The way the Maria confronts suffering is interpreted as a form of страдание (stradanie) 'suffering' that must be enjoyed. The love of suffering is related to the concept of смирение (smirene) 'humility' and судьба (sud'ba) 'destiny' which characterizes masochism in Russia. Secondly, the background of place in this film is illustrated beautifully as if suffering should be glorified. 
A COMPARISON OF ONOMATOPOEIA IN FOREIGN, INDONESIAN, AND LOCAL LANGUAGES Hadi, Imron
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 4, No 2 (2013): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v4i2.540

Abstract

Pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang merupakan representasi kebudayaan memiliki sejumlah kesulitan. Salah satu kesulitan itu berasal dari pengenalan bunyi. Sebuah cara alternatif untuk mengakomodasi masalah tersebut adalah dengan pengenalan bentuk onomatope. Onomatope menyediakan bermacam bunyi tiruan yang berbeda sebagai ikon lintas bahasa dan budaya untuk mengartikulasikan hal yang sama. Onomatope dapat berasal dari berbagai sumber, seperti komik, karikatur, novel, koran dan lain sebagainya. Onomatope dapat memberikan berbagai sudut pandang mengenai identitas kebahasaan dan kebudayaannya, setidaknya dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan daerah.AbstrakTeaching English as a foreign language that is a representation of culture has some difficulties. One of the them comes from sounds recognition. An alternative way to accomodate the problem is by acknowledging an onomatopoeia. Onomatopoeia provides several different kinds of imitative sound as a cross cultures and language icon to articulate the same thing. Its sources can be taken from comics, caricatures, novels, newspapers, and others. Onomatopoeia could give various perspective of its cultural and language identity in English, Indonesia, and local language.
FANTASI TOKOH SERIAL MISTERI PEDANG SKINHEALD KARYA ATAKA AWWALLUR RIZQI Hadi, Noor
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 3, No 1 (2012): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v3i1.842

Abstract

This study is aimed at describing the fantasy of the characters in the children stories entitled “Misteri Pedang Skinheald: Sang Pembuka Segel” and “Misteri Pedang Skinheald II: Awal Petualangan Besar” by Ataka Awwallur Rizqi. The subjects of the research were two children stories. They were entitled “ Misteri Pedang Skinheald: Sang Pembuka Segel” and “Misteri Pedang Skinheald II: Aw al Petualangan Besar” by Ataka Awwallur Rizqi. The objects of the research were the fantasy character in both children stories. The study used intrinsic approach. It is an approach applying close reading of the stories with an emphasis on the determinatio ns of the fantasy character. The analysis wasdone by making categories, data tabulation, and verbal description. These phases were then continued by making inferences, such as a profound comprehension, a comparison between one inference and the other, an d conclusion drawing. The results of the research are as the following: First, the character contains the flat character and round character. Second, there are elements of fantasy which support the story events such as magics,supernatural swords, and supernatural capabilities inside the characterization.
PANTUN BATOBO TEMA MERENDAH DIRI (ANALISIS STRUKTURAL SEMIOTIK) Puspita, Alvi
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 5, No 1 (2014): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v5i1.526

Abstract

This paper analyzes some pantun batobo using structural theory of semiotics. Pantun batobo is rhyme sung by the members of tobo when conducting batobo (mutual cooperation working the fields). Pantun batobo as objects in this article was obtained from the sources (tobo actors) in Taratak Village, Rumbio Jaya District, Kampar Regency. A hundred pantun collected, only four pantun were analyzed that writer categorized into humble themed. The results of the analysis shows that pantun humble themed is structurally semiotic. Pantun Batobo is a text that is rich both in structure (shape) and semiotics (the use of signs). Pantun batobo is not only attract the level of form, but also interesting in terms of content and meaning, so there is a balance between form and content. In structure, pantun batobo have certain patterns, such as rhyme and the number of words and syllables are in lines of poem, while in semiotics, pantun batobo has layers of meaning.AbstrakTulisan ini menganalisis beberapa pantun batobo dengan menggunakan teori struktural semiotik. Pantun batobo adalah pantun yang didendangkan oleh para anggota tobo ketika melakukan kegiatan batobo (bergotong royong di ladang mengerjakan sawah). Pantun batobo sebagai objek dalam tulisan ini diperoleh dari para narasumber (para pelaku tobo) di Desa Taratak, Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar. Dari seratus pantun yang dikumpulkan, hanya dianalisis empat pantun yang penulis golongkan ke dalam pantun bertema merendah diri. Adapun hasil dari analisis pantun bertema merendah diri secara struktural semiotik yaitu pantun batobo merupakan sebuah teks yang kaya baik secara struktur (bentuk) dan semiotik (penggunaan tanda-tanda). Pantun batobo bukan hanya menarik dalam tataran bentuk, tetapi juga menarik dalam hal isi dan makna, sehingga terdapat keseimbangan antara bentuk dan isi. Secara struktur, pantun batobo memiliki pola tertentu, seperti rima serta jumlah kata dan suku kata yang terdapat pada baris pantun, sedangkan secara semiotik, pantun batobo memiliki lapis-lapis makna. 
Teknik dan Ideologi Penerjemahan di Wordpress Rachmawati, Raja
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 7, No 2 (2016): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v7i2.430

Abstract

The topic of this article is about translation in blog, especially WordPress. This research aims at identifying the translation techniques and ideology in translating blog terms which are applied by Google Inc in WordPress. This method is descriptive qualitative. The data of this research is blog terms that exist in WordPress in forms of words, phrases, clauses and sentences. The technique used in this research is writing technique. The result of the research shows that there are 47 words, 12 phrases, 41 sentences blog terms in WordPress in English. There are six techniques found in the data, namely 1) borrowing technique, 2) calque technique,3) literal technique, 4) reduction technique, 5) transpotition`technique, and 6) the comibnation of some techniques. The ideology of the translation mostly found is foreignization.AbstrakTopik dari penelitian ini adalah penerjemahan pada blog, khususnya WordPress. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi teknik penerjemahan istilah blog dalam WordPress dan mendeskripsikan ideologi penerjemahan istilah blog yang digunakan Google Inc. pada Wordpress tersebut. Penelitian ini merupakan penerjemahan yang bersifat deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa istilah blog berbahasa Inggris yang terdapat dalam WordPress dalam bentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak catat. Dari hasil penelitian diperoleh 47 kata, 12 frasa, dan 41 kalimat yang digunakan dalam blog. Terdapat enam teknik penerjemahan yaitu 1) teknik penerjemahan peminjaman, 2) teknik penerjemahan kalke, 3) teknik penerjemahan literal, 4) teknik penerjemahan transposisi, 5) teknik penerjemahan reduksi, dan 6) gabungan beberapa teknik penerjemahan. Ideologi penerjemahan istilah blog didominasi olehideologi foreignisasi.
"WEWE MERENTAS GUNUNG": MITOLOGI MASYARAKAT BESEMAH SUMATERA SELATAN Herleni, Sari
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 6, No 1 (2015): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v6i1.358

Abstract

This study is based on the assumption that by reading literary works, we can  enjoy a culture of a society. By discussing the elements of mythology  stories  “Wewe Merantas Gunung”, it is expected to be able to understand what the source of mythology of the story is. It includes four elements of understanding such as the types, characters, functions, and methods of telling the story. The result of the study showed that the source of mythology of the environment of Besemah society itself is hilly. This kind of mythology is a myth that the story  is considered really existed by the community, even it is considered to be the taboo matter. The main character is Wewe while the subordinate characters are  is the old brother and the middle brother. Mythology has functions as moral  controlling and as reminder something and the method of story telling is narrative, the story telling is expressed by the author completely.Abstrak Penelitian ini dilandasi anggapan bahwa dengan membaca karya sastra kita dapat menikmati kebudayaan dari suatu masyarakat. Dengan  membahas unsur mitologi cerita "“Wewe Merentas Gunung"” diharapkan dapat mampu memahami apa yang menjadi sumber mitologi dan meliputi empat unsur pemahaman yaitu jenis, tokoh, fungsi, dan cara penyampaian. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sumber mitologi  Masyarakat Besemah adalah dari lingkungannya sendiri yaitu perbukitan. Jenis mitologi adalah mite yaitu cerita ini dianggap benar-benar ada oleh masyarakat pendukungnya bahkan dianggap tabu. Tokoh utama adalah Wewe sedangkan tokoh bawahan adalah kakak tua dan kakak tengah. Fungsi mitologi adalah sebagai pengendali moral dan penginggat sesuatu dan cara penyampaian bersifat naratif yaitu penyampaian cerita diungkapkan oleh pengarang sepenuhnya.
SISTEM SAPAAN MASYARAKAT KUANTAN MUDIK Arpina, Arpina
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 4, No 1 (2013): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v4i1.553

Abstract

This studydiscussesthe system of address used by Rantau Kuantan people in Kuantan Mudik district, Kuantan Singingi Regency, Riau Province. The purpose of this study is to describethe system of address and personal pronounsin Kuantan Mudik isolect. This studyis useful as references for vernacular studies, sociolinguistics literary, and preparation for vernacular dictionaryorbilingual dictionary, as well as documentation of system of address in vernacular. The method usedin this researchis the descriptive method. Based on its usages,thesystem of address in Kuantan Mudik community is grouped based on gender, age, status of speakersand listener, family relationship, contexts, birth order, terms of address, and personal pronouns.AbstrakPenelitian ini membahas sistem sapaan yang digunakan oleh masyarakat Rantau Kuantan di Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan sistem sapaan dan pronomina persona yang digunakan di Kecamatan Kuantan Mudik. Penelitian ini bermanfaat sebagai literatur pembelajaran bahasa daerah, literatur kajian bidang sosiolinguistik, penyusunan kamus bahasa daerah atau kamus dwibahasa, dan dokumentasi istilah sapaan dalam bahasa daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.Berdasarkan penggunaannya, sistem sapaan dalam masyarakat Kuantan Mudik dikelompokkan atas jenis kelamin, usia, kedudukan penutur dan mitra tutur, hubungan keluarga, situasi pembicaraan, urutan kelahiran, sapaan dalam masyarakat, dan pronomina persona.
SI PARASIT LAJANG: POTRET PEREMPUAN METROPOLITAN Prijanto, Saksono
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 5, No 1 (2014): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v5i1.522

Abstract

The presence of novel Saman by Ayu Utami surprised the world of Indonesian literature. Response to readers and literary critics of Saman diverse, both those in favor, cursing and not be silent. Ayu Utami is a productive female novelist because she continuously has been published novel Saman and Larung (dualogy), Serial Numbers Fu (Manjali and Cakrabirawa and Lalita), and the trilogy (Parasit Lajang, Enrico Love Story, Parasit Lajang—Ex Parasit Lajang). Ayu Utami‟s achievement in writing, among others are "Mastera Young Writers Award 2009" in 2009. The purpose of this article is to express the position and idea of young metropolitan woman, their restless in seeing the domestic life. I figure (women) in the novel The Parasit Lajang (SPL) minds that women should have equality to men legally in many ways, especially on marriage. SPL novel deserves to be read and studied intensively, both as evidence of freedom in the creative process of a writer (female) as well as the Indonesian literary enrichment effort for the reader of literature, literary observers, as well as researchers in Indonesian literature.AbstrakKehadiran Ayu Utami melalui novel Saman mengagetkan dunia sastra Indonesia. Tanggapan pembaca serta kritikus sastra terhadap Saman beragam, baik mereka yang memihak, memaki, maupun yang diam tidak bersikap. Novelis perempuan ini termasuk produktif karena berturut-turut telah menerbitkan novel Saman dan Larung (dwilogi), Seri Bilangan Fu (Manjali dan Cakrabirawa serta Lalita), dan trilogi (Si Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, dan Pengakuan Eks Si Parasit Lajang). Prestasi Ayu Utami dalam tulis menulis, antara lain memperoleh "Penghargaan Sastrawan Muda Mastera 2009" pada tahun 2009. Tujuan penulisan artikel ini adalah mengungkapkan sikap dan pandangan hidup perempuan muda metropolitan tersebut, sekaligus kegelisahannya dalam menyikapi suatu kehidupan rumah tangga. Tokoh saya (perempuan) dalam novel Si Parasit Lajang (SPL) berpegang teguh pada sikapnya, yaitu perempuan harus memiliki kesetaraan terhadap laki-laki secara hukum dalam berbagai hal, khususnya tentang perkawinan. Novel SPL layak dibaca dan diteliti secara intensif, baik sebagai bukti kebebasan dalam proses kreatif dari seorang pengarang (perempuan) Indonesia maupun sebagai upaya pengayaan literer bagi pembaca sastra, pengamat sastra, serta peneliti sastra di Indonesia.
MENELUSURI MAKNA NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI (TRILOGI PERTAMA: CATATAN BUAT EMAK) Kurniati, Chrisna Putri
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 3, No 1 (2012): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v3i1.753

Abstract

The main object of this research is Ahmad Tohari’s Ronggeng Dukuh Paruk. The purpose of this research is to expose the interpretation of the implicit message and add a depth appreciation of reading to literature in form of novel. This research aplies the theory of hermeneutic by using hermeneutic method. The result of this research shows that the novel reveals the tradition of ronggeng as a form of women exploitation. Besides, the tradition still glorifies animism and dynamism.AbstrakObjek penelitian ini adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan makna dalam novel dan menambah apresiasipembacaan yang mendalam terhadap karya sastra yang berbentuk novel. Penelitian ini mengaplikasikan teori hermeneutik dengan menggunakan metode hermeneutik. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran dan pemahaman terhadap novel Ronggeng Dukuh Paruk mengungkapkan tradisi ronggeng sebagai bentuk eksploitasi perempuan.Selain itu tradisi ronggeng merupakan tradisi yang masih mengagungkan kepercayaan animisme dan dinamisme.
Makna Simbol Prosesi dalam Ritual Ambil Semangat Suku Tidung Thobroni, Muhammad; Helmiyanto, Helmiyanto
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 8, No 1 (2017): MADAH
Publisher : Balai Bahasa Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v8i1.415

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna simbol prosesi ritual Ambil Semangat di Sembakung, Nunukan, Kalimantan Utara. Ambil Semangat merupakan ritual adat untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh makhluk halus. Data penelitian diperoleh dengan cara teknik rekam, catat, dan wawancara, kemudian dihimpun, diidentifikasikan, dan diklasifikasi. Data penelitian berupa berupa rekaman dan catatan tentang makna simbol ritual Ambil Semangat di Sembakung Nunukan. Penelitian berfokus pada makna simbol prosesi ritual Ambil Semangat dengan pendekatan kajian semiotik. Penelitian makna simbol prosesi ritual Ambil Semangat di Sembakung Nunukan menggunakan kajian semiotik dengan menerapkan teori segitiga makna (sign, object, dan interpretant). Hasil dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa tahapan proses dalam acaranya terdapat makna yang unik. Urutan ritual Ambil Semangat adalah Pembukaan, Potong Lilin Tiga Sisi, Mengisi Air dalam Ember, Memulai Ritual Ambil Semangat, Menyalakan  Lilin Kuning, Tempel Lilin Kuning, Putar Mangkuk pakan, Usapan air Salawat Nabi, Ambil Syarat Nabi Ilyas As, Pemanggil Roh, Pulang dengan Doa, Pasang Ikat, Hambur Pakan, Masuk Air, Air Nabi Khaidir As, Telan Air Salawat Nabi Khaidir As, Penutup.

Page 1 of 17 | Total Record : 168