cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)" : 7 Documents clear
HUBUNGAN PANJANG-BERAT, KEBIASAAN MAKANAN, DAN REPRODUKSI IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus gibbus: Famli LUTJANIDAE) DI PERAIRAN SELATAN BANTEN Prihatiningsih, Prihatiningsih; Kamal, Mohammad Mukhlis; Kurnia, Rahmat; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.42 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.21-32

Abstract

Ikan kakap merah (L. gibbus) adalah jenis ikan demersal dari famili Lutjanidae yang bernilai ekonomis penting dan banyak tertangkap di Indonesia. Informasi tentang kebiasaan makan dan aspek reproduksi ikan kakap merah di Indonesia masih relatif sedikit. Selain itu, telah terjadi penurunan stok ikan kakap merah di Selatan Banten selama 6 tahun terakhir (2008-2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan panjang-berat, kebiasaan makan dan reproduksi ikan kakap merah.. Penelitian dilakukan selama 3 tahun (2013, 2015 dan 2016). Ikan contoh diambil dari hasil penangkapan ikan oleh para nelayan dengan alat tangkap pancing rawai dasar dan pancing ulur dengan mata pancing no 7-10 yang didaratkan di Binuangeun-Banten. Analisis fekunditas dilakukan di Laboratorium dengan metode gravimetrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan kakap merah jantan memiliki ukuran lebih panjang dibandingkan ikan betina, pola pertumbuhannya bersifat isometrik. Kebiasaan makan ikan kakap merah tergolong ikan karnivora dimana makanan utamanya adalah ikan dan kepiting (Portunidae). Nisbah kelamin jantan dan betina tidak seimbang yaitu 1: 1.53. Fekunditas berkisar 14.050–596.243 butir dengan rata-rata 170 869 butir, diameter telur berkisar 0,03–1,02 mm dan pola pemijahannya bersifat salin sebagian (partial spawner).The humpback red snapper (Lutjanus gibbus) is the family of lutjanidae which has important economic value in Indonesian capture fisheries. In addition, there has been a sharp decline on the population of  humpback red snapper in the Southern part of Banten during the last 6 years (2008-2013). This study aims to examine the growth function, food habits and reproductive biology of L. gibbus in the Southern part of  Banten Waters. Fish samples were collected for 3 years (2013, 2015 and 2016) both from fishing ground and landing places in Binuangeun-Banten, caught by handline and bottom longline. The fecundity analysis was performed in Laboratory by gravimetric method. The results showed that the average size of males of humpback red snapper was longer than females with the growth pattern was isometric. The food habits of humpback red snapper was classified as carnivorous fish in which the main food item consist of fish and crab (Portunidae). Sex ratio of males and females were unbalance by 1: 1.53. The fecundity ranges from 14.050-596.243 eggs with an average of 170.869 eggs. The humpback red snapper found as  partial spawner which eggs diameter ranged from 0,03 to 1,02 mm.
HABITAT PEMIJAHAN DAN ASUHAN IKAN BILIH Mystacoleucus padangensis (Bleeker, 1852) DI SUNGAI NABORSAHAN, DANAU TOBA, SUMATERA UTARA Suryanti, Ani; Sulistiono, Sulistiono; Muchsin, Ismudi; Kartamihardja, Endi Setiadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.198 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.33-42

Abstract

Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan salah satu ikan dari famili cyprinidae yang melakukan ruaya pemijahan dari danau menuju sungai. Habitat pemijahan dan asuhanikan bilih perlu dikaji sebelum melakukan upaya pemulihan kembali ikan bilih di Danau Toba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui habitat pemijahan dan habitat asuhan ikan bilih. Habitat pemijahan ditentukan berdasarkan jumlah ikan matang gonad dan habitat asuhan diidentifikasi berdasarkan keberadaan juvenil ikan bilih di Sungai Naborsahan, Danau Toba Sumatera Utara. Pengambilan sampel ikan bulanan (April 2013 sampai Mei 2014) dilakukan di enam stasiun yang ditentukan berdasarkan karakteristik sungai dan habitat ikan bilih. Ikan bilih matang gonad (siap mijah) dapat ditemukan di semua stasiun penelitian. Seluruh lokasi penelitian merupakan habitat pemijahan ikan bilih. Juvenil ikan bilih hanya ditemukan di stasiun 3, 4, 5 dan 6. Oleh karena itu, diduga stasiun 1 dan 2 merupakan daerah pemijahan bagi ikan bilih sedangkan stasiun 3, 4, 5, dan 6 merupakan daerah pemijahan sekaligus juga daerah asuhan ikan bilih.Bilih fish (Mystacoleucus padangensis) is a species of the Cyprinidae family that have migration pattern from the lake to the river for spawning purpose. Spawning and nursery ground of bilih fish needs to be assessed before making a recovery effort of bilih fish in Lake Toba. The purpose of this study was to determine the nursery and spawning ground of bilih fish. Spawning ground is determined based on the number of mature gonad fishes and the nursery ground identified based on the presence of juvenile fishes in the Naborsahan River, Toba Lake, North Sumatra. The montly samples (April 2013 to May 2014) were collected from six stations that was determined based on the characteristics of the river and bilih fish habitat . The results showed that the mature gonad fish can be found at all research stations. The entire study sites are spawning habitat of bilih fish. The juvenile  was found at the stations 3, 4, 5 and 6. This phenomena suggests that the stations 1 and 2 possibly were only a spawning ground while the stations 3, 4, 5, and 6 were both the spawning and nursery ground of bilih fish.
PERTUMBUHAN, FAKTOR KONDISI, DAN BEBERAPA ASPEK REPRODUKSI IKAN LEMURU (Amblygaster sirm, Walbaum 1792) DI PERAIRAN SELAT SUNDA Kartini, Nidya; Boer, Mennofatria; Affandi, Ridwan
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1166.719 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.43-56

Abstract

Ikan lemuru (Amblygaster sirm) merupakan salah satu komiditas utama di Selat Sunda yang menjadi target nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai Lebuan. Informasi biologi dibutuhkan untuk menyusun langkah konservasi ikan lemuru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi biologis ikan lemuru di perairan Selat Sunda melalui pengkajian parameter pertumbuhan, faktor kondisi, dan beberapa aspek reproduksi. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan April-Agustus 2015 dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di PPP Labuan, Banten menggunakan teknik Penarikan Contoh Acak Berlapis. Jumlah ikan contoh yang diambil selama penelitian sebanyak 527 ekor ikan jantan dan 245 ekor ikan betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan lemuru jantan dan betina adalah isometrik, nilai faktor kondisi ikan lemuru jantan berkisar 0,9346 – 1,0294 dan betina berkisar 0,9401 – 1,0738, parameter pertumbuhan L∞, K, dan t0 pada ikan jantan adalah 248,80 mm; 0,24/tahun;dan -0,38. Adapun parameter (L∞, K, dan t0) pada ikan betina adalah 235,26 mm; 0,46/tahun, dan -0,20. Nisbah kelamin ikan lemuru jantan dan betina TKG IV adalah 0,75:1. Ukuran pertama kali matang gonad (Lm) ikan lemuru jantan dan betina adalah 188 mm dan 186 mm. Sedangkan ukuran pertama kali tertangkap (Lc) ikan lemuru jantan dan betina adalah 172 mm dan 173 mm. Musim pemijahan ikan lemuru diduga terjadi pada bulan Mei dan Juli.The spotted sardinella (Amblygaster sirm) was one of main commodities in the Sunda Strait that maily targeted by fishers in Labuan Coastal Fishing Port, Banten. The biological  information  needed to setup conservation measure of the spotted sardinella. This research aims to analyse the biological conditions of spotted sardinella in the Sunda Strait by reviewing parameters of growth, condition factor, and some reproduction aspect. Research was conducted in April-August 2015 in Labuan Coastal Fishing Port, Banten by using Random Stratified Sampling technique. About 700 samples (527 male and 245 female fishes) collected during study. The results showed that the growth pattern of male and female were isometric, value of condition factor for male ranged from 0,9346 – 1,0294 and for female ranged from 0,9401 – 1,0738. The estimated growth parameters (L∞, K, and t0) for male were 248,80 mm; 0,24 year-1;and -0,38 respectively. While, the parameters (L∞, K, and t0) of female were 235,26 mm; 0,46 year-1;and -0,20 respectively. The sex ratio between males and females for spotted sardinella was 0,75:1. The size at first maturity (Lm) of male and female were 188 mm and 186 mm, respectively. In addition, the size a first caught (Lc) of male and female was 172 mm and 173 mm, respectively. Thespawning season spotted sardinella possibly occurs in May and July.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI UDANG BANANA (Metapenaeus dobsoni) DAN UDANG KAYU (M. affinis) DI PERAIRAN TELUK CEMPI, NUSA TENGGARA BARAT Putri, Masayu Rahmia anwar; Nastiti, Adriani Sri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (939.089 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.1-10

Abstract

Perairan Teluk Cempi merupakan salah satu daerah penangkapan udang potensial di Nusa Tenggara Barat khususnya udang benana (Metapenaeus dobsoni) dan udang kayu (M. affinis). Pemanfaatan sumberdaya udang yang tidak terkendali akan mengancam kelestarian sumberdaya udang. Sebagai dasar untuk pengelolaan yang berkelanjutan perlu dilakukan kajian beberapa parameter biologi meliputi nisbah kelamin, sebaran ukuran panjang, hubungan panjang dan berat, tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad dan ukuran pertama kali tertangkap. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Teluk Cempi, Nusa Tenggara Barat pada bulan April-Desember 2013. Sampel udang didapatkan dari percobaan penangkapan dan hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Desa Jala, Kabupaten Dompu, kemudian dicatat data biologinya oleh enumerator. Hasil penelitian menunjukkan nisbah kelamin udang kayu dan banana betina lebih banyak dibandingkan udang jantan (lebih dari 60%). Panjang karapas udang benana dan udang kayu betina lebih besar dibandingkan udang jantan. Pola pertumbuhan udang benana dan udang kayu alometrik negatif. Udang benana dan udang kayu di Teluk Cempi dapat memijah sepanjang tahun. Hasil tangkapan udang didominasi udang yang belum matang gonad (TKG I-II). Udang benana pertama kali matang gonad (Lm) pada ukuran 24 mm dan Lm udang kayu pada ukuran 26,2 mm. Ukuran udang benana pertama kali tertangkap (Lc) adalah 16,25 mm (jantan) dan 19,69 mm (betina), sedangkan Lc udang kayu diperoleh 19 mm (jantan) dan 24,57 mm (betina). Tekanan penangkapan udang di Teluk Cempi sudah sangat intesif yang terindikasi dari tingginya hasil tangkapan udang yang belum matang gonad dan nilai Lc yang lebih kecil dari Lm.The Cempi Bay is one of the potential fishing ground of shrimp in West Nusa Tenggara, especially for Metapenaeus dobsoni and M.affinis. The unmanaged exploitation leads to unsustainability of shrimp resources. As a basis for sustainable management it is necessary to study several biological parameters as sex ratio, length distribution, length and weight relationship, maturity stages, the length at first maturity and length at first capture. This research was conducted in Cempi Bay Waters on April to December 2013. Samples were obtained from experimental fishing and fisherman’s catch that landed in Jala Village, Dompu Regency, then its biology data recorded by enumerators. The results showed that sex ratio of females Metapenaeus affinis and M. dobsoni was higher than males (more than 60%). The carapace length of M.dobsoni and M. affinis was larger than males. The growth pattern of both M.dobsoni and M.affinis were allometric negative. Both shrimp species may spawn throughout the year. The shrimp catch dominated immature stage (I-II maturity stages). The carapace length at first maturity (Lm) of M.dobsoni was 24 mm and Lm of M.affinis was 26.2 mm. The carapace length at first capture (Lc) of M.dobsoni was 16.25 mm (male) and 19.69 mm (female), while the Lc of M.affinis was 19 mm (male) and 24.57 mm (female). The pressure of shrimp fishing in Cempi Bay has been very intensive, indicated by the high catches of immature shrimp and the value of Lc was smaller than Lm.
PARAMETER POPULASI UDANG DOGOL (Metapenaeus ensis) DAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI LAUT ARAFURA Suman, Ali; Prisantoso, Budi Iskandar; Kembaren, Duranta D.
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.331 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.57-62

Abstract

Sumber daya udang di perairan Arafura merupakan salah satu modal menuju kemakmuran bagi bangsa, apabila dikelola secara berkelanjutan. Kajian dinamika populasi udang, merupakan salah satu dasar utama dalam merumuskan pengelolaan tersebut menuju pemanfaatan sumber daya yang lestari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika populasi udang dogol dan udang windu di perairan Arafura dan sekitarnya. Penelitian dilakukan dari bulan Januari 2013 sampai dengan Nopember 2013 dan analisis dilakukan dengan menggunakan FAO-ICLARM Fisheris Stok Assessment Tools (FISAT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan (K) udang dogol sebagai 1,33 per tahun dan panjang karapas maksimum (L) sebagai 52,0 mm. Untuk udang windu didapatkan nilai K sebagai 1,45 per tahun dan nilai L sebagai 62,5 mm. Laju kematian total (Z) udang dogol sebagai 4,79 per tahun, laju kematian karena penangkapan (F) dan laju kematian alami (M) masing-masing 2,91 per tahun dan 1,88 per tahun. Untuk udang windu didapatkan nilai Z sebagai 6,13 per tahun, nilai F dan nilai M masing-masing 4,24 dan 1,89 per tahun. Laju pengusahaan (E) udang dogol 0,61 per tahun dan nilai E udang windu sebagai 0,69 per tahun. Tingkat pemanfaatan sudah berada dalam tahapan overfishing dan perlu dilakukan pengurangan jumlah upaya 22% untuk udang dogol dan 38% untuk udang windu.Shrimp resources within Arafura Sea if under sustainably management it would contribute a significant role as a source of nation welfare. Scientific advice on population dynamic are required as an input to support an apropriate fisheries management. The purpose of the study was to identify population parameters of the endeavour shrimp and tiger shrimp in Arafura Sea. Study on the population dynamic of endeavour shrimp and king tiger prawn were conducted in Arafura Sea based on data collected during period of survey, January 2013 to November 2013. The analysis is using the FAO-ICLAM Fisheries Stock Assessment Tools (FiSAT). Result showed that the growth parameter of endeavour shrimp was 1.33/year with maximum carapace length (L) of 52.0 mm. Instantenous total mortality (Z) and natural mortality (M) were 4.79/year and 1.88/year, respectively. While fishing mortality (F) and exploitation rate (E) of endeavour shrimp respectively were 2.91/year and 0.61/year. The growth parameter of king tiger prawn was 1.45/year with maximum carapace length (L) of 62.5 mm. Instantenous total mortality (Z) and natural mortality (M) were 6.13/year and 1.89/year, respectively. While fishing mortality (F) and exploitation rate (E) of king tiger prawn respectively were 4.24/year and 0.69/year. The exploitation rate of endeavour shrimp and king tiger prawn in Arafura Sea was overfishing. It was, therefore, recommended that fishing effort of 22% the endeavour shrimp and 38% king tiger prawn in that waters should be reduced in the next year.
ASPEK BIOLOGI DAN PARAMETER POPULASI UDANG JINGA (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) DI PERAIRAN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN Tirtadanu, Tirtadanu; Suprapto, Suprapto; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.229 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.11-20

Abstract

Udang jinga (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) merupakan salah satu jenis udang ekonomis penting yang diusahakan di perairan Kotabaru dan saat ini produksinya cenderung mengalami penurunan. Salah satu data dan informasi yang diperlukan dalam mengkaji tingkat pemanfaatan dan dasar pengelolaannya adalah aspek biologi dan parameter populasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek biologi dan parameter populasi udang jinga sebagai bahan kebijakan pengelolaan perikanan udang di perairan Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan Januari – November 2016 di perairan Kotabaru. Parameter pertumbuhan diestimasi berdasarkan pergeseran modus struktur ukuran panjang dengan metode ELEFAN I. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ukuran udang jinga (M. affinis) betina yang tertangkap adalah 23,6 ± 3,45 mmCL dengan modus ukuran 24 mmCL dan rata-rata ukuran udang jantan adalah 20,7 ± 2,9 mm dengan modus ukuran 18 mmCL. Nisbah kelamin udang jinga jantan dan betina adalah 1 : 2,5. Musim pemijahan udang jinga diduga berlangsung sepanjang tahun dan puncak pada bulan Maret. Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) udang lebih kecil dari ukuran rata-rata pertama kali matang gonad (Lm) (21,7 < 28,5 mm CL) sehingga sebagian besar udang tertangkap berukuran kecil dan belum memijah. Persamaan pertumbuhan udang jinga jantan  CL(t)=35,95(1-e-2.02(t+0,31) dan udang jinga betina CL(t)= 38,3(1-e-1,92(t+0,29)). Tingkat pemanfaatan udang (E) menunjukkan lebih tangkap (overfishing) yakni 0,70/tahun pada jantan dan 0,73/tahun pada betina. Dengan demikian disarankan untuk melakukan pengurangan upaya penangkapan sebesar 40% dan penutupan musim penangkapan di bulan Maret.The jinga shrimp (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) was one of important commodity that was exploited in Kotabaru Waters, yet the production tend to be declined recently. The data and information on biological aspects and population parameters are needed to investigate the exploitation level and the basis of management measures. This research aims to investigate the biological aspects and population parameters of jinga shrimp Kotabaru waters, South of Kalimantan. This research was conducted on January – November 2016. The growth parameters were estimated as movement of length frequency mode by ELEFAN I method. The results showed that the mean size of female jinga shrimp (M. affinis) was 23,6 ± 3,45 mm CL and the mode was 24 mmCL. While, the mean size of male jinga shrimp was 20,7 ± 2.9 mm CL and the mode was 18 mmCL. The sex ratio of male and female shrimp was 1 : 2,5 . Spawning season of jinga shrimp was estimated throughout the year and the peak was in March. The length at first captured (Lc) was shorter than length at first matured (Lm) (21,7 < 28,5 mm CL). That means most of the catches was immature. The growth function of male and female jinga shrimp were and, CL(t)=35,95(1-e-2.02(t+0,31) respectively and CL(t)= 38,3(1-e-1,92(t+0,29)). The exploitation rate (E) of male and female shrimp fishing were  0,70/year 0,73/year, respectively. The reduction of fishing effort needed by 40% of the actual combined with the temporal fishing closure March.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN MALALUGIS (Decapterus macarellus) DI TELUK TOMINI Widiyastuti, Heri; Zamroni, Achmad
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.144 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.63-72

Abstract

Ikan Malalugis (Decapterus macarellus) merupakan ikan pelagis kecil yang banyak ditangkap di perairan Teluk Tomini dengan alat tangkap pukat cincin mini. Penangkapan secara terus menerus tanpa upaya pengendalian dikhawatirkan akan mengancam kelestariannya. Tujuannya adalah untuk menggambarkan indikator biologi reproduksi ikan malalugis di Teluk Tomini. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif. Penelitian tentang aspek reproduksi meliputi nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad dan ukuran pertama kali matang gonad dilakukan pada bulan Juni-Agustus dan Nopember 2015 di Pangkalan Pendaratan Ikan Tenda, Gorontalo. Sampling dilakukan terhadap 572 ekor ikan malalugis yang didaratkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio jenis kelamin jantan dan betina yaitu 1,06:1 dengan rata-rata panjang cagak (Fork length) adalah 24,75 cm. Sebagian besar ikan jantan dan betina dalam kondisi matang gonad. Musim pemijahan diindikasikan pada bulan Agustus-Nopember. Rata-rata ukuran pertama kali matang gonad ikan malalugis betina pada panjang cagak 26,94 cm dan ikan jantan pada panjang cagak 26,74 cm. Indeks kematangan gonad berkisar antara 0,01-6,15% dengan rata-rata IKG sebesar 2,09%. IKG tertinggi terjadi pada bulan Agustus sedangkan IKG terendah pada bulan November. Mackerel scad (Decapterus macarellus) is one of the major contributor of small pelagic fish in Tomini bay, which is being commercially exploited by mini purse seine. Mackerel scad fishing without regarding sustainability will have negative impact for the sustainability of this fish. The objective is to describe bio-reproduction indicators of the scad fishery in the area. Method used in this research was descriptive analysis. The observations on reproductive aspects include sex ratio, maturity stage, gonad somatic index, and estimate length of first maturity was conducted based on data collected during period of June-August and November 2015 at the landing place (PPI) Tenda, Gorontalo. Total specimens measured was 572 fish. The result shows that sex ratio of male and female is 1,06:1. The average of fork length was 24,75 cm. In general, the fish spawned probably between August-November. The size of the first female and male mature gonad was 26,94 cm FL and 29,74 cm FL. Gonad Somatic Index (GSI) ranged from 0,01 to 6,15%. The average of GSI is 2,09%. The highest GSI was in August and the lower was in November.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue