cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)" : 7 Documents clear
KOMPOSISI MAKANAN IKAN SEPAT SIAM (Trichopodus pectoralis Regan, 1910) DI DANAU TALIWANG, SUMBAWA Tampubolon, Prawira ARP; Rahardjo, M.F.
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.067 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.41-46

Abstract

Ikan sepat siam (Trichopodus pectoralis, Regan 1910) merupakan salah satu target penangkapan ikan di Danau Taliwang, Sumbawa. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan komposisi makanan ikan sepat siam di Danau Taliwang. Pengambilan contoh ikan dilakukan pada bulanMei–Juli 2010 menggunakan jaring insang. Analisis komponen makanan menggunakan indeks bagian terbesar. Total ikan contoh yang tertangkap selama penelitian sebanyak 110 ekor yang terdiri atas 59 ekor ikan jantan dan 51 ekor ikan betina. Panjang total ikan yang tertangkap berkisar antara 125–196 mm dan bobot antara 26,7–141,7 gram. Makanan ikan sepat terdiri atas mikroalga, Rotifera, Ostracoda dan serangga dengan makanan utama adalah mikroalga dari Kelas Bacillariophyceae (generaMelosira,Navicula, dan Diatoma).Komposisimakanan berdasarkan bulan pengamatan dan ukuran tubuh relatif sama.Snakeskin gouramy (Trichopodus pectoralis, Regan 1910) is a one of many target species of fish caught in Taliwang Lake, Sumbawa. The objective of this study is to describe the diet composition of snakeskin gouramy found in Taliwang Lake. The fish samples were caught using gillnet during May–July 2010. The diet composition was analyzed by using the index of preponderance. The total number of fish caught during the research was 110 fishes, comprising 59 males and 51 females. The range of total length and total weight of the samples were 125–196 mm and 26.7–141.7 grams, respectively. Snakeskin gouramy in Taliwang Lake mainly feed on Microalgae, Rotifer, Ostracod, and insect. Their main diet, however, is Microalgae from the class of Bacillariophyceae (genera of Melosira, Navicula, and Diatoma). The diet composition of the fish which was determined from the sampling time and body size is relatively the same.
PENILAIAN INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN UNTUK MENENTUKAN WILAYAH KONSERVASI IKAN BELIDA (Chitala lopis) DI SUNGAI KAMPAR, RIAU Wibowo, Arif; Subagja, Subagja
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1711.69 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.1-9

Abstract

Populasi ikan belida yang menurun sehinggamemerlukan strategi pengelolaan yang tepat melalui penetapan wilayah konservasi. Pemilihan wilayah konservasi dapat dilakukan melalui penilaian kondisi habitat dikaitkan dengan faktor kondisi ikan belida. Penelitian ini bertujuan mengetahui indeks kualitas perairan kondisi habitat dan keterkaitannya dengan faktor kondisi ikan belida di Sungai Kampar. Penelitian dilakukan dari bulan Mei 2009 sampai dengan November 2010 dengan interval pengambilan sampel setiap 3 bulan sekali. Pengamatandilakukan pada lima stasiun di Sungai Kampar Propinsi, Riau. Parameter lingkungan yang diamati adalah suhu, kedalaman, kecepatan arus, pH, oksigen terlarut, turbiditas, alkalinitas, amoniak dan vegetasi tepian. Data sekunder yang dikoleksi adalah curah hujan dan debit air sedangkan data sekunder yang terkait ikan berupa nilai koefisien pertumbuhan, faktor kondisi, nilai b, luas relung dan indeks kepenuhan lambung. Penilaian kondisi perairan dilakukan dengan metode skoring dengan pembobotan. Keterkaitan antara kondisi perairan dengan faktor kondisi ikan dilakukan dengan menggunakan analisa komponen utama dan analisa kluster.Hasil pengamatan kualitas lingkungan perairanmenunjukkan StasiunKuala Tolammemiliki nilai indeks kualitas lingkungan perairan yang terbaik sedangkan Stasiun Teso dan Rantau Baru yang paling buruk. Nilai K memiliki keterkaitan yang paling kuat dengan indeks kualitas lingkungan. Berdasarkan penilaian kondisi habitat yang paling baik, Stasiun Kuala Tolamdi Sungai Kampar Propinsi. Riau merupakan kandidat yang tepat untuk direkomendasikan sebagai wilayah konservasi ikan belida.Declining giant featherback populations require appropriate management strategiy and zoning for conservation. The selection of conservation areas can be done through habitat assesment is linked to condition factor of giant featherback. This study aims are to determine the water quality index of habitat condition and its association with giant featherback in Kampar River. The study was conducted from May 2009 to November 2010 with a sampling interval of once every 3 months. Observations was conducted at five stations in KamparRiver, Riau Province. The environmental parameters such as temperature, depth, flow velocity, pH, O2 turbidity, alkalinity, ammonia and riparian vegetation were measured. Rainfall and water discharge were collected assecondary data of environmental parameter.While fish-related coefficient growth, condition factor, the b value, broad niches and stomach fullness index were conjoined as secondary data from fish perspective. Assessment of water quality were conducted using the weighting scoring method. The relationship analysis of between water quaility and condition factor was performed using principal component analysis and cluster analysis. The results reveal that Kuala Tolam has the highest water quality index, opposite to Teso and Rantau Baru sampling station, where as these two station display the worst. Based on the assessment, Kuala Tolam stasion is the most suitable candidate designated as conservation area. It was summary that water quality index related to giant featherback’s growth (b value and K value), with the strongest relationship with K value.
INDEKS KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN TARAKAN Suprapto, Suprapto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.838 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.47-53

Abstract

Perairan Tarakan termasuk daerah penangkapan sumber daya ikan demersal dan udang cukup potensial di KalimantanUtara. Tingginya tingkat eksploitasi ikan demersal dengan menggunakan trawlmenyebabkan keragaman jenisnya rendah. Penelitian ikan demersal dilakukan di perairan Tarakan pada bulanMei,Agustus dan Nopember 2012. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh indeks keanekaragaman jenis ikan demersal. Data spesies ikan demersal dikumpulkan dari hasil tangkapan jaring trawl yang dioperasikan oleh kapal motor 20GT dengan metode sapuan area. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah taksa ikan demersal sebanyak 86 spesies yang tergolong kedalam45 famili. Komposisi jenis hasil tangkapan trawl didominasi oleh famili Leiognathidae (ikan petek), Sciaenidae (ikan gulama), Harpadontidae (ikan nomei),Apogonidae (ikan serinding) danMullidae (ikan bijinangka). Status keanekaragaman jenis termasuk dalamkategori sedang dengan indeks “Shanon-Wiener” (H’)berkisar antara 1,7-2,5 sedangkan indeks kekayaan “Margalef” (R1 ) berkisar antara 7-8. Penyebaran spesies ikan demersal bersifat sedang dengan indeks kemerataan jenis (E) rata-rata sebesra 0,5.Kelimpahan ikan demersal tidak ada yang dominan, ditunjukkan oleh nilai indeks kemerataan jenis “Pielou” (E) rata-rata sebesar 0,4.Tarakan and adjacent waters is one of potentially fishing ground of demersal fish resources in north Kalimantan. High exploitation by trawler tend to decreased of biodiversity of demersal fish in this area. Research has been conducted in the waters of Tarakan duringMay, August and November 2012. The aim of this research is to get species diversity indices of demersal fish, which is expected to be useful as one of the data capacity for sustainable fisheries management policy. Data obtained by using trawl fishing gear with a sweept area method.The results showed that demersal fish species richness 86 species, belonging to 45 families. Dominant family are Leiognathidae, Sciaenidae, Harpadontidae, Apogonidae andMullidae. Result of analysis indicate that species diversity in Tarakan waters in the medium category. Status of biodiversity consist of: range value diversityindices “Shanon-Wiener” (H’) was 1.7 to 2.5; species richness indices of “Margalef” (R1 ) are between 7-8; evenness indices of “Pielou” (E 1) was 0,5 and dominant indices “Pielou” (E) an average of 0.4.
KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN SELAT SUNDA PADA MUSIM TIMUR Amri, Khairul; Priatna, Asep; Suprapto, Suprapto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.984 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.11-20

Abstract

Selat Sunda merupakan salah satu perairan yang penting dalam sirkulasi massa air di Indonesia. Dinamika oseanografinya dipengaruhi massa air Laut Jawa dan Samudera Hindia. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji karaktersitik oseanografi (suhu, salinitas, arus dan kecerahan) dan kelimpahan fitoplankton di Selat Sunda. Penelitian dilakukan bulan Juni-Juli 2010 (musimtimur). Hasil penelitian menunjukkan nilai sebaran suhu dan salinitas bervariasi, terkait pengaruh massa air yang dominan. Pada area mendekati pesisir barat Banten suhu lebih hangat dan salinitas lebih rendah, terkait pengaruh daratan (river discharge) dan aliran massa air dari Laut Jawa. Indikasi upwelling ditemukan di daerah tubir sebelah selatan Selat Sunda, disebabkan benturan arus kuat Samudera Hindia. Pada bulan Juni-Juli intensitasnya masih lemah, menandakan fase awal dari proses terjadinya upwelling di perairan ini. Nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman fitoplankton yang tertinggi berasosiasi dengan lokasi upwelling. Terdapat korelasi yang kuat antara peningkatan konsentrasi kesuburan perairan akibat terjadinya upwelling padamusimtimur dengan hasil tangkapan ikan pelagis. Jenis ikan yang dominan tertangkap musim timur adalah kelompok ikan pelagis kecil oseanik.The Sunda strait is an importance area of Indonesian troughflow. The dynamic oceanographyc of this waters is influenced by Java Sea and Indian Ocean water mass. The objectives of this study to known the physical oceanographyc parameters (temperature, salinity, current and turbidity) and biology aspect (phytoplankton abundance) by analyize used in-situ data. The study were canied out June to July 2010 (east monsoon). The result showed that variability of temperature and salinity related to kind of dominan water masses. The high temperature and low salinity founded in western part of Banten waters, its rivers discharge and Java Sea waters influenced. The low upwelling intensity is finded in the slope area, caused by strong flow from Indian Ocean as indicated fre-phase of upwelling process in this water. The diversity index and evenness index with high value is associatedwith upwelling area. There is a stong correlation betwen elevated coneentrations of primary productivity due to upwelling in the east monsoon with an inerease in pelagic fish catches. The dominant species of fish caught in east monsoon was oceanic small pelagic fish group.
KELIMPAHAN IKAN KARANG PADA KAWASAN TERUMBU BUATAN DI PERAIRAN RATATOTOK SULAWESI UTARA Manembu, Indri; Adrianto, L.A; Bengen, D; Yulinda, F
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.434 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.55-61

Abstract

Ekosistemterumbu karangmerupakan salah satu potensi sumberdaya laut yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Potensi sumberdaya ikan karang di perairan Indonesia perlu diketahui agar dapat dikembangkan sebagai salah satu aset dalamkegiatan pariwisata bahari. Penelitian yang dilakukan tahun 2009-2011 bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan komposisi jenis ikan karang pada kawasan terumbu buatan di perairan Ratatotok. Metode line transect dan sensus visual pada perairan seluas 250M2 digunakan untuk mengetahui kelimpahan ikan karang dengan keragaman jenis pada masing-masing stasiun pengamatan pada kedalaman 10 meter. Hasil penelitian telah teridentifikasi sebanyak 116 spesies ikan pada terumbu buatan Stasiun 1 (daerah Teluk Buyat); 112 spesies pada terumbu buatan Stasiun 2 (daerah Tanjung) dan pada terumbu alami di Stasiun 3 (daerah Ratatotok) sebanyak 88 spesies. Kelimpahan ikan pada kawasan terumbu buatan lebih tinggi pada kisaran 24-28 spesies daripada karang alami. Kelimpahan spesies ikan dari famili Pomacentridae mendominasi ketiga stasiun pengamatan dengan 19 spesies dan yang paling sedikit dari famili Anomalopidae yang hanya ditemukan 1 spesies.Coral reef ecosystem is one of important natural resources in tropical waters. It has some coral reef fishes, species of corals and others biota that have several most interesting ecotourism extraction scientific and educational objects. The aim of this study is to determine the abundance of coral fish composition surrounded in artificial reefs area in Ratatotok waters. This study was done during 2009 to 2011by using the visual census and line transect methods within area of 250 M2 to observe the species composition and diversitas of coral fishes founded in three sites at the depth of 10 m from sea surface. The results showed that there were 116 species in Site 1(Buyat bay); 112 species in Site 2 (Tanjung) and 88 species of coral reef fishes in Site 3 (Ratatotok). Fishes of Pomacentridae were found 19 species in all locations. Only one species fish of Anomalopidae was found.
HUBUNGAN IKAN PELAGIS DENGAN KONSENTRASI KLOROFIL-A DI LAUT JAWA Kasim, Kamaluddin; Triharyuni, Setiya; Wujdi, Arief
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.812 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.21-29

Abstract

Klorofil-a banyak ditemukan pada fitoplankton dan menjadi indikator kesuburan perairan. Keberadaan fitoplankton ditandai dengan kandungan klorofil-a yang tinggi dan diikuti oleh keberadaan zooplankton yang akhirnya mempengaruhi keberadaan organisme perairan lainnya seperti ikan pelagis kecil maupun ikan pelagis besar sebagai suatu rantai makanan. Interaksi antara konsentrasi klorofil-a terhadap keberadaan dan konsentrasi ikan pelagis di Laut Jawa belum banyak diketahui. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan interaksi antara klorofil-a terhadap konsentrasi ikan pelagis. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data runtun waktu hasil tangkapan beberapa jenis pelagis besar dan kecil yang didaratkan di PPI Pekalongan tahun 2007-2011 serta data runtun waktu konsentrasi klorofil-a dari perairan utara Jawa yang diperoleh dari informasi sekunder.Metode analisis korelasi linear sederhana (bivariate correlation) digunakan untukmengetahui ada atau tidaknya pengaruh antar variabel klorofil-a dan konsentrasi ikan pelagis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan layang (Decapterus russelli) paling nyata mendapat pengaruh dari konsentrasi klorofil-a (P<0,05) dan berkorelasi positif terhadap konsentrasi klorofil-a dengan nilai koefisien korelasi ( r ) sebesar 0,56, sedangkan ikan pelagis lainnya berkorelasi negatif. Ikan tongkol (Euthynnus affinis) posisinya menempati rantai makanan paling tinggi sebagai pemangsa, mempunyai korelasi positif (r = 0,5) terhadap Rastrelliger kanagurta dan r = 0,56 terhadap Amblygaster sirm.Chlorophyll-a is a light-absorbing pigment that can be found in photosynthetic organisms such as algae and phytoplankton. The evidence of phytoplankton that indicated by high contents of chlorophyll-a may followed the evidence of zooplankton and other micro aquatic organism as a food chain component. An overview of interrelationships between chlorophyll-a and pelagic fishes in the waters around Java Sea have not much investigated. The research was attempted to study the interaction between chlorophyll-a abundance and the abundance of small and large pelagic as well as relationship among small and large pelagic as prey-predators component. Research conducted by collecting time series catch data of small and large pelagic species landed at PPI Pekalongan during the period of 2006-2012, as well as the data of chlorophyll-a abundance through previous research studies. The results showed that layang (Decapterus russelli) was the most significant species that positively correlated to abundance of chlorophyll-a (P < 0.05) with value of r = 0.6. while others pelagic species have negative correlation. As a predator species, tongkol (Euthynnus affinis) was positively correlated ( r = 0.5) to the abundance of banyar (Rastrelliger kanagurta) as well as juwi (Amblygaster sirm) with r value 0.56.
BIOLOGI POPULASI RAJUNGAN(Portunus pelagicus) DI PERAIRANSEKITARWILAYAHPATI, JAWATENGAH Ernawati, Tri; Boer, Mennofatria; Yonvitner, Yonvitner
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.32 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.31-40

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) adalah salah satu komoditas perikanan yang sudah banyak dieksploitasi oleh nelayan tradisional. Penangkapan yang berlebihan merupakan salah satu penyebab menurunnya populasi alamidari rajungan. Kondisi tersebut dikhawatirkan akanmengancamkelestarian dan keberlanjutan pemanfaatannya, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang aspek biologi populasi rajungan untuk tujuan pengelolaan yang rasional di wilayah Pati. Penelitian dilakukan di perairan Pati dan sekitarnya sejak bulan Januari 2012 sampai dengan Maret 2013. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui rata-rata ukuran pertama kali tertangkap (Lc) dan matang gonad (Lm), sifat pertumbuhan, musim pemijahan dan jumlah telur individu betina rajungan. Data biologi rajungan yang dikumpulkan terdiri dari: ukuran lebar karapas, berat, jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad betina. Hasil penelitian diperoleh bahwa sebaran hasil tangkapan pada substrat yang berbeda relatif sama (ñ > 0.05). Ukuran rata-rata lebar karapas rajungan pertama kali tertangkap (Lc) oleh bubu lipat adalah 108 mm. Ukuran rata-rata lebar karapas rajungan pertama kali matang gonad (Lm) adalah 107 mm. Sifat pertumbuhanrajungan jantan dan betina adalah lebih cepat pertambahan bobot dibandingkan lebar karapasnya.Nisbah kelamin pada musim barat relatif seimbang (ñ < 0.05). Nisbah kelamin pada musim timur relatif tidak seimbang (ñ < 0.05). Reproduks terjadi sepanjang tahun. Jumlah total telur individu betina berkisar antara 351.214 sampai 1.347.029 butir dengan rata-rata 957.196 butir.Blue Swimming crab (Portunus pelagicus) was one of fisheries commodity, intensively exploited by artisanal fisheries. Overfishing was caused of declining natural populations of crabs. Its was feared to threaten the preservation and sustainability of utilization. So it was necessary doing research on biological aspects of crab populations for the purpose of rational management in the region Pati. The study was conducted in Pati and surrounding waters from January 2012 toMarch 2013. The research were aimed to determine the mean size at first capture (Lc) and mean size at gonad maturity (Lm), growth characteristic, spawning season and fecundity of individual females crabs. Collecting crab biological data consists of: carapace width, weight, sex and maturity stage female gonads. The result showed that catch distribution on different substrates was not different (ñ>0,05). The mean size of crabs’s carapace width at first capture (Lc) by collapsible traps was 108 mm. The meansize at first mature of female crabs (Lm) was 107 mm. The growth type of male and female crab were positive allometric. Its means that gain of weight was rapidly than carapace width of crabs. Sex ratio between male andfemale inWest season was relative balanced but in East season was not balanced (ñ < 0.05). Spawning season of blue swimming crab is throughout the year. The total fecundity ranged from 351,214 – 1,347,029 eggs whichmean 957,196 eggs.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue