cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)" : 8 Documents clear
BEBERAPAASPEK BIOLOGI IKAN OSKAR (Amphilophus citrinellus) DI WADUK IR. H. DJUANDA, JATILUHUR, JAWA BARAT Purnamaningtyas, Sri Endah; Tjahjo, Didik WahjuHendro
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.725 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.9-16

Abstract

Ikan oskar (Amphilophus citrinellus) telah berkembang pesat di Waduk Ir. H. Djuanda, di mana keberadaannya dianggap meresahkan pada kebanyakan nelayan setempat. Ikan ini mempunyai nilai ekonomis yang rendah dan bersifat omnivora-karnivora, diduga perkembangan ikan ini mampu mendesak perkembangan jenis ikan lainnya di perairan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa aspek biologi ikan oskar, meliputi pola kebiasaan pakan ikan, tingkatkematangan gonad, dan fekunditas yang dilakukan di Waduk Ir. H. Djuanda, Jatiluhur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret, Juni, Agustus, Oktober, dan Desember 2006. Pengambilan contoh ikan menggunakan gillnet percobaan dengan ukuran mata jaring 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 3,5; dan 4 inci. Ikan oskardi waduk Ir. H. Djuanda merupakan ikan omnivora-karnivora yang memanfaatkan tumbuhan dan ikan sebagai pakan utamanya, larva serangga, dan fitoplankton sebagai pakan tambahan dan serangga, detritus dan zooplankton sebagai pakan pelengkap. Dari hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan bahwa ikan oskar dapat berkembang dan bertelur sepanjang waktu dan fekunditasnya berkisar antara 1.595-3.567 butir. Oskar (Amphilophus citrinellus) has rapidly expanded in Ir. H. Djuanda Reservoir, where existence of the fish is assumed fretting by local fishermen. This fish has low economic value and the character is omnivore-carnivore, development anticipation of this fish can depress growth of other fish species in the territorial water. This research aims to know some biology aspects of Oskar in Ir. H. Djuanda Reservoir, such as food habit, level of gonad maturity, and fecundity. This study is conducted in March, June, August, October, and December 2006. Gillnet with mesh size of 1; 1.5; 2; 2.5; 3; 3.5; and 4 inch were used for fish sampling. This species is categorised in omnovora-carnivora fish feed mainly on plant and small fish, while insect larvae and phytoplankton as additional food and insect, detritus andzooplankton as complement food. From this study resulted thet oskar could develop and spawn in a long season with fecundity range from 1,595-3,567 grains.
HASIL TANGKAPAN BEBERAPA JENIS ALAT TANGKAP DI SUNGAI BENGAWAN SOLO Adjie, Susilo; Utomo, Agus Djoko
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.506 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.33-44

Abstract

Penelitian hasil tangkapan beberapa jenis alat tangkap dan kegiatan penangkapan ikan di Bengawan Solo telah dilakukan dari bulan Mei-Desember 2004. Penelitian ini dilakukan denganmetode survei pada empat stasiun pengamatan di Sungai Bengawan Solo yaituWaduk Gajah Mungkur dan Bendung Colo (bagian hulu), Cemeng (bagian tengah) dan Ngablak (bagian hilir). Hasil tangkapan dan jenis ikan yang tertangkap didapatkan dari nelayan yang dipilih sebagai responden dan dibahas berdasarkan pada musim dan stasiun. Hasil pengamatan menunjukan bahwa ikan tebaran sepertiikan patin jambal (Pangasius hypophthalmus), nila (Oreochromis niloticus), dan tawes (Barbonymus gonionotus) dominan tertangkap di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Ikan sapu-sapu (Liposarcus pardalis) ditemukan di daerah Solo-Sragen, sedangkan di bagian hilir antara daerah Bojonegoro sampai Lamongan tertangkap jenis ikan lokal antara lain ikan jambal (Pangasius djambal), lumbet (Cryptopterus spp.), tagih (Mystus nemurus), dan wagal (Pangasius micronema). A study on determine of some fishing gear activities species in Solo River was conducted from May to December 2004. Observation used in this research was survey method by setting 4 station as long as Solo River, there are Waduk Gajah Mungkur dan Bendung Colo (upstream), Cemeng (middle etream), and Ngablak (down stream). Catching of gear, species was found from responden in every station based on season and station. Research shown that exotic species such as nila (Oreocromis niloticus), jambal (Pangasius hypophthalmus), tawes (Barbodes gonionotus) are commonly found in the upper reaches of the river system. Sapu-sapu (Liposarcus pardalis) is frequently found in the middle river (Cemeng). Native species such as jambal (Pangasius djambal), tagih (Hemibagrus nemurus), wagal (Pangasius micronema), lumbet (Cryptopterus spp.) are normally found in the lower of Bengawan Solo River system (Ngablak).
POTENSI REKRUT IKAN BONTI-BONTI (Paratherina striata Aurich) DI DANAU TOWUTI, SULAWESI SELATAN Nasution, Syahroma Husni; Muschsin, Ismudi; Sulistiono, Sulistiono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.105 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.45-55

Abstract

Ikan bonti-bonti (Paratherina striata) selain endemik, statusnya tergolong rawan punah (vulnerable species) dan hanya terdapat di Danau Towuti dan Danau Mahalona. Masyarakat di sekitar danau memanfaatkan ikan ini sebagai ikan konsumsi, ikan hias, dan bahan pakan hewan. Populasi ikan ini dikhawatirkan mengalami penurunan, diduga karena degradasi kualitas lingkungan dan penangkapan ikan yang cenderung intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi rekrut ikan bonti-bonti sebagai dasar pengelolaannya. Pengamatan dilakukan di Danau Towuti setiap bulan selama 12 bulan dari bulan Mei 2006-April 2007. Contoh ikan diperoleh menggunakan jaring insang eksperimental dengan ukuran mata jaring 0,625, 0,75, 1,0, dan 1,25 inci yang dioperasikan di lima stasiun (Tanjung Bakara; inlet Danau Towuti; Pulau Loeha; outlet Danau Towuti dan Beau). Potensi rekrut ikan dapat dilihat dari nisbah kelamin, diameter telur, fekunditas, dan indeks kematangan gonad. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nisbah kelamin total ikan bonti-bonti jantan dan betina 1,0:0,9. Fekunditasikan bonti-bonti 818-6.051 butir. Diameter telur ikan bonti-bonti berkisar antara 0,01-1,50 mm. Nilai indeks kematangan gonad ikan bonti-bonti jantan dan betina paling tinggi dijumpai di stasiun II, masing-masing 3,96 dan 6,77%. Ditinjau dari fekunditas, potensi rekrut ikan bonti-bonti lebih tinggi dibandingkan ikan Telmatherinidae lain. Secara temporal, nilai rata-rata indeks kematangan gonad tertinggi pada ikan jantan terjadi pada bulan Mei dan Nopember dengan nilai 2,09±1,36% dan 1,85±1,06%, demikian pula pada ikan betina dengan nilai 3,39±1,47 dan 3,47±1,37%. Rekruitmen ikan bonti-bonti terjadi setiap bulan dengan periode tertinggi antara bulan Oktober-Nopember. Bonti-bonti (Paratherina striata), is one of endemic and vulnerable fish in Lake Towuti and Mahalona. Bonti-bonti have been utilized by people around the lake as consumption fish; ornamental fish and as raw material for animal feed. The population tend to decrease due to environmental quality deterioration and increasing exploitation. This study was aimed to reveal the recruit potential of bontibonti as the foundation for its management. This research was conducted in Lake Towuti, South Sulawesi from May 2006 to April 2007. Samples were collected monthly at five stations (Tanjung Bakara; Inlet of Lake Towuti; Pulau Loeha; Outlet of Lake Towuti, and Beau) using experimental gillnet sized 0.625, 0.75, 1.0, and 1.25 inches. Recruitment potential could be evaluated from sex ratio, egg diameter, fecundity, and gonad maturity index. Total sex ratio of male and female bonti-bonti are 1.0:0.9. Fecundity of bonti-bonti are 818-6.051. Egg diameter of bonti-bonti range from 0.01-1.50 mm. Gonad maturity index value of male and female was found highest at station II (inlet of Lake Towuti) as high as 3.96 and 6.77% respectively. Based on fecundity, recruitment potential of bontibonti is higher compared to the other Telmatherinid. Temporally, the average value of gonad maturity index was found highest on male in May and November with the values of 2.09±1.36% and 1.85±1.06%, and for female with the values of 3.39±1.47 and 3.47±1.37%. Fish recruitment occured each month with the highest period occur in October-November.
BREAKING STRENGTH BENANG PA MULTIFILAMEN 210D/6 PADA PENYIMPANAN DI RUANG TERBUKA Iskandar, Mokhamad Dahri; Prasetyo, Andhika Prima
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1375.249 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.57-63

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasikan pengaruh lama penyimpanan dan pengaruh perendaman dengan cairan berupa solar, oli, dan ter terhadap penurunan nilai kekuatan putus benang polyamide 210 D/6. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kekuatan putus benang jaring semakin menurun setelah mengalami penyimpanan di ruang terbuka selama satu bulan (bulan ke satu) menjadi 5,8657 kgf dari 7,2903 kgf pada awal penyimpanan (bulan ke nol). Penurunan tersebut terus berlanjut sampai bulan keenam. Hasil analisis ragam (ANOVA) dengan taraf uji 5% (α=5%) menunjukan bahwa lama penyimpanan secara nyata berpengaruh terhadap nilai kekuatan putus (breaking strength) benang polyamide pada ruang terbuka (P<0,05). Kekuatan putus benang Polyamide yang direndam pada cairan perendam berupa oli, solar, dan ter secara keseluruhan mengalami penurunan. Penurunan kekuatan putus terbesar dialami oleh benang yang direndam dengan solar dengan derajat penurunan kekuatan putus mencapai 30%. Hasil analisis ragam (ANOVA) dengan taraf uji 5% (α=5%) menunjukan bahwa cairan perendam secara signifikan berpengaruh terhadap kekuatan putus (breaking strength) benang polyamide (P<0,05). Hasil uji lanjutan BNT menunjukan bahwa nilai kekuatan putus benang polyamide yang diberi pelakuan cairan perendam solar, oli, dan ter berbeda nyata terhadap benang kontrol (P<0,05). The objective of this experiment was to quantify the effect of storage duration and immersed liquid such as diesel fuel, lubricant and tar on the breaking strength of polyamide of 210 D/6. Results of experiment revealed that breaking strength of twine decrease after first month out door storage to be 5,8657 kgf from 7,2903 kgf in begining of storage. Decreasing of twine continued until sixth month of storage. Analyses of variances of 5% significance level indicated that length duration of storage for polyamide twine significantly different to the breaking strength. Breaking strength of polyamide twine which immersed in the lubricant, fuel diesel, and tar generally decreased. The biggest reduction of breaking strength occurred for twine immersed in the fuel diesel with reduction level until 30 %. Analyses of variances of 5% significance level indicated that immersed liquid significantly affected breaking strength of polyamide twine. Post Hoc test of LSD also indicated that breaking strength of polyamide twine significantly different (P<0,05) between lubricant, fuel diesel, and tar toward control twine
ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LAYANG (Decapterus russelli) DAN IKAN BANYAR (Rastrelliger kanagurta) YANG DIDARATKAN DI REMBANG, JAWA TENGAH Pralampita, Wiwiet An; Chodriyah, Umi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.879 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.17-23

Abstract

Ikan layang (Decapterus russelli) dan banyar (Rastrelliger kanagurta) merupakan dua jenis ikan hasil tangkapan dominan kapal mini purse seine yang didaratkan di Rembang. Aspek biologi ikan layang dan banyar yang diteliti, meliputi sebaran ukuran panjang, perbandingan jenis kelamin, tingkat kematangan gonad dan ukuran pertama kali matang gonad pada tahun 2007. Ukuran yang dominan tertangkap untuk ikan layang 18-18,9 cm, sedangkan untuk ikan banyar 21-21,9 cm. Ikan layang dan banyar yang berkelamin jantan lebih banyak tertangkap pada ukuran lebih kecil daripada ikan yang berkelamin betina. Spesies ikan layang menunjukan bahwa ikan yang dalam kondisi matang (mature) lebih banyak ditemukan pada ikan yang berjenis kelamin betina, sedangkan spesies ikan banyar yang mempunyai tingkat kematangan gonad I, II, III, dan IV lebih banyak ditemukan pada spesies ikanyang berjenis kelamin jantan. Spesies ikan banyar yang mempunyai tingkat kematangan gonad V lebih banyak ditemukan pada spesies yang berjenis kelamin betina. Ukuran pertama kali matang gonad untuk ikan layang betina 18,97 cm dan untuk yang jantan 21,2 cm. Jenis ikan banyar berkelaminbetina ukuran pertama kali matang gonad 20,37 cm, sedangkan yang jantan 20,87 cm. Scad fish (Decapterus russelli) and mackerel (Rastrelliger kanagurta) are two species of dominant caught by boat mini purse seine landed in Rembang. Biological aspects of and mackerel examined are the size of the length, the difference in sex, level of maturity, and gonad size of first time The dominant size caught for scad was 18-18.9 cm, while for mackerel was 21-21.9 cm. Male fishes of scad and mackerel were mostly caught in the smaller size compared to the size of female. Matured of gonad was mostly found in the female of scad fish. While in the female mackerel species having gonad maturity level of 1, 2, 3, and 4 was mostly found in male sex. Mackerel species having 5th stage of gonad maturity was mostly found in the female sex. First time of gonad matured in female scad was in size of 18.97 cm and for a male was 21.2 cm. While in female mackerel, the first time of gonad matured was 20.37 cm and for a male one was 21.2 cm.
VARIASI UKURAN DAN JENIS MANGSA DARI IKAN MADIDIHANG MUDA (IMMATURE) DAN DEWASA (MATURE) Mardlijah, Siti; Patria, Mufti Petala
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.079 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.65-70

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara mangsa dan pemangsa (ikan madidihang) di perairan Marisa. Pengambilan contoh dilakukan di Marisa, Provinsi Gorontalo, pada perusahaan fillet ikan tuna. Pengamatan isi lambung dilakukan secara visual. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara pertambahan ukuran mangsa dengan ukuran ikan pemangsa (madidihang), tapi terdapat hubungan antara jenis mangsa dengan ukuran ikan pemangsa. Ikan madidihang yang berukuran besar (matang gonad) memakan tuna kecil (Auxis rochei) dan ikan pelagis kecil (Brama dussumieri dan Selar crumenopthalmus), sedangkan ikan madidihang yang belum matang gonad banyak memakan Canthigaster spp., Monacanthidae, dan Balistidae. Kanibalisme tidak terjadi di perairan Teluk Tomini. The objective of this research was to study on the relationship between predator and prey for yellowfin tuna in Tomini Bay. Sampling site were located at Marisa, Gorontalo Province in 2007. Prey composition of yellowfin tuna was visually determined. The results showed that there was no relationship between the size of yellowfin tuna and their preys, however, there was indication that different size of yellowfin tuna feed on different item of foods. Adults yellowfin tuna feed little tuna (Auxis rochei) and small pelagic fish Brama dussumieri and Selar cromenopthalmus), while immature yellowfin tuna feed mostly Canthigaster spp., Monacanthidae and Balistidae.
KERAGAAN ALAT TANGKAP DAN JENIS IKAN DI PERAIRAN SUNGAI SIAK, PROVINSI RIAU Fatah, Khoirul; Makri, Makri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4219.952 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.1-8

Abstract

Sungai Siak merupakan salah satu Sungai besar yang mengalir di Provinsi Riau yang memiliki banyak fungsi salah satu dari fungsi tersebut adalah usaha penangkapan ikan. Kegiatan penangkapan ikan di Sungai Siak menggunakan alat tangkap yang bersifat tradisional dan dilakukan secara kelompok atau perorangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan jenis alat tangkap jenis ikan, kelimpahan relatif, dan keanekaragaman jenis ikan yang ada di perairan Sungai Siakpada tahun 2008. Pengambilan data dilakukan di perairan Sungai Siak mulai dari Kuala Tapung sampai Muara Mandau. Pengambilan data alat tangkap dilakukan terhadap nelayan yang sedang mengoperasikan alat tangkap tersebut, sedang pengambilan data jenis dan hasil tangkapan ikan dilakukan secara langsung di lapangan. Pengumpulan data bulanan jenis dan hasil tangkapan dibantu oleh nelayan setempat sebagai enumerator. Hasil penelitian menunjukan terdapat delapanjenis alat tangkap yang beroperasi di Sungai Siak mulai dari Kuala Tapung sampai Muara Mandau yaitu jaring, rawai, tajur, luka, pengilar, belad, dan jala. Alat tangkap jaring dan jala jumlah dan sebarannya paling banyak ditemukan di sepanjang Sungai Siak mulai dari Kuala Tapung sampai Muara Mandau, lalu disusul alat tangkap belad. Untuk jenis ikan ditemukan 60 jenis ikan yang tertangkap dari berbagai jenis alat tangkap, ikan tersebut berasal dari 12 famili dan satu jenis krustacea yaitu udang galah (Macrobrachium rosenbergii), dari 12 famili tersebut kelimpahan relatif didominansi oleh famili Cyprinidae dan Engraulidae baik pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober. Jika dilihat dari nilai Indeks keanekaragaman pada beberapa stasiun Sungai Siak mempunyai nilai indeks berkisar antara 0,5-3,0. Siak River one of the biggest river at Riau Province has a multipurpose function including fisheries. Fishing activity at the river used a traditional gear which was operated by individual or group fisherman. A study aimed to investigate number and type of fishing gears, fish species caught, relative abundance and fish diversity of the Siak River was conducted from Kuala Tapung until Muara Mandau in 2008. Data of fishing were collected from the fisherman operated the fishing gears. Monthly data on fish species caught and fish yield were collected directly by enumerator. Results of the study showed that eight kinds of fishing gears, namely gillnets, long line, hand line, traps (luka, pengilar, and belad), filtering device, and cast net were operated. The dominant fishing gear operated was gillnet and cast net and filtering device in the next. About sixty fish species from the twelve families and giant freshwaters prawn (Macrobrachium rosenbergii) were caught using those fishing gears. During June, August, and October, the relative abundance of the fish species was dominated by family of Cyprinidae and Engraulidae. The fish diversity index of the Siak River ranged from 0.5-3.0.
PENCEMARAN DI SUNGAI BENGAWAN SOLO ANTARA SOLO DAN SRAGEN, JAWA TENGAH Utomo, Agus Djoko; Ridho, Mohamad Rasyid; Saleh, Edward; Putranto, Dinar Dwi Anugerah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.328 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.25-32

Abstract

Bengawan Solo merupakan sungai yang sudah banyak mengalami perubahan oleh Waduk, Bendungan, Sodetan, dan lain-lain. Bengawan Solo melewati Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang padat penduduk, sekitar 15,2 juta jiwa berdomisili di satuan wilayah Sungai Bengawan Solo dan juga banyak terdapat industri. Permasalahan tersebut dapat berpengaruh langsung terhadap kehidupan organisme air kajian tentang parameter físika-kimia perairan diharapkan dapat memberikan informasi tentang status kualitas perairan di Bengawan Solo. Parameter yang diamati dalam penelitianini adalah oksigen terlarut, karbondioksida, pH, fenol, minyak-lemak, amonia, Cd, Cr, Zn, Pb, Cu, dan CN. Terdapat indikasi bahwa Bengawan Solo di daerah Solo-Sragen dan sekitarnya telah tercemar bobot dengan kualitas air buruk yaitu oksigen rendah (beberapa lokasi kurang dari 2 mg/L, karbon dioksida tinggi (8,8-34,32 mg/L), NH3-N bebas tinggi (beberapa lokasi lebih dari 0,2 mg/L), COD tinggi (1,64-172 mg/L), fenol tinggi (0,087-1,431 mg/L), minyak lemak tinggi (2,6-54,6 mg/L).Konsentrasi logam bobot pada beberapa lokasi yaitu Kampung Sewu, Bak Kramat, dan Tundungan cukup tinggi yaitu Cr= 0,180- 0,375 mg/L, Cu=0,026-0,293 mg/L, dan Zn=0,515-2,892 mg/L. Demikian juga kandungan logam bobot pada ikan sapu-sapu (Liposarcus pardalis) cukup tinggi pada beberapa lokasi Kampung Sewu, Tundungan, Bak Kramat, dan Butuh; Cr=0,856- 2,154 mg/kg, Cu=3, 69-198,48 mg/kg, Pb=1,067 - 2,006 mg/kg, dan Zn=53,516-102,285 mg/kg. Perlu dilakukan pengendalian pencemaran di Bengawan Solo dengan cara meningkatkan kesadaran bersama, pemantauan pembuangan limbah, dan penindakan bagi para pelanggaran. Bengawan Solo River is highly modified by dams, impoundment, reservoir, channelization, etc. It traverse through Central Java and East Java province in its passage from headwaters to the sea. Industries and heavy population (approximately 15.2 million people) near the river have potentially wreaked havoc upon the river. Study on physical and chemical parameters expected provide enough information on water quality condition in Bengawan Solo River. Parameters under study were disolved oxygen, carbondioxid, pH, fenol, NH3-N, oil, and grease, COD, Cr, Cd, Pb, Zn, Cu, and CN. An overview of water quality of Bengawan Solo River in Solo-Sragen region indicates that the segments is already strongly polluted as indicated as low oxygen (some location less than 2 mg/L) and high amount of CO2 (8,8-34.32), high free NH3-N (some location more than 0,2 mg/L), COD (1,64-172 mg/L), fenol (0.087- 1,431 mg/L), and oil and grease (2,6-54.6 mg/L). Heavy metals content of some location at Kampung Sewu, Bak Kramat, and Butuh were Cr=0,180-0,375 mg/L, Cu=0,026-0,293 mg/L, Zn=0,515-2,892 mg/L. Heavy metals content in fish tissue of sapu-sapu were high enough at some location (Kampung Sewu, Tundungan, Bak Kramat, and Butuh); Cr=0,856-2,154 mg/kg, Cu=3,69-198,48 mg/kg, Pb=1,067- 2,006 mg/kg, and Zn=53,516-102,285 mg/kg.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue