cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 4 (2007): (April 2007)" : 6 Documents clear
SWAMP EELS (Synbranchus sp.) JENIS YANG BARU TERCATAT (NEW RECORD SPECIES) DI DANAU MATANO SULAWESI SELATAN*) Makmur, Safran; Husnah, Husnah; Samuel, Samuel
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 4 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1925.842 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.4.2007.133-137

Abstract

Riset keanekaragaman hayati dan bahan perumusan pengelolaan jenis ikan endemik perairan pedalaman di Sulawesi dilakukan pada tahun 2005 di kompleks Danau Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Dua ekor masapi ditangkap di perairan Danau Matano pada bulan Desember 2005 dengan panjang total 466 dan 384 mm. Belut atau masapi ditangkap dengan tombak dengan cara menyelam pada kedalaman lebih dari 3 m. Berdasarkan pada hasil identifikasi masapi tersebutmerupakan jenis Synbranchus sp., famili Synbranchidae. Morfologi Synbranchus sp. sepintas seperti Anguilla sp., hanya pada Synbranchus tidak mempunyai sirip dada, sedangkan perbedaan dengan Monopterus albus, terletak pada septum dan jumlah insang. Perbedaan dengan Synbranchus (Macrotrema) hasil identifikasi Smith (1945) yaitu pada posisi anus dengan pangkal sirip punggung. Sedangkan perbedaan dengan Synbranchus bengalensis yaitu pada perbandingan ukuran panjang kepala dengan panjang ekor. Berdasarkan pada hasil penelitian sebelum di DanauMatano, Synbranchus sp. merupakan jenis yang digolongkan new record species di Danau Matano. Berdasarkan pada perbedaan-perbedaan dengan jenis Synbranchidae lain dan mengingat tingkat endemisitas DanauMatano yang tinggi ada kemungkinan jenis tersebut merupakan jenis endemik di Danau Matano
KEONG MACAN (Babylonia spirata, L) SEBAGAI PRIMADONA BARU BAGI NELAYAN DI INDONESIA*) Faizah, Ria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 4 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (918.848 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.4.2007.139-143

Abstract

Keong macan merupakan komoditas ekspor yang penting dan memiliki tingkat pemasaran yang tinggi dengan negara tujuan utama adalah negara-negara di Asia seperti Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Malaysia. Spesies ini hidup pada wilayah littoral dengan dasar pasir berlumpur pada kedalaman 5 sampai dengan 15 m. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap keong macan di dasar adalah jodang yang memiliki diameter 60 cm dengan ukuran mata jaring 1,5 cm. Semula nelayan Indonesia memandang keong macan sebagai hasil laut seperti siput-siput laut lain. Pengolahan keong ini hanya dilakukan secara sederhana. Daging direbus, dijemur, dan disetor kepada para pengepul dengan harga yang relatif murah (Rp. 5.000,- per kg). Namun, setelah banyak permintaan dari negara-negara luarterhadap keong macan, siput ini sudah menjadi mutiara bagi para nelayan. Setiap hari nelayan dapat menangkap 20 sampai dengan 70 kg keong macan. Keong macan segar di daerah Gunung Kidul dan Tambakloro berkisar Rp.6.000,- sampai dengan 7.000,- per kg. Di kawasan Manggar Balikpapan Timurharga keong macan dapat mencapai Rp.15.000,- sampai dengan 18.000 per kg. Sementara itu, harga jual keong macan ditingkat agen sudah mencapai Rp.30.000 per kg. Rata-rata per hari produksi keong macan yang dikirim ke para agen berkisar antara 1,5 sampai dengan 2 ton. Untuk menghasilkan keongmacan hidup, keong macan ditampung dalam bak berukuran 1x2 m dan ketinggian 30 cm. Air laut dalam bak penampungan dipantau terus dan jika air sudah berbusa harus diganti dengan yang baru. Selain dimanfaatkan sebagai makanan, cangkang, dan operkulum keong macan juga dapat dimanfaatkan untuk industri rumah tangga yaitu perhiasan, obat-obatan, dan parfum.
PERIKANAN DEMERSAL DI SEKITAR KEPULAUAN TOGEAN, TELUK TOMINI*) Awwaluddin, Awwaluddin; Rustam, Rusmadji
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 4 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16767.111 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.4.2007.145-153

Abstract

Penelitian perikanan demersal dan ikan-ikan karang di daerah sekitar Kepulauan Togean, Teluk Tomini telah dilakukan pada tahun 2004. Data yang dikumpulkan dari daerah pengambilan contoh Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai berupa data-data primer hasil pengambilan contoh pada bulanAgustus dan Desember 2004 yang meliputi data alat tangkap pancing dasar, daerah penangkapan ikan, komposisi jenis, laju tangkap ikan, dan ukuran panjang dan bobot ikan hasil tangkapan dominan. Data sekunder untuk mendukung hasil penelitian diperoleh dari enumerator dan PPI Pagimana, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Berdasarkan pada hasil penelitian dapat diketahui bahwa alat tangkap utama dan dominan untuk menangkap ikan demersal di perairan Kepulauan Togean adalah pancing rawai dasar. Perahu yang digunakan adalah perahu jukung yang dilengkapi katir dan berdimensi (LxBxD)=(700x60x100) cm berkekuatan 5,5 pk. Daerah penangkapan nelayan pancing hampir di seluruh perairan Teluk Tomini, khusus daerah-daerah yang berkarang seperti di Kepulauan Togean (sekitar Pulau Poat, Pulau Bangoh, dan Tanjung Keramat), Dondola sampai dengan di utara Bualemo. Penangkapan ikan ke sekitar Kepulauan Togean (Pulau Poat, Pulau Bangoh, dan Tanjung Keramat) dilakukan sepanjang tahun, hal ini karena daerah penangkapan tersebut relatif dekat dan mudah dicapai. Konsentrasi pendaratan ikan demersal hasil pancingan di wilayah Kabupaten Banggai adalah di PPI Pagimana, Banggai Kepulauan, Bualemo, dan Toili. Hasil tangkapan pancing dasar didominasi oleh jenis kerapu atau grouper (Serranidae), kakap (Lutjanidae), daging putih ataulencam (Lethrinidae) dan suntung batu (Sephia sp.), serta gurita (Octopus sp.). Pada bulan Mei sampai dengan Desember 2004 laju tangkap harian berkisar antara 10,8 sampai dengan 65,4 kg per kapal per hari. Jenis ikan daging putih atau lencam (Lethrinidae) pada umumnya mendominasi hasil tangkapansetiap bulan dengan persentase rata-rata tertangkap 35,04%. Jenis-jenis kerapu atau Serranidae (Plectropomus sp., Ephinephelus sp., Variola sp.) dan jenis-jenis kakap atau Lutjanidae (Lutjanus sp., Aprion sp., dan Pristipomoides sp.) yang merupakan sasaran tangkapan utama memiliki persentaserata-rata tertangkap cukup tinggi yaitu masing-masing 18,96 dan 18,82%. Jenis tangkapan lain yang juga mendominasi adalah gurita (Octopus sp.) yang rata-rata mencapai 13,45%, suntung batu (Sepia sp.) rata-rata 3,34%. Berdasarkan pada hasil pengukuran panjang beberapa jenis ikan dominan, ukuranpanjang jenis ikan ekor bulan (Variola albimarginata) yang tertangkap berkisar antara 24 sampai dengan 34 cm. Jenis ikan sunu super (Plectropomus leopardus) yang tertangkap mempunyai ukuran panjang yang berkisar antara 28 sampai dengan 49 cm. Kerapu coklat (Ephinephelus areolatus) yang tertangkap mempunyai ukuran 40 sampai dengan 82 cm. Ukuran ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) berkisarantara 40,5 sampai dengan 72,5 cm. Sunu macan (Plectropomus areolatus) berukuran antara 39 sampai dengan 64 cm. Kerapu muso atau gomes (Ephinephelus fuscoguttatus) pada umumnya memiliki ukuran yang lebih besar bila dibandingkan dengan jenis ikan lain dengan ukuran panjang antara 64 sampai dengan 89 cm. Pemantauan aktivitas penangkapan nelayan di wilayah ini harus dilakukan untuk menghindari terjadi penangkapan yang illegal maupun penangkapan yang tidak memperhatikankelestarian.
BEBERAPA JENIS KELOMPOK GABUS (MARGA CHANNA) DI DAERAH ALIRAN SUNGAI MUSI, SUMATERA SELATAN*) Said, Azwar
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 4 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4621.547 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.4.2007.121-126

Abstract

Sungai Musi merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Sumatera, yang dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas seperti transportasi, baku air minum, dan perikanan terutama tangkap. Di Sungai Musi diperkirakan telah terjadi penurunan keragaman marga channa, semula terdapat 6 jenis, tetapi saat ini hanya ditemukan 5 jenis yaitu serandang (Channa pleurophthalmus), bujuk (Channa cyanospilos), toman (Channa micropeltes), sarko (Channa lucius), dan gabus (Channa striata) sedangkan jalai (Channa marulioides) sudah jarang tertangkap terutama pada lokasi penelitian. Hal ini, kemungkinan karena over fishing dan atau perubahan atau hilang habitat.
KAJIAN TERHADAP OPERASIONAL KAPAL TRAWL DI PERAIRAN LAUT ARAFURA*) Wedjatmiko, Wedjatmiko; Sukarniaty, Sukarniaty
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 4 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8931.151 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.4.2007.155-159

Abstract

Perairan Laut Arafura adalah merupakan sentra penangkapan udang dan ikan dasar (perikanan demersal) di kawasan Indonesia bagian timur. Berdasarkan pada komposisi hasil tangkapan menggunakan alat tangkap trawl (alat tangkap khusus untuk perikanan demersal) di perairan Arafura, menunjukkan bahwa jenis ikan yang merupakan hasil tangkapan sampingan sangat dominan (98.31%), sedangkan udang yang menjadi tujuan utama penangkapan hanya mencapai 1,69%. Sementara itu, komposisi hasil tangkapan non ikan (krustasea). menunjukkan bahwa hasil tangkapan udang yang komersial hanya (6,38%). Udang non komersial (5,62%) dan krustasea lain berupa rajungan, kepiting, dan udang mantis adalah sangat dominan (88%). Fenomena tersebut pada umumnya merupakan indikator penurunan populasi udang di perairan Arafura. Dampak eksploitasi kapal trawl terhadap usahaperikanan budi daya, antara lain pemanfaatan hasil tangkapan sampingan dapat digunakan sebagai tepung ikan yang merupakan bahan baku pakan buatan (pelet). Di mana pakan buatan adalah faktor yang sangat berperan untuk kegiatan budi daya perikanan. Sedangkan berdasarkan pada operasionalbanyak lokasi perairan yang tidak terjamah oleh aktivitas trawl, sehingga banyak lokasi yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi budi daya laut. Demikian juga banyak terdapat sumber daya induk komoditas perikanan budi daya. Secara tidak langsung dampak eksploitasi kapal trawl di perairan LautArafura, sangat berpengaruh positif terhadap usaha perikanan budi daya, apabila dikelola secara optimal.
KEBERADAAN PESUT (Orcaella brevirostris) DI SUNGAI MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR*) Oktaviani, Dian; Nasution, Syahroma Husni; Dharmadi, Dharmadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 4 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.106 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.4.2007.127-132

Abstract

Pesut atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Irrawaddy dolphin dengan nama ilmiah (Orcaella brevirotris) adalah spesies mamalia air tawar yang dilindungi baik secara nasional maupun internasional. Sungai Mahakam yang berada di Propinsi Kalimantan merupakan salah satu habitat pesut di Indonesia, dan sampai dengan saat ini dapat dilihat keberadaan. Populasi pesut yang semakin turun sehingga memerlukan perhatian dalam upaya mempertahankan keberadaan. Upaya tersebut memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kualitas habitat dan pesut.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue