cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 272 Documents
ASPEK BIOLOGI DAN KEBIASAAN MAKANAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI LAUT FLORES DAN SEKITARNYA Restiangsih, Yoke Hany; Amri, Khairul
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.736 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.3.2018.187-196

Abstract

Cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis penting dan banyak tertangkap dengan huhate di perairan Laut Flores dan sekitarnya. Tujuan Penelitian adalah mengkaji beberapa aspek biologi ikan cakalang yang didaratkan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Amagarapati dan unit pengolahan ikan (UPI) di Larantuka pada bulan Februari sampai Oktober 2015. Hasil penelitian menunjukkan ukuran panjang cagak berkisar antara 25 – 74 cm dengan modus pada nilai tengah 42 cm. Pola pertumbuhan bersifat alometrik positif dan nisbah kelamin jantan terhadap betina sebagai 1:1,14. Awal musim pemijahan berlangsung pada Februari-Maret dan Juli-Agustus. Ukuran pertama kali ikan tertangkap (Lc) pada panjang 48,8 cmFL lebih besar dengan panjang pertama kali matang gonad (Lm ) 41,1 cmFL, diduga perikanan cakalang di Larantuka mengarah pada recruitment overfishing. Kebiasaan makan ikan cakalang bersifat karnivora dengan komposisi 55,7% ikan tembang (Sardinella spp); 34,7% ikan teri (Stelophorus spp); 7,9% ikan layang (Decapterus spp); 0,9% cumi-cumi (loligo sp); 0,7% berupa hancuran ikan yang sudah tidak dapat diidentifikasi jenisnya dan sebesar 0,1%, berupa krustasea.Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) is one of caught by pole and line in Flores Sea and adjacent waters. Research was conducted to study biological aspects of skipjack tuna based on monthly catches landed at Amagarapati fishing port in Larantuka during February to October 2015. The results showed that fork length ranged from 25 to 74 cm with modus of 42 cm midlength. The growth pattern are alometric positive. The sex ratio of males to females was 1:1,14. The results showed that spawning seasons occured in February-March and July-October. Length at first capture (Lc) by pole and line was 48.8 cmFL and length at first maturity (Lm) was 41.1 cmFL, this condition indicated recruitment overfishing in its fisheries. Food habits of skipjack tuna are carnivorous with composition 55,7% Sardinella spp; 34,7% Stelophorus spp; 7,9% Decapterus spp; 0,9% Loligo sp; 0,7% flesh fish fragments that can’t be identified; and 0,1%, crustasea.
BEBERAPAASPEK BIOLOGI IKAN OSKAR (Amphilophus citrinellus) DI WADUK IR. H. DJUANDA, JATILUHUR, JAWA BARAT Purnamaningtyas, Sri Endah; Tjahjo, Didik WahjuHendro
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.725 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.9-16

Abstract

Ikan oskar (Amphilophus citrinellus) telah berkembang pesat di Waduk Ir. H. Djuanda, di mana keberadaannya dianggap meresahkan pada kebanyakan nelayan setempat. Ikan ini mempunyai nilai ekonomis yang rendah dan bersifat omnivora-karnivora, diduga perkembangan ikan ini mampu mendesak perkembangan jenis ikan lainnya di perairan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa aspek biologi ikan oskar, meliputi pola kebiasaan pakan ikan, tingkatkematangan gonad, dan fekunditas yang dilakukan di Waduk Ir. H. Djuanda, Jatiluhur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret, Juni, Agustus, Oktober, dan Desember 2006. Pengambilan contoh ikan menggunakan gillnet percobaan dengan ukuran mata jaring 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 3,5; dan 4 inci. Ikan oskardi waduk Ir. H. Djuanda merupakan ikan omnivora-karnivora yang memanfaatkan tumbuhan dan ikan sebagai pakan utamanya, larva serangga, dan fitoplankton sebagai pakan tambahan dan serangga, detritus dan zooplankton sebagai pakan pelengkap. Dari hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan bahwa ikan oskar dapat berkembang dan bertelur sepanjang waktu dan fekunditasnya berkisar antara 1.595-3.567 butir. Oskar (Amphilophus citrinellus) has rapidly expanded in Ir. H. Djuanda Reservoir, where existence of the fish is assumed fretting by local fishermen. This fish has low economic value and the character is omnivore-carnivore, development anticipation of this fish can depress growth of other fish species in the territorial water. This research aims to know some biology aspects of Oskar in Ir. H. Djuanda Reservoir, such as food habit, level of gonad maturity, and fecundity. This study is conducted in March, June, August, October, and December 2006. Gillnet with mesh size of 1; 1.5; 2; 2.5; 3; 3.5; and 4 inch were used for fish sampling. This species is categorised in omnovora-carnivora fish feed mainly on plant and small fish, while insect larvae and phytoplankton as additional food and insect, detritus andzooplankton as complement food. From this study resulted thet oskar could develop and spawn in a long season with fecundity range from 1,595-3,567 grains.
KERAGAMAN JENIS IKAN DAN KEBIASAAN MAKAN DI MUARA SUNGAI MUSI Prianto, Eko; Suryati, Ni Komang; Kamal, Muhammad Mukhlis
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 4, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.92 KB) | DOI: 10.15578/bawal.4.1.2012.35-43

Abstract

Populasi ikan di suatu perairan berkaitan erat dengan keragaman jenis dan makanan yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan kelimpahan sumberdaya ikan berdasarkan kebiasaan makannya di muara Sungai Musi Sumatera Selatan. Pengambilan sampel dengan menggunakan pukat hela dan belad dilakukan pada bulan Maret dan Juni 2008 masing-masing pada 4 stasiun pengambilan contoh yang mewakili perairan muara Sungai Musi. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 34 jenis ikan di bagian tepi sungai dan 63 jenis di bagian tengah sungai. Ditinjau dari kebiasaan makan pada bulan Maret untuk ikan yang berada di tepi sungai diperoleh kelimpahan ikan herbivora paling tinggi (49 %) dan terendah ikan yang bersifat omnivora (1 %). Pada bulan Juni kelimpahan ikan carnivora paling tinggi (50 %) dan terendah ikan omnivora (1 %). Untuk jenis ikan yang berada di tengah sungai, kelimpahan ikan yang tertinggi pada bulan Maret yaitu ikan herbivora (87 %) dan terendah ikan omnivora (2 %). Pada bulan Juni kelimpahan yang tertinggi yaitu ikan carnivora (57 %) dan terendah ikan omnivora (0,2 %). Fish populations in the waters is closely related to species diversity and food available. The objective of this study is to determine of species composition and abundance of fish resources based on feeding habit in the estuarin water of Musi river. Sample was taken from 4 fishing stations by using trawl and towing net (belad) in March and June 2008. The results showed that there were 34 species of fish in the riverside and 63 species of fish in the middle stream. Analysis of feeding habit in March for the fishes in found riverside showed that herbivorous fish was highest 49% of total catch and the lowest was omnivorous fish (1%). While in June the carnivorous fish was highest (50%) and the lowest was omnivorous fish (1%). In the middlestream the highest abundance in March was herbivorous fish (87%) and the lowest (57%) was omnivorous fish (2%). In June, the highest abundance of fish was carnivores and the lowest was omnivorous fish (0.2%).
IDENTIFIKASI DAN HABITAT IKAN SEMAH (Tor sp.) DI SUNGAI LEMATANG, SUMATERA SELATAN Subagja, Subagja; Marson, Marson
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.241 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.3.2008.113-116

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman jenis dan habitat ikan semah (Tor sp.) di Sungai Lematang, Sumatera Selatan. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Maret 2008.Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei di 6 stasiun yang ditetapkan secara sengaja di perairan Sungai Lematang yaitu stasiun Tanjung Mulak, Sungai Mulak, Lematang, Selangis Besar, Air Keruh, dan Endikat. Ikan contoh ditangkap dengan pancing dan jaring dan kemudian diidentifikasi di Laboratorium. Pengamatan habitat ikan dilakukan secara langsung. Beberapa parameter kualitas air diamati di lapangan dan laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 4 jenis ikan semah (Tor sp.) di Sungai Lematang, yaitu Tor soro, T. tambroides, T. duoronensis, dan T. tambra. Habitat ikan semah di Sungai Lematang di 6 stasiun mencirikan karakteristik yang sama, yaitu arus air yang deras, daerah berbatu-batu, dasar sungai berpasir, dan berbatu, kecerahan yang tinggi ditandai dengan nilai pH 6,5 - 7,0, CO2 bebas 4,4 mg/L, suhu air rendah, oksigen terlarut tinggi (5,7 - 10,65 mg/L) dan kedalaman perairan berkisar 100 - 400 cm.
KOMPOSISI JENIS, SEBARAN DAN KEPADATAN STOK UDANG PADA MUSIM SELATAN DI PERAIRAN TIMUR KALIMANTAN Tirtadanu, Tirtadanu; Suprapto, Suprapto; Putri Pane, Andina Ramadhani
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 1 (2018): April (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.139 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.1.2018.41-47

Abstract

Kajian tentang komposisi, sebaran dan kepadatan stok udang merupakan informasi penting sebagai evaluasi dampak aktivitas penangkapan udang saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis, sebaran dan kepadatan stok udang pada saat musim selatan di perairan Timur Kalimantan. Penelitian dilakukan pada bulan September – Oktober 2016 menggunakan trawl pada Kapal Riset Baruna Jaya IV (tali ris atas 36 m). Lama penarikan jaring 1 jam dengan kecepatan kapal sekitar 3 knot. Analisis terhadap 11 stasiun pengamatan yang berhasil menunjukkan komposisi udang terdiri dari 14 spesies yang tergolong dalam 7 genera dan 3 famili. Spesies yang dominan meliputi udang dogol (Metapenaeus ensis), udang windu (Penaeus monodon) dan udang jerbung (Penaeus merguiensis). Berdasarkan lokasinya, kepadatan stok tertinggi ditemukan di sebelah timur Balikpapan dan secara umum kepadatan stok tertinggi ditemukan pada kedalaman kurang dari 40 m. Kepadatan stok udang berkorelasi dengan kedalaman di mana udang jerbung hanya tertangkap pada kedalaman kurang dari 40 m. Udang dogol ditemukan pada kedalaman hingga 60 m namun lebih padat pada kedalaman kurang dari 40 m, sedangkan udang windu lebih padat pada perairan yang lebih dalam yaitu antara 40-60 m. Total kepadatan stok udang pada musim selatan di perairan Timur Kalimantan adalah 16,5 ± 9,7 kg/km2.Study of species composition, distribution and stock density of shrimp was vital to evaluate of the impact of current shrimp fishing to its sustainability. The research aims to study composition, distribution and stock density of shrimps during south monsoon in the East of Kalimantan which was conducted in September – October 2016 by conducting exploratory survey using trawling with R.V. Baruna Jaya IV (headrope length of 36 m). Towing duration of 1 hour and vessel speed around 3 knots. The result from 11 stations showed that the composition of shrimps consists of 14 species from 7 genera and 3 family. The dominant species (38.4%) were greasyback shrimp (Metapenaeus ensis), while giant tiger prawn (Penaeus monodon) by 22.2% and banana prawn (Penaeus merguiensis) by 16.7%. Based on the geographic location, the highest stock density was found in the eastern part of Balikpapan waters (< 40 m depth). The shrimp density found have association with depths where banana prawn found in depths of less than 40 m. Greasyback shrimp found in depths of more than 60 m with more abundant in depth less than 40 m, while giant tiger prawn was more abundant in deeper water in depths between 40 – 60 m. Total density of shrimps during south monsoon in the eastern part of Kalimantan waters was 16.5 ± 9.7 kg/km2.
KONDISI HIPOKSIA DAN LAJU DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK DI LOKASI BUDIDAYA IKAN WADUK IR.H. DJUANDA Astuti, Lismining Pujiyani; Adiwilaga, Enan Mulyana; Setiawan, Budi Indra; Pratiwi, Niken Tanjung Murti
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.386 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.147-154

Abstract

Waduk Ir. H. Djuanda merupakan waduk multi fungsi yang salah satunya adalah untuk kegiatan budidaya ikan.Adanya input pakan dari kegiatan budidaya dapat menyebabkan peningkatan bahan organik dan penurunan konsentrasi oksigen terlarut. Kegiatan budidaya ikan dalam karamba jaring apung (KJA) menyumbang bahan organik ke perairan yang laju dekomposisinya (k) (per hari) dipengaruhi oleh suhu perairan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kedalaman hipoksia di lokasi karamba jaring apung untuk budidaya ikan diWaduk Ir. H. Djuanda dan pengaruh suhu terhadap besarnya laju dekomposisi bahan organik (k). Penelitian kondisi hipoksia dilakukan diWaduk Ir. H Djuanda dan selanjutnya pengamatan BOD untuk penentuan laju dekomposisi bahan organik di Laboratorium Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan pada bulan Februari–April 2013. Penentuan kondisi hipoksia berdasaran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 dan penentuan laju dekomposisi berdasarkan Least SquareMethod. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman hipoksia dimulai pada kedalaman 3 m dan laju dekomposisi bahan organik (k) tertinggi pada suhu 28,5 °C yaitu sebesar 0,189/hari.Ir H. Djuanda Reservoir is a multi-purpose reservoirs, one of which is for fisheries culture activity. Feed inputs from aquaculture activities can lead to an increase in organic matter and a decrease in dissolved oxygen concentration. Cultivation of fish in floating cage net contributing organic material into waters which the rate of organic matter decomposition (k) (per day) is affected by water temperature. The purpose of this study was to know the depth of hypoxia in floating cage net for fisheries culture in the Ir. H. Djuanda Reservoir and the effect of temperature on the amount of organic matter decomposition rates (k). Observation of hypoxic conditions was conducted in Ir. H Djuanda Reservoir and furthermore observation of BOD to determine the rate of organic matter decomposition at Research Institute for Rehabilitation and Conservation of Fish Resources laboratory in February-April, 2013. Determination of hypoxic conditions based on Government Regulation of the Republic Indonesia Number 81 Year 2001 and the determination of the rate of decomposition based on Least Square Method. The results showed that the depth of hypoxia began at a depth of 3 m and the higher of decomposition rate of organic matter (k) was 0.189/day at temperature 28.5 ° C.
PENGKAYAAN STOK TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU Hartati, Sri Turni
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1280.779 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.1.2008.9-15

Abstract

Akibat aktivitas penangkapan yang berlebihan, stok sumber daya teripang di perairan Kepulauan Seribu, terutama jenis yang bernilai ekonomis tinggi, seperti teripang pasir (Holothuria scabra) sudah mulai langka. Pengkayaan stok adalah salah satu upaya untuk memperoleh sumber daya yang berkesinambungan. Pengkayaan stok teripang pasir telah dilakukan di Kepulauan Seribu melalui 2 tahapan, yaitu pembesaran benih (intermediate culture) yang dilakukan di perairan Pulau Kongsi dan pelepasan di alam (restocking) yang dilakukan di perairan Pulau Pamegaran. Benih yang digunakanberasal dari alam (Teluk Lampung) dan dari panti pembenihan (hatchery). Hasil pengamatan lingkungan menunjukkan bahwa habitat dari ke-2 perairan tersebut mendukung untuk kehidupanteripang pasir. Pertumbuhan teripang baik pada tahap pembesaran benih maupun pelepasan di alam sangat signifikan. Pertumbuhan benih teripang pada 2 bulan pertama dari rata-rata 51 g menjadi 130 g per ekor. Pertumbuhan teripang setelah di lepas di alam pada 2 bulan pertama, dari rata-rata 338,50 g menjadi 619,80 g per ekor, dan berhasil tertangkap kembali 13%.
KEANEKARAGAMANPLANKTONDANLINGKUNGANPERAIRANMANGROVE DI DAERAHMAYANGAN, SUBANG, JAWABARAT Purnamaningtyas, Sri Endah; Syam, Amran Ronny; Tjahjo, Didik WahjuHendro
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2578.915 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.5.2011.299-310

Abstract

Eksploitasi sumber daya di daerah mangrove kawasan pantai utara Jawa telah mengalami degradasi lingkungan. Untuk melakukan perbaikan, diperlukan data dan informasi keanekaragaman plankton dalam rantai makanan disuatu perairan. Perairan Mayangan merupakan perairan estuari yang mempunyai potensi perikanan yang cukup besar karena daerah ini merupakan daerah penjebak zat hara sehingga mempunyai produktivitas yang tinggi dari perairan lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui keragaman plankton dan lingkungan perairan di sekitar perairan mangrove Desa Mayangan, Subang, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Pebruari, Mei, dan Desember 2007. Pengambilan contoh plankton menggunakan kemmerer bottle sampler secara vertikal dengan plankton net nomor 25 pada kedalaman antara 0,5-2,0 m. Parameter lingkungan yang diamati meliputikecerahan 17-62 cm, oksigen terlarut 1,9-3,7 mg/l, nitrit 0,007-0,187 mg/l, nitrat 2,483-3,986mg/l, amonium1,589-2,648mg/l, orthofosfat 0,026-0,334mg/l, dan salinitas 19,27-33,08‰. Hasil penelitian ini menunjukkan komposisiplankton di perairan tersebut terdiri atas lima kelas fitoplankton dan empat kelas zooplankton serta satu kelompok larva naupli. Kelimpahan fitoplankton didominansi oleh kelas Bacillariophyceae (26 spesies), sedangkan zooplanktondidominansi oleh kelas Crustacea (tiga spesies), dan Ciliata (tiga spesies). Perairan mangrove Desa Mayangan termasuk perairan dengan kesuburan sedang, dengan kelimpahan fitoplankton berkisar antara 4.024-99.594 sel/l (35.210±19.313) dan kelimpahan zooplankton berkisar antara 1.006-23.138 ind./l (8.249±5.132). Indeks keragaman fitoplankton dan zooplankton menunjukan kondisi kestabilan komunitas dalam kategori sedang. Selama tiga periode pengamatan komunitas plankton tersusun dari 35 komponen (spesies fitoplankton) dan sembilan komponen (spesies zooplankton). Exploitation of resources in the area of mangroves in coastal areas north of Java has suffered environmental degradation. To make improvements, necessary data and information on the diversity of plankton in the food chain in the waters.Mayangan estuarine waters are waters that have potential for significant fisheries for this area is an area of trap nutrients that have a higher productivity than other waters. The purpose of this study is to investigate the diversity of plankton and marine environment in waters around mangrove Mayangan Village, Subang, West Java. Research done in February, May, and December 2007. Plankton sampling using kemmerer bottle sampler plankton net vertically with nomor 25 at depths between 0.5-2 m. Environmental parameters observed included brightness, tranparancy 17-62 cm, dissolved oxygen 1.9-3.7 mg/l, nitrite 0.007-0.187 mg/l, nitrate 2.483-3.986 mg/l, ammonium 1.589-2.648 mg/l, orthophosphate 0.026-0.334 mg/l, and salinity 19.27-33.08‰. The results showed the composition of plankton in these waters consist of five classes of phytoplankton and three classes and one group of zooplankton, larval naupli. Phytoplankton abundance class was dominated by Bacillariophyceae (26 species), while the zooplankton was dominated by the Crustacea (3 species) and Ciliate (3 species).Mangrove waters Village Mayangan including waters with medium fertility, with phytoplankton abundance ranged from 4,024-99,594 cells/l (35,210±19,313) and the abundance of zooplankton ranged between 1,006-23,138 ind./l (8,249±5,132). Diversity index of phytoplankton and zooplankton communities show stable condition in the medium category. During the three observation periods of plankton community composed of 35 components (phytoplankton species) and 9 components (species of zooplankton).
TRUKTUR UKURAN DAN BEBERAPA PARAMETER POPULASI IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) DI SAMUDERA PASIFIK UTARA PAPUA Hidayat, Thomas; Noegroho, Tegoeh; Wagiyo, Karsono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.666 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.2.2017.113-121

Abstract

Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) merupakan salah satu sumberdaya ikan pelagis besar yang mempunyai nilai ekonomis penting. Informasi mengenai struktur ukuran dan beberapa parameter populasinya masih sangat terbatas khususnya di perairan Indonesia timur. Penelitian ini dilakukan di Morotai, Biak dan Jayapura dari Januari sampai Desember 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis ukuran ikan yang tertangkap dan menganalisis parameter populasi meliputi laju pertumbuhan, mortalitas dan tingkat eksploitasi. Estimasi parameter pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi dihitung menggunakan program FiSAT (FAO-ICLARM Stock Assessement Tools). Ukuran ikan cakalang hasil tangkapan pancing tonda dan pancing ulur berkisar antara 15 – 94 cmFL (Fork Length), dengan modus antara 40-45 cmFL. Ukuran pertama kali tertangkap sebesar 40,1 cmFL dan kebanyakan adalah ukuran ikan yang sedang memijah. Hasil analisis menggunakan FiSAT II diperoleh laju pertumbuhan (K) sebesar 0,41/tahun, panjang asimptotik (L) 101,85 cmFL. Laju kematian alami (M) 0,6 / tahun, laju kematian karena penangkapan (F) 0,62 /tahun dan laju mortalitas total (Z) 1,22 /tahun. Tingkat eksploitasi ikan cakalang hampir fully exploited (E= 0,46). Disarankan tidak perlu ada penambahan upaya penangkapan atau status quo untuk menjaga agar sumberdaya ikan cakalang tetap terjaga kelestariannya. Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) is one of the large pelagic fish resources which have high economic value. Information on the size structure and population parameters is still limited especially in the waters of eastern Indonesia. The Research was conducted from January to December 2013 at Morotai, Biak and Jayapura. The aim of this study was to analyze the size of the fish caught and some of population parameters such as the growth rate, mortality rates, and exploitation rate. Estimated of growth parameters, mortality and exploitation rate using the program FiSAT (FAO-ICLARM Stock Assessement Tools). The size of skipjack tuna caught by troll line and handline in between 15-94 cmFL, with a mode of 40-45 cmFL. The Length at first capture was 40.1 cmFL, most of them had condition of spawning. By using program FiSAT II analysis resulted that growth rate (K) of skipjack tuna was 0.41/year, with length asimptotik (L) reaches 101.85 cmFL. The natural mortality rate (M) was 0.6 / year. The fishing mortality rate (F) was 0.62 / year and total mortality rate (Z) was 1.22 / year. The exploitation rate of skipjack tuna was nearly fully exploited (E = 0.46). It was recommended the exploitation rate of this fish should be no additional effort (status quo) to keep sustainability of the skipjack tuna resource.
STRUKTUR TINGKAT TROFIK KOMUNITAS IKAN DI WADUK WADASLINTANG KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH Fatah, Khoirul; Adjie, Susilo
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.858 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.3.2015.155-163

Abstract

Waduk Wadas lintang memiliki potensi perikanan yang cukup besar baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Kegiatan penangkapan ikan di waduk Wadaslintang saat ini sudah cukup tinggi, yang akan berdampak langsung pada struktur komunitas ikan yang menyebabkan pergeseran pola hubungan antara pemangsa,mangsa atau pesaing pada berbagai tingkat trofik. Tujuan penelitian ini untukmengetahui pola hubungan antar kelompok ikan berdasarkan tingkat trofik dari tingkat trofik terendah sampai kepada ikan karnivor, sehingga diperoleh gambaran peran kelompok ikan dalam komunitas. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April, Juni, September dan Nopember 2013 di perairan waduk Wadaslintang. Analisa data mencakup komposisi hasil tangkapan dan kebiasaan makan ikan serta tingkat trofik komunitas ikan. Analisis sidik ragam untuk mengetahui perbedaan antar tingkat trofik. Ikan contoh diperoleh dari nelayan dengan alat tangkap jaring, mulai dari ukuran 0,75 – 4,5 inchi. Hasil penelitian diketemukan sebanyak 15 jenis ikan yang didominasi oleh ikan nila dengan persentase berat mencapai 56,45%. Struktur komunitas ikan di perairan waduk Wadaslintang tersusun atas tiga kelompok tingkat trofik yaitu ikan patin, nila, tawes dan nilem mempunyai jenjang trofik terendah (<2,5), ikan bader dan brek mempunyai nilai jenjang trofik sedang (2,5 – 3,49) dan ikan beong, betutu, palung dan lelemempunyai nilai jenjang trofik tertinggi (>3,5). Kelompok ikan pada tingkat trofik rendah < 2,5 sangat penting dalam menyokong komunitas ikan di perairan waduk Wadaslintang karena akan mempengaruhi kelompok ikan dengan tingkat trofik tinggi.Wadaslintang reservoirs was considered have high potential for fisheries and aquaculture. Fishing Activities in the Wadaslintang reservoir is currently quite high, which may gave a direct impact on the trophic levels structure of fish community and would change composition of predators, preys, and competitors on various trophik levels. The objective of research was focused on the pattern of relationship among trophic groups from the lowest level of trophic to the highest level of carnivorous fish, to find out the role of each fish group in the community. This research was carried out in April, June, September and November 2013 at Wadaslintang reservoir waters. The recorded data were analysed to find out the composition of the fish, feeding habits and trophic levels, and followed by statistical analysis of variance to evaluate the difference among trophic level. Fish samples obtained from a capture tool gillnets, ranging from size 0.75 – 4.5 inches. The results shows that Wadaslintang Reservoir was habited by 15 species of fish where Nile Tilapiais is the dominance species with percentage weight is 56,45%. The structure of fish communities in the water of the Wadaslintang reservoir composed of three groups, namely trophic level of sutchi catfish, nile tilapia, silver barb and nilemhad the lowest trophic levels (< 2.5), barb and javaen barb had value trophic level moderat (2.5-3.49) and catfish, marble goby, hampala barb and walking catfish had the highest trophic level values (>3.5). Fish group on trophic level < 2.5 levels is very important group in supporting good community structure in Wadaslintang reservoir as a way to sustainability of populaion oh the other groups with higher trophic level.

Page 1 of 28 | Total Record : 272